alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Plato, Socrates dan Pythagoras
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5caeae85a2d1950e8804ff10/plato-socrates-dan-pythagoras

Plato, Socrates dan Pythagoras

MICHAEL

Aristokles adalah seorang pegulat profesional, lahir di pulau Aegina pada 428 SM. Walaupun beberapa kali sempat memenangkan pertandingan gulat, tapi Aristokles tidak pernah lolos terpilih sebagai pegulat Olimpiade. Karena tidak lagi menjanjikan, maka Aristokles pensiun sebagai pegulat. Nama panggung Aristokles saat pertandingan gulat adalah "Plato", yang artinya lebar atau datar, yang konon ceritanya karena memang bahunya luar biasa lebar.

Plato akhirnya berkecimpung dalam dunia politik, juga menulis puisi. Dan saat itulah dia bertemu dengan Socrates, seorang filsuf pengembara (karena memang miskin dan tak punya rumah) dengan para muridnya yang masih berusia muda semua.

Ajaran Socrates selalu mengolok-olok budaya pemerintahan Athena jaman itu, dan karenanya hubungan dengan pihak "berwajib" tidak pernah baik.

Dialektika adalah metode tanya-jawab ciptaan Socrates yang digunakannya untuk memancing pemikiran akan kebenaran (sekaligus mengolok-olok), misalnya:

Negara: "Menurutmu, kebenaran itu apa?"
Socrates: "Tidak tahu."
Negara: "Lantas mengapa kamu dikatakan lebih bijak dari kita semua?"
Socrates: "Karena aku tahu bahwa aku tidak tahu."

Lebih jauh, Socrates pun menyentuh kehidupan "beragama" saat itu yang tentunya dipenuhi dengan persembahan pada dewa-dewa utama mereka seperti Zeus, Apollo, Athena, Hermes dan lainnya.

Socrates: "Apakah Zeus bertindak semaunya, ataukah dituntun oleh kebenaran?"
Negara: "Tentu Zeus dituntun oleh kebenaran."
Socrates: "Kalau begitu yang perlu kutemukan adalah kebenaran itu sendiri, bukan Zeus."

Tahun 399 SM, Socrates dihukum mati dengan disuruh minum racun. Socrates dituduh telah merusak masyarakat terutama generasi muda Athena yang berpaling dari dewa-dewa mereka. Seluruh pengikutnya dikejar dan diberantas. Plato pun terpaksa lari mengungsi dan sampailah dia di Sisila, berjumpa sekte Pythagoras.

Pythagoras dikenal sebagai ahli matematika yang hidup di abad 6 SM, terkenal karena menemukan rumus segitiga. Pythagoras juga dikenal sebagai pendukung "reinkarnasi" dimana dia percaya jiwa yang abadi pada saat kematian akan berpindah ke tubuh yang baru. Reinkarnasi versi Pythagoras ini disebut Metempsychosis.

Pythagoras juga meyakini bahwa seluruh benda langit bergerak dengan sebuah rumus matematika sesuai dengan sebuah tangga nada, sehingga membentuk sebuah symphony, yang sayangnya tidak bisa didengar dengan cara biasa.

Sekte Pythagoras adalah pemuja angka, bagi mereka seluruh alam semesta dan isinya adalah angka-angka. Semua materi adalah wujud tak sempurna dari bentuk "abstrak" dengan derajat lebih tinggi. Kebenaran sejati bersifat abstrak, dan seperti angka-angka itu sendiri, tidak pernah berubah, kebenaran itu adalah abadi.

Dari sinilah Plato merumuskan ajarannya tentang "ide" dan "bentuk". Contohnya adalah gagasan atau ide tentang "meja". Meja sebagai ide adalah sempurna, walaupun perwujudan bentuk meja dalam dunia nyata bisa bermacam-macam dan tidak sempurna, dan kemudian bentuk-bentuk itu pun diberi nama bermacam-macam.

Plato membayangkan semua manusia hidup dalam sebuah ruangan gelap yang besar. Nun jauh ada seberkas obor menyala terang. Diantara obor dan manusia-manusia di kamar itu, dipisahkan sebuah dinding tipis, dimana manusia bisa melihat "bayangan" apapun yang ada di belakang dinding, diantara dinding dan obor tersebut. Bila diantara obor dan dinding itu ada sebuah tombak, maka di dinding akan muncul bayangan tombak, dan bayangan itulah yang dilihat semua manusia dalam ruangan itu.

Apa yang digambarkan Plato ini persis seperti pertunjukan wayang kulit. Kita sebagai penonton dipisahkan sebuah layar besar. Yang kita lihat di layar hanyalah bayangan dari obyek-obyek wayang yang digerakkan di belakang layar itu.

Menurut Plato, tugas mulia sebagai seorang filsuf adalah "menerawang" menembus bayangan itu, mencoba mencapai ke bentuk atau "ide" yang menghasilkan bayangan di layar tersebut.

Teori Plato yang mengutamakan "ide" daripada "fisik" inilah yang menjadi asal kata "Platonik". Contoh yang sering digunakan adalah dalam kisah asmara dua orang, dimana hubungan keduanya benar-benar dekat dan intim, tapi tidak bersifat fisik.

Plato meneruskan konsep ide di atas dalam menata sebuah negara dengan masyarakat yang sempurna, dalam karyanya Politeia. Dalam idenya ini, semua bayi dipisahkan dari orang tuanya sejak lahir, dan dibesarkan dalam "panti asuhan negera" sehingga dari kecil mereka sudah menganggap bahwa mereka adalah "anak negara".

Semua anak diwajibkan bersekolah, dan darinya ditentukan peran selanjutnya dari masing-masing anak itu, menurut kemampuan di bidang olahraga dan matematika. Yang tidak jago olahraga, akan ditentukan berkarir sebagai petani yang bercocok tanam demi kesejahteraan negara. Mereka yang jago olahraga tapi tidak jago matematika, akan dijadikan tentara. Dan mereka yang jago keduanya, matematika dan olahraga, akan masuk dalam kelompok "elite" yang ditakdirkan untuk memimpin negara.

Kelompok elite ini akan mendalami tentang filsafat. Diantara para filsuf pemimpin negara ini, tidak ada milik pribadi. Semuanya milik bersama. Mereka tidur bersama, bekerja bersama, berbagi semua milik mereka, agar mereka terhindar dari korupsi politik.

Jumlah kelompok elite ini ditetapkan adalah 35 orang dan salah satu diantara mereka akan dipilih sebagai "raja filsuf". Seluruh karya musik dan sastra yang tidak berhubungan dengan puja-puji terhadap negara, akan dilarang dan dihanguskan. Semua yang berbentuk individualisme tidak diperbolehkan.

Untunglah ide gila Plato ini tidak pernah bisa diwujudkan dalam dunia fisik beneran.

Diantara karya Plato yang masih dinikmati saat ini adalah konsep akademi atau universitas, walaupun saat ini mungkin tidak benar-benar seperti yang dirumuskan Plato pada awalnya. Plato menamakan sekolahnya "Hekademos", yang sebenarnya nama tokoh terkenal yang pernah hidup di kampung halaman Plato, Aegina. Di dalam sekolah ini, Plato menerapkan sistem kritik spontan yang sebenarnya adalah ajaran Socrates. Semua "murid" boleh setiap saat melakukan sanggahan, bantahan, koreksi, dukungan, atas materi yang disampaikan sang "profesor".

Plato meninggal dalam tenang di tempat tidur, sambil mendengar seorang gadis muda memainkan flute untuknya.

Have a super great day friends!!
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di