alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
The Origin Of Capitalism (Asal-usul Kapitalisme)
3.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cac2dd5af7e930aa638842f/the-origin-of-capitalism-asal-usul-kapitalisme

The Origin Of Capitalism (Asal-usul Kapitalisme)

 The Origin Of Capitalism (Asal-usul Kapitalisme)



Siapa yang tidak mengenal sistem kapitalisme, sistem identik dengan penindasan terhadap kaum proletar oleh kaum borjuis yang memiliki modal dan relasi kuat terhadap pasar. Namun, mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui sejarah maupun dari mana asal usul sistem ini, berikut penjelasan singkat tentang "Asal usul Sistem Kapitalisme.

Ciri Khas Kapitalisme

"Mengejar keuntungan, dan keuntungan selamanya diperbarui, melalui perusahaan yang bersifat kontinu, rasional, perusahaan kapitalis."

Relevansi Agama Dalam Sistem Kapitalisme

" Keselamatan seseorang adalah hal yang terpenting di dalam hidup ini"

"Bagi orang-orang kehidupan setelah kematian adalah "lebih penting dari pada semua kepentingan di dunia ini dan menjadi segalanya dan lebih dari segalanya"

Agama Protestan

"Semangat kapitalisme harus ditingkatkan, dengan demikian, dapat membantu agama seseorang."

"Kapitalisme menemukan dukungan moral yang kuat dalam gerakan protestan dan terutama dalam sekte calvinisme (kedaulatan pemerintahaan Allah dalam ajaran Kristen) yang paling radikal."

Max Webber dalam salah satu bukunya "The protestant ethic and The spirit of Capitalism (1930)" melihat relasi agama dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Dalam tulisannya Weber, kemajuan negara-negara Eropa dan Amerika tidak terlepas dari pengaruh Etika Protestan yang dianut masyarakatnya.

Predistinasi Dalam Etika Protestan

Memercayai bahwa nasib seorang manusia telah ditentukan oleh Tuhan sebelum meraka terlahir ke dunia.

Dengan demikian manusia mencemaskan kehidupan mereka di akhirat nanti. Jadi untuk mengetahui nasib mereka di akhirat salah satunya dengan cara melihat nasib meraka ketika hidup di dunia.

Surga bisa didapat bila sudah bekerja keras, bila bekerja keras maka akan mendapatkan kekanyaan dan kehidupan yang baik di dunia dan mencerminkan kehidupannya di akhirat.

Surga = Kerja Keras = Kekayaan

Dengan kepercayaan mereka (Protestan) yang seperti ini maka, mereka berusaha keras di dunia bukan semata-mata untuk kehidupan di dunia. Melainkan mengatasi kecemasan mereka terhadap kehidupan di akhirat.

Menurut Webber, etika protestan yang dianut di Eropa dan Amerika berimbas pada kemajuan ekonomi negara mereka.

Dalam perkembangannya, etika protestan tidsk lagi dikaitkan dengan suatu agamatertentu. Melainkan menjadi nilai kerja keras yang harus dimiliki oleh setiap individu.

Jadi dapat dikatakan salah satu asal usul munculnya sistem kapitalisme yaitu kepercayaan etika protestan terhadap kehidupan setelah kematian atau kehidupan akhirat, yang kemudian berkembang menjadi sistem untuk menguasai pasar dan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dengan moto hidup bekerja keras.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
pseudo history & alternate facts. emoticon-Malu

bukan sejarah, bukan pula fakta, tapi gak lebih dari konspirasi yang tidak-tidak.

Capitalism in its modern form can be traced to the emergence of agrarian capitalism and mercantilism in the early Renaissance, in city states like Florence.[35] Capital has existed incipiently on a small scale for centuries[36] in the form of merchant, renting and lending activities and occasionally as small-scale industry with some wage labour. Simple commodity exchange and consequently simple commodity production, which are the initial basis for the growth of capital from trade, have a very long history. Classical Islam promulgated capitalist economic policies such as free trade and banking. Their use of Indo-Arabic numerals facilitated bookkeeping. These innovations migrated to Europe through trade partners in cities such as Venice and Pisa. The Italian mathematician Fibonacci traveled the Mediterranean talking to Arab traders, and returned to popularize the use of Indo-Arabic numerals in Europe.[37]

Capital and commercial trade thus existed for much of history, but it did not lead to industrialisation or dominate the production process of society. That required a set of conditions, including specific technologies of mass production, the ability to independently and privately own and trade in means of production, a class of workers willing to sell their labour power for a living, a legal framework promoting commerce, a physical infrastructure allowing the circulation of goods on a large scale and security for private accumulation. Many of these conditions do not currently exist in many Third World countries, although there is plenty of capital and labour. The obstacles for the development of capitalist markets are therefore less technical and more social, cultural and political.


coba donk agan TS tanya, orang eropa belajar dasar-dasar kapitalisme dari mana? emoticon-Ngakak
Balasan post hannepin
Terima kasih untuk ilmunya.

Namun penjelasan yang agan berikan merupakan kapitalisme yang sesungguhnya dan sudah menjadi sebuah sistem yang teoritis dan modern.

Berbeda dengan tulisan yang saya buat, tulisan saya sendiri mengenai kehidupan orang-orang Eropa masa itu yang bekerja dengan keras dengan orientasinya agama, namun ketika itu sistem kapitalisme pun belum ada, tapi cara atau pandangannya tidak jauh berbeda yaitu menjadi orang kaya dengan berusaha keras.

Berdasarkan teorinya Max Webber yang mengatakan relasi agama dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Eropa masa itu. Yang lambat launpun semua orang menginginkan kehidupan yang baik namun relasi agama buakan lagi penyebabnya di karenakan sudah modernnya pemikiran orang-orang dan sudah berkembangnya perindustrian.
Quote:


The economic foundations of the feudal agricultural system began to shift substantially in 16th-century England as the manorial system had broken down and land began to become concentrated in the hands of fewer landlords with increasingly large estates. Instead of a serf-based system of labor, workers were increasingly employed as part of a broader and expanding money-based economy. The system put pressure on both landlords and tenants to increase the productivity of agriculture to make profit; the weakened coercive power of the aristocracy to extract peasant surpluses encouraged them to try better methods; and the tenants also had incentive to improve their methods in order to flourish in a competitive labor market. Terms of rent for land were becoming subject to economic market forces rather than to the previous stagnant system of custom and feudal obligation.[38][39]

By the early 17th century, England was a centralized state in which much of the feudal order of Medieval Europe had been swept away. This centralization was strengthened by a good system of roads and by a disproportionately large capital city, London. The capital acted as a central market hub for the entire country, creating a very large internal market for goods, contrasting with the fragmented feudal holdings that prevailed in most parts of the Continent.


coba kapitalisme itu sebenarnya apa? sebelum anda mencoba gagasan/ pemikiran yang tidak umum, dasar anda harus kuat agar tidak mudah terbawa-bawa narasi satu pemikiran dan lainnya.
kalo pinjaman berbunga itu dari mana ya? perasaan ane belum pernah dengar ada buku manual kuno yg membenarkan pinjaman berbunga. mau itu dibawain dengan pedang lurus maupun pedang melengkung
Quote:


Coba tanya clan Rockepeller yang ada di Kaskus emoticon-Big Grin
Quote:


memang harus dididik ini puh hannepin.
sederhananya, kapitalisme menurut KBBI adalah sistem dan paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas.

artinya apa? artinya, kalo kamu berdagang pun, kamu pun sudah bisa dikatakan kapitalis. karena kamu memiliki modal pribadi dan bersaing dalam pasaran bebas.

kalo kamu pake esai Max Weber, it's okay. gak masalah. tapi harus diingat ontologi. ketika Weber menyusun esai itu, kapasitas esai itu adalah:
1. Antitesis Das Kapital. dia mengajukan antitesis terhadap marxisme bahwa agama (dalam hal ini Kekristenan Eropa) didasari oleh pengaruh ekonomi kapitalisme. esainya memiliki substansi setidaknya agama harus dibagi atas jenis agama barat (Kristen) dan timur (Islam, Buddhisme, Konfusianisme, dll), dan agama di barat harus dibagi atas denominasi Protestan. dan dalam perkembangannya, kapitalisme lah yang didasari oleh pengaruh Puritan (salah satu sub mazhab ortodoksi dalam Protestantisme yang mengutamakan kemurnian ajaran Kristen dan menolak eksegesis baru dalam interpretasi Alkitab, sering disebut sub sekte paling fundamental dan tekstual dalam Protestantisme, dapat disederajatkan dengan Manhaj Salafi dalam Islam Ahlussunnah).
2. Esai ini hanya sebuah pengantar. Weber tahu jika kapitalisme tidak hanya dipengaruhi oleh Puritan. Dia juga menyatakan bahwa gerakan rasionalisme ilmiah, yaitu menggabungkan observasi ilmiah dengan matematika dan pemikiran peradilan berpengaruh dalam men-sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan, pendidikan, dan usaha ekonomi sehingga kapitalisme dapat tumbuh subur di Eropa.
3. Kapitalisme yang dimaksud oleh Weber adalah berkaca pada mazhab ekonomi klasik dan neoklasik. kapitalisme ini berbeda dengan kapitalisme yang tumbuh global di zaman sekarang, yang merupakan varian heterodoks dari mazhab ekonomi neokeynesianisme dan mazhab Austria (Austrian School).

dan yang paling penting, Weber tidak menyebutkan bahwa kapitalisme itu jahat dan menindas. bahkan, kapitalisme itu yang tumbuh subur tanpa disengaja oleh kaum Puritan, dan etika Protestan adalah sebuah garda belakang dalam sebuah aksi massal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme di Eropa. semasa hidup Weber, yang mengatakan kapitalisme itu jahat hanya dari kelompok kiri aka sosialis, komunis, dan anarkis (owenian, blanquian, odgerian, marxian, proudhonian, dll) bukan dari kelompok moderat seperti Max Weber.

dan jangan lupa bahwa esai ini juga mendapat kritik dari ahli ekonomi entrepreneurship Joseph Schumpeter. Schumpeter berpendapat sebaliknya, bahwa embrio kapitalisme justru muncul di Italia abad 14 M dari lingkungan Katholik. walau demikian Schumpeter tidak menyatakan bahwa Katholik mempengaruhi berkembangnya kapitalisme. satu-satunya yang dapat mempengaruhi kapitalisme adalah azas laissez-faire laissez-passer. lo googling aja tuh azas apaan dan frase itu berasal dari siapa. emoticon-Embarrassment
Quote:


dari jaman kuno di awal peradaban. ketika manusia pinjam biasanya ketika dipulangkan yang dibawanya lebih sebagai tanda terima kasih.

di kultur nomadic sekalipun praktik dianggap wajar. biasanya untuk survival di musim dingin, banyak suku nomadic yang meminjam bahan makanan, terutama ternak. tentu yang meminjamkan menghitung bahwa yang dipinjamkan ternaknya akan berkembang biak setelah musim dingin- semi- panas. karenanya untuk tahun depannya ketika dibayar mereka ingin yang dipulangkan lebih dari yang dipinjamkan agar neraca mereka tidak rugi.
Ini ts mau menghubungkan kapitalisme dan agama toh?
Kalo yg ane inget dipelajaran Sekolah dulu Merkantilisme (segala usaha pengumpulan kekayaan yg ujung nya masuk ke kas negara/raja) sebagai awal mula kapitalisme .
Bener gak puh?
Quote:


tepat. emoticon-Ngakak

banyak yang melihat kapitalisme sebagai monster seram yang sulit dipahami dan dipenuhi oleh dracula yahudi, mamarika, rhemason, illuminati. padahal nggak, itu hanya cuap-cuap orang kurang wawasan yang terlalu banyak lihat konspirasi daripada fakta yang ada.

kapitaslime pada dasarnya adalah sekedar pemikiran bahwa setiap orang diperbolehkan mencari kerja/ mencari uang dengan cara menawarkan kerjanya kepada orang lain (bukan noble, lord, bangsawan) secara bebas. karena sebelumnya mayoritas pekerja diserap oleh bangsawan feodal yang menjadi pemilik tanah ataupun industri kecil. dan pada era tersebut tidak selalu ada kebebasan bagi penduduk untuk mencari kerja karena terkadang ada ikatan kerja di tanah bangsawan sejak ia lahir di keluarganya, sehingga secara teknis ia terikat untuk bekerja kepada sang bangsawan dan harus "dibebaskan" terlebih dahulu oleh sang pemilik wilayah.

semoga hal ini jelas bahwa faktor "bebas" adalah hal yang menjadi pokok masalah. karena di era feodal memang itu yang jadi masalah. mau bikin usaha, kalau bukan bangsawan tidak bisa. bangsawan sekalipun harus dengan seijin kerajaan, sehingga jadinya ada embel-embel royalnya sebagai tanda bahwa diberikan dukungan oleh kerajaan. atau dengan kata lain menjadi milik kerajaan, karena memang pahamnya ketika itu adalah semua hal di kerajaan adalah milik raja, setidaknya secara teknis.

demikian pula bagian mau mencari kerja, itu tidak bebas karena kalau lahir di keluarga perkerja feodal maka ia pun terikat meneruskan kerja ayah/ keluarganya, karena tokh sudah numpang tinggal dan izin hidup/ bekerja di lahan sang bangsawan pemilik wilayah. tentu mereka boleh pindah, tetapi prosesnya diberikan izin atau tidaknya tergantung dari sang bangsawan. apalagi kerajaan medieval biasanya melarang perpindahan besar untuk mencegah destabilisasi ekonomi, atau memperkuat wilayah lain yang tidak diinginkan, karena manpower bisa dirubah menjadi pasukan dalam keadaan darurat.

namun melihat hal-hal di atas kapitalisme nyatanya sudah ada, di tiap kota kuno kapitalisme pasti berkembang karena mulai dari toko baju, toko daging, toko perhiasan dan toko roti semua pasti mempekerjakan orang lain sebagai pesuruh atau tukang jaga, serta bagian dari proses produksi mereka. namun belum besar jumlahnya sehingga sekedar dianggap sebagai ekonomi kota atau ekonomi berbasis clan. baru setelah kemajuan dimana politik pun mendukung seperti di itali dan inggris, maka setiap orang yang bukan bangsawan sekalipun boleh secara bebas dan dilindungi negara/ kerajaan untuk memiliki lahan untuk berusaha. mulailah perusahaan pribadi (bukan milik kerajaan) yang membutuhkan banyak pekerja dan nantinya akumuasinya kemudian di era revolusi industri menyerap lebih banyak tenaga kerja daripada buruh tani feodal.

baru setelah itu secara sendirinya ada pergeseran. buruh tani feodal menghilang ditelan jaman, dan ikut masuk ke dalam pasar tenaga kerja. butuh tenaga kerja ya harus bersaing dengan gaji secara layak, tidak bisa lagi ala semi-semi perbudakan macam serfdom.

nah, melihat dari sini, artinya yang menolak kapitalisme masih maunya model feodal. dikasih bebas malah maunya tidak bebas.
Quote:


ini model ekonomi sosial jaman kuno memang. dagang-cum-utang memang jadi tulang punggung sebelum ekonomi berbasis uang muncul. saya ngutangin waktu situ butuh, dan situ ngutangin waktu saya butuh. ini dimungkinkan karena jumlah populasi satu komunitas yang relatif sedikit dan hubungan komunitas yang relatif dekat, dimana semua orang tahua semua orang ngutang ke siapa. jadi masalah bayar utang + terima kasih bukan hanya kepentingan ekonomi, tapi juga kepentingan survival. kalau sampai dipandang tukang utang ga bayar atau bayar utang cuma pokoknya saja, besok besok bisa ga dikasih lagi kalau butuh sama semua orang.

sistem ini masih ada sisanya di kampung atau desa yang close-knit, bahkan di kota besar sekalipun. sebagai contoh, kalau kita dikasih makanan sama tetangga, pas ngembaliin piring pasti diisi lagi dengan makanan yang dirasa minimal sama atau lebih baik dari yang diberikan.
Quote:


at its very core, mercantilisme itu aliran yang menjunjung tinggi neraca perdagangan positif. dimana yang dicari adalah ekspor > impor. saya merasa bahwa di awal era merkantilisme, sistem ini adalah sebuah necessity. di era uang koin, supply uang ya adalah total keseluruhan emas non-perhiasan yang ada. impor sama saja mengurangi supply uang suatu negara dan ekspor menambah supply uang. karena sulitnya menambah supply uang karena well, untuk cetak uang baru butuh emas baru juga, sistem ekspor > impor ini dibutuhkan untuk menumbuhkan ekonomi. beda dengan sekarang yang tinggal pencet tombol di komputer saja bisa meningkatkan supply uang antar bank.

tapi setelah tingkat tertentu, merkantilisme jadi ga bisa disustain karena simply semua negara akan kehilangan partner dagang dan harus bergantung pada koloni sebagai supplier emas dan sekaligus pasar. dan well, jumlah koloni yang feasible sebagai pasar ya terbatas.

pada akhirnya merkantilisme memandang transaksi internasional sebagai zero-sum game. untuk bisa untung, negara partner harus rugi. pandangan ini muncul sebagai ketidaktahuan manfaat spesialisasi dan belum tumbuhnya konsep comparative advantage dalam perdagangan internasional
Diubah oleh khiekhan
Quote:


betul. something extra untuk bantuan (pinjaman) yang sudah diberikan. emoticon-Big Grin



Quote:


merkantilis, atau tepatnya arah kegagalan dan stagnasi pertumbuhan ekonomi karena merkantilis adalah hal yang memicu penggunaan kapitalisme. key nya lagi-lagi ada "kebebasan". bahwa negara/ kerajaan gak lagi campur tangan di dalam ekonomi. alias gak lagi main stockpile emas untuk kekayaan tetapi murni mengandalkan tax dari economy output yang sebebas-bebasnya agar growth nya maksimal.

padahal sebenarnya merkantilis dan capitalism itu pada kebanyak parts gak kontra atau beda. tapi walau demikian gak kompatible juga karena negara berperan besar dalam perdagangan.

I say merkantilis di era tersebut terbukti osbolete karena nyatanya negara sebagai 1-1nya multi produsen nyatanya gak terbukti yang paling efektif. kalah persaingan dengan private own corporation yang sudah merajai output berbagai produk dan jasa.

and... comparative advantage is pure gold. tanpa itu gak ada yang akan dagang. emoticon-Ngakak

Quote:


bukan puh.
itu kalo definisi kapitalisme adalah keserakahan. tapi kapitalisme kan kuat-kuatan modal dalam pasaran bebas. lain dengan merkantilisme yg cuma kuat-kuatan kas (yaitu emas), pasar monopolistik, dan hegemoni. tidak ada istilahnya pemilik modal, tapi pemilik kas. dalam merkantilisme, kekayaan dan kemakmuran kerajaan diukur dari besaran emas yg masuk ke kas raja, dan raja adalah pemilik emas terbesar. dalam merkantilisme masih berlaku soal untung-rugi seperti dijelaskan mod khie. lebih tepatnya, surplus neraca perdagangan lebih utama. di masa itu, belum ada istilah equilibrium/kesetimbangan pasar. neraca perdagangan yang surplus terus, ditambah memproteksi negara kerajaan dari impor barang, berarti pemasukan emas lebih banyak. dampaknya, ekspor barang yang tinggi tanpa impor sedikitpun menyebabkan harga barang ekspor di dalam negeri naik, sementara kuantitas barang ekspor menurun. akibatnya, barang dalam negeri mengalami kelangkaan. rakyat menjerit karena untuk memenuhi kebutuhan sangat sulit sementara emas dikuasai raja. inflasi besar tak dapat dihindari. merkantilisme dikritik habis-habisan sama David Hume, dan menjadi dasar Adam Smith dan David Ricardo untuk mengembangkan teori equilibrium pasar dan comparative advantage (mazhab klasik), bahwa perdagangan harus seimbang antara surplus dan defisit, dan negara tidak boleh menjadi invisible hand dalam perdagangan. karakteristik mazhab klasik adalah azas laissez faire, laissez passer, biarkan itu terjadi, biarkan itu berjalan. dampak lain, tentu puh sudah tahu. berkembangnya ide nasionalisme di Eropa dan borjuasi juga merupakan salah satu efek samping merkantilisme. inilah yang mendorong kapitalisme berkembang pesat di abad 18 M.

Quote:


setuju puh. tapi harus diingat juga bahwa sebenarnya sekarang dunia tidak terlalu kapitalistik. ketika kaum konservatif masih dengan kolotnya menyuarakan kapitalisme itu benih-benih Iblis yang harus dibasmi, justru dunia saat ini tidak seperti abad 18. setidaknya, akibat depresiasi besar tahun 1930 di AS, pemikiran ekonomi telah mengembangkan sistem baru yang tetap memberi ruang bagi negara untuk mengintervensi melalui paket stimulus atau lelang obligasi. kapitalisme semakin ke sini justru semakin mengendur. lantas apa yang mereka ingin basmi? emoticon-Leh Uga

Quote:


bener mod. pandangan ini justru merugikan dan sudah disadari sebelum para bigot dengan standar janda mereka yang membenci kapitalisme dengan ingin ke model ekonomi yang lebih primitif.
Diubah oleh tyrodinthor
Mantap terima kasih penjelasan para suhu
Semua jenis usaha pastilah mengejar profit

Yg ga boleh kan mengbolehkan segala cara emoticon-Angkat Beer

Pada Islam pun sebagian besar rejeki itu dari berdagang, kalo menurut KBBI yg agas diatas bilang
Begitu kita berdagang otomatis kita dapet gelar kapitalis, masalahnya masyarakat ini sudah alergi istilah ini.
"Wah ga bener"
"Mau untung terus"

Wth
Quote:


Yg pegang modal besar pasti lebih punya peluang meraih lebih banyak untung termasuk cara2 predator bakar uang utk mengambil pangsa kompetitor emoticon-Big Grin
Yg dihindarkan adalah monopoli,oligopoli, dan pasar terbatas
Diubah oleh mamorukun
Quote:


Yes, tapi bisa dibatasi make UU yg ada
Balik lagi masalahnya, maling selalu lebih pinter dari polisinya.
Pengusaha yg kejar profit only bakal lobby sana sini yg bikin undang2 dengan harga yg besar ke dompet pejabat tadi.

Izin usaha kan garis depan pejabat setempat.
Untung diwajibkan CSR emoticon-Angkat Beer
Quote:


sekarang mazhab yang umum diadopsi untuk level makro masih neo-keynesian toh? sekarang tampaknya masih ke arah keterlibatan negara secara terbatas.

yang diributkan anti-kapitalis sekarang memang moda ekonomi kapitalis klasik, dimana negara tidak ikut campur sama sekali dan semua aspek produksi dan perdagangan diserahkan ke pasar, dan sistem ini memang berdampak buruk kepada kelas pekerja yang bukan pemilik modal karena daya tawaranya menjadi sangat rendah sebagai akibat dikuasainya modal oleh pengusaha besar, dan pengusaha tidak punya insentif untuk memberikan jaminan hidup layak bagi pekerja karena tidak adanya penalti atau hukuman atas praktek eksploitatif ke pekerja, pengusaha juga kemudian mendapat insentif untuk melakukan praktik predatory ke pasar dalam rangka menguasai pangsa pasar yang akhirnya merugikan konsumen dan ekonomi secara keseluruhan.

tapi sekarang dengan regulasi dan campur tangan negara, hal hal seperti itu dapat dimitigasi atau dihindari, sehingga wacana "basmi kapitalisme" sudah tidak lagi relevan. yang penting sekarang adalah mencari titik imbang antara regulasi pemerintah dan kebebasan pasar untuk menjamin regulasi tersebut tidak mengekang pertumbuhan ekonomi sambil mengurangi resiko terjadinya efek buruk kapitalisme seperti sebelumnya.
Quote:


betul. memang sudah jauh dari pertama kali ada. intervensi negara sudah jauh lebih banyak sehingga kapitalisme tanpa batas sudah tidak lagi ada.

apalagi sekarang ramai-ramai mengadopsi health-care, dsb-nya yang mana sebetulnya kompatible saja, karena tokh tidak ada salahnya jalan barengan dengan kapitalis.


Quote:


terbatas dalam artinya yang dianggap perlu ya segitu. ke arah depan kemungkinan akan semakin nambah karena pasar nyatanya terlalu volatile dan aksi kecurangan masih relatif besar risikonya. melihat dari krisis kemarin, pengawasan yang ada, dll nya masih lemah, serta rawan KKN juga.

ah yang diributkan anti kapitalis ya semua yang berbau kapitalis. yang meributkan juga gak tau apa itu kapitalis, mereka taunya kapitalis itu = jahat = us = anti agama/ money sebagai god. emoticon-Ngakak

ane belum pernah nemu anti-kapitalis yang bermaksud kapitalis murni.

regulasi memang sangat butuh dan harus berkembang terutama pengawasan. karena kecurangannya banyak apabila pengawasannya kalah canggih.
Izin meninggalkan jejak ya.. ane senang ada diskusi sehat, bertukar pendapat seperti ini emoticon-Smilie
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di