alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Hobby / Hobby & Community /
Sudah Kebiasaan Menghindari Uang Receh
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cab656baf7e93071a2e2e2f/sudah-kebiasaan-menghindari-uang-receh

Sudah Kebiasaan Menghindari Uang Receh

Sebenarnya topik artikel ini sudah pernah saya tulis dua kali dari berbagai media, namun kali ini, sepertinya, pemikiran tersebut harus saya simpan di blog ini agar tidak menguap pemikirannya, karena pun tulisan sebelumnya sudah saya hapus-hapusin. Okay, jadi kalian bisa lihat di judul yaitu temanya tentang uang receh. Sebenarnya, yang saya maksud uang receh disini ialah uang logam, uang perak alias uang koin. Nah, sebenarnya intinya sih ialah pandangan saya tentang uang koin itu merugikan diri kita, khususnya saya sih. Kenapa? karena uang koin itu ketika kita sudah dapat, dan ketika kita ingin membelanjakannya lagi atau menggunakannya lagi, butuh proses yang cukup menyita waktu dan perasaan. Kok bisa? dibawah nanti kalian bisa baca.

Merubah Kebiasaanku dalam Bertransaksi Tunai

Sekarang, saya sangat menolak ketika bertransaksi dimanapun menggunakan uang tunai. Khususnya di pasar swalayan dan juga mall. Hampir semua transaksi saya di toko-toko modern kini, saya gunakan debit card. Hampir tidak pernah saya menggunakan uang tunai. Jikalaupun ada, pastinya saya akan memilih harga yang saya bayar tersebut ialah bulat, tidak ada koin-koin recehan untuk kembaliannya.

Untuk penjual-penjual kaki lima atau kantin-kantin kecil, saya tidak bermasalah untuk menggunakan uang tunai, kenapa? karena mereka memang selalu mengetok harga barang/jasa mereka ialah bulat nominalnya, dan mereka pun pastinya tidak memiliki metode debit. (jikalaupun ada, saya tetap menggunakan debit hehehe). Jarang seperti yang ada di Alfarmart atau Indomaret, berbagai barangnya memiliki nominal receh dan sangat menggangu, untuk saya sih.

Uang Koin Bukan Lagi Prioritas Utama

Menurut pandangan saya, uang koin yang saya dapatkan dari kembalian-kembalian, khususnya nominal 100, 200, 500 dan bahkan 1.000, bukan lagi masuk kedalam kategori kas utama saya. Maksudnya ialah uang-uang koin tersebut bukan lagi uang utama saya untuk melakukan transaksi. Uang koin tersebut menurut saya menjadi uang sampingan yang bisa laku dan bisa tidak.

Uang koin yang saya dapatkan, bukan lagi sebagai uang kas utama saya dalam bertransaksi. Kenapa? karena menurut saya uang koin yang saya dapatkan dan kumpulkan, tidak semudah itu saya dapat pakai lagi. Pastinya, saya harus mengumpulkan dalam waktu yang cukup lama, dan juga merapihkan uang-uang tersebut agar dapat ditransaksikan. Bagaimana merapihkannya? ya seperti yang kita tahu, kita selotip 200 perak menjadi 2.000, seperti itulah contohnya.

Nah, uang-uang koin ini, butuh usaha kita yang lebih, agar uang koin ini dapat terpakai seperti uang-uang kertas kita pada umumnya. Kita harus memiliki waktu yang lebih banyak hanya untuk mengurus uang koin, kita harus menahan malu ketika menukarkan uang-uang koin ke toko-toko yang menerima dan juga butuh waktu yang cukup lama sehingga uang-uang koin tersebut dapat kita kelompokan dan rapihkan. Jikalau cuma sampai 2000 atau 5000, pastinya kita akan terlalu malas untuk menukarkan. Biasanya sih, dulu saya merapihkan hingga mencapai 200.000 atau 350.000. Itupun butuh satu setengah tahun untuk mengumpulkan dan ya, uang-uang koin tersebut seperti tidak saya anggap lagi. Kenapa? ya karena proses dan nilai prioritas dari uang koin tersebut.

Uang koin yang saya dapatkan, bukan lagi prioritas utama untuk bertransaksi. Itu menjadi prioritas sampingan dan menjadi uang menganggur yang cukup menyita waktu disaat saya ingin membereskannya.

Uang Koin Membuat Harga Barang Menjadi Lebih Mahal

Dari pandangan saya di atas tentang nilai prioritas uang koin, akhirnya membuat harga-harga barang yang saya beli menjadi lebih mahal. Kenapa? begini contohnya:

Suatu ketika, saya ingin membeli suatu barang seharga 2.800. Pastinya ketika saya membayar, saya tidak akan membayar barang tersebut dengan uang pas. Pastinya saya akan membayar barang tersebut dengan uang bulat yaitu 4.000 atau 5.000. Dan hasilnya ialah saya mendapatkan kembalian ssenilai 1.200 atau 2.200. Nah, 200 ini, secara tidak sadar, pastinya akan saya tinggalkan, saya anggurkan atau bahkan menjadi uang 'donasi' yang sering kali ditawarkan.

Pokoknya uang 200 perak tersebut sudah saya tidak anggap deh. Saya pakai lagipun juga tidak akan berguna, harus saya kumpulkan lagi dengan waktu yang cukup lama. Nah disini saya bisa merasakan bahwa saya telah membeli barang tersebut seharga 3.000. Lebih mahal 200 perak kan?

"Ah cuma 200 ratus perak."

Nah, bagi saya, uang 200 perak tetaplah penting, karena jika saya kumpulkan, uang tersebut dapat saya gunakan untuk menutupi berbagai biaya lain. Seperti:

[ul]
[li]Biaya transaksi Gojek 1.000[/li]
[li]Biaya administrasi Bank 15.000[/li]
[li]Biaya isi pula di Tokopedia ataupun di Gojek seharga 200 - 2.500.[/li]
[li]Biaya PPN setiap belanja kecil-kecilan di toko makanan dll.[/li]
[/ul]

Pokoknya, kalau saya kumpulkan, tetap uang tersebut dapat menutupi biaya keseharian saya. Namun sayang, uang koin tersebut datang secara fisik dan membuat uang tersebut tidak berharga lagi.

Intinya, secara otomatis, barang yang saya beli menjadi lebih mahal, dan meskipun mereka memang memberikan saya uang kembalian pun, uang koin tersebut tidak dapat saya pakai lagi dengan tingkat nilai prioritas utama seperti uang-uang kertas 2.000 sampai 100.000. Padahal, uang koin tersebut tetaplah saya butuhkan.

"Lah, kan intinya seluruh uangnya kamu ambil dan kamu tetap ngak rugi dong?"

Memang sih, saya ngak rugi, semua kembaliannya saya tetap ambil, tetapi, perputaran uang saya menjadi terhambat. Uang-uang yang seharusnya bisa diputarkan untuk menutupi setiap biaya-biaya keseharian saya, kini berpindah statusnya menjadi uang yang nganggur yang membuat saya terpaksa menutupi biaya keseharian saya dengan uang kas utama. Saya anggap, saya tetaplah tekor, bukan dari segi untung rugi, tetapi dari segi efesiensi keuangan.

Menurut saya, efisiensi keuangan ialah ketika kita dapat mengatur segala uang kita agar dapat bernilai dan berputar secara maksimal dalam memenuhi setiap kebutuhan keseharian kita.

Transaksi Debit Ialah Solusi Terbaik

Nah, untungnya, saya menggunakan kartu debit untuk berbelanja barang yang memiliki nominal recehan. Saya pakai kartu debit setiap kalinya. Untuk apa? supaya recehan tersebut tetaplah utuh didalam rekening bank saya. Sehingga recehan tersebut tetap bernilai dan terprioritaskan. Tidak perlu mengumpulkan fisik lagi ataupun menyita waktu untuk mengurusi koin per koin. Semuanya terpotong secara bersih dan modern. Semuanya tersisihkan dan tersimpan dengan baik.

Tetapi, jikalau kalian yang membaca ini ingin mengikuti cara saya, selalu waspada ketika: kalian sedang memasukan nomor pin, kalian tutuplah tangan kalian terlebih dahulu. Dan, ingat, jangan sampai kartu debit kalian tertinggal, selalu ingat tersebut kartu debit kalian. Meskipun hilang dan rekeningmu di kunci, tetap repot kan untuk mengubah kembali dan membuat baru. Jadi tetaplah waspada.

Akhir kata:

Kebiasaan ini sudah terbiasa saya lakukan, dan memang, saya merasakan bahwa uang saya semakin terjaga dan tidak terlalu boros. Semua nominal recehan tersimpan dengan baik dan dapat terpakai secara maksimal. Saya pun juga semakin jarang menggunakan uang tunai secara boros. Uang tunai pun saya gunakan untuk kepentingan-kepentingan yang memang penting seperti makan, beli obat di apotik kecil dan pokoknya hanya untuk yang penting. Jadi, kebiasaan ini pun bukan hanya menyelamatkan uang recehan tersebut, melainkan membuat saya terbiasa untuk menggunakan uang secara efisien.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di