alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cf6331428c991758a1a3d02/mengupas-plus-minus-uang-komoditas-uang-representatif-dan-uang-fiat

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang FiatMengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang FiatMengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
Dalam sejarah manusia, sudah ada tiga jenis uang yang sudah digunakan oleh peradaban sebagai alat tukar, uang komoditas, uang representatif, dan uang fiat. Ketiga jenis ini uang ini memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Saya akan membahasnya lebih lanjut.

Klik gambar untuk menuju sumber gambar

Uang Komoditas
Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
Pada masa lalu, garam pernah menjadi uang komoditas karena produksinya yang terbatas dan sangat diperlukan oleh masyarakat.

Uang komoditas adalah segala jenis barang yang memiliki nilai intrinsik (nilai jual atau biaya pembuatan) di masyarakat dan digunakan sebagai media penukaran dan alat pembayaran (medium of exchange and means of payment) secara luas. Uang ini muncul sebagai reaksi atas kekurangan dari sistem barter, yaitu pada saat tidak bertemunya dua orang yang memiliki barang yang saling dibutuhkan pihak lawannya. Uang komoditas umumnya adalah logam mulia seperti emas dan perak. Namun, barang-barang tertentu yang langka dan sangat diminati masyarakat tertentu dapat pula dijadikan uang komoditas. Pada masa lalu, komoditas pertanian seperti gandum dan beras juga cangkang kerang dianggap sebagai alat pembayaran oleh masyarakat. Di zaman Romawi, garam digunakan sebagai upah untuk tentara. Saat itu, garam merupakan barang yang secara legal diatur dan dibatasi produksinya sehingga cukup berharga untuk menjadi uang komoditas. Emas dan perak sendiri mulai digunakan sebagai uang komoditas pada milenium ke-3 SM, sekitar 2500 SM.

Koin dari perunggu dan tembaga mulai dicetak di dunia Timur di Tiongkok pada sekitar 1000 SM dan di dunia Barat di kota Efesus di Ionia (kala itu masuk ranah wilayah Yunani, kini Turki) pada 650 SM dengan bahan pembuatannya dari campuran emas dan perak. Sementara koin emas dan perak yang memiliki nilai nominal tertentu yang pertama di cetak oleh negeri Lydia di bawah kekuasaan Croesus pada abad ke-6 SM. Teknik ini dengan cepat diadopsi oleh berbagai negara kota Yunani kuno dan Persia dan menjadi awal mula koin emas dan perak yang marak hingga beberapa abad berikutnya.

Uang komoditas memiliki kelebihan berupa nilainya yang nyata dan stabil serta dapat mempertahankan nilai kekayaan lebih baik daripada uang representatif dan uang fiat namun memiliki kekurangan berupa sulit untuk dibawa dalam jumlah besar, tidak memiliki unit nilai yang memadai untuk transaksi bernilai receh, rentan dicuri, dan mungkin tidak diterima di luar kalangan yang menggunakannya secara luas (kecuali emas dan perak yang secara universal dianggap berharga).

Uang Representatif
Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
50 dolar AS cetakan tahun 1922 ini adalah contoh uang representatif. Sampai tahun 1933, pemegang uang ini memiliki klaim atas 2,418 troy ons emas yang tersimpan di US Treasury (Departemen Keuangan AS) dan dapat menukarkan uang ini dengan emas tersebut.

Uang representatif adalah uang yang tidak memiliki nilai intrinsik secara internal (nilai bahan pembuatannya sangat rendah) namun memiliki nilai intrinsik secara eksternal karena digunakan untuk mewakili sejumlah barang yang berharga. Barang berharga tersebut biasanya berupa logam mulia seperti emas dan perak dan menjadi penjamin nilai uang tersebut. Uang representatif juga mencakup uang yang memiliki nilai nominal yang lebih besar dari nilai intrinsiknya, yang mana uang fiat dapat pula dimasukkan dalam definisi ini.

Uang ini pada awalnya adalah bukti penyimpanan dan kepemilikan emas atau barang berharga lainnya yang disimpan seseorang di tempat penyimpanan tertentu, seperti di kuil di berbagai kekaisaran kuno seperti Mesir, Tiongkok, dan India. Bukti ini digunakan untuk mengambil barang tersebut nantinya (yang dikenakan biaya tertentu). Lama kelamaan, bukti ini digunakan sebagai alat pembayaran. Ini juga merupakan salah satu cikal bakal perbankan yang kita kenal sekarang.

Pengunaan uang representatif marak di dunia, terutama di Eropa dan Amerika Serikat, pada abad ke-18 hingga dekade 1930-an. Penggunaan uang reprsentatif memunculkan dua jenis standar mata uang, Standar Emas dan Standar Perak. Standar Emas berarti uang yang beredar ditetapkan nilainya setara dengan emas dengan berat dan kadar tertentu dan Standar Perak dengan perak. Perbedaan berat emas dan perak yang digunakan negara-negara sebagai standar nilai uang menentukan nilai tukar mata uang tersebut terhadap mata uang lain.

Cadangan emas dan perak yang dimiliki suatu negara menjadi batasan terhadap jumlah uang beredar. Hanya ada dua cara untuk meningkatkan jumlah uang beredar : Menurunkan nilai uang terhadap emas/perak atau menambah cadangan emas/perak. Ini pun menjamin stabilitas nilai mata uang dan perekonomian secara keseluruhan namun malah berdampak buruk saat ekonomi mengalami fase bearish seperti pada tahun 1930-an.

Standar Emas dan Standar Perak mulai ditinggalkan sebagai akibat penerapannya yang membuat perekonomian berbagai negara sukar pulih dari Depresi Besar 1930-an karena pembatasan jumlah uang beredar oleh cadangan emas/perak negara yang bersangkutan. Teori yang dikembangkan oleh John Maynard Keynes, ekonom kawakan Inggris, bahwa cara terbaik mengakhiri depresi ekonomi adalah dengan meningkatkan suplai uang dan pengeluaran pemerintah membuat berbagai negara meninggalkan Standar Emas.

Pada 5 April 1933, Presiden Franklin Delano Roosevelt menetapkan bahwa semua jenis emas dan uang representatif yang didukung emas yang dimiliki masyarakat harus ditukar dengan uang kertas terbitan The Federal Reserve dengan kurs 20,67 dolar AS per troy ons paling lambat 1 Mei 1933 lewat Executive Order 6102. Ini dilakukan agar The Fed memiliki cadangan emas yang cukup untuk menambah suplai uang beredar. Pada masa itu, orang ramai-ramai membeli emas untuk mengamankan nilai kekayaan mereka, ini dianggap memperburuk Depresi karena cadangan emas menjadi terbatas dan suplai uang juga terbatas. Ini bisa dilakukan karena undang-undang yang melarang perdagangan dengan musuh yang disahkan Presiden Woodrow Wilson pada 1917 yang salah satunya melarang perdagangan emas ke luar negeri masih berlaku. Aturan ini diperkuat dengan Gold Reserve Act pada 30 Januari 1934. Ini secara efektif mengakhiri Standar Emas dan membantu pemulihan dari Depresi Besar di AS. Pelarangan kepemilikan emas sendiri baru dicabut oleh Presiden Gerald Ford pada 31 Desember 1974.

Hal yang sama juga dilakukan untuk perak dan uang representatif yang didukung perak lewat Executive Order 6814 pada 9 Agustus 1934. Hanya saja, koin perak tidak diperintahkan untuk ditukarkan secara wajib.

Pada 1944, sistem Bretton Woods mengembalikan dolar AS ke fungsinya sebagai uang representatif dan AS memakai Standar Emas pincang karena semua mata uang dunia menggunakan dolar AS sebagai jembatan penghubung ke emas. Namun, sistem ini hanya bertahan hingga tahun 1971 karena arus deras dolar AS ke negara-negara mitra dagang AS membuat cadangan emas AS tak lagi mampu menopang dolar tersebut.

Kelebihan uang ini adalah nilainya yang stabil dan tak tergerus cepat oleh inflasi (sebab jumlah yang dapat dicetak dibatasi deposit emas atau perak negara tersebut) sehingga perekonomian cenderung stabil. Kekurangannya adalah perekonomian tidak akan bisa berkembang cepat karena suplai uang dibatasi dan perekonomian akan sukar pulih bila terjadi resesi.

Uang Fiat
Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
Uang 10.000 won yang beredar di Korea Selatan ini adalah contoh uang fiat.

Uang fiat adalah uang yang tidak memiliki nilai intrinsik yang nyata baik secara internal maupun eksternal. Uang ini didukung oleh dua hal : Kepercayaan pihak-pihak yang memakainya pada nilai yang dimilikinya dan aturan dari negara yang menetapkan nilai dan mewajibkan pemakaiannya. Untuk menjaga kepercayaan itu, negara atau badan tertentu ditetapkan sebagai satu-satunya pihak yang berwenang mencetak dan menerbitkan uang dan upaya mencetak dan menerbitkan uang oleh selain pihak tersebut adalah tindakan pidana.

Kata fiat berasal dari bahasa Latin yang berarti "biarlah terjadi". Uang fiat pertama kali digunakan di Tiongkok pada abad ke-12. Uang fiat mulai digunakan di Eropa pada abad ke-17, dimulai di Swedia. Pengunaannya semakin masif setelah Depresi Besar tahun 1930-an membuat banyak negara meninggalkan Standar Emas agar ekonominya dapat segera pulih. Dunia benar-benar memasuki periode uang fiat seutuhnya pada 15 Agustus 1971.

Karena prinsip fractional reserve banking (giro wajib minimum), uang fiat pun kebanyakan merupakan uang hasil penciptaan uang baru dalam sistem kredit yang dilakukan berulang-ulang dan hanya sekian persen uang fiat yang berbentuk nyata, baik kertas maupun logam. Contoh, bank sentral menetapkan bahwa 10 persen dari simpanan nasabah harus disimpan oleh bank dan hanya 90 persen yang boleh disalurkan sebagai kredit. Bila seseorang menyimpan uang sejumlah 10.000 di sebuah bank, bank akan menyimpan 1.000 saja dan menyalurkan 9.000 lagi sebagai kredit ke orang pertama. Orang pertama menyimpan 9.000 tadi ke bank kedua, menciptakan uang baru sebesar 9.000 dalam suplai uang. Dari 9.000 tadi, 900 akan disimpan dan 8.100 akan disalurkan lagi sebagai kredit ke orang kedua. Orang kedua lalu menyimpan 8.100 tadi ke bank ketiga yang menciptakan lagi uang baru sebesar 8.100 ke suplai uang. Hal ini terus berulang hingga akhirnya dari uang sebesar 10.000 tadi akan menciptakan uang baru hingga 100.000 (semakin kecil persen giro wajib minimum, semakin banyak jumlah uang baru dapat diciptakan). Ini hanyalah kemungkinan terbesar, karena ada kemungkinan bahwa bank akan menyimpan lebih banyak uang atau orang hanya akan menyimpan kembali sebagian.

Biaya pembuatan uang fiat yang jauh lebih rendah dari nilai nominalnya juga menimbulkan keuntungan bagi bank sentral atau negara yang mencetak uang. Keuntungan ini disebut seigniorage. Biasanya, mencetak uang kertas menghasilkan seigniorage, namun mencetak uang logam (terutama pecahan terkecil) menimbulkan kerugian karena nilai logam pembuatannya lebih tinggi dari nilai nominalnya.

Uang fiat kini telah berevolusi ke dalam bentuk baru mengikuti perkembangan teknologi, dimulai dari kartu kredit sebagai bentuk pembayaran tunda, kartu debit dan uang elektronik sebagai bentuk pembayaran nontunai, mata uang digital seperti Bitcoin sebagai bentuk investasi baru, dan penyimpanan uang daring sebagai cara baru pembayaran.

Uang fiat memiliki kelebihan yaitu dapat dicetak tanpa batas (namun tentunya jumlah uang yang dicetak sesuai dengan kebutuhan perekonomian), mudah dibawa, dan penggunaannya membuat bank sentral / negara dapat dengan mudah menstimulasi perekonomian dibandingkan uang komoditas dan uang representatif. Kelemahannya adalah nilai uang ini akan lenyap seketika jika negara pemakainya lenyap atau didemonetisasi (dinyatakan tidak berlaku) dan nilainya mudah jatuh karena rentan terhadap inflasi bahkan hiperinflasi.

Kesimpulan
Uang komoditas baik sebagai penyimpan nilai kekayaan namun buruk sebagai alat pembayaran yang praktis.
Uang representatif baik sebagai alat pembayaran yang praktis dan penyimpan nilai kekayaan namun buruk sebagai alat kebijakan ekonomi.
Uang fiat baik sebagai alat pembayaran yang praktis dan alat kebijakan ekonomi namun buruk sebagai alat penyimpan nilai kekayaan.

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
Demikian thread dari saya kali ini. Uang telah mengalami sejarah dan proses evolusi yang panjang dalam peradaban manusia hingga mencapai bentuknya yang sekarang. Terima kasih telah membaca thread ini dan semoga hari Anda menyenangkan.

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
Referensi I
Referensi II
Referensi III
Referensi IV
Referensi V
Referensi VI
Referensi VII
Referensi VIII
Referensi IX
Referensi X
Referensi XI
Referensi XIII
Referensi XIII
Referensi XIV
Referensi XV
Referensi XVI
Referensi XVII
Referensi XVIII
Referensi XIX
Referensi XX

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat

Mengupas Plus Minus Uang Komoditas, Uang Representatif, dan Uang Fiat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sonisme dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gilbertagung
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

#24,849

Quote:


Fakta gan. Tanpa merasakan kesulitan dari sistem barter, uang tidak akan berkembang hingga ke bentuk yang sekarang.
Ketika terjadi hiperinflasi pun, barter bisa saja dilakukan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yueda dan 4 lainnya memberi reputasi

#24,827

Quote:


1) Kurang lebih. Perbedaan mendasarnya, uang komoditas masih punya nilai intrinsik, uang fiat nyaris gak punya. Emas dinyatakan tidak berlaku pun masih punya nilai jual (kecuali kelak ditemukan tambang emas besar atau cara yang membuat emas bisa ditemukan seperti air), uang kertas dinyatakan tidak berlaku langsung jadi tumpukan kertas tak berharga (kecuali cukup berharga untuk dijadikan koleksi).
2) Uang fiat secara teori bisa dicetak sampai berapapun. Tapi kalau kebablasan, hasilnya kayak Zimbabwe atau Venezuela. Uang representatif ada batasnya makanya lebih stabil, cuma masih bisa ke sana. Kalau pemerintah tiba-tiba dapat tambahan pasokan emas dalam jumlah besar atau nilai mata uang didevaluasi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rayados dan 4 lainnya memberi reputasi

#24,834

Quote:


1) Uang fiat kan didasarkan kepada kepercayaan dan hukum negara, jadi nilainya juga bergantung kondisi negara tersebut, terutama posisi neraca pembayaran. Kalau suatu negara lebih banyak mengeluarkan uang daripada menerima uang masuk ke dalam perekonomiannya, nilai mata uang domestik akan menurun. Inilah mengapa kalau kita terlalu banyak impor, nilai rupiah bisa menurun. Ini disebabkan permintaan mata uang asing meningkat sementara pasokan mata uang asing kita tidak memadai. Akhirnya, harus ada uang baru dicetak dan akan menurunkan nilai mata uang karena oversupply.
Kalau batas untuk jumlah mata uang yang dicetak sih harusnya jumlah barang dan jasa yang diproduksi negara tersebut. Misalnya, suatu negara memproduksi barang dan jasa sebanyak 500. Jumlah uang yang dicetak juga harus 500. Kalau kelebihan, katakanlah 600, uang jadi kelebihan penawaran. Harga barang dan jasa yang dinyatakan dalam mata uang harus disesuaikan, sesuai hukum permintaan dan penawaran. Terjadilah inflasi.
Pada dasarnya, uang kertas itu adalah utang yang diterbitkan oleh bank sentral/negara. Mencetak 1 dolar artinya bank sentral berutang 1 dolar pada pemegangnya. Ini penjelasan dari Investopedia.
A banknote is a negotiable promissory note, which a bank can issue. A banknote is payable to the bearer on demand
Banknote

Konsep dasar uang itu adalah surat utang, janji dari bank bahwa mereka akan membayar sesuai dengan nilai uang tersebut kepada pemegangnya.

2) Kalau di Zimbabwe itu, karena program Mugabe untuk meredistribusikan lahan pertanian kulit putih ke kulit hitam gagal dan membuat produksi pangan merosot. Mugabe pun juga butuh dana untuk pemilhan presiden. Akhirnya dicetak begitu banyak uang sampai gak bernilai sama sekali. Venezuela karena harga minyak merosot sementara banyak program sosialisnya yang dibiayai sama pendapatan minyak. Ditambah embargo. Akhirnya untuk tetap memenuhi program yang selama ini memanjakan rakyatanya, dicetak uang banyak-banyak. Tapi barang-barang langka, harganya meroket.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rayados dan 3 lainnya memberi reputasi
Jadi serasa budak uang oleh bank.
Beli ini itu pake uang, tapi uangnya dari kita.
Bank cuma mainin uang yang beredar.
Apalagi penciptaan uang FIAT. Wow banget
Bank kasih kredit 100, balik plus bunga jadi 110.
Terus yang dikasih pinjaman harus cari 10 tadi dari jual barang.
Tapi dengan konsumen yg jumlahnya tetap.
Supaya kita tetap bisa bayar sesuai jatuh tempo dan arus kas lancar maka juallah barangnya murah.
Maka terjadilah perang harga antar penjual yg sama2 kredit di bank.
Nah si penjual ini dengan pendapatan berkurang karena jual dengan profit lebih kecil. Maka karyawannya harus di forsir tenaganya.
Supaya bisa efisiensi cost.
Lalu kenaikan gaji tiap tahun maka perusahaan cut beberapa karyawan.
Dengan output yang sama.
Karyawan 10 output 20
Setelah di cut karyawan
Karyawan 6 output 20
Maka terjadilah pengangguran. 4orang tadi
Tinggal kali aja 4orang tadi dengan jumlah perusahaan yg menerapkan hal yg sama.

Nah ketika jadi pengangguran maka si laki2 cari uang dengan cara apa saja.
Ngamen, juru parkir, jaga toko, dkk itu kalo halal
Kalo ga halal paling jadi maling, nipu dll.
Terus yg wanita kalo nganggur jadi apa
Jaga toko, juru parkir, bahkan jadi kuli bangunan ada.
Kalo ga halal, jadi PSK, nipu dkk
Terjadilah persaingan tenaga kerja laki2 dan wanita.
Pada akhirnya tenaga kerja murah, kalo gamau digaji segini cari kerja tempat lain aja.
Padahal cari kerja aja susah.
Akhirnya kerja lah disana, taunya kebutuhan hidup ga cukup.
Jadinya hutang sana sini, ambil CC, nyolong duit hasil usaha majikannya.
Makanya sekarang moral makin hancur, apalagi pendidikan moral di Indonesia kacau.
Memang dengan sistem kapitalis orang akan berkembang karena terpepet dan harus cari cara untuk tetap hidup.
Ane mau lihat ke depannya seberapa banyak yg bisa bertahan sistem ini.
Apalagi dengan negara yg pendidikan nya rendah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rayados dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh bezoaneh
profile picture
devidxcn


Saya jadi teringat kalimat ini
"Yang kaya semakin kaya, yang miskin tetap sam saja keadannya " emoticon-Big Grin

#24,854

Quote:


Betul karena pada 1944, AS megang 2/3 cadangan emas dunia (salah satunya karena hasil kebijakan FDR tahun 1933) dan ekonominya adalah yang terbesar yang tidak hancur karena perang.

Quote:


Kalau begitu, jadinya malah dianggap uang palsu dan bisa dianggap ingin mensabotase perekonomian Amerika. Pencetakan dolar itu sudah diatur oleh Federal Reserve Act bahwa hanya mereka yang berwenang menerbitkan uang kertas (yang mencetaknya adalah US Mint dan Bureau of Engraving and Printing di bawah US Treasury sesuai pesanan). Sama aja kayak di Indonesia, rupiah hanya secara legal boleh diterbitkan oleh Bank Indonesia dan dicetak oleh Perum Peruri. Kalau negara lain mencetak uang rupiah (tanpa seizin kita tentunya), kita akan menganggapnya uang palsu dan upaya sabotase. Beda cerita kalau negaranya secara resmi mengontrak Perum Peruri untuk mencetak uangnya atau kita mengontrak percetakan negara lain untuk mencetak uang kita. Uang plastik kita dulu yang 50 ribu dan 100 ribu itu dicetaknya di Australia dan Thailand.
Waktu PD II, Jerman diam-diam mencetak uang kertas poundsterling palsu untuk mensabotase ekonomi Inggris. Begitu banyaknya yang dicetak, poundsterling gak diterima di semua negara netral di Eropa dan semua uang kertas pecahan 5 poundsterling dan ke atas harus diganti baru.
Uang Palsu

Quote:


Karena pada periode itu, perekonomian antarnegara telah saling terkoneksi sehingga masalah di satu negara akan memiliki efek domino ke negara lain. Contohnya kayak perang dagang sekarang. Karena nilai perdagangan kita dengan AS dan Tiongkok cukup besar, ketika mereka memberlakukan kenaikan tarif bea masuk dan volume perdagangannya menurun, kita juga terkena imbasnya.

Quote:


Mereka kan gak 100% tertutup. Mereka masih berdagang dengan Tiongkok. Masuknya dari situ.
profile-picture
profile-picture
rayados dan kily89 memberi reputasi
Diubah oleh gilbertagung


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di