CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerpen ; Pulang Kampung
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cf1cbdc5cf6c40f382592fa/kumpulan-cerpen--pulang-kampung

Kumpulan Cerpen ; Pulang Kampung

Kumpulan Cerpen ; Pulang Kampung


Doc. Pribadi

Enam tahun telah kutinggalkan kampung halaman. Mengikut di mana suami tinggal. Kini kami menetap di sebuah kota yang berjarak dua pulau dari desaku. Kota tempat kelahiran suami.

Kami dikaruniai sepasang buah cinta. Saat ini si Kakak berumur lima tahun dan si Adek berusia tiga tahun. Mereka adalah anugerah terindah yang dikirim Tuhan untukku. Hanya mereka berdua yang menemani hari-hariku ketika suami bekerja.

Suamiku seorang Dosen tetap di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota ini. Gajinya sangat mencukupi untuk kebutuhan kami.

Setiap bulan, aku diberi jatah bulanan untuk mengurus keperluan hari-hari, uang jajan anak-anak, belanja bulanan dan juga keperluan di dapur. Dan untuk urusan yang lain, aku tak boleh ikut campur.

Uang yang diberi suamiku selalu habis sehari sebelum tanggal gajian. Hal itu membuatku tak bisa menabung walau hanya seratus ribu tiap bulan.

Suatu hari kuminta jatah untuk dilebihkan.

"Mas, bahan-bahan dapur sekarang pada naik, bisa dilebihkan uang belanjanya?"

"Nanti kalo kurang, bilang aja. Kalo sudah habis baru Mas kasih."

"Sebenarnya, aku juga mau nabung sendiri, Mas. Biar bisa nyicil buat tiket pulang kampung, udah lama aku gak pulang."

"Yah, sabarlah dulu. Kalo ada rezeki, kan pulang. Resiko tinggal jauh ya begitu. Harus sanggup gak pulang-pulang."

Hatiku nelangsa mendengar ucapannya. Jawaban yang sama keluar, setiap kali aku menyinggung soal pulang kampung.

Ingin sekali aku membalas ucapannya, hanya sifatnya yang tak mau mengalah selalu menghalangiku untuk bicara, khawatir berujung dengan pertengkaran yang membuatku akan lebih menderita.

Pernah kucoba dengan mengepres pengeluaran sebisa mungkin. Hasilnya aku bisa mengumpulkan uang tiga juta selama tiga tahun.

Kuutarakan niat pulang kampung saat lebaran, dan meminta ia untuk menambahkan ongkos tiket ketika menerima THR nanti, dengan senang hati ia menjawab iya. Namun ketika waktunya tiba, ia malah meminjam uang yang kutabung untuk keperluan kakaknya yang sakit. Sampai saat ini aku tak tahu kabar uang itu, karena tak pernah kembali di tanganku.

Rindu akan pulang kampung memuncak di hati. Setiap melihat iklan mudik yang di share di medsos ketika Ramadhan dan lebaran tiba, selalu kushare ulang, berharap suamiku melihat betapa inginnya aku pulang. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil.

Setiap bulan Ramadhan tiba, ayah dan ibu di kampung selalu bertanya, "Pulang lebaran ini, Nak?" dan aku selalu menjawab dengan tangisan dan alasan mahalnya tiket. Setelah itu, ibu akan mendoakan agar aku mudah rezeki dan bisa pulang kampung bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara.

Diantara enam anaknya, hanya aku yang tak pernah membersamai di saat lebaran sejak setelah menikah.

Sebenarnya, ada yang mengganjal di hati. Setiap kali aku ingin pulang, suamiku seperti berusaha untuk selalu menghalangi. Namun, jika aku mengabarkan ada salah satu keluarga yang sakit atau membutuhkan uang, ia tak ragu untuk memberikan bantuan dan langsung mentransfer uang.

Ketika selesai makan malam, kucoba berbicara pada suamiku.

"Mas, izinkan aku pulang, aku rindu pada keluarga, Mas."

"Asyik minta pulang ... Aja. Emangnya ada uang?"

"Gimana mau ada, lah uang tabunganku aja gak kembali."

"Emang uang tiga juta bisa buat mudik?"

"Kok gitu, sih, Mas? Yang mau kutemuin ini kan keluargaku, bukan orang lain. Aku ada karena mereka ada lebih dulu, Mas."

"Yah, namanya udah berkeluarga, ya begitu. Harus sanggup pisah dan gak pulang. Tanggung jawab kamu sekarang kan ada di aku. Kamu harusnya tau resiko menikah dan tinggal yang jauh dari orang tua."

"Apa cuma aku yang harus nanggung resiko itu, Mas? Harusnya, Mas juga tau resiko menikahi orang yang tinggalnya jauh dari kamu, Mas." Aku mulai emosi. Kabut di mata yang sedari tadi muncul menjatuhkan diri menjadi butiran bening.

"Udah pintar jawab sekarang, ya?"

"Mas kan tau, nikah itu bukan cuma sama anaknya, Mas. Tapi juga keluarganya. Aku rindu, Mas. Pengen pulang," jeritku histeris karena melihat yang diajak bicara berdiri dan berlalu meninggalkanku.

***

Pagi ini aku beraktivitas lebih cepat dari biasanya, setelah mengadu pada Sang Pembolalak Balik Hati di sepertiga malam, kulanjutkan dengan tilawah hingga menjelang subuh. Kupasrahkan semua masalah hanya pada-Nya. Berharap ada titik terang yang menyambut baik hari ini.

Kulihat wajahku di cermin, mata bengkak sebab menangis semalaman meninggalkan jejak yang tak bisa disembunyikan. Kulihat ke ruang kamar tidur anak-anak, ternyata tak kutemukan suamiku di sana. Berarti ia tak pulang satu malam ini. Tanpa sadar, butiran bening kembali jatuh di pipi. Kukuatkan hati dengan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa.

Jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi suara mesin mobil belum juga terdengar di depan rumah.

Aku mulai gelisah karena suami tak pulang-pulang.

Sepuluh menit kemudian, suara yang kutunggu datang juga. Aku kembali beraktifitas seperti biasa. Melanjutkan cucian piring yang sempat tertunda. Egoku mulai menguasai, berharap suami yang menegur terlebih dahulu.

"Dik, duduk sini dulu," ucapnya pelan, membuat jantungku berdebar tak karuan.

Mimik wajahnya menyiratkan sesuatu yang tak bisa kubaca. Aku mulai menerka-nerka kemungkinan yang akan diucapnya. Namun, seketika itu kutepis dugaan-dugan negatif yang muncul.

"Ini tiketmu dan Sami pulang ke kampung."

Aku tersentak. Apa maksud suamiku dengan tiket ini? Mengusirkah atau apa maksudnya. Lalu kenapa hanya dengan Sami anak keduaku? Kebingunganku terbaca olehnya.

"Maafin aku, tadi ada telpon dari ibumu di kampung. Kasih kabar kalo subuh tadi ... Ayahmu meninggal, nomormu tak bisa dihubungi," ucap suamiku lirih nyaris tak terdengar. Ia menundukkan kepalanya.

"Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji'uun, astaghfirullah, ya Allah ... Ayaaahhh ... Kenapa pergi sebelum kita bertemu, ayah?" Aku merintih, menangis seperti anak kecil.

Suamiku datang mendekap, berusaha menguatkanku.

"Yang kuat ya, Dik. Ini sudah takdir Allah. Maafkan Mas berlaku kasar tadi malam." Dielus-elusnya rambutku.


Aku tak bisa menahan sedih. Kakiku melemas seakan tak bisa menopang tubuhku untuk berdiri. Aku terkulai lemas di atas laintai.



"Kau tahu, Mas. Allah Pemilik skenario di dunia ini. Betapa mahal harga yang kubayar untuk memenuhi rindu yang memuncah ini. Memenuhi keinginanku untuk bisa pulang. Harus dibayar dengan perginya ayah, Mas." Aku masih tersedu-sedu. Sakit dan sesak menyatu di dada.

"Iya, maafkan Mas, ya. Nanti kita bicarakan lagi untuk pulang kampung selanjutnya. Sekarang bersiap-siaplah. Kau berangkat jam 9 ini. Biar Sania bersamaku selama kau pulang. Karena harga tiket lagi mahal, tidak cukup buat beli tiga tiket."

"Baiklah kalau begitu, Mas."

Ini kali pertama aku pulang kampung sejak menikah, semoga setelah ini akan ada lanjutan pulang kampung kedua, ketiga dan seterusnya.

Tamat.

Aqmalia S Manik

Palu, 01 Juni 2019







profile-picture
profile-picture
profile-picture
anton2019827 dan 46 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh LiaManik33
Halaman 1 dari 5

Dua Wajah

Kumpulan Cerpen ; Pulang Kampung

sumber : https://loop.co.id/corner/wanita-bercadar

“Dik, akhir-akhir ini, abang suka pusing.” Keluh Bima pada istrinya.

“Abang kenapa? Banyak kerjaan, ya di kantor?”

“Gak juga, tapi tiba-tiba aja kayak ada beban yang berat di pundak abang, abang seperti khawatir akan masa depan anak-anak dan juga takut miskin.”

“Astaghfirullah, Bang! Istighfar, jangan memikirkan masa depan berlebihan seperti itu. Takdir kita sudah Allah tulis di lauhul mahfuz. Kita cukup ikhtiar dan ibadah saja. Takutlah hanya pada Allah, dan kita siapkan bekal untuk akhirat kelak.” Aida, istrinya mencoba menasehati sang suami.

“Iya, abang tau itu. Abang juga sadar itu tidak baik, tapi abang tiba-tiba aja kepikiran soal itu, dan abang gak bisa mengendalikannya, jadinya abang pusing,” ucap Bima sambil memijat-mijat keningnya.

“Astaghfirullah ... perbanyak istighfar, Bang. Gangguan Jin barangkali.”

“Mungkin ya, Dik. Bantu pijitin kepala abang, ya.”
***
Bima dan Aida menikah delapan tahun yang lalu. Kemudahan rezeki selalu dirasakan pasangan ini, tetapi tak lantas membuat mereka sombong, justru semakin banyak bersedekah pada orang yang kurang mampu.

Mempunyai rumah model minimalist dan sebuah mobil Honda Jazz di usia tiga puluh adalah sebuah prestasi yang sangat mereka syukuri, karena berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun, bukan hidup, jika tak ada masalah yang menghampiri.

“Dik, alhamdulillah, abang dimutasi lagi mulai bulan depan!” seru Bima di malam hari, usai makan malam.

Aida yang sedang asyik memainkan gadget, tersentak karena suaminya tak pernah membahas kata mutasi sebelumnya.
“Oh, ya? Ke mana?”

“Alhamdulillah ... kali ini kita bisa dekat dengan keluarga, Dik. Kalau tiba lebaran, kita tidak pusing mikirin tiket untuk pulang kampung. Semoga dengan begini, abang tidak stres lagi, karena bisa dekat dengan keluarga juga teman-teman abang di sekolah dan kampus dulu,” ujar Bima penuh dengan binar kebahagiaan.

Sementara Aida hanya bisa menelan salivanya. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul. Ia hanya mengaminkan harapan suaminya.

***
Dua minggu sudah Aida beserta keluarga kecilnya tinggal di kota kelahiran suami, Medan. Keluarga Bima menyambut dengan bahagia, bahkan beragam rencana jalan-jalan bersama telah dirancang ketika saat senggang.

Teman-teman alumni kampus pun menyambut kehadiran Bima dengan senang, meski hanya lewat WA grup. Mereka berencana mengadakan reunian sebulan kemudian.

Namun, rencana hanya tinggal rencana. Allah yang menjadikan rencana itu terjadi atau tidak, mungkin itu sebabnya kita dianjurkan untuk berucap “in syaa Allah” ketika ingin melakukan sesuatu.

Hari-hari telah terlewati, tanpa terasa enam bulan sudah berlalu. Keluhan demi keluhan semakin sering Bima lontarkan pada istrinya. Dari kerjaan yang menumpuk, karena ia ditempatkan di kantor yang baru buka cabang, beralih pada ayahnya yang selalu meminta uang, tanpa melihat waktu dan keadaan. Bima semakin kesal tatkala melihat ayahnya menggunakan uang itu untuk bermain judi.

“Kak, Ayah hampir tiap hari minta uang samaku. Gak dikasih marah, Dia,” keluh Bima pada kakak tertuanya saat sedang libur.

“Bah, baru sekarang, Mu rasakan. Kakak selama ini ya gitu, lah!”

“Jadi, selama ini ayah tiap hari ngumpulin duit dari kita anak-anaknya?”

“Yah, mungkin gitu. Coba tanya Rina.”

“Waah, gak bisa gitu, Kak. Harus kita nasehati ayah ini. Soalnya uangku gak selalu ada, Kak. Kakak tau ke mana dibuatnya uang itu?”

“Tau. Cuma kakak diamkan aja. Mungkin karena stres mamak ninggal, kerjaannya jadi gitu.”

“Ya gak bisa gitulah, Kak. Nanti kita juga yang nanggung dosanya. Kakak pun kok gak pernah ngasih tau aku soal Ayah ini. Padahal, dulu tiap bulan kukirimkan dia uang, ternyata cuma buat judi, nya. Pokoknya Kita buat jadwal keuangan Ayah, Kak. Misal, seminggu minta sama Kakak, seminggu lagi sama Ka Rina, setelah itu baru samaku, gitu terus sesuai giliran.”

“Bagus juga idemu. Ayok, kita coba!”

Setelah disepakati, ternyata ide brilian Bima hanya ditepati seminggu oleh sang ayah. Ia tak puas hanya memegang uang tiga puluh ribu setiap hari. Ketika giliran Rina memberi uang, ia juga meminta pada Bima dan anak tertuanya.

Bima kesal dengan sikap ayahnya. Nasehat soal haramnya perbuatan judi yang disampaikan, pun tak digubris oleh sang ayah.

Bima membuat aturan baru. Setiap hari ia yang memberikan uang pada sang ayah, dan sekali seminggu kakak-kakanya yang memberi. Namun semua rencana yang telah disusun selalu dilanggar. Membuat Bima menyerah dan membiarkan sikap ayahnya. Sesekali, ia mensiasati dengan keluar rumah saat jam ayahnya datang ke rumah.

Aida memperhatikan tubuh suaminya yang semakin kurus. Terlihat banyak beban yang ia tanggung. Semua keluhan suami tentang kerjaan dan keluarga, ia dengarkan dengan sabar. Sekali-kali ia masukkan nasehat agar suaminya bersabar dan meningkatkan ibadah agar semua masalah bisa dilewati dengan mudah dan cepat selesai.

“Abang butuh refreshing kayaknya, Dik,” ucap Bima setelah selesai menyampaikan keluhan yang mengimpitnya.

“Mau ke mana, Bang?”

“Ke tempat yang pemandangannya indah, lah. Kalo gak, bisa gila pula abang nanti.”

“Hussh, istighfar, Bang. Jangan ngomong yang jelek-jelek.”

Nasehat Aida disambut dengan senyuman tipis oleh Bima. Sebenarnya ada keinginan istri Bima itu untuk ikut, tetapi melihat wajah suaminya yang telah termenung, ia urungkan niat itu. Dibiarkan suaminya pergi sendiri menikmati apa yang diinginkan, dengan berharap bisa meringankan beban yang sedang dialami orang terkasih.

Sejak Bima sering mengeluh, Aida selalu menyimpan segala keluh kesahnya sendiri, sakit kepala yang sering muncul tiba-tiba, pun ia abaikan. Ia tak ingin menambah beban pikiran belahan jiwanya. Meskipun sangat banyak masalah yang datang. Sudah lima kali kakak Aida meminta tolong agar membantu pengobatan ibunya yang sedang sakit, tetapi ia hanya menjawab dengan meminta maaf.

Keinginan yang kuat untuk pulang kampung menjenguk sang Ibu, pun ia tahan untuk tidak membicarakannya pada suami, karena melihat masalah yang datang pada Bima sudah bertubi-tubi. Aida selalu tersenyum, agar tak terlihat kesedihan yang dialami.

Aida memohon kepada Tuhan di setiap sepertiga malam, matanya yang selalu sembab tak lagi pernah menjadi perhatian Bima. Suaminya itu hanya sibuk bekerja dan mencari sebab dari stres yang dialami.

Suatu hari, ketika bangun tidur, Aida merasakan sakit yang sangat dahsyat di kepalanya. Ia tak tahan dan mengadu pada Bima. Suaminya itu bingung melihat Aida yang meraung. Air mata membanjiri pipi istrinya.

“Bang, aku gak tahan lagi. Kepalaku sakit sekali. Mau pulang aja. Allah ... Allah ... Allah!” Aida memijat kepalanya.

“Kok tiba-tiba gini, Dik? Kita ke rumah sakit aja nanti jam delapan, ya?” Bima meraih tangan istrinya, berharap bisa meringankan beban sakit yang dirasakan Aida.

“Gak tahan lagi, Bang. Aku mau pulang, aja. Mau jumpa Ibu, dia juga sedang sakit sekarang. Allah ... Allah!”

“Gimana mau pulang, kalo kamu juga sakit, Dik?”

Perlahan tangan yang digenggam Bima semakin melemah. Ia panik.

“Bang, maafkan aku, jika tak bisa membantu setiap masalahmu. Aku sedih melihatmu selalu termenung. Bahagialah, Bang ... meski aku tak lagi bisa di sisimu. Ingat selalu pada Allah, perbanyak istighfar, dan bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang. Allah ...!” Lirih Aida berucap.

Istri Bima memejamkan mata, ia tidur di pangkuan suaminya. Aida benar-benar pulang ke rahmatullah sesuai keinginan.
Sering kali, kita sibuk dengan “sesuatu” yang tidak ada. Namun, lupa pada apa yang ada di depan mata.

Palu, 26 Juni 2019

Aqmalia S Manik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh LiaManik33
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
bagus nih lanjutin ya Kak
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pulang Kampung... ? sy juga mau pulang kampung...
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Quote:


Waduhhh Mbak katanya emoticon-Cape d...
profile-picture
ajang.dee memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
pulang ke kampung suami he ...
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
wahhh sangat menyentuh , jd terharu . huks huk
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Wah, orang Palu toh☺☺
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Keren lanjutkan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 2 lainnya memberi reputasi
sedihnya yang jauh dari orangtua yaa
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Bilang lanjutkan tp quotenya ke ane emoticon-Cape deeehh
profile-picture
ajang.dee memberi reputasi
Quote:


Sorry salah Quot. Koz aku tadi ketawa aja ada yang manggil Mbak. Terpana emoticon-Argentinaemoticon-Argentina
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan Ikrom.lestari memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Nongol baca yg aaikasik ah
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


pulang kampung enaknya bawa apa, ya..??

Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Sulsel
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Ane mah jagain kampung. Biarin yg laen macet2an. emoticon-Wakaka
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
mantul ceritanya
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


khong guan udah biasa. maunya bawa yg luar biasa. sy mau bawa khing khong... hehehe...

profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Kalimat ini ada yang kurang. Bisa dicek ulang
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
mantap
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Kalau aku jadi pulang kota dong nih. Secara sekarang menetap di desa 😅
profile-picture
LiaManik33 memberi reputasi
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di