KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4aa4e4a727684917225b16/kotak-waktu

Kotak Waktu

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 6 dari 15
Quote:


Sekarang anak2nya lemah2 bro,dulu gw sd cabut keluar sekolah pas istirahat digeplak pala ma guru. Pas ngadu ke ortu malah nambah geplakannya bro wakakak
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post delts135
Yess maksud guah gitu,org tua kita mempercayakan pendidikan di sekolah sama guru jadi ga ada tuh istilahnya ngegeruduk sekolaan karna anaknya di usap palanya,hehehe guah juga pernah diusap pala tp pke penggaris kayu..
🎩
😁
👕👍Great!
👖 ditunggu updatean nya bos
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Quote:


Memang "preview"-nya kenapa, Gan? emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
kelayan00 dan erwinss145 memberi reputasi
weeh baru tau kalo mau ada buku kedua emoticon-Wow
nabung dulu biar pas terbit bisa langsung dapat.. emoticon-Malu
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
sebentar lg taka akan memojok merenungi nasib. puisi tak jadi cinta pun tak jua didapatkan. hanya meratapi nasib dengan penyesalan yg selalu dtg terlambat.😁
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
taka bego taka bego taka bego ga pekaaaaaaaaa

eh tp umuran sgitu sih kek nya blm peka, blm belajar banyak soal kode2an dr cewe.. wajar aja sih bego wkwkwk
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
welcome back bang,, Salh satu penulis terbaik di Kaskus
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
ijin neduh, di luar deres
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
izin gelar tiker dimarih...emoticon-televisi
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
aihhhh syedapp nian goresan cerita penulis legend. lanjutt boskuhhhh
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi

BAB 13

Semester dua hampir habis. Para siswa sibuk mempersiapkan ujian akhir semester. Bukan hanya karena ini untuk kenaikan kelas, tetapi juga untuk pembagian jurusan akademik Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Beberapa siswa sudah terang-terangan menolak masuk kelas IPA karena kerumitan yang akan dihadapi nanti, dan lebih memilih IPS karena menurut mereka pelajarannya relatif lebih mudah. Sementara orang-orang macam Keela serius mempersiapkan nilai yang baik untuk bisa masuk IPA-1, kelas unggulan yang berisikan murid-murid dengan nilai tertinggi di sekolah. Melihat semangatnya yang menggebu-gebu, Taka curiga dia banyak dipengaruhi oleh Iqbal. Seperti diketahui, Iqbal, salah satu siswa terpandai di angkatannya adalah siswa kelas II IPA-1.

Di awal semester, sebelumnya wali kelas sudah membagikan angket penjurusan. Katanya penentuan pembagian penjurusan akan dilakukan di akhir semester ini dengan melihat nilai selama satu tahun pelajaran. Tentu saja, siswa yang ingin masuk ke kelas IPA harus punya nilai bagus di mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia.

“Sesuai kebijakan sekolah kita, siswa yang ingin masuk IPA harus punya nilai rata-rata 7,5 di pelajaran yang tadi Ibu sebutkan.” Hari itu Bu Yoyoh selaku wali kelas memutuskan untuk meliburkan kelas Biologi dan menggantinya dengan konseling penjurusan. “Sementara yang mau masuk IPS, gimana ya, tenang saja pokoknya kalau nilai kalian tidak cukup buat masuk IPA maka dengan sendirinya akan masuk kelas IPS.”

Kelas menjadi gaduh dengan bisikan-bisikan cemas. Tiba-tiba Gugun mengangkat tangannya. Semua terkejut, karena selama ini belum pernah sekali pun dia terlihat aktif berbicara atau mengajukan pertanyaan saat kelas berlangsung. Menjawab pertanyaan pun hanya kalau ditanya oleh guru. Maka ini adalah momen yang langka. Semua diam mendengarkan.

“Kalau gitu berarti benar ya pandangan selama ini bahwa anak IPS lebih jelek dibandingkan anak IPA?”

“Hm, ibu harus jawab gimana ya,” Bu Yoyoh jadi agak kikuk.

“Padahal menurut saya, penjurusan IPA atau IPS itu bukan melulu soal nilai akademik. Bukan juga soal mana yang lebih superior: IPA atau IPS. Itu cuma stigma yang berkembang di masyarakat kita aja,” lanjut Gugun. Taka terkejut mendengar Gugun bicara seperti itu. Bahkan Bu Yoyoh sendiri terperangah. “Nilai saya bagus, saya layak masuk IPA. Tapi kalau saya lebih suka IPS, saya akan masuk IPS.”

“Baik, Ibu jelaskan lebih detail ya. Jadi begini anak-anak,” Bu Yoyoh membuka buku catatannya.

“Alasan utama dari pembagian jurusan IPA atau IPS adalah agar kalian bisa lebih fokus dalam belajar dan mendalami ilmu. Ketika kuliah nanti, kalian juga harus memilih jurusan yang lebih spesifik lagi. Sebelum memilih jurusan, pastikan kalian mengenal kemampuan dan minat kalian masing-masing. Caranya? Coba kalian lihat lagi rapor dari SD sampai saat ini, lebih bagus mana pelajaran-pelajaran IPA atau IPS? Itu bisa jadi acuan pertama buat pertimbangan memilih jurusan.

“Kalian juga harus mengenali minat kalian. Benar kata Gugun, walaupun nilai kalian bagus di IPA, tapi kalau kalian lebih memilih IPS, ya sudah lanjutkan. Kami sebagai guru hanya menyayangkan nilai yang bagus di IPA tidak dilanjutkan ke jurusan yang sama. Makanya kami akan mendorong siswa yang bagus di mata pelajaran IPA atau IPS, untuk masuk ke jurusan yang mereka kuasai. Di akhir semester nanti, sekolah akan mengadakan psikotes untuk penjurusan. Dari situ kalian bisa punya acuan tambahan untuk memilih IPA atau IPS.”

Maka di akhir semester ini topik pembicaraan yang tidak habis dibahas oleh para siswa adalah mengenai penjurusan. Keela tetap menjadikan IPA sebagai pilihannya. Dewi lebih mencari aman dengan memilih IPS. Elsa bilang akan berusaha masuk IPA dengan bernegosiasi mengenai beberapa nilainya yang kurang di mata pelajaran IPA. Sementara Taka dan Gugun lebih santai.

“Mau di jurusan mana pun, yang penting tetap sekolah,” kata Gugun. Tentu saja ucapannya ini didebat oleh Keela selama beberapa waktu, sebelum akhirnya Keela menyerah dan merelakan Gugun memilih IPS walau nilainya terbilang bagus.

Pada akhirnya, semua mendapatkan keinginannya. Keela berhasil masuk II IPA-1. Elsa di II IPA-3. Dewi sekarang siswa kelas II IPS-2. Sementara itu Taka dan Gugun lagi-lagi satu kelas, yaitu di II IPS-1.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 9 lainnya memberi reputasi

BAB 14

Satu topik yang hangat dibicarakan di awal semester baru adalah mengenai pemilihan ketua OSIS periode 2002/2003. Berbeda dengan tahun pertama, Taka merasa pemilihan kali ini mendapat lebih banyak perhatian dari para siswa.

Pagi itu ketika baru saja datang, Taka melihat kerumunan siswa di depan majalah dinding sekolah. Karena penasaran dia pun menghampiri mereka.

“Ada pengumuman apa?” Tanyanya kepada mereka.

“Pengumuman calon ketua OSIS,” ada yang menjawab tetapi Taka tidak tahu siapa.

“Siapa aja calonnya?”

“Lutfi dari II IPS-2, Abhay II IPA-4, sama Keela II IPA-1.”

“Hah? Keela? Seriusan dia ikut?”

“Lihat aja sendiri.”

Taka menerobos kerumunan dan ternyata memang benar, foto dan nama Keela dipajang sebagai salah satu calon ketua OSIS periode mendatang, lengkap dengan penjelasan mengenai visi misinya. Taka heran karena Keela tidak pernah cerita soal pencalonan dirinya.

Taka lalu memutuskan menyambangi kelas II IPA-1 untuk menemui Keela. Di sana Keela sedang membersihkan papan tulis.

“Pagi, Keela.”

“Pagi, Ka. Tumben, udah ke sini aja pagi-pagi begini,” kata Keela ramah.

“Iya, nih. Habis baca pengumuman di mading soal pemilihan ketua OSIS. Kamu ternyata ikutan ya?”

Keela tertawa pelan. “Coba-coba aja, kok.”

“Jangan cuma coba-coba, tapi harus sepenuh hati. Siapa tahu kamu menang. Aku sama yang lain pasti milih kamu, Kee.”

Keela tersenyum lebar. “Makasih, Ka.”

“Selamat ya buat pencalonannya. Tapi kenapa kamu enggak pernah cerita?”

“Hehehe. Kan biar kalian terkejut. Surprise gitu ceritanya.”

“Oke. Triknya berhasil. Ngomong-ngomong, anak II IPA-1 pada rajin banget jam segini udah banyak yang datang. Kalau di kelasku, paling lima sampai sepuluh orang. Anak IPA memang gokil ya.”

Mereka berdua tertawa.

“Halo, Keela.” Tiba-tiba saja Iqbal sudah berdiri di depan pintu kelas.

Keela melambaikan tangan. “Sebentar ya, Ka,” ujarnya sambil menghampiri Iqbal. Mereka terlihat membicarakan sesuatu. Keela berjalan cepat menuju mejanya untuk mengambil buku dan pulpen, lalu menghampiri Taka.

“Mau pergi?” Taka menebak.

Keela menganggukkan kepala. “Iya. Kak Iqbal ngajak aku ke ruang OSIS buat dikenalin ke teman-teman pengurus.”

“Buat apa ketemu mereka?”

“Jadi, Kak Iqbal mau ngebantu kampanyeku di pemilihan ketua tahun ini. Dia bilang, pengin aku yang ngegantiin dia. Makanya, dia bakal ajak orang sebanyak-banyaknya buat milih aku sebagai ketua yang baru.”

Entah kenapa Taka tidak suka gagasan yang didengarnya. “Ya udah, aku balik ke kelasku ya,” katanya mendahului Keela keluar kelas. Di depan pintu dia sempat menatap ke arah Iqbal tetapi ketua OSIS yang masih aktif itu tidak sedikit pun menoleh padanya.

Dalam perjalanan menuju kelas, Taka menjadi gelisah. Kalau Iqbal membantu kampanye Keela, berarti dia akan sering bersama Keela.

Pertanyaannya, kenapa Keela mau? Bukankah selama ini dia menolak didekati Iqbal? Mungkin karena melihat sosok Iqbal yang banyak dikenal orang, juga posisinya sebagai ketua OSIS aktif, akan menguntungkan bagi Keela kalau dipromosikan olehnya. Bagaimanapun, pasti banyak siswa yang mendengarkan saran dari Iqbal untuk memilih calon pengganti yang tepat, yaitu Keela. Taka bisa memahami alasan tersebut, tetapi sebagian dari dirinya merasakan api cemburu mulai menyala di dalam dadanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
kurang peka sih... ud kejadian baru grasak grusuk...

keselo-an x pulaknya. 🙄
Quote:


Karna Taka selo,sangat selo
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi

BAB 15

Musim kampanye sudah datang. Masing-masing calon ketua dan wakilnya mulai menjalani rangkaian kegiatan yang sudah diatur oleh sekolah, yaitu pemaparan visi misi dan debat terbuka. Pada upacara bendera, semua kandidat diberi kesempatan menjelaskan kepada calon pemilih mengenai program kerja yang mereka tawarkan. Selama lima belas menit mereka berorasi di depan peserta upacara.

Taka bangga melihat Keela berdiri di podium. Dengan topi dan dasi abu-abu, serta pita berwarna merah putih sebagai tanda pengenal bahwa mereka adalah calon yang berkontestasi, Keela membacakan naskah kerjanya. Meskipun tidak semua kalimat yang diucapkan Keela bisa dimengerti, Taka yakin dia akan memilih perempuan itu. Aku sudah memilihnya sejak lama, bahkan sebelum dia bicara sebagai calon ketua OSIS.

Kebanggaan yang lahir di dada Taka makin menumpuk tatkala melihat performa Keela dalam debat terbuka yang diadakan di aula. Semua kegiatan belajar ditiadakan dan seluruh siswa wajib hadir di aula untuk menyaksikan debat antarkandidat.

Baik Lutfi, Abhay, ataupun Keela, mereka sudah mempersiapkan materi yang akan dibawakan saat debat. Menurut Taka, Keela yang paling siap. Keela menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kandidat lain dengan sangat baik. Performa sempurna dari seorang Keela. Taka makin jatuh hati padanya.

Seusai debat, Keela menemui keempat sahabatnya di kantin. Mereka kompak memberikan selamat atas penampilannya yang memukau.

“Anak-anak pasti milih kamu, Kee,” kata Elsa.

“Jelas! Dari ketiga calon, cuma Keela yang paling oke!” Dewi tak kalah semangat.

“Makasih,” Keela merangkul Dewi dan Elsa. “Ini semua berkat bantuan dari Kak Iqbal.”

Jantung Taka berdetak kencang ketika mendengar nama itu disebut.

“Dia tutor yang baik. Terbukti semua sarannya sangat bermanfaat,” lanjut Keela. “Pantas ya, dia bisa jadi ketua OSIS. Dia juga punya prestasi yang enggak sembarangan. Aku kagum sama orang kayak gitu.”

Taka mencelos. Mendengar Keela memuji Iqbal seperti itu, remuk hatinya.

“Kamu tadi nonton debatku enggak, Ka?” tanya Keela.

“Eh, anu, iya, aku nonton, kok.” Taka menjawab dengan gelagapan. Segaris senyuman terpaksa dia buat untuk menutupi emosi yang bergejolak di dadanya. “Selamat ya, Kee. Penampilan kamu luar biasa.”

“Makasih, Ka.” Keela lalu menceritakan apa saja yang didapatnya dari Iqbal. Dewi dan Elsa terang-terangan mengekspresikan kekagumannya pada sosok pujaan para gadis di sekolah itu. Hanya Gugun yang tidak bereaksi berlebihan. Sepertinya dia memahami situasi yang dihadapi sahabatnya. Taka tahu Gugun sudah beberapa kali mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi tiga perempuan di hadapannya selalu kembali pada topik mengenai Iqbal. Seolah pembahasan tentang laki-laki itu tiada habisnya.

Siangnya itu, sepulang sekolah Taka dan Gugun nongkrong di kantin belakang. Masih ada satu warung yang belum tutup. Di sanalah mereka berbincang mengenai kejadian hari itu.

“Posisi lu makin sulit, Sob,” kata Gugun. “Nilai jual Iqbal makin kuat di mata Keela. Terlebih, kalau Keela menang, mereka berdua pasti bakal makin dekat. Pergantian kepengurusan sebuah organisasi pasti butuh komunikasi intens antara orang lama dengan orang baru. Minimal sampai pengurus baru mulai menjalankan tugasnya.”

Taka cuma diam. Dia memang tidak bisa berharap apa pun. Dia ingat Gugun pernah menyuruhnya bertindak, tetapi dia tidak pernah melakukan apa-apa. Lembar-lembar puisi itu hanya jadi pajangan di dinding kamarnya. Segera setelah pulang nanti, dia akan mengemasinya ke dalam kotak, atau membakarnya.

“Gimana kalau lu beralih ke yang lain?” Gugun sambil menepuk bahu Taka.

“Yang lain?”

“Iya. Cewek lain. Masih banyak, kok, yang enggak kalah cantik dari Keela. Mau gue kasih rekomendasi? Nih, gue sebutkan ya. Ada Gita teman sekelas kita, Tutut II IPS-3, Kokom II IPA-5, terus Eneng II IPA-3, pokoknya banyak, lah. O ya, ada satu lagi yang paling istimewa. Kualitas super.”

Taka diam mendengarkan.

“Ceu Odah, Ibu Kantin kita tercinta,” Gugun sambil menunjuk perempuan paruh baya di sisi kompor yang sedang membolak-balik gorengan bakwan.

“Jangan ngaco kamu, Gun! Segala Ceu Odah dibawa-bawa!” Mendengar namanya disebut, Ceu Odah langsung menunjukkan gestur mengancam dengan mengacungkan sodet di tangannya.

Taka dan Gugun tertawa.

“Gimana? Udah nentuin pilihan?” lanjut Gugun. “Lu tenang aja, gue bisa negosiasi sama mereka. Lu tinggal tentukan kapan ada waktu, nanti gue lobi mereka buat ketemu elu.”

“Apaan, sih? Enggak! Enggak perlu yang kayak gitu. Makasih banyak buat tawarannya.”

“Ah, lu enggak seru, boy. Kalau begini terus, gue khawatir lu bakal bunuh diri.”

“Ngaco aja. Masa urusan beginian doang sampai dibawa mati?”

“Faktanya, banyak pelaku bunuh diri dilatarbelakangi masalah asmara.”

“Iya, tapi masa lu sepicik itu mikir gue bakal bunuh diri cuma karena masalah percintaan? Enggak, lah!”

“Ya udah, pokoknya gue enggak mau lihat lu murung karena Keela. Enggak asyik temenan sama orang yang murung. Nongkrong juga jadinya enggak enak.”

Taka tertawa pelan. Tidak lama kemudian mereka memutuskan pulang. Ketika melewati koridor kelas mereka bertemu Bagas yang berjalan dengan tergesa-gesa.

“Mau ke mana, Gas? Buru-buru banget.” Gugun yang bertanya.

“Mau ke Kafe Gaul di jalan Sumbawa.”

“Wih, tumben nongkrong di tempat begituan. Lagi banyak duit, nih?”

“Siapa bilang nongkrong di sana perlu duit? Kan ditraktir.”

“Siapa yang nraktir?”

“Kalian enggak tahu memangnya? Lutfi, calon ketua OSIS baru, ngundang anak IPS ke Kafe Gaul. Mau ngobrol-ngobrol, katanya.”

Taka dan Gugun saling menaikkan alis.

“Wah, cakep tuh! Beneran ditraktir?”

“Iya. Bilangnya, sih, gitu.”

“Gue sama Gugun boleh ikut, dong?”

“Ikut aja. Undangannya terbuka, kok.”

“Ini, nih, yang namanya ‘The right man in the right place at the right time’.”

“Apaan tuh?”

Gugun yang menjawab, “orang kanan di sebelah kanan pada waktu yang kanan!”

Mereka bertiga tertawa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
ngaworr artinya.. hahaha emoticon-Big Grin

taka bergeraklah sebelum terlambat...
Widihhh ... gw bikin ID kaskus gara2 pengen komen om ari di SK2H dulu ..
Ijin gelar tiker ..
profile-picture
profile-picture
calonmertuamu dan kelayan00 memberi reputasi
Gugun cocok dah jadi gugel translet. Juara sumpah! emoticon-Leh Uga
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Gue udah lama enggak main KASKUS, enggak paham cara main manajemen sekarang. Tahun 2011, thread SK2H dapet jumlah viewers tembus 1 juta (thread SFTH pertama yg mencapai angka segitu pada masanya) tapi enggak pernah sekali pun masuk jajaran Hot Thread, tapi thread ini kedua kalinya jadi Hot Thread bahkan dengan jumlah viewers di bawah 10,000.

Apakah ini berarti standar yang ditetapkan menurun? Atau semua thread sekarang layak HT? Ada yg bisa bantu jawab?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gebolextreme dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
Lihat 1 balasan
Halaman 6 dari 15
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di