CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
#SaatnyaMoveOn - AKU, KAMU & DIA YANG MENGGEMASKAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c91af618012ae75151cf53b/saatnyamoveon---aku-kamu-amp-dia-yang-menggemaskan

#SaatnyaMoveOn - AKU, KAMU & DIA YANG MENGGEMASKAN

#SaatnyaMoveOn

Aku, Kamu dan Si Dia Yang Menggemaskan


#SaatnyaMoveOn - AKU, KAMU & DIA YANG MENGGEMASKAN

koleksi pribadi yang gak jelas.


Spoiler for Bonus Soundtrack:



Quote:



Pada suatu ketika di saat sang bulan mulai merangkak naik.

"Pah.. Jujur deh sama aku. Apa sih mau kamu sebenarnya? Kenapa sih kamu selalu diem terus begitu kalo kita lagi diskusi? Ada yang enggak kamu bilang ke aku? Iihs.. nyebelin banget kamu tuh."

Aku yang sedang asik menonton berita berita singkat di tivi tentang kejadian sehari hari di jagad nasional hanya menoleh malas kepada istriku yang bawelnya minta ampun dan memilih untuk tidak merespon pertanyaannya barusan. Aku tidak suka berdebat dengannya, yaah dengan siapa pun juga tepatnya. Gak guna dan buang buang energi saja.

Istriku sendiri pun selalu begitu, di saat diskusi mulai memanas dan tak menemukan titik temu dia akan kembali mengungkit ngungkit semua hal yang sudah lewat dan mengolah kata kata seolah olah aku telah mencurangi dirinya. Padahal sebagian besar kisah hidupku semua masa laluku dia sudah tahu semuanya tapi kok yaa gitu lagi gitu lagi. Ya Allah, aku lelah.... dan jenuh.

"Kakak.. Adek, sudah jam sembilan nih bobok yuk. Besok pagi kita lari lari lagi deh."

Si kakak yang sedang asik dengan hobi mewarnainya sambil ditemani adiknya yang selisih umurnya hanya dua tahun itu langsung bersorak gembira dan buru buru menghampiriku kemudian naik ke pangkuanku yang sedang duduk di sofa. Istriku yang duduk di sebelahku hanya melirik jutek sambil menghela napasnya.

"Beneran pah? Janji yaa!" kata si kakak antusias. Senyum polosnya merekah indah begitu menyejukkan.

"Iyaa, papa janji asal kakak gak susah bangunnya besok. Okeh?"

Si kakak pun mengangguk angguk dengan mimik menggemaskan.Kuelus elus lembut kepala putri sulungku ini seraya tersenyum kepadanya. Mata sipitnya seolah ikut tersenyum seiring dengan seringai bibirnya yang mirip sepertiku seraya memperlihatkan deretan gigi gigi ompongnya yang lucu. Hahahahahaha. Kakak.. Kakak. Ah si kakak mah.

"Paah, adek juga ituuut..." kata sang adik tak mau kalah.

"Iya sayang, semua ikut doong. Makanya adek juga bobok cepet yaa. Oh iya, kita bersih bersih dulu yuk! Sini papa gantiin bajunya. Ayoo siapa duluan, kakak atau adek?"

Mereka berdua langsung berebut maju untuk duluan aku gantikan bajunya. Sebuah ritual wajib setiap malam sebelum mereka tidur agar terbiasa bersih dan tidak jorok. "Aku dulu!". "Aku!" "Kamu kan anak kecil, ngalah doong!" "Ih kakak maah..!" dan seperti biasa mereka akan saling sahut sahutan tanpa henti tanpa ada yang mau mengalah.

Aku hanya tertawa sambil sesekali kucubit gemas pipi pipi mereka yang montok dan bulat lucu itu. Terutama si adik yang baru menginjak usia satu tahun namun sudah lancar sekali berbicara. Matanya yang bulat besar indah begitu mirip sekali dengan mamanya dengan senyum manisnya yang tak jauh berbeda.

"Huuhh!! Diajak ngomong malah gitu. Terserah kamu lah!" ujar istriku ketus dan beranjak meninggalkan sofa.

Seraya berdecak sebal, Mamanya anak anak langsung ngeloyor menuju ke kamar sendirian. Kulirik dirinya sekilas. Oh, rupanya istriku langsung menyiapkan pakaian seragam sekolah anak anak dan pakaiannya sendiri untuk dipakainya bekerja besok ke kantor. Walaupun sedang marah dia tetap perhatian pada anak anaknya dan hal itulah yang kusukai darinya namun sayangnya muka masamnya tak juga hilang dari wajahnya yang sebenarnya cantik dan manis.

"Mamaah mamah.... ah kamu juga sih." pikirku dalam hati.

Ada rasa jengkel dan penyesalan tiap kali aku bertengkar dengan istriku. Namun pikiranku dengan cepat menampik. Kuanggap ini adalah sebuah dinamika kehidupan berumah tangga. Ada pasang surutnya. Ada senang ada sedih. Ada cinta ada cemburu. Kadang di saat saat seperti inilah justru aku merasa lebih 'hidup'.

Kakak dan adik berlarian menuju ke kamar setelah selesai pipis dan bersih bersih di kamar mandi. Istriku langsung mengomel saat mereka bukannya tidur malah dengan kompak berlompatan riang di atas kasur sementara aku langsung ke ruangan dapur untuk mengambil wudhu.

...



Keesokan harinya saat senja turun dan merona kemerahan.

"Boleh peluk gak? Uuuh kamu lucu banget siih.."

Seperti biasa sosok cantik di hadapanku ini selalu bertingkah malu malu tapi mau. Awalnya hanya melirik saja namun akhirnya dia sendiri yang mendekat dan minta kupeluk dengan ekspresi manjanya yang selalu membuatku kangen untuk bertemu dengannya.

"Hahahhaha adududuh... jangan dijilat dong Beb. Hush hush udah ah, nanti istriku tau. Eeh tuh kan jangan pake gigit gigit kuping juga ah. Nakal kamu yaa." kutoyor dahinya pelan.

Namun dia tak peduli dan terus saja menempelkan pipinya ke wajahku dan mulai mengeluarkan suara suara yang menggemaskan. Telingaku habis dijilati dan pipiku pun diciuminya hingga lengket dan basah oleh si cantik yang kini naik di pangkuanku ini. Aku pun memeluknya erat. Dia menyandarkan dagunya di pundakku dalam diam.

Kami kemudian saling bertatapan agak lama. Getaran getaran haru terasa menggedor kalbuku saat kudengar suara lirihnya. Matanya yang menatapku kini tampak sedih melihat aku yang sedang bersiap siap akan segera beranjak dari kediamannya yang tak begitu jauh dari rumahku. Tentunya istriku tak tahu akan hal ini.

"Sudah sudah, besok aku datang lagi kok Beb. Kamu jangan gitu dong ngeliatinnya, aku sedih nih."

Sosok cantik itu terus mengikuti langkahku saat aku beranjak mundur menjauh dari tempatnya duduk semula dan menatapku dalam keheningan yang menyiksa saat aku berhenti. Aku pun memintanya pulang kembali ke rumahnya dengan lemah lembut. Dia baru mau pergi setelah kuelus elus kepalanya dan kuusap dagunya mesra sambil terus kubujuk dirinya agar kembali masuk ke dalam rumahnya dan tidak mengikutiku lagi.

"Sori Beb, aku dan kamu mungkin masih saling sayang tapi aku punya keluarga juga di rumah yang tak mungkin bisa menerima kehadiranmu. Istriku sangat cemburu sama kamu soalnya. Maafkan aku ya Beb. Bukan maksudku jahat kepadamu. Sungguh..."

Sudah hampir dua bulan aku selalu menyempatkan diri untuk menemuinya secara diam diam seperti ini. Awalnya kupikir istriku tak akan tahu namun entah itu insting seorang wanita atau ada yang mengadu kepada istriku. Satu bulan yang lalu dia mendadak mulai bertanya ini itu, mengorek ngorek informasi tentang jadwal dan kegiatanku di luar rumah. 

Bisa jadi ada tetanggaku atau orang yang mengenalku melihat aku sering mampir ke sini hampir setiap hari sebelum pulang ke rumah makanya istriku bisa tahu. Sejak itulah aku dan istriku menjadi sering bertengkar dan minggu lalu adalah puncaknya di mana istriku mulai memberikan sinyal sinyal ultimatum agar aku jujur kepadanya dan menegaskan pilihanku.

Sepertinya aku harus segera mengakhiri aktifitas pertemuan rahasiaku dengan si cantik ini yang sejak awal aku mengenalnya secara kebetulan beberapa bulan yang lalu sebelum akhirnya kami harus berpisah.

Bebi, aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya di jalan komplek yang tak jauh dari tempatku tinggal saat aku pulang menuju ke rumah namun karena macet aku memutuskan untuk memotong jalan hingga tak sengaja aku berjumpa dan berkenalan dengan Bebi saat aku mampir sebentar di sebuah warung kelontong untuk membeli rokok.

Dia sangat manis. Tatapannya begitu manja dan menggoda hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekat dan mencoba berkenalan dengannya. Gayung pun bersambut, Bebi tak menolakku dan membiarkan aku mengenal dirinya lebih dekat.

Sejak itulah kami menjadi akrab dan lama kelamaan timbul rasa sayang. Bebi selalu mencoba mengikutiku tiap kali aku berpamitan pulang kepadanya namun aku selalu menolak dan membujuknya agar tidak ikut denganku. Bahaya, istriku bisa ngamuk bila melihat Bebi datang bersamaku.

Hingga suatu ketika sebelum sebuah kejadian naas itu terjadi, sore itu tiba tiba Bebi muncul di teras rumahku dan mencariku. Tak tega karena dia sudah susah payah mencariku aku pun mempersilakannya masuk dan kami berdua bercengkrama bersenda gurau di teras. Kejadian itu terus berulang hingga seminggu lamanya.

Aku dan Bebi senang sekali. Kami berdua sangat cocok satu sama lain. Sebenarnya aku sendiri heran kenapa Bebi bisa selalu berada di teras rumahku sesaat serelah aku pulang namun aku tak begitu peduli karena senang berjumpa dengannya.

Sialnya, pada suatu sore tepat satu minggu sejak Bebi sering menghampiri dan bercengkrama di teras rumahku ternyata hari itu entah ada angin apa istriku mendadak pulang dari kantornya dan tiba di rumah dua jam lebih cepat dari biasanya.

Aku dan Bebi terkejut. Istriku sangat marah dan langsung menghardik serta mengusir Bebi dengan kasar tanpa bertanya terlebih dahulu kepadaku.

Aku sangat kesal pada istriku namun aku tak mau membuat keributan di komplek rumahku sendiri. Malu dengan tetanggaku, bisa jadi gosip murahan ibu ibu arisan nantinya.

Saat itu lah hari terakhir aku melihat Bebi. Mungkin dia sakit hati karena kata kata kasar dan perlakuan istriku yang sempat melempari dirinya dengan sandal jepit dan kerikil yang dipungutnya dari jalanan.



Dengan hati galau dan perasaan tak menentu aku pun segera menghidupkan motorku dan pulang. Dirinya menatapku dengan raut kesedihan yang tergambar jelas dari sudut teras rumahnya saat kuintip dirinya melalui kaca spion motorku. Huffftt..


Seminggu kemudian.

Aku dan istriku duduk duduk bersama asik bercengkrama di teras rumah kami malam ini. Sengaja kami pindah keluar karena tak ingin anak anak yang sudah tidur menjadi terbangun dikarenakan keributan yang mungkin terjadi pada kedua orang tua mereka yang saat ini sudah mulai memanas tensi obrolannya.

"Jangan bohong lagi deh pah. Ngaku aja, kamu masih sering nyamperin si siapa itu namanya? Bebi, iyaa Bebi. Iya kan pah?!" istriku mulai naik pitam.

Kutatap wajah istriku tajam. Aku tak suka cara dia mengomel dan berbicara seperti itu kepadaku namun aku sadar bahwa dalam hal ini aku lah yang salah. Aku pun mengangguk pelan tanpa berkomentar dan beralasan lagi. Malas, bisa lebih panjang lagi malah urusannya. Aku hanya ingin situasi ini cepat selesai dan pergi tidur!

Istriku mendengus kesal. Tiba tiba, dengan perlahan diraihnya satu tanganku dengan kedua tangan dan ditempelkan ke tengah tengah dadanya sambil memandangku dengan tatapan memelas. Intonasi suaranya pun menjadi rendah, tidak tinggi seperti sebelumnya.

"Paah, kamu tuh harus bisa move on. Kamu mungkin masih sayang Bebi dan dia pun begitu tapi aku ini istrimu Pah, ibu dari anak anakmu. Aku juga sayang kamu. Kami sayang kamu. So, please.. Kamu putuskan sekarang juga. Pilih aku dan anak anak, atau Bebi?"

"Konyol kamu Mah. Kenapa juga aku harus memilih di antara kalian?"

Tanganku dihempaskan dengan kasar oleh istriku setelah mendengar responku barusan.

"Hiiiih.. Pah! Pokoknya ya, pokoknya kalo kamu masih aja ketemuan sama si Bebi itu mulai besok aku gak bakalan mau pulang ke rumah ini! Anak anak juga ikut aku! Kamu sendiri aja di rumah.Titik!!"

Braakk!! *anyiiing....!!

Pintu rumah dibanting agak keras oleh istriku yang marah dan langsung meninggalkan aku sendiri di teras rumah. Aku terkejut dengan sikap kasarnya itu lalu duduk menyandar di kursi teras sambil menghela napas.

Kusulut sebatang rokok yang tadi kumatikan saat istriku datang menyusul ke teras tadi sebelum kami bertengkar dan menikmati tiap tarikan dan hembusan asap racun ini dari mulutku seraya diam merenung memandangi titik titik kelap kelip kecil di ufuk langit yang gelap di atas sana.

"Beb, I think this is the end for both of us. Kamu juga harus bisa menerima kehadiran keluargamu yang baru tanpa aku ada di sisimu lagi. Maafkan aku Beb. Maafkan aku.... Kita berdua memang  tidak ditakdirkan untuk bisa bersama dan harus segera melanjutkan hidup kita masing masing.

Keheningan malam pun terasa semakin syahdu saat suara jangkrik mulai terdengar bersahut sahutan tak kenal lelah seolah sedang mengejek kebodohan sikapku yang nyaris saja mengorbankan keutuhan keluarganya hanya karena keegoisanku semata.

Tak terasa setengah bungkus rokok sudah kuhabiskan menemani lamunanku dalam kesedihan yang mendalam. Aku pun bangkit dan beranjak dari teras untuk masuk ke dalam rumah. Solat lalu minta ampun dan berdzikir kepada Sang Maha Pengampun Penguasa segenap jiwa di seluruh semesta.

"Selamat tinggal Bebi, semoga kamu bahagia. Aku akan pergi dari hidupmu mulai detik ini."

...



Satu bulan kemudian.

"Hahahaha. Papaah.... papah. Ya ampuuun.... Ngapain sih kalian joged joged gak jelas gitu?"

Senyum dan tawa ceria kembali menghiasi wajah cantik istriku saat dirinya yang baru pulang agak larut karena diminta lembur dari kantornya dan mendapati aku bersama anak anak sedang asik berjoged bergoyang pinggul sambil tertawa tawa mengikuti lantunan lagu dangdut yang sedang diputar di sebuah acara tivi.

"Maah... seru mah. Ayo ikuut.." kata si kakak yang senang melihat mamanya dan langsung menarik narik jari jari istriku untuk mengikutinya.

"Hihihihi gak ah, mamah gak mau. Kalian aja." kata istriku tersenyum geli.

"Mamah gak acik... gak celuuu!" celetuk si adik tiba tiba sambil tetap berjoged menggoyang goyangkan pantatnya yang montok dan seksi seperti mamanya.

Aku dan istriku spontan saling pandang dan tergelak mendengar celotehan dari anak bungsu kami barusan. Kakak dan adik awalnya tampak bingung melihat orangtuanya yang tiba tiba tertawa terbahak bahak namun akhirnya ikut tertawa juga tanpa tau apa yang sebenarnya mereka tertawakan. Mungkin mereka senang melihat kedua orangtuanya kembali akur.

cuuuppp!! sebuah kecupan hangat mendarat di pipiku.

"Aku mandi dulu ya Paah. Anak anak diajak bobok cepet aja." bisik istriku sambil tersenyum manja.

"Lho kok, emangnya kenapa mah?" tanyaku pura pura tak mengerti.

"Gak mau niih?" lirik istriku genit sambil berjalan melenggak lenggok ke kamar.

"Hehehehe iya iya, jelas mau doong. Mandi yang wangi yaah. Mmuah!" kulemparkan sun jauh kepadaku istriku yang kini tersenyum manis di depan pintu kamar mandi dengan pipinya yang merona kemerahan.

"Papah papah, ayo joged lagi doong. Pacalan sama Mamah aja siih? Ayuuuk!!" si adik menarik tanganku sambil memonyongkan bibirnya. Si kakak juga, dia malah bertolak pinggang dan menatapku cemberut lewat mata sipitnya yang menawan.

"Hah? Hahahaha anak kecil tau taunya... Emang pacalan apa sih dek? Iyaa maaf maaf, yook kita joged lagi... Tarik Maang!!"

"Yeeayyyy!!!" sorak kedua anakku melompat lompat kegirangan.

Keriaan ini tak berlangsung lama karena 15 menit kemudian acara sudah berganti dan aku pun mengajak anak anak untuk bersih bersih dan berganti pakaian sebelum tidur. Mereka protes kenapa harus tidur lebih cepat dari biasanya. Aku sedikit berbohong dengan mengatakan bahwa Papa dan Mama mereka sudah sangat mengantuk dan harus berangkat pagi pagi sekali. 

Setengah jam kemudian setelah berdoa dan kudongengkan mereka pun sudah terlelap di dalam kelonanku. Pelan pelan aku bangun dan beranjak dari tempat tidur menghampiri istriku yang sedang duduk merias dirinya di kamar satunya.

"Maah. Anak anak udah bobok tuh. Ehem... jadi kan?"

Istriku menoleh kepadaku dan mengangguk pelan seiring dengan senyuman manisnya yang tampak sangat menawan malam ini..

"YESSS!!!" akhirnya. Alhamdulillah.

...


Beberapa jam kemudian saat sang subuh akan segera berlalu

Berhubung hari ini weekend aku pun membangunkan anak anak dan mamanya untuk mengajak keluargaku lari pagi bersama. Sebuah kegiatan sederhana tapi sangat membuat mereka senang terutama anak anakku.

Senyum dan tawa riang menghiasi wajah anak anakku yang tidak tampak lelah walaupun baju mereka sudah agak basah oleh keringat saat kami berempat berjalan mencari sarapan di jalanan komplek yang agak besar di sekitaran rumahku.

Deggg... aku tertegun saat mataku menangkap sosok familiar yang ingin sekali kupeluk saat ini juga.

"Gak boleh! Kamu kan sudah janji Pah.." kata istriku yang sadar dengan apa yang sedang kulihat.

"Tapi Maah, dia tuh lucu bangeett.. Gemesin tau, tuh anak anak aja suka." kataku beralasan.

Istriku mendelik galak dan mencubit pinggangku.

"Aku alergi sama dia, sudah berapa kali aku bilangin juga. Kamu masih bandel aja. Udah pulang aja yuk, kakaak adek ayo pulang! Eh jangan deket deket sama Bebi."

Anak anak tanpa protes langsung menurut pada Mamanya namun mulut mereka berdua sama dimonyongkan sebagai tanda protes.

Aku melirik pada Bebi yang memperhatikan kami dari seberang jalanan di depan sebuah rumah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.

"Bye Beb, sori... Kamu di sini aja yaa. Daah."

Bebi maju selangkah demi selangkah namun tak berani mendekat kepadaku karena istriku sudah mencopot sepatunya dan bersiap untuk melempari dirinya. Aku sedih saat kulihat Bebi mencoba menyapaku dan mulai membuka mulutnya. "Please Beb, kamu juga harus move on dari aku. Pleaseee...."



Quote:



-- T.A.M.A.T --
Diubah oleh @soygeboy
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 3
pus pus pus.......
Quote:


Hehehehehe... Thank you dah mampir gan. emoticon-Embarrassment



#miaww
Oh ini trit tentang mantan itu ya om?
Move on tak berarti melupakan kan?emoticon-Malu
Om ded ak udah serius loh pas awal baca km peluk2 bebi walau rada aneh saat dia menjilat2 pipiemoticon-Ngakak
Ternyata seekor kucing tapi hebat euy sampe bikin istri cemburu sampe banting pintu segalaemoticon-Hammer2
untung ndak di gebuk ama gagang sapu emoticon-Leh Uga
&list=RDooTklSLsy0A&index=1
Wow, om dedoy ikutan kontes carpon lagi? Mantap hahahaha... emoticon-Peluk
Udah curiga saya tuh dari awal, masa sampe dilempar sendal dan kerikil segala emoticon-Gila bener kan kecurigaan saya... ternyata emoticon-Leh Uga
Di rumah saya ada dua tuh pakde, gagah dan ganteng2 banget. Si coco dan si boy emoticon-Embarrassment
Diubah oleh fee.fukushi
kurang ajar kucing ternyata.
Penonton tertipu kakanda emoticon-Leh Uga
Diubah oleh ariid
Wahahha.. ternyata Bebi itu seekor kucing tho..
Kasian euy mo d lempar sepatu, padahal dia kan lucu imut dan menggemaskan. Boleh saja km tidak menyukainya tpi jangan disakiti dia itu sama2 makhluk ciptaan Tuhan, kalau yg punya nya marah kita bisa apa.
aku rasa bebi manggil2 krna meminta pertanggung jawaban tuh...

Quote:


kira2 hamil gk tuh si bebi om? emoticon-Leh Uga
Diubah oleh nichi07
Quote:


Hai om..

Hooh emoticon-Ngakak

Yoi, move on kan artinya pindah, bergerak. Ilang satu mantan ya cari aja mantan baru... eeh emoticon-Hammer (S)emoticon-Hammer (S)

Tapi kalo udah nikah emang harus bener bener ngelupain sih om, karena bisa memicu rasa rindu akut yang tiba tiba menyergap... haisshh... apakah.. emoticon-Peace
Quote:


Hihihihi.. yaa boleh doong kan tetep aja mantan walaupun bukan orang.

Itu karena dia alergi dan bener bener ga suka kucing dari dulu. emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)
Quote:


Atau disiram aer, apalagi aer bekas rendeman cucian. emoticon-Takut (S)emoticon-Takut (S)
Quote:


Wew, lagi keinget mantan ya gan? Cedih aja lagunya.

Btw thanks yaa. emoticon-Malu
Quote:


Hehehehe iya om, ayo laah ikut ngeramein juga. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Quote:


Aih si Bude mah curigation aja sama akuh.. emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

Wow benarkah? asiik dong.

Dulu aku punya enam malahan. Tapi dikasi orang semua karena pucing denger bini komplen melulu dan aku pun mulai kerepotan karena ngurusin sendirian. emoticon-Frownemoticon-Frown
Quote:


Hehehhehe tapi ciyuss, bini ane cemburu lho. Soalnya ane kalo lagi sama kucing suka asik sendiri. emoticon-Big Grin
Lihat 1 balasan
Quote:


Iyaah.... aku juga gak tega jeng. Mereka lucu bingits. emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

Yup, setujuh. Makanya aku cedih kalo liat ada yang kasar sama empus.
Quote:


Eaaaa.....huasyeemm tenan. emoticon-Hammer (S)emoticon-Hammer (S) emoticon-Ngakak (S)

Kasian om, bisa modyar tuh kucing. Orang aja sampe jerit jerit apalagi empus.. eeh. Hahahahaha emoticon-Blue Guy Peace
Quote:

ndak hamil kok om,tapi bawa baby emoticon-Leh Uga
"mas ini anak mu mas" emoticon-Leh Uga

Quote:

ane curiga ini emoticon-Ngakak
sebenarnya bukan kucing incerannya emoticon-Leh Uga
melainkan yg punya kucing emoticon-Leh Uga
Quote:


Wkwkwkwk.... gimana klw pemilik bebi om?
Quote:


Bisa jdi bebi hanya alasan ye. Padahal dia affair nya sm yg punya bebi.. wkwkwk


Quote:

Iya si paksu dan bocah yg kecil pecinta kucing banget. Kayanya cat whisperer deh paksu dan bocah saya yg kecil itu, banyak bgt kucing liar yg dateng ke rumah ngapelin mereka emoticon-Big Grin itupun si coco dan boy awalnya liar, tapi lama2 karena diurusin ya, dimandiin dan dikasih makan, eh jadi ganteng banget deh.

Saya dulu juga suka banget sih pakde, tapi gara2 anaknya sahabat ibu meninggal karena penyakit yg dibawa kucing, agak2 gimana gitu sayanya.
Nah ini di rumah, kucing boleh keluyuran di lt 1 aja, ga boleh masuk kamar dan naik ke atas. Dan ternyata karena dilatih dan suka diajak ngobrol sama paksu, ngerti dan nurut tuh mereka emoticon-Roll Eyes (Sarcastic) aneh deh... kalo lagi dihukum aja ngerti tuh kucing, jangan2 saya ini nikah sama siluman kucing ya emoticon-Big Grin emoticon-army
Quote:

naah itu die,mpus nya cuma buat alibi doang om emoticon-Leh Uga

secara YOKO mah bibi lung aja klepek" gimana yang punya mpus emoticon-Leh Uga
Quote:

Padahal kalau kita melihara kucing itu bisa sebagai hiburan juga saat kita suntuk.
Andaikan kita ikhlas ngasih makan kucing liar itu termasuk sedekah dia jg akan mendoakaan kita d beri kelancaran rejeki.
Aku sering seperti itu.
Balasan post @soygeboy
Quote:


Enggak om ah, ane takut diciduk lagi sama densus 88 hahahahahahaha

BTW om dedoy punya kucing jantan gak? Ini di rumah ane ada kucing persia, status janda anak 2, lagi nyari suami baru, barangkali om dedoy mau besanan emoticon-Embarrassment
Diubah oleh Martincorp
ane walik emoticon-Leh Uga
Diubah oleh ipunk3133
Halaman 1 dari 3
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di