alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
4 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c98f752e83c724d671673fc/cinta-tak-bisa-disalahkan-part-2

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)


Sebelumnya : Part 1

Part 2

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

CUITAN DARI ATAS BALKON

Aku memang biasa dipanggil Aik, nama panggilan semenjak kecil yang diberikan orang tuaku. Sebetulnya itu diambil dari nama belakangku, Aji. Buat mudahnya bagi lidah jawa, huruf "j" dihilangkan dan diakhiri konsonan "k", jadilah Aik. Demikian aku berkenalan sama semua orang di sini, nggak dosen, senior, pegawai kampus, tukang parkir, junior sampai orang-orang kampung mengenalku dengan nama Aik.

Yang tampak saat kutolehkan wajahku adalah sebuah rumah besar yang terletak berseberangan dengan rumah kost yang baru akan kutempati. Tertutup pintunya, semacam pintu garasi lebar bersegmen-segmen terbuat dari bahan kayu kayak di senetron-sinetron atau FTV. Tidak tampak seorangpun di depan pintu itu. Kudongakkan kepalaku segera mengikuti sumber suara, ternyata ada dua gadis yang senyum-senyum memandangku di teras balkon lantai 2.

Ya, rumah besar itu memang susun bentuknya, hanya 2 lantai. Lantai pertama yang pintunya tertutup itu garasi buat nyimpen motor anak-anak kost, lantai kedua adalah kamar kost dengan teras balkon los, tak bersekat, memanjang di depan kamar-kamar kos. Empat orang senior cewek, setingkat di atasku memang tinggal di situ. Dan salah satunya itulah yang memanggilku, namanya Ica. Rupanya sejak tadi dia mengamati proses pemindahan barang-barangku dari pick-up ke kamar kost, bersama kawan kostnya.

"Hai !", jawabku setengah berteriak. "Ngapain Ca pagi-pagi nongkrong aja di atas? Nggak pada ngikut ngandong?" tanyaku kemudian. Ica memang setingkat di atasku, tapi tahun kelahiran kita sama, makanya aku takpernah memanggilnya Mbak atau Kak sebagaimana kawan seangkatannya yang lain.

"Lagi males, begadang semalem", jawabnya dengan seulas senyum. Kawan di sebelahnya juga ikut senyum-senyum, malah tampak serius mengamati wajahku meski terkesan jaga image. Senyumnya manis juga dengan deretan gigi yang rapi. Hidungnya mancung lebih mancung dari hidungku, sedang matanya lebar - jelas lebih lebar dari mataku yang sipit ini. Mata kami sejenak beradu, aku menangkap kesan seolah ingin mengajakku berkenalan.

Kualihkan lagi pandanganku ke Ica yang lebih dulu kukenal. Baik anaknya, tergolong pinter dan rajin di angkatannya, aku sering pinjam catatannya atau minta keterangan untuk pelajaran yang aku kurang mengerti. Sebagai anak pintar, Ica tidak egois seperti kebanyakan, dia tidak pernah menolak berbagi catatan dan pemahamannya pada siapa saja.

"Udah sarapan Ca? Yuk!" ajakku.

"Udah dong, pagi tadi kami masak berdua", kata Ica sambil melirik kawan di sebelahnya.

"Widiiih, masak apa? Boleh dong ngicipin...", sahutku berbasa-basi, masih dengan mendongakkan kepala.

Disenggollah dengan sikut kawan di sebelahnya, dua kali. Merah padam mukanya, tawanya lepas sambil memegangi lengan Ica dan mengguncangkannya. Kepalanya digeleng-gelengkan menatap Ica, bahasa isyarat agar masakannya jangan dibagikan. Ica juga tergelak tawanya melihat tingkah itu, dengan sigap lalu dialihkannya pandangan kembali ke bawah - ke arahku.

"Restu malu Ik, kami masih belajar memasaknya, masih agak hambar rasanya. Ini nih chefnya...," kata Ica menunjuk kawan di sebelahnya sambil menahan tawa geli. Sedang kawannya itu mengangguk-angguk, isyarat mengiyakan jawaban Ica dengan ekspresi malu.

"Yo wis ( ya sudah ). Aku pegel ndangak ( aku capek mendongak) terus. Kalau mau lanjut ngobrol sini turun ke bawah", celetukku kemudian.

"Udah kamu sarapan aja dulu !", jawabnya.

"Oke !", jawabku langsung berbalik badan menghampiri motor di depan kamar kostku.

Lupa mengunci pintu kamar, turunlah lagi aku dari motor yang terlanjur sudah kustarter. Setelah yakin aman terkunci, kembali kunaiki motor dan kulajukan mengikuti naluri perut yang sudah keroncongan sejak tadi.

Sepanjang jalan, ingatanku pada percakapan tadi masih mengiang, terutama kesan pada ekspresi spontan kawan kost Ica saat aku berbasa-basi pengin mencicipi masakan mereka.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to part 3part4part5part6part7part8part9part10InterlogPart11Part12Part13Part14Part15Part16Part17Part18Part19Part20Part21Part22Part23Part24Part25Selembar TestimoniPart26Part27Part28Part29Part30
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwarabdulrojak dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Part 3

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

PESAN TAK BIASA

Hufff...! Akhirnya selesai laporan yang kukebut kerjakan sejak usai praktikum tadi siang. Tanpa terasa, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 4 lebih beberapa menit. Segera kubereskan buku-buku perpustakaan itu dan bergegas kukejar Mas Hend, asisten dosen Biokimia, sambil menenteng laporan yang baru saja kubuat.

Kutengok dari lantai 3 Gedung A tadi Mas Hend masih tampak di sekitaran halaman parkir. Berlarilah aku menuruni gedung A menuju halaman parkir. 3 x 36 anak tangga dengan segera kulewati, ditambah 5 anak tangga dari lantai satu ke baseman.

"Mas Hend, ma'af agak terlambat", kataku sambil menyerahkan tugas laporan padanya, masih dengan nafas terengah-engah.

"Yakin nih udah beres?", tanya Mas Hendarko

"Yah, paling nanti ada koreksi sedikit lah mas, biasa..hehe...", jawabku dengan sedikit merayu. Yang penting dalam pengumpulan laporan di kampusku adalah ketepatan waktunya, perkara isinya bisa dinegosiasikan dengan para asisten dosen.

Keterlambatan dalam pengumpulan laporan berakibat penolakan untuk mengikuti praktikum selanjutnya. Sedangkan 1 saja praktikum tidak kita ikuti, sudah bisa dipastikan nilai E tercetak di transkrip nilai, artinya tidak lulus untuk mata kuliah tersebut dan harus mengulang di semester berikutnya. Dan 1 mata kuliah saja tidak lulus, jangan harap bisa diwisuda.

"Besok ke kost ku ya...", kata Mas Hend setelah membaca sekilas laporanku. "Ada yang aku mau kau kerjakan," imbuhnya.

"Ya mas, siap! Kalau begitu, aku duluan yo mas. Awakku (badanku) gatel kabeh (gatal semua) mas, harus lekas mandi", jawabku sekalian mohon diri.

Mas Hend hanya mengangguk tersenyum sambil membetulkan kacamatanya. Dia mungkin teringat kenangan yang pernah dialaminya semasa setingkatku. Atau puas karena dapat junior yang kerap telat ngumpulin laporan seperti aku, sehingga bisa diperalat untuk membantu pengetikan skripsinya.

Kuhampiri motorku di ujung dekat pintu jaga parkir, posisi yang kupilih dari sejak awal kuliah untuk memberi rasa tenang atas keamanan motor. Logikaku sederhana, sebelahan dengan pos jaga dimana Kang Maman selalu siaga di situ.

"Ah kowe (kamu) iki (ini) lho Ik, anak muda kok jam segini baru mau pulang", kata Kang Maman mengomentari jam kepulanganku. Biasanya yang pulangnya ngelantur itu mahasiswa yang sudah semester tua, sebab sering berurusan dengan dosen dan birokrasi. Sedang aku semester 5, masih tergolong muda menurut Kang Maman.

"Iyo e Kang, semaleman diajak rapat di auditorium", jawabku beralasan tak perlu panjang lebar. Segera kustarter motor hendak melaju, tapi ditahan sama Kang Maman.

"Eh, mengko dhisik (nanti dulu)", katanya.

"Ono opo ( ada apa) Kang?", tanyaku.

"Kamu dicari si Ica tadi, dikongkon (disuruh) mampir ning (di) kost jarene (katanya)", jawab Kang Maman.

"Oh..., oke. Maturnuwun (terimakasih) Kang", kataku sambil narik gas motor biar segera melaju. Kang Maman membalas dengan menepuk jok belakang motor seperti biasanya.

Kang Maman adalah orang kampung asli dimana kampusku didirikan. Dia orang yang dari awal dipercaya menjaga proyek pembangunan beberapa gedung fakultas. Setelah kampus beroperasi, Kang Maman lalu diperkerjakan sebagai penanggung jawab keamanan di Fakultasku dengan gaji bulanan.

Untuk urusan parkir sebetulnya Kang Maman punya anak buah, tapi tempat nongkrong favoritnya di kampus memang di pos jaga parkir. Katanya pos jaga itu dulunya punden, semacam tempat keramat, dan dia yang bertanggungjawab atas pemindahannya akibat proyek pembangunan kampus. Si Embah, begitu Kang Maman menyebut mahkluk gaib penunggu punden, berpesan padanya agar menggantikan posisinya menjaga wilayah.

Ah, ada-ada aja memang... Tapi orangnya asik diajak bercanda dan mudah akrab dengan mahasiswa, termasuk denganku. Sampai-sampai kita ini sudah seperti paman-keponakan.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
Continue to part 4
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 4

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)


KISAH SEKOTAK ROTI


"Iiicaaa!", teriakku setelah memencet bel di samping pintu garasi kost Ica. Bel pintu meski dipencet buat ngasih tanda kalau kita bertamu, dan nama harus dipanggil supaya penghuni kost tahu siapa yang kita cari. Begitulah aturan bertamu di kost an Ica yang hanya dihuni 10 cewek ini.

Tak selang berapa lama pintu garasi yang bisa dibuka selebar jumlah segmen itu terkuak. Icapun nongol masih dengan pakaian yang tadi dikenakannya di kampus, tanda kalau dia belum mandi.

"Ono opo (ada apa) Ca?", tanyaku.
"Kok jare (kata) Kang Maman....".

"Udah sini masuk dulu", sahut Ica memotong pembicaraan. Dibukanya pintu 4 segmen dan mempersilahkanku duduk di dalam. Di garasi itu ada 2 bangku memanjang yang disediakan si empunya kost bagi tamu anak-anak kostnya. Aku ambil duduk di bangku yang sejajar tembok garasi dekat pintu, Ica menyusul duduk di sebelahku sedikit jauh.

"Kamu baru pulang dari kampus?" tanyanya kemudian. Dalam pikiranku berujar, ini orang ditanya kok malah gantian nanya... Seolah tau yang kupikirkan, Ica segera menimpali kalimatnya tanpa menunggu jawabanku.

"Iya, aku tadi pesen sama Kang Maman supaya kamu mampir ke sini", katanya.
"Si Restu tadi masak kue yang dia yakin enak dan pengin kamu ikut mencicipinya. Sebagai ganti yang dulu kamu pengin ngicipin tapi dia tolak itu. Masih ingat?" lanjutnya.

Restu...? Gumamku dalam hati sembari otakku mencoba mengingat. Kejadiannya lebih kurang sudah 3 bulan lewat sewaktu awal pindah kost. Semacam ini aku seringkali sudah melupakan begitu saja kejadiannya, soalnya menurutku tidak begitu penting. Kesibukan tugas kuliah dan kiprahku di organisasi saat ini menuntutku meski me manage otak, memindah-pilah mana yang penting buat diingat dan mana yang segera harus dihapus. Yang kulakukan tiap mau tidur ya seperti mengscan dan mendefrag hardisk komputer, sementara tidurku belakangan ini sering tidak teratur.

Ica rupanya sudah hapal sifat pelupaku, katanya kemudian : "Dulu waktu kamu baru angkut-angkut barang ke kost an sebelah kan pernah takpanggil dari atas balkon Ik. Masak lupa sih? Waktu itu aku bersama Restu, kawan sekamarku ngamatin kamu dari atas sini. Terus kamu nanya apakah aku sudah sarapan atau belum....".

"O..., ya ya udah inget aku Ca", sahutku gantian memotong penjelasan Ica.
"Ha ha ha ha....", lanjutku tertawa lepas, geli menangkap kejadian sore itu.
"Jadi kawanmu yang bermata lebar itu masih mikirin ya? Baik ya anaknya...", kataku.

"Menurutmu cantik nggak Ik?", tanya Ica. Alih-alih membalas komentarku, dia justru balik melontarkan pertanyaan yang membuatku kembali serius.

"Ya cantiklah, namanya cewek. Kalau cowok ya ganteng", jawabku seenaknya. Maksudku sih menjaga perasaan saja, sebab sama-sama perempuan kalau diperbandingkan biasanya tidak suka.

"Yang serius dong Ik, cantik nggak?"

"Apaan sih Ca? Kamu juga cewek pasti cantiklah...", jawabku masih mengelak.

"Ik, kalau menurutku Restu itu lebih cantik dariku. Dia itu lebih sering dilirik lelaki kalau kita jalan berdua".

"Ntar ntar, maksudnya mau kamu bawa kemana nih obrolan? Aku jadi nggak enak lho..."

Sambil tersenyum seolah lagi-lagi tahu apa yang kupikirkan, Ica membalas : "Tenang aja Ik, ini bukan pernyataan bahwa aku iri. Toh, kamu juga tau kan kalau aku sudah punya Mas Ari? Dan aku tau kalau aku bukan selera kamu, kamu juga tau kalau kamu bukan tipeku. Kita dulu sudah pernah saling cerita kan bareng temen-temen sambil nunggu jam kuliah?"

Hufffhh...! Lega rasanya mendengar. Berarti aman, tidak ada indikasi seperti yang kukhawatirkan pikirku. Aku mengangguk dan masih menatap Ica serius, menunggu penjelasan berikutnya.

"Restu itu sudah lama mengamati kamu Ik. Sebelum kamu pindah ke sini, kamu inget udah berapa kali main ke kost sini?" tanya Ica.

"Ik...Aik!" katanya dengan meninggikan nada, menghenyakkanku dari lamunan.

"Eh! Iya...iya. Empat kali kalau nggak salah dari awal semester. Pinjem catatan sama nitip ngumpulin laporan ke Mbak Agatha waktu itu", jawabku sontak begitu lepas dari lamunan.

Ica menepuk lenganku agak keras sambil tertawa. Aku paham maksudnya, dia pikir aku melamun cabul.

"Tenang Ca, aku bukan melamun sebenarnya, wajah Restu yang kau maksud itu sudah pudar dari angan, dan otakku memprosesnya kembali bak menyusun puzzle. Maka jadi loading deh...", jelasku. Ica tertawa geli, kususul pula karena terpancing tawanya.

"Jadi gini Ik, Restu itu tertarik sama kamu sejak lama. Entah waktu yang keberapa kalinya kamu datang ke sini itu dia melihat kamu dan katanya dia langsung suka. Waktu itu dia langsung banyak nanya tentang kamu ke aku, ya aku jawab setahuku Ik..."

"Nah, waktu kamu rencana mau pindah ke sini, dia denger dan langsung ngerespon. Aku ditanya terus kapan kamu mau pindah ke sini", sambungnya.

"Emang kamu tahunya aku mau pindah dari siapa Ca?" tanyaku menyela.

"Ya aku ngikuti kabar dari Ano. Justru aku yang kasih tau ke Ano tentang keinginanmu cari kost yang deket kampus, kamu sebelumnya pernah cerita kan? Nah, sewaktu Ano ketemu aku dan cerita kalau senior kostnya mau wisuda dan mau pulang kampung, langsung deh kuusulkan dirimu dikasih info", jawab Ica.

Ano adalah mahasiswa jurusan Teknik Mesin, kampusnya bersebelahan dengan kampusku. Sewaktu sama-sama mahasiswa baru, kami berpapasan di jalan dan saling berkenalan.

Ano asalnya jauh, Palembang, dia tidak punya persiapan yang cukup ketika harus ke Jawa untuk daftar ulang, sedang kampusnya tidak memberi waktu jeda antara tanggal daftar ulang dengan pelaksanaan ospek. Siang itu daftar ulang, besok paginya sudah mulai OSPEK hari pertama. OSPEK itu istilah jamanku kuliah yang berarti Orientasi Pengenalan Kampus, identik dengan perploncoan bagi mahasiswa baru kala itu.

Kegiatan OSPEK di kampus Ano mengharuskan memakai sepatu putih, sedang sepatu yang dia pakai hitam. Sewaktu berpapasan di jalan denganku yang kebetulan memakai sepatu putih, langsung dia utarakan masalahnya setelah sebelumnya berkenalan. Jadilah kita bertukar sepatu, kebetulan ukuran kaki kita sama. Sejak itulah kita bersahabat dekat sampai sekarang.

Melalui si Ano inilah aku punya akses menempati kost baru ini. Memang sudah sering aku main ke kostnya dari sejak semester awal, jadinya sekarang sudah langsung akrab saja dengan para penghuni lama kost ini. Maka bisa jadi memang Restu itu sering mengamatiku sudah sejak lama karena lokasi kostnya bersebelahan, cuman aku aja yang gak pernah ngeh.

"Oalah..., jadi ceritanya kamu mau nyomblangin aku sama Restu nih?" tanyaku kemudian ke Ica.

"Ye....ogah amat jadi mak comblang!" kata Ica gak terima.
"Kamu kan tau aku tu orangnya cuek, sama kayak kamu Ik. Malas kalau diajak curhat urusan asmara! Restu juga paham, orang kita temen sekamar, udah hafal karakter masing-masing", timpalnya.

"Aku cuma mau menyampaikan kue titipannya ke kamu. Tunggu sebentar tak ambilin".
Ica lalu beranjak dari tempat duduknya menuju tangga yang meski dilaluinya untuk nyampai ke kamarnya di lantai 2. Tak berapa lama, nongol lagi dia bawa kardus berisi kue yang terbungkus plastik.

"Nih, sudah taksampaiin ya amanahnya", kata Ica sambil menyodorkan bungkusan itu padaku.
"Udah sana pulang....", candanya sambil ketawa ngekek.

"Jiah, ngusir....!?", celetukku geram. Tau sih kalau Ica cuma bercanda.

"Sini duduk lagi dulu Ca," kataku sambil menepuk bangku tempatku duduk. Ica nurut masih sambil ketawa-ketiwi.

"Emang si Restu belum pulang? Gimana dong ngucapin terimakasihnya?", tanyaku beruntun.

Quote:


"Restu hari ini praktikum sampai malam, mungkin malah nginep di kampus Ik", jawab Ica kasih keterangan. "Udah besok-besok aja", tambahnya.

"Okelah kalau begitu, titip dulu ya makasihnya ke kamu. Lain hari kalau ketemu tak 'siaran langsung' ", kataku.

"Iya iya... Terus kamu nggak makasih ke aku?" katanya dengan mimik sewot.

"Iya makasih. Udah, pamit dulu aku", kataku sambil beranjak dari bangku. Tanpa pikir panjang langsung aku menuju kost di seberang jalan gang.

Kulirik jam di dinding kamar menunjukkan pukul 5 sore, bergegas kusambar handuk menuju kamar mandi. Kutenteng juga roti bikinan Restu untuk kutaruh di ruang tengah, tempat anak-anak ngumpul entah cuma ngobrol, nonton tv, main karambol atau main kartu.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part 5
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 5

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

MENYUSUN PUZZLE

Hampir seperempat air bak mandi kuhabiskan sudah, disamping karena memang badan ini sudah gatal-gatal semua, mungkin juga karena terbawa perasaan senang usai ketemu Ica dan mendengar ceritanya tadi. Pikiranku terus mencoba menyusun puzzle wajah Restu yang sempat terekam 3 bulan yang lalu. Yang kuingat hanyalah senyumnya yang manis karena ditunjang gigi yang rapi, matanya yang lebar dimana sempat kita beradu pandang dan hidungnya yang lebih mancung dari hidungku. Tapi bak puzzle dalam kuis tebak wajah, sulit sekali mewujud secara utuh.

"Woi gantian woi...!" suara teriakan di luar kamar mandi membuyarkan pikiranku. Ditambah suara pintu yang digedor-gedor tiba-tiba menambah kagetku saja.

"Iya, iya, sabar bro... tinggal pake handuk", celetukku.

Rupanya kawan kos ini takmau sabar, pintu kamar mandi terus digedor berulang-ulang. Entah karena kebelet atau memang sedang stress berat kebanyakan tugas, sulit dibedakan biasanya. Kalau iseng sih kayaknya nggak, biasanya lebih parah! Langsung saja kulilitkan handuk di tubuh tanpa mengeringkannya terlebih dahulu. Begitu kubuka pintu, si Amin langsung menerobos masuk tanpa ba-bi-bu. Rupanya memang sedang mules perutnya.Takperlu kujelaskan siapa si Amin, yang jelas dia kawan kost baruku. Titik.

Seperti biasa kukenakan celana kolor panjang usai mandi sore, itu tanda kalau aku sudah seharian keluar rumah dan sekarang lagi pengin ndekem di kost an. Kurebahkan badan yang letih karena aktivitas seharian tadi di kasur. Kembali coba dengan tenang kupikirkan wajah kawan sekamarnya Ica yang namanya Restu. Lama sekali tak ketemu juga sampai terlelaplah aku dalam tidur.

"Ik, ik...bangun ik! Tak baik kau tidur jam segini", sayup-sayup kudengar suara Ano membangunkanku sambil mengguncang-guncang tubuhku.

Kulirik jam di dinding kamar, jarum pendek ada di angka 6 dan jarum panjangnya ada di angka 1. Terkesiap aku dalam duduk, masih di atas kasur. Kutatap wajah Ano yang penuh peluh, badannya basah berkeringat tanpa baju, cuma celana kolor pendek yang masih melekat. Dengan gampang kutariklah kesimpulan kalau Ano baru pulang main basket. Ano memang gemar berolahraga, basket adalah favoritnya sejak SMP.

"Mandi sana kau lah, gantian nanti. Biarlah keringatku kering dulu", katanya kemudian dengan logat Palembangnya. Aku takmenjawab. Kusambar handuk basahku yang masih tergeletak di atas meja dan kulemparkan ke arahnya.

"Beh! sudah mandi kau rupanya. Tumben kau tidur sore habis mandi?!" katanya.

"Sudah sana kau mandi, habis itu jalan kita beli makan di bundaran", kataku menirukan logat Palembangnya. Aku lalu beranjak meninggalkan Ano menuju ruang tengah. Aku teringat pada roti pemberian Restu melalui Ica yang tadi kugeletakkan di situ. Dan seperti kuduga, hilang sudah isi roti - tinggal kardusnya.

"Dasar buaya buntung ususnya!", kataku agak keras pada empat kawan kost yang duduk-duduk di situ menonton televisi. Tak ada yang bergeming, malahan mengalihkan pembicaraan.

Begitulah tradisi di kost baruku, sekali ada makanan di ruang tengah hukumnya adalah halal untuk dihabiskan, dan pemiliknya haram untuk menanyakan. Jangan sekali-kali meninggalkan makanan di ruang tengah jika belum betul-betul ikhlas untuk tidak kebagian. Ano yang menyusulku hanya menepuk-nepuk pundakku dari belakang sambil tertawa-tawa, lewat begitu saja menuju kamar mandi.

Jam 7.30 malam Ano baru nongol lagi ke kamarku bermaksud menagih janji cari makan yang tadi kuucapkan, sedang aku masih membaca catatan materi yang besok hendak diujikan sambil tiduran telungkup di kasur.

"Jadi kita jalan ik?" katanya sambil menghampiri komputer di meja kamar. Diraihnya mousepad di depan layar dan digerakkanya untuk mengganti daftar lagu winamp yang sedang mengalun. Terhentilah lagu Semua Tak Sama milik Padi yang dari tadi kudengarkan, berganti dengan lagu-lagunya Kids Rock idolanya.

"Masih ngambeg kau roti dihabisin anak-anak?" tanya Ano lagi karena aku taksegera menjawab pertanyaan pertamanya.

"Aku lagi nyicil ngapalin No'. Apa tadi? Kau nanya apa?" balasku malah bertanya balik.

"Ah, kau ini Ik. Tadi kau suruh pula aku mandi cepat-cepat...", celetuknya. Barulah aku teringat janjiku mengajaknya mencari makan.

"Ayolah berangkat, itu kunci motornya di samping kamu", sahutku dengan semangat. Perut memang sudah terasa lapar dari sejak bangun tidur tadi.

Kondisi lapar itulah yang tadi menuntun naluriku untuk segera menghampiri roti yang kugeletakkan di ruang tengah. Karena kecewa rotinya ternyata habis, rasa lapar itupun seolah pudar. Sekarang bergejolaklah lagi setelah diingatkan Ano.

"Ik, motor kau kok tak ada pula?" tanya Ano tergopoh dari luar. Tadi dia berencana ambil motorku di parkiran kost, letaknya di samping kanan rumah agak ke belakang.

"Astaga No', iya, aku lupa! Masih di depan kostnya Ica. Ayolah kita samperin", jawabku. Bergegas kita menuju jalan gang pinggir kost nya Ica, memang tampak dari depan kamar kost ku itu motor masih nangkring di tepi jalan gang.

Ano' yang dari tadi pegang kunci langsung naik dan memutar motor ke arah sebaliknya. Arah yang akan kita tuju untuk sampai ke bundaran. Bundaran adalah sebutan populer di wilayah sekitar kampus untuk lokasi yang disediakan khusus bagi para pedagang makanan. Sekarang mungkin istilahnya pujasera.

"Motor siapa itu No'?" seru suara dari balik pintu kost Ica yang hanya terbuka 1 engsel, itupun cuman separo. Suara yang sepertinya pernah kukenal, tapi seingatku suara itu bukan berbentuk kalimat melainkan tawa kecil.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part 6
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 6

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

TAK KENAL MAKA TAK INGAT

Pandangan kami segera tertuju ke arah pintu yang terbuka separo itu, tembus ke dalam mendeteksi asal suara. Rupanya ada seorang gadis seumuran sedang duduk di bangku tengah mengawasi gerik kami berdua. Matanya lebar, hidungnya lebih mancung dariku, rambutnya agak ikal dikuncir ke belakang.

"Eh, Restu cantiek..." sahut Ano dengan rayuan dalam logat Palembangnya. Ini juga penanda khas kawan baikku, mudah sekali secara spontan menggoda perempuan.

"Ini motornya si Aik, mau jalan kita cari makan. Kau mau nitipkah?"

Gadis itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. Senyumnya manis dengan giginya yang rapi. Cling! Mewujudlah bayangan utuh dalam benakku bak puzzle yang rampung tersusun. Rasa laparku sontak hilang seketika!

"No' kamu yakin itu cewek namanya Restu?" tanyaku berbisik dekat telinga Ano.

"Kurang keras kah tadi kubilang?!" tanya Ano. Pertanyaan yang bisa diartikan sebagai penegas jawaban mengiyakan. Dia pencet segera tombol double starter di setang kanan motor hingga mesin menyala. Kutepuk pundaknya berkali-kali.

" No'! No'! No'! ntar dulu, ntar dulu...!" kataku sambil meloncat dari boncengan motor berkabel kopling dengan tangki bensin berposisi di antara jok dan setang. Kuhampiri pintu yang terbuka separo itu lalu kulebarkan hingga terbuka penuh. Aku tetap berdiri di luar sambil sedikit membungkukkan tubuhku.

"Ma'af", kataku sopan pada gadis yang duduk di bangku di belakang pintu itu. Gadis yang dipanggil Ano dengan rayuan khas Palembang tadi.

"Betul kamu yang namanya Restu?" tanyaku kemudian.

"Iya, jawabnya tenang dan semakin melebarkan senyumnya. Gigi-ginya yang rapi semakin jelas terlihat. Bersih, tanda terawat dengan baik.

"Mmm..., boleh masuk?" tanyaku tanpa pedulikan Ano yang kutinggalkan di atas motor. Begitulah aku kalau sudah menemukan sedikit jawaban atas rasa penasaran, akan terus kugali jawaban hingga betul-betul gamblang.

Si gadis tidak menjawab, dia berdiri dari bangku tempat duduknya lalu menghampiri pintu. Dia buka grendel di bagian atas dan bawah pintu yang melekatkan pintu pada kusen. Empat segmen pintu kini terbuka lebar.

"Silahkan...", jawabnya lembut menggetarkan hati. Aku masuk dan mengambil posisi tempat duduk yang tadi kutempati saat menemui Ica. Sedang si gadis mengambil jarak dengan duduk di bangku satunya, yang berjauhan dari tembok dan menghadap lurus ke arah jalan gang. Ano yang penasaran turun dari motor dan segera duduk di sebelahku.

"Kamu diam dulu No'..." kubisiki telinga Ano. "Ini urusan penting, sepenting sepatu putihku yang dulu kau pinjam saat OSPEK!"

Ano pun terdiam dan merubah sikap menjadikan suasana bertambah formal. Aku sebetulnya geli melihat perubahan sikap Ano, mungkin dibenaknya ini urusan keluarga atau urusan laka lantas yang masih menggantung.

"Ano katanya mau cari makan?", tanya Restu sambil memberi kode mata kepadaku. Aku terkejut, Ano juga. Seperti menangkap pesan bahwa pembicaraan ini hanya boleh empat mata, tidak boleh ada pihak ke tiga. Makin mirip keadaan genting saja nih suasananya..., gumamku dalam hati.

"Oke, aku tinggal kalian berdua." kata Ano lantas berdiri. Dia tatap wajahku, katanya mengancam : "Jangan macam-macam kau Ik, lecek sikik saja Restu cantiekku ini, kubakar motor kau ini!"

Berpaling kemudian dia ke arah Restu, ganti tutur kata lembut : "Restu yang cantiek benar kah tak mau sekalian abang belikan makan?"

"Udah sana...! Nggombal aja kamu!", jawab Restu tegas. Kedua kalinya aku terkejut. Ano segera ngeloyor pergi setelah sesaat diinjaknya telapak kakiku. Aku cuma bisa meringis menahan sedikit sakit. Sementara Restu senyum-senyum saja melihatnya.

Aku takmenyangka jika dibalik sifat anggun gadis yang bernama Restu ini, terdapat sikap tegas dan wibawa. Dan tampaknya kita berdua punya sifat yang sama yaitu ambisius, selalu berupaya keras mengejar apa yang sedang kita mau, bahkan mungkin lebih besar Restu daripada aku. Kemauan Restu untuk berkenalan denganku takmembuatnya segan mengusir Ano secara halus, demikian aku tadi taksegan meninggalkan Ano di atas motor.

Selepas kepergian Ano, diulurkan tangannya padaku tanda meminta berjabat tangan. "Aku tadi sudah mengakui namaku Restu, kamu?" tanyanya mengiringi.

"Aku Aik, kamu sudah sering dengar kabarku dari Ica, nggak usah pura-pura...", jawabku sambil menjabat tangannya. Senyumnya berubah menjadi tawa kecil, persis suaranya yang terekam pertama kali di memori otakku.

"Kamu tuh nggak suka basa-basi ya orangnya", katanya masih sambil tertawa kecil.
"Tadi enak rotinya?" tanyanya kemudian.

Aku gelagapan merasa bersalah, kujaga sikap secepatnya, otakku berpikir seinstan mungkin mengolah kalimat yang sekiranya ridak membuatnya tersinggung. Dan... eureka (aku dapat)!

"Terimakasih ya rotinya, laris-manis tadi bareng temen-temen di kost", kalimatpun terucap. Kutatap matanya yang lebar tampak berbinar, legalah hatiku. Tanyaku pada diri sendiri, tidak suka basa-basi sama pandai ber-retorika beda nggak ya...?

"Tadi aku nanyanya enak nggak?" diulang pertanyaan Restu

"Tadi aku juga sudah bilang laris-manis, kupikir sudah jelaslah artinya", jawabku ber-retorika lagi dengan sama-sama mengulang kalimat.

Sejenak kami saling diam, aku sendiri sedang terus memutar otak, mencari kata demi kata yang pantas buat dirangkai jadi kalimat. Restu entahlah, aku tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Segera aku teringat tentang karakter perempuan yang cenderung lebih pandai menyimpan perasaan dengan memilih diam daripada bicara.

Dua kali aku pernah berpacaran sebelumnya, dan selalu dibuat pusing menghadapi sikap diamnya perempuan. Kini sudah 4 tahun aku tanpa kekasih, semua kenangan masa laluku mendadak kembali bermunculan. Mungkin dalam rangka membongkar lagi referensi-referensi kalimat yang sekiranya pantas diobrolin sepasang kekasih. Astaga! Saraf sadarku terstimulasi, menuntunku untuk kembali bersikap normal. Aku dan Restu belumlah sepasang kekasih, baru sebatas saling mengagumi.

"Mbak Ica cerita apa tadi?", tanya Restu membuatku terkejut untuk yang ketiga kalinya. Terkejut sebab kalimat tanya itu pula yang hendak kulontarkan, tapi rupanya Restu lebih cepat.

"Ah, tidak banyak. Ica cuma bilang kalau kalian kawan sekamar." jawabku. Pandanganku mendadak mengarah pada baju yang sedang dipakai restu. Atasannya kemeja lengan panjang motif bunga-bunga yang digulung bagian lengannya sampai ke siku, sedang bawahnya celana panjang berbahan jeans warna biru pudar, tanda sudah berulangkali dicuci. Busana semacam itu umum dipakai mahasiswi untuk ke kampus di waktu itu.

Sadarlah aku kalau restu baru pulang dari kampus, belum sempat mandi dan ganti baju. Gerak salah tingkahnya saat kupandangi baju dan celananya tambah menguatkan kesimpulanku. Aku tersenyum melihatnya dan mulai optimis menguasai suasana dan pembicaraan. Gadis anggun macam Restu, semalam ini kok belum mandi pasti merasa gak percaya diri.

"Aku tadi juga pulang kesorean tak seperti biasa. Hari ini aku meski mengumpulkan laporan, jadi ngebut tadi mengejar deadline dan ngejar-ngejar asdos (asisten dosen). Kamu baru pulang praktikum ya? Tadi si Ica cerita", kataku mencoba menghiburnya dengan sebuah kalimat pemakluman.

Restu mengangguk dan menunduk malu, percaya dirinya sedang di ambang kritis. Akupun semakin menguasai suasana.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part 7
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 7

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

GAYUNG BERSAMBUT

"Kamu mau mandi dulu?" tanyaku.

Tanpa kusangka, diangkat wajahnya dan ditatapnya tajam mataku dengan matanya yang lebar itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Lhah kok malah melotot?

"Kamu nggak suka ya ngelihatnya? Laki-laki itu maunya perempuan harus selalu tertib ya?!" jawabnya tiba-tiba dan sekali lagi membuatku terkejut. Rupanya Restu ini tergolong perempuan yang punya jiwa pemberontak, menuntut kebebasan.

"Bukan begitu...", jawabku sabar, mencoba menenangkan. "Justru aku yang merasa bersalah kalau kedatanganku mengganggu waktumu untuk urusan pribadi", terangku kemudian.

Restu kembali tertawa kecil sambil memandangiku, membuat heran saja. Bagaimana mungkin keseriusanku itu justru membuatnya geli. Ah, dasar perempuan! Umpatku dalam hati.

"Aku jadi lega, kamu bukan tipe cowok yang selalu menuntut penampilan perempuan", jelas Restu kemudian.

"Aku itu tidak mau seperti ibuku yang suka diatur-atur. Bapak selalu menuntutku agar sama seperti Ibu yang penurut dan mudah diatur-atur penampilannya semau bapak," jelasnya panjang lebar.

"Ma'af ya, kalau kamu tidak suka ngobrol sama perempuan dekil, kita bisa cukupkan saja obrolan sampai di sini", katanya menggertak - bercanda. Mungkin sedang menyusun kembali rasa pe-de nya yang tadi memudar. Sebagai lelaki yang berpengalaman pacaran dua kali, aku hapal sekali reaksi seperti ini.

"Di kampusku juga sama, kegiatannya kadang menuntut kita tanpa kecuali, laki - perempuan untuk pulang larut. Apa kamu nggak pernah lihat si Ica pulang dari kampus malam-malam?"

"Iya pernah. Tapi kan aku belum kenal kamu? Aku pengin tahu kamu itu tipe lelaki seperti ap..." kalimat Restu diputus dengan dua telapak tangannya ditutupkan ke mulut. Mukanya merona, tampak jelas sekali buat gadis yang berkulit kuning langsat. Ditatapnya mataku dengan pandangan takut menyelidik.

Aku terdiam dan membalas tatapannya. Jidatku mengernyit tanda belum paham pada kejadian yang tengah terjadi.

"Aku kebablasan ya...?" tanyanya kemudian.

"Res..., eh! Gimana sih manggil kamu? Kalau takpanggil "tu" nggak pantes kayaknya." kataku kemudian mengambil alih lagi suasana.

Restu tersenyum, rona wajahnya mulai memudar. Aku memang sengaja mengalihkan pembicaraan. Wajahnya kembali menunduk. Kulanjutkan kalimatku.

"Kamu kenal akrab ya sama si Ano?"

Restu senyumnya melebar.

"Kita kan tetanggaan kost dari sejak pertama jadi mahasiswa. Ano itu suka menggoda dari dulu. Bawaan darah keturunan Sumatera kali ya? Suka tidak tahan kalau lihat perempuan yang dianggapnya menarik".

"Bukan cuma aku saja yang sering digodain, semua kawan kost dan kawan kampusku yang main ke sini, asal bagi dia terlihat menarik, digodain deh habis habisan!".

Sebetulnya tidak usah Restu jelaskan juga aku sudah paham betul karakter kawanku yang satu itu.

"Iya, aku tau sifatnya Ano. Kami berkawan sejak awal kegiatan daftar ulang di kampus".

"Aku sering kok main ke kost-an Ano dari semenjak awal semester. Aku juga sering melihat Ano menggoda cewek-cewek yang melintasi jalan gang ini. Tapi baru kali ini aku melihatnya menggoda kamu seperti tadi. Maksudku, kenapa dari dulu aku nggak pernah melihatmu ya Res...?"

Restu menciutkan lagi senyumnya, didongakkan lagi kepalanya. Nafasnya dihela, lalu menatapku kembali dengan matanya yang lebar.

"Itulah yang membuatku pengin kenal kamu, mmm...maksudnya penasaran aja. Kamu tidak seperti cowok kebanyakan yang kujumpai."

"Rata-rata cowok yang kujumpai begitu cepat tertarik dari sejak kesan awal bertemu. Sebagian besarnya langsung menggoda atau malah merayu. Ano hanya salah satu dari sekian persen.

"Om om sampai kakek-kakek di terminal ataupun di bis sudah biasa merayuku. Aku tuh dari ngerasa risih sampai akhirnya terbiasa".

"Eh, kok jadi sombong banget aku ya? Mm..maksudku bukan begitu. Aduh...gimana ya njelasinnya?"

"Pantes aja kamu tadi gampang banget ngusir si Ano. Jadi kayak udah punya list (daftar) jurus-jurus penangkal rayuan lelaki gitu ya?!" kataku menanggapi penjelasan Restu sambil gantian ketawa kecil.

"Ano itu dulu sering ngapel ke sini. Pernah nembak aku buat jadi pacarnya".

"O ya? Jadi kalian pernah pacaran?"

"Enggak!" jawabnya tegas sambil melotot. Matanya yang sudah lebar semakin melebar ditambah menonjol.

"Aku nggak suka sama cowok perayu!".

"Lho kenapa? Bukannya perempuan itu suka dirayu?" tanyaku, teringat pengalaman pacaran dulu.

"Lagian si Ano itu sifatnya terlalu kekanak-kanakan bagiku. Jadi ya langsung kutolak saja sewaktu dia menembakku. Dan bener, setelah kutolak itu si Ano nggak pernah lagi ngapel ke sini".

"Jadi maksudmu kekanak-kanakan itu tidak gigih begitu ya?"

"Bukan cuman itu...", jawab Restu menurunkan nada bicara.

Tanpa terasa jam di dinding sudah menunjukkan jam 9 malam. Jam berkunjung di kost Restu dibatasi hanya sampai jam 1/2 10 malam. Pak kostnya sudah terlihat melintasi jalan gang di depan kami, tanda peringatan lampu kuning bagi siapapun yang menjadi tamu anak-anak kostnya. Restu yang melihat makanya mulai menurunkan nada bicaranya.

Aku mencoba memilah lagi kalimat untuk menutup pembicaraan kami. Agar tidak terkesan buru-buru tapi juga jangan sampai diusir pak kostnya Restu. Jeda waktu yang tinggal 1/2 jam itu harus aku manfaatkan dengan baik. Rupanya terhadap Restu, aku mulai tertarik. Seru juga diajak ngobrol.

"Res, aku sebetulnya belum sedikitpun mencicipi rotimu tadi. Ma'af ya...", kataku membuka lagi pembicaraan.

"Lho, kenapa?!" katanya sewot, tapi sudah kuantisipasi sedari tadi.

"Kayak nggak tau kost cowok aja kamu... Ya nggak kebagianlah, biasa...", jawabku menimpakan kesalahan pada kawan-kawan kost.

Restu tertawa kecil lagi tapi kali ini dengan raut wajah yang tampak sedikit kecewa.

"Sudahlah, hitung saja jadi amal kamu. Yang penting kita sudah berkenalan malam ini. Itu kan yang kamu mau?"

Restu menunduk, entah malu atau sudah menduga kalau aku mau mengakhiri obrolan. Dan dia enggan.

"Kamu tadi sengaja nungguin aku ngambil motor Res...?" pancing tanyaku

"Nggak lah, aku cuman masih males naik ke atas tadi. Emang aku tukang parkir...", jawabnya ngeles tanpa bisa sembunyikan malu.

"Aku memang sering lupa kalau bawa motor. Beberapa kali bahkan motorku kutinggal di kampus taktinggal pulang kost jalan kaki."

"Masih muda udah pikun kamu! Gimana kalau pacarmu yang ketinggalan?" Giginya yang rapi saat tertawa meringis membuatku sejenak tertegun.

"Ah, aku kan free nggak punya pacar", kataku disambut binar mata Restu. Tapi tak berapa lama disimpannya kembali.

"Kamu?" tanyaku sekalian karena dia sudah lebih dulu memancing.

Tak menjawab Restu, hanya menggelengkan kepala.

"Masak sih? Tadi kamu cerita banyak yang naksir... sampai om-om dan kakek-kakek! Jangan-jangan....", godaku dengan kalimat yang tak kulanjutkan. Aku yakin pasti Restu sudah paham.

"Jangan-jangan apa? Aku normal tau..!", jawabnya membela diri seperti yang kuduga. Kali ini urat lehernya yang melotot.

"Aku cuma sedikit tomboy", lanjutnya.

"Tomboy? Menurutku, kamu itu cuma pengin terlihat tomboy saja Res. Bentuk sikap adaptifmu karena keseringan digoda kali...", tangkasku sambil tertawa.
"Kalau aku sih melihatnya kamu itu masih anggun, masih tampak jelas feminin. Menurutku juga, ekspresi wajah kamu itu sebenernya yang bikin menarik buat digoda Res", lanjutku polos.

Kepada kawan-kawan perempuan aku memang suka kasih komentar atas penampilannya, apa adanya. Tidak peduli apakah akan menyinggung perasaannya atau tidak. Tapi juga tanpa ada maksud merendahkan. Jadinya sering kawan-kawan minta testimoniku karena mereka anggap aku lebih fair.

"Kok kamu nggak pernah nggoda?"

Glek! Aku menelan ludah. Ini pertanyaan yang lolos dari prediksi. Kugaruk-garuk kepalaku, bingung mau jawab apa. Mau terus terang, nanti menyinggung perasaan. Mau nggak terus terang, kenyataannya memang begitu. Hadewh...! Gumamku dalam hati.

Tanpa dinyana pula Restu bicara : "Kamu memang beda, dan baru sekarang aku jumpai". Syukurlah, Restu bisa mengerti, gumamku lega.

"E...aku pamit dulu ya. Bapak kostmu bentar lagi bakal lewat nih", kataku sambil menunjuk arah jam dinding dengan kepalaku. Restu mengerti.

"Iya. Kapan-kapan kalau aku bikin roti lagi kamu masih mau?", tanyanya. Pertanyaan yang lucu buatku, tapi jelas itu pertanyaan cek & ricek atas ceritaku tadi. Dia mungkin masih beranggapan aku bohong, dia masih yakin kalau aku tidak mau memakan rotinya karena kurang enak. Bukti bahwa ia butuh dihargai, sudah bosan untuk hanya sekedar dikagumi.

Aku sengaja tak menjawab, hanya berdiri sambil mengulurkan tangan untuk saling berjabatan. Restu membalas dengan terpaksa dengan ekspresi penasaran berbungkus senyum yang dikulum. Lalu kubalikkan badanku kembali menuju kost yang hanya perlu sekitar 25 langkah saja. Taklupa kubungkukkan sedikit badanku sebagai tanda hormat saat berpapasan dengan Bapak Kostnya yang berdiri agak jauh di arah jam 3.

Dibalasnya salam hormatku dengan senyum lebar, tanda bahwa beliau respek sama pemuda yang sopan. Pengalaman sebagai pengusaha kost khusus cewek selama 5 tahun tentu cukup memberi beliau referensi tentang berbagai kharakter tamu anak-anak kostnya.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part 8
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Quote:


Ane bagi cendol bagi bintang, bagi sundul juga, siapa tau dapat getahnya

emoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundulemoticon-Sundul
emoticon-Nyepi

ashiyyap!
Quote:
Part 8

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

BOCORAN RAHASIA

Baru 35 anak yang bisa kuhitung, berderet dalam 4 baris menyamping. Tiap barisnya diisi 10 anak sehingga mudah untukku mengetahui bahwa masih ada 5 anak lagi yang belum sampai. Sore itu matahari belum terlalu condong ke arah barat, para junior kami kumpulkan di halaman parkir kampus. Kami yang kumaksud adalah aku bersama beberapa kawan seangkatan ditambah beberapa mahasiswa 1 tingkat di bawahku dan beberapa orang senior 1 tingkat di atasku.

Kami tergabung dalam Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru yang bertanggung jawab membina para adik angkatan untuk pengenalan kampus di 1 semester awal mereka. Begitulah tradisinya waktu itu, menyita banyak waktu tapi kami menikmatinya. Dan sekarang hampir selesai tanggung jawab kami, tinggal 2 bulan lagi untuk kemudian mengakhirinya dengan inaugurasi.

"Kemana temanmu yang lima dek?" tanya Abdul, ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dalam kepanitiaannya berperan jadi koordinator. Rambutnya yang keriting sudah lebih 1 semester tidak dicukur, mengembang bak busa sabun cuci. Sengaja dia piara rambut untuk kegiatan ini, biar terlihat garang katanya.

Lama tak ada yang menjawab pertanyaannya, dimajukan posisinya selangkah lebih dekat dengan barisan. Diulangnya pertanyaan dengan volume lebih tinggi 2 kali.

"Jawab woi!", suara bariton Andi menghentak tiba-tiba dari belakang barisan, mengejutkan sebagian besar junior. Semua kepala ditundukkan segera, beberapa wajah terlihat memucat.

"Jawab dek!!!" teriak Irin dari arah kanan barisan, melengking Cumiakkan telinga.

"Ayo jawab dek!" teriak Ayat dari arah kiri barisan.

"Jawab dek!" teriak Agus dari depan barisan agak ke kiri.

"Ayo dek, jawab!" teriak Retno sambil menyeruak dari belakang barisan.

Bersahut-sahutan akhirnya teriakan kawan-kawan senior yang lain, terpancing suara Andi dan Eni. Begitulah kami memanipulasi suasana untuk menurunkan mental para junior. Wajah-wajah pucat semakin bertambah, dua anak matanya berkaca-kaca hendak menangis. Seorang yang tadi tersenggol Retno benar-benar menangis. Kami yang berdiri terpisah-pisah mengitari barisan junior itu tak mengacuhkan sama sekali mereka yang cengeng, justru mimik wajah kami sepakat menggarang.

"Mana komting?!", tanya Agus campur teriak. Komting adalah singkatan dari komandan tingkat, semacam ketua kelas, pemimpin yang dipilih sendiri oleh para junior melalui musyawarah seangkatan.

Merasa dicari, si komting mahasiswa angkatan baru pun mengangkat 1 tangannya. Dalam kondisi seperti ini, si komting sedari awal kami didik untuk bertanggung jawab penuh mewakili kawan-kawannya.

"E..., mungkin belum selesai membereskan peralatan lab kak, masih di laboratorium...e...membantu kakak askum (asisten praktikum)", jawab si komting terbata-bata tapi lantang.

"Kenapa tidak ditunggu dulu o' ooon...!" kata agus sambil mengelus kepala si komting dan menggoyang-goyangkannya. O'on itu kependekannya blo'on alias bodoh, sebelas-duabelas dengan tolol.

"Kamu itu egois semua!!!" teriak Irin lagi lebih melengking dari yang tadi, sambil ditatapnya barisan junior dengan mata mendelik. Aku yang disampingnya mengumpat dalam hati, telingaku berdenging seketika. Lalu kugeser berdiriku sedikit lebih jauh dari Irin.

"Sana disamperin ting!" perintah Abdul kepada si komting, kembali ia coba kuasai suasana. Si komting langsung berlari menuju ke arah gedung laboratorium yang tampak dari lahan parkir, tapi lumayan jauh untuk dicapai dengan jalan kaki.

"Kakak-kakak senior mohon tenang", kata Abdul menenangkan kami yang sudah siap dengan sandiwara kekerasan, kecuali aku. Aku tidak suka bersandiwara, aku lebih suka langsung "hajar" di luar acara seremonial seperti ini. Saat berpapasan di kampus, saat diminta bantu tugas praktikum atau saat di kantin. 

"Adik yang menangis hentikan cengengnya, justru itu membuat kakak senior di sini makin membentakmu", kata Abdul gantian kepada para junior.

"Kalian tau kenapa?" tanyaku dengan mengambil posisi sebelah Abdul, menyelanya tanpa interupsi. "Sebab kalau kalian cengeng, kalian nantinya akan merepotkan kakak-kakakmu yang jadi asisten dosen atau asisten praktikum. Kami tidak mau punya adik cengeng, manja dan pemalas, tidak disiplin. Lebih baik ambil keputusan dari sekarang, lanjut kuliah bersama kami atau pindah saja ke kampus lain!" imbuhku kemudian dengan nada akhir kalimat kutinggikan.

Junior yang menangis menyeka air matanya dan menahan tangis dengan sesenggukan. Tampaknya dia mulai paham arti bentakan-bentakan kami dari semenjak awal masuk acara OSPEK. Aku puas, mendapat peran juga akhirnya dalam sandiwara itu.

Si komting dan lima kawannya kembali dikawal Ica dan Darwati yang rupanya menjadi askum mereka. Ica lalu mendekat menghampiri Abdul dan memberi penjelasan. Abdul mengangguk-angguk, sedang aku menatap Ica masih dengan muka serius. Kutarik badanku menjauhi mereka berdua, aku ambil peran untuk tidak bisa menerima negosiasi Ica, jadi kubiarkan mereka berdua. Ya, semua sandiwara ini sudah direncanakan sebelumnya. Sandiwara yang membebaskan improvisasi sebebasnya asalkan masih di alur "benang merah".

Abdulpun menyuruh kelima junior dan komtingnya kembali ke barisan dan melanjutkan penjelasan-penjelasan. Kami para senior yang lain mulai berangsur dari mengerumuni barisan dan berkumpul-bernaung di bawah lajur bangunan lahan parkir motor. Ada yang lalu ngerumpi, ngobrol atau masih mengamati barisan junior dari tempatnya. Ica mendekatiku, senyum-senyum menyapa. Aku paham artinya, tapi pura-pura bertanya.

"Piye (gimana) Ca?"

"Aku dong yang semestinya bertanya...", jawab Ica. Kami memang belum bertemu sejak malam dimana aku berkenalan dengan Restu.

Quote:


"Alah pura-pura kamu Ca, mosok Restu nggak cerita", bantahku.

"Bukan tentang perkenalan kalian yang kutanyakan, respon kamu...gimana?"

"Baik, enak diajak ngobrol"

"I...iiih, Ai'! Bukan itu... Kamu gimana selanjutnya? Mau lanjut ke pacaran nggaaaak?"

"Ih! Kok kamu kayak wartawan infotainmen gitu? Emang Restu nitip pertanyaan ke kamu? Katanya ogah jadi mak comblang...."

"Enggak, penasaran aja...", jawab Ica sambil ketawa kecil.

Aku diam garuk-garuk kepala, sedang Ica matanya terus menatapku menunggu jawaban. Kuhela nafas, kulihat Abdul masih asyik memberi pengarahan ke para junior.

"Aku nggak bisa bilang Ca, cuma kayaknya beberapa hari ke depan aku ke kostmu lagi buat nemuin Restu", kataku. Ica tersenyum, puas tampaknya terjawab pertanyaan.

"Aku bilangin ya Ik, dari sejak awal semesternya, Restu itu se - kost - an dan sekamar sama aku. Sepanjang itu pula, banyak sekali yang ngapelin dan berusaha nembak dia. Tapi tak satupun yang diterimanya, artinya tak satupun yang membuat dia terpikat".

"Dia cerita malam itu kalau banyak laki yang mendekati, cuma memang gak cerita kalau belum pernah punya pacar sedari awal semester. Makasih infonya Ca", jawabku.

"Satu lagi takkasih bocoran mau?"

"Opo kuwi (apa itu) Ca'?"

"Ha...., traktir dulu dong....enak aja info gratisan!" celetuk Ica ngerasa di atas angin. Sialan nih anak, gumamku dalam hati.

"Ya udah, mau ditraktir apa kamu?" tanyaku ketus. Ica tertawa-tawa riang, ibarat anak kucing dapat buruan tikus terus dipakai mainan.

"Itu pe-er kamu, cari tau makanan kesukaanku, lalu antarkan kepadaku!" kata Ica kasih perintah seenaknya sambil alisnya dinaik-turunkan bikin tambah dongkol.

"Eh, apaan tuh pake dianterin segala?!", protesku.

"Eit! Aku itu sebenernya kan senior kamu. Harus nurut dong sama senior..., tuh!", tangkas Ica sambil menunjuk barisan junior dengan kepalanya.

"Okelah, deal!", jawabku tegas. Kupikir betul juga si Ica, selama ini aku jarang memperlakukannya sebagai senior. Sementara aku menuntut para junior yang pada berbaris itu untuk menghormati kesenioranku.

Diulurkan tangan Ica ke arahku. Kubalas menjabat tangannya dan kutarik hendak kugigit. Ica meronta, dikibaskan tangannya dengan muka sewot lalu ngeloyor pergi.


Continue to part 9
profile-picture
profile-picture
echariemas dan Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 9

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

BAD MOOD DAY

Hari ini entah kenapa tak satupun kalimat Pak Arko nempel di kepala, seolah masuk telinga kiri terus menembus ke telinga kanan. Aku sudah berusaha pasang konsentrasi baik-baik. Kupelototi papan yang penuh dengan goresan kapur a-La Pak Arko dan kupasang telinga baik-baik untuk mendengar penjelasannya. Tidak sampai 5 menit, mataku sudah melayang pandang, tak mampu meneruskan bayangan nyata yang sudah ditangkap retina menuju otak. Dan telingaku bagai goa tanpa sekat yang ada di perbukitan, tembus dari satu sisi ke sisi lainnya. Yang salah adalah otakku, takmampu lagi kukendalikan kayak komputer yang lagi hang. Kondisi hang yang tetap takbergeming dengan perintah "ctrl+alt+del", hanya bisa di "shut down" paksa dengan jurus satu jari tekan lama tombol power.

Aku menyerah, kusangga kepalaku dengan telapak tangan yang bertumpu siku berpenyangga lengan, beralas board bangku kuliah. Bangku kuliah itu serupa kursi lipat yang dilengkapi satu lengan berpapan kecil di sisi kanan. Papannya berengsel sehingga bisa dilipat sebagaimana kursinya. Di atas papan kecil itulah buku dan pulpen bisa diletakkan, kami biasa menyebutnya board. Fungsi lainnya adalah sebagai tempat siku menopang lengan yang telapak tangannya nempel di pipi, jidat atau umumnya dagu.

Kubiarkan saja otakku tanpa kendali, berpikir liar menyusun rencana dan mengkalkulasi segala kemungkinan. Kalau jaman sekarang mungkin bisa diibaratkan helmnya iron man. Jadwalku begitu padat hari ini, termasuk rencana menemui Restu lagi. Jadilah otakku sekarang sedang menganalisa list schedul hari ini, menentukan skala prioritasnya dan memprosentase keberhasilan berbanding kegagalan. Sekali lagi persis kayak helmnya iron man.

Keinginan untuk menemui Restu takbisa dibendung, meronta menguasai otak. Mungkin memang aku yang salah, seharusnya yang berusaha kukuasai adalah keinginan itu, bukan otakku. Keinginan yang muncul akibat berpapasanku dengan Restu pagi tadi tanpa sengaja. Awalnya kecil saja keinginan itu, tapi seiring berputarnya jarum jam ternyata makin membesar. Menjebol penguasaan otak sadarku yang sedari malam telah mengatur secara rinci urutan schedul hari ini.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)


"Hai Res, tumben sudah rapih...", sapaku pagi tadi. Menyapa Restu yang berdiri di depan pintu kostnya, mungkin sedang menunggu kawannya.

Sejak semester 1 sampai yang ke 5 ini selalu ada jadwal kuliah pagi, tepatnya Jam 7.30 - jadwal terpagi di kampusku. Di kost baruku ini aku lebih bisa molor waktu berangkat kuliahnya, pasalnya jarak dari kost ke kampus lebih dekat. Meski begitu, takpernah sekalipun aku berpapasan dengan Restu. Tanda bahwa dia tidak ada jadwal kuliah pagi di semester ini. Sekali dua kali saat berangkat kuliah dan mendongak ke arah lantai 2 kost Restu, aku melihatnya masih mengenakan daster. Pertama yang kulihat, Restu sedang menjemur cucian. Kedua kali, bercanda dengan kawan kostnya dengan mulut ditutup tangan menjaga kesopanan.

"Eh, iya nih. Ada pertukaran jadwal", jawabnya. Senyumnya mengembang dan matanya berbinar. Terhadapku dia benar-benar tak bisa menahan rasa, terpancar jelas dari rona wajahnya.

Aku mendekat ke tembok pagar kostku agar jarak tak terlalu jauh darinya. "Mau bareng?" tanyaku sambil memantul-mantulkan kunci motor di telapak tangan.

"Emmm...aku nunggu dijemput temenku Ik, sudah janjian dari kemarin", jawabnya sedikit ragu. Kalimat lain bahwa dia sebetulnya mau, tapi kadung janjian sama kawannya.

"Aiiiiik!" Mendadak muncul suara dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Ano. Ini tumben juga anak, jam segini sudah bangun. Pagi ini banyak kejadian langka kutemui, batinku.

"Pinjam helm aku ya?!" sambungnya. Berdiri Ano di teras kost, tangan kanannya memegang helmku yang berwarna biru tua polos, warna favoritku.

"Eh, ada dek Restu cantiek! Aduhai..., taksia-sia aku bangun sepagi ni" Lagi-lagi kalimat rayuan terlontar dari mulutnya. Yang dirayu membuang muka, kakinya sebelah kanan digerak-gerakkan dalam ritme beraturan.

"Mau kemana No' pagi-pagi gini?" tanyaku.

"Nemenin si Gembo mo cari sparepart seken ke bawah."

Ke bawah yang dimaksud adalah wilayah bebas perbukitan dari kota ini. Perlu sekitar 30 menit perjalanan naik motor hingga benar-benar bebas dari perbukitan. Wilayah yang kami tinggali sebetulnya adalah kaki gunung yang berbukit-bukit, jadi konturnya naik turun dan jalannya berkelok-kelok.

Bersamaan dengan penjelasan Ano, kawan Restu tiba dengan motor bebeknya yang berwarna hitam penuh aksesoris - dari spion sampai tutup pentil. Restu tampak girang jemputannya datang, tapi berpikir ulang sewaktu hendak duduk membonceng. Sedang kawannya tampak siap kembali memutar gas motornya, tanpa menetralkan posisi porsneleng - tanpa mematikan mesin motor.

Restu tanpa kuduga malah melangkah mendekat ke arahku, kawannya melongo ditinggalkan. Memperhatikan kami berdua yang hanya berjarak lima langkah dari balik kaca helm yang dikenakan. Wajahnya takterlihat jelas karena memakai masker penutup hidung, hanya matanya saja yang tampak.

Aku tertegun sesaat, segera kuatur sikap. Bersiap mendengar perkataan yang akan terucap dari mulut Restu yang bergigi rapi. Bersiap menatap lagi mata lebar Restu dari jarak dekat. Dengan cepat sikapku bisa tertata, sebab hingga detik itu memang terus terang aku masih belum ada rasa. Masih hanya sebatas mengagumi, seperti halnya mengagumi banyak kawan seangkatan di kampusku yang tergolong cantik. Dalam skor penilaianku atas kecantikan fisik perempuan, dari rank 1 - 10, Restu hanya menduduki peringkat 7.

"Aku berangkat kuliah duluan ya?" kata Restu sambil tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapih dan bersih. Berdiri dia takbergeming persis di depanku dengan sikap anggunnya, menunggu jawabanku. Sikapnya kutangkap sebagai bentuk sopan seorang anak yang berpamitan kepada orang tuanya, menunggu mendapatkan ijin untuk pergi. Aku terkesima! Kakiku bergetar.

Pada detik itu pulalah rasa itu menancap bak anak panah melesat dari busurnya - mengenai papan sasaran. Lelakiku tergugah, wibawanya memancar. Dengan senyum tertahan kuanggukkan kepalaku, mataku menatap kuat mata Restu yang lebar.

Restu semakin melebarkan senyumnya, senyum yang kini benar-benar memikat menggetarkan hati. Berbaliklah ia kemudian menghampiri kawannya yang sedari tadi menunggu dan mulai duduk di jok belakang motornya, membonceng. Gas motor ditarik, motornya mulai melaju.

Wajah restu terus diarahkan padaku, masih dengan senyum lebarnya ditambah lambaian tangan kanan. Kubalas lambaiannya, kakiku masih terasa bergetar sedang badanku terasa kaku. Kupandangi terus motor yang melaju itu hingga taktampak lagi dari pandangan mataku. Kemudian kubalikkan pula badanku dan kubawa melangkah menuju rumah kos.

Ano masih berdiri di teras, rupanya sedari tadi ia memperhatikan dari kejauhan. Tertawa dia sewaktu aku mendekat, dipukulnya dadaku dengan kepalan tangannya pelan. "Bisa juga kau Ik!" katanya membanggakanku. Lelakiku makin melambung, seperti ayam jago yang membusungkan dadanya dan berkokok kencang.

"Jadi sudah jadian kau sama Restu? Ah..., makan-makan nih kita! Kapan? Kapan?"

"Belum No' !" kujawab tegas. "Cepat kali kau tarik kesimpulan?" tanyaku lebih lanjut menirukan logat khas Palembangnya. Tawa Ano mereda berganti senyum simpul. Ditatapnya mataku kuat dan dipegangnya pundakku.

"Itu tandanya wanita sudah membuka diri Ik, segeralah kau tembak dia!"

"Bah! Kau ajari pula playboy macamku ini...", jawabku sombong - bercanda. Ano kembali tertawa lepas, lebih keras dari yang tadi. Tawa yang lebih dalam arti geli.

"Playboy cap kadal!", katanya. "Merayu cewek aja kau tak berani Ik...Ik....!"

"Ah, sudahlah! Aku harus berangkat, udah mau telat".

Kutinggalkan Ano menuju kamar, mengambil tas dan mengunci pintu. Ano rupanya tak mau begitu saja ditinggalkan, dia tahan langkahku dan menarik lenganku agar duduk bersamanya di sudut teras.

Ada dua kursi bersandar di sudut teras kost kami, lengkap dengan meja bulat dengan 3 asbak yang penuh puntung rokok. Di bagian lantai jangan ditanya, sampah plastik dan bungkus nasi berserakan di mana-mana. Sepagi ini, ibu kost belum mulai meninjau, dan selama belum terdengar teriakan marah beliau komentar tentang kebersihan, taksatupun dari kami yang bergerak mengambil inisiatif bersih-bersih lantai. Adat kebiasaan kami ini pula yang bikin si ibu kecanduan mengontrol kost miliknya. Dan sebaliknya, kami juga kecanduan teriak marah-marahnya si ibu.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to part 10
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Waah, keren idenya. Keren pula ceritanya. Semangat ya, buat lanjutin part berikutnya emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
Quote:


emoticon-army Ashiyyaap!
Quote:


Sip sip, mantap memangemoticon-2 Jempol
Part 10

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

BELUM ADA JUDUL

Kuikuti dengan terpaksa kemauan Ano untuk duduk di kursi teras kost, meskipun waktu dimulai kuliah tinggal 15 menit lagi. Alamat akan telat kuliah atau bahkan bolos kuliah pagi ini. Duduklah kami bersebelahan, Ano merangkulku dan mendekatkan kepalanya - penanda khas kalau dia mau bicara serius. Kupasang telinga baik-baik yang sudah hampir menempel ke mulutnya.

"Kau, sudah lama aku kenal Ik. Kita berdua sudah saling kenal tanpa ada yang perlu disembunyikan", kata Ano sambil menatapku, tatapan yang berusaha meyakinkan. Aku menangkap dengan lirikan mata sebab posisi duduk kita bersebelahan. Seperti dejavu, sebuah kejadian yang serasa sudah pernah kualami sebelumnya padahal belum.

"Kamu butuh duit?" balasku bertanya setelah sadar bahwa ini bukan dejavu. Aku teringat waktu pertama kali Ano kehabisan uang saku lalu nyamperin ke kostku yang lama. Seperti itulah gayanya bicara, persis!

"Alamaaaak, kau ni keluar dari konteks saja rupanya!" seru Ano tiba-tiba sambil menggoncang-nggoncang tubuhku. Gaya bicara kawanku yang satu ini memang suka meledak-ledak kayak karburator motor kalau kemasukan air. Begini ini yang bikin gendang telingaku menderita.

Rangkulan Ano makin dipererat, mulutnya kembali didekatkan ke telingaku lagi setelah sejenak tadi terlepas. "Gadis itu tadi kawan..., bagaimana sebetulnya? Ceritakanlah pada kawan kau ini!"

Kulirik jam tanganku, waktu tinggal 5 menit, biasanya aku sudah stanby di dalam ruang kuliah. Aku bimbang antara meladeni Ano atau segera berangkat. Kuambil keputusan cepat, kupilih untuk meladeninya, toh kalau kukebut juga sampai kampus bakalan telat. Aku terdorong rasa ingin tau pada keseriusan Ano terhadap urusan asmara, yang bagiku tak terlalu urgen buat dipikir. Juga rasa ingin tauku tentang Restu dari sudut pandang Ano si perayu wanita, playboy yang kutahu sudah 3 kali ganti pacar dari awal semester. Empat kali bahkan, termasuk mantan kekasihnya di kampung.

Kulepaskan rangkulan tangan Ano pelan-pelan lalu kugeser kursi tempatku duduk, agak serong biar bisa sedikit beradu muka dengannya. Otak sadarku sebetulnya berontak, sepenting apakah percakapan ini sampai harus korbankan waktu kuliah? Tapi bayangan senyum dan sikap Restu saat berpamitan tadi seolah mengganjal, mirip sederet barikade pasukan Brimob yang menahan laju demonstran lengkap dengan tameng dan pentungannya. Bayangan yang cukup kuat membuyarkan tiap detik waktu yang telah ku-schedule sedari malam.

"Kamu masih mau mengejarnya No'?" tanyaku mengejutkan Ano, sekaligus membuatnya menangkap informasi bahwa Restu sudah menceritakan kelakuannya di masa lalu.

"Nah! Ini baru masuk kau ke konteks..." jawab Ano sambil menggebrak meja, membuatku terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan, Ano sebetulnya masih menaruh hati pada Restu? Sampai-sampai pagi ini dia ajak aku bicara serius empat mata.

"Tenang..., buat kau Ik, aku rela mengalah. Khusus buat kau!" jawab ano kali ini dengan nada rendah dan seulas senyum, tapi tatapan matanya garang. Seperti itulah yang kumaksudkan sebagai "meledak-ledak", tinggi rendahnya nada bicara Ano itu bisa silih berganti dalam tempo yang begitu cepat.

"Cangkemmu (mulutmu) No'!" kujawab sambil kudorong jidatnya dengan tiga ujung jari. Ano tertawa terbahak-bahak, girang rupanya dia dengan sandiwara singkatnya itu. Sandiwara yang dengan cepat dapat kutangkap sebab telah hapal bertahun-tahun.

"Yo wis ( ya sudah ), jadi gak ada masalah di antara kita brother", kataku kemudian sambil mengacungkan kepalan tinju ke Ano. Dia balas kepalan tinjuku dengan kepalan tinjunya pelan, melengkapi tanda kompak yang kuajukan.

Gerakan saling mempertemukan kepalan tangan seperti itu sudah populer di jamanku, demikian pula sebutan brother-hanya belum disingkat jadi bro saja.


"Terus setaumu, Restu itu kayak apa No'?" lanjutku.

"Beh! Kau tanya aku pula? Sudah tuli kau rupanya.Takdengar kau, aku berkali-kali menggodanya?"

"Iki rak (ini bukan) masalah penampilannya No...!" terpaksa kujawab ketus. Aku paham Ano itu acapkali terjebak menilai perempuan hanya dari tampilan luarnya saja, makanya tidak pernah awet dia punya pacar.

"Utekmu kuwi isine (otakmu itu isinya) cuma wajah cantik dan bodi seksi thok (saja)!" Ano tertawa kecil mendengar lanjutan bicaraku, mengakui kelemahannya. Ya, setelah lama tinggal di sini akhirnya dia paham bahasa jawa, tapi tak bisa mengucapkannya.

"Kalian kan dari awal semester nge-kost di sini berdekatan, sudah saling kenal sejak lama, mosok yo weruhmu ki mung (masak ya taumu itu hanya) itunya saja. Aku perlu informasi lebih kawan...", kataku sambil kutepuk-tepuk pundaknya.

"Kau betul mau serius Ik? Kalau ya aku kasih tau, kalau tidak - malaslah aku menjawab".

"Kalian sudah kompak rupanya ya...", kataku sambil tersenyum lebar.

"He, kita yang tinggal di sepanjang gang ini sudah seperti saudara Ik, itulah maka aku betah. Kau kan baru 3 bulan ini..."

"Kalau begitu, ceritakanlah tentang Restu!" kuucap perintah sambil kutatap mata Ano kuat-kuat, tandanya aku sedang betul-betul serius.

"Tidak bisa! Aku dulu yang tadi minta cerita!" katanya sambil membalas tatapanku dengan lebih garang.

"Jadi kau pindah ke sini sebetulnya buat ngedeketin Restu?"

Pertanyaan itu membuatku sadar, inilah alasan sebenarnya kenapa Ano bersikeras menahanku di teras pagi ini. Rupanya dia pendam kecurigaan sejak malam lalu kutinggalkan cari makan sendiri, sedang aku berbincang dengan Restu di kostnya. Ditambah melihatku dengan restu pagi ini tadi.

Aku sadar, bagi teman se-setiakawan seperti Ano, upaya mendekati perempuan yang dekat dengannya secara diam-diam tanpa diketahuinya adalah sebuah pengkhianatan. Kalau kepindahan kostku adalah sebuah upaya mendekati Restu yang notabene tetangga kostnya, kenapa tidak bilang dari awal? Begitu pasti selidik dalam pikiran Ano.

"Jangan salah paham brother," kataku kemudian menenangkan Ano. "Seringkali aku main ke kost ini dari awal semester, ya baru sekarang ini aku tau Restu. Sumpah!"

"Lalu bagaimana kau malam itu bisa tiba-tiba mengkonfirmasi namanya untuk berkenalan?" tanya Ano dengan dahi mengernyit. Aku tersenyum, paham betul aku dengan logika mahasiswa Teknik Mesin yang saban hari dijejali matematik dan fisika.

"Kenapa kau lewatkan Ica dalam analisa logikamu? Bukankah sedari dulu kau tau kalau Ica dan Restu itu teman sekamar?"

"Ah, begitu rupanya. Jadi kau diberitahu sama si Ica?"

"Ya, dan malam itu pas sama kamu, aku tak ingat sama sekali wajah Restu, makanya aku lalu konfirmasi tentang namanya."

"Wis saiki (sudah sekarang) gantian kowe (kamu) cerita tentang Restu", lanjutku.

"Seriuslah Ik, aku sarankan kau untuk serius. Baru kali ini aku melihat Restu menatap laki-laki seperti tadi pagi dia menatapmu".

"Restu tidak pernah kulihat punya pacar selama ini. Aku sudah menyelidikinya dari dulu", lanjut Ano.

"Kowe (kamu) yakin No'?"

"Di antara yang berusaha mendekati Restu ada kawan-kawanku pula sekampus, hasil pengamatan kita tak jauh beda".

"Cewek macam Restu itu baik buat pasangan Ik, jangan kau pakai main-main!" kata Ano dengan semacam nada ancaman. Aku tertawa mendengarnya, ke-playboy-annya betapa bisa bercampur dengan ke-setiakawanan-nya. Lebih seperti cabe dan bawang yang telah menyatu sebagai sambal di atas cobek.

"Itu adik kau bukan, sepupu kau juga bukan. Kenapa kau ancam-ancam aku pula...?" kataku menggodanya dengan menirukan logatnya.

"Eh! Eh..., serius ini!", kata Ano tidak terima.

"Lantas bagaimana dengan gadis-gadis yang kau pacari selama ini? Kau selingkuhi - kau putus, cari lagi - selingkuhi lagi..." jawabku sambil tertawa. Kali ini aku betul-betul bisa menertawakan Ano atas segala kelakuan playboy-nya selama ini.

"Aku ini bukan kamu No'!" lanjutku masih dengan tawa. Ano hanya bisa diam memandangiku dengan pandangan penyesalan. Pandangan iri juga sebab takpernah berhasil mendapat hati Restu.

"Terus terang aja Ik, tiap kali lihat Restu, aku teringat emakku di kampung..."

"Mirip No'?" tanyaku dengan mata terbelalak.

"Bukan wajahnya, tapi pancaran wajahnya. Kalau lihat dia duduk Ik, kepala ni pinginnya aku taro' (taruh) aja di pangkuannya..."

"Ah, dasar playboy cap kadal!" tukasku. Aku tak menyangka, Ano yang punya tatapan mata garang itu ternyata masih memendam rasa rindu yang kuat kepada ibunya.

Bayangan itu kembali melintas, gadis dengan senyum manis dalam sikap sopan berpamitan, tak salah jika orang tuanya memberi nama Restu.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)


"Ada yang mau ditanyakan?" Pertanyaan Pak Arko sontak menggugah lamunanku.

Aku tak sadar jika posisinya berdiri sekarang tepat di depanku. Sengaja aku tadi memilih duduk di barisan paling depan. Dosen yang satu ini kalau sedang mengajar punya kecenderungan tebar pandangan pada deret tengah ke belakang, deret terdepan cenderung luput dari pandangan. Pikiranku sedang kacau, kalau duduk di tengah atau belakang akan mudah tertangkap perhatian, takutnya kalau tiba-tiba Pak Arko lempari pertanyaan.

"Jika tidak ada, saya akhiri sampai di sini kuliah hari ini. Tugas silahkan dikumpulkan ke komting, nanti tolong diantar ke meja saya ya...", lanjut Pak Arko sambil mengarahkan pandangan ke Tion, komting angkatan kami yang bertubuh pendek dan gempal. Kami sendiri lebih senang memanggilnya "Bantat", dulu si Mita yang pertama kali kasih julukan.

"Siap pak, segera", jawab Bantat.

Aku terkejut bukan kepalang mendengar ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini juga. Betapa semua kalimat Pak Arko sedari tadi terlewatkan kecuali salam pembuka dan kalimat penutup barusan.

Begitu Pak Arko keluar ruangan, langsung kuhampiri Uya untuk pinjam contekan. Uya adalah kawan angkatan terbaik versiku, sebab takpernah bawel untuk kupinjam catatannya, kutitipin fotokopi materi, hingga kumintai tolong mengerjakan laporan praktikum.

"Ayo cepetan siapa yang nitip ngumpulin tugas!" teriak Bantat sambil mengacung-acungkan kertas jawaban miliknya.

Ruang kuliah sontak gaduh dengan teriakan-teriakan kawan yang merasa belum selesai mengerjakan tugas, termasuk aku. Secepatnya kusalin jawaban milik Uya dan kuberikan ke Bantat sebab tak lama lagi kuliah berikutnya akan dimulai.

Usai kuliah ke tiga, ada jeda sekitar 1 jam sebelum praktikum. Usai praktikum, aku harus berkumpul di ruang HM (Himpunan Mahasiswa) untuk rapat panitia inaugurasi. Lalu sore jam 4 - jam 5.30 ada praktikum lagi yang harus diikuti.

Aku menghela nafas, hari ini betul-betul hari dengan jadwal terpadat. Bayangan itu kembali melintas, seorang gadis dengan senyum manis dalam sikap sopan berpamitan. Membuatku menambahkan 1 lagi alarm schedul dalam otakku, yaitu menemui Ica siang ini di kantin. Khawatir lupa, maka kupindah tasku di sebelah Uya dan duduk di sebelahnya. Kukatakan padanya agar mengajakku ke kantin siang nanti untuk menemui Ica biar aku nggak lupa.

"Traktir yo Ik...", jawab Uya menawar.

"Beres!", tegas kujawab. Disamping aku memang lagi butuh banget, mentraktir Uya juga tak akan menghabiskan banyak uang. Dia takut gemuk, paling cuma ambil ceriping pisang dan pesan segelas es cendol.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Interlog
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

INTERLOG

Kantor sudah sepi, kawan-kawan sudah pada pulang. Tinggal aku dan Yuna berdua yang stanby di kantor menunggu proses produksi yang belum juga kelar. Bertiga sebetulnya, hanya saja Andi tidak menetap duduk di kursi kantor. Mondar-mandir dia antara kantor dan ruang produksi. Target terselesaikannya proses produksi sore ini menjadi tanggung jawabnya. Sedang aku dan Yuna hanya mengamati kinerja pekerja dari layar monitor komputer, 8 CCTV dipasang di setiap titik ruang produksi yang terkoneksi ke komputer QC (Quality Control).

Sesekali kualihkan ke jendela facebook untuk mengatasi kejenuhan, sesekali juga kupantau microsoft outlook yang  waktu itu jadi alat komunikasi grup karyawan via chat. Pemberitahuan pertemanan belum juga berubah, padahal perintah add as friend di akun Restu telah aku klik sejak pagi tadi.

Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kebahagiaan keluarganya, itu saja sebetulnya niatku. Tapi mungkin saja di Aceh yang punya hukum otonomi khusus, punya tradisi  takmembolehkan perempuan yang sudah menikah sembarangan berteman dengan lelaki tanpa seijin suami, sekalipun hanya di medsos, begitu pikirku. Ya, Restu kini tinggal di Aceh mengikuti suaminya yang asli keturunan sana. Suami yang dulu adalah pesaingku selama kami masih berpacaran. Pesaing yang gigih bergerilya, menyerang diam-diam tanpa  kuketahui secara pasti geraknya. Aku salut! Salut dengan strateginya.

Kubuka lagi jendela Winamp pada layar komputer, kucari folder album lagu Padi  di memori hardisk lalu ku play. Kuputar volume speaker aktif di bawah meja kerjaku biar tambah kencang bunyinya. Yuna menoleh ke arahku, hanya bisa geleng-geleng kepala. Lalu kembali lagi pada monitor komputernya sendiri melanjutkan kerjaannya. Entah apa kerjaannya, aku dan Andi takmau kepo, sebab kepo di perusahaan kami justru bisa menjebak kita dengan kerjaan baru, sebagai sebuah bentuk solidaritas kawan se-kerjaan.

Quote:


Pikiranku kembali melayang pada kenangan 6 tahun yang silam. Melayang pada sebuah bayangan seorang gadis dengan senyum manis dan sederetan gigi yang tersusun rapih.

16 Juli 2009, Muara Baru - Jakarta Utara

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part 11
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan gwoks77 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 11

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Racun Kopi Nikotinamida

Kantin di kampusku ada 3, satu di dekat gedung D - area kekuasaan anak jurusan Matematik, satu di dekat gedung E - area kekuasaan anak jurusan Fisika, dan satu lagi di dekat gedung B - area bebas karena dekat Dekanat (gedungnya Dekan Fakultas dan para pegawainya).

Area kekuasaan yang kumaksud bukanlah sebuah bentuk premanisme, hanya berarti mayoritas dipakai kuliah oleh mahasiswa jurusan tertentu yang kemudian menjadi tempat yang sering digunakannya untuk kegiatan non akademik.

Semua kantin terletak di lantai satu, berupa bangunan tersendiri yang dibikin sendiri, yang bersebelahan dengan gedung kampus. Seperti kantin yang hendak kutuju siang ini bersama Uya, bentuknya hanyalah ruang bersekat calciboard dan terletak tepat di sebelah turunan tangga gedung B lantai satu. Sangat sederhana, semacam bangunan minimalis memanfaatkan ruang yang ada saja secara efisien.

"Ada apa sih Ik kok tumben kamu ngejar-ngejar ketemuan Mbak Ica?" tanya Uya selepas Bu Kus mengakhiri kuliahnya siang ini.

"Ada deh...", jawabku sekenanya. "Yuk, cepetan!" ajakku sambil berdiri duluan. Uya segera mengemasi peralatannya lalu menyusulku bangkit dari bangkunya.

Kami segera melangkah keluar ruangan, Vita yang se-kost-an dengan Uya turut pula membuntuti kami berdua. Tak sia-sia kami melangkah cepat-cepat sebab kantin masih belum terlalu ramai. Kutemukan Ica seperti biasa di sudut ruang kantin, tempat favoritnya.

"Udah sana Ya' mo pesen apa! Aku es kopi aja segelas!", kusuruh Uya dan kutinggalkan dia berdua bersama Vita tanpa peduli mau pilih tempat duduk sebelah mana. Aku ngeloyor mendekati Ica, mengambil satu kursi yang masih tersisa di dekatnya. Dua kursi yang lain telah diduduki Anty dan Lista, kawan satu gank-nya Ica - satu angkatan.

"Asyiii...k, ada yang mau ntraktir nih!" seru Ica melihatku duduk berhadapan dengannya. Anty dan Lista ikut girang mendengarnya, tampak dari senyum dan mata mereka yang berbinar. Dasar cewek! Maunya ngirit pengeluaran aja... Gerutuku dalam hati.

"Wah, ada apa nih Ik? Tumben...", tanya Anty segera.

"Ulang tahun ya Ik?" susul tanya Lista.

Aku tersenyum tapi membisu, diberondong pertanyaan cewek-cewek yang terkenal ceriwis di angkatannya itu sebenernya paling males aku. Makanya aku sering heran sama bapaknya Yuna, tukang sayur keliling yang sering dikerubutin ibu-ibu kompleks. Kok bisa ya ngejalanin hidup begitu? Pikirku selalu.

"Wis ojo do ceriwis (udah jangan pada cerewet), pesen opo wae sakkarepmu (pesan apa saja sesuka kalian)!" kataku tegas.

"Aku perlu ngobrol karo (aku mau bicara sam) Ica berdua". Berhamburan Anty dan Lista beranjak dari tempat duduknya segera, menghampiri ibu kantin menambah pesan hidangan. Tinggal aku dan Ica berhadapan, terpisah meja kantin persegi bertaplak merah yang besarnya takseberapa.

"Piye (Gimana) Ik? Informasi tak akan kubagi kalau permintaanku kemarin belum diantar ke kost-an", kata Ica mendahuluiku. Aku mengatur nafas, berusaha menguasai diri agar kalimat yang mau kuucapkan tertata baik.

"Soal itu pasti kutepati Ca' tenang aja, asal nanti kausampaikan ke Restu kalau aku mau main", jawabku.

"Kok langsung begitu? Nggak mau tau informasi rahasiaku dulu?"

"Justru itu, kamu minta makanan kesukaan sebagai ganti informasimu. Lah aku kan gak weruh (nggak tau)... Aku pengin tau dari Restu".

"Kue bandung spesial coklat-keju. Udah gak usah perlu tanya Restu kan?!"

"Ah, sialan kamu Ca' !", kataku kecewa. Ica ketawa ngakak, rupanya dia sudah mencium alibi licikku.

Ica tak mau kebiasaanku menerobos nara sumber sendiri berhasil kali ini. Dia sudah hapal kelakuanku yang organisatoris ini keluar-masuk gedung Dekanat maupun Rektorat untuk memastikan informasi sendiri, tak pernah yakin dengan cerita yang beredar di kampus.

Jangan dikira sebelum ada medsos itu tak ada hoax, berbagai kabar burung itu sudah biasa beredar di kalangan mahasiswa waktu itu.


Jika sudah kudengar sendiri cerita dari Restu, informasi yang dipunya Ica tentu takkan jadi rahasia lagi, dan dia tak jadi bisa menikmati makanan favoritnya secara gratis. Begitu sebetulnya siasat yang ku utak-atik sedari tadi hingga tak sedikitpun penjelasan Bu Kus ada yang nyanthol, tapi ternyata Ica lebih cerdas dari perkiraanku.

"Oke, kue bandung akan sampai ke kostmu malam ini, asal aku bisa menemui Restu juga!" aku menawar.

"Bisa diatur....", kata Ica tersenyum bangga dengan kemenangannya.

"Kamu itu malas jadi mak comblang, malah sukanya jadi preman ternyata...", gerutuku.

"Bukan begitu Ik, wis tha (sudahlah)..., nanti kalau kamu sudah dengar ceritaku aku yakin pasti akhirnya bisa mengerti".

Obrolanku dan Ica sejenak terputus oleh pamit Uya dan Vita. "Ik, kami duluan ya... Beneran ditraktir kan? Semua sudah dicatat sama Ibu kantin."

"Lho, emang mau pada kemana? Praktikumnya kan masih lama?"

"Ke musholla dulu. Yuk Mbak Icaaa...!", pamit Uya dan Vita bersahutan sambil melambaikan tangan kepada Ica.

"Iya...iya, yuk....!" jawab Ica membalas lambaian tangan mereka.

Kami terdiam sejenak, Ica melanjutkan menikmati pisang coklatnya dan aku menyeruput es kopi yang sedari tadi kudiamkan setelah disuguhkan Mbak Pur asistennya Ibu Kantin. Nama Ibu kantin sendiri tidak pernah kita tau, sudah terlanjur nge-brandnya begitu, terwariskan dari generasi ke generasi.

Aku menoleh ke arah duduk Anty dan Lista, rupanya bertambah banyak saja kawan ngerumpinya. Yuna, Odik dan Agus tampak tertawa-tawa bersama mereka. Begitulah waktu jeda di kampus, bagi kita yang sudah terbiasa gak sarapan pagi, kantin akan menjadi tempat favorit buat ngisi perut sambil bercanda bersama.

"Kamu ditunggu Restu dari kemarin-kemarin, kenapa baru sekarang mau main Ik?", tanya  Ica kembali mengawali obrolan. Aku tersenyum, pertanyaan ini sudah kuduga akan ditanyakan Ica.

"Durung kober (belum sempat) lah Ca, koyok gak tau (kayak nggak pernah) semester 5 wae (aja)", ucapku. Semester 5 adalah semester terpadat kegiatan kuliah maupun praktikum di jurusanku.

"Ah, kamunya aja yang kebanyakan urusan organisasi Ik! Apa untungnya sih?"

"Ye..., kamu ini berpikirnya untung-rugi aja Ca'! Jangan semua kamu analisa pake metode kuantitatif dong... Sekali-kali pakai kek analisis deskriptif..."

"Hemmm....gayamu Ik kayak mau cumlaude aja! IPK tuh dibenerin...!" balas Ica nyinyir. Ya, dia pernah lihat transkrip nilaiku di semester sebelumnya yang kayak rujak, mengandung nilai C, D dan 1 nilai E yang mutlak harus diulang.

Aku tertawa kecil lihat nyinyir khasnya Ica. Kusruput lagi kopiku lalu kulanjutkan lagi bicara : "Organisasi itu....".

"Wis hop! (Sudah, cukup!)", bentakan datar Ica memutus pembicaraan. Tanpa kuprediksi, Ica condongkan duduknya lebih ke depan dan ditatapnya aku serius.

"Yang mau kubocorkan ke kamu itu kisah masa lalunya Restu saat SMA, itu yang bikin dia belum mau berpacaran sampai sekarang! Dan kamu adalah lelaki pertama yang berhasil melepas belenggu trauma masa lalunya!", tegas Ica setengah berbisik.

Glek! Aku menelan ludah, mataku mendelik lalu jidatku mengkerut. Ica benar-benar menaikkan nilai informasinya jadi makin mahal. Ibarat media online yang sedang fokus pada kasus korupsi, apa yang dikatakan Ica seolah diucapkan oleh ketua KPK kepada wartawannya sebelum resmi jumpa pers.

"Kenapa nggak sekarang aja sih Ca....?!" rengekku.

"Heish...! Kamu bentar lagi meski praktikum dan aku ada janji sama dosen pembimbing. Kamu salahnya sendiri gak dari kemaren-kemaren....", tampik Ica atas rengekanku.

Aku menghela nafas, kuteguk segelas kopiku - tak lagi kusruput. Otakku makin butuh zat penenang seperti kafein, bahkan mungkin nikotin. Ica paham gelagatku, dia pastikan kalau aku sebentar lagi pasti menyulut rokok. Maka berpamitanlah dia, Anty dan Lista, kemudian meninggalkanku sendiri bersama semua kertas bon yang harus kubayar.

Prediksi Ica benar, kubayar semua bon ke Bu kantin plus kubeli sebungkus rokok, takperlu kusebut merknya. Lalu kuhampiri Yuna buat menemaniku merokok di tempat lain. Tak akan pernah ajakan merokok itu ditolaknya, kecuali sedang sibuk sekali dengan urusan pribadi.

"Tumben-tumbenan ada apa Ik?", tanya Yuna sepanjang perjalanan menuju lahan di sudut laboratorium yang ditumbuhi pohon liar tapi malah menyerupai taman. Lokasi paling aman buat merokok di kampus kami. Aman bukan terhadap larangan, tidak ada larangan merokok waktu itu. Tetapi aman dari cibiran dan penolakan dari para aktivis anti rokok di kampus yang kian hari kian bertambah saja jumlahnya, mayoritasnya mahasiswi.

"Ada urusan mendesak brother, aku kayaknya gak bisa menunda", jawabku sambil menghisap sebatang rokok perdana itu kuat-kuat. Perdana artinya yang pertama kali terambil dari bungkusnya, bukan merek.

Yuna semakin penasaran dan terus mendesak. Terpaksa kuceritakan sedikit kisah untuk mengurangi paling tidak 20 % beban pikiran di kepala. Dengan Yuna, aku yang tergolong introvert ini bisa terbuka. Yuna adalah anak sulung dengan 7 adik, cukup supel dan sabar berhadapan denganku yang notabene anak bungsu. Nasibnya tidak begitu baik, dia lahir di tengah keluarga yang minim penghasilan. Beruntunglah karena ada nikmat Ilahi yang begitu jelas tampak padanya, yaitu anugerah kecerdasan.

Yuna hanya perlu sekali membaca catatan untuk kemudian hafal dan siap mengikuti ujian. Kecerdasan itulah yang membuatnya tak perlu ketertiban waktu belajar sehingga jam berapapun siap jadi kawan ngobrol ataupun kawan keluyuran bagi kawan-kawan. Kecerdasan itu pula yang membuatnya tetap bertahan hidup selama ini dari ditraktir kawan-kawan yang dikasih contekan jawaban setiap ujian. Hampir tiap hari ada ujian di kampusku, mulai pre-test dan post-test (dalam praktikum laboratorium), ujian dadakan dari para dosen yang super sibuk, mid semester sampai ujian semester.

Quote:


Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to part 12
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 12

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Perjuangan Tak Sia-sia

"Berapa banyak Ik?" tanya Yuna setengah teriak sambil menoleh ke arahku. Dia berdiri di depan  kios penjual kue bandung, sedang aku duduk di atas motor agak jauh di belakangnya. Dia sendiri yang mengajukan diri memesan kue bandung, kuberikan selembar uang 20 ribuan.

Pembaca millenial jangan heran, duit waktu itu belum terlalu jatuh nilainya kayak sekarang. Makan bergizi standard minimal a-la anak kost berupa nasi dengan lauk sayur plus telur saja cuma 2.000 rupiah. Sama teh manis hangat tinggal nambah 500 rupiah. Nah, menu spesial kue bandung waktu itu hanya dijual 6.000 rupiah satu porsinya.


"Tiga porsi!" jawabku setengah berteriak pula. "Spesial coklat-keju!"

Lalu-lalang kendaraan dengan kepulan asapnya makin menambah dekil kami berdua. Bayangkan saja, jam segini (18.10 wib) kita baru pulang dari kampus sedari pagi. Debu yang menempel di tubuh bertambah akibat perjalanan naik motor 15 menit menerobos kemacetan untuk sampai kios kue bandung. Dan sekarang, asap-asap knalpot itu mengirimkan molekul karbondioksida ke seluruh badan, bak bedak make up artis sebelum disorot lampu kamera. Lengkaplah wajah kami ini memancarkan aura yang teramat kusut.

Jadwal rapat HMJ pun spontan kucancel tadi, aku terhipnotis ucapan Ica di kantin yang bikin syahwat berorganisasiku luntur seketika, berganti dengan naluri detektif menguak misteri. Irin sebetulnya protes keras atas pamitku tadi, gak asyik dia kalau mbahas rencana acara tanpaku. Irin adalah mahasiswi 2 tingkat di bawahku yang sudah menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri. Perlu waktu agak lama tadi buat menenangkan Irin agar gak ikutan bolos rapat malam ini.

Kulihat Yuna masih menunggu si abang tukang kue bandung memanggang adonan, tampaknya tinggal satu porsi lagi untuk menggenapi pesanan. Aku sudah taksabar rasanya, kakiku bergerak-gerak sendiri menghentak berirama. Ucapan Ica di kantin tadi seolah lagu yang diputar dalam mode auto reply, terus mengiang menembus bawah sadar. Seandainya kupakai tidur, pasti bakalan ngigau. Takmau aku jika itu menjadi ilusi, semua meski jelas malam ini.

"Yuk tarik bro !" kata Yuna menghampiriku lanjut naik membonceng di jok belakang motor. Kutoleh bungkusan yang dia bawa untuk memastikan jumlah yang dipesan telah sesuai kemauanku. Genap ada 3 kardus kecil di dalam bungkusan yang ditentengnya, artinya 3 porsi kue bandung spesial coklat-keju terbungkus sudah. Dua untuk Ica, satu untuk calon kekasihku Restu.

Meluncur kami berdua menuju kost Ica dan Restu, kutarik kencang gas motor mempercepat laju. Yuna terus pegangi pundakku sesekali memijit kuat-kuat, khawatir aku terbawa nafsu sehingga kurang waspada. Mungkin juga sambil senyum-senyum di belakang lihat kelakuanku yang sedang dibakar api asmara ini. Seperti api unggunnya anak Pramuka yang makin malam makin menyala-nyala.

Sesampainya, kuparkir motor di depan kost, tanpa mampir dulu ke kost ku sendiri. Sudah ada planning sebelumnya yang kurancang dengan Yuna. Dia akan menemaniku sebentar sampai berkenalan juga dengan Restu, lalu pamit duluan dan bawa motorku sama Ano ke game center.

Yuna dan Ano sudah kukenalkan sejak semester awal, langsung akrab mereka karena sama-sama berdarah Sumatra. Ano dari Palembang, sedang Yuna kedua orang tuanya asli Padang tapi tinggal di Cilacap. Berdua kalau sudah beradu main Counter Strike, se-ruangan game center akan segera heboh dengan teriakan-teriakan tabu. Para gamers pelanggan yang lain sangat hapal mereka berdua. Bahkan rencananya mau dijadikan ikon sama pemilik game center.

Pintu kost Ica sudah terbuka 2 segmen, tapi tak tampak ada orang. Kupencet bel 2 kali beruntun pendek, ulang lagi, lalu 1 kali agak panjang. Itu adalah kode khusus buat tamu yang cari Ica di malam hari, menghindari berteriak supaya tidak gaduh. Di gang kompleks tempat kost kami ada aturan jam tenang sebagai bentuk perhatian warga terhadap kenyamanan kegiatan belajar mahasiswa.

Ica pun muncul menuruni tangga dengan tawa riang menyambut kami, pastinya sedari tadi sudah menunggu. Tawanya bertambah keras saat menatap kami berdua yang tampak dekil dan lusuh.

"Ampuuuun! Pasti belum pada mandi deh... Sini masuk!"

Aku dan Yuna segera mengambil tempat duduk berbentuk bangku memanjang bersandar berbahan kayu jati itu. Seperti biasa, aku ambil posisi yang di dekat pintu. Yuna segera mengulurkan bungkusan kue bandung yang ditentengnya sedari tadi.

"Ye....! Masih anget!" teriak Ica girang bukan kepalang, bakal terpenuhi keinginan menikmati makanan favoritnya.

"Eeeniiii.....!" teriaknya kemudian, kencang sekali sampai menggema, terpantul tembok kost yang tinggi dan tebal.

"Ya mbaaa...k" sahut suara dari arah lantai dua.

"Sini doooo....ng turun sebentar!"

Yang dipanggil dengan nama Eni muncul, rupanya anak kost baru - tampak jelas dari tampangnya yang masih belia dan culun. Diulurkan bungkusan kue bandung di tangan Ica kepada Eni.

"Ini tolong ya ditaruh piring, terus nanti bawa ke sini yang satu porsi buat nyuguhin mas-masnya. Eh, kenalan dulu sini..."

Eni mengulurkan jabat tangannya padaku sambil membungkuk sopan sekali, perilaku seorang junior terhadap senior yang telah jadi budaya - gak di kampus - gak di kompleks. Artinya sudah begitu mengakar di wilayah seputar kampus.

"Eni...", katanya halus.

"Aik", balasku ja-im (jaga image)

"Eni...", katanya lagi gantian kepada Yuna dengan uluran jabat tangannya lagi.

Yuna yang berdarah Sumatra pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Sekalipun culun, si bocah ini menyimpan wajah manis yang mengundang gairah menggoda. Dijabatnya tangan Eni tak segera dilepaskan sambil berkata dalam nada rayuan : "Yuna. Emmm..., Eni siapa kepanjangannya?"

"Eni Rahmawati kak..."

"Ambil jurusan apa?"

"Saya di administrasi niaga kak..."

"Politeknik dong ?!" sambung Yuna. Yang ditanya mengangguk malu-malu.

"Eeeh, sudah..sudah!" bentak Ica sambil memaksa lepas jabat tangan Yuna - Eni, bermaksud melindungi junior kostnya dari rayuan berbahaya. "Sana! Cepet dikit ya En...!"

"Iya kak !" jawab Eni tegas, kesadarannya pulih oleh bentakan Ica. Loloslah dia dari nada rayu Yuna setelah sempat terbuai.

"Eiiit !!!" cegahku yang dari tadi was-was. "Yang satu kardus..."

"Yang satu kardus kasihkan Mbak Restu! Bilang kalau itu dari Mas Aik...!" potong Ica.

"Betul kan Ik?!"  katanya gantian menatapku, meminta pembenaran bahwa dia paham maksudku. Akupun mengangguk meng-iya-kan.

Eni yang disuruh juga hanya mengangguk - takmenjawab, segera melangkah cepat membawa bungkusan menaiki tangga ke lantai dua. Yuna wajahnya kecut ditinggalkan Eni, rayuannya putus di tengah jalan. Diliriknya Ica tanda kecewa - protes, dibalas Ica dengan tatapan tajam mempertahankan diri. Aku senyum-senyum geli melihatnya, pengin kujengguk kepala Yuna tapi kuurungkan. Dia marah besar kalau kepalanya disentuh, katanya itu sebuah penghinaan bagi orang Padang.

"Kamu ngapain sih Ik bawa-bawa Yuna segala? Mosok laki gak berani sendiri..." sindir Ica lebih kepada Yuna. Sama kayak Restu, Ica juga sensitif sama lelaki perayu.

"Kamu tuh sentimen ya emang dari dulu...?!" kata Yuna kesal.

"Kalau iya terus kenapa ?!" jawab Ica ketus sambil berkacak pinggang.

"Uwis...uwis...( sudah...sudah... )!" kataku melerai. Terpaksa bangkit aku dari duduk lalu mengambil tempat di antara mereka berdua. Kusenggol Yuna agar bergeser biar agak jauh posisinya dari Ica.

Takberapa lama Eni nongol lagi dengan sepiring kue bandung spesial coklat-keju yang uapnya yang masih mengepul. Iklim di wilayah kita tinggal ini tergolong dingin dan lembab, sering berkabut kalau malam. Makanan dan minuman yang hangat saja akan menampakkan kepulan asap di atasnya. Wajah Yuna yang tadi kecut sementara cerah kembali, begitu juga kerutan wajah Ica mulai pudar. Yuna senang melihat Eni, sedang Ica senang melihat kue bandung favoritnya.

"Situ saja dek, taruh deketnya Mbak Ica !" kataku sambil menunjuk space kosong sebelah Ica. Sengaja kudahului sebelum Ica yang memerintah sambil kuinjak telapak kaki Yuna, sebuah kode biar dia nggak berulah lagi.

"Eee..., Mbak Restu nitip nanya mbak : bolehkah ikut bergabung?" tanya Eni sambil meletakkan sepiring kue dekat Ica.

Yang ditanya takmenjawab, hanya kasih kode pakai tangan tanda gak boleh. Lalu kasih kode lagi agar Eni segera kembali ke atas. Eni menurut. Dilempar pandangan Ica kemudian ke arahku. Aku mengerti, artinya sudah ada plan yang sudah diatur Ica. Yuna menghela nafas, urung terjawab penasarannya tentang seperti apa rupa Restu yang membuatku jatuh hati.

"Icipin Ca' kuenya, coba gimana rasanya menurutmu..." responku segera untuk menunjukkan bahwa aku sudah menangkap kode tatapannya.

"Ica aja yang kau tawarin Ik?" protes Yuna sambil menelan ludah.

"Aku nggak nawarin Yun, cuma minta testimoni aja. Kau sendiri yang kasihkan kue itu waktu masih bungkusan tadi ke Ica, berarti kan sudah jadi miliknya Ica. Ica dong yang berhak nawarin..."

Ica sementara takmenggubris, diambilnya sepotong kue bandung dan dinikmatinya penuh penghayatan. Satu gigitan dikunyahnya pelan-pelan sebelum akhirnya ditelan.

"Mantap Ik !" kata Ica dengan rona muka penuh kepuasan. Digigitnya lagi potongan kue dan dikunyah pelan sambil melirik menggoda Yuna.

"Udah Ca' habisinlah sendiri! Aku jadi hilang nafsu lihat kau makan kue", kata Yuna membalas. "Gak tega aku melihatnya..."

Aku tertawa-tawa menyaksikan tingkah kedua kawanku ini. Ica berdiri dari tempat duduknya, diambilnya sepiring kue itu dan disodorkannya ke Yuna. Yuna ambil sepotong. Disodorkannya padaku, aku menggeleng. Dibawanya lagi sepiring kue itu duduk bersamanya. Yuna geleng-geleng kepala melihatnya. Aku kembali tertawa-tawa terhibur tingkah Ica yang seperti anak kecil, yang tak begitu rela berbagi makanan kesukaannya.

Kulirik jam dinding yang tergantung di tembok, posisinya kali ini tepat di atas kepala Ica. Kurogoh saku celana menggapai kunci motor lalu kusodorkan ke Yuna. Kutatap matanya kuat-kuat, kode bahwa sudah waktunya ditinggalkannya kami berdua. Dimasukkanlah potongan kue terakhir Yuna ke mulut lalu disambutnya kunci motor yang kusodorkan. Mulutnya penuh kue tak bisa bicara sehingga hanya melambaikan tangan ke Ica untuk berpamitan. Ditinggalkan kami berdua lalu kabur bersama motorku sesuai rencana yang sudah kami sepakati tadi.

"Itu kue bandung yang kiosnya dekat kost lamaku Ca'. Dulu kawan-kawan kost lama kalau beli pada di situ. Aku pernah ikut nyobain, menurutku sih enak. Ya syukurlah kalau pendapatmu juga sama", kataku membuka pembicaraan sebelum nanti menuju ke serius.

"Ngapain sih Ik jauh-jauh? Di sekitar sini kan ada juga yang jual. Widiiih..., penuh perjuangan nih artinya?"

"Lha menurutmu lebih enak mana kalau dibandingin ?"

"Iya sih, lebih enakan ini. Kenyalnya kue pas gitu lho! Kejunya juga kayaknya pakai yang merek bagus deh".

"Berarti perjuanganku tak sia-sia kan ?!"

"Boleh juga perjuanganmu Ik. Makasih ya...?!"

"Nggak makasih aja kan?"

"Iya iya...", jawab Ica sambil tertawa kecil. "Terus kamu mau ceritaku apa mau ketemu ketemu sama Restu?" sambungnya sambil menunjuk jam dinding.

"Iya Ca', dilema memang. Perjuanganku membelikanmu kue bandung berakibat terpotong banyak durasi waktu yang tersisa".

"Dasar kamu itu Ik, jadi keliatan kan sekarang kalau kamu lebih cenderung memburu rasa penasaranmu daripada pengin ketemu Ica?"

Ah! Lagi-lagi betul ucapan Ica. Gumamku dalam hati. Aku menunduk sambil garuk-garuk kepala. Ica tersenyum.

"Nanti setelah dengar ceritaku, kamu anterin tuh si Restu ke kampus. Dia mau nge-lab, selesaiin UP (Usulan Penelitian) nya" jawab Ica kembali takterduga. Nge-lab adalah istilah bagi aktivitas mahasiswa pake ruang dan fasilitas laboratorium.

Aku terbelalak, kudongakkan kepala memandang wajah Ica. Senyumku mengembang, salut sama plan Ica. Kuulurkan jabat tangan dan dibalasnya dengan senyum bangga. Kalau sesama laki-laki mungkin sudah kupeluk si Ica.

Kurapikan sikap dudukku, kurapikan juga kerah bajuku. Tandanya aku bersiap mendengar cerita Ica dengan sungguh-sungguh. Ica menangkap perubahan sikapku, diusap mulutnya dengan tissue untuk juga bersiap memulai cerita.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part 13
Diubah oleh wowonwae
Part 13

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

SEPENGGAL TABIR TERPENDAM

"Jadi kamu sudah terkesan Ik sama Restu?" tanya Ica setelah menelan kunyahan terakhir kue bandung di mulutnya. Diseka lagi bibirnya dengan tissue.

"Yah, nanya lagi...? Ceritanya dong...!" protesku.

Ica takbergeming, bertahan dengan tatapan mata dan senyumnya yang tak berubah. Artinya memaksaku menjawab pertanyaannya.

"Kalau terkesan sih sejak dulu juga terkesan Ca', cuma nancepnya di hati baru sejak pagi tadi ".

Berbinar mata Ica, dicondongkan badannya lebih ke depan, disangga dagunya dengan kedua telapak tangan, sikunya bertumpu di kedua paha. Tatapannya makin kuat, tanda meminta lanjutan ceritaku.

"Sudahlah, ceritanya sepele saja kok. Gak bakalan menarik", responku.

"Pagi tadi ada kejadian apa?" tanya Ica bersikukuh dengan pendiriannya bahwa aku harus bercerita terlebih dulu sebelum dia buka informasi rahasianya.

Kuhela nafas sekali menenangkan diri, aku sebetulnya takbegitu suka berbagi cerita pribadi seperti ini kepada banyak orang.

"Tadi pagi sewaktu mau berangkat ngampus, Restu ternyata stanby di depan pintu situ nunggu jemputan kawannya. Setelah kawan yang ditunggunya datang, dia pamit berangkat. Begitu aja ceritanya Ca', gak menarik kan?"

"Mmmm..., kayaknya aku paham deh. Caranya berpamitan itu kan yang membuatmu terkesan ?"

"Iya Ca', sepagian tadi gak enek ( nggak ada ) pelajaran kuliah yang nyanthol di kepala gara-gara itu", jawabku sambil menunduk lunglai.

"Sikap itu mungkin sebuah bentuk usaha Restu merubah sikap Ik, dia pengin dapat respon dari kamu. Waktu SMA dulu dia agak badung. Dia sering melawan nasehat Bapak - Ibunya karena beda prinsip".

Aku teringat percakapanku dan Restu pertama kali saat berkenalan, dia memang menceritakan perbedaan prinsipnya dengan orang tua.

"O ya? Bukannya sekarang masih?"

"Kamu tau dari mana? O..., Restu udah cerita ya...? Ya berarti betul, dia pengin dapat respon dari kamu. Dan dia berhasil!" kata Ica sambil tertawa kecil. Geli campur bangga atas usaha junior kostnya.

"Oke oke, aku paham sekarang", kataku manggut-manggut. "Cuman itu saja rahasia yang mau kau sampaikan? Kalau Restu itu dulunya agak badung. Rugi dong aku bela-belain beli kue spesial malam ini..."

Ica makin keras tertawanya melihat mimik mukaku mengkerut tanda kecewa.

"Badungnya Restu itu karena pengaruh dari mantan pacarnya Ik, ini rahasia yang mau kusampaikan. Aku merasa perlu menyampaikan karena kamu kawan yang baik Ik, dan Restu aku sayang sebagai kawan sekamar kost yang sudah kuanggap seperti adik sendiri".

"Lanjut !" kataku mempersilahkan Ica agar lebih detil ceritanya.

"Intinya saja ya Ik, detilnya nanti kan Restu bakal cerita sendiri. Jadi mantannya Restu itu anak badung yang kelewat badung, arogan dan ugal-ugalan. Di semester awalnya Restu, mantannya itu dua kali main ke sini. Yang pertama kali, aku sendiri yang nemenin Restu menemuinya di sini. Restu yang meminta aku buat nemenin, dia ketakutan tapi tidak tega menolak kedatangan mantannya yang sudah jauh-jauh dari luar kota. Ya ampun Ik, nggak ada sopan-sopannya si mantannya Restu !"

"Masih pacaran apa sudah pisahan mereka waktu itu?" tanyaku penasaran.

"Sudah pisahan Ik, tapi sikapnya itu seolah-olah masih memiliki Restu."

"Nggak sopannya kayak gimana sih Ca' ?"

"Orangnya sama sekali tidak kenal basa-basi, aku yang nemenin Restu dianggep kayak nggak ada. Waktu itu si mantan ngajak Restu balikan, dia merasa pemutusan hubungan mereka tidak resmi - cenderung sepihak, dan mengancam akan terus bolak-balik ke sini. Aku yang sudah dari awal gak respect sama sikapnya, otomatis kan ngebelain. Sudah kucoba bicara sopan, pakai awalan ma'af - ma'af segala, eee...malah ngajak berantem!"

"Terus...terus...?" kataku makin penasaran.

"Ya kusuruh Ica naik ke atas dan manggil yang lain. Anty, Lista, Hasti dan yang lain langsung deh turun ke sini ngebantuin. Kita keroyok tuh cowok ampe minggat nggak pamit. Habis itu, kita sidang Restu rame-rame, minta klarifikasi tentang mantannya itu. Restu minta ma'af dan hanya membagikan sedikit saja kisah masa lalunya, belum betul-betul terbuka. Lalu kita ambil kesepakatan untuk menolak kedatangan cowok itu lagi di sini.

"Eh iya, Hasti ke mana? Tumben kalian tadi cuma bertiga di kantin?" sela tanyaku meredam Ica agar tak terlalu larut dalam bercerita sampai terbawa emosi.

"Lagi sakit tuh di atas tiduran aja dari pagi", jawabnya.

"Sakit apa?"

"Flu campur malarindu", jawab Ica sambil tersenyum. Pacar Hasti memang kabarnya lagi KKN ( Kuliah Kerja Nyata ) dan dapat posisi penempatan terjauh di luar kota sana.

Melihat senyum Ica aku menjadi lega, usahaku mengalihkan fokus bicaranya berhasil. Kalau sudah larut bercerita, ternyata Ica bisa sampai terbawa emosi. Saat emosinya terbawa, volume suaranya meninggi. Orang-orang yang lewat jalan gang sampai pada menoleh mendengarnya. Tapi rupanya pandangannya kabur kalau sudah larut bercerita seperti itu, pikirannya menerawang jauh melintasi waktu kayak Compact Disk film diputar ulang lalu matanya seolah proyektor yang memancarkan spektrum cahaya, dan objek di depannya menjelma jadi layarnya.

"Oke Ca', kayaknya sudah cukup informasinya....", kataku lagi-lagi terpotong.

"Eh, belum selesai! Masih ada sambungannya, kedatangan mantan Restu yang kedua kali lebih heboh...", sela Ica.

"Sssss....ttt! Ca', coba deh tengok atasmu itu !" seruku, gantian memotong bicaranya.

Ica menoleh dan mendongak ke atas, pandangannya tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebentar lagi patroli Pak kostnya akan dimulai.

"Kamu bilang tadi kan intinya saja, kenapa malah ngelantur ? Ntar...ntar..., aku nggak lagi dijadiin temen nungguin seseorang kan...?" sindirku sambil mengedipkan sebelah mata.

Ica tersenyum malu, menyadari gelagatnya yang terbaca olehku. Padahal aku tidak sedang membaca gelagat, tetapi melihat fakta. Fakta bahwa pacar Ica tadi sudah lewat bersama serombongan kawannya jalan kaki, tapi Ica tak menangkap pandangan itu. Mas Ari namanya, sangat halus dan sopan serta mudah mengalah. Seperti malam ini, melihat sambil lalu tadi si Ica sedang menggebu bercerita padaku, dia lalu menunda niatnya ngapelin Ica. Dia lalu nongkrong di teras kost kawan sejurusannya yang terletak di sebelah kostku, sambil mengawasi dari kejauhan.

"Ca', aku juga punya rahasia tentang Mas Ari. Akan kuceritakan kalau kamu segera panggilin Restu", kataku bersiasat. Aku sedang melihat 2 peluang, peluang segera bertemu Restu dan peluang membuat sewot Ica.

"Apa Ik...?!" tanya Ica merengek.

"Pacarmu itu lagi sial hari ini, dia bilang lagi kecewa sama kamu", kataku dengan tampang kubikin serius.

"Iiii...iiih..., kenapa Ik...? Ada apa...? Kalian tadi ketemu di mana ?" tanya Ica beruntun. Pikirannya pasti sedang melayang mencoba memutar lagi rekam ingatan kejadian sepanjang hari ini. Barangkali ada janji yang terlupakan atau ada pesan yang terlewatkan.

"Tenang, sudah kuatasi Ca'. Makanya panggilin Restu dulu...!" tawarku.

Ica diam tak menjawab, tapi spontan berdiri lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai 2. Aku sendiri lalu merogoh sapu tangan di saku, kuseka wajah, leher dan tangan yang tadi ditempeli keringat bercampur debu hingga mengering. Takpuas dengan sapu tangan yang juga sudah lusuh, kuambil berlembar-lembar tissue Ica yang tertinggal di bangku. Kuseka ulang wajah, leher dan tangan dengannya.

Diam-diam aku merenung, naluri mahkluk hidup ternyata dibikin sama kalau sedang berurusan dengan asmara. Tanaman, hewan sampai manusia akan memiliki gerak refleks bersolek untuk menarik pasangan atau menarik faktor penyebab tersampaikannya cinta. Kelopak bunga yang indah saat mekar akan menarik serangga yang membantu benang sari bertemu putik. Berbagai bangsa hewan dari tingkatan amphibi sampai mamalia, menjadi lebih menawan tampilannya saat musim kimpoi. Mamalia itu termasuk aku dan kalian, bangsa primata tertinggi.

Lima menit berlalu, Ica dan Restu muncul mendekatiku yang sedang duduk termenung. Restu menguntit di belakang Ica atau mungkin memang sengaja dihalangi Ica, berdiri mereka tepat di depanku. Aku pun bangkit berdiri, kuambil tas dan kusandang di bahu kanan. Kupandang Restu yang senyum-senyum di belakang Ica. Ica sendiri masih memasang tampang serius dan menatapku tajam, menagih cerita rahasia tentang pacarnya yang kujanjikan.

Aku pun duduk lagi, kuajak mereka berdua juga mengikuti duduk di kursi. Ica mengambil tempat di sebelahku, sedang Restu duduk di bangku satunya.

"Yakin Res malam ini mau ngelab?" tanyaku justru kepada Restu, mengabaikan Ica - sengaja.

Restu mengangguk dengan senyum yang hanya dikulum, padahal aku berharap lihat deretan gigi rapinya. Ica lebih mendekatkan duduknya, disenggolnya pahaku dengan lututnya. Tanda semakin kuat dia menagih janjinya.

"Bener mau kuantar Res?" tanyaku lagi ke Restu, masih tak kuacuhkan Ica yang tambah geregetan. Restu mengulangi sikapnya, mengangguk dengan senyum dikulum.

"Sekarang yuk, keburu malam !" ajakku sambil menunjuk jam dinding yang kali ini berposisi di atas kepala Restu. Aku bangkit berdiri, disusul Restu. Ica spontan berdiri juga menghalangi.

"Apa sih Ca' ?!"

Ica tak bergeming, wajahnya ditekuk, pandangannya semakin tajam padaku. Restu hanya terbengong.

"Mas Ari itu sebetulnya sudah lewat dari tadi, saat kamu cerita menggebu-gebu. Sekarang noh orangnya di teras kostnya Sandi ngawasin kita !"

"Iiiii...hhh! Aik! Kenapa nggak ngomong dari tadi...?!!!" serunya sambil memukul-mukul dadaku dengan kepalan tinju alay. Aku tertawa ngakak, puas ngerjain Ica. Restu yang mulai paham senyumnya berganti tawa kecil menambah kepuasanku sebab akhirnya bisa lihat deretan gigi rapinya.

Ica menghambur keluar melambaikan tangan ke arah kost Sandi, memanggil pacarnya agar segera mendekat. Kulempar pandang ke Restu, kode agar segera melangkah. Restu nurut mengikuti langkahku.

"Makanya, kalau cerita jangan terlalu hanyut Ca..., pacar lewat kok sampai ndak kelihatan. Beneran sayang nggak sih kamu?" sindirku sambil melewatinya. Dipukulnya pungungku keras karena geram, aku mengaduh kesakitan tapi masih sambil tertawa.

"Berangkat dulu ya mbak...", pamit Restu.

"Iya iya..., jangan pada macem-macem ya ?!" kata Ica sambil matanya mendelik dan berkacak pinggang.

"Btw (by the way), makasih ya Ca', yuk..." pamitku pula.

Dapat sekitar 20 langkah, berpapasan kami dengan pacar Ica, Mas Ari, yang melangkah menuju kostnya. Kusalami dan kusampaikan permintaan ma'af atas waktu ngapelnya yang terkorupsi karena urusanku. Mas Ari tersenyum, dibetulkan kacamatanya lalu menepuk-nepuk pundakku.

Kulanjutkan lalu  langkahku bersama Restu setelah pula berpamitan kepada Bapak Kostnya yang sudah siap-siap berpatroli.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to Part14
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Part 14

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Satu Belokan Lagi

Jarak dari kost ke kampus Restu tidak terlalu jauh, lebih jauh jarak ke kampusku. Lagipula ngelab nya Restu tidak terpatok waktu karena untuk urusan sendiri, bukan jadwal akademis yang bersifat umum. Maka kami tak harus terburu-buru dalam melangkah, santai sambil berbincang sepanjang jalan.

"Kamu nggak capek Ik?" Restu mengawali percakapan.

Aku menghentikan langkah, kupandangi wajahnya. Kaget dia dan ikutan berhenti, dipandangnya pula wajahku. Dahinya mengkerut mengisyaratkan rasa ingin tau.

"Kamu mau diantar naik motor? Aku pinjem kawan kost dulu ya? Motorku soalnya dibawa Ano sama Yuna", jelasku dalam posisi hendak berbalik.

"Eh, eh...enggak...enggak, bukan begitu maksudku. Aku beneran nanya, soalnya kamu keliatan lelah..." kata Restu sambil menggenggam lengan bajuku.

Aku terpaku, kutatap genggaman tangannya. Genggaman jari-jari lentik berkulit sawo matang cerah, dengan cincin emas sederhana melingkar di jari manis. Kurasa genggamannya kuat juga, terkesan gerak refleks meronta. Terpakuku karena lama sudah takpernah alami peristiwa seperti itu, sejak putus hubungan dengan pacar kala SMA. Memori masa lalu mendadak melintas lagi di benak.

Restu buru-buru melepas genggamannya, dipandangnya aku dengan raut muka bersalah. Mungkin dipikirnya aku marah, padahal tidak sama sekali.

"Eh, ma'af....", katanya latah. Tak kugubris permintaan ma'afnya, karena memang taksalah.

"Jadi tampang lelahku keliatan ya? Gimana kalau kita mampir dulu ke warteg ( warung tegal )di ujung gang?" tanyaku justru dalam senyum dan alis terangkat.

Restu tampak lega, tapi masih dalam mimik serius. Senyum yang selalu kutunggu tak terimbas mengembang.

"Ayuk !" jawabnya.

Sampai di warteg langsung kupesan es teh dua gelas tapi Restu protes, dia minta teh hangat saja. Kami lalu ambil posisi duduk di sudut dekat pintu, kubiarkan Restu lebih dulu baru kususul.

"Aku memang ngampus dari sejak pagi Res, belum sempet pulang kost sama sekali".

"Begitu ya ? Ma'af deh.... Kalau bener-bener capek, aku nggak usah dianter nggak papa kok..."

Aku diam saja dan tersenyum. Pesanan es teh dan teh hangat sedang dihidangkan pelayan warteg. Langsung kuteguk es teh terhidang hingga sisa seperempat gelas. Sedang Restu hanya mengaduk-aduk teh hangatnya menunggu ucapanku. Aku berpikir sejenak seperti biasa, merangkai kata agar kalimat yang terucap menjadi baik kesannya.

"Aku yang seharusnya minta ma'af, harusnya tadi aku sempetin mampir kost dulu buat mandi dan ganti baju sebelum ke kostmu. Ica juga salah, nggak cerita dulu kalau kamu ada jadwal ngelab malam ini. Kamu nggak salah Res...", kujawab lembut.

Restu tersenyum menatapku lalu buru-buru mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan menyodorkan padaku. Rupanya habis meneguk es teh tadi, keringatku mengucur deras. Aku ikut tersenyum, malu, berkurang rasa pede ku.

"Kamu nggak malu kan dianterin cowok dekil? Jalan kaki lagi..."

"Ik, di kampusku cowoknya juga dekil-dekil. Praktek lab di jurusanku kan lebih berat daripada di jurusanmu. Nanti lihat aja deh kalau udah nyampe kampus", jawab Restu sambil ketawa kecil.

"Lagian dulu sewaktu kita baru kenalan, aku juga lagi dekil sama kayak kamu gini kan?" sambungnya.

"Ya nggak lah..., nggak gini-gini amat", tangkasku.

"Eh, kamu nggak buru-buru kan?" tanyaku sambil menyandarkan punggung dan meluruskan kaki hingga posisi dudukku agak melorot. Sejenak kubiarkan otot-otot dalam tubuhku mengendor, agar sel-selnya mengurai asam-asam laktat yang terlalu banyak mengendap jadikan rasa pegal.

"Engggak, santai aja. Sudah ada dua kawan yang stanby di lab. Paling juga udah pada mulai kerja mereka. Udah, ilangin dulu aja capeknya..." jawab Restu.

"Lho, nggak pada marah tuh ntar mereka?"

"Marah kenapa?"

"Lha kamunya telat gini. Udah pamit emang tadi?"

"Belum. Cuma tadi waktu Ucil bilang mau nyamperin takjawab ndak usah. Aku bilang ada yang mau nganter malam ini".

"O..., jadi udah biasa ya kamu ada yang nganter ke kampus?"

"Ya kawan-kawan kost itu biasanya. Kadang Mbak Lista, kadang Mbak Hasti, kalau Mbak Ica memang ndak pernah wong (orang) dia nggak bisa naik motor".

"Kawan cowok nggak pernah ?" pancing tanyaku.

Restu tersenyum dan menggeleng spontan. Aku masih belum percaya, diam kutatap wajahnya yang menunduk. Diamku sesaat lamanya mungkin membuatnya bertanya-tanya sehingga diangkatnya lagi dan membalas tatapanku.

"Apa? Nggak percaya? Ya udah terserah...", jawabnya atas tatapan ketidakpercayaanku.

Aku masih tetap diam dan menatap matanya, berharap ada lagi imbuhan pernyataan.

"Iya, banyak yang nawarin. Kan aku udah pernah cerita kalau aku banyak yang naksir... Tapi kutolak !", imbuhnya, muncul juga akhirnya.

"Kenapa ?"

"Males !"

"Kalau kawan sekampus ?"

"Kalau dianterin pulang pernah. Atau saat rame-rame pelesiran ke bawah".

Dipandangnya aku, mengharap untuk tak meragukannya lagi. Aku bernafas lega Restu mau jujur, makin besar peluang hubungan kita berlanjut lebih serius. Kuteguk lagi sisa es teh di gelas sampai habis.

"Kamu nggak mau nambah beli apa gitu buat kawan-kawan di lab ?"

"Nggak usahlah, nih udah tak bawain kue bandung dari kamu".

"Lho kok malah dikasihkan temen ?" godaku.

"Ah, kamu juga dulu kue bikinanku kamu kasih ke temen kostmu sampai nggak kebagian !" belanya.

"Kamu kecewa nggak waktu itu ?"

"Yang penting udah kamu terima aja, aku belum jago memasak kok...", jawabnya.

"Ya sama dengan kue bandung yang kamu bawa itu."

"Maksudnya ?"

"Buatku yang penting udah nyampe ke tanganmu aja. Selanjutnya terserah kamu..."

Restu tersenyum mendengar kata-kataku. Sedang aku tersenyum karena melihatnya tersenyum.

"Sudah hilang capeknya?" tanya Restu selang beberapa saat. Astaga ! Aku sampai lupa...Jeritku dalam hati. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

"Eh, iya iya ma'af... Itu nggak dihabisin dulu tehnya ?" tanyaku tergopoh-gopoh.

Dia mengangguk, lalu diteguknya teh hangat yang sudah taklagi hangat itu tapi hanya sampai setengahnya saja. Aku bergegas menghampiri ibu yang punya warung yang duduk di belakang etalase hidangan, lalu membayar dua gelas teh tadi. Tambah beli 1 bungkus rokok buat temen ngobrol nanti sama Yuna dan Ano.

Lanjut berjalan kami menuju kampus Restu. Dari warung di ujung gang tadi, hanya perlu melewati satu belokan lagi sudah nyampe. Masalahnya setelah belokan jalannya nanjak, lumayan untuk bikin nafas krenggosan. Tapi takmungkin terasa berat karena kami berdua sedang saling cocok, senang berbagi cerita sambil mencari tau apa kesamaan dan perbedaan di antara kita.

Malam temaram berhias jajaran lampu  jalan yang tak begitu terang. Lalu lalang kendaraan menuju arah kampus atau sebaliknya sudah semakin jarang. Beruntunglah kami karena sang bulan sedang bulat-bulatnya, mengobral gratis cahayanya bagi siapapun pengguna malam dan membentuk bayang-bayang.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to part15
Diubah oleh wowonwae
Part 15
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Win-win Solution

Turun dari bis kota di pertigaan lampu merah patung kuda, lanjut kulangkahkan kaki menyusuri trotoar hingga gapura gang III. Dari situ cukup berjalan sedikit lagi, maka sampailah aku di kost lama. Rumah yang dihuni hanya 4 orang anak kost, jadi satu dengan pemiliknya. Sengaja aku mampir sepulang dari rumah tadi.

Sepi tak terlihat ada orang selain anaknya bapak kost, sedang bersantai baca buku di teras rumah. Mendengar pintu pagar kubuka, diletakkan sejenak bukunya di pangkuan dan dipandangnya diriku. Setelah tau bahwa aku yang membukanya, kembali dengan cueknya dibaca lagi buku kembali.

"Kok tumben sepi Lan ? Pada pergi kemana ?" tanyaku pada Wulan, anaknya bapak kost.

"Pada diajakin pergi mancing mas sama bapak", jawab Wulan sekenanya sambil tetap membaca buku.

"Kamu sendirian ?"

"Iya mas, Ibuk pergi arisan".

"Tumben kamu mau jagain rumah sendirian...?"

Kutanya begitu karena Wulan itu manja sekali anaknya. Sewaktu masih SMP takpernah mau dia ditinggal bapak-ibunya pergi, pasti nginthil (ngekor / ngikuti) salah satunya. Kalau nggak nginthilin bapaknya ya nginthilin ibunya. Sekarang dia sudah SMA, baru saja masuk tahun ini. Mungkin sudah merasa dewasa, jadi sudah merasa malu.

"Aku numpang istirahat bentar ya Lan...", ijinku. Yang dipamiti diam saja tak menggubris.

Kumasuki pintu rumah yang bebas terbuka. Kulewati Wulan begitu saja menuju ruang tengah belok ke kiri sampai ke barisan kamar kost.
Kubuka pintu kamar Kuncoro yang takpernah dikunci, kurebahkan tubuhku di kasur yang tergelar bebas di lantai tanpa dipan. Badanku serasa capek sekali habis perjalanan jauh.

Dari rumahku sampai ke sini butuh waktu 4 jam perjalanan naik bis, melintasi 3 kota kabupaten. Kalau naik motor cukup 2,5 - 3 jam saja sih sebenernya, cuman aku lagi butuh jaga stamina. Setumpuk laporanku gak dilolosin review sama asdos. Jum'at sore kemarin dikembalikan lagi untuk direvisi, hari Seninnya sudah harus selesai dan dikumpulkan kembali. Dua proposal kegiatan organisasi juga harus selesai di hari Senin untuk diajukan. Sementara uang sakuku sudah menipis dan harus segera dicas lagi untuk bisa survive.

Untuk ngecas uang saku, tak ada jalan lain selain pulang ke rumah. Bapakku tidak mau menggunakan jasa perbankan ataupun jasa pos untuk kirim uang. Jarak yang belum terlalu jauh tak boleh memutus kontak langsung person to person, begitu prinsip beliau. Menurutku sih itu hanya alasan yang dibuat-buat saja untuk keperluan melepas kangennya. Tapi apa boleh buat, aku harus patuh dan cuma bisa nurut. Jadilah harus kukorbankan Sabtu dan Minggu untuk acara pulang-pergi ke rumah.

Tak selang berapa lama rebahan di kasur, akupun terlelap. Dan tak selang berapa lama pula aku terbangun oleh suara gaduh kawan-kawan yang pulang dari mancing. Lumayan sih meski hanya tidur sebentar, badan rasanya sudah balik segar lagi.

"Weh, ada penumpang gelap rupaya...!", kata Kuncoro. Penumpang gelap adalah sebutan populer untuk mahasiswa yang numpang pakai kamar kost kawannya.

Aku tertawa sampai tersedak melihat Kuncoro, kulit wajah dan lehernya memerah akibat terpapar sinar matahari. Begitu pula kulit lengan hingga ke jari tangannya jadi tampak semakin legam.

"Rupamu (wajahmu) Kun..., koyok (seperti) tempe gosong !" kataku sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Kuncoro segera menghadap ke cermin pintu almarinya, mengecek kata-kataku. Sontak ikut tertawa dia terpingkal-pingkal. Dibuka kaosnya, tampak perbedaan warna kulit yang menyolok antara dada sampai perut dengan leher dan lengan alias belang. Makin terbahak-bahak kami melihatnya, mengundang tanya Wahid, Hari dan Totok hingga berbondong ikutan masuk ke kamar. Bertiga lantas ikutan buka baju dan gantian bercermin. Jadilah kamar kost Kuncoro heboh dengan tawa geli kita bersama.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)


"Jadi begitu ceritanya ? Nantilah aku cek ke sana deh. Ada kok kawan yang ngekost juga di situ", kata Kuncoro sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Baru selesai mandi dia.

Sebelum dia mandi, kita sempat ngobrol sebentar. Aku cerita tentang mahasiswa yang ngekost di sekitar sini, tepatnya di gang III.

Mahasiswa Teknik Industri, cowok yang sering ngapelin Restu. Bukan karena merasa tersaingi, aku hanya khawatir kalau-kalau punya niat yang kurang baik. Pasalnya, informasi yang kudengar dari beberapa sumber, cowok ini asalnya satu daerah dengan Restu, satu angkatan tapi beda sekolahan. Dan kabarnya lagi, dia kawan dekatnya mantan Restu, sedang Restu sendiri belum tahu tentang itu.

Jadi selain Ano dan Yuna, Kuncoro adalah kawan lain yang kujadikan spionase. Ketiganya adalah mahasiswa yang tidak aktif di kegiatan kampus, tapi sangat giat di luar kampus. Kenalannya banyak, antar jurusan dan antar fakultas, bahkan mungkin antar universitas. Beda denganku yang agak introvert, mereka bertiga adalah orang yang sangat supel. Mudah sekali mendapat kawan baru dengan perbendaharaan cerita pengalaman yang  mereka miliki.

Aku harus pasang spionase karena Restu itu bak bunga yang mekar lagi setelah layu. Atau mungkin sebelumnya belum mekar betulan, dan begitu benar-benar mekar, bau yang ditebarkannya begitu kuat hingga tercium di radius yang luas. Aku merasa harus mempersiapkan sistem pengamanan yang ekstra ketat. Jaringan kawan telah terbukti sebagai sistem pengamanan terbaik dan terefisien dalam pengalaman drama percintaan sebelumnya.

"Lha kamu gimana Ik sama si Restu? Pacaran apa cuman TTM an aja ?" tanya Kuncoro. TTM adalah singkatan dari Teman Tapi Mesra.

TTM sudah familier sebagai istilah di kalangan anak muda waktu itu, jauh sebelum dibikin lagu sama Maya Ahmad.


"Aku belum merasa siap buat pacaran Kun. Yang penting dia udah jelas-jelas suka kan ?"

"Pacaran aja kamu pikir pusing-pusing Ik, kalau menikah tuh baru pusing..."

"Iya juga sih... Masalahnya aku harus memperhitungkan pengeluaran Kun, pacaran itu pasti bakal nambah-nambahin. Ini tadi aja di rumah kenyang aku sama wejangan (nasehat) bapak".

Bapakku hanya seorang pegawai swasta, Ibuku juga, satu instansi. Hanya saja akhir-akhir ini perusahaan tempat mereka bekerja sedang dilanda masalah. Bahkan diperkirakan berada di ambang kebangkrutan. Hampir sepagian tadi Bapak tumben-tumbenan membuka obrolan khusus, berdua kami ngobrol di teras samping rumah begitu serius. Dimintanya aku mengkalkulasi biaya kuliah sampai akhir tahun, juga biaya hidup. Bapak juga memintaku untuk bisa mengerti keadaan, bersabar dan sering-sering berdo'a.

"Ya kalau pengeluaran bakal nambah, cuma ada 2 opsi, berhemat atau cari tambahan penghasilan", kata Kuncoro sok menasehati, hidungnya mengembang. Aku bilang sok karena dia sendiri tak pernah bisa berhemat.

"Yo wis ngerti (ya sudah tahu) aku, raksah mbok kandani (tidak usah kamu beritahu) Kun", jawabku.

"Kalau nambah penghasilan carane piye jal (caranya gimana) coba ?" lanjutku.

"Yo kerjo Ik", jawabnya sambil senyum-senyum dan hidungnya mengembang. Itu ciri khasnya Kuncoro kalau lagi ngomong asal-asalan. Aku tertawa seperti biasa saat melihatnya seperti itu.

"Wis tha ojo guyon (sudahlah jangan bercanda terus), ada ide nggak ?" tukasku kemudian.

"Sebentar, kayaknya kawanmu si Novi itu kerja part time Ik, njagain wartel (warung telepon) Bimatel di Jalan Kerajaan, aku pernah mampir dulu di situ. Coba aja tanyain barangkali ada lowongan di cabang lain, katanya sih lumayan salary-nya".

Jadi pembaca millenial, sebelum handphone itu populer, ada bisnis jasa menyewakan telepon yang disebut wartel. Biasanya modelnya sebuah ruko yang ruangannya disekat-sekat menjadi bilik-bilik kecil. Tiap bilik disediakan satu pesawat telepon yang terhubung memusat di komputer operator yang mencatat durasi waktu dan biaya pemakaian. Operator ini sekaligus berlaku sebagai kasir, begitu selesai telepon pemakai bayarnya ke dia. Lalu dia bakal kasih stroke seperti kalau sekarang kita belanja di mini market, isinya catatan durasi waktu dan biaya pemakaian.


"Mosok sih ?"

"Ah, kuper (kurang pergaulan) kamu !"

Aku garuk-garuk kepala. Novi itu kawanku seangkatan yang saban hari ketemu di kampus. Tapi Kuncoro lebih dulu tau informasi tentangnya, faktual lagi...! Gerutuku dalam hati.

"Yuk kita ke tempatnya Kun !" ajakku.

"Waduh...nggak inget wajahku masih merah gini... !" tolak Kuncoro sambil menunjuk mukanya dengan telunjuknya. Aku tertawa sambil kurangkul dia.

"Udah nggak papa, Novi udah biasa...!"

"Maksudnya ?"

"Dia anak Pe-A Kun..." jelasku. Pe-A adalah sebuah singkatan P dan A yang kepanjangannya Pecinta Alam, sebutan khas untuk mahasiswa yang hobi naik gunung. Setiap anak Pe-A pasti wajahnya merah sepulang dari muncak. Kuncoro sendiri getol muncak, minimal tiap semester dia punya planning.

"O ya? Ternyata Novi anak Pe-A juga ! Wah, boleh nih Ik..." katanya sambil berkedip sebelah mata.

"Boleh, siapa yang ngelarang... Asal bisa ngalahin si Andi kamu !" jelasku.

"Yaaah...uda punya pacar ya?"

"Kenapa ?"

"Males amat ! Kayak gak ada yang lain aja..."

"Ya udah jadiin temen muncak aja Kun... Si Andi pacarnya itu bukan anak Pe-A kok, nggak bakalan ngikutin, paling cuma nganterin ke pos kumpul biasanya"

"Wah, boleh tuh !"

"Gimana ? Setujukah dirimu kita nyamperin Novi sekarang brother ? Aku dapat informasi kerja part time, kamu dapet temen muncak baru yang hot..." kataku sekali lagi mengajak Kuncoro. Bukan mengajak lagi, lebih tepatnya sudah berubah jadi memberi penawaran win-win solution. Novi punya body yang cukup seksi bagi seorang anak Pe-A, tidak banyak mahasiswi yang tertarik sama kegiatan muncak, apalagi yang bahenol kayak si Novi. Bisa dihitung dengan perkiraan 1 dari 500 mahasiswi !

Singkat kata meluncurlah kita berdua menuju Jalan Kerajaan naik motor Kuncoro, tepatnya menuju wartel tempat Novi kerja part time. Sampai di lokasi ternyata Novi sedang jatah libur, operator penggantinya kasih penjelasan. Kuncoro kecewa, kutepuk pundaknya lalu kurangkul.

"Tenang brother, aku tau rumahnya. Kita ke sana, malah lebih enak nanti ngobrolnya. Ibunya ramah, selalu ada suguhan keluar kalau kami kawan kampusnya main ke situ", kataku menepis kekecewaan Kuncoro. Matanya berbinar, dengan semangat di starter motornya lagi dan kita meluncur lagi. Kali ini menuju rumah Novi, kira-kira tidak sampai 1/2 jam waktu yang kita butuhkan.

Kuncoro sering bimbang ketika kulewatkan jalan-jalan tembus alternatif menuju rumah Novi. Tiap dia ragu, kuyakinkan dengan menepuk pundaknya dan sedikit memijit, bahasa kode penegasan atas keakuratan ingatan otakku. Lalu lintas di Minggu malam tak kalah ramai dengan malam Minggu, kalau tak pandai-pandai ambil jalan pintas, habislah waktu kita dikorupsi kemacetan.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
Continue to part 16
profile-picture
Arsana277 memberi reputasi
Diubah oleh wowonwae
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di