alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4e297eb840887bf56028af/enzo-zenz-allie-hizbut-tahrir-adakah-kewajiban-mendirikan-khilafah-dalam-islam

Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?

Hizbut Tahrir (HT) kembali menjadi pembicaraan publik. Ini terkait dengan Enzo Zenz Allie, calon taruna Akademi Militer (Akmil), yang diduga terpapar HT, organisasi yang memperjuangkan khilafah, yang kini sudah dinyatakan terlarang di Indonesia. 

Spoiler for Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir?:


Enzo yang semula menjadi perbincangan publik karena pribadinya: pemuda blasteran Indonesia-Prancis, berwajah tampan, mahir berbahasa Prancis, Inggris, dan Jerman, serta sempat diwawancarai Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam bahasa Prancis. Tentu jarang pemuda blasteran menjadi calon taruna Akmil yang terkenal sangat ketat seleksinya dan ini menjadi daya tarik tersendiri dari Enzo.

Namun, kini Enzo menjadi sorotan bukan karena pribadinya itu, melainkan karena sebuah akun media sosial memposting foto-foto pemuda yang diduga Enzo sedang mengibarkan bendera HT. Enzo pun diduga merupakan pengikut, setidaknya, simpatisan HT. Seandainya benar Enzo terpapar HT, menjadi ironi karena seorang calon taruna Akmil menjadi pengikut organisasi yang anti negara nasional, anti Pancasila, dan memperjuangkan terbentuknya negara khilafah. 

Banyak umat Islam terbuai isu khilafah yang ditebarkan HT yang berpandangan mendirikan khilafah menjadi kewajiban umat Islam dan khilafah bisa menjadi solusi terhadap semua persoalan yang dihadapi umat Islam. Benarkah demikian?

Tak sedikit cendekiawan Muslim yang mengingatkan umat Islam agar tak mudah termakan isu khilafah. Di antaranya hal ini pernah disampaikan oleh Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Azyumardi Azra, Dr. Masdar F. Mas’udi, Dr. Yudi Latif, Dr. Haidar Bagir, dan Dr. Zuhairi Misrawi. Para cendekiawan ini sepakat bahwa untuk menegakkan Islam tak perlu mendirikan khilafah karena khilafah hanyalah entitas politik khas Arab yang dalam sejarahnya tak jarang dipenuhi pertikaian sehingga bertentangan dengan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Spoiler for Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir?:


Banyak umat Islam meyakini kewajiban mendirikan khilafah berdasarkan hadis yang membicarakannya. Padahal, hadis-hadis itu hanya membahas tentang pentingnya mengangkat pemimpin. Ketika umat Islam sudah mempunyai pemimpin dalam sebuah negara dan pemimpin tersebut membolehkan, bahkan membantu, terlaksananya syariat Islam, seperti memungut zakat, memberangkatkan haji, dan menjalankan peradilan Islam, sebagaimana di Indonesia, maka gugurlah kewajiban mendirikan khilafah. Syariat Islam bisa berjalan tanpa kehadiran khilafah.

Khilafah yang dikampanyekan HT kini lahir dari rahim politik Dunia Arab. Padahal, apa yang terjadi di Dunia Arab dahulu dan sekarang kenyataannya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Kendati mereka satu agama, satu bahasa, dengan suku yang relatif homogen, mereka terus bertikai dan berperang karena ego kesukuan, juga memperebutkan kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi. Bandingkan dengan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, di sini semua suku, dengan bahasa dan agama yang beragam, bisa bersatu dan hidup damai. Keadaan seperti di negeri Pancasila inilah yang menjadi misi kerasulan Muhammad SAW di muka bumi.

Kasus Enzo Zenz Allie yang diduga terpapar HT mari kita jadikan momen untuk menguatkan ke-Indonesiaan kita, kecintaan kita kepada Pancasila, sebagai hadiah terindah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia, bangsa yang plural ini.


Referensi: Buku Kontroversi Khilafah: Islam, Negara, dan Pancasila, penulis Komaruddin Hidayat dkk., terbitan Mizan, Jakarta, 2014.

Spoiler for Buku "Kontroversi Khilafah: Islam, Negara, dan Pancasila":


Sumber foto

Sumber foto

profile-picture
profile-picture
eyefirst2 dan scorpiolama memberi reputasi
Diubah oleh djalanloeroes
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
udah nongol aja pagi ini trending

#KamiBersamaTarunaEnzo

yg dukung rata2 akun2 kampret 02 emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
esaka.kedua dan 4 lainnya memberi reputasi
udah ada pancasila mbok ya dipelihara sama2
itu warisan pendahulu2 kita juga
profile-picture
profile-picture
eyefirst2 dan scorpiolama memberi reputasi
Di dalam sumber primer ajaran Islam, Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW, tidak ada ajaran sistem politik, ketatanegaraan, dan pemerintahan yang baku. Di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara dan istilah khilafah, tetapi sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Quran dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman.

Umat Islam Indonesia harus menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
comrade.frias dan 12 lainnya memberi reputasi
Yang pasti kalau di agama saya, wajib hukumnya untuk berpikir, berakal, dan bijak
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
Quote:


Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pejuang.nikotin dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Si Catar ini digembar-gemborkan punya tingkat intelejensi yang tinggi kan sampai bisa fasih beberapa bahasa?

Masa iya dengan kemampuan berpikir yang lebih itu dia ga bisa tau kalo lambang yang dia bawa-bawa itu adalah lambang organisasi yang mau merubah negara?

Dia sudah dewasa, biarkan dia menerima akibat dari perbuatannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
esaka.kedua dan 3 lainnya memberi reputasi
perang ideologi

yang satu ingin mendirikan negara yahudi, yang satu ingin mendirikan negara flying sphagetti monster
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan eyefirst2 memberi reputasi
Quote:


Astajim ini bocah SD toketnya gede banget ya akhi emoticon-Kagets
profile-picture
profile-picture
amdfreak dan eyefirst2 memberi reputasi
Balasan post Auto.Banned
Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
Halah.
Syukur-syukur masih ada anak muda macam Enzo yang bersedia jadi tentara.

Indonesia justru akan terancam ketika hanya nongol manusia-manusia dungu macam cebong dan babi yang siap membela negara perang lewat e-war, jasmani lewat e-sport, mempertahankan negara lewat e-bacod dan keyboard.

Mereka, pahlawan keyboard siap mempertahankan negara lewat twit war, Facebook dan Instagram. Operasi pendaratan ke lawan dan operasi penumpasan teroris lewat bacod goblok sosmed

Kalian pasti bangga dengan cara babi cebong gendut jago bacod goblok menjadi garda pertahanan negara ini untuk membela Pancasila.

Take emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
profile-picture
youdoyouknow dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh b3jo.asoy
Lihat 1 balasan
Balasan post Auto.Banned
Quote:


Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?


Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan eyefirst2 memberi reputasi
Khilafah??? Gamoang sapa yg teriak dan sapa yg bisik khilafah. Lsng bunuh . Beres dah negeri ini
Lo dirikan khilap-ah mending di pulau jawa ama sumatra ae.

Yg timur ama tengah ga usah diajakin.

Atau skalian bikin aja sistem negara bagian, nanti ketahuan siapa yg jalanin sistemnya kayak TAI sama yg sukses.

Oya tapi yg fair ga ad Otsus2an pake apbd daerah sendiri2.

Nanti ketahuan dah ajaran yang mna bawa kehancuran ajaran yg mana bisa beradaptasi ama jaman.

emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh longneversee
Jadi gimana kelanjutannya nih si Enzo ? emoticon-Bingung
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
Enzo Zenz Allie Hizbut Tahrir? Adakah Kewajiban Mendirikan Khilafah dalam Islam?


Islam Yes, Khilafah No!, penerbit UIN Suka Press, 200 halaman.

Apa kata para tokoh tentang buku ini?

“Membaca rangkaian tulisan Gus Nadir tentang sejarah Khilafah bisa membuat kita terkejut dan terhentak dari tempat duduk kita. Agama yang penuh kasih sayang memang tidak bisa dicampur dengan kekuasaan yang sarat dengan intrik dan kekerasan. Buku ini bacaan wajib bagi mereka yang sejauh ini terilusikan oleh kehebatan khilafah setelah wafatnya Nabi SAW.”

(Abdillah Toha, mantan politisi dan komisaris utama group Mizan)

**

“Sejarah khilafah ternyata penuh dengan intrik dan banyak juga khalifah yang gaya memerintahnya terhitung nyentrik. Membaca buku ini serasa sedang menonton film Game of Thrones versi Khilafah. Bikin ketagihan!”

(Yenny Wahid, Direktur Eksekutif Wahid Foundation)

**

Negeri Islam itu….

ada dimana sekarang? kemana aku harus mencarinya, Ya Rabb?

Gus Nadir menelusuri sejarah dengan sepenuh pengetahuan yang dimilikinya dan menuangkannya dengan bahasa yang teramat mudah dipahami, untuk menemukan jawabnya.

Dan, ia buka peluang berdebat, toh dalam metode dakwah, peluang berdebat itu dimungkinkan…

(Kang Maman, pelancong literasi, peziarah ilmu)


emoticon-Imlek







emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)
profile-picture
scorpiolama memberi reputasi
Tidak Ada Istilah Khilafah dalam Al-Qur’an
Ahad, 31 Maret 2019 23:55 Opini
http://www.nu.or.id/post/read/104263...dalam-al-quran



Oleh Nadirsyah Hosen

Banyak terjadi kerancuan di kalangan umat mengenai penggunaan istilah Khalifah, Khilafah, dan juga Khalifatullah fil Ardh. Perlu saya tegaskan bahwa:

1. Tidak ada istilah Khilafah dalam al-Qur’an
2. Tidak ada istilah Khalifatullah fil Ardh dalam al-Qur’an
3. Hanya dua kali al-Qur’an menggunakan istilah Khalifah, yang ditujukan untuk Nabi Adam dan Nabi Dawud.

Mari kita simak bahasan berikut ini:

Penggunaan terminologi atau istilah Khalifah itu hanya digunakan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, dalam QS 2:30: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

Konteks ayat ini berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam AS. Ini artinya Nabi Adam dan keturunannya telah Allah pilih sebagai pengelola bumi. Penggunaan istilah Khalifah di sini berlaku untuk setiap anak cucu Adam.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia....” (QS 33:72)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS 17:70)

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS 21: 105)

Potensi semua manusia menjadi khalifah ini juga disinggung oleh Hadits Nabi SAW:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya” (Sahih al-Bukhori, Hadits No 4789)

Kedua, ayat terakhir yang menyebut istilah Khalifah itu adalah yang berkenaan dengan Nabi Dawud:

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...” (QS 38:26)

Harap diingat bahwa Nabi Dawud adalah Raja Bani Israil. Dalam ayat di atas, Nabi Dawud diperintah untuk memberi keputusan dengan adil. Inilah spirit ajaran Qur’an: keadilan. Sehingga amanah sebagai Khalifah (pemimpin) harus diwujudkan dengan prinsip keadilan. Kata adil dalam al-Qur’an disebut sebanyak 28 kali.

Pada titik ini, tidak satupun ayat mengenai Khalifah bicara mengenai sistem pemerintahan. Tentu ini dapat dipahami karena ada jarak yang jauh antara Nabi Adam dan Nabi Dawud dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW. Istilah Khalifah dalam konteks kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah SAW muncul setelah beliau wafat.

Titel kepemimpinan Abu Bakar itu Khalifatur Rasul (Pengganti Rasul). Karena tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, maka Abu Bakar menggantikan beliau dalam kapasitas sebagai pemimpn umat, bukan pengemban kenabian.

Menurut sejarawan Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah, titel untuk Umar Bin Khattab itu Khalifatu Khalifatir Rasul (Pengganti dari penggantinya Rasul). Ini mungkin seperti ungkapan joke dari orang Madura, “Gubernur Jawa Timur itu Pak Mohammad Noer, selain itu ya cuma penggantinya”. Jadi, Sayidina Umar hanya dianggap sebagai Khalifah Pengganti Khalifah Rasul. Tapi penyebutannya kan jadi ribet. Nanti Khalifah ketiga dan keempat gimana penyebutannya?

Abdullah bin Jahsy kemudian menyebut Sayidina Umar sebagai Amirul Mu’minin. Maka gelar Khalifah tetap dipakai, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat Khalifah kedua, ketiga dan keempat dipanggil dengan sebutan Amirul Mu’minin (pemimpin orang-orang beriman).

Tradisi ini diteruskan oleh Bani Umayyah. Sepeninggal Bani Umayyah, muncul istilah baru di masa Khalifah ketiga Abbasiyah, yaitu Al-Mahdi. Di masa Al-Mahdi ini perlahan titel khalifah bergeser, dari semula sebagai khalifah penerus Rasul, kini menjadi Khalifatullah fil Ardh. Khalifah Allah di muka bumi, seolah menjadi bayang-bayang kekuasaan Allah di bumi. Maka, perlahan Khalifah Al-Mahdi duduk di balik tirai dan sejumlah urusan penting pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada wazir (semacam perdana menteri).

Istilah khalifatullah fil Ardh ini tidak ada dalam al-Qur’an. Yang ada dalam al-Qur’an itu istilah “khalaif al-ardh” atau “khalaif fil ardh”. Misalnya:

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalaif al-ardh (penguasa-penguasa di bumi) dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS 6:165)

“Kemudian Kami jadikan kamu khalaif fil ardh (pengganti-pengganti di muka bumi) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”. (QS 10:14)

Jadi, sekali lagi menjadi jelas bahwa penggunaan kata khalifah dalam al-Qur’an digunakan merujuk ke Nabi Adam dan Nabi Dawud, bukan merujuk kepada khalifah sepeninggal Nabi Muhammad. Tidak ditemukan istilah Khilafah dalam al-Qur’an. Maka kita sebaiknya jangan mengklaim sebuah istilah seolah ada dalam al-Qur’an padahal tidak ada sama sekali. Begitu pula istilah Khalifatullah fil ardh, yang penggunaannya sangat politis dilakukan oleh Abbasiyah untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka.

Lantas apa bedanya khalifah dengan khilafah? Khilafah belakangan ini telah menjadi sebuah istilah yang bermakna sistem pemerintahan. Pemerintahan Khilafah ini sudah bubar sejak tahun 1924. Maka tepat kita katakan “Islam Yes, Khilafah No”. Bukan saja kita bilang No karena sudah bubar, dan digantikan oleh negara-bangsa, tapi juga istilah Khilafah tidak ada dalam al-Qur’an. Istilahnya saja tidak ada, apalagi bentuk dan sistem pemerintahan yang baku juga tidak terdapat penjelasannya di dalam al-Qur’an.

Bisakah seorang menjadi Khalifah tanpa ada Khilafah? Bisa. Kenapa tidak? Bukankah kita semua sebagai anak cucu Nabi Adam adalah pewaris dan pengelola bumi? Ini khalifah dalam pengertian Qur’an, bukan dalam konteks sistem Khilafah ala HTI.

Bisakah pemimpin sekarang kita sebut sebagai Khalifah meskipun tidak ada khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bukankah Nabi Dawud menjadi Khalifah padahal beliau Raja Bani Israil? Kata kuncinya, seperti dijelaskan di atas, adalah keadilan. Sesiapa pemimpin yang adil, bisa kita anggap sebagai Khalifah seperti Nabi Dawud

Bisakah ada khalifah tanpa khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmani itu berdasarkan kerajaan, diwariskan turun temurun. Ini bertentangan dengan konsep yang dijalankan Khulafa ar-Rasyidin. Tapi toh namanya juga disebut sebagai Khalifah. Artinya pada titik ini cuma sebutan gelar belaka untuk kepala negara, sementara esensinya sudah hilang.

Jadi jangan dikacaukan antara istilah khalifah dalam al-Qur’an dengan istilah khilafah (sistem pemerintahan) yang tidak ada dalam al-Qur’an.

Bagaimana dengan di kitab fiqh? Pembahasan di kitab fiqh itu dalam konteks kewajiban mengangkat pemimpin (Imam atau khalifah), bukan kewajiban menegakkan sistem khilafah. Sampai di titik ini kerancuan semakin parah: seolah wajib mendirikan sistem khilafah. Padahal yang wajib itu memilih pemimpin.

Dan saat ini kita di Indonesia sudah punya pemimpin yang bernama Joko Widodo. Sebentar lagi kita akan menggelar Pilpres lima-tahunan, sesuatu yang tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan khilafah. Bersyukurlah kita di bawah naungan NKRI!

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand


emoticon-Imlek




emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ogahruwet dan 4 lainnya memberi reputasi
Nadirsyah Hosen Jelaskan Salah Kaprah Khilafah sebagai Solusi
Senin, 03 September 2018
http://www.nu.or.id/post/read/95230/...sebagai-solusi

Penulis buku Islam Yes, Khilafah No: Doktrin dan Sejarah Politik Islam dari Khulafa ar-Rasyidin hingga Umayyah, Nadirsyah Hosen menjelaskan bahwa anak-anak eks HTI kerap mendengungkan khilafah sebagai solusi. Termasuk kaitannya saat ini dengan anjloknya rupiah.

“Anak-anak eks HTI memang lucu-lucu. Rupiah anjlok, mereka bilang solusinya khilafah. Apa mereka sangka di masa khilafah zaman old itu nggak ada krisis ekonomi? Di masa khilafah semuanya makmur? Mimpi! Saya kasih dua fakta saja yah. Simak yuk,” ucap Nadirsyah dikutip NU Online, Senin (3/9) lewat akun twitternya.

Berikut penjelasan Dosen Senior Monash Law School ini terkait fakta sejarah yang dimaksud melalui akun twitternya:

1. Rakyat menderita pada masa Khalifah ke 22 Abbasiyah, Al-Mustakfi. Tidak ada makanan yang bisa mereka peroleh. Rakyat bertahan hidup dengan memakan apa saja, dari mulai rumput, sisa sampah, sampai anjing dan kucing liar.

2. Harga roti dikabarkan enam kali lebih mahal. Bahkan sejumlah perempuan terpaksa menjadi kanibal memakan daging dan tubuh mayat. Kondisi darurat! Bukan lagi sekadar krisis mata uang. Mau ente sekarang makan bangkai anjing?

3. Sebelumnya, Khalifah ke 13 Abbasiyah al-Mu’tazz sukses bikin negara bangkrut. Untuk bayar gaji pasukan dia gak sanggup, maka dia minta ibunya keluarin duit. Namun ibunya menolak dengan alasan tidak punya uang. Imam Suyuthi dlm kitabnya meragukan jawaban ibunya Khalifah ini.

4. Ada laporan bhw ibunya memang enggan mengeluarkan 50 ribu dinar hasil korupsinya. Kegagalan al-Mu’tazz memenuhi permintaan militer ini fatal. Ini membuat semua fraksi militer (Turki, Faraghinah dan Magharibah) bersatu dan sepakat menyingkirkan Khalifah yang sudah bangkrut ini.

5. Maka pasukan menyerbu masuk dan menyeret Khalifah al-Mu’tazz keluar istana. Sambil mereka memukuli Khalifah yang saat itu masih berusia sekitar 24 tahun. Baju Khalifah koyak di sana-sini dan darah terlihat di bajunya. Sang Khalifah dijemur di panas terik mentari. Tragis!

6. Al-Mu’tazz kemudian dipaksa untuk menulis surat pegunduran dirinya. Dia tidak sanggup menuliskannya. Lantas surat dituliskan dan dia dipaksa menandatanganinya. Setelah itu dia dimasukkan ke dalam kamar tanpa diberi makan dan minum selama tiga hari. Akhirnya al-Mu’tazz dia wafat

7. Ini nasib tragis para khalifah Abbasiyah: Khalifah ke-18 al-Muqtadir (dipenggal kepalanya), Khalifah ke-19 al-Qahir (dicongkel matanya), Khalifah ke-20 ar-Radhi (wafat sakit), Khalifah ke-21 al-Muttaqi (dicongkel matanya), Khalifah ke-22 al-Mustakfi (dicongkel matanya)

8. Ini sebuah fakta yg menyedihkan yang terjadi di masa khilafah. Jadi, ya biasa-biasa saja, dalam rentang waktu yang panjang ada kalanya kekhilafahan mendatangkan kemakmuran spt di masa Harun ar-Rasyid tapi ada juga periode dimana kemelaratan dan kemiskinan melanda kekhilafahan.

9. Masalahnya, eks HTI itu menyembunyikan fakta krisis dan kebangkrutan yg dialami khilafah zaman old, lantas menyerang demokrasi dan pemerintah RI seolah khilafah itu satu-satunya solusi utk Rupiah yg anjlok. Khilafah zaman old dulu pernah lebih parah lagi.

10. Modusnya eks HTI: menyerang kondisi sekarang dg kisah kejayaan masa silam. Ketika ditunjukkan fakta sejarah bhw khilafah dulu jg bermasalah, mrk ngeles bhw sejarah gak bisa jadi sumber hukum. Lha terus knp ente duluan ngutip sejarah masa lalu?

“Mau tahu lebih detail lagi kisah Khilafah era Abbasiyah? Nantikan buku Islam Yes, Khilafah No jilid kedua yang akan segera terbit bulan September ini, Insyaallah,” tandas Nadirsyah. (Fathoni)




emoticon-Imlek





emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ian_tazz dan 5 lainnya memberi reputasi
Gampang saja:

Begundal HTI harus pertanggungjawabkan nasib Enzo sekarang.
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan eyefirst2 memberi reputasi
khilafah itu penting untuk melawan dominasi amerika dan cina
bayangka semua negara muslim membentuk penerintahan yang satu
ekonomi yang sama hancur itu amerika
Diubah oleh cepute
Quote:


Kebayakan akun klonengan emoticon-Cape deeehhemoticon-Leh Uga
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di