- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Cerita Wiranto dan Pasang Surut Kemesraan Dengan FPI Sejak Era Reformasi
TS
deniswise
Cerita Wiranto dan Pasang Surut Kemesraan Dengan FPI Sejak Era Reformasi

Lewat sebulan sudah izin Front Pembela Islam (FPI) kadaluarsa. Hingga saat ini belum ada kejelasan nasib organisasi yang dikomandoi Habib Rizieq Shihab itu, apakah lanjut diperpanjang izinnya atau akan menjadi ilegal. Menkopolhukam Wiranto mengatakan bahwa izin perpanjangan masih dievaluasi.
“Sebenarnya izinnya sudah habis tanggal 20 Juni yang lalu. Tapi sementara ini belum diputuskan. Izin itu dilanjutkan atau tidak,” kata Wiranto, Jumat (19/7).
Ia mengungkapkan, alasan pemerintah belum memberikan perpanjangan izin kepada ormas Front Pembela Islam, karena pihaknya masih mendalami, terkait evaluasi aktivitas FPI selama ini.
“Rekam jejaknya sedang disusun terkait organisasi ini layak diberikan izin lagi atau tidak,” ujar Wiranto.
Hasil evaluasi itu nantinya akan disesuaikan dengan Undang-Undang Organisasi Masyarakat (UU Ormas) yang berlaku.
“Hukum tentang keormasan yang nanti mendasari pemerintah untuk menentukan keputusan itu,” kata Menkopolhukam Wiranto.
Bicara tentang rekam jejak maka tak bisa dipisahkan dari sejarah FPI itu sendiri. FPI sendiri berdiri atas inisiasi Rizieq. Perannya sangat berjasa terhadap FPI selama berkiprah di Indonesia, terutama sejak dibentuk pada 17 Agustus 1998 tepat di Hari Kemerdekaan Indonesia.
Panji-panji FPI ditegakkan setelah kebebasan berorganisasi dan mengemukakan pendapat dijamin setelah keruntuhan rezim Orde Baru. Rizieq mendapat momentum untuk mengumpulkan sejumlah ulama yang sama-sama bercita-cita menegakkan Syariat Islam di Indonesia. FPI juga menjadi bagian dari Pasukan Pengamanan Masyarakat (Pam) Swakarsa yang mengamankan Sidang Istimewa MPR (SI MPR).
Pam Swakarsa adalah sebutan untuk kelompok sipil bersenjata tajam yang dibentuk oleh TNI untuk membendung aksi mahasiswa sekaligus mendukung SI MPR tahun 1998. FPI menjadi salah satu bagian kelompok yang ikut terlibat dalam Pam Swakarsa dan berperan dalam berbagai bentrokan yang terjadi di sekitar tahun 1998.
Eksistensi FPI ini mendapatkan dukungan dari beberapa pihak, termasuk Pangab waktu itu yang dijabat oleh Wiranto. Itu sebabnya, Robert W. Hefner, dalam artikel "Muslim Democrats and Islamist Violence in Post-Soeharto Indonesia", menyebut Wiranto sebagai salah satu orang yang mendirikan FPI.
Wiranto jelas membantah. Namun indikasi kedekatan tersebut terlihat dalam kasus keterlibatan FPI dalam Pam Swakarsa.
Selain itu, FPI juga pernah membela Wiranto pada saat dirinya diperiksa terkait dugaan keterlibatan pelanggaran HAM di kasus Mei 1998 dan kekerasan Timor Leste. Pada saat itu, laskar FPI menggeruduk Komnas HAM dengan membawa senjata tajam seperti pedang dan golok, mengatakan bahwa KOMNASHAM telah lancang karena telah berani melakukan pemeriksaan terhadap seorang jendral.
Di masa itu pemberitaan tentang FPI yang membela Wiranto marak di berbagai media. Ada juga buku yang mengabadikan momentum tersebut seperti misalkan Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia (hlm. 16), Genealogi Islam radikal di Indonesia: Gerakan, Pemikiran, dan Prospek Demokrasi (hlm. 239), dan Politik Syariat Islam: dari Indonesia hingga Nigeria (hlm. 74).
Serangan FPI kepada Komnas HAM yang memeriksa Wiranto juga dicatat dengan nada pedas oleh Sri Bintang dalam buku Ganti Rezim Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara (hlm. 105-106).
Namun paska insiden tersebut, Hefner menyebut perlahan hubungan antara Wiranto - FPI mulai renggang, pada saat Wiranto merapat ke Golkar. Sebelum akhirnya pada 2017 lalu, keduanya kembali mesra. Wiranto saat itu disowani Rizieq, sebuah pertemuan dua kawan lama. Wiranto pun sempat mengenang romantisme keduanya di masa lalu.
"Saya dapatkan tamu istimewa di rumah dinas saya sebagai Menko Polhukam sore ini. Saya kira itu adalah rahmat dari Allah SWT, karena tamu-tamu ini teman-teman lama terutama Habib Rizieq yang sudah dikenal sejak sebelum tahun 2000 ya kita sudah bersama-sama berjuang di sana," ujar Wiranto usai pertemuan tertutup di rumah dinas Wiranto di Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017).
Sementara Rizieq lebih mengapresiasi adanya pertemuan tersebut. Kata dia, dirinya dan Wiranto adalah sahabat lama. Namun jika belakangan terjadi komunikasi yang tersebut, dia menyebut karena adanya kesalahpahaman.
"Selama ini kita saling membantu, berkomunikasi, berdiskusi, berdialog. Makanya kalau belakangan komunikasi tersumbat dan terjadi kesalahpahaman, maka saya lihat pertemuan ini luar biasa," sebut Rizieq.
Pada saat itu, banyak pihak yang menyinggung soal adanya organisasi atau kelompok yang anti pancasila dan anti kebangsaan. FPI yang dituding menjadi bagian dari kelompok tersebut datang untuk meluruskan perkara, meski sejarah mencatat FPI pernah melakukan demonstrasi di depan DPR untuk mengubah konstitusi negara.
Pada 1 November 2001, FPI melakukan aksi saat pembukaan sidang tahunan DPR/MPR. Mereka menyampaikan lima tuntutan, tiga di antaranya mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, memasukkan kembali Syariat Islam dalam UUD 1945, dan membuat undang-undang anti-maksiat.
Hal serupa dilakukan kembali pada Agustus 2002 bersama 14 organisasi Islam lain seperti Front Hizbullah, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia. FPI menyampaikan petisi umat Islam tentang pencantuman syariat Islam dalam UUD 1945.
Sejauh ini nuansa hubungan Wiranto - FPI bisa dikatakan kembali renggang. Persaudaraan Alumni (PA) 212 curiga Wiranto saat ini 'membenci' FPI. Namun tudingan tersebut ditepis oleh Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko.
"Nggaklah, kita nggak ada yang benci sama Habieb Rizieq, siapa yang benci? Nggak, nggak ada yang benci," kata Moeldoko di DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Jalan Cikini Raya, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2019).
Sebelumnya, Wiranto sendiri membuat pernyataan bahwa Rizieq saat ini memiliki sedikit masalah dengan pihak Arab Saudi, yaitu soal waktu tinggal yang melebihi batas. Karena alasan tersebut, kemudian Rizieq tidak bisa pulang ke Indonesia dengan begitu saja sebelum persoalan tersebut selesai.
Wiranto dan FPI, dalam hal ini Rizieq, barangkali saat ini memang tidak 'mesra'. Namun bagaimanapun, sejarah mencatat bahwa di masa lalu keduanya pernah dekat. Keduanya adalah kawan lama yang 'terpisahkan'.
sumber
oh gitu tho
tien212700 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
4.6K
16
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan