CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Hantu Tampan Penunggu Kamar Kos
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c909db0af7e931f21296d5b/hantu-tampan-penunggu-kamar-kos

Hantu Tampan Penunggu Kamar Kos

Hantu Tampan Penunggu Kamar Kos
Sumber : pixabay.com

Cerita sebelumnya bisa di klikdi sini

Suara teriakan Nena bergema ke seluruh penjuru kos-kosan. Sekejap kemudian suara itu digantikan dengan gedoran keras pintu kamar. "Mbak Nena, ada apa?" Ibu kos memukul pintu lebih keras sambil berusaha membukanya.

Nena menutup mulut dengan kedua tangan. Mata menatap tajam pada hantu tampan karena hidung mereka hampir bersentuhan. Nena memberi isyarat memakai mata agar hantu itu berpindah tempat.

Cewek itu segera melompat turun dari ranjang ketika hantu tampan sudah duduk di meja belajar yang terbuat dari kayu jati.

Ibu kos dan tiga orang lain terjebab ketika Nena menarik pintu dengan tiba-tiba. Binar tidak ikut jatuh karena bersandar pada tembok kamar yang berhadapan dengan kamar Nena. Cewek itu berkedip lebih sering sambil sesekali menutup mulut menggunakan tangan ketika menguap.

"Ada apa sebenarnya? Pagi buta sudah buat kerusuhan?" tanya Binar masih dengan suara serak.

Nena menoleh sambil menunjuk-nunjuk jam dinding. "Aku kaget karena sudah jam segini. Harus segera siap-siap kalau nggak mau terlambat."

Tia berdiri, mengibaskan piyama agar debu yang menempel bisa hilang. "Yang benar saja. Ini masih jam empat pagi. Sekolah kan mulai jam tujuh."

Nena berlari di tempat sambil menggerakan tangan seirama dengan kaki. "Lari dulu biar sehat."

Indah melihat Nena dan jendela bergantian. "Emang nggak dingin? Di luar berkabut lho."

"Tumben pintar," sahut Tia.

"Indah itu selalu pintar. Tia aja yang nggak pernah sadar betapa pintarnya Indah." Indah membusungkan dada dan menepuknya pelan penuh kebanggaan.

"Halah, pintar dari mana coba." Tia bersedekap, sudut mata mengawasi Indah.

Nena menggaruk kepala, semakin bingung memikirkan alasan apa yang harus dikatakan agar mereka tidak khawatir.

"Sudah, sudah. Semua kembali tidur. Ibu mau melanjutkan masak." Perintah ibu kos menyelamatkan Nena karena semuanya langsung balik ke kamar masing-masing. Udara memang terasa sangat dingin.

Nena menutup pintu lalu memutar kunci. Berderap mendekati hantu tampan. Berhenti tepat di depan, kedua tangan berada di pinggang. Bahu terangkat pelan dan turun dengan cepat. "Tolong menjauhlah dariku. Bukan hantu pergi setelah melakukan salam perkenalan?"

"Itu karena kamu menarik bagiku. Aku akan selalu mengikutimu." Sudut bibir si hantu terangkat, menambah nilai ketampanannya.

Nena menepuk dahi dengan cepat. Tangannya turun menutup muka. Bahunya bergerak naik turun lebih cepat.

"Baiklah. Paling nggak kasih privasi. Jangan muncul ketika aku berganti pakaian dan saat tidur," pinta Nena dengan putus asa.

"Baiklah, setuju."

Nena menurunkan tangan dan membuka mata. Dia melihat si hantu menawarkan tangan untuk dijabat. Nena mendengkus. "Jangan langgar janjimu."

Cewek itu kembali merapikan bahan mengajar yang akan dibawa agar tidak tertinggal. Melakukan pemanasan lalu lari di tempat selama beberapa menit.

Setelah mandi, Nena berkumpul dengan ketiga teman kos di ruang makan. Mereka sama sekali tidak membahas kejadian menghebohkan tadi pagi.

"Semoga kamu betah kerja di sekolah itu. Semangat!" Tia mengepalkan tangan di depan dada, memberi dukungan.

"Sudah selesai kan? Ayo berangkat," ajak Binar. Nena dan Binar bekerja di sekolah yang sama. Nena mengajar guru tematik sedangkan Binar mengajar bahasa Jawa.

Sesampainya di ruang guru mereka berpisah karena Nena mendapatkan meja kerja di paling pojok, dekat jendela. Tepatnya berada di samping meja Pak Kian, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi seperti kebanyakan hantu yang sudah pernah ditemui Nena.

"Selamat pagi, Pak Kian," sapa Nena ketika melewati meja cowok itu. Namun Kian tidak membalas sapaan Nena. Dia hanya mengangkat wajah sebentar lalu menunduk lagi untuk melanjutkan kegiatan.

Bel berdering, Nena terburu-buru menuju ke kelas tiga A. Semua siswa sudah duduk rapi menantikan kedatangannya.

"Selamat pagi, Anak-anak. Perkenalkan, saya Bu Nena. Mulai hari ini akan menjadi wali kelas sekaligus guru tematik di kelas ini."

Nena meletakkan tas di kursi lalu duduk dan membuka LKS Tema enam. Sesuatu yang dingin merambat naik dari arah telapak kaki. Bulu kuduk cewek itu berdiri tanpa bisa ditahan.

Dia tidak berani mengambil resiko dengan mengintip siapa yang sudah muncul dari bawah kursi. Sudah cukup merepotkan menghadapi satu hantu ngeyel, tidak mau ditambahi oleh hantu lain.

"Kita buka tema enam subtema empay. Siapa yang mau membacakan bacaan hemat energi?"

Nena mempersilakan anak yang duduk di bangku belakang untuk membaca. Sementara itu dia membuka telinga lebar-lebar. Menanti suara atau gerakan dari hantu usil ini.

Dari sudut matanya dapat dilihat si hantu tampan tiba-tiba muncul tepat di samping meja. Dia berjongkok dan memperhatikan hantu bawah meja. Tangan terulur dan mencengkeram rambut hantu itu, menariknya keluar dari tempat persembunyian.

"Sakit tau." suara protes cewek terdengar. "Apa maumu?"

"Kamu sendiri sedang apa di bawah sana? Mau mengganggu Nena? Tak akan kubiarkan!"

"Memangnya kamu siapa? Berani-beraninya melarangku."

"Aku Peter, penjaga Nena."

"Aku Parni, tempat itu adalah rumahku. Aku nggak suka kalau ada manusia berada di situ."

"Anak-anak, Ibu minta kalian memegang kedua sisi meja masing-masing. Pegang yang erat dan angkat. Kita akan membentuk lingkaran. Ibu akan berada di sini." Nena mengangkat mejanya menuju depan papan tulis. Anak-anak lain segera mengikuti. Mereka berbicara satu sama lain dengan penuh semangat.

"Apa dia bisa mendengar kita?" tanya Parni keheranan.

Nena menunduk, berharap dalam hati agar Peter si hantu tampan berbohong pada Parni.

"Tentu saja tidak. Dia adalah guru yang kreatif. Tidak ada salahnya kalau meminta muridnya untuk melakukan hal yang di luar kebiasaan."

Nena menghembuskan napas lega. Namun perkataan selanjutnya dari Parni membuat cewek itu cemas.

"Kali ini aku maafkan tapi dia akan tetap kukeluarkan dari kelas ini!"

Bersambung


- Belajar Bersama Bisa -
profile-picture
profile-picture
profile-picture
666fapfap dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
38
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 11

Hantu Tampan Penunggu Kamar

profile-picture
profile-picture
profile-picture
eza.d.a dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
Ratu nih...penunggu.. bersambung
Quote:


Tukang gantung datang nih, Bun. Udah kangen gantungin cerita 😂😂😂
profile-picture
Loryae memberi reputasi
merinding 👻👻👻
Ok aku tunggu sambungan nya mba
Quote:


Belum seram ya?
profile-picture
Loryae memberi reputasi
Quote:


Siap, mbak. Ditungguin ya
profile-picture
Loryae memberi reputasi
Quote:


Ok siapemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Kalau hantunya tampan, aku sih gak takut 😉
Quote:


Yakin nih? Cius?
Quote:


Eh, jangan deh. Syerem
ngeri gan hantunya tampan tapi homo
Quote:


Itu yang bikin ngeri ya?
Diubah oleh IztaLorie
udah gitu aja?
Quote:


Gitu aja dulu ya 😊
.....kurang Greget mbak Nena.....panjangin dikit lah.....salken sis...ijin nempel yak....emoticon-Malu
Quote:


Ntar kalau seram takut keluar malam dong 😀
dah update lagi ternyata. kok pindah y sis?
Quote:


Hahaha, iya juga ya
Quote:


Yang kemarin tu nulis buat syarat daftar kaskus kreator. Jadi nggak bisa di review. Yang ini baru pengajuan review karena sudah kaskus kreator. Gitu ceritanya, sista
Halaman 1 dari 11
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di