alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5caa20ba9a972e5f35298a3b/retread

Egality(ReTread)

Warning ! : Saya jadikan satu Treadmya karena saya baru tahu kalau mau lanjut tinggal di reply. Dan untuk cerita sebelumnya sama sekali gak bisa di apa-apain. Kayak kekunci gitu. Maklumlah newbie. Gaptek tingkat atas. emoticon-Cape deeehh


Quote:



emoticon-Cape deeehh

emoticon-I Love Kaskus






Bagian I
Mayat di Tengah Keramaian




Quote:




Hari Selasa dengan tanggal dan tahun yang tidak perlu dipikirkan, ditemukan sebuah mayat di taman kota. Kejadian itu baru disadari setelah selesai dilepaskannya ratusan balon warna warni ditengah kota, awalnya orang-orang berpikir ia tertidur tapi saat dilihat lebih jelas. semua orang terkejut dan keheranan, bagaimana bisa dalam keadaan ramai itu si pembunuh bisa membunuh seorang pemuda tampan yang sayanganya seorang bujangan sejak lahir itu? Sudah jomblo mati pula, belum pernah dapat ciuman hangat seorang wanita. Kasihan. Tapi jangan pikirkan itu! Pikirkan bagaimana caranya dia mati? Dia ditusuk dari belakang. Sejak itu aku yakin kalau pembunuhnya adalah teman dekatnya yang sudah sangat benci dengannya tapi dia hanya berani mengumbar kebenciannya dari belakang, itu yang membuat ia menusuk temannya itu dari belakang.

Kenapa aku bisa membuat kesimpulan seperti itu? Karena aku menggunakan sistem penyelikikan yang aku beri nama imajinator scenary. Aku hanya perlu melihat dan mengetahui apa yang terjadi kemudian memikirkan semua segmen dan tahap-tahap kejadian itu hanya dengan menghayalkannya saja. Bingung dari mana aku dapat informasi? Tentu aku mendapatkannya dari rekan kerjaku, Andika. Dia ibarat seorang penulis buku yang bukunya akan segera difilmkan, akulah yang harus membuat naskah untuk film itu. Jadi aku harus membaca informasi yang diibaratkan sebagai buku supaya skenario yang kubuat tidak melenceng dari apa yang terjadi pada buku itu.

"Ega, ini sudah kasus ke 10, jika kali ini gagal aku tidak bisa melanjutkan." Kata Andika rekanku.

"Ayolah rekan, kita harus berusaha lebih keras untuk memecahkan kasus ini." Kataku memberinya semangat.

"Aku sudah berusaha memberimu informasi akurat. Tapi kau hanya menggunakan informasi itu untuk kau hayalkan."

"Tapi itu sudah fakta. Temannya yang bernama Riko itu pasti pembunuhnya."

"Tidak, Riko ada di tempat kerja pada hari itu."

"Tapi kau tidak melihat jadwal kerjanya bukan?"

"Apa, jangan-jangan."

"Menurut jadwal. Hari selasa itu ia masuk pagi pukul 8 pagi dan mendapatkan jam istirahat pada pukul 1 siang. Itu membuat sebuah keanehan."

"Keanehan apa?"

"Iya, normalnya seorang yang bekerja direstoran swasta rata-rata hanya mendapat jatah makan siang yang sekaligus menjadi jam istirahat mereka. Kemudian dia tiba-tiba mengalami sakit perut. Saat kesempatan itulah, jarak tempat ia bekerja dengan taman kota tidak terlalu jauh."

"Tapi rekan kerjanya mengatakan dia sudah seperti itu selama hampir 1 minggu."

"Tepat disaat hubungan antara Riko dan si korban itu renggang. Kau tahu kalau Riko juga masih Jomblo?"

"Tidak."

"Harusnya kau tanyakan. Baiklah, kemudian disaat itu ia membawa pisau kecil lalu tepat menusuk bagian titik dimana korban tidak bisa mengeluarkan suara. Aku tidak tahu apa itu."

"Kemudia ia kembali bekerja dengan senyuman bahagianya yang ia sebar ke tamu-tamu yang makan di restorannya? Begitu!"

"Tidak juga. Saat itu ia terhenti ketika ada sebuah ratusan balon yang diterbangkan kemudian kembali seperti yang kau katakan tadi."

Saat itu juga aku langsung diseret ke kantor polisi oleh Andika. Aku dipaksa menjelaskan kembali apa yang baru saja aku ceritakan. Agak merepotkan harus mengulang sesuatu yang baru saja dilakukan. Akan tetapi setelah aku ceritakan secara rinci mereka langsung percaya. Tak lama kemudian pasukan polisis dikerahkan. Puluhan polisi pun langsung mengepung Riko dan langsung membawanya ke kantor polisi. Ia langsung diintrogasi di ruang khusus dengan aku dan Andika disebelah polisi yang mengintrogasinya.

"Apa benar Anda teman korban?" Tanya Pak polisi.

"Benar." Jawab Riko dengan ekspresi wajah yang terlihat terpaksa.

"Apa benar Anda membunuh korban?"

"Tidak."

"Kalau begitu, dimana Anda saat kejadian?"

"Di tempat saja bekerja."

"Di mana? Apakah ditaman kota atau di Amerika?" Tanyaku mencela si polisi yang hendak menyodorkan pertanyaan.

"Ya di Taman Kota lah! Muke gile gue mau bunuh dia ke Amerika. Lagian dia cuma modal tampan doang! Jijik gue lama-lama sama dia. Masak gue udah susah payah deketin gebetan gue dia malah dengan gampangnya langsung nembak gebetan gue! Asal kalian tahu, minggu lalu, adalah minggu dimana gue mau nembak si doi, tapi apa? Gue ditikung! Mending dia gue bunuh supaya gak jadi beban untuk orang lain!" Kata Riko ngegas.

"Terbukti kan pak." Kataku.

"Astaga dragon! Ngapain gue keceplosan."

"Anda dinyatakan bersalah! Dan untuk saudara Ega dan Saudara Andika. Terima kasih atas bantuan dan ide yang out of the box dari kalian."

"Itu hanya sebagian kecil dari rencana Tuhan pak."

"Jadi itu rencana besar kalian?" Tanya Pak Polisi.

"Ya ampun pak, kalau ini aja rencana Tuhan yang kecil buat, gimana rencana kita? Ya maksudnya ini tidak akan bisa kita perbuat jika Tuhan tidak ada disisi kita." Jawabku.

"Ya habisnya kamu bilang rencana kecil dari Tuhan."

"Ahh malas ngomong sama bapak, rasis."

Ya, begitulah pada akhirnya Riko dinyatakan bersalah dan dihukum sesuai undang-undang. Meski ini menjadi sebuah awal keberhasilan kami. Andika harus pergi ke Jepang untuk meneruskan impiannya sebagai bintang porno.... ehhh maksudnya lanjut kuliah disana. Jurusannya sih aku tidak begitu tahu. Tapi aku harap bukan jurus ninja. Kehidupanku dimulai dari awal kembali, sendiri tanpa ada yang menemani. Akan tetapi dari sinilah semuanya berawal, dimana ada sebuah rencana besar, pasti terdapat masalah yang besar juga. Itulah satu hal yang aku yakini meski aku tidak tahu sama sekali bagaimana cara mengartikannya.




satu hal penting yang manjadi sebuah pertanyan.

1. Siapakah nama korban?
2. Kenapa Ega bisa tahu jadwal kerja Riko?
3. Kasus ini sukses, tapi kenapa Andika tetap pergi?

Jawaban itu, gunakan imajinasi kalian untuk menjawabnya.
Diubah oleh egalucu
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Bagian II 
Teka-Teki




Bulan Mei, waktu dimana semua yang sedang sibuk mengejar pendidikan melepas penat dengan liburan selama 1 bulan. Tidak denganku yang sudah lulus. Aku mendapatkan surat dari Jepang yang dikirim oleh Andika.

Quote:


Aku mulai berpikir tentang teman..........

Quote:



Itu baru sebagian kecil dari teman-teman yang aku ingat. Mungkin karena terakhir kali aku bertemu mereka sudah lama sekali. Kira-kira, apa yang terjadi ya? Aku berniat menyelidiki ini. Aku memiliki firasat bahwa Adi dan Ulan menikah tanpa mengundangku. Ini benar-benar biadab dan sangat sadis. Memangnya sebanyak apa aku bisa menghabiskan makanan di hari pernikahannya? Aku memiliki niat untuk mengundang mereka untuk datang ke sebuah vila pribadi milik teman lama yang sangat jarang aku temui, lebih tepatnya tidak pernah.

Aku pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi vila itu, entah kenapa dia baik sekali denganku dan mau menjamuku selayaknya tamu yang sangat dihormati.

"Sudah lama kau tidak datang kemari Ega." Kata temannku bernama Yuga.

"Iya, itu karena aku tidak pernah kemari." Jawabku.

"Benar juga. Lalu angin apa yang membawamu kemari?"

"Aku ingin meminjam vilamu untuk acaraku bersama teman-temanku."

"Teman? Kau punya teman selain si Informanmu itu?"

"Andika."

"Ya, Andika. Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal semacam ini."

"Yaaaaaa... aku hanya ingin tahu kabar temanku itu saja."

"Baiklah, jika memang begitu. Kau sebutkan tanggalnya, kapan saja. Kau panggil aku maka vila itu menjadi milikmu. Tapi tidak untuk selamanya."

"Wow, ini terlalu berlebihan. Apa tidak terlalu berat, permintaanku ini?"

"Tenang saja. Aku tidak memberikanmu dengan percuma." 

"Berapa yang kau inginkan?"

"Aku tidak butuh uangmu, tapi kerja sama. Aku membutuhkan seorang detektif unik sepertimu. Kau akan aku sewa. Dan, selamat tinggal pekerjaan membosankan. Kau akan menjalani penyelidikan kelas atas."

"Berikan aku waktu berpikir."

"Jika kau tidak mau tidak masalah, kau masih bisa memiliki vila itu gratis tanpa syarat."

"Apa kau yakin tidak mau apa-apa dariku. Maksudku tidak untuk permintaan yang pertama."

"Aku tahu kau belum siap untuk keluar dari zona nyamanmu. Akan tetapi, suatu saat kau akan bangun dari kursi kerjamudan kau akan melakukan hal yang sangat mengejutkan."

"Baiklah. Terima kasih, aku akan berdiskusi dengan teman-temanku, kapan mereka bisa, jika sudah. Aku akan mengabarimu. Sebelumnya terima kasih.

"Tidak, Jangan ucapkan terima kasih sebelum kau bertemu dengan teman-temanmu untuk bersenang-senang."


Saat itu aku menghubungi teman-temanku untuk datang ke vila milik Yuga. Mereka semua sepakat dan mau ikut akan tetapi dengan waktu yang tidak bersamaan. Ada yang datang pagi, ada yang siang, bahkan ada yang malam. Kutunggu dari pagi sampai menjelang siang, teman-temanku belum ada yang kunjung datang. Akhirnya aku memilih untuk tidur karena pikirku mungkin mereka akan tiba sorenya. Aku terbangun pukul 19:01 saat aku mengecek ponsel banyak sekali pesan yang masuk yang menyatakan kalau mereka semua batal datang karena ada urusan mendadak dengan pekerjaan mereka. 

Aku pergi dari vila itu dengan perasaan yang agak kecewa dan memilih untuk pulang kerumah. Setibanya dirumah aku mendapati sebuah surat yang berisikan sebuah undangan untuk reuni di almamaterku dulu. Murungku seketika berhenti menjadi riang dan tak sabar menunggu hari esok.

Quote:Siapa sangka kehidupan akan menjadi seperti ini. Ternyata sangat sulit untuk menjadi orang yang tidak mau membuka dirinya untuk orang lain. Orang yang seperti itu niasanya akan lebih banyak mendengar semua tangisan dari orang di dekatnya. Tapi jauh dalam dirinya, ia membutuhkan pertolongan batin.

19 Mei, pagi 06:09 diriku sangat lebih dari kata siap untuk menjalani hari ini. Banyak yang mengatakan cuaca hari ini tidak bersahabat tapi masa bodoh dengan cuaca, mereka memang tidak berniat untuk beteman dengan kita. Tepat pada pukul 07:01 aku sudah berada di gerbang sekolah dimana seorang penjaga sekolah bernama Pak Sekuriti sedang duduk santai samnil minum segelas kopi ditemani sebungkus gorengan.

"Wihhh, pagi-pagi udah datang Si Tuan Detektif."

"Kok tahu?" Tanyaku.

"Kan ada beritanya di TV. Seorang detektif muda berhasil mengungkap kasus pembunuhan hanya bermodal imajinasi."

"Imajinator Scenery atau Imajimator Scenario." 

"Iya, itu. Ehh ada pesan dari Pak Ricki, katanya kalau Ega dateng suruh ke ruang guru."

"Ohh, ok pak, itu gorengan kayaknya ada ote-ote sama godoh sela tuh."

"Ohh, mau? Nih, pilih yang mana." 

"Ote-ote aja. Suksma ya."

"Ok!"

Aku langsung ke ruang guru dan menemui Pak Ricki yang kebetulan pada saat itu hanya beliau seorang yang ada di sana.

"Selamat pagi Pak." Sapaku.

"Pagi, duduk dulu. Habisin gorenganmu cepat." Pinta Pak Ricki.

"Ada apa pak?"

"Ini, kmu lihat kedua foto itu." Pak Ricki menunjukan foto sebuah gudang tua di belakang sekolah, tempat menyimpan peralatan olahraga. Dan selang air di halaman sekolah.

"Gudang dan selang."

"Kmu gak nemu keganjilan?" 

"Berikan informasi akurat pak, kalo cuma seperti ini saya tidak bisa melakukan apa-apa."

"Pintar, seberannya foto ini gak ada hubungannya sama masalah ini. Tapi dua tempat itu yang ada hubungannya."

"Apa?"

"Pagi hari gudang olahraga lantainya selalu basah. Tapi anehnya siangnya itu kering, seharusnya siang itu gudangnya basah, soalnya pak Garden, tukang kebun sekolah kita nyiramnya siang sama sore. Dan paginya, selang itu berantakan."

"Simpel saja, Pak Garden menyiram di sore hari, itu ia lakukan sebelum anak voli dateng buat cuci boleh mereka di deket gudang pake selang taman. Jadinya basah. Bapak sendiri tahu kalau gudang itu gimana bawahanya, ditambah lembab dan gelap, air jadi sulit hilang terkecuali kena teriknya matahari siang."

Pak Ricki kagum, semua perntataan yang aku sodorkan benar semua. Tentu saja, mengingat aku sekolah disini selama 3 tahun. Jadi gerak-gerik sifat dan perilaku orang-orang yang ada di sekolah ini aku ketahui dengan jelas.

"Apa hanya itu yang Bapak mau tanya sampai-sampai manggil saya ke sini?"

"Ternyata benar, detektif itu kamu. Hebat."

"Terima kasih, tapi pak. Jujur dibefita itu adalah kasus pertama yanvg berhasil saya ungkap dari 10 kasus yang 9 diantaranya gagal."

"Yang penting, tidak ada kata menyerah. Lanjutkan ide gilamu itu."

"Kanapa Bapak mendukung saya sedangkan yang lain menertawakan saya?" 

"Itu akan menjado teka-teki yang harus kamu pecahkan. Sana ke Aula, teman-temanmu pasti udah ada di sana."

Aku pun berjalan menuju Aula melewati koridor pendek, ketika hendak membuka pintu Aula aku di sapa oleh seorang teman sekelasku bernama Dharma. 

"Woy Jomblo abadi, udah jadi detektif dia." Sapa si kampret Dharma.

"Woy, kang gantung, sukses pantinya?"

"Sukses dong! Sorry, kanh tikung udah finish. Sekarang aku udah ada cewek. Itu si Shiio, Shiio-chan."

"Iya, apa kabaru Ega." Sapa si Shiio.

"Kok dia kenal?" 

"Detekfif Fenomenaru, pasti akan terkenaru."

"Hai, Arigatugozaimbak."

"Lawak terus!"

"Dimana lho nemu dia?" 

"Di Jepang, panjang ceritanya yaudah. Ayo masuk, kita cari si Kampret lagi satu."

Kami pun masuk akan tetapi yang hadir hampi tidak memenuhi seisi Aula sekolah. Hanya 30 orang saja yang mengisi kursi.

"Sibuk sekali ya kayaknya." Kata Dharma.

"Apa informasinya gak jelas ya?" Kataku.

Aku duduk dan melihat teman-temanku yang waktu itu aku ajak ke Vila tapi mereka tampak sibuk dengan telepon mereka, ada yang mengetik menelpon bahkan ada yang sampai meninggalkan ruang Aula. 

Acara Reuni membosankan ini pun berakhir, Dharma juga tidak bisa lama-lama berada di sekolah karena harus kembali ke panti untuk menyambut seorang tamu. Aku pun pergi menjumpai satu orang yang masih belum pulang. Dia adalah Wowok yang masih berbicara lewat telepon bersama seseorang. Kelihatannya ia sangat cemas dan kesal.

Saat ia menutup pembicaraan aku langsung menepuk pundaknya dan menyapanya. 

"Woy! Yang udah jadi manager Hotel sibuk benar!"

"Eh Ega, apa kabar? Maaf ya aku gak bisa ikut ke Vila, parah sekali masalah di hotel soalnya."

"Masalah kenapa?"

"Barang-barang tamu banyak yang hilang, tapi gak tahu siapa pelakunya."

"Kasus baru. Apa boleh aku yang menangani kasus ini?"

"Yakin bisa?"

"Dengan Egality yang kumiliki pasti bisa."

"Egality?"

"Ega dan My Ability."

"Ok kalo emang kamu mau, kapan kamu siap?"

"Sekarang." 

Tanpa pikir panjang kasus baru langsung aku terobos. Masalah dan sebuah teka-teki baru menungguku di sebuah hotel mewah. Kira-kira, tanpa Andika apakah aku akan bisa?



Dalam cerita ini kembali muncul teka-teki.

1. Siapa sebenarnya Pak Ricki?
2. Si Kampret siapa yang di katakan Dharma?
3. Kenapa judul dari cerita bagian ini Teka-teki? Padahal kasus saja baru diterima Ega di bagian akhir cerita?

Lampaui imajinasimu, dan jawablah!!!!
nah iya gitu di gabungin jadi satu kan bagus. emoticon-Mad

iyalah di kunci,ada yang laporin trit kau bang karena berantakan emoticon-Ngakak (S)
ok bro trimakasih sudah dikasih tahu. ane bener" gak tahu
Bagian III
How My Assist You?




Quote:



20 Mei, aku pergi ke hotel yang di kelola oleh Wowok, temanku. Dia memiliki masalah dengan keamanan hotelnya. Banyak terjadinya kasus kehilangan barang tamu yang pencurinya masih belum diketemukan, aneh. Bagaimana bisa sebuah hotel bisa kesulitan menemukan seorang pencuri? Padahal orang yang masuk keluar kamar pasti akan telihat jika itu seorang karyawan. Tapi kenapa Wowok merasa kebingungan? 

Aku pun berbicara dua mata dengannya di ruang rapat khusus, aku meminta keberadaanku dirahasiakan dari seluruh staff dihotel. Aku juga meminta Wowok untuk tidak memberitahu hal ini kepada siapa pun meski dia adalah orang kepercayaannya. 

"Bagaimana keamanan disini? Apakah CCTV bekerja?" Tanyaku.

"CCTV kami mengalami kerusakan." Jawab Wowok.

"Sejak kapan?"

"1 minggu yang lalu."

"Kapan pencurian itu mulai terjadi."

"Malamnya." 

"Baik, sekarang, spesifikasi, barang apa saja yang dicuri?" 

"Hp, Laptop, sepatu, dan beberapa pakaian."

"Siapa orang pertama yang mengetahui kalau CCTV itu tidak berfungsi baik?"

"Monitoring CCTV"

"Lalu?"

"Para Security."

"Bukan, orang kedua yang tahu kalau CCTV tidak berfungsi adalah Engineering. Tapi itu bukan poin penting. Jika dalam sebuah permainan mencari harta karun, Housekeeping menjadi orang yang paling beruntung karena mereka memiliki akses ke berbagai tempat, jadi harta karun kemungkinan bisa mereka dapatkan. Akan tetapi dampaknya, mereka menjadi incaran atau bahkan menjadi target dan umpan untuk menemukan harta itu. Kau mengerti?"

Wowok menggelengkan kepalanya tanda tak paham.

"Housekeeping memiliki akses masuk ke kamar lebih mudah dan lebih sering, kemungkinan besar salah satu dari mereka yang melakukannya." 

"Housekeeping!"

"Tugas Housekeeping memang sangat berat terlebih lagi harus memegang tanggung jawab yang sangat besar. Mereka juga pasti akan menjadi sorotan bila ada sesuatu terjadi dikamar tamu. Ya itu sudah kita alami sebagai Room boy bukan?"

"Iya, tidak terasa waktu sudah mengubah kita. Tapi, yang terpenting sekarang adalah kasus pencurian ini. Jika sampai besok pelakunya masih belum ditemukan maka polisi akan dikerahkan untuk penyelidikan. Ohh ada satu lagi. Pencuri itu selalu meninggalkan file si pemilik barang, seperti, Kartu sim card, memory, dan flashdisk."

"Kalau begitu kasus ini jadi lebih mudah. Aku ingin melihat jadwal kerja semua staff, sedang kan kau....."

Setelah Wowok memberikan jadwal kerja seluruh staff. Wowok pergi ke Aula dan mengumpulkan semua staffnya dan menyampaikan sesuatu kepada staffnya.

"Para staffku, kita tahu kalau perjuangan kita sangat besar untuk membuat hotel ini berjaya. Akan tetapi, karena kasus pencurian ini membuat Owner menjadi kebingungan. Begitu juga kita, kenapa bisa? Tanpa berbelit-belit. Owner kita memutuskan untuk menutup Hotel ini."

Seketika semua staff langsung panik dianatara puluhan staff terdengar sekali keluhan-keluahan dari mereka. 

"Gimana makan anak sama istri saya!!!"
"Ngangur lagi-nganggur lagi. Baru juga sehari kerja."
"Wadoooo kasian banget lu bro."
"Gue lebih parah! Belum juga mulai kerja udah mau tutup nih hotel.
"Mau cari dimana lagi ya tuhan.

Dari semua keluhan dan semua kebisingan itu. Salah seorang dari staff itu berteriak stop dengan sangat kencang sembari meneteskan air mata.

"Maaf Pak, saya sudah membuat hotel ini tercoreng. Maaf. Maaf. Maaf. Saya yang sudah mencuri barang-barang tamu pak." Kata seorang staff bernama Caye, kepercayaan semua karyawan.

Semua orang jadi bingung, kenapa dia sampai melakukan semua itu, padahal dialah yang paling dipercaya di seluruh hotel karena ketekunannya dalam bekerja.

"Kenapa Caye? Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Wowok.

"Saya, butuh uang untuk biaya kuliah adik saya pak. Karena itu saya mengambil barang tamu. Tapiiiii."

"Tapi kau sudah menuliskan permintaan maaf di dalam semua memory atau pun flashdisk yang kau tinggalkan bukan?"

"Siapa kau?" Tanya Caye.

"Ega. Aku dipanggil Wowok untuk menyelidiki kasus ini. Aku juga yang menyuruh Wowok menyampaikan berita palsu kalau hotel akan tutup. Itu untuk membuatmu mengaku."

"Ega, coba jelaskan semuanya." Pinta Wowok.

"Iya. Pencurian seminggu yang lalu, karena CCTV rusak, Si Caye ini jadi leluasa melakukannya. Ditambah dia adalah kepercayaan hotel jadi ia merasa aman untuk melakukan itu. Akan tetapi ia tidak berpikir sehat pada saat itu. Sebenarnya ini sederhana. Aku melihat-lihat jadwal kerja dari semuanya, dan yang paling menonjol dari semua itu adalah kau Caye. Kau saat itu bekerja full time. Jadi kau tidak mungkin dicurigai, bisa saja temanmu yang dapat shift malam gang dicurigai. Tapi kau adalah orang baik, aku tahu karena kau meninggalkan permintaan maaf kepada pemilik barang yang kau curi. Bertulis " I'am Sorry i need money for my Sisters Collage, i will bring back your item. But, First i give you your important file. The Bad Regard, Caye Gento. Kau adalah orang kepercayaan, kau selalu membantu semua staff. Sekarang, sudah saatnya kau yang mendapatkan bantuan. Apakah kalian semua mau memaafkan Caye."

Semua mengangguk dan sama-sama merangkul Caye, Caye pun menangis sedih bercampur bahagia karena teman-temannya masih percaya kepadanya. Saat itu, tepat saat malamnya Caye seorang diri mengembalikan barang curiannya dan meminta maaf secara langsung. Akan tetapi apa yang terjadi. Para Tamu pemilik barang itu malah memeluk Caye dan mendoakan semoga adik-adiknya bisa lulus dengan nilai tertinggi.

Dengan begitu tugasku selesai. 

"Ga, makasih ya, Top dah." Ungkap Wowok.

"Iya, kapan-kapan. Bisalah ngumpul lagi bareng CICAK."

"Ok. Pasti diusahakan."

"Hhhm."

"Nanti bayarannya langsung tak bawa ke rumah ya."

"Iya. OK!"




Quote:


Answer with your Imajinasion.

Best Regard.

Gung Ega.
Wadooo masih lagi 3 yang belum dipindah 😪
Bagian IV
Selingkuh.





Spoiler for Y-sika Veranda:

ReTread
@jcvrnd19


21 Mei aku kembali ke Hotel itu untuk melihat kondisi disana. Seperti yang kulihat, Hotel kembali hidup dengan keceriaan dan keamanan meski CCTV tak kunjung diperbaiki. 

Sebelumnya pasti kalian bingung siapa aku? Identitas yang kalian tahu dari aku adalah. Namaku Ega dan aku adalah seorang Detektif imajinatif. Dengan kemampuan yang kusebut Egality aku bisa menangani kasus dengan mudah. Akan tetapi aku lebih dari itu. Nama asliku A.A. Made Megantara. Aku selalu menaiki sebuah motor beat hitam yang jarang aku cuci dan kuberi nama motorku Sped. Akan tetapi dia agak suka ngambek karena jarangnya aku servis. Sisanya adalah rahasia yang tidak perlu kalian ketahui. 

Baik, kembali ke cerita. Sepulangnya dari Hotel itu, tepat di parkiran Hotel. Hidupku mulai diawasi oleh sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku mencoba mengabaikannya akan tetapi ia seolah-olah ingin dijadikan pusat perhatian. Aku terus mengabaikannya akan tetapi semakin lama ia semakin mendekat dan sampai sudah kewas-wasanku mencapai tingkat atas aku langsung memergoki wanita yang terus mengikutiku.

"Mencoba bersembunyi di tiang listrik tidak akan membuatmu seperti Setnov!" Teriakku ke wanita itu.

"Hehe. Maaf."

"Siapa? Dan kenapa kau mengikutiku?"

"Namaku Y-sika Veranda. Aku adalah penggemar beratmu. Kau benar-benar detektif paling nyata yang pernah aku temui."

"Tapi kau harus menjalani tes untuk bisa menjadi detektif hebat dimataku."

"Tidak penting."

"Begini. Coba bayangkan saat semua tubuhmu diborgol dan kau terkunci di sebuah lemari besi yang di dalamnya sangat gelap. Bagaimana caranya kau keluar?"

"Berhenti membayangkan."

"Ahhh. Kau benar-benar hebat! Bisa menjawab ridle yang detektif hebat sendiri pun tidak bisa menjawabnya."

Sial dia jadi kagum. Padahal aku menjawab asal. Aku pun memikirkan cara untuk membuatnya pergi tapi ia tetap tekun untuk ikut denganku.

"Kenapa kau mau ikut denganku?" Tanyaku.

"Aku siap menjadi informanmu selama rekanmu di jepang."

"Kau kenal Andika?"

"Tentu saja, dia adalah rekan paling setia yang pernah aku ketahui selama ini. Berapa kali kau jatuh ia tetap mau mendukungmu sampai pada akhirnya pendidikan harus memisahkan kalian."

"Baik-baik! tapi hanya sampai dia kembali!"

"Baiklah. Yes asiiik!"

"Tapi dia kembali tanggal 25."

"Tidak masalah. Ohh ya sekarang tugas kita apa?"

"Tidak ada kata kita. Sekarang aku lagi tidak memiliki kegiatan. Sekarang kau pulang saja."

"Tapiiiii. Aku gak punya tempat tinggal. Semua hotel deket sini udah penuh. Aku tinggal bareng kamu ya!"

"Apa! Gak!"

"Aku bayar sewa kamarnya dah. Aku juga setiap pagi bakal masakin sarapan buat kamu. Gimana?"

"Hhheeeh." Aku sampai menghela nafas meladeni omongannya

Entah kenapa aku tidak bisa menolak lagi. Kubiarkan saja dia ikut. Tapi sebelumnya aku laporan terlebih dahulu dan menyuruhnya melengkapi identitas atau apa pun yang diperlukan untuk keamanan. Malam itu aku merasa sangat lapar, tapi malas untuk keluar. Ketika aku pergi dan melihat meja makan. Ada banyak sekali makanan yang tersedia mulai dari sate, soto, sampai ayam. Tidak lupa nasi putih.

"Laper? Makan dulu gih." Kata wanita itu.

"Kamu masak sendiri?" Tanyaku.

"Aku beli, habis gak keburu. Ohh iya, panggil aku Veranda aja."

"Sumpah aku gak nanya harus manggil kamu siapa."

Selesai makan ada sesuatu yang lupa kutanya ke dia.

"Uang darimana?" Tanyaku.

"Pake uangku. Oh ya. Berapa bayar sewa kamar per bulan?" Tanya Veranda.

"Itu urusan belakang."

"Maksudnya?"

"Aku menghitung biaya sewa dengan besar atau kecilnya kau mengacau di rumah ini."

"Jadi, kalau aku tidak mengacau biaya sewanya bisa sampe 0 dong?"

"Bisa aja. Tapi aku tidak percaya, orang dari ibu kota bisa bersikap seperti itu."

"Apa sebegitu rendahnya pandanganmu sama orang-orang dari ibu kota?"

"Aku tidak suka ada orang yang memakai, memakan, meminjam sesuatu milik orang tanpa izin atau bertanya. Aku harap kau mengerti."

"Siap!"

Saat itu masih pukul 07 : 28. Aku masih duduk di teras bersama orang menyebalkan ini yang selalu mengikutiku

"Bisakah kau tidur seperti gadis biasa?"

"Tahu gak? Kalau terkadang seseorang bisa berbohong karena orang lain gak percaya dengan kejujuran orang itu?."

"Maksudnya kayak temanku?"

"Temanmu?"

"Gak usah dibahas. Nanti mereka denger." 

Tiba-tiba telepon ku berdering. Aku melihat ada panggilan masuk dari temanku yang waktu itu aku ajak ke vila tapi dia batal karena dia harus menggantikan temannya bekerja karena sakit.

"Halo!" 

"Halo ga, coba mata-matain temanmu tuh. Curiga aku dia selingkuh." Kata temanku Ulan yang langsung ngegas.

"Selingkuh!"

"Jek cepet selidikin dia!"

"Xiangjing!"

"Cepet!!!"

"Iya-iya!"

Langsung kututup telepon. 

"Tuh kan, Orangnya nelepon!" Kataku.

"Kok bisa gitu ya?" Veranda juga bingung.

"Mana aku tahu! Sekarang udah malam mau cari si kampret itu kemana coba?"

"Kamu punya teman lainkan? Minta tolong aja sama mereka."

"Ok. Coba aku suruh Dharma." 

Kucoba menelpon Dharma dan menyuruhnya untuk menanyakan lokasi Adi tanpa diketahui olehku. Dharma pun mengatakan kalau Adi sedang berada di Taman Kota sedang menunggu seseorang. Aku suruh dia untuk mengakhiri chat supaya tidak dicurigai. Setelah kumengetahui lokasinya aku langsung berangkat.

"Aku bisa minta tolong?" Tanyaku.

"Tolong apa?" Tanya Veranda.

"Kamu pergi ke rumah Ulan." Pintaku, kami pun bertukar nomor dan kuberikan Alamat rumah Ulan ke Veranda.

"Kamu yang akan memberitahu bagaimana kondisi terupdate tentang Adi."

"Ok, yesss tugas pertama!" 

Ia tampak kegirangan. Setelah itu kami langsung pergi, aku pergi dengan si Sped. Sedangkan Veranda....

"Terus aku pake apa kesananya?" Tanya Veranda.

"Iya pesen ojek online lah. Masak ia aku yang anter. Ingat ini pertama kalinya aku memberi orang lain kepercayaan jadi, jangan membuatku kecewa. Atau biaya sewa kamar akan naik 3 kali 10 lipat."

"Siap!"

Semua kejadian begitu cepat. Dua orang teman yang batal menghadiri undanganku bahkan tidak ada yang menyapaku di saat reuni kini meminta bantuanku. Sebenarnya apa yang ada di jalan pikiran orang-orang? Terlebih lagi gadis itu datang secara tiba-tiba. Apa ini pertanda sesuatu?



Spoiler for Counter Attack & Imajinasi yang hilang:


Bagian V : Counter Attack & Imajinasi yang menghilang.



Quote:
Ok Lanjut
Bagian V
Counter Attack & Imajinasi Yang Menghilang







Spoiler for Dilan (Adi & Ulan) :



21 Mei. 08:01 malam. Aku mengintai Adi yang sedang duduk diam dengan jari-jemarinya yang sibuk memainkan ponselnya. Aku langsung menelpon Veranda untuk memastikan kondisi disana.

"Bagaimana?" Tanyaku.

"Ini baru di depan rumahnya." Jawabnya.

"Kok baru sampe?"

"Emangnya nunggu ojek online itu cuma semenit? Lama tahu! Kayak nunggu kepastian."

"Kok malah curhat? Cepetan!"

"Iya-iya ini mau aku ketuk pintunya."

Veranda mengetuk pintu hati Ulan. Ehhh maksudnya pintu rumahnya. Ulan membuka pintu dengan tatapan layaknya calon mertua galak, ia melihat Veranda dari atas ke bawah baru ia bicara. 

"Siapa ya?" Dengan tatapan sinis Ulan bertanya.

"Aku rekan kerjanya Ega. Namaku Veranda.

"Ohhh, maaf aku kira siapa. Ayo masuk." Veranda di persilahkan masuk setelah mengetahui Veranda itu siapa. "Berapa lama kerja sama Ega? Apa kamu gak puyeng sama tingkahnya?"

"Aku baru aja mulai kerja. Seneng banget bisa ikut jadi detektif." 

"Kayaknya kamu cocok deh sama Ega."

"Ya, kayaknya kita bakal jadi rekan yang baik."

"Iya. Karena berhubung kamu yang kesini aku mau kasih tahu sesuatu sama kamu..."

"Kasih tahu apa?"

Aku melihat ada seorang wanita datang membawa sebuah paket. 

"Maaf ya Kakak, aku telat. Tadi habis anter penumpang." Kata Wanita itu.

"Iya, gak apa. Gimana, barangnya aman kan?" Tanya Adi.

"Aman kok kak. Nih."

"Ok, ini uangnya makasih ya."

"Iya. Jangan lupa bintang limanya ya."

"Iya....."

"Kayaknya itu ojek yang tadi nganter Veranda." Kataku.

Ternyata selingkuh ini hanya sebuah salah paham. Aku harus segera menghubungi Veranda akan tetapi ia sudah meneleponku terlebih dahulu. 

"Ega, cepetan!" Kata Veranda panik.

"Cepet kenapa? Ini aku udah cari tahu. Ternyata ini cuma salah paham. Adi cuma nunggu pesanannya datang. Nah kebetulan yang ngater itu cewek jadi itu cuma salah paham." Jawabku.

"Dia gak percaya. Dia mau penjelasan langsung dari Adi. Kalo dalam waktu 15 menit dia gak kesini dan jelasin. Ulan mau bunuh diri." 

"Ahhhh! Aduhh isi bunuh diri lagi.... kamu halau dia kamu. Kam...... kamuuuii arrrrgr kenapa aku gak bisa berpikir!!"

"Halo, Ega. Kamu panik ya? Ega, Ega, Ega...."

"Diaaaaaam." 

Aku langsung mematikan telepon dan langsung mengejar Adi.


"Woyyy!!! Kampret!" Teriakku.

Adi pun menoleh. "Ega? Ngapain?"

"Itu si Ulan mau bunuh diri. Kalau dalam waktu 15 menit kamu gak ke sana jelasin semuanya."

"Waduuh. Kok jadi ribet ya?"

"Mendingan kesana aja! Ayo cepet."

Adi dengan kecepatan penuh melaju dengan motornya menuju kediaman Ulan. Sesampainya disana. Adi dikejutkan karena rumah Ulan sangat gelap. Ia langsung masuk dari pintu depan. Saat ia membuka pintu. Sebuah pintu lainnya terbuka datang seorang perempuan membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menyala menerangi gelapnya ruang itu.

"SUT sayang." Sahut Ulan perlahan.

"Aduuuh. Aku hampir mati tahu." Jawab Adi dengan perasaan malu-malu kucing.

"Kan yang mau bunuh diri itu aku. Ayo cepet tiup lilinnya jek!" Ulan pun ngegas. 

Saat lilin di tiup lampu pun menyala teman-temannya langsung datang dengan menyodorkan Ponsel mereka yang siap merekam ekspresi Adi yang terkejut karena diberi kejutan hadiah ulang tahun.

"Selamat Ulang Tahun Adi...." ucap serempak ketiga temannya. Wowok, Depina, Dayu.

"Yey berhasil!!! Happy Birthday!!!!" Seru Veranda.

"Dia siapa?" Tanya Adi.

"Rekan kerjanya Ega. Ehh, Ega mana?" Tanya Ulan.

"Gak Tahu, dia panik tadi. Mending coba hubungi dia." Pinta Adi ke Veranda.

"Iya, coba aku cari langsung aja."

"Iya. Makasih ya Ve." Ucap Ulan.

"Sama-sama."

Veranda langsung pergi untuk menjemputku, tapi sebelumnya ia menghubungiku. Aku bilang kalau aku sudah ada di rumah. Ia langsung segera pulang. Wajahnya tampak senang dan bahagia. Entah apa yang ia lakukan disana aku tidak tahu. Otakku sedang merasa aneh, tapi karena dia tampak senang, itu. Berarti Ulan baik-baik saja.

"Berhasil! Pesta kejutan ulang tahun Adi sukses!" Seru Veranda.

"Apa? Pesta kejutan? Kok mereka gak kasik tahu." 

"Begini skenarionya. Waktu kamu ditelepon untuk mata-matain Ulan, pikirnya kamu yang akan datang sendiri ke rumah Ulan. Tapi karena aku yang datang mereka jadi sedikit ngerubah rencananya. Dengan sedikit bantuanku aku nelepon kamu dan membuat Ulan seolah-oleh memutus kontak sama semua orang dan berniat untuk bunuh diri. Harusnya Adi yang panik, bukan kamu."

"Ulang Tahun ya. Aku bahkan lupa kalau hari ini temanku Ulang Tahun. Baiklah, kerja bagus. Aku mau tidur, ini hari yang sangat melelahkan bagimu."

"Apa aku mengacau?" 

"Tidak juga."

"Tapi kamu kayaknya gak senang."

"Entahlah. Aku lagi pusing, semua imajinasiku hilang. Kalau besok ada kasus. Aku minta kamu aja yang urus dulu."


Hari yang sangat melelahkan dan benar-benar tidak terduga. Semua yang terjadi tidak masuk akal imajinasiku. Egality ku benar-benar tidak berguna pada saat ini. Aku rasa permainan detektif ini akan berakhir. 

Seperti ada yang melakukan serangan balik dengan mengubah skenario kejadian disaat adegam klimaks. Tapi yang paling aneh, kenapa disaat seperti itu imajinasiku bisa menghilang.



Spoiler for Jejak Masa Depan:






Quote:
Akhirnya bisa mulai Bagian VI. ditunggu ya.



adoooh gara-gara buat Tread asal-asalan ditambah cerita yang gak jelas ini. gak ada yang baca sudah. 😰😰😰😰😰😰
Bagian VI
Jejak Masa Depan.




22 Mei, pukul 07:01 pagi. Aku terbangun dari kemalasanku menuju meja makan dimana semua sarapan berupa roti bakar sudah siap sedia dengan secangkir susu vanila hangat. Ia menungguku bangun sembari duduk dan memainkan ponselnya.

"Selamat pagi." Salam hangat Veranda.

"Roti. Emangnya aku bule." Kataku.

"Nanti lagi jam 10 kan makannya beda. Oh ya. Gak ada kasus lagi?"

"Mudah-mudahan gak ada."

"Kok gitu?"

"Terkadang pahlawan juga ingin sehari tanpa masalah untuk mereka menghabiskan waktu bersantai."

"Tapi masalah itu sepertiiiiii...."

"Masalah. Tidak ada yang lain."

"Kamu masih marah ya?"

"Entahlah. Gara-gara itu otakku jadi kacau."

"Apa jejak masa depanmu?"

"Jejak masa depan? Please, jangan suka mengalihkan pembicaraan."

"Baru aja aku temuin istilahnya. Kita juga sebenarnya sedang nyari sesuatu. Tapi kita belum tahu apa yang kita cari. Karena itu kita butuh petunjuk. Dan petunjuk itu adalah sebuah jejak yang akan kita temukan seiring berjalannya waktu."

"Kamu tahu persamaan antara pesawat sama pisang?"

"Hhhhhm? Gak ada samanya."

"Sama kayak jejak masa depanmu dan masalahku sekarang!"

"Kamu ada masalah? Kenapa gak kita cari pemecahannya."

Aku memukul jidakku sendiri dengan telapak tanganku.

"Kamu kenapa mukul jidatmu? Ada nyamuk?" Tanya Veranda.

"Iya! Nyamuknya masuk ke otaku terus dia hisap otakku sampe jadi kecil kayak otak gajah!"

"Itu bahaya tahu kalau ada serangga di dalam tubuh. Apalagi masih hidup."

"Bodoo amat!!!! Diem! Biarin aku sarapan tenang, kalo sampe keluar omongan dari mulutmu sebelum aku selesai sarapan aku usir kamu. Ngerti."

"Ok!"

Aku langsung sarapan dan untungnya saja dia mengerti dan menurut. Sarapan pun selesai. Ternyata perutku bisa kenyang hanya bermodal roti dan susu. Aku pun mencoba menonton TV untuk melihat hal baru. Kebetulan Veranda ikut nonton. Tepat pukul 09:02. Ada breaking news yang menginformasikan bahwa ada sebuah kasus penculikan anak 15 tahun bernama Eve. Ia sebenarnya adalah anak angkat yang diadopsi oleh kedua orang tuanya. Ayahnya pun membuat sebuah sayembara bahwa siapa saja yang bisa menemukan anaknya akan ia beri hadiah yang sangat besar, berupa 300 juta.


Spoiler for Eve Entoh:




"Wah! Ada kasus. Ayo kita ikut sayembara. Hadiahnya lumayan lho! Ayo Ega ayo." Seru Veranda.

"Enggak! Kamu aja kalau emang kamu mau. Sekarang saatnya kamu membuktikan kamu layak menjadi rekan kerjaku atau hanya sebagai pengacau." Kataku.

"Aku, tugas lapangan? Wahhhhh baru sekali kerja aku udah langsung boleh terjun ke lapangan. Asiiiikkk. Makasih ya Ega." Ia pun memelukku.

"Woy! Gak usah peluk juga. Yaudah sana!"

"Ehh sorry.. ok aku berangkat dulu." Ia pamit sambil menadahkan tangan.

"Mau minta apa?"

"Pinjam motor."

"Mau pinjam motor? Engak boleh!"

"Kan biar cepat."

"Di TKP pasti akan ramai orang, nanti si Sped di gondol orang lagi. Naik ojek aja."

"Hhhhmmm. Pelit, yaudah deh. Ohh ya, kalo aku yang langsung ke TKP kamu ngapain?"

"Aku nanti mau ada urusan. Mau ketemu orang"

"Oohh ok."

Iya langsung pergi ke TKP untuk meliat-lihat sebelum pergi menemui orang tua korban. Terlihat disana sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang berani ke taman bermain itu semenjak Eve hilang.

Veranda melanjutkan ke rumah orang tua korban untuk mencari informasi tambahan. Mengenai hilangnya Eve. Akan tetapi tidak mudah untuk bertemu dengan Pak Fader dan Bu Mader, selaku orang tua Eve. Akibatnya karena tidak sedikit yang ikut sayembara itu. Veranda baru bisa bertemu Orang Tua Eve pukul 06:51 sore.

"Selamat sore pak, buk. Saya Veranda." Salam hangat Veranda.

"Selamat sore." Senyum si Buk Mader dan juga Pak Fader.

"Terakhir kali anaknya kemana bu?"

"Di taman bermain jam 1 siang. Tinggi 150 cm, Golongan darah O, anak adopsi, 15 tahun, perempuan, mukanya masih kayak anak umur 12 tahun." Jawab Buk Mader.

"Saya baru nanya satu kok." Kata Veranda.

"60 orang datang kemari dengan pertanyaan yang sama. Kami sudah bosan. Mohon maaf kalau kami percepat." Kata Pak Fader.

"Ohhh. Iya, kalau dipikir-pikir. Muka perempuan baby face kayak gitu mungkin ada penculiknya pedo.."

"Pedofil! Gak mungkin anak umur 15 tahun diculik sama Pedofil."

"Oohhh. Iyaa, mungkin aja. Maaf Pak."

"Iya gak apa-apa."

Veranda pulang dengan informasi yang tidak penting. Tapi kalau dipikir-pikir orang bodoh mana yang menanyakan golongan darah untuk mencari orang hilang.

"Egaaaaa. Lhoo masih aja di sofa, katanya mau ketemu orang." Kata Veranda.

"Bukan urusanmu." Jawabku. "Gimana udah ketemu siapa penculiknya?"

"Belum. Tolong dong."

"Ok. Tapi apa kamu bisa menjalaskan secara detail."

"Bisa! Aku baru nanya satu pertanyaan tapi ibuknya malah ngasih jawaban banyak golongan darahnya lah, tinggi anaknya, jam dan tempat penculikan."

"Kamu belum bisa menjadi informan bahkan detektif."

"Ehhh?"

"Kamu itu mau kasik informasi apa mau kasik kode kayak cewek-cewek alay lainnya?"

"Jadi, aku harus mengimajinasikannya?"

"Kamu pikir imajinator scenario aku cuma sekedar menghayal? Kamu harus bisa baca pola perubahan tubuh manusia dan situasi di sekitar. Baru kamu bisa membuat sebuah scenario."

Aku pergi meninggalkan Veranda masuk ke kamarku. Dia mungkin bersemangat dalam menangani kasus ini. Tapi dia sendiri sepertinya belum bisa menemukan jejak masa depannya. Ya, tapi jejak masa depan yang aku maksud adalah titik terang dari kasus ini.


Quote:




Spoiler for Bagian : VII:




Quote:
Diubah oleh egalucu
Bagian VII
Ega Strike Again.


23 Mei. Pukul 11 : 52 Veranda pergi menemui sebuah ahli psikologi. Ia ingin. Mengetahui cara agar dia bisa mengetahui perubahan gerak dan perilaku manusia. Akan tetapi biaya Psikolog tidak semurah pelacur di tengah jalan. Harganya bisa kita buat untuk menyewa PSK kelas atas selama semalam. Tapi itu tidak penting! Yang terpenting aku bisa lepas dari Veranda seharian ini. Aku juga sudah memiliki janji dengan temanku. Dia sebenarnya seorang Ahli jiwa. Tapi aku tidak memberitahu Veranda soal ini. Sssttt.



Spoiler for Dayu:




"Selamat siang Dayu." Salamku saat masuk ke ruangannya.

"Oh, apa kabar. Tumben buat janji? Biasanya langsung datang." Kata Dayu.

"Kau sendiri, kenapa tidak mendatangi udanganku?"

"Ohh ya ke vila itu. Maaf, aku ada acara. Ya tahu lah. Aku kan banyak teman, jadi ultah dimana-mana."

"Iya iya iya. Ulang tahun. Ngomong-ngomong, Selamat Ulang Tahun untukmu. Kalau tidak salah tanggal 29 Februari."

"Emmmm. Ulang Tahunku tanggal 6 April lagi pula mana ada tanggal 29 Februari. Ohh iya. Kenapa kmu gak ikut pas buat kejutan ulang tahunnya Adi? Sama Veranda itu siapa? Pacarmu yaaaa cieee."

"Wanita itu membuat repot saja."

"Repot? dia cantik tahu."

"Ya, cantik. Tapi kayak kamu! Nyusahin!"

"Tujuanmu mau konsultasi apa mau berantem nih!"

"Waduh. Konsultasilah, bahaya kalau ratu Sosmed ngamuk."

"Ssst jangan banyak omong. Hidupmu itu terlalu banyak mikirin orang! Sok-sok jadi detektif. Detektif kok baperan."

"Hah?!"

"Kamu pikir aku gak tahu kalau selama ini kamu stres karena semua yang kamu rencanaain itu gagal? Kegagalan 9 kali dalam kasus, reuni di vila yang batal, reuni sekolah yang tidak sesuai ekspetasi dan, Ulang Tahun Adi." Dayu langsung ngegas. "Aku tahu kamu stres. Tapi lihat, karena kamu yang keras kepala ini! Kamu gak mau ngaku kalau kamu stres. Kamu juga gak mau ngaku kalau kamu udah kalah. Sekarang jadinya apa? Kamu berhasil mengungkap kasus pembunuhan di taman kota, pencuri di hotelnya Wowok, dan karena kamu ngajak Veranda ke rumah Ulan. Kami jadi punya ide lain yang otaknya adalah Veranda itu sendiri."

"Veranda...."

"Tadi Veranda kesini. Dia bilang dia mau belajar cara membaca pola perubahan sifat."

Beberapa jam yang lalu. Veranda mendatangi tempat praktik Dayu. Dayu pun terkejut kalau ia bisa bertemu Veranda lagi.

"Veranda." Kata Dayu.

"Dayu. Kamu ternyata ahli jiwa." Jawab Veranda.

"Iya. Ada apa nih?"

"Aku mau minta tolong boleh?"

"Minta tolong?"

"Aku mau belajar pola perubahan sikap."

"Untuk apa?"

"Biar bisa jadi detektif sama informan."

"Kamu cantik-cantik jadi detektif, jadi model aja. Atau gabung ke JKT48, Ega pasti senang. Lagi satu, kayaknya kamu gak cocok jadi informan."

"Kenapa?"

"Kamu kan cewek, harusnya jadi inforwoman."

"Hahaha. Kamu bisa ngelawak juga ya. Hihi."

"Ahli jiwa harus bisa memanipulasi emosi pasiennya. Kalau kamu. Sebagai detektif, harus bisa mengendalikan atau memanipulasi emosimu sendiri. Kamu tahu kalau detektif pensiun jadi apa?"

"Apa?"

"Jadi artis."

"Kok bisa?"

"Karena yang paling pintar mengatur aksi, gerak wajah dan gerakan cuma mereka para detektif. Kalau kamu udah bisa mengendalikannya kamu akan mudah membaca peubahan pola gerak orang lain. Nantinya itu bisa kita pake untuk cari tahu orang itu bohong apa jujur. Contoh : pembohong sama orang lagi bohong itu kamu tahu apa bedanya?"

"Kayaknya sama deh."

"Eheh. Bukan. Kalo orang bohong, mereka pasti mencari alasan saat dia lagi berbohong. Contoh kalau lagi bohong sama pacar. Bilangnya dirumah padahal lagi jalan sama cowok lain."

"Kalau pembohong?"

"Pembohong itu dia udah buat rencana itu sebelum dia mau bohong. Fase kedua dari pembohong adalah penipu."

"Permisi dan terima kasih."


Veranda langsung pergi meninggalkan. Dayu entah kemana. Saat mendengar cerita itu aku jadi tahu Veranda pergi kemana.

"Aku bingung dia kemana." Kata Dayu.

Tiba-tiba Veranda menghubungiku.

"Hallo."

"Ega! Kamu dimana? Ayo cepat aku kayaknya udah tahu siapa pelakunya" kata Veranda.

"Aku juga udah tahu."

"Ok kalau gitu ayo cepat ke rumahnya orang tua Eve."

"OTW!" Langsung kututup telepon. "Dayu tolong hubungi polisi bawa langsung ke rumah Eve."

"Kayak biasanya." Kata Dayu.

"Biasanya apa?"

"Ngerepotin!"

"Nantikan 300 juta dibagi dua."

"Emang benar mau dibagi dua?"

"Iya aku 50% Veranda 50%"

"Cieee yang bagi-bagi sama Veranda."

"Ehhh mau kubuat perutmu buncit kayak dulu?"

"Apaan sih! Mesum."

"Makan-makan maksudnya."

"Gak mau! Sana cepet pergi!"

Aku langsung melaju cepat dengan motorku si Sped. Sampainya di TKP aku bertemu Veranda, beberapa menit kemudian tiga polisi langsung datang dengan persenjataannya. Aku meminta mereka untuk menggeledah semua isi rumah ini. Saat digeledah terdapat sebuah gudang yang tersembunyi dibawah tangga. Yang membuat gempar polisi adalah adanya Eve yang sedang disekap disana.

Kenapa bisa demikian? Kami menunggu Pak Fader dan Bu Mader pulang. Sore pun tiba. Mereka pulang saat itu juga aku langsung menyuruh polisi mengarahkan pistolnya ke arah Pak Fader. Polisi langsung menyuruhnya tiarap dan langsung memborgol tangan beserta kakinya.

"Apa-apaan ini! Kenapa kalian menahan suami saya?" Bu Mader panik.

"Biarin mah! Dia itu jahat." Teriak Eve yang datang dari dalam rumah."

"Eve! Kamu. Kenapa bisa begini pah!!?"

"Sederhana." Kata Veranda. "Suami ibu adalah seorang Pedofil. Dia memalsukan penculikan karena ia ingin menikmati tubuh Eve. Ia sengaja membuat-buat anaknya hilang di taman bermain pada pukul satu siang karena pada jam itu taman bermain sedang dalam keadaan yang kosong tanpa orang. Pak Fader tahu karena dia selalu lewat sana dan hanya dialah orang selalu lewat sana pada pukul satu siang. Itu juga yang menjelaska. Kenapa pada saat saya menyinggung tentang pedofil Pak Fader langsung menyangkal dengan keras dan ngegas."

"Apakah yang dikatakan rekanku kurang begitu jelas? Biar kuceritakan secara detail. Saat itu Bu Mader pergi lebih pagi dari biasanya karena ada urusan penting. Saat itulah Pak Fader beraksi dengan memberi obat tidur di sarapan Eve. Ia langsung di sekap. Pada saat jam satu siang kau mengira saat sepi? Tidak. Saat itu ada seekor anjing yang selalu menjaga taman bermain itu. Kau memecahkan kaca mobilmu untuk memalsukan penculikan, makanya banyak warga yang mendengar suara gonggongan anjing, dan itulah sebabnya di TV kau dengan bangga membuat sayembara padahal itu sebuah kode yang berbunyi 'lho gak akan bisa nemuin anak itu goblok! Orang anaknya gue yang sekap.' Aku juga menyelidiki di panti asuhan bahwa kau itu ngebet ingin anak perempuan untuk diadopsi dan anak itu adalah Loli legal Eve Entoh!"

"Bagaimana kau bisa tahu!!!" Tanya Pak Fader.

"Egalogic milikku berkata demikian."

Akhirnya Pak Fader dipenjara dan diancam akan dikebiri. Eve pun kembali ke panti asuhan dan untuk menghilangkan traumanya itu. Dayu dipanggil oleh Dharma untuk mengembalikan kondisinya supaya bisa hidup tanpa rasa takut dengan orang dewasa.

Sedangkan aku kembali ke tempatku yang semestinya meski pun aku tidak tahu kapan Andika akan kembali. Sudah lebih dari satu minggu sejak surat itu dikirim aku mengatakan tanggal 25 Mei Andika akan kembali untuk membuat Veranda pergi tapi. Sepertinya dia memiliki sifat yang sama denganku. Atau lebih tepatnya dia adalah aku dalam wujud perempuan.



Quote:


Saat itu aku dan Veranda sedang menyantap makan malam yang ia masak. Kuakui masakannya sangat lezat.

"Veranda." Panggilku.

"Iya." Sahut Veranda.

"Kamu mau tinggal disini sampai berapa lama?"

"Sampai Andika datang bukan?"

"Kalau begitu kayaknya kamu akan tinggal lebih lama lagi disini."

"Ahh! Kenapa?"

"Andika balik masih lama lagi."

"Jadi... aku boleh tinggal disini?"

"Asal kamu melakukan kerja bagus kayak kemarin. Jadilah rekan dan Inforwamanku."

"Siap!! Ehhh kamu mau tambah?"

"Iyalah! Ini kan makanan aku yang punya kamu masak lagi sana!"

"Ihh kan aku lapar. Berbagi dong!"

"Masak sendiri dong."

"Kan ini aku yang masak."

"Ooh iya hahahahaha."

Itu kali pertamanya aku tertawa dihadapannya. Aku rasa Andika bisa lebih lama berada di Jepang selama aku masih memiliki rekan kerja sepertinya.

Baiklah! Aku rasa kisah ini tidak akan masuk dalam catatan sejarah atau pun ingatan kalian. Akan tetapi dengan begini imajinasiku mulai tenang kembali. Terima kasih teman-teman yang sudah menolongku, yang sudah aku tolong bahkan teman-teman yang belum aku temui. Aku harap pertemuan berikutnya tidak ada kata Skip dalam grup lagi. Terutama untuk ratu Skip@__liiissa. Kasihan bos kita, @pinaadepina yang sudah susah payah merencanakan acara liburan.



FINISH
Diubah oleh egalucu
Hadeeeeeeh
Quote:


Bang kalo tread ada api-apinya artinya apa?
Quote:


habis diserang negara api.
Quote:


Vangke serius ini
Balasan post egalucu
masuk HOT THREAD selamat ya...

untuk cerita sebelumnya kalo sudah bisa , bisa bikin ulang dengan copas aja, males buka gembok ntar jd sampah...
Quote:


Kalo buat sekuel cerita boleh bikin tread lain apa ditread yang sama ?
Balasan post egalucu
yang ini udah tamat?

kalo ada lanjutan masih berhubungan ya baiknya lanjut, tapi kalo emang beda cerita bisa bikin baru
Quote:


Ok makasih sarannya bro

Egality 2/II : Gear Zero

Sinopsis Egality 2/II


Ega kembali dengan Egalogic yang membuat teman-teman kebingungan dengan argumen yang ia berikan untuk memecahkan sebuah masalah akan tetapi justru argumen itu yang akan menyelesaikan masalah mereka seperti kasus-kasus sebelumnya.

Ega dan Veranda me dapatkan Undangan untuk berlibur ke sebuah Pulau buatan bernama Pulau Utopia. Akan tetapi bukan mereka saja yang diundang, banyak juga orang-orang yang diundang dengan kriteria yang tidak diketahui alasannya. Saat mereka sedang menikmati liburan itu sebuah masalah terjadi. Gear Zero yang menjadi sumber energi pulau mengalami eror yang mengakibatkan seisi pulau menjadi kacau. Kira-kira kenapa alasan mereka diundang? Dan bisakah Ega menyelesaikan masalah ini dengan Egality dan Egalogicnya?


Cerita ini akan mengungkap hampir semua masalalu karakter terutama untuk karakter Veranda akan lebih ditekankan.

Itu pun kalau imajinasiku nyampek
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di