alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8ce6ab28c9917131191b3b/serapan-tenaga-kerja-muda-rendah-lantaran-keterampilan-lemah

Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah

Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah
Sejumlah pelajar SMK Pariwisata Dalung mengikuti simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Badung, Bali, Senin (4/3/2019). Simulasi tersebut sebagai persiapan sekolah dan pelajar menjelang pelaksanaan UNBK SMK yang dijadwalkan pada 25-28 Maret mendatang.
Persoalan bidang tenaga kerja akan menjadi salah satu topik dalam debat ketiga pemilihan presiden 2019 di Jakarta pada Minggu (17/3/2019). Selain masalah ketenagakerjaan, debat yang hanya melibatkan calon wakil presiden (cawapres) 01 Ma'ruf Amin dan cawapres 02 Sandiaga Uno ini juga membahas urusan pendidikan, kesehatan, sosial, dan budaya.

Ma'ruf dan Sandiaga diharapkan betul-betul memberikan solusi konkret dalam menyelesaikan persoalan, terutama di sektor tenaga kerja. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan kedua cawapres terkait hal tersebut.

Peneliti senior INDEF, M Fadhil Hasan, menyebut saat ini angka pengangguran terdidik dan terampil (SMK dan universitas) di Indonesia tergolong tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penganggur muda yang berpendidikan SMA ke atas meningkat dari 60 persen pada 2014 menjadi 74 persen pada 2018.

Ini disebabkan oleh peningkatan penganggur muda dengan pendidikan SMK dari sekitar 23 persen (2014) menjadi 33 persen (2018) dan juga diploma dan sarjana dari 4,4 persen (2014) menjadi 10 persen (2018).

Kondisi ini mencerminkan ada ketidakcocokan antara keahlian (skill) tenaga kerja dengan kebutuhan pekerjaan di dunia usaha. Para lulusan SMK dan perguruan tinggi masih harus melakoni pelatihan oleh perusahaan saat masuk ke pasar tenaga kerja.

"Kalau dilihat, sekarang ini orang yang sudah lulus SMK atau perguruan tinggi, ketika masuk ke pasar tenaga kerja, masih perlukan berbagai training untuk bisa meningkatkan skill mereka, agar cocok dengan kebutuhan dunia bisnis," ucapnya dalam diskusi "Menyelesaikan Masalah Struktural Ketenagakerjaan'" dikutip Sabtu (16/3/2019).

Pemerintah memang tengah fokus mengembangkan keahlian tenaga kerja, salah satunya melalui pendidikan vokasi industri. Namun, kini jumlah tenaga kerja di Indonesia mengalami kelebihan pasokan (over supply) sehingga tidak bisa diserap oleh dunia usaha.

"Yang sekarang terjadi adalah supply driven jadi pemerintah atau swasta itu melakukan pendidikan atau keahlian vokasi tanpa memperhatikan kebutuhan dunia usaha," paparnya.

Pemerintah juga harus mencermati perlambatan penurunan tingkat pengangguran yang kian lamban. Sejak 2007, tingkat pengangguran terbuka berada di angka 9,11 persen. Namun dalam jangka waktu 10 tahun dari dua pemerintahan berbeda, angka tersebut baru turun tak sampai 5 persen.

Jika dibagi dalam periode kepemimpinan nasional, maka tingkat pengangguran pada era Soesilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla turun 3,37 persen (2,94 juta jiwa), dari November 2015 sebesar 11,24 persen (11,90 juta pengangguran) ke 7,87 persen (8,96 juta pengangguran) pada Agustus 2009.

Sementara empat tahun era Jokowi-Jusuf Kalla, pengangguran turun "hanya" sebesar 0,84 persen (560,13 ribu jiwa), dari 6,18 persen (Agustus 2015) menjadi 5,34 persen (Agustus 2018).
Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah
Grafik tren penurunan pengangguran
Hal Ini menggambarkan sektor-sektor ekonomi yang memerlukan keahlian dan keterampilan di Indonesia, khususnya sektor industri manufaktur tumbuh lambat sehingga daya serap bagi angkatan kerja terlatih dan terdidik rendah. Di sisi lain, pekerja berdasarkan pendidikan pun sebagian besar hanya lulusan SMP ke bawah.

"Ini juga menggambarkan daya saing dan produktivitas yang rendah dalam perekonomian. Sebagian besar pekerja ini menggantungkan hidup di sektor pertanian yang kontribusinya semakin kecil dalam pertumbuhan ekonomi," katanya.

Deindustrialisasi menyumbat aliran angkatan kerja untuk terserap di pasar tenaga kerja. Akibatnya banyak lulusan berpendidikan menengah (SMU, SMK, dan universitas) tidak tertampung secara memadai seiring lambatnya pertumbuhan industri.
Mutu pendidikan kurang baik
Isu rendahnya keterampilan tenaga kerja di Indonesia turut disorot oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dalam laporannya, OEDC menyebut 70 persen pekerja Indonesia masih bekerja di sektor informal.

Head of the Indonesia Department Economics OECD, Christine Lewis, mengatakan pekerjaan informal cenderung dikaitkan dengan upah yang lebih rendah, lingkungan kerja yang lebih buruk, dan kesempatan pelatihan yang lebih sedikit.

Lembaga multilateral berbasis di Paris, Prancis, itu menilai capaian di bidang pendidikan telah meningkat. Namun kelangkaan keterampilan menghambat pertumbuhan dan penghasilan.

Dalam Economic Survey yang dirilis tahun lalu, OECD menyatakan mutu pendidikan di Indonesia masih menjadi masalah. Hal ini berkontribusi terhadap dunia informal karena pekerja tidak memiliki keterampilan untuk mendapat pekerjaan di sektor formal yang bergaji lebih tinggi.

"Pemerintah harus fokus pada pengembangan keterampilan dengan memperbaiki pendidikan kejuruan. Melibatkan para pemberi kerja dan melakukan koordinasi nasional yang baik sangat penting dalam meraih keberhasilan," jelasnya dalam laporan yang dikutip Sabtu (16/3)

Selain faktor-faktor tersebut, hal lain yang membuat penyerapan sektor informal lebih besar adalah ketatnya aturan ketenagakerjaan, termasuk mahalnya biaya pemutusan hubungan kerja, dan tingginya upah minimum. Akibatnya penyerapan kerja di sektor formal terbatas.

"Penerapan aturan ketenagakerjaan yang lebih longgar dan penurunan upah minimum bagi kaum muda dapat diujicobakan di beberapa kawasan ekonomi khusus, dan jika berhasil dapat diperluas ke seluruh Indonesia," jelas Christine.

Kementerian Ketenagakerjaan perlu memiliki daftar pekerjaan yang memerlukan keterampilan tinggi dan sangat langka, seperti yang dilakukan di beberapa negara OECD, serta melonggarkan pembatasan untuk merekrut pekerja asing untuk pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...rampilan-lemah

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah Konsolidasi koalisi Jokowi berlanjut tanpa Romy

- Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah BMKG: Pukul 16:30 WIT Halmahera Selatan diguncang gempa

- Serapan tenaga kerja muda rendah lantaran keterampilan lemah BMKG: Pukul 16:06 WIT gempa terjadi di Ternate

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di