alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
4 stars - based on 10 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d50e3c6349d0f4fe02ab4f0/halal-non-halal-dan-negara-gagal

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal



Saya tahu, bagi banyak orang Singapura bukanlah tempat ideal untuk hidup. Seorang kawan agak sinis ketika saya sebutkan bahwa sekarang saya tinggal di Singapura. "Apanya yang menarik dari Singapura?" ujarnya.

Iya benar. Apa yang menarik di sini? Pertanyaan itu pula yang ada dalam benak saya ketika datang ke Republik mini ini: negara-kota kecil, tetapi semuanya serba rapi dan steril.

Transportasi publik berjalan dengan sangat baik dan efisien. Ada MRT yang bersih dan tepat waktu. Demikian juga bus. Bahkan New York tidak bisa menyaingi negeri ini dalam hal kebersihan dan efisiensi transportasi publiknya. Taman-taman tertata. Pohon-pohon selalu dipangkas dan dipotong.


Apa menariknya hidup di negeri yang serba diatur ini? Di mana-mana ada kamera untuk mengawasi para pelanggar. Orang tidak bisa meludah sembarang. Apalagi kencing di tempat umum. Sekali pun sudah sedikit melonggar, Singapura tetaplah "a fine country" alias negeri denda. Pelanggaran sedikit saja akan didenda.

Adalah berbeda kalau Anda sekadar menjadi pelancong dan menjadi 'penetap'. Saya, untuk sementara waktu, menjadi penetap. Artinya, sebagai kuli kontrak jangka panjang, saya harus menetap di tempat ini.

Saya mendapat subsidi perumahan. Karena ingin berhemat, saya memilih tinggal di sebuah kompleks yang isinya adalah orang-orang Singapura "asli", alias mereka yang menjadi WNS (Warga Negara Singapura). Di negeri ini sesungguhnya semua orang adalah pendatang. Untungnya semua orang tampaknya menyadari itu.

Negeri ini sebenarnya adalah negeri majemuk. Penduduknya mayoritas keturunan Cina (peranakan). Namun, ada penduduk Melayu dan juga keturunan India, Pakistan, Bangladesh dalam jumlah yang siginifikan.

Singapura memiliki apa yang namanya perumahan publik (public housing). Dengan cara demikian, sesungguhnya pemerintah Singapura mengubah tatanan sosial masyarakat dan mengatur hubungan antar ras, suku, dan agama. Public housing ini dikelola oleh Housing and Development Board (HDB) yang berada di bawah Kementerian Pembangunan Nasional.

HDB mengelola semua perumahan publik yang berupa flat (apartemen). Penghuni setiap blok apartemen selalu dibikin beragam. Orang Cina harus bertetangga dengan orang Melayu atau India, dan lain sebagainya. Dengan demikian tidak ada lagi kampung-kampung berbasis suku atau ras. Singapura pernah mengalami kekerasan rasial di masa awal berdirinya. Mereka membereskan persoalan ini lewat rekayasa perumahan publik.

Pemerintah menyediakan semua kebutuhan dasar di setiap kompleks perumahan publik. Ada ruang bemain anak, ruang komunitas untuk ajang bertemu para warga, juga halaman untuk berolahraga. Pendeknya: pemerintah menyediakan kebutuhan dasar untuk para warganya.

Untuk makan, tidak perlu pusing. Ada pujasera yang bisa dengan gampang dijumpai di setiap blok perumahan HDB. Pengalaman pertama di pujasera inilah yang sesungguhnya mengubah pandangan saya tentang Singapura. Di tempat ini, saya menemukan sesuatu yang lain, yang membuat saya berefleksi tentang individu dan masyarakat.

Saya ingat persis, warung pertama yang saya jumpai adalah warung Muslim India. Tentu saja, karena mencantumkan label Muslim, makanan yang disediakan adalah makanan halal. Hanya berjarak empat warung dari warung tersebut, saya menjumpai warung yang menjual sup perut babi. Diukur dari segi apa pun, sup perut babi adalah makanan yang super tidak halal.

Tidak itu saja. Di setiap food court atau kafetaria di Singapura, ada tempat untuk mengumpulkan piring kotor. Hampir bisa dipastikan bahwa ada dua tempat terpisah di sana, yakni piring untuk makanan non-halal dan piring untuk makanan halal. Keduanya dicuci secara terpisah, walaupun letaknya selalu bersebelahan.

Kenyataan ini membuat saya termenung.

Mungkinkah hal ini dilakukan di Indonesia? Warung Muslim hanya berjarak empat warung dari warung sup perut babi? Mereka yang makan makanan halal dihormati dan peralatan makan mereka tidak dicampur dengan peralatan makan yang tidak halal?

Hari-hari berikutnya saya menjumpai pengalaman yang juga lumayan aneh. Satu kali saya masuk ke warung mie yang menjual mie pangsit. Penjualnya menolak melayani saya.

“I can’t, I can’t, please go away-lah," ujarnya dengan logat Singlish yang khas.

Ternyata dia menolak karena muka saya, yang dalam persepsinya, sangat Melayu! Dalam pikiran si penjual, karena tampang saya Melayu, maka otomatis saya seorang Muslim. Mie pangsit itu jelas bukan halal karena lauknya terbuat dari babi cincang.

Paling tidak, tiga kali saya sudah mengalami penolakan seperti itu. Semua pengalaman ini membuat saya berpikir, mengapa para pedagang ini menolak saya? Akhirnya, saya mendapat penjelasan dari kolega di tempat saya bekerja.

“Di Singapura,” katanya, “hubungan antar-etnis diatur dengan ketat. Kami mewarisi hukum Inggris yang pernah menjajah Malaysia dan Singapura. Orang non-Muslim dilarang menjual makanan yang tidak halal kepada mereka yang Muslim. Jika itu dilanggar, dendanya besar dan bahkan penjualnya bisa masuk penjara.”

Hubungan antar-etnis adalah sesuatu yang membuat masyarakat Singapura (dan juga Malaysia) rentan. Konflik menjadi sangat laten. Itulah sebabnya pemerintah negeri ini melakukan rekayasa sosial dengan tangan besi. Mereka membangun perumahan, dan penghuninya ditentukan lewat lotre. Sebelumnya sudah dipastikan bahwa ada perimbangan etnis di sana. Akibatnya, musnah pula kekhasan kampung-kampung berdasar etnis. Tidak ada lagi kampung Melayu atau India.

Sebagai gantinya, pemerintah berusaha memajukan kebudayaan etnis. Ada Bulan Bahasa Melayu, misalnya. Ada pula festival seni Melayu yang diselenggarakan secara rutin dan disponsori oleh pemerintah. Sekalipun demikian, tidak semuanya sempurna. Ada juga keluhan diskiriminasi terhadap penduduk Melayu dalam hal pekerjaan dan pendidikan. Keluhan ini nyata dan absah.

Saya menceritakan hal ini bukan untuk mengglorifikasi Singapura, melainkan untuk bahan pertanyaan saya sendiri: pelajaran apa yang bisa saya tarik dari semua ini? Saya kira, hal paling mendasar yang saya dapati adalah bahwa sebuah masyarakat harus memiliki kekuasaan yang memiliki kekuatan memaksa.

Tidak bisa tidak, pikiran saya melayang ke Indonesia. Khususnya pada kejadian akhir-akhir ini. Apakah mungkin membuka sebuah warung yang menjual makanan mengandung babi hanya dalam jarak beberapa meter dari warung Muslim yang halal?

Saya menjadi semakin yakin bahwa kondisi Hobessian—suatu kondisi di mana tidak ada pemerintah, tidak ada aturan, tidak ada otoritas dan ‘manusia menjadi serigala untuk manusia lain (homo homini lupus)—bisa dicegah jika ada kekuatan yang memiliki otoritas.

Untuk itu, saya kira Singapura telah berusaha membuat negara Weberian bekerja dengan baik untuk mencegah terjadinya homo homini lupus. Dalam negara Weberian, hanya negara yang memiliki monopoli atas kekerasan yang dipakainya untuk menegakkan aturan-aturan yang sudah disepakati bersama.

Suka atau tidak, sebuah masyarakat memerlukan otoritas. Dan dalam sebuah masyarakat modern, otoritas itu dimiliki oleh negara. Bila negara tidak mampu memaksakan aturan-aturannya maka dia pantas disebut sebagai negara gagal.

Dengan demikian, saya tidak terlalu percaya bahwa kehidupan sosial bisa diatur karena ‘kerelaan’ atau kesadaran individual. Kita sering mendengar para intelektual, elite, atau kalangan terpelajar lainnya berkata bahwa yang dibutuhkan oleh masyarakat kita adalah toleransi.

Salah.

Kita juga sering mendengar keluhan bahwa masyarakat kita menjadi semakin intoleran. Kemudian ada juga argumen bahwa satu-satunya jalan untuk keluar dari intoleransi ini adalah dengan memberi pendidikan agar anggota masyarakat menjadi toleran.

Salah besar.

Satu-satunya cara agar masyarakat menjadi toleran adalah dengan memberdayakan negara untuk memaksakan otoritasnya. Jika itu tidak terjadi, negara tersebut menjadi negara gagal.

Yang kita butuhkan adalah toleransi yang dijaga dan ditegakkan oleh negara sehingga tidak ada hak sebuah komunitas yang dilanggar oleh komunitas lainnya. Selalu akan ada orang atau kelompok orang yang memaksakan kehendak atau menginterpretasikan bahwa kelompok yang lebih kecil atau lemah harus mengalah kepada dirinya.

Karena itu pula: tak ada seorang atau sekelompok orang yang berhak memaksakan kehendaknya, apalagi dengan kekerasan dan ancaman kekerasan. Hanya negaralah yang memegang monopoli atas kekerasan itu dan menjadi kekuatan pemaksa demi tegaknya monopoli itu.

Maka, jika ada sekelompok orang yang bangga mengatakan bahwa mereka berhasil menutup sebuah restoran yang menyajikan masakan mengandung babi, dan tidak ada tindakan apa pun dari negara, kita tidak bisa bicara toleransi. Yang jelas tampak telanjang di sini adalah: inilah bentuk negara gagal.


https://tirto.id/halal-non-halal-dan...ara-gagal-efAa




profile-picture
profile-picture
profile-picture
greedaon dan 35 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 7
warna kulit, agama, sosial terlalu biasa untuk dijadikan alasan untuk perang dan kebencian.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
VanillaDark dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
astajim, di singapur nyari warung babik gampang ya akhi, yg susah nayri warung padang emoticon-Hammer
profile-picture
wdjpr memberi reputasi
Sbelumnya kita benar2 terapkan sekuler dulu

emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
greedaon dan 3 lainnya memberi reputasi
Ras, etnis & agama rakyat Singapura cukup berimbang. Pemerintah mudah menegakkan peraturan ttg keberagaman. Selain itu luas negara & populasi yg kecil, mudah diterapkan. Tingkat edukasi & kesadaran rakyatnya juga sudah modern & tinggi.

Beda dgn Indo, krn itu peraturan nya juga akan beda. Kalau ditegakkan berimbang, maka yg mayoritas merasa dilemahkan. Luasan negara yg besar & populasi berbeda2 di daerah juga tingkat ekonomi, pendidikan & kesadaran yg sangat berbeda. Perlu pelaksanaan yg berbeda juga
emoticon-Cool

profile-picture
profile-picture
profile-picture
ikiriki11 dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Quote:


Nasi lemak = nasi padang emoticon-Leh Uga , banyak atuh
profile-picture
VanillaDark memberi reputasi
jawabannya mungkin.
Tapi......
Trennya bisa berubah seiring waktu.
Quote:


Jadi harus ditegakkan ga berimbang gitu masbro?
Yg gimana tuh contohnya....
Lihat 1 balasan
Quote:


Nasi lemak bukannya nasi uduk yah gan?
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan kenpachiku memberi reputasi
susah, namanya juga berkebutuhan khusus.

coba kalau umat agama lain juga berkelakuan seperti itu, alamat perang.
bayangkan gereja bunyiin lonceng 5x sehari, bayangkan umat nasrani melarang warung buka dengan alasan puasa. emoticon-Big Grin


yang berkebutuhan khusus mah bebas. emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
greedaon dan 5 lainnya memberi reputasi
Quote:


Beda lah, warung padang emang beneran ada, di pinggiran Orchardz pernah ketemu mirip warung padang di indo, ama yg restoran sendiri jg ada warung padang tpi yg jual udah keturunan keberapa minang yg udah jadi WN singapur, cuma tetap rasanya beda ama yg di Indo emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan 2 lainnya memberi reputasi
negara lain udah maju sukses sampau luar angkasa
negara gagal masih sibuk ribut haram halal
profile-picture
profile-picture
erwaleste dan areszzjay memberi reputasi
Quote:


Ya ada kok nasi padang di food court d mal skitar orchard ada kok , tapi gile aje lu ndro ke SG cri nasi padang emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
greedaon dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post takebeer212
Ada poin yg bener dan yg kurang tepat dari tulisan antum di atas.

Poin yg bener: luas negara dan populasi Singapore yg lebih kecil memang bikin pengawasan dan pelaksanaan aturan lebih mudah.

Tapi perlu diingat, Singapore di awal merdeka tidak lebih baik daripada Indonesia, malah boleh dibilang 11-12, masih melarat, miskin dan kumuh. Karena itu Malaysia aja sampe emoh bergabung dengan Singapore karena saat itu dianggap hanya beban negara doang (selain motif perbedaan politik dan isu SARA).

Lee Kuan Yew memerintah Singapore diawal2 terpaksa pakai cara "tangan besi", memberikan aturan ketat dan denda dimana2. Sampe sekarang pun Singapore dikenal sebagai "negeri 1000 denda" saking banyaknya macam2 denda.

Tapi hasilnya, sejak taun 90-an, Singapore udah jadi negara maju, bersih, tertib dan makmur. Sedangkan Indonesia sampe 2019 pun masih bergulat dengan status negara berkembang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ikiriki11 dan 15 lainnya memberi reputasi
Balasan post takebeer212
Quote:


nah, ini dia yg pas, menyamaratakan satu negara dgn negara lain dgn kondisi geografi, demografi, sosiohistori berbeda adalah satu kegoblogkan, oleh krn itu menerapkan satu kebijakan dr satu negara ke negara lain blm tentu tepat, salah2 malah mnimbulkan persoalan baru...
apalagi main simplifikasi hny krn satu aspek lgsg mnuding negara gagal ...
asumshit kok diseriusi emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
roninthirst dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Berati yg salah nih sejarah, kenapa malah belanda n bukan inggris yg ngejajah indonesia emoticon-Hammer
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan scorpiolama memberi reputasi
Bagaiaman kalau seperti pesta/hajatan yang ada di pulau Flores,makanan halal dan non halal saja satu meja gan,,tolong yang garis keras atau garis putus2 jangan merapat..emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan scorpiolama memberi reputasi
selama negara memelhara tukang umpat, tukang cacimaki, tukang hujat yang dianggap menguntungkan negara, hanya impian kosonglah bisa bisa ada toleransi emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
greedaon dan 5 lainnya memberi reputasi
Nanti kalau ahok jadi presiden warung babi wajib ada diseluruh kota, yg setuju emoticon-Recommended Seller

Yg ngelarang pergi aja lu dari Indonesia sono ke arab!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
safecount dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Betjanda
Quote:


Ya kali homesick bosen makan chicken rice,babik hong dll emoticon-Hammer
Ahok yang mengusulkan ini lho, tapi gerombolan fpi hti sapi dan kawan-kawan menolak. Ingin yang seperti biasanya saja, stagnan, ga mau berubah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gojira48 dan 3 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di