alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Mata Najwa, Mata Buta untuk (Nduga) Papua
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4de2c5f0bdb24b8503dad1/mata-najwa-mata-buta-untuk-nduga-papua

Mata Najwa, Mata Buta untuk (Nduga) Papua

Mata Najwa, Mata Buta untuk (Nduga) Papua
Ist: Qureta.com

Catatan: tulisan lengkapnaya anda bisa baca di Qureta.com dengan tema yang sama.

Siapa yang tidak kenal dengan presenter terkemuka di muka bumi Indonesia, Najwa Shihab? Mata Najwa nama program talk show-nya mulai dikenal publik ketika ia meliput bencana tsunami Aceh tahun 2004.

Sekarang ini, Najwa Shihab dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Ia berkali-kali menampakkan diri di layar kaca. Najwa Shihab menjadi salah satu idola masyarakat tidak terbilang usia dan profesi.

Saya yang dari kampung, tidak mempunyai listrik, memakai TV 90-an, dan mendiami di pegunungan Papua juga ikut meramaikan followers terakhir Najwa.z

Dia tidak hanya mempunyai keterampilan baik sebagai bekerja di dunia jurnalis, tapi juga Najwa Shihab dikenal cerdas dan kritis saat menggali informasi. 

Riwayat kinerjanya sebagai jurnalis, ia tidak bisa menggampangkan begitu saja. Karena Najwa Shihab pernah menjadi reporter, anchor, sampai host program.

Saya tahu, dia pun dulu tayang (kalau kami Papuans bilang putar) di MetroTV, kini Najwa bermigrasi ke Trans7. Alasannya saya tidak tahu. Sekali lagi, saya ini dari dusun, tidak mengikuti baik kenapa ia pindah haluan. 

Lantaran orang Papua dan saya sendiri sibuk dengan bantuan sukarela berupa berdoa kepada Tuhan, makanan dan material bagi orang-orang Nduga yang saat ini hidup jauh dari rumah asalnya. Jadi, tidak ikuti baik alasan Kak Najwa berpindah ke TV lain.

“Nduga” Papua yang sedang dalam keadaan ‘darurat manusia’ akhir-akhir ini. Masyarakat Nduga menghindari kontak bersenjata antara TNI/Polri dengan kelompok pro-kemerdekaan Papua—TPNB-OPM.

Menurut media asing bercabang Indonesia, BBC Indonesia meliput kalau anak-anak yang lahir selama konflik di Nduga, orang tuanya diberi nama sesuai dengan keadaan. Pengungsi; contohnya, adalah nama anaknya - ibu Jubiana Kogeya.

Dalam berita BBC yang berjudul Pengungsi Nduga, Papua: Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak di tengah konflik senjata melaporkan, "Karena melahirkan dalam hutan, dalam pengungsian, jadi saya kasih nama Pengungsi," jawab Jubiana ketika ditanya alasan anak itu dinamai Pengungsi.

Lanjut, bayi laki-laki itu menangis di pangkuan ibunya. Napasnya berat, sementara badannya yang demam tanpa ditutupi sehelai kain pun.

“Jubiana Kogeya, tidak tahu arah untuk mencoba meredakan anaknya saat Kogeya menyusuinya, apalagi tidak ada setitik ASI keluar. Cerita menyebalkan. Oleh karenanya, mamanya, bayi itu dinamai Pengungsi,” (Ayomi, 5/8/19).

Media lain dari asing, Radio New Zealand, juga menaikkan berita langsung dari kelompok bantuan Tim Solidaritas untuk Nduga. Tim ini mengatakan sedikitnya 182 orang dari kabupaten tersebut meninggal karena kelaparan dan terkena penyakit di kamp-kamp pengungsian.

Efek dari konflik Nduga juga, anak-anak sekolah tidak bisa belajar dengan baik di sekolah. 3.457 anak di Nduga tidak bersekolah seperti diberitakan media Papua, Tabloid Jubi.

Meskipun saya berada dalam dunia-berduka di Papua dan rangkaian kematian orang Papua dan merasa sayang kepada siswa/i Nduga yang tidak menimbah ilmu dengan baik, terutama “Nduga” di atas ini, saya tetap saja menonton acara favorit saya, yakni Mata Najwa.

Setiap kali saya menonton program Mata Najwa, dalam hati dan imajinasiku selalu bertanya-tanya, kapan Najwa Shihab angkat bicara dan topik tentang Papua? Terlebih khususnya isu Nduga, Papua.

Dan karena Nana, panggilan akrabnya mencintai dunia literasi, apakah Kak Nana tidak ikut concern atau peduli dengan keadaan 3.457 anak sekolah - Nduga (tunas bangsa) yang tidak bersekolah akibat perbantahan senjata? Sampai tidak mau tahu dan tidak bicara di panggung Mata Najwa atau platform yang Kak Najwa miliki?

Komentar dan kritik tentang buku kiri beberapa minggu lalu dari Kak Nana sendiri bertepuk tangan bagi orang yang peduli dengan dunia literasi, termasuk saya. Saya tidak mau kalau serdadu Indonesia ini bermacam-macam dan buta warna tentang buku-buku. Jangankan menyita.

Kami dukung penuh selebritas Indonesia yang senang mengkritik pemerintah, seperti Kak Nana. 

Sejak Kak Najwa juga mengkritik prajurit mengenai penyitaan buku-buku kiri di Indonesia, saya pun mau dengar kakak bicara tentang buku-buku sejarah Papua untuk diajarkan di setiap sekolah.

Paling tidak di sekolah-sekolah di kedua provinsi Papua dan Papua Barat agar saya dan pelajar-pelajar Papua mau tahu versi kami tentang sejarah Papua karena saya tidak belajar dan terima sejarah Papua yang sebenarnya di bangku TK-PT.

Karena saya pikir, konflik berkepanjangan di Papua adalah kesalahannya Jakarta dalam penyuapan sejarah Papua.

Saya berikan ilustrasi serupa agar lebih tahu tentang isu-isu Papua. Biasanya, menurut saya, anak abnormal/cacat lahir dari ibunya dikarenakan ada dua kemungkinan: kesalahan dalam perkimpoian dan ibunya yang kena jatuh.

Nah, masalah Papua ini sama dengan gambaran di atas. Ibunya (Indonesia) telah salah dalam perkimpoian. Otsus salah satunya. Kedua, ibunya kena jatuh menandakan bahwa di sana ada sejarah yang sebenarnya tidak mengungkapkan—sejarah Papua huru-hara—tidak mengajarkan di institusi-institusi dengan benar.

Ketidakadaan penjelasan dari keluarga itu sendiri mengenai sejarah dan silsilah keluarganya; akhirnya, lahirlah anak abnormal dan anak mati. Dalam hal ini, Papua, lahirlah masalah berkepanjangan hingga kematian orang Papua—slow genosida.

Jakarta tidak kasih kami (orang Papua) makanan (sejarah, kebijakan) yang kami tidak suka - berlainan. Sembunyikan yang sebenarnya dan menerangkan yang sesuka Jakarta.

Seperti penulis ternama Papua, Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman, salah satu bukunya, Integrasi belum selesai: komentar kritis atas Papua road map, 2010, dan Pdt. Dr. Benny Giay, Ph.D, penulis buku Pembunuhan Theys: kematian HAM di tanah Papua, 2006 yang selalu berkumandangkan di dalam buku-bukunya kedua tokoh bangsa Papua ini.

Lanjut ke Nana di atas, saya hanya tahu dan selalu mencatat buku harian saya tentang kapan jadwal putarnya acara Mata Najwa sehingga saya bisa mendengarkan perbincangan antara narasumber-narasumber yang dihadirkan di panggung dan melihat sedikit sumber-sumber informasi yang ditampilkan di layar TV oleh tim riset Mata Najwa sebelum perbincangan dimulai.

Bagian paling penting yang saya tunggu-tunggu adalah catatan khas dari Mata Najwa; membacakan take away atau ide utama pada prolog (acara pembukaan) dan epilog - akhir acara, di mana kesannya menggelitik hati orang.

Masyarakat Papua menginginkan Kak Nana menggunakan hal yang sama seperti yang Kak Najwa pikir; meliput gempa dan Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam adalah paling berharga seketika Najwa bergabung di MetroTV karena Kak Najwa pernah menceritakan betapa kakak sendiri sulit melupakan liputan Tsunami Aceh.

YouTube Pijaru membenarkan kisah suka dan duka Nana saat peliputan di tsunami Aceh dan kakak bilang, "Mengerikan ketika melihat gelimpangan jenazah. Bau anyir jenazah itu masih teringat bahkan terkadang pun masih melekat di ingatan. Saya baru betul-betul melihat di tengah bencana yang dahsyat," kisahnya Najwa Shihab menceritakan di Pijaru.

"Saya rasanya tidak pernah berada dalam situasi melihat orang yang rasanya betul-betul hilang harapan. Di situ saya belajar menjadi wartawan yang lebih peka, lebih punya empati, dan memahami apa yang dilalui oleh orang-orang yang saya lihat," kata Najwa Shihab dan diilustrasikan ke dalam bentuk animasi oleh Pijaru.

Kita mendengar kisah Nana di Aceh ini menyayangkan dan turut berduka cita. Dan tentunya orang-orang yang punya naluri tidak terima hal-hal yang mengorbankan manusia. Kematian manusia Aceh dan Papua hanya event yang beda.

Orang Aceh mati karena tsunami, sedangkan manusia Papua mati karena sejarahnya. Orang Aceh meninggal karena bencana alam, sedangkan orang Papua meninggal karena sistem negara—Indonesia.

(catatan: dalam kematian orang Aceh, fokus hanya pada korban gara-gara tsunami dan ini tidak terhitung dengan korban orang Aceh pada GAM vs serdadu Indonesia dan korban di luar tsunami)

Karena Kak Najwa tidak bisa meliput TKP langsung di Nduga, Papua sejak Nana fokus ke program Mata Najwa, kedengarannya bagus jika Nana bawah suara Nduga di panggung Mata Najwa tentang bagaimana orang Papua merasa: mengerikan ketika melihat gelimpangan jenazah. Bau anyir jenazah itu masih teringat bahkan terkadang pun masih melekat di ingatan orang Papua.

Kutipan ini menjadi familiar di telingah Nana karena kakak sendiri betul-betul melihat di tengah bencana yang dahsyat dengan tatap muka di Aceh.

Damai Papua dan Catatan Mata Najwa

Kala itu tema yang diangkat dalam Mata Najwa adalah Damai Papua. Prolog awal dari Najwa adalah dengan memberikan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan, di mana Najwa mengatakan dalam catatan tipikal Mata Najwa.

Mata Najwa dimulai seperti biasa dengan narasi pembuka oleh Najwa Shihab dengan narasi yang menggelitik, penuh tanya, dan menggelitik pemirsa untuk penasaran dengan pembicaraan yang akan disajikan di Mata Najwa. Catatan pembukaannya seperti berikut:

Penjajahan Belanda dan pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) adalah penggalan sejarah Papua yang mendua, Di mana dalam benaknya, orang Papua bertanya, mereka anak kandung Belanda, Indonesia atau wilayah yang merdeka? 

Nyatanya Papua adalah anak Bangsa Indonesia yang murung berkerudung duka. Bapaknya (Bangsa Indonesia) tak juga mampu menjawabnya. Mulai dari pembangunan yang terlunta, membungkam isi hati, mengambinghitamkan gagasan, kekerasan negara, hingga bagaimana memanusiakan orang Papua. Inilah Mata Najwa Damai Papua. 

Begitulah prolog dari Najwa Shihab memulai acara Mata Najwa yang dikutip langsung di channel resmi Jaringan Damai Papua di YouTube.

Dalam perbincangan topik Damai Papua, Najwa mengundang empat narasumber, yaitu (alm.) Muridan S. Widjojo (peneliti politik lokal LIPI), Paskalis Kossay (Koordinator khusus Papua dalam parlemen), Jusuf Kalla (penggagas perdamaian Aceh), Farid Husain (utusan khusus presiden untuk Papua).

Akhirnya Mata Najwa diakhiri dengan pembacaan Catatan Mata Najwa oleh Najwa Shihab dan seperti biasa acara Mata Najwa pun diakhiri dengan alunan lagu bikinan Creed, One Last Breath. Sekarang lagu penutup diganti dengan, Efek Rumah Kaca - Seperti Rahim Ibu.

Api prahara di bumi Papua awalnya karena beda penanggalan sejarah belaka. Namun kita lupa. Kita alpa membangun Papua. Kita tutup mata kekerasan negara memenjara jadikan pelanggaran hak asasi berita sehari-hari di layar tivi. 

Otonomi khusus belum digarap serius. Sedangkan pendekatan keamanan hanya akan lahirkan pemberontakan. 

Ini bukan soal bintang kejora yang mendadak jadi huru-hara bersenjata. Ini soal keamanan manusia. Tentang bagaimana negara menjamin Papua. Mulai dari aman pangan, aman ekonomi, aman politik, sampai aman budaya. 

Meniru semangat Helsinki, dialog perlu dibangun sekali lagi, agar tak ada perasaan, Papua termarginalisasi di tanah sendiri.




Source: QURETA.COM
profile-picture
BuBengSiauCut memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
nice thread gan
mantap bgt isinya


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di