- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Memperjuangkan Pendidikan Penghayat, Menjaga Budaya Leluhur Sepanjang Hayat
TS
lostcg
Memperjuangkan Pendidikan Penghayat, Menjaga Budaya Leluhur Sepanjang Hayat
Memperjuangkan Pendidikan Penghayat, Menjaga Budaya Leluhur Sepanjang Hayat
Wed, 20 Mar 2019 - 06:36 WIB
202

PERINGATI SATU SURA: Kelompok Paguyuban Sapta Darma Cilacap memperingati Tahun Baru Jawa 1 Sura akhir tahun lalu. (suaramerdeka.com / Susanto)
PERAWAKANNYA kecil, namun semangatnya untuk mengabdi cukup besar. Itulah Slamet (45) tukang kayu lulusan SMP asal Gandrungmangu, Cilacap yang masih menyempatkan diri menjadi penyuluh (sebutan bagi guru) siswa penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Lima hari dalam seminggu, menggunakan sepeda motor butut, ia pulang pergi mengajar di lima SD-SMP di Cilacap bagian barat.
"Satu sekolah biasanya hanya ada satu hingga dua anak pelajar penghayat kepercayaan. Pembelajaranya biasanya dilaksanakan tersendiri. Kalau tak dilakukan di sekolah, maka dilaksanakan di rumah," kata Slamet yang juga pengurus kelompok penghayat Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) Cilacap.
Materi tentang ketuhanan, budi pekerti, sejarah, dan martabat spiritual yang diberikan saat pelajaran kepercayaan. Pelestarian tradisi, ajaran dan budaya leluhur juga menjadi bekal generasi muda penghayat untuk hidup berkepercayan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
"Kita diajarkan leluhur untuk 'nerima agar 'luhur wekasane' sehingga bisa berdamai dengan siapapun. Kalau ingin menjadi orang luhur, maka harus meluhurkan orang lain dulu. Jadi prinsip ketentraman dan kedamaian harus diwujudkan bersama," jelas Slamet.
Meski ada 34 kelompok kepercayaan dengan populasi sekitar 100 ribu jiwa, namun penghayat kepercayaan merupakan minoritas dari 2 juta jiwa penduduk Cilacap. Makanya implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 27 tahun 2016 tentang layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan tak selalu berjalan mulus.
Pandangan miring dan stigma yang memunculkan keberatan hingga penolakan sejumlah pihak sering dihadapi para penyuluh. Kelompok penghayat terus melaksanakan pendekatan persuasif kepada masyarakat hingga pejabat di berbagai satuan pendidikan. Langkah itu dilaksanakan dengan dasar payung hukum yang melindungi dan menjamin hak penghayat.
"Biasanya orang tua penghayat mengusulkan kepada sekolah terlebih dulu bersama dengan pengurus penghayat. Setelah disetujui pihak sekolah maka baru dilaksanakan. Biasanya tidak bisa satu kali disetujui, perlu beberapa kali kita harus mengurusnya," ujar yang rela mengabdi tanpa gaji menjadi pamong penghayat kepercayaan.
Satu Cilacap, Lima Penyuluh
Selain Slamet, ada empat penyuluh penghayat lain yang berjuang di jenjang SD hingga perguruan tinggi. Meski lebih merupakan kerja sosial, namun untuk menjadi penyuluh perlu melewati sertifikasi yang ketat. Dengan adanya penyuluh inilah, para siswa penghayat di Cilacap bagian timur, kota dan barat mendapatkan berbagai materi.
Para penghayat kepercayaan yakin jika melalui pelayanan pendidikan, maka regenerasi penghayat beserta ajaran warisan leluhur masih terjaga. Melalui pendidikan di sekolah dan tradisi ritual kelompok, para penghayat menjadi bagian komunitas nasionalis, religius sekaligus pluralis.
"Bagi kami, kebhinekaan atau perbedaan adalah kewajaran yang perlu disikapi dengan saling menghargai dan menghormati. Makanya sejak dulu kami tak pernah mengungkit perbedaan antarkelompok penghayat, bahkan antara umat beragama atau beriman lain," kata Basuki, Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Adat dan Tradisi (MLKI) Kabupaten Cilacap.
Terkait hal itulah para penghayat mendukung langkah pemerintah dan aparat yang terus berupaya membina kerukunan antarumat beragama dan beriman lain hingga tingkat bawah. Para penghayat mengapresiasi langkah pemerintah yang telah hadir, sehingga penghayat bisa mendapatkan layanan publik mulai dari hak sipil, sosial ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan keyakinan secara sama dan setara dengan warga negara lain.
"Untuk itulah kami bersama para warga penghayat dan penyuluh terus berusaha memperjuangkan hak-hak dengan damai sesuai aturan. Memajukan pendidikan untuk menjaga nilai tradisi dan kebudayaan menjadi cara kami memperkuat generasi penjaga NKRI," ujar Basuki.
Tiap Minggu Kliwon, para pengurus 34 kelompok penghayat berkumpul di sekretariat MLKI di Kota Cilacap. Pertemuan itu menjadi sarana penguatan pemahaman tentang regulasi, musyawarah pelaksanaan tradisi, hingga pemecahan dan penyikapan masalah terkini yang dihadapi penghayat. Komunikasi dan sinergi penghayat dengan kaum lintas agama dan iman juga dilaksanakan rutin.
"Bingkai persaudaraan dan kemanusiaan menjadi sarana untuk menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah perbedaan. Kami menolak dan mengutuk keras intoleransi, radikalisme dan terorisme sekarang ini," katanya.
(Susanto/CN26/SM Network)
https://www.suaramerdeka.com/news/ba...epanjang-hayat
Mending pendidikan agama dihapus aja diganti pendidikan budi pekerti
Wed, 20 Mar 2019 - 06:36 WIB
202

PERINGATI SATU SURA: Kelompok Paguyuban Sapta Darma Cilacap memperingati Tahun Baru Jawa 1 Sura akhir tahun lalu. (suaramerdeka.com / Susanto)
PERAWAKANNYA kecil, namun semangatnya untuk mengabdi cukup besar. Itulah Slamet (45) tukang kayu lulusan SMP asal Gandrungmangu, Cilacap yang masih menyempatkan diri menjadi penyuluh (sebutan bagi guru) siswa penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Lima hari dalam seminggu, menggunakan sepeda motor butut, ia pulang pergi mengajar di lima SD-SMP di Cilacap bagian barat.
"Satu sekolah biasanya hanya ada satu hingga dua anak pelajar penghayat kepercayaan. Pembelajaranya biasanya dilaksanakan tersendiri. Kalau tak dilakukan di sekolah, maka dilaksanakan di rumah," kata Slamet yang juga pengurus kelompok penghayat Paguyuban Budaya Bangsa (PBB) Cilacap.
Materi tentang ketuhanan, budi pekerti, sejarah, dan martabat spiritual yang diberikan saat pelajaran kepercayaan. Pelestarian tradisi, ajaran dan budaya leluhur juga menjadi bekal generasi muda penghayat untuk hidup berkepercayan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
"Kita diajarkan leluhur untuk 'nerima agar 'luhur wekasane' sehingga bisa berdamai dengan siapapun. Kalau ingin menjadi orang luhur, maka harus meluhurkan orang lain dulu. Jadi prinsip ketentraman dan kedamaian harus diwujudkan bersama," jelas Slamet.
Meski ada 34 kelompok kepercayaan dengan populasi sekitar 100 ribu jiwa, namun penghayat kepercayaan merupakan minoritas dari 2 juta jiwa penduduk Cilacap. Makanya implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 27 tahun 2016 tentang layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan tak selalu berjalan mulus.
Pandangan miring dan stigma yang memunculkan keberatan hingga penolakan sejumlah pihak sering dihadapi para penyuluh. Kelompok penghayat terus melaksanakan pendekatan persuasif kepada masyarakat hingga pejabat di berbagai satuan pendidikan. Langkah itu dilaksanakan dengan dasar payung hukum yang melindungi dan menjamin hak penghayat.
"Biasanya orang tua penghayat mengusulkan kepada sekolah terlebih dulu bersama dengan pengurus penghayat. Setelah disetujui pihak sekolah maka baru dilaksanakan. Biasanya tidak bisa satu kali disetujui, perlu beberapa kali kita harus mengurusnya," ujar yang rela mengabdi tanpa gaji menjadi pamong penghayat kepercayaan.
Satu Cilacap, Lima Penyuluh
Selain Slamet, ada empat penyuluh penghayat lain yang berjuang di jenjang SD hingga perguruan tinggi. Meski lebih merupakan kerja sosial, namun untuk menjadi penyuluh perlu melewati sertifikasi yang ketat. Dengan adanya penyuluh inilah, para siswa penghayat di Cilacap bagian timur, kota dan barat mendapatkan berbagai materi.
Para penghayat kepercayaan yakin jika melalui pelayanan pendidikan, maka regenerasi penghayat beserta ajaran warisan leluhur masih terjaga. Melalui pendidikan di sekolah dan tradisi ritual kelompok, para penghayat menjadi bagian komunitas nasionalis, religius sekaligus pluralis.
"Bagi kami, kebhinekaan atau perbedaan adalah kewajaran yang perlu disikapi dengan saling menghargai dan menghormati. Makanya sejak dulu kami tak pernah mengungkit perbedaan antarkelompok penghayat, bahkan antara umat beragama atau beriman lain," kata Basuki, Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Adat dan Tradisi (MLKI) Kabupaten Cilacap.
Terkait hal itulah para penghayat mendukung langkah pemerintah dan aparat yang terus berupaya membina kerukunan antarumat beragama dan beriman lain hingga tingkat bawah. Para penghayat mengapresiasi langkah pemerintah yang telah hadir, sehingga penghayat bisa mendapatkan layanan publik mulai dari hak sipil, sosial ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan keyakinan secara sama dan setara dengan warga negara lain.
"Untuk itulah kami bersama para warga penghayat dan penyuluh terus berusaha memperjuangkan hak-hak dengan damai sesuai aturan. Memajukan pendidikan untuk menjaga nilai tradisi dan kebudayaan menjadi cara kami memperkuat generasi penjaga NKRI," ujar Basuki.
Tiap Minggu Kliwon, para pengurus 34 kelompok penghayat berkumpul di sekretariat MLKI di Kota Cilacap. Pertemuan itu menjadi sarana penguatan pemahaman tentang regulasi, musyawarah pelaksanaan tradisi, hingga pemecahan dan penyikapan masalah terkini yang dihadapi penghayat. Komunikasi dan sinergi penghayat dengan kaum lintas agama dan iman juga dilaksanakan rutin.
"Bingkai persaudaraan dan kemanusiaan menjadi sarana untuk menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah perbedaan. Kami menolak dan mengutuk keras intoleransi, radikalisme dan terorisme sekarang ini," katanya.
(Susanto/CN26/SM Network)
https://www.suaramerdeka.com/news/ba...epanjang-hayat
Mending pendidikan agama dihapus aja diganti pendidikan budi pekerti
2
1.6K
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan