CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Janji Manis [100% Real Story]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cbbdf018012ae19413c2ea0/janji-manis-100-real-story

Janji Manis [100% Real Story]

Ini based on real story gw. Dari 2017 sampai saat ini. Kisah yang menceritakan berondong vs tante2. Dgn rasa cinta yang tulus dan murni. Perjuangan gw agar kisah cinta gw diterima masyarakat dan masalah yang harus gw hadapin selama menjalani hubungan asmara

Warning:
17+ content
Adult material


BAB I.I: Permulaan

Gw Aldo. Orang bilang wajah gw diatas rata-rata. Yah meskipun bentuk badan gw kurus. Masih banyak cewek-cewek yang luluh karena wajah gw dan sisi intelektual gw. Gw lulusan teknik dari Universitas Negeri di Purwokerto. Setelah lulus gw pernah mengayomi pekerjaan sebagai driver, kasir mini market, marketing di sebuah perusahaan kecil, sampai akhirnya bekerja di Bank ternama di Indonesia.

Jujur gw nyaman dengan pekerjaan gw sekarang, karena uang yang gw hasilkan tidaklah sedikit. Gw hampir mengalahkan 70% rata-rata gaji seorang manager di Kota Bandung. Karena kemampuan gw itu. Gw yang sempat vakum membina hubungan cinta dengan wanita karena sebelumnya pekerjaan gw gak jelas, akhirnya memberanikan diri lagi untuk memulai petualangan cinta gw.

Berawal dari gadis berusia 22 tahun. Gadis cantik dengan rambut sepinggang dan kulit lembut bak persolen. Gw gak mau cerita panjang soal dia. Dia bukan tokoh penting dalam hidup gw. Dia teman gw waktu dulu gw bekerja di perusahaan kecil sebagai marketing. Dia kagum sama gw dengan perubahan kehidupan gw yang sekarang glamor. Berhubungan badan 2x sama dia, dan 2 minggu kemudian gw putus.

Sebenarnya sejak awal gw bekerja di Bank. Ada satu wanita yang menarik perhatian gw. Jujur gw punya kecenderungan menyukai wanita yang lebih dewasa ketimbang gw. Flashback sedikit gw pernah pacaran dengan guru honorer bahasa inggris gw ketika gw SMA. Selama 3 tahun! Rekor pacaran terlama gw, sampai gw ditinggal nikah, orang tuanya sudah mendesak cewek gw nikah waktu itu, apalagi perbedaan usia gw sampai 7 tahun.

Balik lagi ke situasi sekarang wanita itu adalah wanita yang sudah bersuami. Umurnya 11 tahun diatas gw. Punya satu anak laki-laki yang sebentar lagi masuk SD. Gw bersahabat dengan dia sejak Juli 2017 yang notabane awal gw masuk kantor. Dia orang yang care dengan gw dan orang-orang disekelilingnya. Dia sayang banget dengan putra semata wayangnya. Terbukti dengan storygram yang kerap kali dia share lewat instagramnya bersama anaknya.

Dia adalah wanita yang dulu senang sekali terjun dalam kehidupan malam. Kontras sekali dengan gw yang merokok aja gw pikir-pikir setengah mampus. Wanita ini, namanya Nisa. Tubuhnya seksi, berat badan 55 kilo, tinggi 165, dan ukuran dada besar membusung yang dibungkus kemejanya hingga menonjol.

Awal kedekatan gw dan Nisa itu dimulai dari rasa penasaran gw. Gw tahu nih cewek bisa beri kasih sayang luar biasa lewat naluri keibuannya. Dia selalu memberi gw tumpangan di mobil Mobilio hitamnya ketika istirahat makan siang atau saat berangkat kerja dan sepulangnya. Pun Nisa gak pernah pelit untuk mengeluarkan uangnya selama jalan sama gw.

Karena kasih sayangnya yang luar biasa dia curahkan. Gw jadi tertantang. Gw yang berusia 22 tahun, tertatang untuk merebut Nisa dari suaminya. Dia harus jadi milik gw. Nisa dengan segala kelebihan dan kekurangannya cocok buat gw

Gw paham benar. Jadi cowok, ga mesti punya badan ideal, money power yang kuat sekelas CEO, atau muka seganteng Bradley Chopper untuk menaklukkan hati cewek. Cukup beri dia kebaikkan secara konsisten dan perhatian. Seperti saat itu..

Februari 2018

"Sebel gue lama-lama sama laki gue." Ungkap Nisa disela-sela kegiatannya menyetir.

"Kenapa? Jangan banyak ngeluh, nikah kan bukan hanya soal menyatukan kesamaan visi dan misi tapi juga menyatukan dua permasalahan, rumit memang." Gw balas enteng.

"Iya tapi dia ga produktif banget. Gue minta duit buat bayar sekolahan Abraham aja dia banyak ngomel."

Hmm interesting, dalam hati gw lega. Dia mulai membuka aibnya setelah beberapa lama gw bersahabat dengan wanita yang diem-diem gw sukai. Sudah lama kami bersahabat. Tidak pernah sedikitpun dia mengungkapkan masalah personalnya. Biasanya hanya sebatas tentang pekerjaan saja.

"Ngomel gimana emang?" Tanya gw menggali informasi lebih.

"Bilang 'iya lihat nanti ya, gak tahu uangnya darimana" Ujarnya sembari menirukan intonasi nada suaminya saat itu.

Gw tertawa kecil, "memangnya suami lo kerja apaan sih?"

Sejenak dia terdiam, memandang mata gw sekilas, jarang sekali kami membicarakan sesuatu yang personal, tidak sempat gw dan dirinya membahas background kami secara mendetail, setelah mungkin dia mempertimbangkan gw pantas untuk mendengarnya, Nisa lalu melanjutkan, "driver g*abcar."

"Ouww. Ga nyoba cari kerja yang fixed income?"

"Males dia. Lulusan SMA juga."

"Hehh? Kok kalian bisa pacaran?"

"Gue kan suka clubbing dulu, ketemu dia, dia keren orangnya waktu itu. Seneng mabok, ketawa-ketawa bareng, nyaman aja sih."

"Loh yang gw tahu lo ga kaya gitu sekarang. Ohh jadi lo suka begituan ya tadinya? Nakal bener." Tudingku dengan mencetakkan seringaian di bibir. Direspon oleh cubitan pedih pada lengan gw hingga gw meringis.

"ishh. Ya kan sekarang gue punya anak, punya tanggung jawab sebagai seorang Ibu, malu lah gue kalau harus begitu-begituan lagi."

"Iya deh ngerti-ngerti. Ampun." Kataku mengiba diselingi tawa renyah.

"Itulah kenapa gue suka berada disekitar lo. Lo bawa aura positif buat gue. Gue suka pola pikir lo menyikapi diri lo. Lo semangat kerjanya. Gak liar kalau punya duit. Karir lo bisa terbang jauh." Tandasnya tiba-tiba.

"Ah biasa aja. Hebatan lo bisa ngurus anak, biayaiin keluarga, dan giat kerja diwaktu yang bersamaan. Kagum gw."

Kami berhenti di persimpangan jalan kala itu. Lampu merah menandakan mobil kami harus menghentikkan lajunya. Nisa terdiam. Kembali mata kami saling bertukar pandang. Senyum tersipu tersungging di bibir marunnya.

"Bisa aja lo." Katanya.

Dia mengenakan setelan kemeja hitam dan celana kain berwarna senada. Rambutnya tergerai menyentuh bahunya yang terekspos. Ia tampil sangat elegan saat ini. Ditambah lips glossnya yang menambah nilai sensual.

Gw gak bisa menahan diri lebih lama lagi, gw udah terlalu lama memendam nafsu cinta dan birahi, "Lo tahu Maya yang gw ceritain kemarin?"

"Iya kenapa?" tanya dia dengan atensi yang masih terpusat ke jalan.

"Lo tahu kan gw ga bener-bener suka sama dia."

"Ahhh lo suka jaga image gitu. Galau mah galau aja." Tepisnya diiringi tawa mengejek.

"Iya lo masih inget kan omongan gw waktu bulan Oktober kemarin? Kalau wanita yang gw suka itu wanita yang dewasa pemikirannya kaya lo? Gimana kalau sebenarnya gw benar benar suka sama lo?" Tegasku serius.



Nisa tidak menggubrisnya. Keheningan tercipta diantara kami selama beberapa jenak. Tentu ia shock. Tangannya yang mengenggam kemudi sedikit tegang. Sebuah kalimat lama yang membuat kami memutar ulang rekaman memori itu. Ketika kita berdua dan tim kami berkaraoke. Pertama kalinya gw mengenal alkohol hingga mabuk berat. Ia yang saat itu sudah menjaga dirinya dari alkohol mengantarku pulang.

Ia wanita yang kukecup penuh perasaan dengan manis dibibir waktu itu di mobilnya, gw pernah mengungkapkannya. Saat itu. Dia sepakat untuk tidak terlalu menghiraukannya karena kondisi gw yang memprihatinkan.

Tapi kini gw dalam kesadaran penuh.

"Jangan membahasnya. Jangan lo hancurin hubungan persahabatan kita." Ujarnya mewanti-wanti.

Gw memilih diam tidak melanjutkannya. Dia tahu, dia selalu tahu. Dia hanya menyangkalnya 'kan?

Gw Aldo, dia Nisa. Usia kami terpaut 11 tahun. Tapi cinta yang gw berikan ke dia tulus. Rasa sayang yang gw limpahkan itu murni.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rainessa
Halaman 1 dari 5
Index

Chapter 1.0: Permulaan/Prolog
Chapter 1,1B: That Night
Chapter 2.1: a Fresh Start
Chapter 2.2: I Can Be Wild!
Chapter 2.3: A Step Forward
Chapter 2.4: All I Need



Your good intentions are sweet and pure
But they can never tame a fire like yours
No it ain't over, until she sings
Right where you wanted, down on my knees
You got me begging, pretty baby set me free
'Cause it ain't over, until she sings


Quote:
Diubah oleh rainessa
gitu doang
CHAPTER I.IB: malam itu

Gw terlahir sebagai orang yang mapan. Ayah gw adalah pembisnis handal pada masanya. Beliau sempat memiliki usaha showroom mobil yang asetnya hingga milliaran. Gw sempat merasakan masa emas yokap bokap gw. Dimana kepala gw selalu congkak keatas. Gw menganggap diri gw ada di kasta berbeda saat di bangku SD hingga SMP. Hanya bergaul dengan orang-orang tertentu.

Tapi yah.. Tidak semuanya abadi.

Oktober 2017

Malam ini gw ditemani alunan musik keras yang menggema. Ini pesta perayaan gw karena gw berhasil memecahkan suatu proyek. Tim gw merayakannya, membakar duit gw seenak jidatnta dengan karaoke happy hour disuguhi makanan dan minuman-minuman mahal. Mereka tengah memperkenalkan gemerlap dunia malam. Mereka tahu gw sebelumnya belum pernah terjamah dunia kotor.

Salah satu teman gw. Nizar bernyanyi menumpahkan emosinya. Penuh penghayatan pada setiap lirik lagunya. Menyanyikan lagu pop barat yang sedang hits. Dia yang lebih lama mengenal Nisa. Bersahabat sejak 2015 bersamanya. Agak melambai perwatakannya.

"Ayo Bu di nikmati hidangan-hidangannya." Kelakar Nizar menirukan gaya MC ketika lagu kondangan sunda terputar. Semua dalam ruangan tertawa. Selalu ada canda yang menghiasi diantara kami jika ada kehadirannya.

Ia salah satu obat pelipur lelah gw. Yah meskipun candaannya terkadang rada ekstrim.

"Bapak yang punya hajat boleh joget ke depan Pak." Ajak Nizar padaku. Aku tolak halus dengan bahasa tubuhku.

Dia meraih ponselnya. Nizar menyalakan kameranya menyorot padaku, lalu action.

"Nih temen-temen kalau yang lagi butuh duit. Hubungi aja Aldo. Temen gw. Kalau ketemu dia mintain duit aja. Dia lagi banyak duit." Racau Nizar.

"Mana ada gw banyak duit. Lo lah. Yang punya aset segitu banyaknya yang punya banyak duit."

"Tapi kan ini semua ditraktir sama Lo." Tukas Nizar dengan cengiran kuda.

"Aku mau nyanyi!" Spontan Nisa berseru menyela perkataan kami.

Segelas rum Captain Morgan berwarna keemasan gw tenggak kembali. Senyum gw mekar ketika dia beranjak berjalan kedepan dan meraih micnya. Lagu yang dia pilih Almost is Never Enough. Gw merogoh ponsel gw. Merekam suaranya menyanyi yang menyejukkan hati.

Dia melirik lewat ekor matanya seraya terus bernyanyi. Gw melemparkan sebuah senyum. Ia balas tersenyum.

I'd like to say we gave it a try I'd like to blame it all on life Maybe we just weren't right, But that's a lie, that's a lie And we can deny it as much as we want But in time our feelings will show

'Cause sooner or later We'll wonder why we gave up The truth is everyone knows


Nizar yang memang terkenal gila, kembali menuangkan Whiskey beserta dengan sodanya.

"Lagi-lagi. Lo harus seneng-seneng malam ini." Kata Nizar sambil menyodorkan minuman keras itu padaku.

Aku kembali menenggaknya, entah sudah yang keberapa kalinya. Gw ingin tahu bagaimana rasanya hilang kesadaran. Ditambah kepuasan selama memperhatikan Nisa bernyanyi. Entah sudah berapa kali gw meminum cairan pahit mengaliri kerongkongan gw.

"Pahit. Ga enak rasa alkohol. Nyenggrak banget anj*ng." Umpatku ditengah pesta pora kami.

"Tapi enak kan dada lo jadi anget rasanya." Claudie gadis berambut kelam sebahu yang sedari terdiam menimpal. Ia menggoyangkan gelasnya dengan elegan. Satu kakinya menyilang diatas kakinya yang lain.

"Pahit banget. Udah ah gw gak mau lagi. Kapan maboknya gw?"

"Minum aja terus bro. Sampai kerasa enak" Seru Nizar bersemangat.

"Udah udah jangan ah. Bahaya." Potong Nisa menghentikkan nyanyian.

Gw menghirup udara dalam-dalam. Membenamkan tubuh gw ke sofa. Menunggu reaksi minuman itu. Mereka terus saja bernyanyi sementara gw memejamkan mata.

Beberapa saat kemudian,

"Nizar.." Panggil gw serak.

"Apa brother? Udah ngerasa enak ya?"

"Yes brother. Im feeling so high. I wanna to tell you something good."

"What is it brother?"

"I like her. Every parts of her. You know right i love older woman." Tanpa sadar gw mulai meracau. Pikiran gw buyar. Apapun yang terlintas di kepala gw tidak sungkan-sungkan gw ungkapkan.

"Cewek yang mana yang lo suka? Iva?"

"No you dumb. She is at the same age with me. Not her. But.."

"Alahh Iva kan? Gak apa apa Iva juga cantik. Cocok sama lo. Lo kan udah kaya lagi. Main cewek sedikit gak apa apa kan?" Goda Nizar semakin menjadi-jadi.

"I told you she is not the one i love at this moment."

Semua pasang mata mulai mengarah padaku, memasang kuping mereka mendengar celotehan gw. Seketika gw membungkam mulut gw. Sadar jadi tontonan banyak pihak.

"I should go home. This thing isnt right."

"Weyy.. Ayolah belum beres ini." Rayu Nizar. Satu lagi gelas sudah dalam genggamannya.

"Gw ga kuat, gw takut gak bisa pulang kalau kelamaan." Gw mulai beranjak dari kursi sofa panjang room karaoke. Mengenakan kembali jaket kulit coklat yang gw sampirkan.

"Ahh baru juga minum segitu. Masih kurang lah. Tambah sedikit lagi. Masih ada waktu 1 jam lagi kita disini."

"Nyerah gw. Yang penting gw sekarang udah ngerti sekarang gimana rasanya."

"Udah-udah kalau mau pulang. Biar aku yang anterin dia. Motor Aldo bawain aja Hisyam."

Gw terdiam. Membiarkan mereka berkoordinasi sendiri. Kunci motor gw diambil oleh Hisyam. Sementara tangan gw diraih Nisa.

"Ayo.. Jalannya hati-hati.." Tangan gw digenggam hangatnya sentuhan Nisa. Mata gw mulai kabur dan tidak bisa melihat dengan jernih.

Siluet teman-teman gw mulai memudar dari balik pintu kedap suara yang tertutup. Gw melangkah. Mengikuti jalan langkah Nisa didepan gw. Suara heels Nisa menggema ke seluruh penjuru koridor. Menuruni setiap anak-anak tangga penuh hati-hati.

Tibalah kami didepan mobilnya.

Nisa menghela napas panjang, "Capek.. Kalau gue gak pulang sekarang mampus lah gue dimarahin suami sama anak gue."

Gw membuang muka gw. Tidak menanggapi perkataannya.

"Lo mabok banget ya? Udah gue bilang jangan banyak-banyak. Begini kan hasilnya." Ceramahnya ketus.

"Gw penasaran rasanya mabok kayak gimana." Kataku.

"Iya tapi nanti bahaya kalau lo nyupir pulangnya. Untung ada gue. Kalau lo sama mereka-mereka doang. Habis lo di perjalanan pulang nanti."

"Iya iya."

"Muka lo merah. Lucu hahahaha." Tawa senang mencairkan perasaan gw yang sempat risau ketika Nisa menyinggung suaminya. Gelora api cemburu selalu tersulut tatkala Nisa membawa suaminya.

Deru mesin mobil terdengar. Nisa hendak memindahkan pedal giginya sampai tiba-tiba gw mencengkram tangannya erat dan dalam satu gerakan cepat gw menempelkan bibir gw di bibir Nisa yang merah merekah.

Bisa kulihat Nisa membelalakan matanya. Ia hendak memberontak. Tapi gw bisa lihat pikirannya pun sama blanknya dengan gw. Pertahanan gw jebol. Gw ga sanggup mengontrol pukiran gw sendiri. Pikiran gw berkecamuk untuk meluapkan semuanya.

Sesosok jelita tertawan dalam ciuman posesif gw. Gw benci dengan kenyataan dia sudah milik pria lain. Gw benci dia harus berbagi kasih sayang dengan orang lain. Kasih sayang dia harus menjadi milik gw seorang.

Gw seorang.

Tidak butuh waktu lama bagi gw untuk melepas ciuman singkat gw. Jantung gw berdegup sangat cepat hingga rasanya ingin melompat keluar.

"Wanita yang gw suka itu. Wanita kayak Lo, Teh Nisa."

Pipi Nisa merona merah padam. Tidak ada sepatah katapun yang ia lontarkan pada gw pasca ciuman sepihak itu. Dia terdiam memandang kedua bola mata gw.

Seperti ombak terhantam karang. Hati gw luluh melihat betapa mempesonanya Nisa dengan wajahnya yang menahan malu. Kemeja katunnya menebarkan wangi aroma lavender. Menusuk hidung gw. Hati gw pun serasa tertusuk perasaan yang terus gw tekan.

Gw ikut terdiam setelah kalimat sakral itu. Kalimat yang urung gw ucapkan setelah sekian lama.

Kami hanya saling berhadapan. Napas gw memburu. Dia? Entah apa yang ada di kepalanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rainessa
lanjooottt gan, keep update.. jangan putus di tengah jalan ceritanya emoticon-Shakehand2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Tar di update bang

Quote:


Semoga yah. Jalan cerita sih sampai tamat jg ada. Persis yg gw alamin. Tp masalahnya gw ga pandai nyusun latar waktunya. Kemungkinan latar waktunya acak2an wkwkwkw..
wah ada cerita baru lagi.
keep update dan semangat gan.
Quote:


Gpp gan, asal nyambung aja emoticon-Ngakak

Jadi udah di tulis berarti ya, tinggal di share aja ya emoticon-Matabelo
Dari cerita ente, ane sepemikiran. Lebih suka cwe yg lebih tua, dalam arti dewasa. Kalo masih bocah kan harus di ajarin lagi kan ribet emoticon-Hammer2
Jejak dulugan
Kentang nih, updatenya dipercepat emoticon-Leh Uga
Lanjuuut gaaan.....bakal seru nih ceritanya
Semangat emoticon-shakehand
seru nih gan.. mulus teh nisa jgn lupa yakkk emoticon-Genit
Novel??
Nyimak ahh..emoticon-Wowcantik
BAB 2.1: a Fresh Start

July 2017

Gw mengamati tubuh gw dari pantulan cermin kamar mandi kantor. Lihat setelan gw, ini baru namanya pekerja kantoran. Gw mengenakan sehelai kemeja putih polkadot hitam, menempel pas di tubuh gw, memperlihatkan setiap lekukannya.

Inilah habitat asli gw, hidup di dunia yang selalu padat akan kesibukkan. Usai melihat dan menilai penampilan gw, gw melangkah keluar dengan suara sepatu pantofel gw menuju ruang kerja gw. Seorang Mortgage Loan Officer. Keren kan gw?

Ketika lo baru diterima masuk ke dalam sebuah instansi. Apa yang lo pikirkan? Memulai lembar baru, kehidupan yang baru, cinta yang baru pastinya kan? I look forward to start a new beginning.

Satu pertanyaan melambung, ‘Cewek yang mana yang bisa gw santap disini’

Mata gw beredar ke seluruh ruangan, ruangan kerja kondusif dimana semua orang berpaku pada layar komputernya. Beberapa orang yang berpapasan didepan meja gw tampak melempar senyum ramah dan berucap salam. Gw menunduk tanda merespon salam mereka. Dengan standar Bank, rata-rata pekerja disini memiliki predikat good looking.

Sampai seorang pria berbadan tegap datang menghampiri gw dengan langkah lebarnya, ia tampak membawa beberapa berkas di tangannya, “Aldo. Saya jelasin sistem kerja disini. Sebelumnya pernah kerja sebagai marketing juga ya?”

“Ya benar Pak.”

“Perkenalkan, nama saya Primera.” Suara baritonnya yang khas menunjukkan sisi karismatiknya. Ia mengulur tangannya menjabat tangan gw. Primera? Nama yang unik untuk seorang pribumi.

Setelahnya gw dijelaskan beberapa detail perusahaan dan jobdesk gw sebagai Mortgage Loan Officer atau biasa disebut Marketing KPR untuk Properti.

.

.

.

"Anak baru ya? Kenalin, gua Nizar."

"Aldo."

"Kalau sama gua. Gak usah canggung. Gua ramah dan baik hati kok orangnya." Ia terkikik geli khas seorang pria kemayu.

"Haha iya enggak kok. Gw sans." Ujar gw kalem.

"Mau cari makan? Ikut yuk. Sekalian kenalin nih ini Claudie, Harris, sama ini sahabat gua yang paling ngerungsingin kepela eike. Namanya Nisa." Katanya dengan logat genitnya.

"Cicing ah. Ngerusak citra gue aja." Protes Nisa spontan. "Gw gak ngerungsingin kok. Gw yang paling baik disini. Percaya deh."

"Hahaha siap. Halo salam kenal semua."

Gw perhatikan satu persatu. Claudie gadis sepantaran gw memilih tampil modis sama dengan lelaki kemayu yang menyapaku tadi. Harris lebih simpel dan Nisa kelihatan elegan di usianya yang kutakar 30an tahun.

"Ayo sini. Kita makan diluar aja. Siapa tau lo bisa lebih akrab sama kita-kita." Ajaknya dengan tangan melambai untuk cepat bergerak. Waktu istirahat kami toh terbatas.

"Gak usah ngomongin kerjaan dulu deh. Dia kan anak baru. Pusing nanti dia." Tambah Nizar.

"Udah punya pacar belum lo?" Harris merangkul pundak gw sembari berjalan.

"Belum hahaha. Lagi males pacar-pacaran."

"Ah masa. Udah punya kali ya lo? Plis jangan tambah-tambah stok jomblo lagi. Udah cukup Claudie aja yang ngenes." Harris tertawa lebar. Disambut desisan sinis Claudie dingin.

"Belum kok Mas."

"Yaudah, amal deh. Pacaran sama Claudie aja. Cantik-cantik tapi gua bingung kok belum ada yang mau ya."

Claudie memalingkan mukanya. Menolak di bully. Sikap juteknya itu sudah tersirat dari setiap pahatan di wajahnya. Gw salut. Dia masih bisa bertahan diam untuk tidak marah di cerca dengan perkataan yang menohok seperti itu.

"Diantara kalian siapa yang paling lama kerja disini?" Tanya gw penasaran. Mengalihkan pembicaraan daripada menunggu Claudie mengamuk.

"Gue." Jawab Nisa cepat. "Dari pertama kantor cabang disini belum buka. Gue yang pertama kali ada. Gue juga yang muncul disini paling awal."

"Oh ya Mba? Sudah sepuh dong disini hehehe." Candaku mencoba mencairkan kekakuanku.

"Yaiya dong."

"Yah kan tadi gua udah bilang. Jangan ngomongin kerjaan." Nizar seolah-olah kecewa.

"Sombong dikit doang boleh kan?" Ucap Nisa tersenyum usil.

"Iya iya. Lo mah malah nunjukkin kalau lo paling tua!" Seru Nizar kurang ajar.

"Udah ah. Mau makan dimana jadi kita?"Claudie menengahi.

"Ke Ampera aja. Gw traktir deh." Usul Nisa.

"Ciyee yang sepuh beda, sultan!" Tiada hentinya Harris menggodai.

Tapi kali ini Nisa bergeming, hanya sebatas terkekeh ringan. Ia mengikat rambutnya kuncir kuda dan mempertontonkan leher jenjangnya yang mulus.

.

Seperti yang gw sebut tadi. Adalah hal yang lumrah terjadi jika gw mencari pasangan di tempat kerja gw yang baru. Itu sudah jadi kebiasaan manusia, mereka digariskan untuk berpasang-pasangan 'kan? Sementara di lingkungan kecil ini. Gw bisa melihat jelas.

Nisa dengan mudahnya mengeluarkan kartu kredit membayar semua tagihan makanan kami sebesar 300an ribu rupiah tanpa mengeluh. Hitung-hitung demi perayaan gw masuk kerja ditempat ini katanya. Sesaat setelah kami keluar resto. Handphonenya berdering.

"Halo..?" Sahut Nisa menyapa orang disebrang telepon.

"Ohh iya gimana Aa sekolahnya? Udah makan siang belum?" Tanya wanita itu penuh kelembutan.

"Kenapa belum? Bunda tadi kan kasih bekal makanan ke Aa. Di makan yah bekalnya."

"Ga enak? Enak lohh itu kan kesukaan aa."

"Ohh bosen. Yaudah sekarang makan itu dulu. Besok ganti menunya ya."

"Iya nanti Bunda pulang jam 7 malam. Dadah Aa."

Gw tersenyum sendu mendengar kesantunan Nisa menanggapi telepon anaknya. Dia adalah perpaduan sempurna untuk menjadi seorang istri. Gw membayangkan betapa beruntungnya suami yang mendapatkan cinta wanita ini.

Bokap gw selalu bilang carilah pasangan hidup seperti yokap gw. Semua kriteria itu melekat dalam diri Nisa. Gw bisa membaca karakter wanita ini. Tapi yah apa daya. Biar bagaimanapun wanita ini telah bersuami.

Tidak mungkin gw bisa masuk lebih dalam ke kehidupannya. Tidak mungkin tangan gw bisa menggapainya.

Lebih baik gw cari seseorang yang lebih logis untuk gw dapatkan. Ia memang kandidat terkuat untuk istri idaman. Namun jika dipikirkan secara akal sehat, berat rasanya menjalani hubungan dengan harus bertarung melawan suaminya. Apalagi kalau dihitung-hitung memacarinya mungkin pricey. Merogoh dompet gw lebih dalam ketimbang cewek-cewek yang dulu dekat dengan gw.

"Lihat ini deh Al. Anak gue. Cakep kann? " Omongannya sontak membuyarkan lamunan gw.

"Ehh? Iya teh ganteng banget. Ayahnya tentara?" Kata gw saat melihat foto yang dia pamerkan. Dimana anaknya berpose bersama seorang tentara yang membawa senapan laras panjang.

"Bukan hahaha. Itu acara sekolahnya dia aja. Mampir ke markas tentara." Ia tersenyum sendiri memperhatikan foto anaknya.

"Kirain Teh. Terus gimana dia mau jadi tentara?"

"Gue sih pengennya dia jadi dokter. Biar pinter sekolahnya." Nisa melebarkan senyumannya.

"Jadi dokter juga bagus. Banyak duitnya."

"Iya atuh. Jadi gimana udah kenyang nih? Atau masih mau makan lagi?" Tawarnya.

"Udah ah udah. Penuh perut gw. Nanti meletus lama-lama kalau diisi terus."

"Gak apa-apa kali. Lo kurus begitu. Perbaikkan gizi gih." Ledeknya dengan menjulurkan lidah.

"Hahahaha. Ya ampun."
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan lumut66 memberi reputasi
Diubah oleh rainessa
Quote:


Bener. Gw males training bocah jg gan. Mature itu udah paket komplit. Serba dapet emoticon-Big Kiss

Quote:


Semampu ane gan

Quote:


Semoga yah

Quote:


Janji Manis [100% Real Story]
Ga bisa nampilin mulus gan. Dibaca doi kok

edit: foto ada di page 3

Quote:


Kaga. Cerbung. Dengan latar waktu yg lompat2 cantik hehehe

Quote:


Mangga
Diubah oleh rainessa
bookmarked....ga sabar nunggu lanjutannya gannnn...keep up the great workkkkk!!!
Quote:


Haha iya mature lebih greget emoticon-Leh Uga

Dilanjut kisahnya, kek nya kisahnya maju mundur nih. Jadi balik ke awal dulu emoticon-2 Jempol
ijin neduh dimari yah gan. keknya menarik nih kisah. lanjut lagi gan. salken emoticon-Shakehand2
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
butuh lanjutannya nih
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di