CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
"Mendung di Karang Jati"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8ff8fd65b24d53bc3d644c/quotmendung-di-karang-jatiquot

[TAMAT] "Mendung di Karang Jati"

"Mendung di Karang Jati"

Salam kenal,

Saya bukan seorang penulis handal, hanya orang biasa dengan waktu berlebih dalam menghayal. Yang mencoba menulis hayalan itu dalam bentuk suatu cerita.

Naskah novel ini sebenarnya sudah di mulai penulisannya dari tahun 2015 dan selesai di tahun 2016 awal.
Kok lama?
Kadang mentok, Gan >.< Ide biasanya selalu tentram damai menemani kadang juga bisa ilang ntah kemana.
RL yang juga tidak bisa memberi ruang untuk menuangkan imajinasi.
Walhasil naskah nya jadi lama selesai. Belum termasuk kadang muncul ide-ide alur penceritaan baru yang sayang buat dilewatkan tapi harus mengubah isi 2 sampai 3 bab. T_T

Saya mencoba membuat naskah ini dalam bentuk bab dimana masing masing bab akan di pecah menjadi 2 bagian. Jadi kalo ntar ngeliat penomoran seperti ini misalnya 3.2.2 , itu artinya agan sedang membaca Bab 3 Bagian 2 Penggalan ke- 2. Kok di penggal penggal? Kalo ngga d penggal-penggal, tiap bagian bab itu panjang banget. Kasian ama matanya ...Heheheh

Karena ini adalah bentuk tulisan saya yang pertama maka mohon di maklumkan pabila bentuk bahasa dan penceritaan nya masih terkesan kaku banget.

Apabila nanti Agan2 menemukan adanya kesamaan dalam penamaan tokoh maupun tempat, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Cerita ini murni fiksi dan tidak ada sangkut pautnya dengan sejarah. Baik itu nama tokoh maupun nama tempat semuanya adalah karangan penulis. .

Saran dan kritikan sangat saya harapkan karena ini adalah cerita perdana saya. Mudah2an ke depannya saya bisa lebih baik.

Semoga berkenan.



Quote:




INDEX

Spoiler for BAB 1:

Spoiler for BAB 2:

Spoiler for BAB 3:

Spoiler for BAB 4:

Spoiler for BAB 5:

Spoiler for BAB 6:

Spoiler for BAB 7:

Spoiler for BAB 8:

Spoiler for BAB 9:

Spoiler for BAB 10:

Spoiler for BAB 11:

Spoiler for BAB 12:


Spoiler for Epilogue:
profile-picture
profile-picture
elangbiru00 dan mr.rabbit12 memberi reputasi
Diubah oleh omboth
Halaman 1 dari 12
MdKJ 1.1.1



Malam itu terasa lebih gelap dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Tidak terlihat bulan bersinar di langit karena tertutup oleh gumpalan-gumpalan awan. Hewan malam lebih senang berdiam diri di dalam sarang hangat mereka daripada berkeliaran, seolah paham bahwa malam ini berbeda dengan malam-malam yang lain. Angin malam sesekali bertiup kencang memaksa daun dan ranting pada pohon-pohon bergerak pasrah kemana arah angin berhembus. Mengeluarkan suara-suara yang cukup membuat bulu kuduk berdiri apabila ada orang yang melintas di dekatnya.

Sukar sekali memang untuk tidak merasa takut bila kita dihadapkan pada situasi serupa. Walaupun pada kenyataannya kita sadar bahwa kita sejatinya hanya diharuskan takut pada Sang Pencipta. Akan tetapi karena keterbatasan pikiran dan pengertian sebagai seorang manusia, kadang kita masih takut akan segala sesuatu yang mungkin hanya tercipta karena rasa prasangka. Betapa dunia ini akan terlihat jauh lebih indah jika kita mampu menghilangkan semua prasangka tersebut. Melihat bahwa dunia dan segala isi di dalamnya merupakan sesuatu hal yang sungguh menakjubkan dan harus selalu kita syukuri.

Tiga bayangan berlari dengan cepat menembus pekatnya malam. Seolah tidak ingin terlambat akan sesuatu hal, mereka terus bergerak beriringan menyusuri jalan yang agak mendaki. Di kiri dan kanan jalan tersebut ditanami pohon lamtoro yang tumbuh rapi berjejeran. Gerakan mereka yang ringan dan tanpa menimbulkan suara, menunjukan bahwa orang-orang ini memiliki kemampuan tinggi dalam meringankan tubuh. Mereka masing-masing membawa sebilah pedang yang disangkutkan di belakang punggung dengan bentuk gagang pedang dan warna yang serupa.

Tiba-tiba orang yang berlari di tengah berhenti dan mengangkat tangan kanannya keatas memberi tanda. Dua orang di sisi kanan dan kiri serentak berhenti dan diam menunggu. Orang yang berdiri di tengah tetap tegak diam hanya matanya yang tajam menatap ke arah depan. Nafas ketiga orang itu tampak sangat teratur walaupun mereka baru saja berlari dengan kecepatan tinggi.

“Ada apa, Kakang Reja?”

Orang yang di sebelah kiri bertanya karena merasa heran kenapa mereka menghentikan perjalanan secara tiba-tiba. Orang yang di sebelah kanan mengedarkan pandangannya memperhatikan keadaan di sekitar mereka. Karena malam begitu gelap maka jarak pandangnya pun menjadi sangat terbatas. Tapi yang ia tahu, mereka sekarang berada di tengah-tengah sebuah padang rumput yang tidak begitu luas.

Pakaian mereka semua sama berwarna kuning. Yang membedakan adalah ikatan kain yang digunakan sebagai pengikat pinggang mereka. Orang yang ditengah memakai kain berwarna merah, sedangkan dua orang di kanan dan kirinya menggunakan kain berwarna kuning sewarna dengan pakaian mereka. Kain merah yang mengikat pinggang orang yang berdiri di tengah terlihat bergerak sebentar-sebentar akibat tiupan angin malam. Sama seperti dua orang di kanan dan kirinya, pakaian mereka terbuka tak dikancingkan pada bagian dada menampakan dada-dada bidang laki-laki jantan dan perkasa. Bentuk tubuh mereka hampir sama padat terisi otot-otot bukti hasil latihan keras bertahun-tahun. Kepala mereka bertiga di ikat dengan semacam kain berwarna hitam dan membiarkan rambut mereka dibagian belakang lepas bebas dimainkan angin.

Orang yang di tengah yang di panggil Reja itu hanya diam.Ia lalu merendahkan badannya dan perubahan gerakan ini diikuti oleh dua orang lainnya. Reja kemudian menarik nafas dalam dan berkata dengan suara pelan.

“Mungkin memang sudah kehendak Yang Diatas.” Lebih kepada dirinya sendiri.

“Apa maksud, Kakang?” Kali ini orang yang di sebelah kanan bertanya.

Reja hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu dan berkata dengan suara pelan kepada orang yang berada di sebelah kanannya yang memiliki wajah jauh lebih muda dari dua orang yang lain.

“Apakah masih tetap kau simpan benda itu, Panji?”

Pemuda di sebelah kanan mengangguk.

“Tak pernah benda ini meninggalkan ikat pinggangku setelah kita bertiga keluar dari ....”

“Jagalah dengan baik benda tersebut.”

Reja memotong ucapan Panji sebelum pemuda itu selesai mengucapkan kalimatnya. Panji menjawab dengan anggukan kepala.

“Tapi ada apa sebenarnya, Kakang?” Orang yang di sebelah kiri bertanya.

Reja tak segera menjawab. Matanya lurus memandang ke arah depan. Perlahan ia memandang bergantian ke arah orang yang berada di sebelah kanan dan kiri.

“Kita sudah di tunggu oleh beberapa orang di depan sana.”

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.2



Wajah dua orang yang berada di kanan dan kiri Reja mendadak menegang.

Sampai detik ini, mereka sama sekali tidak mendengar ataupun menangkap gerakan satu sosok pun di depan mereka. Tapi seandainya Reja berkata demikian, maka mereka pun mempercayainya. Mereka tahu bahwa kemampuan kakak seperguruan mereka ini jauh lebih tinggi dari kemampuan mereka. Walaupun mereka bertiga telah menguasai ilmu yang sama akan tetapi tetaplah kemampuan Reja berada jauh di atas mereka. Terutama dari sisi kemampuan mengolah tenaga dalam. Kemampuan kakak seperguruan mereka ini bisa dikatakan satu tingkat di bawah kemampuan guru mereka.

“Mungkin hanya warga dukuh yang meronda keliling, Kakang.”

Panji berkata mencoba menenangkan diri, seraya mengalihkan pandangannya melihat ke depan. Mencoba siapa tahu dia bisa menangkap sosok-sosok yang di maksud oleh kakaknya itu. Tapi percuma, matanya hanya menatap ujung jalan yang gelap oleh pekatnya malam.

“Dari gerak-gerik mereka, mereka bukanlah warga dukuh yang sedang keliling meronda.” Reja menjawab masih dengan suara pelan.

“Jangan-jangan mereka tahu rencana kita.”

Orang di sebelah kiri berkata dengan nada cemas. Alisnya yang tebal tampak bergerak ke tengah seolah membentuk sepasang sayap burung rajawali.

Reja yang membaca nada kecemasan dari ucapan orang di sebelah kiri ini tersenyum.

“Jangan cepat mengambil kesimpulan, Praja. Kita masih belum tahu apa maksud mereka. Siapa tahu mereka hanyalah sekelompok orang yang ingin pergi ke kademangan akan tetapi saat ini mereka sedang beristirahat.”

Praja diam dan mengangguk.

Dalam hati dia membenarkan ucapan kakaknya tersebut. Buat apa dia berprasangka akan sesuatu hal yang mungkin saja belum tentu benar. Akan tetapi, walaupun dia setuju dengan ucapan Reja, masih ada perasaan cemas menggelayut dalam hatinya. Bagaimana seandainya apa yang ia duga ternyata benar? Bagaimana bila ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang dimaksud oleh guru mereka? Tapi, mengapaorang-orang itu tahu pergerakan mereka? Apakah ada mata-mata yang telah membocorkan rahasia pergerakan mereka? Kalau memang ada mata-mata, sejauh mana berita yang seharusnya menjadi rahasia ini bocor?

“Mungkin ini jalan terbaik.”

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.3



Ucapan Reja membuyarkan semua lamunan Praja.

Panji yang saat itu tengah mencoba menangkap suara ataupun gerakan mencurigakan di ujung jalan pun menoleh ke arah Reja.

“Terpaksa rencana awal kita ubah.”

Reja berkatadengan nada suara tegas. Membuat dua orang adiknya terdiam.

“Panji, kau dengarkan aku sampai selesai. Jangan kau bantah omonganku dan jangan pula kau menolaknya.”

Panji mengangguk dan anggukan ini dibalas dengan senyuman oleh Reja.

“Apapun yang terjadi, benda itu harus sampai ke tujuannya. Tidak boleh gagal. Kau masih ingat pesan terakhir guru?Benda itu harus di serahkan kepada adik seperguruan guru kitayang bernama Ki Panggayuh. Karena memang dari awal benda itumilik Ki Panggayuh yang hanya dipinjamkan kepada guru.”

“Ingat, Kakang.” Panji berkata dengan suara pelan.

“Nah, selesaikanlah tugasmu itu. Kita berpisah di sini. Aku dan Praja akan mengambil jalan lurus yang nanti akan bertemu dengan sekelompok orang itu. Mudah-mudahan mereka tidak memiliki maksud buruk. Sedang dirimu sendiri, ambilah jalan ke arah kanan ke arah Kali Pasir. Walaupun jaraknya lebih jauh, tapi kita mencoba menghindari kemungkinan terburuk.”

Terkejut hati Panji mendengar ucapan kakak yang sangat ia hormati itu.

Dengan kata lain, ia diperintahkan untukmembiarkan dua orang saudara seperguruannya menempuh bahaya yang mungkin saja sudah menanti di depan mata mereka.Betapa hati Panji terasa berontak begitu tahu apa yang telah direncanakan kakak seperguruannya Reja. Di satu sisi, ia siap menghadapi segala sesuatu bersama saudara-saudara seperguruannya itu, tapi di sisi lain, amanat gurunya sebelum menghembuskan nafas terakhir terngiang di telinganya.

Panji terdiam tak mampu berkata-kata.

Praja yang tahu bagaimana pergolakan perasaan Panji hanya bisa memandang. Ia paham betapa Panji sebenarnya ingin tetap ikut bersama mereka. Akan tetapi seandainya memang orang-orang di depan itu berniat buruk dan benda tersebut jatuh ke tangan mereka, maka akibatnya sungguh tidak dapat Praja bayangkan.

Praja kemudian bergerak mendekati Panji dan menepuk bahu pemuda itu.

“Panji, seperti apa yang dikatakan oleh Kakang Reja, belum tentu mereka yang di depan sana memiliki niat buruk. Seandainya pun memang demikian, tak perlu engkau merasa khawatir.Mudah-mudahan kami berdua bisa mengatasinya. Sedapat mungkin kita memang mencoba menghindari adanya perselisihan. Tapi jika perselisihan itu tak bisa dihindarkan, kita tetap berusaha agar jangan jatuh korban sehingga tidak menimbulkan dendam dihati orang-orang dikemudian hari. Marilah kita berdoa semoga semua baik-baik saja. Kita serahkan segalanya kepada Sang Pencipta.”

Panji yang mendengar ucapan Praja ini hanya bisa mengangguk.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.4



Reja yang mendengar ucapan Praja pun tersenyum.

Bangga dirinya memiliki dua orang adik seperguruan seperti mereka. Walaupun kedua orang ini bukanlah saudara sedarah, akan tetapi dikarenakan bertahun-tahun tumbuh dan berlatih bersama di dalam padepokan, membuat ikatan batin diantara mereka jauh lebih erat melebihi saudara.

Reja pun mendekati Panji dan menepuk bahunya lembut.

“Baiklah kalau kau sudah mengerti akan tugasmu, Panji. Bergeraklah sekarang ke arah kanan dan berjalanlah ke arah Kali Pasir. Setelah engkau menyeberangisungai itu, ambilah jalan memutar yang menuju ke arah Bukit Jamur. Tunggulah kami di jalan setapak yang ada di kaki bukit tersebut. Kalau matahari sudah sampai di atas kepala dan kami berdua belum juga tampak,teruskan perjalananmu ke atas bukit tersebut dan carilah sebuah rumah kecil yang ada di atas bukit. Itulah rumah Ki Panggayuh. Serahkan benda itu kepadanya dan katakan bahwa dirimu berasal dari Bayu Aji.”

Panji mendengarkan dengan seksama semua ucapan dan petunjuk yang diberikan oleh Reja. Tanpa ia sadari, air hangat menetes dari salah satu matanya.

“Heh...? Kau menangis?”

Praja yang memang melihat ada air mengalir di wajah adiknya itu berkata dengan suara pelan sambil menahan tawa.

“Tidak, Kakang. Mataku hanya terasa agak perih, mungkin terkena debu sewaktu kita berlari tadi.”

Panji menjawab sambil menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Andai saat itu siang hari maka kedua orang yang berada di dekatnya itu, terutama Praja, pasti akan melihat mukanya yang memerah.

Reja yang melihat tingkah laku dua orang adiknya ini tersenyum.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.5



Panji memang adik seperguruannya yang paling muda dibandingkan ia dan Praja. Sifatnya jauh lebih lembut bila dibandingkan dengan dirinya sendiri, terlebih Praja. Walaupun kemampuan mempertahankan dirinya masih berada di bawah tingkatan dirinya dan Praja, akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya sudah hampir sempurna.

Ia sendiri tahu pasti akan kemampuan Panji ini.

Pernah suatu ketika, Panji mendapat tugas untuk mengambil sejenis tanaman obat-obatan di daerah timur padepokan mereka. Daerah timur tersebut merupakan daerah perbukitan terjal dan banyak terdapat tebing-tebing dan jurang yang dalamnya puluhan tombak. Bukan suatu hal baru jika terdengar kabar ada seseorangterjatuh ke dalam jurang di daerah tersebut. Oleh karena medan yang sulit, terkadang mayat orang-orang bernasib malang itu terpaksa dibiarkan saja di dasar jurang karena mereka yang berniat menolong tidak sanggup mengambil kembali tubuh-tubuh itu.

Panji segera berangkat mencari tanaman itu setelah ia selesai sarapan. Dan belum lagi matahari sampai ke titik tertinggi, Reja sudah melihat satu wadah penuh tanaman obat sudah terkumpul di bilik penyimpanan padepokannya. Tanaman yang dicari bukanlah tanaman biasa. Melainkan jenis tanaman yang hanya tumbuh di dinding-dinding tebing dan jurang. Merasakan ada sesuatu hal yang tidak wajar, Reja memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Pada kesempatan berikutnya, saat Panji mendapatkan tugas yang sama, Reja diam-diam membuntuti Panji dari belakang. Dengan tetap menjaga jarak, Reja terus mengikuti Panji masuk ke dalam daerah perbukitan. Ketika sampai pada suatu dinding batu, Reja melihat Panjiberhenti. Kali ini, tanaman obat yang hendak dikumpulkan rupanya tumbuh di sisi dinding batu tersebut. Panji memandang ke arah dinding batu tersebut memeriksa bagian-bagian yang ditumbuhi tanaman yang harus dia ambil. Tiba-tiba, tubuh Panji melesat ke arah dinding batu. Dan Reja melihat dengan jelas betapa tubuh Panji bergerak dengan amat lincah dari satu titik ke titik yang lain. Seperti seekor kera, tangan dan kaki Panji mencengkram kuat sisi dinding batu-batu tersebut dan melompat ke sana ke mari sembari mengambil tanaman obat yang tumbuh di dinding tersebut. Dalam pandangan Reja, tubuh Panji seolah-olah ditopang oleh seutas tali tak terlihat yang terikat pada bagian atas dinding batu.

Dari peristiwa inilah, Reja mengetahui bahwa Panji adik seperguruannya itu telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Akan tetapi pada saat berlatih bersama saudara seperguruan yang lain, Reja melihat bahwa Panji tetap menjaga kecepatan gerakannya. Ia tidak mau menunjukan kelebihannya diantara saudara-saudara seperguruannya yang lain.Reja lalu menceritakan semuanya kepada gurunya tentang kemampuan sebenarnya Panji. Gurunya yang mendengar hal ini meminta Reja untuk tidak menceritakan kepada siapapun mengenai kemampuan pemuda itu karena menurut pengakuan gurunya, Panji ternyata secara diam-diam sering berlatih seorang diri di tengah malam setelah semua saudaranya tertidur. Dan selama ini, gurunya selalu mengawasi latihan pemuda itu dari kejauhan. Sejak saat itulah Reja semakin mengasihi adik seperguruannya yang memiliki sifat rendah hati itu. Suatu sifat yang jarang dimiliki oleh orang-orang apabila mereka sudah mendapatkan kelebihan dari yang lain.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.6



“Pergilah sekarang, Panji, selagi mereka belum mengetahui keberadaan kita. Tapi walaupun demikian, jagalah pergerakanmu agar tidak banyak menimbulkan suara.”

“Aku mohon diri, Kakang.”

Panji berkata sambil menundukan kepalanya kearah Reja dan Praja.

“Jaga dirimu baik-baik dan jangan sampai matamu kemasukan debu lagi.” Ujar Praja sambil berusaha menahan tawa.

Panji hanya tersenyum malu mendengar ucapan Praja dan dia segera bergerak melompat dan terus berlari ke arah kanan. Tubuhnya bergerak ringan di atas permukaan tanah dantidak lama kemudian tak terlihat lagi punggungnya ditelan gelapnya malam.

“Kita lanjutkan perjalanan kita.” Reja berkata sambil berdiri.

“Marilah, Kakang.”

Dua orang itupun kemudian mulai berjalan perlahan. Dan benarlah seperti apa yang dikatakan oleh Reja. Belum jauh mereka berjalan, terlihat ada sekitar empat orang berdiri di depan mereka. Praja yang baru bisa melihat dengan jelas kehadiran empat orang itu merasa kagum akan kemampuan kakak seperguruannya itu. Matanya mencoba melihat ke sekeliling kalau-kalau ada orang yang sedang bersembunyi di balik pohon atau ilalang di pinggiran jalan. Tak dirasakan kehadiran orang lain selain empat orang yang ada di depan mereka.

“Bersiap-siaplah, Praja. Kita belum tahu apa maksud mereka.”

Praja menganggukkan kepalanya.

Ketika mereka semakin dekat, salah satu dari empat orang itu menyadari kedatangan mereka dan memberi isyarat kepada tiga teman yang lain. Segera mereka semua berdiri melintang di jalan yang akan di lalui Reja dan Praja.

“Berhenti kalian!”

Terdengar suara bentakan dari salah satu orang yang menghadang.

Suara yang disusupi oleh tenaga dalam ini terdengar keras memecah kesunyian malam. Bagi orang biasa dapat mengakibatkan dadanya menjadi sesak bahkan mungkin akan kehilangan kesadaran.

Akan tetapi bagi Reja dan Praja yang memang sudah siap akan segala sesuatu, suara ini tidak memberikan pengaruh apa-apa.

Melihat bahwa bentakannya tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada dua orang di depan nya, laki-laki yang membentak ini mendadak tertawa. Dan kali ini, suara tawanya kembali disusupi oleh tenaga dalam akan tetapi jauh lebih tinggi dari yang awal.

Reja dan Praja yang mengerti akan hal ini segera memusatkan tenaga dalam mereka untuk menetralkan suara tawa tersebut.

Tidak ingin berlama-lama, Reja maju selangkah dan bertanya.

“Maaf, Kisanak. Ada hal apakah sehingga Kisanak sekalian menghentikan perjalanan kami berdua?”


Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.7



Terkejut hati orang yang tertawa tersebut mengetahui bahwa dua kali usahanya untuk menciutkan nyali dua orang di depannya gagal. Segera dia menghentikan tawanya dan maju dua langkah ke depan.

Seorang laki-laki berbadan besar dan kekar. Terlihat bekas luka di pipi kanannya memanjang dari bagian pelipis kanan lurus ke bawah, menambah kesan keras pada wajah laki-laki itu. Rambutnya hitam panjang sebahu tanpa ikatan sehingga terkadang melambai-lambai ditiup angin malam. Seperti tiga orang yang lain, laki-laki ini tidak mengenakan baju hanya sebuah celana berwarna hitam sepanjang lutut. Menampakan dada-dada telanjang dengan lekuk-lekuk otot di sana-sini. Senjata yang mereka bawa terlihat sama, sebuah tombak pendek dengan panjang tidak lebih dari panjang lengan laki-laki dewasa, menunjukan bahwa mereka berasal dari daerah atau dari perguruan yang sama.

“Apakah kalian berdua berasal dari Padepokan Bayu Aji?”

Laki-laki itu berkata dengan suara keras seraya mengangkat tombak pendeknya menunjuk ke arah Reja.

“Benar. Kami berdua berasal dari Bayu Aji. Kalau memang Kisanak memiliki keperluan dengan padepokan kami, kami persilahkan Kisanak sekalian untuk sudi mengunjungi padepokan kami tersebut dan kita bicarakan dengan rasa kekeluargaan di sana.” Reja berkata sambil tersenyum.

“Tidak perlu. Aku hanya punya urusan dengan kalian berdua. Bukan dengan padepokan kalian.”

Reja yang sudah menduga hal ini pasti ada kaitannya dengan tugas yang diberikan oleh mendiang gurunya hanya bisa tersenyum. Mereka ini pastilah memiliki niat buruk seperti apa yang ia takutkan. Sedih hati Reja melihat kenyataan bahwa masih saja ada orang-orang yang melakukan segala cara hanya karena didorong oleh nafsu ingin memiliki sesuatu bahkan sesuatu yang jelas bukan haknya. Tapi dibalik rasa sedihnya, Reja bersyukur bahwa orang-orang ini tidak menyadari keberadaan satu orang lagi yangtadi bersama mereka.

Dari sudut matanya, Reja melihat perubahan air muka Praja. Wajah Praja mulai menegang karena sudah paham akan ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.

Reja tersenyum mencoba untuk tetap bersikap tenang.

“Urusan apakah yang Kisanak maksudkan itu?”

“Tidak usah banyak mulut. Kami tahu bahwa kalian membawa pusaka sakti yang diberikan oleh guru kalian yang sekarang sudah jadi makanan cacing tanah. Kalau kalian masih sayang akan nyawa, cepat serahkan pusaka itu pada kami. Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau bertindak kasar kepada kalian.”

Reja mendengar suara gemeletuk gigi dari arah samping.

Nampaknya Praja sudah benar-benar marah karena nama gurunya di sebut-sebut dengan tidak hormat. Reja hanya bisa menarik nafas dalam menahan emosinya yang sempat juga naik namun masih bisa ditahannya.

“Pusaka itu bukanlah milik kalian, Kisanak. Dan sebenarnyalah, saat ini kami tidak membawa pusaka apapun.” Reja berusaha tetap berkata dengan tenang dan lembut.

“Sudah! Aku sudah tahu kalau kalian pasti akan menyangkalnya. Rupanya kalian berdua benar-benar sudah tidak sayang nyawa. Rasakan ini...!”

Laki-laki itu segera melompat ke arah Reja dengan tangan kanan mengayunkan tombak pendek ke arah depan menyerang dada Reja.


Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.8



Gerakan laki-laki ini segera diikuti oleh tiga orang lainnya.

Tiga orang itu segera bergerak mengurung Praja. Praja yang memang sudah panas hati segera mencabut pedang dan menyambut mereka dengan ganas.

Reja melihat bahwa tombak pendek yang diarahkan kepada dirinya itu dilambari dengan kekuatan yang hebat. Mungkin batu sekalipun akan hancur meledak andai terkena mata tombak tersebut. Bukan suatu tindakan bijaksana apabila ia menahan serangan laki-laki itu dengan pedangnya. Ia belum bisa memperkirakan besarnya kekuatan lawannya ini. Salah perhitungan, pedangnya bisa patah.

Segera Reja memiringkan tubuhnya sedikit dan membiarkan tombak pendek itu lewat di samping tubuh.

Melihat usaha pertamanya gagal, laki-laki itu segera mengubah posisi kaki saat mendarat. Sekejap kemudian sebuah tendangan melingkar mengancam pelipis kiri Reja. Reja yang melihat hal ini menarik sedikit tubuhnya ke belakang dan tendangan itu hanya lewat di depan mata.

Dua kali usahanya gagal, laki-laki ini meningkatkan ilmunya.

Dan seketika itu juga, gerakan laki-laki ini menjadi semakin cepat. Setiap serangan tombak pendek dan tendangannya mengeluarkan suara angin yang bersiutan.

Reja pun juga meningkatkan ilmunya untuk mengimbangi kecepatan dan kekuatan laki-laki ini.

Maka dua orang ini segera terlibat dalam gerakan-gerakan yang cepat. Gerakan laki-laki ini selalu mengincar tempat-tempat berbahaya pada tubuh. Hilang sedikit perhatian maka nyawa pasti akan melayang, tertembus mata tombak ataupun terkena tendangan berkekuatan besar.

Akan tetapi, walaupun diserang terus-menerus, Reja tidak pernah membalas serangan tombak pendek ataupun tendangan dari laki-laki itu. Dia hanya menghindar semua serangan yang datang. Kadang hanya menggerakan bagian-bagian tubuhnya sedikit pada saat mata tombak hampir menyentuh kulitnya. Atau melompat ke samping menghindari serangan kaki yang datang tak kalah gencar.

Hal ini membuat panas hati laki-laki yang melawan Reja. Lebih panas lagi melihat kenyataan bahwa Reja belum menggunakan pedangnya.

Pada suatu kesempatan dia melompat menjauh dan Reja membiarkan saja laki-laki itu menjauhi dirinya.

“Mengapa kau hanya menghindar saja, heh? Apa gurumu itu tidak pernah mengajari cara membalas pukulan? Atau bagaimana cara menendang?”

Merah mata laki-laki itu menahan marah. Reja yang mendengar ocehan lawannya itu tetap diam bersiap.

“Apa sekarang kau juga mendadak bisu?”

Reja membiarkan lawannya melampiaskan amarahnya dengan berteriak-teriak. Ia menggunakan sedikit kesempatan itu untuk melihat sekilas pertempuran Praja di sisi lain jalan tersebut. Adik seperguruannya ternyata tidak memiliki kesukaran dalam menghadapi tiga orang lawannya. Bahkan tak berapa lama kemudian terdengar satu teriakan kesakitan dari salah satu penyerang Praja. Orang itu jatuh berguling ke belakang dan kemudian tak bergerak tak sadarkan diri setelah satu pukulan telak mengenai dadanya. Bersyukur hati Reja karena adiknya itu masih bisa menahan tenaga saat melawan lawan-lawannya. Pukulan itu apabila digunakan dengan tenaga penuh dan terkena telak di bagian dada akan berakibat maut bagi orang yang menerimanya.

Yakin bahwa adiknya akan bisa menghadapi sisa dua orang penyerang lainnya, Reja kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke arah laki-laki tersebut.

“Maaf, Kisanak. Diantara kita tidak ada permusuhan sebelumnya. Mengapa kita harus saling berselisih dan berkelahi seperti ini? Lagipula kita belum saling kenal satu sama lain. Kalau memang Kisanak menginginkan pusaka itu, dengan berat hati, aku tak bisa memenuhinya. Karena memang pusaka itu tidak ada pada kami.”

Merah padam muka laki-laki ini mendengar ucapan Reja.

“Persetan dengan semua itu. Kalau kau memang tidak mau memberikan pu-...”

“AGHHH ...!”

Belum lagi selesai laki-laki itu berkata, terdengar suatu jeritan panjang.

Jeritan Praja.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.9



Terkejut seketika hati Reja ketika dia mengenali jeritan itu.

Dan ketika dia berpaling ke arah suara, adiknya berdiri sempoyongan.

Pada bagian dada terlihat berwarna kehitaman seperti terbakar dan ada lubang sebesar jari tembus sampai ke punggung. Reja melihat Praja memandang ke arahnya sebelum akhirnya roboh tak bergerak.

“Jurus Jari Setan...”

Bergetar mulut Reja mengenali jurus yang telah merenggut nyawa Praja. Sebuah jurus yang menurut cerita gurunya, hanya dimiliki oleh seorang tokoh hitam yang sudah lama menghilang. Yang banyak menebar maut dimana saja ia terlihat hingga pada akhirnya lenyap hilang tanpa kabar bagai ditelan bumi.

Belum lagi rasa kagetnya hilang, terdengar suara tawa seorang laki-laki memecah kesunyian malam.

Suara tawa itu datang dari segala arah sehingga sulit ditentukan dari mana asalnya.

“Guru...!”

Mendadak laki-laki yang berdiri di hadapan Reja berteriak dan berlutut.

Reja yang menyadari keadaan segera mengerti bahwa lawan kali ini amatlah tinggi tingkat kemampuannya. Segera dia menyiapkan diri mengerahkan hawa murni melindungi seluruh tubuhnya dan meningkatkan semuaindranya sehingga selembut apapun gerakan tidak akan lolos dari perhatian.

Lama suara tawa itu terus terdengar baru kemudian lambat laun menghilang. Berganti dengan sebuah suara yang juga tidak bisa di tebak dari mana asalnya.

“Percuma kau memaksanya, Jongkang. Pusaka itu tidak ada pada dirinya. Pusaka itu ada di salah satu temannya yang mungkin saat ini sudah hampir sampai di Kali Pasir.”

Bukan hanya Reja saja, akan tetapi laki-laki yang berdiri di hadapan Reja dan di panggil Jongkang itu kaget, dan terdiam sesaat. Seandainya si pemilik suara ini mengetahui akan keberadaan Panji, berarti dari awal pemilik suara ini sudah mengetahui kalau mereka bergerak bertiga.

Seketika cemas hati Reja memikirkan nasib Panji.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.1.10



Jongkang yang masih berlutut berkata dengan suara di selipi rasa takut.

“Lantas apa perintah Guru?”

Jongkang berkata sambil tetap menundukan kepalanya seolah-olah orang yang ia sebut guru itu ada di hadapannya.

“Biar ku bunuh anak ini dulu”

Terkejut sekali Reja saat mendengar ucapan tersebut. Ucapan itu datangnya tepat dari arah belakang, suara yang dingin dan dekat sekali dengan kepalanya.

Belum lagi ia sempat menolehkan kepala untuk melihat, selarik sinar merah terang keluar dari dadanya dan ia pun jatuh terbanting ke depan tanpa sempat melihat siapa yang berdiri di belakang.

Terbujur diam tertelungkup dengan lubang sebesar jari dari punggung tembus ke dada.

“Cepat kau kejar anak yang satu nya lagi! Pusaka itu ada padanya. Kalau dia melawan bunuh saja dan lekas kau kembali setelah merebut pusaka tersebut.”

Jongkang menengadahkan wajahnya dan terlihat sosok laki-laki yang sudah berusia enampuluhan dengan pakaian berwarna merah berdiri.

Tangan kiri laki-laki ini memegang sebatang tongkat dengan hiasan kepala ular yang pada bagian matanya diberi sejenis batu berwarna merah. Rambut laki-laki ini sudah mulai banyak diwarnai warna putih, tersisir rapi ke belakang. Pinggiran matanya berwarna gelap dengan sorot mata tajam dan berkesan angkuh. Yang menarik adalah sepasang tangan dari laki-laki ini. Dari siku sampai ujung jari, tangan laki-laki ini berwarna kehitaman. Dan dari jari tangan laki-laki inilah, sinar-sinar merah melesat keluar menembusi tubuh korbannya.

“Dan kalian berdua, pergi ikutlah bersama Jongkang dan kerjakan apa yang aku perintahkan.”

Laki-laki itu berkata tanpa menolehkan kepalanya kepada dua orang rekan Jongkang yang juga telah mengambil sikap berlutut.

“Baik, Guru.” Ujar mereka berbarengan tetap menundukan wajah mereka menatap tanah.

“Bagaimana dengan Kati, Guru?” Jongkang bertanya mengenai nasib orang yang tak sadarkan diri terkena pukulan Praja.

“Jangan banyak menghabiskan waktu, cepat kalian berangkat. Kejar dan rebut pusaka itu!”

“Baik, Guru”

Jongkang segera berlari ke arah dua rekannya yang lain. Bertiga mereka kemudian bergerak cepat menuju arah Kali Pasir.

Saat bayangan tubuh Jongkang dan dua temannya hilang setelah melewati pengkolan jalan, laki-laki dengan tongkat ular itu kemudian bergerak ke arah tubuh Kati yang masih diam pingsan. Ketika ia sudah berdiri di dekat tubuh tersebut, tangan kanannya terangkat mengarah ke arah kepala Kati yang diam. Perlahan-lahan, dari mulut, mata, lubang hidung dan telinga Kati keluar asap tipis berwarna merah. Asap ini kemudian masuk ke dalam telapak tangan laki-laki ini. Bersama dengan asap yang terus menerus keluar dari kepala Kati, terjadi perubahan merngerikan pada tubuh Kati. Tubuhnya menciut, seolah semua cairan dan daging yang ada pada tubuh tersebut hilang, meninggalkan satu wujud rangka manusia. Tubuh Kati yang semula padat berisi otot-otot, kini tinggal tulang yang terbalut kulit tipis. Ketika tidak ada ada lagi asap yang keluar, laki-laki itu menghentakan telapak tangannya ke arah kepala Kati. Sebuah ledakan kecil terdengar dan tubuh Kati sekarang hanyalah sebuah tubuh tanpa kepala. Kepala nya pecah meledak, berhamburan seperti layaknya sepotong kayu kering dan lapuk terhantam gada besi.

Setelah itu, laki-laki itu membalikan badannya dan meloncat hilang ke dalam gelapnya malam.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.1




Matahari pagi bersinar dengan indah. Menembus sela-sela dedaunan menciptakan garis-garis sinar memanjang di berbagai tempat. Membentuk pola-pola indah menyejukan mata. Burung-burung sibuk terbang berkicau menyambut datangnya hari baru. Ada yang terbang berputaran, ada pula yang hanya diam pada satu ranting dan menyambut kicauan dari burung yang lain. Sebuah alunan melodi alami yang menambah keindahan pagi menjadi lebih semarak.

Embun yang masih menempel di ujung-ujung daun dan rerumputan berkilauan terkena cahaya matahari. Bagaikan kilau batu permata yang tersebar dan memantulkan beraneka warna-warna indah. Angin pagi yang sejuk terkadang berhembus menggerakan embun-embun tersebut. Dan embun yang bernasib malang akan jatuh hilang terserap tanah.

Bukit itu tidak jauh berbeda dari bukit-bukit yang lain. Banyak pohon-pohon beraneka jenis tumbuh dengan subur tanpa ada campur tangan manusia. Bunga-bunga beraneka warna menghiasi punggung bukit tersebut seperti corak permadani yang sengaja dibentangkan Sang Pencipta agar bisa dinikmati oleh mereka yang lewat. Orang-orang yang tinggal di sekitar bukit menyebut bukit ini dengan sebutan Bukit Jamur. Selain ditumbuhi oleh beraneka tumbuhan besar dan kecil, bukit ini juga kaya akan tumbuh-tumbuhan jamur. Mulai dari yang bisa diambil manfaatnya sebagai makanan ataupun obat penyembuh sampai kepada jenis jamur yang sifatnya beracun. Banyak para ahli obat datang ke bukit ini sekedar untuk memetik jamur guna menambah persediaan obat-obatan mereka.Tak jarang juga ada yang datang dengan maksud sengaja mencari jenis-jenis jamur yang beracun. Entah untuk tujuan apa.

Alam memberikan segalanya.Tergantung kepada manusianya hendak memanfaatkan alam untuk tujuan baik menolong sesama atau malah sebaliknya. Tak pernah alam pilih kasih dan memikirkan siapa yang akan memetik hasilnya. Yang ia tahu hanya terus memberi, tanpa meminta balas. Tidak hanya kepada manusia yang bertujuan baik, kepada mereka yang memiliki niat buruk pun alam memberikan segalanya. Andai manusia juga memiliki sifat layaknya alam, memberi segala sesuatu tanpa mengharapkan balasan, bisa dibayangkan betapa indahnya hidup di dunia ini. Hidup tanpa ada rasa curiga, rasa iri dengki akan milik orang lain, memasrahkan segalanya kepada Yang di Atas.

Panji melihat kembali ke arah jalan menurun di belakangnya. Jalan menurun yang menuju ke arah Kali Pasir. Berharap menangkap sosok tubuh dua kakaknya berjalan ke arahnya. Membayangkan kakaknya Reja tersenyum ke arahnya dan kakaknya Praja melambaikan tangan sambil berteriak. Melontarkan canda yang kadang membuat panas mukanya karena malu. Menerima tepukan lembut kakaknya Reja di punggung seperti saat-saat ketika dia selesai berlatih di padepokan. Kemudian bertiga bersama melanjutkan perjalanan menyelesaikan amanat gurunya.

“Ah..., Guru.”

Tanpa sadar air mata Panji menetes ketika lamunannya mengingat saat-saat bersama gurunya.


Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.2



Sosok yang arif dan bijaksana yang pada usia tuanya lebih banyak duduk di sanggar mengajarkan budi pekerti, memberikan tuntunan ajaran hidup dan nasehat kepada semua penghuni padepokan. Karena usia, segala urusan pelatihan fisik diserahkan kepada kakaknya Reja yang memang sudah menguasai semua ilmu yang diajarkan di padepokan tersebut. Sesekali gurunya turun melihat dan memberikan bimbingan pada olah gerak yang salah dilakukan oleh para penghuni padepokan saat berlatih.

Betapa Panji teringat saat pertama dia bertemu dengan gurunya.

Saat itu usianya masih tujuh tahun dan dia ditemukan pingsan di bibir sungai yang mengalir agak jauh dari padepokan. Setelah di rawat dan kesadarannya kembali, Panji menceritakan bahwa ia berasal dari sebuah dukuh yang terletak di kaki bukit di belakang padepokan tersebut. Dukuh tersebut terkena bencana banjir bandang di malam hari saat semua penghuni terlelap. Mendengar hal ini, sang guru segera memerintahkan semua penghuni padepokan untuk segera bergerak ke arah dukuh tempat tinggal Panji. Dengan membawa beberapa potong pakaian, bahan makanan, dan peralatan lain yang mungkin diperlukan, berangkatlah rombongan itu ke arah dukuh tersebut dengan Panji sebagai penunjuk jalan.

Karena dukuh tempat tinggal Panji terletak di sisi lain dari bukit, rombongan itu bergerak dengan mengambil jalan memutar. Menjelang sore, rombongan itu tiba di sana.Tidak terlihat satupun bangunan yang berdiri, rata semua dengan tanah. Tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Rombongan itu segera bergerak dan berusaha mencari kalau saja ada yang selamat dari bencana. Ketika matahari sudah hampir terbenam, rombongan itu selesai menyusuri setiap sudut dukuh. Merekatak menemukan satu pun korban yang selamat di dukuh tersebut. Jangankan manusia, mayat hewan ternaksaja tak terlihat. Agaknya seluruh penghuni dukuh tersebut habis tersapu hanyut oleh banjir bandang yang dahsyat. Yang juga membawa serta ayah, ibu dan adik perempuan Panji yang masih balita. Panji menangis meraung-raung melihat kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Suara tangisannya membuat orang-orang tergetar. Orang-orang padepokan yang memahami penderitaan Panji hanya bisa diam menunduk. Betapa anak sekecil itu harus kehilangan orang-orang yang dicintainya hanya dalam satu malam. Beberapa orang yang tak tahan mendengar jerit tangis Panji bergerak menjauh dengan kepala tertunduk berusaha kembali membongkar reruntuhan rumah-rumah sembari berharap menemukan korban yang selamat.

Tangis pilu Panji mendadak terhenti ketika tangan lembut sang guru menepuk lembut bagian belakang kepalanya. Tepukan lembut itu membuat dirinya tak sadarkan diri.

Dan sejak saat itu, Panji di bawa ke padepokan dan tumbuh bersama saudara-saudaranya yang lain.

“Dia pasti belum jauh. Kita harus segera menemukan anak itu.”

Mendadak semua lamunan Panji buyar oleh sebuah suara di ujung jalan dari arah Kali Pasir.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.3



Segera dia meloncat ke atas sebuah pohon dan menyembuyikan dirinya dikerimbunan daun sembari terus mengamati jalan. Tak lama kemudian mucul tiga orang laki-laki membawa tombak bertangkai pendek, berjalan ke arah pohon dimana Panji bersembunyi. Dari atas pohon, Panji bisa melihat tiga orang itu bergerak dengan tergesa-gesa.

“Anak itu pasti sudah jauh, Kakang Jongkang.” Orang yang berdiri di kanan berkata.

“Kalau begitu kita lari lagi. Pasti akan tersusul.”

“Hah ...? Semalaman ini kita terus berlari tanpa beristirahat. Dan sekarang, Kakang menyuruh kami untuk berlari lagi?” Orang yang di sebelah kiri berkata sambil memijat kakinya.

“Kita bisa pulang sekarang kalau itu maumu. Kita katakan pada guru kalau kita tak menemukan anak Bayu Aji itu. Dan kau pasti bisa istirahat. Untuk selama-lamanya.”

Dua orang di kanan dan kiri Jongkang terdiam. Mereka tahu tabiat gurunya. Gurunya itu tak akan segan-segan menjatuhkan hukuman pada anak muridnya yang gagal menjalankan tugas. Dan hal ini cukup membuat mereka berdua untuk diam dan berlari menyusul Jongkang yang sudah mendahului mereka.

Panji yang bersembunyi di atas pohon sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh kakaknya Reja. Panji mengatur aliran nafasnya berusaha agar suara nafasnya tidak terdengar oleh telinga orang-orang itu. Diam mematung berusaha untuk menghilangkan keberadaan dirinya sembari terus memperhatikan.

Pada saat Jongkang tepat berada di bawah pohon di mana Panji bersembunyi, Jongkang menghentikan langkahnya.

“Kenapa sekarang kau malah berhenti, Kakang?” Orang di sebelah kiri berkata.

“Kakang, ayo kita bergerak lagi. Aku masih ingin kepalaku berada pada tempatnya.”

Orang yang di sebelah kanan berkata sambil bergerak maju namun ditahan oleh Jongkang.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.4



Jongkang tidak membalas ucapan dua orang itu, hanya tangannya bergerak menunjuk ke depan.

Panji yang sempat cemas, merasa lega keberadaannya belum diketahui. Ia pun menolehkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Jongkang.

Tampak seorang kakek berjalan bersama seorang gadis. Mereka berjalan ke arah Jongkang dan kawan-kawannya.

Rambut sang kakek berkilau keperakan ketika cahaya matahari mengenai rambutnya yang berwarna putih. Jenggot dan kumisnya yang dibiarkan tumbuh memanjang juga sudah memutih. Walaupun kakek itu berjalan dengan tongkat di tangan, namun badannya masih terlihat tegap.

Sedangkan si gadis berusia duapuluhan tahun itu memiliki rambut panjang hitam terurai sepunggung. Lembut bergerak melambai saat ada angin nakal yang bertiup. Kulit gadis itu putih bersih seakan memancarkan cahaya ketika terkena sinar matahari. Gadis itu memakai pakaian berwarna putih sewarna dengan pakaian yang dikenakan oleh si kakek. Kalau si kakek memakai pakaian berlengan panjang longgar, si gadis memakai pakaian putih tanpa lengan baju, sehingga memamerkan kulit lengannya yang putih bersih. Wajah gadis itu cantik alami tanpa polesan dengan pipi merah merona dan bibir merah basah tanpa pewarna. Sungguh bagaikan seorang bidadari yang sedang turun bermain di bumi.

Dan pada sosok gadis inilah pandangan tiga orang itu seperti terpaku. Jarang sekali mereka menemukan gadis dengan wajah dan bentuk tubuh seelok ini. Para wanita yang mereka kenal hanyalah cantik akibat dipoles oleh rias wajah yang tebal. Sedangkan gadis ini, tanpa polesan apa-apa sudah bisa membuat jantung mereka berdetak kencang.

Dua orang ini terus berjalan menuju kearah Jongkang dan kawan-kawannya menanti mereka.

Yang pertama menyadari adalah si gadis. Gadis ini melihat ada tiga orang berdiri di depan jalan yang akan mereka lalui. Panji melihat bahwa gadis ini membisikan sesuatu ke telinga si kakek dan kakek ini membalasnya dengan sebuah gelengan kepala perlahan. Melihat gelengan si kakek, gadis ini hanya terdiam menunduk dan bergerak perlahan meletakan posisinya agak di belakang tubuh si kakek.

Begitu mereka mendekati tiga orang laki-laki itu, sang kakek menghentikan langkahnya dan berkata kepada mereka.

“Maafkan kami, Kisanak sekalian. Bukannya kami ingin bertindak lancang, akan tetapi izinkan kami untuk meneruskan perjalanan kami dengan memberi sedikit ruang untuk berjalan.”

Kakek itu berkata dengan suara lembut. Tapi anehnya, walaupun suara itu lembut bahkan hampir menyerupai bisikan, Panji yang berada di atas pohon dapat menangkap dengan jelas setiap kata yang diucapkan dari kakek tersebut. Seolah-olah kakek itu berkata tepat di dekat telinganya.

“Apakah dia cucumu, Kek?” Jongkang bertanya.

“Atau mungkin anakmu?” Orang di sebelah kanan ikut bertanya.

“Atau mungkin dia istrimu?” Orang di sebelah kiri juga ikut bertanya yang disusul oleh suara tertawa mereka bertiga.

Kakek itu hanya tersenyum.

“Ah..., Kisanak semua suka bercanda rupanya. Manalah mungkin aku yang buruk rupa ini punya anak secantik ini dan suatu hal yang juga mustahil kalau dia adalah istriku. Suatu keajaiban kalau masih ada gadis cantik dan waras yang mau untuk menjadi istri dari seorang yang sebentar lagi jadi pupuk ini.”

Bertambah kencang suara tawa dari tiga orang ini. Ketika merasa puas tertawa, Jongkang maju ke depan ke arah kakek tersebut.

“Kakek, silahkan kau lanjutkan perjalananmu.”

“Ah..., terimakasih, Kisanak.”

“Tapi biarkan lah cucumu tinggal sebentar di sini menemani kami.”

Jongkang berkata sambil tertawa yang diikuti oleh suara tawa kawan-kawannya.

Memerah muka Panji mendengar ucapan itu. Sungguh orang-orang yang tak tahu tata krama dan sopan santun.

Si gadis yang berdiri di belakang si kakek tampak bergerak. Akan tetapi tangan si kakek dengan cepat memeganglengan gadis yang sudah tampak mulai gelisah.

Berusaha menenangkannya.

“Mohon Kisanak jangan mengganggu kami. Kami hanyalah orang biasa yang naik ke bukit ini untuk mencari tanaman obat-obatan. Kami tidak ingin mencari masalah.”Kakek itu berkata sambil terus memegang tangan gadis tersebut. Seolah kalau terlepas, selamanya gadis itu tidak akan bisa ia raih kembali.

“Kakek tua! Kau sudah kusuruh untuk terus berjalan dan pulang ke rumahmu. Aku hanya ingin engkau meninggalkan gadis itu di sini. Menemani kami. Aku tak punya urusan dengan dirimu!”

“Tapi kau punya urusan denganku.”

Begitu Jongkang selesai berbicara, terdengar sebuah suara dari arah atas pohon dan berkelebat sebuah bayangan turun dan berdiri tepat di depan kakek tersebut.
Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.5



Jongkang dan dua temannya segera melompat mundur dan memasang kuda-kuda bersiap. Begitu dilihat bahwa yang berdiri di depan adalah seorang pemuda berpakaian sama dengan dua orang yang mereka cegat semalam, Jongkang menyadari siapa pemuda ini.

“Rupanya tikus Padepokan Bayu Aji berusaha ingin menjadi seorang pahlawan di depan seorang gadis cantik.” Jongkang berkata sambil tertawa.

Dua teman lainnya yang juga sadar siapa anak muda itu ikut tertawa.

“Sungguh baik hatimu,Anak Muda. Kau tak mau menyusahkan kami mencarimu. Engkau sendiri datang menjumpai kami.” Berkata orang di sebelah kiri Jongkang yang diikuti oleh suara tawa mereka.

“Apa yang terjadi dengan saudara seperguruanku?”

Panji bertanya sambil memendam kecemasan dalam dirinya tentang keselamatan dua orang kakak seperguruannya. Kecemasan itu semakin menjadi tatkala dilihatnya Jongkang dan teman-temannya malah tertawa mendengar pertanyaan dirinya.

“Bocah, coba kau tanyakan pada gurumu. Mungkin saja dia sudah bertemu dan sekarang melepas kerinduannya pada dua orang saudara seperguruanmu itu.” Orang yang disebelah kanan menjawab sambil tertawa.

“Atau mungkin mereka sekarang sedang menyiapkan tempat buat dirimu yang akan segera datang mengunjungi mereka.”

Kembali suara tawa terdengar ketika orang di sebelah kiri selesai berbicara.

Perasaan marah dan sedih bercampur aduk jadi satu dalam hati Panji. Apa yang dia takutkan akhirnya menjadi kenyataan. Dua orang saudaranya tewas ditangan orang-orang ini agar ia bisa menyelesaikan amanat gurunya. Betapa hancur perasaannya. Berturut-turut ditinggalkan orang-orang yang dekat dengan dirinya.

Dengan kepala tertunduk, Panji berdoa mohon ampunan dari guru dan saudara-saudara seperguruannya. Mungkin apa yang dikatakan oleh salah satu orang itu benar. Bahwa dia sebentar lagi akan menyusul kematian mereka.

Dengan kepala masih tertunduk, Panji berpaling ke arah kakek dan gadis itu berdiri.

“Maafkan kelancanganku, Kek. Tapi aku mohon, segeralah tinggalkan tempat ini bersama cucumu. Pergilah ke tempat yang aman.”

Tanpa menunggu jawaban dari si kakek, Panji meloncat ke depan dan mengarahkan serangannya ke arah Jongkang.



Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.6



Jongkang yang memang telah siap menghadapi segala sesuatu, menggeser tubuhnya kesamping. Serangan Panji pun lewat tak mengenai sasaran. Dua orang di kanan dan kiri Jongkang segera maju membantu memberikan serangan-serangan beruntun ke arah Panji.

Segera perkelahian antara satu melawan tiga orang itu terjadi tanpa bisa dicegah. Panji bergerak cepat mengamuk melancarkan serangan kepada siapa saja dari tiga orang itu yang berada di dekatnya. Ketiga orang yang semula menganggap remeh Panji mulai merasakan akibatnya. Sesekali pukulan Panji telak mengenai bagian-bagian tubuh mereka. Ketiga orang tersebut lalu bertindak lebih hati-hati dalam menghadapi Panji. Gerakan anak muda ini demikian cepat. Sukar untuk diikuti oleh mata. Tubuh Panji seolah lenyap berubah menjadi bayangan berwarna kuning yang bergerak kesana dan kemari. Meloncat ke depan dan kebelakang. Terkadang terlihat menyerang orang yang satu, tapi jerit tertahan di keluarkan oleh orang kedua yang terkena pukulan.

Melihat hal ini, Jongkang segera bertindak. Dia mengeluarkan sebuah suitan panjang melengking tinggi. Dua orang temannya segera mundur begitu mendengar suara ini. Mereka paham bahwa suara suitan itu mengingatkan bahwa mereka harus lebih serius dalam menghadapi Panji. Seakan telah sepakat, ketiga orang itu mulai meningkatkan ilmu mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka lantas serentak bergerak mengurung Panji di tengah dengan tombak pendek di tangan.

Panji yang terus memperhatikan pergerakan lawan menyadari bahwa ia harus lebih berhati-hati. Lawannya kali ini bukanlah orang sembarangan. Tapi orang-orang yang telah membunuh saudara-saudaranya yang memiliki tingkat penguasaan ilmu di atas dirinya.

Panji pun segera menghimpun hawa murni yang ada di dalam dirinya ke seluruh tubuh. Perasaan hangat mulai menjalari seluruh tubuh. Kakinya yang memang sudah terlatih bergerak cepat menjadi hangat dan terasa bertambah ringan. Inilah puncak kemampuan Panji dalam meringankan tubuhnya. Kemampuan yang membuat dirinya mampu menyelesaikan tugas-tugas berat mengumpulkan tanaman obat-obatan dalam waktu singkat.

Kemampuan yang tanpa sepengetahuan dirinya membuat kagum Reja.

Tiba-tiba Panji merasakan angin tajam datang dari belakang. Tanpa pikir panjang, Panji segera menjatuhkan dirinya ke tanah dan sebuah mata tombak lewat sejengkal di atas kepalanya. Akan tetapi segera terasa angin lain bergerak mendekatinya dari arah kanan dan Panji segera mengangkat tubuhnya ke atas menghindari mata tombak yang lewat di depan mulutnya yang kemudian tertancap dalam di tanah di tempat di mana dia menjatuhkan diri sebelumnya.

Bugh!

“Ugh!”

Sebuah hantaman keras mendarat di punggung Panji dan memaksanya untuk kembali jatuh ke tanah.

Ternyata sewaktu dia berusaha menghindari serangan tombak dengan melentingkan tubuh ke atas, hal itu sudah terbaca oleh lawannya. Tak ayal lagi, begitu tubuh Panji bergerak ke atas, sebuah ayunan tangkai tombak yang telah disisipi tenaga dalam dengan keras menyambutnya. Darah segar mengalir dari sela mulut Panji menandakan dirinya terluka dalam. Dadanya sesak susah untuk bernafas, belum lagi ditambah rasa nyeri akibat hantaman dipunggungnya.

Diantara rasa sakit yang mendera tubuhnya, pikiran Panji mulai bekerja. Susunan gerak lawan-lawannya ini merupakan susunan gerak berantai. Satu menyerang disusul serangan lainnya ke arah mana korban menghindar dan begitu seterusnya. Masih tertelungkup menahan sakit, pikiran Panji bekerja mencari pemecahan dalam menghadapi lawan-lawannya ini.

Sepintas dia juga masih melihat kakek dan gadis tersebut berdiri tak jauh dari tempat ia bertarung. Sesekali si gadis meronta mencoba melepaskan lengannya yang dipegang oleh si kakek. Tapi usaha gadis ini tidak membuahkan hasil karena tangan kakek itu lebih kuat memegang. Gadis itupun hanya bisa melihat dari balik punggung si kakek.

Menatap ke arah Panji dengan penuh rasa cemas.

Menganggap lawan tak lagi memiliki upaya melawan, tiga orang ini tertawa. Tugas yang dibebankan oleh guru mereka ternyata bisa diselesaikan dengan mudah. Senang akan hadiah dan pujian gurunya kelak membuat tiga orang ini terus tertawa mengejek.

Tapi tiba-tiba suara tawa mereka terhenti ketika mendadak tubuh Panji melompat dan hilang masuk ke hutan yang ada di pinggir jalan itu.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.7



Dengan penuh umpatan kemarahan, mereka segera menyusul Panji yang menghilang ke dalam hutan.

Ketika mereka masuk ke dalam hutan lebat yang ditumbuhi pohon-pohon besar beraneka jenis, mereka melihat Panji berdiri tegak seolah-olah menanti kedatangan mereka. Segera mereka kembali mengurung Panji membentuk susunan seperti pertempuran awal.

“Jangan coba-coba lari kau,Bocah Tengik!”

Jongkang berteriak marah. Matanya melotot tajam ke arah Panji. Begitu pula halnya dengan dua orang temannya yang lain.

Panji hanya tegak memandang ke arah tiga orang yang bergerak mengelilingi dirinya. Sengaja ia melompat masuk ke dalam lebatnya hutan guna memberi kesempatan kakek dan gadis itu untuk pergi menyelamatkan diri.

Kembali ia mencoba menghimpun jauh lebih banyak hawa murni dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuhnya. Namun kali ini, ia mencoba untuk lebih menyalurkan hawa hangat tersebut ke bagian kaki. Ketika di rasakan kedua kakinya menjadi jauh lebih ringan dan tubuhnya lebih terasa segar, Panji mulai menajamkan indranya sehingga ia mampu menangkap setiap getaran yang ada di sekelilingnya.

Pada saat itulah, ia merasakan sebuah hawa dingin perlahan mengalir masuk ke dalam tubuhnya.

Suatu pengalaman yang selama ini belum pernah ia rasakan. Panji semakin heran saat ia merasakan perubahan di dalam tubuhnya. Tenaga dalamnya semakin lama semakin membesar. Bukan karena disebabkan oleh bertambahnya tenaga dalam yang ia miliki, tapi lebih kepada kemampuannya di dalam mengolah tenaga dalam menjadi semakin mudah. Bagaikan jalan setapak yang padat dilalui orang, maka lambatlah pergerakan orang-orang itu. Akan tetapi ketika jalan setapak itu diperlebar, maka pergerakan orang yang lalu-lalang menjadi semakin lancar.

Seperti itulah pengaruh tenaga asing yang kini terasa menyebar ke seluruh bagian tubuh Panji.

Ketiga orang itu merasakan ada sedikit perubahan dalam diri lawan mereka. Panji terlihat lebih tenang.

Dan ini bukan pertanda baik bagi mereka.

“Wuuut...”

Sebuah angin tajam menyambar dengan deras dari arah belakang. Namun walaupun Panji tahu dari suara angin bahwa mata tombak pendek itu mengincar tubuh bagian belakangnya, Panji seolah tidak menghiraukan. Seolah dia pasrah tubuhnya tertembus mata tombak yang pasti akan menghujam dengan keras tembus sampai ke dada.

Dan tombak itupun bergerak semakin dekat dan dekat ke arah punggung Panji.
Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.8




Semua mata melihat dengan jelas, bagaimana tombak tersebut masuk dengan tajam ke dalam punggung pemuda itu sampai tembus ke dada. Namun tidak ada seruan kesakitan, tidak ada darah yang menyembur.

Mereka melihat betapa tubuh Panji yang tertembus tombak pendek itu lama-lama menjadi kabur sebelum akhirnya hilang bagaikan asap tertiup angin.

Bukh!

“Ugh ...!”

Satu orang jatuh tak sadarkan diri.

Di belakangnya berdiri Panji dengan wajah tenang.

Ketenangan yang sebenarnya dengan susah payah ia tunjukan untuk menutupi perasaan keterkejutan di dalam hatinya. Ia tak menyangka bisa bergerak sedemikian cepatnya. Berkali-kali lebih cepat dari yang bisa ia lakukan.

Tak mau pikirannya terpecah, ia kesampingkan dahulu pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting lagi di hadapannya.

Jongkang dan satu temannya yang tadi menyerang Panji ke arah punggung kaget. Orang yang tadi mereka lihat ada di tengah kepungan mereka dan yang mereka kira sudah mati tertembus tombak, sekarang berdiri di luar kepungan dan telah merubuhkan satu teman mereka.

Jongkang segera menguasai dirinya dan meloncat ke arah Panji dengan tombak pendek terarah ke arah jantung. Panji yang melihat datangnya serangan ini hanya tetap tegak tak bergerak.

Bukh!

Dan kejadian serupa terulang kembali.

Jelas-jelas di mata Jongkang tombaknya berhasil masuk ke dalam dada anak itu, menembus sampai ke punggung. Namun kenyataannya Panji telah berdiri tegak di tempat lain membelakangi tubuh teman terakhirnya yang pingsan tertelungkup mencium tanah.

Seketika perasaan takut mendera hati Jongkang. Dua orang temannya jatuh pingsan tanpa ia tahu bagaimana terjadinya. Tanpa ia sadari, ia jatuh berlutut di hadapan Panji. Tombaknya lepas jatuh ke tanah seakan tak ada lagi tenaga untuk memegangnya.

“Ampun,Anak Muda..., ampuni aku. Jangan kau bunuh aku ....”

Panji yang melihat hal ini hanya bisa diam. Dalam hatinya ingin dia menghabisi nyawa orang yang sedang berlutut di hadapannya ini. Orang inilah yang telah membunuh saudara-saudara seperguruannya. Yang telah membuat dia kembali merasakan luka lama yang ingin dia lupakan. Luka yang muncul di dalam hati akibat hilangnya orang-orang yang dia cintai. Andaikan orang ini dia bunuh, mungkin dia bisa membuat luka di dalam hatinya tidak akan muncul lagi di dalam hati orang lain. Yang di paksa kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Benar! Orang semacam ini harus lenyap supaya tidak ada lagi Panji-Panji lain.

Diubah oleh omboth
MdKJ 1.2.9



Perlahan Panji mendekati Jongkang.

Bulat sudah tekadnya untuk mencabut nyawa orang ini.

Melihat Panji bergerak mendekat, tubuh Jongkang semakin gemetar ketakutan. Makin bertambah rasa takut itu ketika dilihatnya Panji berlutut dan meraih tombak pendek miliknya. Tergambar jelas bagaimana ia akan mati tertembus tombak pendeknya sendiri. Senjata yang selama ini ia gunakan untuk melukai bahkan membunuh banyak orang kini telah terarah kepadanya siap melesat menembus tubuh pemiliknya.

Panji mengangkat tombak tersebut dan dengan sekuat tenaga di arahkan mata tombak tersebut ke arah kepala Jongkang yang tertunduk gemetar menatap tanah.

“Jangan kau teruskan, Angger.”

Sebuah suara lembut tapi terdengar begitu jelas, seolah suara itu dekat dengan telinga Panji, menghentikan ayunan tombak pendek tersebut. Sedikit lagi mata tombak itu akan masuk menembus tempurung kepala Jongkang.

Terlihat kakek dan cucunya berdiri tak jauh dari tempat mereka.

“Orang ini pantas mati.”

Panji berkata tanpa menolehkan wajahnya.

Tangannya bergetar masih erat memegang tombak pendek. Dingin ucapan Panji sembari melihat tubuh Jongkang yang sudah terbaring tertelungkup tak sadarkan diri karena tak kuasa menahan rasa takut yang begitu hebat.

“Ah..., siapakah kita ini sehingga menganggap diri kita pantas untuk menentukan mati hidupnya seseorang?”

Lembut ucapan itu tapi akibatnya di dalam diri Panji sungguh luar biasa. Seketika Panji teringat ajaran mendiang gurunya yang melarang dengan apapun juga alasanya untuk menghakimi orang lain. Sang Pencipta saja tidak pernah membeda-bedakan ciptaan-Nya. Tinggi-pendek, kaya-miskin, semua sama dimata-Nya. Kenapa malah kita yang hanya salah satu ciptaan-Nya selalu berusaha untuk menilai bahkan menghakimi orang lain yang berbeda dengan kita? Menjatuhkan suatu keputusan yang didasarkan atas apa yang kita anggap benar. Benar dimata manusia belumlah tentu benar dimata Sang Pencipta.

Panji diam termenung. Hampir saja dirinya lepas kendali. Kalau saja Jongkang mati ia bunuh, bukankah hal itu juga menjadikan dia seorang pembunuh? Lantas apa bedanya ia dan Jongkang jika pada akhirnya sama-sama pembunuh? Apakah membunuh atas dasar pembalasan dendam di benarkan? Apakah membunuh orang yang kita anggap jahat di benarkan?

Panji terdiam.

Merenungi semua peristiwa yang telah ia alami.

Tiba-tiba tenaga asing itu bergejolak di dalam dirinya.

Membuat dadanya serasa terhimpit oleh dua buah gunung. Nafas Panji terasa sesak, susah sekali untuk bernafas. Tak kuat menahan rasa sakit yang mendera dadanya, tubuh Panji jatuh terkulai di atas tanah.

Dan semuanya mendadak menjadi gelap.

profile-picture
manandang memberi reputasi
Diubah oleh omboth
MdKJ 2.1.1



Pedukuhan Karang Jati adalah sebuah pedukuhan yang memiliki wilayah yang cukup luas yang terletak di bawah kaki Bukit Jamur. Pedukuhan ini masih termasuk ke dalam kesatuan daerah Kademangan Pringgading. Penduduknya sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Pada waktu pagi hari, para lelaki sudah mulai sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja. Setelah menyantap sarapan, mereka segera bergegas pergi untuk menggarap lahan mereka. Lahan sepetak dua petak yang hasilnya mereka nikmati sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Apabila hasil panen melimpah, barulah kelebihan hasil panen tersebut mereka pergunakan untuk membeli keperluan-keperluan lain seperti pakaian atau bahkan peralatan rumah tangga yang bisa mereka dapatkan dengan mudah di pasar kademangan.

Ketika para lelaki sibuk bekerja di sawah, para wanitanya juga tidak mau ketinggalan. Setelah membereskan sarapan, para wanita bekerja membersihkan rumah. Ada yang menyapu halaman rumahnya, ada pula yang membersihkan bagian dalam rumah mereka. Setelah semua dirasa beres dan rapi, barulah mereka bergegas pergi ke luar rumah membawa tumpukan pakaian-pakaian kotor untuk dicuci di pinggir aliran sungai Kali Pasir. Sebuah sungai yang tidak terlampau besar dan dalam tapi memiliki air yang bersih dan jernih. Sungai yang airnya selalu memberikan penghidupan bagi semua mahluk hidup di sekitarnya karena walaupun kemarau panjang mendera, sungai ini tetap mengalirkan air yang bersih jernih dan segar. Hanya kadang air sungai ini akan menjadi keruh apabila terjadi hujan lebat di daerah lereng bukit karena aliran air dari atas bukit yang datang membawa serta lumpur.

Para wanita yang sudah selesai mencuci akan segera pulang ke rumah masing-masing untuk menjemurkan pakaian di halaman belakang rumah. Lalu mereka akan mulai sibuk bekerja kembali di dapur, menyiapkan makanan buat suami mereka yang berada di sawah. Kalau bukan mereka sendiri yang mengantarkan makanan itu kepada suami mereka, maka biasanya anak merekalah yang pergi dengan hati riang membawa bekal buat ayah mereka. Ketika matahari hampir tenggelam, barulah para laki-laki itu berkemas dan beranjak pulang.

Para pemuda yang ada di dukuh ini pada siang hari ikut membantu ayah mereka bekerja di sawah. Di waktu malam, para pemuda berkumpul bercanda bersama di gardu-gardu ronda yang ada disetiap sudut pedukuhan. Para petugas ronda tidak merasa keberatan dengan adanya kumpulan pemuda-pemuda ini. Kadang mereka datang sambil membawa rebusan ubi atau jagung. Kalau sedang beruntung, wedang jahe hangat muncul memeriahkan suasana di gardu-gardu ronda tersebut.

Kehadiran para pemuda sedikit banyak juga ikut membantu para petugas ronda. Ketika tiba waktunya para petugas ronda itu harus berjalan mengelilingi pedukuhan untuk mengawasi keadaan, para pemuda dengan semangat ikut menyertai mereka. Berkeliling bersama dari satu gardu ronda ke gardu yang lain.

Ketika malam semakin larut, satu demi satu para pemuda ini kemudian undur diri pamit untuk pulang beristirahat, namun ada juga para pemuda yang malas pulang dan tidur di dalam gardu tersebut.

Begitulah kehidupan sehari-hari di pedukuhan Karang Jati. Tentram dan damai. Saling hormat-menghormati antar warga. Tolong-menolong tanpa harus dimintai terlebih dahulu sudah menjadi kebiasaan bagi setiap warga. Kalaupun terjadi perselisihan yang jarang sekali muncul, dapat selalu diselesaikan dengan rasa kekeluargaan sehingga tak ada rasa dendam yang tersimpan.

Diubah oleh omboth
Halaman 1 dari 12


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di