CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Renjana - Cinta Tanpa Karena
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d062b47349d0f707570532f/renjana---cinta-tanpa-karena

Renjana - Cinta Tanpa Karena

Renjana - Cinta Tanpa Karena


PROLOG 

"Kamu mau aku diambil Akbar yang selalu ada buat aku?"

"Ra, Rara, entah siapa pun Akbar itu, baik atau buruk dia, yang jelas, di sini aku masih sanggup denganmu, sanggup memperjuangkanmu. Aku masih sangat menjagamu. Walau dengan caraku; cara yang menurutmu kurang tepat; cara yang menurutmu kurang pantas; dan cara yang menurutmu tak seperti kebanyakan laki-laki lain. Tapi percayalah, seberapa pun banyak keburukanku di matamu, perasaan dan perjuanganku telah lebih besar daripada itu. Dan aku pun tahu; aku tak seperti itu di matamu. Aku tak sebagaimana citra yang ku sampaikan itu." Aku pun mencoba menjelaskan posisiku, dan perasaanku, pada perempuan yang ku cintai itu, "Jika kau tahu apa yang telah ku lakukan padamu, dan di saat itu ku tahu kau justru telah beralih pada apa yang menjadi pilihan hatimu, percayalah, aku di sini akan tetap sama. Tetap di posisi semula. Tetap di perasaan yang sama. Sebab bisaku sekarang hanya mencintaimu, dan memperjuangkanmu dengan caraku; cara yang tidak dan takkan pernah kau mau tahu."

"Ra, jika kau benar-benar tak ingin lagi denganku, lelah dengan cara-caraku, serta telah menemukan laki-laki baik dan bisa menjaga menurutmu, pergilah. Pergilah padanya. Aku tak apa. Tapi jika kelak laki-laki itu menjahatimu, membiarkanmu seorang diri di tengah kesakitanmu, bukalah lagi pintumu, sebab aku masih menunggu untuk bisa kembali bersamamu."

"Ra, mungkin banyak kurangku di matamu. Aku tahu itu. Aku sadar itu. Tapi lihatlah, lihatlah barang sebentar; bukankah aku coba untuk memperbaiki kurangku, mencoba bahagikanmu dalam kerudung susahku? Aku sudah perjuangkanmu sejauh ini, selama ini. Kau tak sadar itu? Hal apa lagi yang kau mau dariku? Semuanya sudah ku berikan. Bahkan tubuhku pun telah ku pertaruhkan untuk bahagiamu."


Bagian: 1 2 ...





profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh infoanaksultan
Halaman 1 dari 2
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Bagian 1 A

Boleh aku cerita? Namaku Yana, Sastra Barayana. Bukan. Itu bukan nama sebenarnya. Tempat-tempat yang akan kalian tahu pun, itu bukan nama tempat sebenarnya. Bukan posisi sebenarnya.

Cerita ini adalah tentang cinta tanpa karena. Kalian tahu itu apa? Jika tidak, bacalah. Resapi. Pahami. Setelah itu, tanyakan pada diri kalian sendiri; apa itu cinta tanpa karena.

Minggu, 09 Oktober 2016. Jam 2.30 Sore.

“Kamu kenapa, sih, masih saja nggak berubah! Mana Janjimu yang bakal selalu jaga hubungan kita. Mana! Kamu bilang nggak akan ngulangin kesalahan lagi, mana? Justru sekarang kamu makin lali, makin jarang perhatiin aku. Janji-janjimu pun sekarang bohong semua. Kamu penipu. Jangan-jangan emang bener kata temen-temen aku kalau kamu Cuma mau main-main sama aku?!” Rara memulai pertengkaran kami dengan begitu memberi tekanan pada tiap kata di pesan singkatnya, "kamu tahu nggak sih, aku tuh capek, Yan, capek. Kamu bisa nggak sih ngertiin aku bentar? Kamu kan tahu kita ini jauh. Ngejalanin hubungan jarak jauh itu nggak mudah, Yan, nggak mudah. Harusnya kamu itu. Harusnya kamu sadar. Ini bukannya sadar malah menjadi-jadi."

"Iya, maaf. Tadi aku ada urusan. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Tapi ini juga sudah mau berangkat, kok. Kamu tunggu aja di sana, ok?"

"Berangkat darimana. Ini sudah jam 2.30 sore. Kamu mau sampai sini jam berapa? Kuningan-Semarang itu jauh Yana, jauh. Masakan Emih juga kayaknya sudah dingin dan nggak enak. Kamu mau aku makan makanan basi dan jatuh sakit?!"

"Ya udah. Ini aku lagi jalan. Kamu tunggu aja di sana. Doakan agar aku sampai tepat waktu. Dan soal makanan, nanti aku tanya ke Emih; apa masih layak makan atau nggak."

"Terserah..."

Jam 2.40 sore aku beranjak dari kediaman Rara menuju Semarang. Pantura sudah aku lalui. Jalan yang panas dan penuh debu itu sudah aku lewati dengan hati was-was dan khawatir, takut. Takut kalau akhirnya yang ku temui hanya amarah, dan duga sangka. Setelah 5 jam berkendara, sepeda motorku telah sampai juga di Kota Semarang; kota yang sarat sejarah dan bangunan yang indah. Kecantikannya mungkin membuat siapa pun yang berkunjung terlena, tapi tidak denganku. Aku yang terburu-buru tidak mungkin berhenti menyaksikan keindahan Semarang seperti saat ini. Lagian, hari juga sudah mulai gelap, makanan yang ku bawa juga sudah sangat dingin terpapar angin pantura yang kencang dan lembab.

Tanpa terasa laju motorku mulai tak normal, tak stabil. Benar saja, ban motorku kempes. Padahal hampir 100 meter lagi aku sampai kost Rara. Banku sayang, banku malang. Ia memang sudah gundul sejak lama. 4 kali sebulan ku geber Kuningan-Semarang membuatnya rapuh dan berteriak ingin diganti. Cuma sayang, uang ganti tak kunjung hadir. Ada juga uang bensin. Jumlahnya pun tak cukup untuk mengganti roda motor baru.

Hari sudah makin gelap—mungkin sudah lewat Isya—jalan menuju kost Rara sudah hampir dekat. Kupikir menemuinya dulu akan lebih baik daripada mencari tukang tambal ban di malam hari seperti ini. Terpaksa, ban yang sudah kempes itu, aku gelindingkan juga.

Sesampainya di depan kost aku hubungi Rara melalui pesan singkat.

"Ra... Rara, kamu di mana. Coba keluar sebentar. Ini aku sudah di depan kost kamu. Kamu keluar, yah?"

"Ra, ini aku sudah jauh-jauh, loh. Masa kamu nggak mau keluar, sih. Ini makanannya keburu basi nanti."

"Ra... ayo, dong. Jangan marah-marah terus. Ini kan aku sudah sampai."

"Ra..."

"Ra... kamu marah banget, yah? Ya sudah. Makanannya aku gantung di pagar. Kamu tinggal ambil saja. Kata Emih, sampai pagi juga nggak akan basi, kok. Aku pulang dulu, yah. Maaf sudah ngecewain."

Tidak. Aku berbohong saat itu. Aku tidak pulang, aku menunggu, menunggu di malam hari yang sepi tak ada orang. 1-2 jam aku menunggu, lalu lanjut di jam ke-3, Rara masih belum memberikan kabar. Frustasi, kecewa. Dengan keduanya aku meninggalkan kost Rara sendiri, tanpa ditemui. Motor ku dorong hingga menemui jalan raya. Beruntung, 300 meter dari belokan tempat kost kost Rara, ku temui tukang tambal ban yang masih buka. Aku meminta jasanya, dan ku kembali ke kotaku tercinta, Kuningan.

Tiga jam setelah kepulanganku, Rara mulai mengirimi pesan.

"Yana, kamu sudah sampai mana?"

"Hi. Aku baru sampai Kabupaten Tegal, Ra. Di sini hujan. Aku lupa bawa jas hujan karena buru-buru."

"Kamu mah kebiasaan. Kalau udah sampai jangan lupa kabari, ya?" Suruhnya padaku, "Wajib!"

"Siap!"

"Ini aku lagi makan makanan yang kamu kirim, hehe. Enak. Emang juara si Emih kalau masak." Pernyataanya kini mulai menyalahkan, "coba kalau kamu tadi nggak bikin marah, nggak bikin kesel. Mungkin aku nggak pergi sama Akbar buat cari makan tadi, dan bisa makan masakan mamah bareng kamu."

"Oh, iya. Maaf."

"Ya lagian. Udah tahu aku nungguin kamu dari pagi. Sengaja nggak makan dulu biar makan bareng. Eh, kamu malah molor. Alasan ngerjain tugaslah, ngerjain deadline-lah, ngerjain ini, ngerjain itu. Emang sih ya, kalau orang udah bosen tuh biasanya gini; suka nyepelein. Udah tahu pacarnya kangen, pengen ketemu. Eh dianya malah enak-enakan tidur. Dasar!"

"Aku nggak tidur, emang ada urusan bentar. Da dari malem kan begadang ngurusin kerjaan."

"Alah, alasan. Emang ya dari dulu kamu tuh nggak berubah, ngeles mulu!" Bahasannya mulai merambah, "lagian ngerjain tugas dari mana, ngerjain kerjaan dari mana, orang semalem aku liat IG kamu aktif terus, kok."

"Ya IG aktif kan bukan berarti aku lagi stalking juga. Bisa aja aku tinggalin pas lagi aktif. Lagian nge-IG juga buat refresh bentar buat ngilangin stres." Cobaku melempar tuduh, "lagian mau hubungin kamu juga nggak bales. Jangankan mau nemenin, dihubungi aja susah. Di whatsapp nggak dibales. Terus dengan cara apa aku ngilangin stress kalau bukan dengan cara itu?"

"Udah deh, nggak usah ngeles. Iya mah iya aja, nggak usah ngerambah ke topik lain. Emang kamu pikir aku nggak ngeliatin semua medsos kamu apa? Tiap hari kerjaannya nge-like foto cewek semua. Ada yang manis dikit, di-like. Ada yang solehah dikit, di-follow. Ada yang cantik dikit, di-comment. emang ya, cowok tuh sama aja. Nggak pernah nge-hargain pasangan. Bukannya merhatiin ceweknya, malah merhatiin yang lain" Pernyataannya kini semakin memberondong, "lagian nih ya, kita ini kan LDR, hubungan jarak jauh, ketemunya jarang. Ya sekali-kali kek video call. Nanyain kabar pacar kek. Nanyain lagi apa kek. Nanyain udah makan belum kek. Ini mah boro-boro. Jangankan nanyain gitu, hubungin pacarnya aja jarang-jarang. Itu juga kalau senggang, kalau lagi nggak ada kerjaan. Kalau lagi sibuk mah, ya, client-nya terus yang dihubungin. Heran. Tahu gitu pacaran aja sama client kamu sana!"

"Gimana kita mau video call kalau kamu aja dihubunginnya susah?"
balasku dengan emoticon senyum, mencoba mencairkan suasana.

"Halah, alasan. Dasar aja kamu nggak pengen, nggak mau merjuangin."

"Ya udah, iya. Aku minta maaf. Ya udah aku berangkat lagi, ya. Kebetulan udah mulai reda hujannya."

"Tuh kan, malah kabur dari masalah. Emang ya kalau udah bosen tuh kaya gini, ada masalah dikit, kabur. Ada problem dikit, lepas tangan."

"Apa sih, Ra. Iya nanti dilanjutin, ini aku baru nyampe Tegal. Perjalananku masih jauh. Nanti dilanjutin lagi, ya, cantik."

"Kamu mau aku diambil Akbar yang selalu ada buat aku?"

Aku tak jadi melanjutkan perjalanan. Entah dari mana hujan besar datang dengan tiba-tiba, lengkap dengan angin besar yang membuatku berpikir untuk tak lanjutkan perjalanan. Mungkin Tuhan ikut membuka ponselku, mungkin Ia ikut membaca pesan dari Rara. Pesan yang singkat, namun benar-benar mematahkan semangat.

Geram, emosi, tapi juga mencoba tenang.

"Ra, Rara, entah siapa pun Akbar itu, baik atau buruk dia, yang jelas, di sini aku masih sanggup denganmu, sanggup memperjuangkanmu. Aku masih sangat menjagamu. Walau dengan caraku; cara yang menurutmu kurang tepat; cara yang menurutmu kurang pantas; dan cara yang menurutmu tak seperti kebanyakan laki-laki lain. Tapi percayalah, seberapa pun banyak keburukanku di matamu, perasaan dan perjuanganku telah lebih besar daripada itu. Dan aku pun tahu; aku tak seperti itu di matamu. Aku tak sebagaimana citra yang ku sampaikan itu." Aku pun mencoba menjelaskan posisiku, dan perasaanku, pada perempuan yang ku cintai itu, "Jika kau tahu apa yang telah ku lakukan padamu, dan di saat itu ku tahu kau justru telah beralih pada apa yang menjadi pilihan hatimu, percayalah, aku di sini akan tetap sama. Tetap di posisi semula. Tetap di perasaan yang sama. Sebab bisaku sekarang hanya mencintaimu, dan memperjuangkanmu dengan caraku; cara yang tidak dan takkan pernah kau mau tahu."

"Ra, jika kau benar-benar tak ingin lagi denganku, lelah dengan cara-caraku, serta telah menemukan laki-laki baik dan bisa menjaga menurutmu, pergilah. Pergilah padanya. Aku tak apa. Tapi jika kelak laki-laki itu menjahatimu, membiarkanmu seorang diri di tengah kesakitanmu, bukalah lagi pintumu, sebab aku masih menunggu untuk bisa kembali bersamamu."

Rara benar-benar jadi guru yang baik. Ia mengajarkanku untuk bagaimana menghargainya dengan ada atau tanpa lebih-kurangnya. Ia jujur, Ia menjadi dirinya sendiri. Dan mencintainya, adalah uji yang harus ku hadapi.

Sabar, adalah hal yang kini harus ku perkokoh untuk bisa terus bersamanya. Sabar, adalah senjata paling baik untuk menjaga hubunganku dan dia. Dan sabar, adalah caraku untuk bisa jadi sosok yang mampu mencinta tanpa mata; sosok yang mampu mencinta tapi melihat rupa; sosok yang mencinta tanpa meminta rasa; dan lebihnya, aku ingin jadi sosok yang mampu mencinta tanpa karena.

Ya, aku ingin alasan tak menemuiku saat aku bersama dia. Aku tak ingin menemui karena. Sebab buatku, mencintai dengan karena adalah cara paling bodoh untuk dapat bersama. Karena akan hilang, karena akan musnah. Ia akan berganti dengan hal yang baru, hal, yang mungkin buatmu tak suka. Sederhananya, karena yang kau idamkan akan berubah dan mengubah, untuk kemudian menjadikan pasangan sebagai sosok yang berbeda.

Hujan di malam itu masih juga besar. Ia masih bersikukuh untuk tinggal. Entah karena memang seharusnya begitu, atau Tuhan memang mengirimkannya untuk menahanku. Pikirku sekelebat; mungkin Tuhan baik. Ia mengirimkan hujan yang begitu besarnya agar aku tak melanjutkan perjalanan. Ya, bagaimana mau melanjutkan perjalanan, orang hati juga masih hancur dan berantakan. Ia kalau selamat sampai tujuan, kalau terkapar di tengah jalan? Ya, benar. Dan di tengah gemuruh di hatiku, aku masih juga bersyukur.

Senin, 10 Oktober 2016, jam 2.30 dini hari,

Hujan benar-benar telah redup, langit telah berhias dengan bulan dan bintang, cerah. Aku lekas memanaskan mesin motor untuk melanjutkan perjalananku yang masih panjang. Sebenarnya alasan utamaku bukan itu, tapi lebih pada takut. Bukan takut terlambat masuk kuliah besok, tapi lebih pada takut terjadi hal yang tak dinginkan di sini, di jalan yang sesepi ini, tanpa penerangan, rumah, dan jalanan yang penuh lubang. Rasanya, orang seperti apapun akan enggan untuk berlama-lama di tempat seperti ini. Apalagi ini malam hari, waktu di mana hal tidak diinginkan sangat sering terjadi.

Setelah beberapa menit mesin motor ku panaskan, aku lekas menggeber motorku untuk lanjutkan perjalanan.

Kupikir hujan besar yang menahanku tadi benar-benar membantu meredakan emosiku. Hati yang tadinya bergemuruh sekarang tenang seakan tak terjadi sesuatu. Tuhan memang menjadi juru adil nomor satu. Ia menolong saat ketenangan tak membersamaiku.

Sepeda motor kulajukan dengan sedikit perlahan. Bukan karena sedang ingin bersantai dan menikmati langit bergemintang, tapi lebih pada menjaga ban agar terhindar dari gesekan yang membuatnya kembali berlubang. Kata tukang tambal ban di Semarang, banku sudah seharusnya diganti. Lapisannya sudah menipis. Terkena gesekan benda tajam sedikit saja Ia akan berlubang. Kan tidak lucu harus mendorong motor di tengah jalanan sepi tanpa lampu malam-malam?

Senin, 10 Oktober 2016, jam 6.30 pagi,

Sepeda motorku telah mengantar hingga depan rumah. Lega rasanya. Tapi aku harus buru-buru sampai, mandi dan menyiapkan tugas kuliah yang belum ku kerjakan. Bukan lupa, memang sengaja ku kesampingkan, dengan asumsi, pada malam setelah aku pulang, aku bisa langsung kerjakan. Tapi Tuhan berkehendak lain. Ia kirimkan hujan dan membuatku mengubah semua yang telah direncakan.

Lepas mandi aku langsung membuka laptop dan mengerjakan apa yang harusnya ku kerjakan. Mengerjakan 3 makalah beda mata kuliah sudah biasa ku lakukan. Bukan perkara menyepelekan, namun pekerjaan copywriter membuatku mudah mengerjakan tugas makalah perkuliahan. Ya, jangankan makalah, skripsi orang saja ku kerjakan. Jadi 3 makalah ku pikir akan sangat mudah.

Benar saja, baru jam 7.30, tapi semua makalah sudah selesai ku buat. Masih ada 30 menit sebelum ku berangkat kuliah.

Dari belakang rumah suara piring bergeminting, sudah bisa ditebak, ibu sudah menyiapkan sarapan spesial untuk aku; anaknya yang tak pulang semalaman. Lepas suara piring-piring itu berhenti ibu mulai memanggilku.

"Nak, ayo sarapan dulu."

Ibu memang seperti itu, terlalu sayang pada anaknya. Karenanya, pagiku selalu diisi dengan suara panggilannya, kadang lengkap dengan cerewetan dan kemarahannya. Tapi biar begini, aku tahu, Ia melakukan karena sayang, sayang seorang ibu pada anaknya.

"Iya, bu. Bentar lagi."

"Ini sudah mau jam 8, Yana.?"

"Iya, bu, aku sarapan, kok." Jawabku sembari mengambil sarapan dan membuka percakapan, "Oh ya, bu. Kemarin gimana kata dokter?"

"Kata dokter ibu Cuma kecapean aja, nak. Katanya ibu butuh istirahat. Jadi, ya, hari ini ibu izin kerja, mau istirahat dulu."

"Terus kata dokter apalagi, bu? Obat yang dikasih apa aja? Nanti ibu minum, ya, obatnya. Jangan sampai enggak. Nanti kalau lupa aku ingetin, kalau males aku yang nyuapin. Kan gantian, dulu ibu ngerawat aku kalau sakit. Sekarang giliranku, aku mau ngerawat ibu pas lagi sakit kaya gini."

"Halah kamu ini, sok-sokan. Boro-boro mau ngerawat ibu, orang tiap pagi aja musti ibu yang bangunin."

"Ya nggak apa-apalah, bu. Ibu bangunin aku dulu, baru nanti aku rawat ibu setelahnya."

"Terus nanti siapa yang masak?"

"Ibu dong, emang mau tiap hari kita sarapan nasi goreng doang? Iya kalau enak. Kalau keasinan, kan repot. Bisa-bisa selain gula, ibu juga kena darah tinggi karena nasi gorengku."

"Ya gitu mah sama aja ibu nggak istirahat."

Kami pun tertawa.

"Oh, iya bu. Aku minta maaf ya kemarin nggak sempet antar ibu." Lanjutku, "aku lupa kalau jam 2.30 sore ada janji sama temen. Tapi kemarin ojek onlinenya bener jemput dan antar ibu sampai ke rumah kan?" Aku berbohong. Sebenarnya bukan teman. Bukan teman biasa. Tapi Rara.

"Iya, nak. Nggakpapa. Janji itu hutang. Lagian ibu masih sehat kok, masih bisa diantar sama mamang ojol." Ibu lalu menanyakan perihal temanku, yang tidak lain adalah Rara, "terus kemarin temenmu gimana, baik-baik aja? Ya, memang, sesama temen harus menjenguk, apalagi kalau dia sedang sakit."

"Oh, dia baik, bu. Alhamdulillah kondisi sudah baikkan. Katanya dia Cuma butuh teman yang selalu ada untuk menyembuhkannya, bu."

"Oh, memang dia sakit apa?"

"Hati, bu."

"Ya sudah, ibu doakan agar temenmu cepet sembuh, cepet sehat lagi seperti dulu. Kan kasian anak ibu tiap hari melamun memikirkan temannya yang sakit itu." Ibu lalu menyuruhku untuk segera berangkat ke kampus, " udah jam 7.50 tuh, nak. Kamu berangkat gih ke kampus."

"Iya, bu. Aku berangkat, yah. Makasih doanya."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Kasih Agape = Kasih walaupun...
Hehe...
Gubuknya tu om...seyem...
Ditunggu update selanjutnya juragan, ceritanya seperti sekarang apa yang saya rasakan, tidak kurang tidak lebih
profile-picture
infoanaksultan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Bagian 2

Aku dan Rara sudah menjalani hubungan selama 1 tahun. Dalam 1 tahun ini banyak yang telah kami alami. Tawa, tangis, sedih, gembira, semuanya. Semuanya menjadi bumbu hubungan kami. Pun dengan pertengkaran. Baik kecil atau pun besar, keduanya, selalu menjadikan kami kembali memeluk hati yang telah kami yakini.

Aku yakin, Rara adalah anak yang baik, gadis yang baik. Tidak ada satu apapun yang menyangkal itu. Satu apapun. Kecuali kejadian besar itu, kejadian terkenang.

Ra… i can feel you, if you’re not with me.

***

Sabtu 15 Oktober 2016, sudah 6 hari Rara menghilang dari notifikasi ponselku. Jangankan menghubungi. Dihubungimu pun, ia susah. Entah apa yang terjadi, aku tak tahu.

Tapi meski begitu, tak kurang satu hari pun aku menghubungi Rara, menanyai kabarnya, menyuruhnya makan, semuanya. Semuanya ku lakukan. Walau aku tahu, pesanku, tiada pernah dibalasnya. Tiada pernah dibacanya. Kalian tahu kenapa aku melakukan ini? Tahu? Aku, yang juga melakukan ini pun, tak tahu dengan diriku sendiri.

Sejujurnya aku nyaman. Hanya nyaman. Nyaman menjalani ini. Dengan Rara.

Menjalani hubungan tanpa balasan seperti ini memang menyakitkan, menyedihkan. Itu untuk beberapa orang. Tapi menurutku, yang tak pernah menjalani hubungan sebelumnya, menjalani hubungan seperti ini adalah suatu kenyamanan. Entah. Apakah aku yang bodoh atau tak tahu. Aku tak mengerti. Tapi jangan pernah salahkan aku untuk urusan ini. Bukankah setiap orang punya perspektif yang berbeda dalam menjalankan hubungan dan cinta? Dan inilah caraku, cara yang menurut banyak orang adalah cara yang bodoh.

Minggu 16 Oktober 2016 adalah hari di mana kita mengikat janji untuk saling membersamai. Hari spesial. Hari di mana kami akhirnya menjalani hubungan. Ya, besok adalah hari anniversary kami.

Kami sendiri tak merayakan hari jadi ini setiap bulan. Tidak. Aku bukan anak kecil yang mau-maunya merayakan ini tiap bulan. Buat apa? Buang-buang waktu.

Sedang Rara, ia ingin. Baginya, merayakan hubungan setiap bulan akan meningkatkan kecintaan satu sama lain. Bagiku, tidak. Kami bahkan sempat berseteru untuk urusan ini. Kami, bahkan sempat berhenti berkomunikasi selama 3 hari. Selama 3 hari pula Rara menolak telepon dariku, menolak bicara padaku, dan haruslah aku menemuinya, menjelajah Kuningan-Semarang juga untuk menjelaskan dan mendamaikan hatinya.

Minggu besok aku akan ke Semarang lagi untuk mengunjunginya, merayakan hari jadi kami berdua. Beruntung pada hari Kamis kemarin aku baru selesai mengerjakan projek yang lumayan besar, satu buah skripsi manajemen. Harganya pun lumayan, bisa dipakai untuk bolak-balik Kuningan Semarang selama 2-3 bulan.

Sabtu malam aku sempatkan membeli kue brownies kesukaannya. Semoga dengan ini kau bahagia, ya, Ra. Semoga.

***

Minggu 16 Oktober jam 4 pagi, saat di mana kabut masih memeluk Kuningan, aku sudah keluar untuk memanaskan sepeda motorku. Saat itu ibu belum bangun. Sabtu sore ia memang mengeluh sakit lagi, tapi Sabtu sore aku sudah berikan obat. Semoga lekas sembuh, ya, bu.

Tepat pukul 4.30 aku berangkat ke pasar untuk membelikan hadiah untuk Rara.

Satu buah mukenah aku pilih. Mukenah warna putih dengan pinggiran berwarna emas. Cantik. Warnanya cocok dengan tubuh Rara yang putih bersih khas wanita priangan. Walau harus ku akui, mukenah ini memang sedikit besar. Mungkin untuk ukuran ibu-ibu. Tapi tak apa, ku beli saja. Semoga kau suka, ya, Ra!

Selesai dari pasar aku lanjutkan perjalanan ke kota tujuan, Semarang.

Jalanan yang masih gelap membuat kecepatan motor aku pelankan. Takut terjadi apa-apa. Selain takut begal dan rampok, aku juga takut jalanan yang ku lalui mencelakaiku. Maklum. Jalanan mana di Indonesia yang tidak berlubang?

Ku saksikan mata hari terbit setelah sampai di Cirebon timur. Kalau tidak salah, daerah Pangenan. Mendapatkan cahaya dari sang surya, aku pun kencangkan laju sepeda motorku. Ku lajukan dengan sangat kencang. Harapanku, sebelum Rara bangun, aku sudah sampai di depan kostannya, memberinya kejutan.

Saat jam sudah menunjukkan pukul 10.30 aku sudah memasuki daerah Semarang, daerah tujuan. Sebentar lagi Rara aku temui dengan kejutan ini. Ah, Rara, semoga ini bisa membahagiakanmu, ya!

Saat jam sudah menunjukkan pukul 10.50, aku sudah sampai di depan kost Rara, Kost yang tiap minggu aku kunjungi.

Ku coba melepon Rara.

Tak diangkat. Ku coba lagi, hasilnya sama. Beralih dengan cara lain, aku menghubungi Rara melalui whatsapp.

“Ra… bangun, aku sudah di depan kostan kamu, nih!”

“Ra…. Rara….”

“Raraku sayang… keluar dong….”

Pesan pun tak juga memberikan jawaban.

Ah, mungkin dia masih tidur. Biar aku ketuk saja pintu pagarnya, semoga dia bangun. Semoga.

“Permisi… assalamu’alaikum…”

“Permisi…”

“Permisi… assalamu’alaikum…”

Beberapa menit kemudian seorang wanita keluar. Semoga itu Rara. Ku siapkan kejutanku; kueku, juga hadiahku untuk Rara. Saat hendak ku angkat, aku sadar, itu bukan Rara. Itu orang lain, Amel, teman kost Rara.

“Eh, mas Yana, nyari Rara ya mas?”

“Iya, Mel. Raranya ada?”

“Wah, tadi sih bilangnya lagi nyari makan, mas.” Amel membukakan pintu, menyuruhku masih dengan gerakan tangannya, “masuk, mas. Tungguin aja di dalem.”

“Lama nggak ya, Mel?”

“Biasanya sih dia kalau beli makan cepet, mas. Tungguin aja.”

“Nggak apa-apa nih nungguin di dalem? Nggak dimahari ibu kost?”

“Alah, kaya nggak pernah ke sini aja.”

“Hehehe… iya deh. Saya masuk ya.”

Kami masuk. Aku masuk ke ruang tengah dan Amel ke kamarnya. Selang beberapa menit Amel keluar lagi, ia pamit.

“Mas Yana, tungguin di sini aja, ya, saya mau keluar dulu, ada janji sama temen.”

“Nggak apa-apa nih saya sendirian?”

“Kaya nggak biasanya aja ke sini.”

“Iya, sih, tapi nggak sendirian juga. Kan kalau main ke sini sama Rara juga masih ada anak-anak yang lain.” Aku menengkok ke sana kemari, mencari keberadaan anak-anak kost lain. Hasilnya, mereka tak ada. “Ngomong-ngomong yang lain ke mana, kok sepi?”

“Iya, masing-masing lagi ada acara.” Amel kemudian mengecek tasnya, memastikan semua barangnya ada dan tak tertinggi. Beberapa saat kemudian ia benar-benar pamit, pergi. “Ya udah ya mas, aku pamit dulu, temen aku udah nunggu di depan soalnya.”

“Ya udah deh. Tolong kabari Rara aku di sini, ya.”

“Siap, deh. Siap jaga rahasia, mumpung sepi nih, hahaha.”

“Hussttt sembarangan!”

“Hahaha bercanda, mas.” Amel mulai melangkah keluar dan pergi meninggalkanku. “Ya udah aku pamit, ya, mas. Nanti kalau mas sama Rara mau keluar, bilangin ke Rara, kuncinya taro di ventilasi aja, gitu. Ok? Bye.”

“Hati-hati.”

Ya, sekarang, aku sendiri di tempat kost ini. Sendiri. Sendiri menunggu Rara.

Satu, dua, tiga jam aku menunggu Rara. Namun sampai pada jam keempat, Rara belum juga menampakan batang hidungnya. Kemana dia? Dengan siapa dia pergi? Jika hanya membeli makanan, kenapa selama ini? Ah, pikiranku melayang, mengarang.

Ah, sudahlah Yana, mungkin dia Cuma berkumpul dengan temannya, mengerjakan tugas kelompok dan belajar bersama. Atau, mungkin, dia sedang jalan dengan temannya? Teman lelakinya. Siapa ya namanya? Oh ya, Akbar, si akbar. Apa mungkin dia jalan dengan Akbar? Ah, ayolah, masa iya, kan aku akan ke sini hari ini. Sedang apa dia? Sedang melakukan apa dia? Sedang di mana dia? Ah, Tuhan, hentikanlah segala pikiran buruknya; pikiran dengan segala kemungkinan-kemungkinan muncul dan menggenang.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan Rara, masih juga tak terlihat dan memberi kabar.

Aku coba menghubunginya kembali dengan telepon. Satu dua kali dicoba, Rara tak mengangkat. Dan pada percobaan ketiga, Teleponku dimatikan. Di percobaan keempat, ponsel Rara, tidak aktif.

Aku masih menunggu di tempat dan ruang sama sejak jam 11 lalu. Di sini aku tak melakukan apa-apa. Tak bisa melakukan apa-apa kecuali menunggu. Mungkin Rara benar-benar pergi dengan Akbar. Jika pun tidak, tiada mungkin hingga sesore ini ia belum juga pulang. Rara bukan begini. Bukan begini kalau sendiri. Rara pasti diajak oleh seseorang hingga sesore ini ia belum juga pulang.

Ra… kamu kemana, aku menunggu di sini.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Langit yang tadinya terang sudah semakin menguning, tanda bahwa sang Raja langit akan turun tahta. Sedang Rara, hingga sesore ini, ia masih juga tak pulang.

Menyerah. Aku pikir lebih baik aku batalkan surprise ini. Ku tinggalkan saja semua barang-barang ini dan ku beri satu lembar surat untuk Rara.

Isi surat itu kurang lebih begini:

“Dear Rara…

Hai gadisku, betapa aku bahagia menantikan saat ini. Saat di mana kita berdua satu tahun lalu mengikat janji, janji untuk saling membersamai, janji untuk saling berkomitmen hingga mati.

Non, aku sudah belikanmu brownies kesukaan, brownies yang waktu itu kau inginkan dan belum sempat aku belikan. Alhamdulillah, aku ada rejeki, aku belikan untukmu, untuk gadisku yang paling ku rindu.

Non, jika kamu berkenan, aku juga membelikan seperangkat mukenah untukmu. Mukenahnya mungkin kebesaran. Tapi entah mengapa, pas aku melihatnya, aku sudah merasa cocok. Ku pikir ini cocok untukmu. Semoga kamu suka. Semoga kamu pakai di setiap solat dan doamu.

Aku membelikannya untuk kau pakai setiap waktu.

Non, kalau kau ingin tahu, aku ingin jadi pria yang hadir dalam setiap doamu. Doa yang kau panjatkan pada Tuhanmu. Jika aku menurutmu kurang baik, doakanlah aku jadi baik. Jika aku menurutmu sudah baik, doakan aku agar jadi lebih baik. Yakinlah, doamu akan membantuku membaik.

Oh ya, Non, kau kan pernah bilang, kau ingin aku memulai tabungan berjangka? Alhamdulillah, bebeberapa hari lalu aku dapat proyek yang lumayan. Uangnya cukup besar. Malah lebih untukku. Rencana, besok, aku akan membuat tabungan berjangka. Aku akan memulai menabung. Aku akan mengamini apa yang menjadi doamu. Dan sekali lagi, doakan aku. Doakan aku agar mampu memenuhi tiap tanggungan dari tabungan itu. Doakan aku agar mampu memenuhi nominal yang diwajibkan dalam tabungan itu.

Doakan aku, Non.

Sudah dulu, ya, aku pamit. Sudah sore. Aku pulang dulu.

Browniesnya di makan. Kalau mau bagi-bagi dengan temen juga nggak apa-apa. Kalau mau dimakan sendiri malah lebih bagus, lebih baik. Kan itung-itung usaha buat naikin berat badan kamu.

Mukenahnya juga dipakai. Jangan sampai enggak.

Sudah dulu, ya, sayang. Aku pamit.

Love you more, Non.”

Selesai. Semua pesan sudah ku tuliskan dalam surat itu. Semuanya. Semoga dengan ini kamu senang, ya, Ra. Semoga. Aku senang melihatmu senang. Aku bahagia melihatmu bahagia. Ra, aku pamit dulu, ya. Aku pulang.

Aku mulai membereskan barang-barangku. Hadiah dan kue untuk Rara ku tinggalkan. Ku tinggalkan besama surat di atas meja.

Saat aku mulai berdiri ada suara mobil yang berhenti. Berhenti tepat di depan rumah kost ini. Ah, mungkin tamu dari tetangga, pikirku. Tak ku hiraukan. Aku lanjutkan keluar rumah kost dengan hati yang pasrah. Saat aku hendak membuka pintu, pintu itu terlebih dulu terbuka. Dan kalian tahu siapa yang membuka pintu itu?

Ya, itu Rara, dan seorang laki-laki seusianya.

“Yana…”

Aku tak menjawab. Diam. Membisu. Aku lihat Rara masuk ke rumah kostnya dengan menggandeng tangan pria asing. Ya, akhirnya, aku melihat gadisku yang selama ini aku perjuangkan, menggandeng pria asing di depanku, depan lelakinya sendiri. Dan bukan hanya itu. Gandengan itu juga sangat erat, tanda bahwa mereka sudah sangat akrab, sangat dekat.

Dan yang paling membuatku sakit adalah, gandengan itu, ya, gandengan itu, membawa mereka berdua masuk ke dalam sebuah rumah kost yang tak berisi selain aku.

“Yana… ka.. ka.. ka.. kamu ngapain di sini?” Rara panik, bingung, kaget, semuanya. “ Kenapa nggak bilang mau ke sini.”

“Aku mau memberimu kejutan.”

“Hah?”

“Ya, kejutan.”

“Maksudmu?”

“Hari ini Anniversary kita yang ke-1. Semoga kau ingat.” Rara tak menjawab. Sesekali ku lihat wajah lelaki itu. Lalu meneruskan. “Di atas meja sudah ada yang kau butuhkan. Semuanya. Di sana juga ada surat. Itu akan memberimu penjelasan selengkap-lengkapnya, seterang-terangnya.”

Rara masih juga tak menjawab. Aku lagi yang meneruskan, “dan ini?” aku mununjuk lelaki itu, meminta Rara untuk mengenalkan.

“Oh, saya Akbar, mas.” Lelaki itu mengenalkan dirinya sendiri. Ia mengangkat tangannya untuk ku jabat. “Mas sendiri?”

“Oh, saya? Saya Yana, tukang ojek Emihnya Rara.” Aku mengenalkan dengan setenang-tenangnya.

“Tukang ojeg?”

“Iya. Tadi saya disuruh ngirim barang sama Emih. Barang untuk Rara.”

“Oh…”

“Ya udah, Ra, bro, saya pamit dulu. Takut ganggu.” Aku melangkah menjauhi mereka. Saat ku naiki sepeda motorku, baru aku tahu, Rara tidak sama sekali bergerak. Bicara pun tidak. Bahkan sampai aku pamit pun, ia tidak bersuara. Baru saat aku menyalakan mesin motor Rara bersuara.

“A…” Rara memanggil. Tapi hanya A. Ku anggap itu untuk Akbar, bukan untukku. Mana mungkin Rara memanggil kurir dan tukang ojeg sepertiku.

Aku pun pulang, tanpa perayaan yang ku inginkan.

Jangan tanyakan perasaanku saat itu. Jangan. Tak perlu menanyakan. Kalian semua pasti tahu, mengerti.

Jika kalian tanya mengapa aku tak marah? Aku marah. Marah besar. Hanya aku tahan. Aku redam. Aku hanya tak mau Rara sakit. Aku hanya tak mau Rara menangis karena amarahku, kebodohanku.

Ya, aku tak mau.

Perjalanan Semarang-Kuningan pun ku lalui dengan sangat pelan. Dan, ya, baru kali ini aku menikmati perjalanan pulang. Sayang. Kenikmatan ini bukan mengenai kebahagiaan. Justru sebaliknya, kekecewaan.

Perjalananku sudah sampai pada jam ke-2. Langit malam juga sudah bergemintang. Sesampainya di Pemalang aku buka ponselku. Semuanya notifikasi dari perempuanku, Nona Rara Tirta Ayudia, orang yang tadi melukaiku. SMS, telepon, whatsapp, semuanya dari Rara. Totalnya hampir 100.

Ku tepikan sepeda motorku di sebuah lahan kosong bekas sawah. Aku buka ponselku, ku bacai pesan Rara satu-satu. Dan, benar, sudah ku duga. Hanya permintaan maaf dan janji untuk tak mengulangi lagi. Dan semua penjelasan, permintaan maaf, serta janjinya itu, ku jawab begini, melalui whatsapp.

“Ya, Ra.”

Beberapa menit kemudian Rara menjawab. Diawali emoticon tangis, peluk, tangis lagi, kemudian penjelasan. Isi penjelasannya sama; bahwa dia hanya main ke luar dan mengajak Akbar ke kostan karena kelelahan. Penjelasan itu pun ditutup dengan anjurannya agar aku tak berpikir apapun atas kejadian itu.

Baik, aku mengerti. Tapi mengapa itu dilakukan saat aku masih jadi lelakimu, Ra?

Rara kemudian menjawab. Jawabannya panjang.

“aku minta maaf, A. Tapi di sini aku kesepian. Nggak ada yang mau nemenin. Kamu juga sibuk. Boro-boro mau nelepon aku, ngehibur aku, ngejagain aku. Kamu mah kerjaaaaaannnn terus yang diurusin. Aku nggak diperhatiin.”

“Aku sudah hubungin kamu semingu terakhir. Ku telepon, kamu nggak angkat. Ku whatsapp, kamu nggak balas. Jika jalur komunikasiku denganmu saja begitu, bagaimana aku bisa menghiburmu, menemanimu?”

“Iya… maaf, seminggu itu ponselku ketinggalan di mobilnya Akbar, mau hubungin dia susah, nggak hafal nomornya.” Beberapa detik kemudian ia juga menjelaskan, “tadi pagi Akbar ke kostan, nganterin HP aku.”

“Terus kamu pergi bareng dia?”

“Iya, katanya dia mau ngajak aku jalan, mau nemenin aku.”

“Terus aku ditinggalin, gitu?”

“Kan kamu nggak bilang kalau mau ke sini.”

“Kalau aku bilang kamu bakal nolak ajakan Akbar?”

“Iyalah. Aku pilih kamu.” Sedikit lega. Tapi beberapa saat kemudian kembali sesak. Bahkan yang paling membuat sesak. “Tapi nanti sama Akbarnya lain hari aja, ya. Kan lumayan ada yang ngehibur di lain hari.”

“Oh, jadi dia bisa ngehibur kamu, ngejagain kamu?”

“Iya.”

“Aku?”

“Kan kamu jauh A.”

“Jadi kalau ada yang lebih dekat, kamu pilih yang dekat?”

“Iya.”

“Sejak kapan kamu begini?”

“A….”

“Sejak kapan kamu begini?”

‘Udah dong A, jangan marah-marah terus.”

“Sejak kapan kamu begini?”

“Udah deuh, marah-marah terus, tuh.”

“Sejak kapan kamu begini?”

“Apaan sih.”

“Sejak kapan kamu begini?”

“Tahu deuh.”

“Sejak kapan kamu begini?”

“Tahu ah, pusing, kalian sama aja!”

Dan itu pesan terakhirnya di hari itu. Setelah pesan itu, pesanku kembali tak terkirim. Teleponku juga tak lagi dibalas. Malam itu aku terpukul. Sangat terpukul. Betapa wanita yang sedari dulu ku perjuangkan malah perlakukanku seperti ini.

Aku melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang masih panjang, dan dada yang sakit bak dirajam.

Aku mengendarai sepeda motor dengan tanpa konsentrasi. Jalanan yang gelap dan aspal yang berlubang memperparah jalan pulangku. Pikiranku melayang, konsentrasiku terbang. Aku tak di tubuhku kala itu.

Setelah melewati Pemalang jalanan sudah sangat sepi, hanya bekas-bekas sawah dan kebun tak berpenghuni. Rumah-rumah pun jarang. Sementara pikiranku masih juga melayang. Beberapa lubang sempat menyadarkanku. Motor yang sedikit oleh membuat kesadaranku kembali. Tapi itu tak lama. Setelah itu, kesadaranku, terbang lagi. Hingga pada akhirnya seluruh kesadaranku berkumpul kembali. Kalian tahu itu saat apa? Ya, saat sepeda motorku benar-benar oleng dan terjatuh di jalanan sepi tak berpenghuni.

Tanganku berdarah saat itu. Pun dengan kakiku. Sweater rajut pemberian ibuku pun rusak, terkoyak.

Selepas jatuh aku tak langsung berdiri. Aku hanya bisa duduk merasakan nyeri di tangan, kaki, juga hati. Sepeda motorku pun tak ku angkat kembali. Ku biarkan tersungkur dan terbalik. Mungkin ia telah rusak. Mungkin juga tak bisa dinyalakan lagi. Entahlah. Aku tahu tahu. Yang jelas

Tuhan telah memberikan hadiah selengkap ini.

Aku yang masih merasa sakit di sekujur kaki mencoba bangun, berdiri. Belum sempat berdiri, sepasang lampu mobil menyoroti dengan kecepatan tinggi, semakin dekat sinarnya semakin menerangi, menusuki diri.






profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 2 lainnya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
kok nyesek ya 😭
profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
Lanjutkan mas yan, semangat emoticon-Shakehand2
Quote:


Dok, pasien udh antri di tempat praktik
wah nice thread, ini yang aku tunggu, sangat menginspirasi banget.
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
nyimak dulu
lanjutkan gan emoticon-Big Kiss
profile-picture
infoanaksultan memberi reputasi
Wah, nggak nyangka bakal Hot Thread. Baiklah, mari kita lanjut ke bagian berikutnya. Mari membaca!

BAGIAN 4

Mobil MPV itu tepat berada di depanku, hampir menabrakku. Kalau saja mobil ini tidak dilengkapi dengan rem, kakiku mungkin batah, hancur, rusak. Pun dengan masa depanku yang selalu bertumpu padanya.

Mobil itu terdiam dengan mesin yang masih menyala. Tidak biasanya sebuah mobil yang hampir menabrak seseorang berlaku seperti itu. Aneh.

Aku sendiri tidak melihat siapa yang ada di dalam mobil. Jalanan gelap yang tak diterangi lampu membuat pandanganku tak mampu menusuk hingga interior mobil. Selain itu pengemudi juga tak menyalakan lampu interiornya. Entah karena sengaja untuk menutupi identitas atau apa, aku tak tahu. Yang ku tahu aku hampir tertabrak olehnya.

Selang beberapa menit pengendara mobil itu keluar, iya memanggil.

“Yana… dek.”

Sesosok perempuan keluar dengan manggil namaku, Yana. Ya. Iya kenal namaku. Darimana dia kenal namaku? Siapa dia? Apa urusannya denganku? Ah. Persetan dengan itu semua. Nasibku lebih buruk dari hanya memikirkan segala kemungkinan dan praduga yang bodoh itu.

Perempuan itu berjalan mendekat. Kian mendekat. Pancaran sinar lampu dari mobilnya membentuk bayangan tubuhnya, menyinari badannya dan, ah, bukankah itu, teh Rere?

“Yana, kamu habis ngapain dek? Kok bisa ada di sini?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Biarlah. Masa lalu membuat mulutku membisu sesaat. Membisu untuknya.

“Yana… kamu ngapain di sini de? Kamu jatuh?”

“Apa peduli teteh sama aku?”

Raut wajahnya berubah setelah ku tunjukan sikap dingin, kaku, dan ketus. Entah dia sedih atau terpukul. Yang jelas, air mukanya benar-benar berubah. Kesan kecewa dan sedih benar-benar nampak dari goresan wajahnya.

“Aku ini tetehmu, kakak kandungmu.”

“Kakak kandung? Anak dari ibu dan bapak?”

“Iya.”

“Kalau teteh masih anggap mereka ibu dan bapak, kenapa teteh selama ini? Kemana teteh dengan lelaki itu?”

“Kamu luka. Teteh takut lukamu infeksi. Lebih baik kita ke rumah. Teteh punya rumah di sekitar sini.”

“Teteh belum jawab pertanyaanku.”

“Teteh akan jawab setelah ikut teteh ke rumah.”

Aku memandangani dari atas hingga bawah kakinya. Sangat berubah. Sangat berbeda. Ia sudah tak lagi kenali sebagai teh Rere, Rere Novita, kakak kandungku.

“Masuklah ke mobil. Sepeda motormu akan dibawa supirku.”

“Bukan punyaku. Punya bapak.”

“Pak Mardi.” Seseorang keluar dari dalam mobil. Usianya cukup tua. Rambutnya sudah mulai beruban. Namun biar begitu, badannya cukup berisi. Mungkin tanda kalau hidupnya enak bersama teh Rere. “Nanti mobil saya yang bawa. Kamu bawa motor adik saya ke rumah.”

“Baik, bu. Untuk STNK dan kuncinya?”

“Kasikan, dek. Lalu naiklah ke mobil. Kita ke rumah.”

Aku menurutinya. Kunaiki mobil itu dengan tanpa suara. Bisu. Dingin. Ku biarkan begitu agar ia tahu bahwa aku masih sangat kecewa dengannya. Tak berbeda dengan teh Rere. Dia yang melihatku dingin dan bisu justru ikut-ikutan diam. Entah karena tak enak atau tak berani memulai pembicaraan. Hingga akhirnya sebuah lubang membuat kami buka mulut.

“Ah, sial. Kenapa pemerintah nggak benerin jalan ini. Lubang semua.”

“Bukan Cuma lubang, tapi gelap. Beberapa malah mirip kolam ikan.”

“Kok kamu tahu, dek.”

“Sering lewat sini.”

“Ngapain?”

“Berjuang.”

“Maksudnya?”

Tak ku jawab. Ku biarkan mulut ini kembali terdiam.

Mobil yang kami tumpangi akhirnya masuk ke perkotaan Pemalang. Berbeda dengan jalanan tadi. Jalanan ini sudah benar-benar dipenuhi lampu dan gemerlap bangunan. Sangat berbeda dengan jalanan yang membuatku terjatuh tadi.

Mobil akhirnya memasuki sebuah perumahan. Perumahan itu diisi oleh rumah-rumah yang lumayan besar, gedong.

Tapi, apa mungkin teh Rere tinggal di sini? Bagaimana bisa? Kemana suaminya? Eh, maksudnya, pacarnya. Eh, entahlah. Entah pacar atau bukan. Yang jelas, dialah yang membuat kakak kandungku memilih pergi dan meninggalkan keluarganya di Kuningan.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah besar dengan pagar yang cukup tinggi. Di depan mobil sudah ada satpam yang membukakan gerbang.

“Pak, jangan ditutup dulu. Ada pak Mardi yang bawa motor.

“Baik, bu.”

Setelah mobil parkir di depan garasi, kami pun turun. Setelah aku turun dari mobil aku hanya terdiam di samping mobil, perperanga. Mobil sebagus ini, rumah se mewah ini, dari mana kakakku dapat? Apa dia dan pasangannya sukses? Apa usaha mereka? Apa pekerjaan pasangannya? Mengapa setelah jadi begini ia belum juga pulang ke rumah? Kenapa?

“Ayo masuk, dek.”

Aku berhenti dari lamunanku, mencoba tenang, lalu ku langkahkan kaki memasuki rumah itu.

“Hari sudah malam begini. Kau tinggallah dulu barang beberapa hari.”

“Tak mau mengkhawatirkan ibu.”

“Kau teleponlah dia. Minta izin.”

“Minta izin untuk apa?”

“Ya, menginap di sini.”

“Aku lebih suka kalau teteh yang izin.”

“Kita akan benar-benar putus hubungan kalau aku yang meminta izin ke ibu.”

“Siapa yang menjamin?”

“Aku.”

“Dari mana teteh tahu.”

“Aku lebih tahu ibu daripada kamu.”

“Dan aku lebih lama hidup bersama ibu dibanding teteh.”

“Kamu nggak paham, dek.”

“Aku mahasiswa, terpelajar. Ketidakmengertian dalam suatu hal adalah sesuatu yang harus dituntaskan, bukan malah jadi alasan.”

“Bicaramu sudah kaya dosen.”

“Aku lebih tahu dosen daripada teteh.”

“Sudahlah. Lekaslah mandi. Ayo ikut aku.” Ia mengantarkanku pada sebuah kamar. Kamar yang berada di lantai dua dengan pintu yang lebarnya 2 kali pintu biasa. “ini kamarmu. Mandilah. Di dalam ada kamar mandi.”

“Aku tak punya baju ganti kalau mandi. Aku tak usah mandi saja.”

“Ada. Mandilah. Nanti kusiapkan baju untukmu.”

Lagi dan lagi. Di sini aku seperti anak kecil yang diasuh oleh pengasuhku sendiri. Tak ada pilihan lain selain menurut. Yah, mau bagaimana lagi. Toh di sini aku hanya sekedar numpang.

Belum sempat aku membuka pintu pak Mardi mendatangi kami.

“Bu, ini kuncinya.” Pak Mardi memberikan kunci itu dan sedikit memberi penjelasan. “Tadi kemudi motornya agak bengkok. Knalpotnya juga hampir copot. Pas saya cek di garasi ternyata ada baut yang hilang. Kedua bannya juga benar-benar gundul. Remnya pun jauh, agak blong. Mungkin alasan kenapa mas-masnya jatuh tadi.”

“Bukan mas-mas. Ini Yana, adikku, pak.”

“Oh… mohon maaf, bu.” Pak Mardi kemudian memberi penawaran, “kalau memang ibu mau, saya bisa bawa motor ini ke bengkel besok. Kalau dipaksakan dibawa dengan keadaan kaya gitu, saya takut mas Yana kenapa-kenapa nantinya.”

“Kau dengar sendiri, dek?”

“Berapa lama service-nya pak?”

“Tergantung, mas. Tergantung bengkel dan kerusakan. Tapi kalau mas mau benerin semuanya bisa 1 hari penuh. Bahkan 2 hari kalau bengkelnya lagi padet-padetnya.”

“Ya udah, pak, makasih. Nanti saya kasih tahu kalau memang harus dibawa ke bengkel.” Pak Mardi memohon diri, dan teh Rere beralih berpesan padaku, “Kau dengar sendiri, dek. Motormu sudah rusak. Nggak baik dibawa pulang. Bahaya.”

“Pulang pun nggak masalah, teh. Saya laki-laki.”

“Laki-laki pun kalau jatuh pasti terluka.”

“Aku sudah jatuh berkali-kali, dan bangkit berkali-kali pula.”

“Ah, kau ini. Sudah, mandi sana. Sabun dan perlengkapan lainnya sudah ada. Setelah kau mandi kan ku antarkan pakaian untukmu.”

Aku menuruti. Aku memasuki kamar dan langsung ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi aku tetap berada di kamar, menunggu teh Rere datang. Setelah sekian menit menunggu teh Rere akhirnya datang juga. Ia membawakanku beberapa pakaian. Entah milik siapa. Tapi yang jelas pakaian ini cukup mahal. Itu terlihat dari merknya yang seluruhnya tersohor.

“Ini ada beberapa pakaian, kamu pakailah.”

“Punya siapa?”

“Pakai saja. Ini buat kamu.”

Aku mengambil pakaian itu. Sedang teh Rere, dia masih saja berdiri dan berdiam di depanku tanpa beranjak sedikit pun.

“Bagaimana aku ganti baju kalau teteh nggak pergi?”

“Oh, hehehehe, maaf.” Ia mulai beranjak dari tempatnya berdiri tadi. Beberapa langkah kemudian ia berhenti dan berbalik padaku, “Nanti kalau udah selesai temuin teteh di bawah yah, nanti kita makan bareng.”

“Aku nggak lapar.”

“Aku sudah masak banyak.”

“Baiklah. Buatmu.”

“Nah, gitu dong, itu baru adik teteh.”

Aku yang sudah mengganti baju akhirnya keluar kamar untuk menemui teh Rere. Tapi, aku harus temui dia di mana? Rumah sebesar ini?

“Sini, dek. Di bawah.” Ia meneriakiku dari ruang keluarga di bawah.

“Ya…”

Beberapa saat ia memandangaiku menuruni tangka. Bak putri kecantikan aku diperlakukannya. Ah, sial. Wanita ini tahu betul bagaimana membuatku salah tingkah.

“Kau sudah segagah ini, ya, dek. Lihat, janggutmu juga sudah tumbuh, lebat.” Ia berdiri tepat di depan tangga, melihatku, menyapu pandang dari atas tubuh hingga ujung kaki, “ayo kita makan.”

Aku mengikutinya dari belakang. Dirinya kini sudah berubah, sudah tak lagi menggunakan kerudung. Pakaiannya pun sudah berubah. Bukan lagi tertutup dan tebal. Sekarang, tepat di depan adik kandungnya ini, pakaiannya justru dipilih yang tipis dan kekurangan bahan.

Ah, untungnya dia kakakku. Mustahil aku berpikir macam-macam.

Kami pun duduk di meja makan berdua. Seluruh masakan sudah dihidangkan. Pun dengan minuman dan buah-buahan yang siap disantap.

Teh Rere menyiapkan piring untukku. Beberapa lauk dipilihnya. Porsi yang disiapkannya itu tidak terlalu besar, malah terkesan sedikit. Kalau aku perkirakan, kurang lebih tak sampai setengah porsi makanku yang biasa. Tapi tak apalah. Toh aku juga numpang sebentar di sini.

“Kemana mas Sandy, teh?”

“Nggak ada.”

“Kemana?”

“Pergi.”

“Teteh di sini sendiri?”

“Nggak. Kan ada supir, satpam sama pembantuku.” Setelah menyiapkan makananku, ia kemudian menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. “toh sekarang juga sudah ada kamu di sini nemenin teteh.”

“Lantas, darimana semua rumah dan barang-barang ini? Teteh usaha apa?”

“Bukan punya teteh. Temen mas Sandy yang kasih.”

“Mas Sandynya?”

“Pergi.”

“Kemana?”

“Panjang ceritanya.”

“Sekarang belum terlalu larut. Makanan ini juga masih banyak, masih cukup untuk menemani kita tukar cerita.”

“Yakin kamu mau dengar?”

“Nggak ada yang lain.”

Setelah aku meyakinkannya, dia akhirnya mulai bercerita. Cerita yang sangat panjang. Tapi kalau boleh aku persingkat, isinya kurang lebih begini:

Teh Rere pergi dari rumah beberapa waktu lalu. Sebelum ia pergi, ia terlebih dulu dilamar oleh salah seorang pria. Mas Sandy namanya. Katanya, dia tak punya keluarga yang mewakili, jadi memutuskan untuk melamar teh Rere seorang diri. Sayang, bapak kala itu tidak mengizinkan. Kata beliau teh Rere masih sekolah, masih harus menyelesaikan pendidikannya. Kecewa, mas Sandy pun pergi.

Pada malam sesudah itu teh Rere juga pergi. Entah direncanakan atau tidak, nyatanya teh Rere benar-benar pergi; pergi tanpa jejak, tanpa petunjuk.

Aku dan bapak mencarinya sampai ke ujung Kuningan. Sayang. Teh Rere masih tak ketemu.

Menurut pengakuannya, teh Rere pergi untuk menjemput mas Sandy. Beruntung, ia menemukan mas Sandy di Pemalang. Di sini, mereka pun hidup sebagaimana yang mereka inginkan. Bahagia berdua, walau tak menikah. Mas Sandy yang sadar akan masa depan teh Rere akhirnya mengarahkan kakak kandungku untuk mengejar paket C. Ia mau. Tak cuma paket C, teh Rere pun dikuliahkan hingga lulus dan menyandang predikat sebagai sarjana arsitektur.

Mas Sandy sendiri bekerja sebagai kontraktor, dan teh Rere bertindak sebagai asisten. Lambat laut mereka dipercaya hingga mampu membuat satu perusahaan yang bergerak di bidang properti. Perusahaan mereka pun semakin hari semakin besar hingga membutuhkan banyak karyawan.

Nahas, setelah punya banyak karyawan dan perusahaan besar, hubungan teh Rere dan mas Sandy perlahan meregang. Mereka menjauh meski hidup di satu rumah (read: rumah yang aku tumpangi sekarang). Hingga pada suatu hari, teh Rere menemukan mas Sandy sedang bermesraan dengan 2 orang karyawatinya di rumah tersebut. Geram, kesal, teh Rere pun mengusir mas Sandy hingga tak datang lagi, walau hanya untuk mengurusi kantor dan kerjaan.

“Lalu rumah itu milik siapa? Atas nama siapa?”

“Teteh.”

“Kok bisa?”

“Mas Sandy dulu janji untuk nikahin teteh. Sebagai jaminannya, saat membeli rumah ini, dia menggunakan nama teteh sebagai nama pemilik.”

“Mobil itu?”

“Teteh juga.”

‘Sudah seperti ini, kenapa teteh nggak pulang ke Kuningan untuk sekedar menengok ibu?”

“Ibu dan bapak.”

“Ibu saja. Bapak sudah meninggal.”

“Kenapa nggak kasih tahu teteh?”

“Kasih tahu kemana? Teteh nggak ngasih telepon atau petunjuk sama sekali. Sedang mas Sandy? Siapa dia? Dia sama sekali nggak punya kerabat di Kuningan. Orang yang kenal dia pun nggak ada. Kemana kami harus mencarinya?”

Teh Rere Cuma terdiam, menunduk.

“Kalau teteh tahu, bapak selalu nunggu teteh pas lebaran. Beliau juga belikan teteh baju baru setiap menjelang lebaran. Baju itu selalu digantung di lemari teteh. Sekarang nggak tahu udah berapa banyak bapak beliin baju buat teteh. Semua baju yang bapak beliin ada di lemari. Kata bapak, baju ini untuk teh Rere, kalau nanti lebaran dia pulang.”

“Kalau teteh tahu, bapak juga pernah minjem uang buat Cuma beli baju teteh; baju yag nggak pernah teteh pakai karena nggak pernah pulang. Bapak minjem ke Mang Asep. Teteh tahu kalau minjem ke mang Asep itu resikonya apa? Bunga teh. Bapak malah sampai kerja sampai malam buat bayar mang Asep. Kadang kalau dipikir kasian sama bapak. Beberapa hari menjelang kematiannya, bapak selalu nunggu di depan rumah. Padahal waktu itu kondisi badan bapak lumayan lemah. Tapi bapak kekeh. Mungkin nungguin teteh pulang. Kata bapak, beliau pengen jadi yang pertama nyambut teteh, nyium teteh, dan meluk teteh kalau pulang. Tapi sampai di hari terakhirnya, teteh masih juga belum pulang.”

“Tak berbeda dengan bapak. Ibu juga masih rindu sama teteh. Ibu sampai-sampai ikut nungguin teteh di depan rumah, sekalian ngejaga bapak. Sempat aku ikut nunggu di ruang depan. Nggak sengaja aku dengar omongan mereka. Kata mereka, bapak dan ibu udah maafin teteh. Bapak dan ibu nungguin teteh pulang, nungguin cucu, nungguin anak dari teteh. Aku juga sering liat kalau abis nungguin teteh, mereka berdua langsung masuk kamar mandi buat wudhu, mereka solat hajat untuk teteh, doain teteh biar selamat dan sukses di sini.”

Wajah teh Rere semakin lama semakin terbenam. Wajahnya menghilang di balik tunduknya.

“Teh, kalau teteh tahu, di hari terakhir bapak mau pergi, bapak bisikin aku buat sampein maaf ke teteh. Bapak sayang sama teteh. Bapak rindu sama teteh. Di hari itu juga, aku mencetak foto teteh. Aku kasih ke bapak. Teteh tahu apa yang bapak lakuin? Iya, teh, sama seperti seorang bapak yang rindu sama putrinya. Foto teteh dipeluk bapak erat. Air mata bapak juga pecah saat itu. Tapi pas itu bapak udah nggak bisa nangis. Mulut bapak kaku. Cuma air mata yang bisa gambarin kalau bapak bener-bener pengen liat teteh pas itu juga.”

Tangis teh Rere pecah. Pipinya basah dengan air mata yang mengalir dari matanya.

Aku memeluknya, menenangkannya.

“Sudah, teh. Semua udah terjadi. Kita sekarang hanya bisa mendoakan.” Perlahan pelukanku dibalasnya. Erat. Sangat erat. Itu cukup menggambarkan bahwa teh Rere pun sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya. “Teh, aku yakin, bapak ikut seneng dengan ketemunya kita.”

“Aku anak yang durhaka, dek.”

“Ssstttt… jangan bilang begitu. Nggak ada anak durhaka yang begitu dirindukan orang tuanya.”

Aku tahu, semua ini akan sulit untuk diterima olehnya. Teh Rere, dengan segala keputusan bodohnya, akan sulit menerima semua berita ini. Berita dariku. Kehidupannya di sini pun tak bisa dibilang mudah. Perjuangannya gigih. Semangatnya tak kenal duri. Bahkan hingga tujuannya menghilang pun ia bertahan. Memilih tinggal walau takdir tak memberi dia kejelasan.

“Teh, bapak udah tenang di sana. Bapak udah bahagia lihat kita ketemu kaya gini. Besok teteh pulang, ya, bareng aku. Nanti ku anter ke ibu. Kita makan masakan ibu lagi. Teteh nggak kangen sama masakan ibu?”

Tagis teh Rere pun makin lama makin pecah. Seluruh wajahnya kini basah terbasuh air mata penyesalan.

Aku yang tak tega dengan kondisi ini akhir membawa teh Rere ke kamar yang tadi aku masuki. Teh Rere pasrah, langkahnya mengikuti langkahku. Di kamar yang cukup besar ini aku menenangkan teh Rere. Tangisnya masih stagnan, tak juga ada indikasi untuk berhenti. Peluknya makin kencang, makin kentara kalau dia benar-benar menyesal atas pilihannya selama ini.

“Teteh anak baik. Teteh udah memilih jalan teteh sendiri. Teteh nggak usah nyesel. Kita jalani aja apa yang ada.”

Tangis teh Rere masih juga belum mereda hingga hampir 1 jam. Dari balik pintu muncul seorang ibu-ibu setengah baya yang menanyakan status makanan yang di meja. Karena sudah tak ku makan, dan teh Rere pun sudah kepalang begini, ku putuskan untuk dibereskan saja makanan-makanan tadi. Ibu-ibu itu pun mengiyakan.

“Teh, bapak itu sayang sama kita, anak-anaknya. Seburuk-buruknya pilihan teteh, bapak tetep maafin teteh, tetep nungguin teteh pulang.” Aku mencoba menenangkan teh Rere dengan mengelus-elus rambutnya yang terurai dan lurus. “Bapak sayang sama teteh. Teteh anak kesayangan bapak. Teteh jangan sedih lagi. Bapak udah bahagia di sana. Bapak udah tersenyum di sana. Bapak tersenyum bahagia melihat kita ketemu kaya gini.”

Hampir mendekati jam 1 malam. Teh Rere masih juga menangis tersedu dan menyesal. Sementara aku, aku hanya memeluknya erat, memegangi kepalanya dan mengelus rambutnya sesekali waktu.

Saat bapak masih ada, dan setelah teteh pergi, bapak banyak cerita soal teh Rere. Kata bapak, teh Rere memang senang dipeluk dan dielus kepalanya seperti yang ku lakukan padanya sekarang. Harapanku, dengan begitu, teh Rere jadi lebih tenang, tangisnya berangsur hilang dan kesedihannya berangsur padam. Dan bodohnya, cara ini justru menambah tangisnya, membuatnya lebih mengingat bapak.

“Kau mirip bapak, Yana. Cara bicaramu. Cara menenangkan tangisku. Kau mirip bapak.”

“Sengaja. Agar teteh lebih nyaman, lebih tenang. Kalau memang dengan memelukku teteh bisa tenang, peluklah. Peluklah erat. Kalau memang dengan tangan ini teteh merasa nyaman, biarkanlah begini. Biarkan tangan ini mengelus kepala teteh sampai tenang, sampai nyaman.”

Benar. Teh Rere mendekapku erat, kencang. Peluknya benar-benar membuat tak ada cela antara badanku dan badannya. Benar-benar dekat. Benar-benar rapat. Andai aku adalah bapak, betapa bahagia kakakku ini. Tanganku kembali diarahkannya ke kepala, perintah agar aku mengelus kepalanya, sama seperti yang bapak lakukan dulu. Dan aku menurutinya. Menuruti untuk buatnya bahagia.

Tanpa tersadar aku bersenandung seperti bapak. Senandung yang selalu bapak bawakan saat hendak menidurkan aku dan teh Rere saat kecil dulu, senanti yang selalu bapak nyanyikan saat menunggu teh Rere di depan rumah, senandung yang pasti sangat dirindukan teh Rere saat ini.

“Dek, terus kaya gini sampai teteh tidur, ya. Teteh rindu bapak.” Pesan teh Rere sebelum akhirnya dia mencium pipiku perlahan. Ciuman yang sama dengan ibu saat itu. Ciuman yang menandakan betapa dia sangat merindukan sosok keluarga dalam hidupnya yang sekarang.

Aku tak menjawab apa yang dipesankannya padaku. Aku terus bersenandung seperti bapak. Aku terus memeluk teh Rere dengan pelukan ternyaman. Dan aku terus membelai kepalanya hingga kami semua tertidur di satu ranjang yang sama malam itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Bagus gan hanya saja agak padet ajah
profile-picture
infoanaksultan memberi reputasi
jadi pengen nangis, ceritanya bikin sedih gan. tunggu update selanjutnya ya gan
profile-picture
infoanaksultan memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di