alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Imamku, Beristirahatlah Dengan Tenang
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8c4a28b840881594355fef/imamku-beristirahatlah-dengan-tenang

Imamku, Beristirahatlah Dengan Tenang

3 tahun yang lalu...

Acara pertunanganku berjalan lancar. Semua orang bergembira ria, kecuali aku. Bagaimana tidak. Aku harus berpisah beberapa hari lagi dengan calon imamku. Dia baru saja lulus di universitas kedokteran UI, dan sekarang dia harus melaksanakan kewajibannya. Memenuhi sumpah jabatannya. Yeah..., Imam di tugaskan di medan. 1 tahun dia akan berada disana. Dan menurutku itu waktu yang sangat lama. Tak terasa 2 cairan bening mirip cristal berjatuhan dari sudut mataku. Entah kenapa, aku merasa takut kehiangan Imam. Sungguh aku takut...
Imam : sayang..., kamu nangis??
Entah dari mana datangnya tiba-tiba Imam telah duduk di sampingku.
Aku : aku takut.. emoticon-Frown
Air mata semakin deras mengalir, membuat anak sungai di pipiku.
Iman : sayang..., kita sudah bahas ini puluhan kali. Apa kamu masih gak percaya sama Aa?
Aku : A, aku percaya sama aa. Hanya saja aku takut a. Aku takut aa gak menuhin janji aa ke aku... emoticon-Frown
Imam : sayang, kamu inget saat pertemuan pertama kita??
Ku anggukan kepalaku. Masih aku inget dengan jelas bagaimana aku kenal Imam. 5 tahun lalu di beranda mesjid agung bandung. Waktu itu aku kehabisan ongkos untuk pulang. Panggilan kerja di kota bandung membuatku nekad pergi hanya dengan modal pas pasan. Namun tasku hilang saat di bus kota. Beruntung aku bertemu Imam disana, Imam dan ibunya yang baru saja menunaikan ibadah shalat ashar menghampiriku yang menangis tanpa henti. Ibu bertanya padaku. Awalnya aku hanya diam dan terus menangis. Dengan penuh kesabaran ibunya imam bertanya padaku, akhirnya ku ceritakan semua yang telah menimpaku. Ibu dan Imam menawariku tumpangan untuk pulang, karena kebetulan aku dan mereka tinggal di kota yang sama. Tapi aku menolaknya. Ibu lantas memberiku beberapa lembar uang seratus ribuan untuk ongkosku pulang. Kembali ku tolak bantuan mereka. Aku tak ingin merepotkan siapa pun. Akhirnya ibunya Imam mengalah. Beliau tetap memberiku uang untuk ongkos dan juga alamat rumah mereka. Agar aku dapat mengembalikan uang itu setelah aku punya. Aku menerima bantuan mereka.
Imam : Allah telah mengatur pertemuan kita. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua itu sudah takdir Allah. Apa yang kamu takutin, sayang???
Aku : emoticon-Frown aku takut kamu bakal ninggalin aku a. emoticon-Frown sekarang aku udah gak punya siapa2 lagi. Aku cuma anak yatim piatu, miskin, bodoh yang mencintai seorang dokter. Dan aku sekarang takut kehingan...
Imam : sayang, kamu tau kenapa aku memilihmu menjadi calon istriku??
Aku : emoticon-Frown
Imam : karena kamu kuat. Kamu mandiri. Kamu tak pernah bergantung pada siapa pun. Bahkan orang tuamu sendiri
Aku : emoticon-Frown aku rapuh a emoticon-Frown aku gak punya tempat untuk berlindung..
Imam : hey istigfar... Berlindunglah hanya pada Allah. Bukan pada manusia.
Aku : Astagfirullahaladzim
Imam : Cemburunya Allah teramat besar
Aku : emoticon-Frown
Imam : beresin cepet2 skripsinya calon ibu guru. Biar kita makin cepet ke pelaminannya emoticon-Big Grin
Ku cubit lengannya. Senyum terselip di antara ribuan air mata yang sedari tadi mengalir. Aku teringat masa-masa tersuli dalam hidupku. Saat mereka, keluargaku meninggalkan aku. Rasanya seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Emak dan Abah telah pergi memenuhi panggilan Allah. Allah telah dulu memanggil Abah. Abah kecelakaan saat beliau hendak pulang kerja. Supir truck yang mengantuk menabrak ayah di pertengahan jalan pulang dari kantor tempatnya mengabdi menjadi seorang satpam. Semenjak Abah di panggil Allah, keluargaku kesulitan ekonomi. Uang bela sungkawa dari pihak kantor Abah, Emak pergunakan untuk membuat warung kecil di depan rumah, hanya sekedar untuk menyambung hidup kami bertiga. Kakak yang waktu itu baru lulus SMA membatalkan niatnya untuk melanjutkan study nya ke jenjang lebih tinggi, kakak memilih untuk bekerja. 3 tahun setelah Abah menghadap allah, Emak menyusul Abah, sakit gagal ginjal membuat nyawa ibu terenggut. Meski pada saat itu ibu telah melakukan transpalansi ginjal. Kakak yang telah mendonorkan ginjalnya pada ibu. Kebetulan hanya ginjal kakak yang cocok dengan ibu. Itu adalah tahun terpahit yang ku alami. Allah mengujiku dengan ujian yang maha dahsyat. Apalagi saat Kakak pun menyusul ibu beberapa bulan kemudian, karna tubuh kakak tak sanggup hidup dengan 1 ginjal. Rasanya aku tak sanggup jalani ini sendiri. Tahun itu menjadi tahun-tahun kelabu. Semua cahaya di mataku hilang...
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

2 Tahun 4 Bulan Yang Lalu

Ku pandangi wajahku di cermin. "Cantik" Hanya itu yang dapat ku katakan saat itu. Salon langganan keluarga Imam memang paling the best di kotaku. Kebaya berwarna gold, lengkap dengan hijabnya membalut tubuhku. Tak terasa 2 bulir air mata menetes di sudut mataku. Aku jadi teringat dengan abah dan emak ku yang sudah tenang di alam sana. Mereka sangat menginginkan putri kecilnya meraih gelar sarjana. Ahhh emak dan abah, andai kau masih ada. Aku putri kecilmu kini beberapa jam lagi akan menjadi seorang sarjana.
Pemilik salon: aduhhh, udah cantik gini kenapa nangis? Kasian bedak mahalnya nanti luntur. Nih tissue... emoticon-Betty (S)
Ku raih tissue yang di ulurkan pemilik salon itu kepadaku, sebuah senyuman terpaksa mengembang di bibirku.
Pemilik salon : eike benerin lagi yaa jeng make up nya sebentar. emoticon-Betty (S)
Ku angguk kan kepalaku.
Pemilik salon : deseu beruntung yaa punya calon istri secantik iyey.
Aku : aku yang beruntung dapetin A'Imam
Kataku lirih.
Pemilik Salon : ahahah...
Di pantulan cermin aku melihat ibu menghampiri kami.
Pemilik salon : ehhh bencong..., aduhh ibu bikin kaget aja. Gimana bu?? Bagus gak hasil kreatif tangan manja eike melukis muka calon mantu ibu??
Ibu hanya tersenyum, entah apa yang tersirat di balik senyumannya. Semalam ibu menyuruhku menginap di rumah beliau. Katanya agar bisa ke salon yang sudah di booking jauh2 hari bareng. Yaa, hari wisudaku aku di antar ayah dan ibu imam, calon mertuaku. Semenjak aku datang ke rumah beliau 1 bulan setelah pertemuan pertamaku dengan beliau, kami menjadi dekat. Ibu dan Ayah menyayangiku, mereka menganggap aku seperti anaknya sendiri. Begitupun aku. Menyayangi mereka. Sangat. Imam adalah anak tunggal, saat usia Imam 8 tahun, ibu di vonis penyakit yang mengharuskan beliau mengangkat rahimnya.
Kata ibu Imam akan menghadiri acara wisudaku nanti, sekalian menentukan tanggal pernikahanku dengan Imam karena 4 bulan lagi Imam selesai tugas. Dan aku bahagia mendengarnya.
***
Seseorang memberiku bunga, sesaat sebelum acara wisuda di mulai.
Imam : happy graduation, sayang...
Aku : Aa emoticon-Frown aku kangen...
Imam : maaf aku telat.
Aku : gak telat a, tapi tepat..
Imam lantas menghampiri ibu dan ayah. Dipeluknya mereka silih bergantian. Lagi. Tetesan air mata mengalir dari sudut mataku.
Imam : bu..., apa ibu gak keberatan punya menantu yang cengeng??
Imam menggodaku, ku pukul lengannya dengan bunga yang tadi imam berikan padaku. Ibu dan ayah ikut tertawa.
Imam : aw.. Tuh bu, galak lagi... Bah, malang nian nasib anakmu ini. Akan menikah dengan seekor singa betina rupanya.
Imam menggodaku dengan logat medan yang di buat2. Kami semua tertawa. Tenggorokanku tercekat. Rasa haru menyelimuti hatiku. Terima kasih Yaa Allah pemilik seluruh jagat raya ini, Engkau telah mempertemukan aku dengan orang-orang yang tulus menyayangiku.

***
Imam dan keluarganya datang ke rumahku malam setelah aku wisuda. Sesuai janjinya, Imam melamarku. Amang dan bibi ku adik dari abah sengaja ku panggil ke rumah. Kakak dari emak tidak turut hadir. Hubungan emak dan keluarganya tidak baik setelah emak memutuskan untuk menjadi muallaf. Kata emak, kakekku tuan tanah di Menado. Beliau bisa di bilang orang kaya di kampungnya. Namun semua kekayaan kakek tak dapat membeli Iman emak kepada Allah. Yaa emak menjadi muallah jauh sebelum bertemu Abah.
Tak terasa hasil musyawarah telah di dapatkan. Tanggal pernikahanku dengan Imam telah di tentukan. 22 April 2017. Itu artinya tinggal 7 bulan lagi aku akan menjadi seorang istri. Aku bahagia. Meski sebelumya Imam memohon maaf kepadaku, karna dia tidak bisa membantuku mempersiapkan pernikahan kita. Ucapan syukur terus melantun dari bibirku. Betapa besar karunia Allah padaku. Allah tak pernah ingkar akan janjinya. Allah memberiku kado terindah tahun depan. Terimakasih Allahhu Rabbi..

2 Tahun Yang Lalu

Tanggal pernikahanku tinggal 3 bulan lagi. Kesibukanku semakin bertambah. Meski ibu menyuruhku memakai jasa WO tapi aku bersikeras menolaknya. Aku ingin mempersiapkan pernikahanku sendiri. Dari mulai gedung, dekorasi, make up, chatering, dan undangan aku sendiri yang mengurusnya. Jujur saja aku tak ingin terlalu membebani keluarga Imam. Jika ku lakukan semua sendiri tanpa bantuan WO aku yakin dapat menekan budget yang nantinya harus di keluarkan. Awalnya aku berniat untuk menjual rumah peninggalan emak dan abah untuk menambah biaya pernikahan. Memang tak begitu besar. Hanya berukuran 36m2. Namun ayah, ibu dan bahkan Imam tak setuju dengan niatku. Kata mereka, rumah itu adalah kenanganku dengan keluargaku. Mereka tak ingin membuatku sedih. Akhirnya ku urungkan niatku untuk menjual rumah peninggalan orang tuaku. Sebagai gantinya, Imam mengijinkanku untuk tidak menggunakan jasa WO. Hari ini aku ada janji dengan marketing gedung yang akan ku sewa, pemilik Salon, setelah itu aku akan ke tempat percetakan untuk memesan undangan untuk pernikahanku. Baru saja aku hendak mengeluarkan motor, ibu meneponku. Beliau memintaku ke rumahnya segera. Tanpa fikir panjang aku turuti perintah ibu. Bergegas aku menuju rumah Imam. Di sana ibu dan aya menyambutku dengan hangat.
Ibu : nak, sudah dapat gedungnya?
Aku : belum bu, rencananya hari ini aku mw ketemu ma orang gedung.
Ibu : biar ibu antar yaa
Aku : ibu gak kerepotan?
Ibu : gak. Sekalian kita ke tempat jahit langganan ibu yaa.
Aku : ouh iya bu.
Ibu memberiku bungkusan plasti putih berisi kain warna putih.
Ibu : kamu suka??
Aku : ini untuk aku bu?
Ibu : iya nak, Imam yang belikan untukmu seminggu yang lalu. Katanya dia ingin kamu memakai ini saat imam pulang nanti.
Aku : seminggu lalu Imam pulang bu?
Ibu : emoticon-Smilie jumat depan Imam pulang. Itu Imam kirim dari Medan.
Aku : Yaa ampun bu. Terimakasih yaa bu. Ibu telah merawat dan mendidik Imam. Aku beruntung kenal imam. Aku.. Hiks.. Aku... emoticon-Frown
Ibu : ibu yang lebih beruntung karena memiliki calon menantu sepertimu. Sudah, yuk kita pergi sekarang.
Ku hapus air mataku. Dan bergegas mengikuti ibu dari belakang. Haru dan bahagia bercampur jadi satu. Tak sabar rasanya aku menunggu hari jumat. Aku ingin segera bertemu imam.
***
Setelah selesai dari tukang jahit, kami kembali ke rumah. Sepertinya ibu kurang enak badan, maka aku memutuskan untuk mengundur pertemuanku dengan orang gedung, make up dan lainnya. Lagian sebentar lagi Imam pulang, aku ingin Imam yang menemaniku nanti. Tak terlalu lama aku berada di rumah Imam. Karena ku lihat ibu tak apa-apa. Mungkin hanya kurang istirahat saja.

3 Januari 2017

Dering telepon berbunyi, sesaat setelah aku menyelesaikan wiridku. Bergegas aku meraih ponselku, tanpa terlebih dahulu melepas mukena yang masih ku kenakan. Ku lihat di layar ponselku, "Imamku is calling on video" Cepat ku geser layar ponselku.
Imam : Assalamualaikum... emoticon-Smilie
Aku : Waalaikuum salam Imamku. emoticon-Smilie Aa apa kabar?
Imam : alhamdulillah baik, sayang. Besok aa pulang. Seneng gak??
Aku : seneng lah a. Aa jam berapa berangkat dari sana?? emoticon-Smilie
Imam : Insha allah ba'da shubuh aa berangkat dari sini. Aa dapet tiket untuk penerbangan besok pagi.
Aku : apa gak kepagian a berangkat dari shubuh??
Imam : insha Allah gak, sayang. Dari tempat aa ke bandara cukup jauh. Aa cuma gak mau kesiangan aja sampai bandaranya, biar gak terburu-buru nanti.
Aku : ouh iya a. Besok pagi aku ke rumah aa yaa. Aku gak sabar tau gak a pengen cepet2 besok emoticon-Smilie
Imam tersenyum. Senyum termanis yang pernah tersungging di bibirnya. Mukanya putih, bercahaya.
Aku : aa putihan disana. Makin ganteng emoticon-Genits
Imam : hahaha emoticon-Ngakak (S) masa sih?? Efek mau nikah sama bahagia kali yaa, jadi aura ganteng aa keluar.
Aku : emoticon-Wink
Imam : oh iya lupa, besok aa mw langsung ke rumah sakit di jakarta. Alhamdulillah aa sudah keterima kerja disana. Jadi aa harus kesana dulu ada beberapa yang harus aa lakuin disana.
Aku : terus pulang ke rumahnya kapan A??
Imam : mungkin agak sorean, ouh iya gimana baju putih kamu? Sudah selesai di jahit?
Aku : besok pagi katanya sudah bisa di ambil a. Ibu juga katanya mau bikin syukuran kecil untuk nyambut aa pulang.
Imam : ibu gak bilang apa2 sama aa. Pantesan besok ibu gak bisa jemput aa di bandara, rupanya ini alasannya.
Aku : mungkin a.
Imam : besok pagi jadi baju nya baru bisa di ambil yaa?
Aku : iya a.
Imam : yaahhhh.... *kecewa* padahal aa pengen banget liat kamu pake baju itu
Aku : besok kan bisa a emoticon-Smilie
Imam : besok takutnya aa gak sempet liat kamu pake baju itu emoticon-Frown
Aku : gak sempet gimana a??
Imam : kan aa harus ke RS dulu di Jakarta, takut lama disananya. Gimana kalau malam baru sampai?? Kamu mau emang nungguin aa seharian pake baju itu??
Aku : iya memangnya kenapa??
Imam : gak akan mandi emang.. Ihhh calon istri dokter koq jorok emoticon-Ngakak (S)
Aku : ihhhh aa, kan bisa aku pakainya nanti aja pas aa mau pulang ke rumah.
Imam : hmmm... Aa telepon ibu dulu yaa! Aa udah rindu sama ibu dan ayah.
Aku : oh iya a. Aku juga mau ambil pesananku dulu sebentar.
Imam : ini udah malem, sayang. Sebaiknya kamu di rumah aja. Aa gak mau kamu kenapa2 nanti. Siapa nanti yang nemenin ibu dan ayah pas di hari tua...
Aku : ihhh aa aneh, ketimbang ke depan doang koq. Kan ada aa yang jagain ibu, aya, sama aku...
Imam : sayang, Aa titip ayah sama ibu yaa. Jangan jahatin mereka lho selama aa pergi nanti.
Aku : koq aa ngomongnya gitu sih??
Aa : kan nanti aa gak akan diem di rumah sayang. Jadi kamu yang harus jagain mereka.
Aku : hmmm...
Imam : Assalamualaikum...
Aku : Waalaikum salam...
Hubungan terputus. Tanpa fikir panjang aku memijit deretan tombol di layar ponselku. Ku tekan numb penjahit, untuk memastikan bajuku selesai besok. Lantas ku pijit no tlp pemilik toko kue langgananku. Untuk meminta maaf jika hari ini aku tak jadi datang. Baru besok aku akan kesana untuk mengambil kue pesananku. Imam paling suka dengan kue itu, makanya beberapa hari yang lalu ku pesan kue special untuk imam. Ahhh rasanya seperti mimpi. Besok Imam akan pulang. Memang seharusnya Imam pulang baru bulan depan. Namun entah bagaimana kepulangan Imam bisa di percepat 1 bulan. Kali ini nasib baik sedang berpihak padaku. Mungkin keadaan mengerti dengan rasa rindu yang sedang berkecamuk dalam hatiku...

4 Januari 2017

Sekitar pukul 8 pagi pekerjaan rumahku selesai. Aku mulai bersiap untuk pergi ke toko kue langgananku m, setelah dari sana aku akan mengambil baju di tukang jahit. Dan pergi ke rumah Imam. Belum sempat aku memanaskan motor, imam meneleponku. Cepat ku angkat telepon darinya.
Imam : Assalamualaiku, calon istri dr imam.
Aku : walaikum salam imamku. Aa dimana??? Sudah sampai jakarta?
Imam : aa masih di medan sayang. Aa boleh minta sesuatu gak untuk yang terakhir kalinya??
Aku : minta apa A?
Imam : Aa kangen masakanmu. Aa pengen sayur ketupat bikinanmu.
Aku : koq sayur ketupat sih a??
Imam : lha memangnya kenapa dengan sayur ketupat??
Aku : aneh aja mintanya. Biasanya kan sayur ketupat untuk lebaran.
Imam : hehehe emoticon-Big Grin gak tau nih lagi pengen aja makan sayur ketupat, takut lebaran nanti gak bisa makan sayur ketupat lagi.
Aku : koq gitu ngomongnya?
Imam : hehehe emoticon-Big Grin bikinin yaa sayang...
Aku : iya Imamku...
Rencanaku hari ini berubah, toko kue, tukang jait, pasar balik ke rumah. Oke fix aku harus bergegas.
Sekitar pukul 2 siang, ibu menelponku. Suaranya terdengar parau.
Ibu : Assalamualaikum..
Aku : Wa alaikum salam. Bentar lagi aku ke rumah yaa bu. Ini sayurnya baru aku pindahin ke rantang. A'imam udah sampe mana bu??
Ibu : ....
Aku : aku gak sabar ingin ketemu a'imam
Ibu : ...
Aku : bu...
Ibu : ouh iya, imam lagi di jalan.
Aku : ibu kenapa?
Ibu : gpp.
Aku : maaf yaa bu gak bisa bantuin tadi. A'imam pengen sayur ketupat.
Ibu : hiks.. emoticon-Frown
Klik. Hubungan terputus. Perasaanku mulai tak enak. Kenapa sikap ibu dingin. Apa mungkin ibu marah padaku???

4 Januari 2017

Pukul 14:30 wib

Aku sampai di rumah Imam. Ku lihat sudah banyak saudara Imam disana. Mereka duduk di karpet ruang keluarga. Sofa di ruang keluarga tak ada. Entah di pindah kemana. Saat aku tiba di rumah Imam semua menatap ke arahku. Bi ade, adik ibu langsung berlari ke arahku. Di peluknya aku dengan begitu erat. Airmata membasahi punggungku. Ku balas pelukannya.
Bi ade : kamu yang sabar yaa.
Bisik bi ade de sela-sela tangisnya. Sabar??? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic) maksudnya apa?? Ada apa?? Kenapa??
Aku : bi ade kenapa?? Kenapa nangis?? Ini ada apa?? Imamnya mana??
Bi ade : ...
Di lepasnya pelukanku. Sembab di matanya menandakan ia sudah lama menangis.
Aku : bi, aku ke dapur dulu yaa. Mau nyiapin ini buat A'imam emoticon-Smilie tadi pagi A'imam telepon katanya pengen di masakin ini sama aku.
Bi ade : biar bibi aja yang siapin. Kamu ke kamar Imam gih. Ibu ada disana.
Aku : gak apa apa bi. Aku aja. Aku...
Bi ade : udah. Sana kamu temui ibu. Ibu ingin bicara sama kamu.
Aku : ohh. Iya bi. Makasih yaa bi.
Aku bahagia hari ini, sungguh. Meski dalam hati aku merasakan nyeri yang aku sendirintak tahu kenapa. Aku berjalan menuju lantai dua, ku lihat dari kejauhan kamar imam terbuka setengah. Perlahan aku mendekati kamar Imam. Ku lihat ibu menangis seraya memeluk baju putih Imam. Baju yang seminggu lalu Imam minta. Aku dan ibu yang membelikan baju itu, karena kata Imam saat sampai rumah imam ingin pakai baju putih. Agar baju aku dan Imam selaras warnanya.
Aku : bu...
Ibu menoleh, kepalanya mengangguk. Menyuruhku masuk melalui anggukannya.
Aku : ibu kenapa??
Ibu : ...
Aku : bu, itu baju nya Aa kenapa ibu peluk gitu? Nanti bajunya aa basah kena air mata ibu. Kasian aa nanti kedinginan. Naya, setrika yaa bu baju nya. Biar gak basah. Sebentar lagi A'imam kan sampe bu.
Ibu : ...
Ku raih baju itu dari tangan ibu. Ibu hanya menatapku. Tatapannya sendu. Belum sempat aku beranjak, ibu menarikku dalam pelukannya. Tangisnya semakin pecah... Pelukan ibu begitu kuat, membuatku kesulitan bernafas.
Ibu : kamu harus lupain Imam. Kamu harus lanjutin hidup kamu. Kamu lupain imam....
Deg. Jantungku berhenti sepersekian detik. Yaa Allah ada apa ini?? Kenapa ibu menyuruhku melupakan Imam? Apa yang telah aku perbuat?? Apa yang membuat ibu menyuruhku melupakan Imam? Apa salahku??
Aku : ibu.. Maafin naya jika naya salah. Tapi naya gak bisa lupain Imam. emoticon-Frown
Ibu : denger ibu. Mulai sekarang kamu harus lupain Imam. Lupain kalau kamu pernah mengenal Imam. Lupain pernikahan kalian. Lupain semuanya.
Aku : ibu... Maafin naya bu... Maaf... Ibu jangan batalin pernikahan kami bu. Demi Allah naya sayang Aa bu. Naya... Naya... Hiks.... emoticon-Frown
Aku menangis di pangkuan ibu airmataku membasahi baju ibu.
Ibu : nak, gak ada yang bisa melawan takdir Allah... emoticon-Frown manusia hanya berencana... Naya, janji yaa sama ibu! Naya harus lupain Imam.
Aku : Naya gak mau bu. Naya gak bisa.. emoticon-Frown
Ibu : kamu harus bisa. Kamu...
Belum sempat ibu menyelesaikan kalimatnya sirine ambulance terdengar meraung-raung. Tanpa berkata ibu keluar dari kamar. Suara isak tangis dari lantai bawah terdengar semakin kencang. Ku ikuti langkah ibu. Pintu depan terbuka lebar. Semua orang menyesaki pintu depan. Aku masih tak mengerti. Atau mungkin tak mau mengerti. Entahlah...
Tangis semakin kencang ku dengar tatkala ambulance memasuki pekarangan rumah. Yaa allah jangan-jangan... Ahhh ku usir fikiran burukku. Aku berlari menuju pintu. Entah siapa saja yang ku dorong. Aku tak peduli, yang aku ingin aku segera dapat melihat siapa yang di bawa ambulance. Pintu ambulance di buka lebar oleh petugas berseragam putih. Ayah turun dari ambulance matanya sembab. Aku masih menunggu. Keranda dengan kain hijau di turunkan petugas. Keranda itu di bawa ke dalam rumah. Aku masih mematung di luar. Sementara yang lain telah masuk ke dalam. Air mata deras membasahi pipi. Aku mengerti. Aku faham. Aku tau. Tapi aku menolak untuk percaya. Ku tegaskan dalam hatiku. Itu bukan Imam. Jenazah yang tadi di bawa petugas rumah sakit jelas bukan imam. Imamku masih di jalan. Imamku pasti baik-baik saja. Gak mungkin itu Imam.setengah berlari aku menuju gerbang. Hatiku tak karuan. Namun aku tetap menolak untuk percaya. Aku akan menunggu imam disini. Di depan gerbang rumahnya. Aku akan menyambut kepulangan Imam. Aku ingin menjadi orang pertama yang menyambut Imam pulang. Ambulance kembali menyalakan sirinenya. Meraung melewatiku yang tengah berdiri mematung di gerbang depan rumah imam.
Entah sudah berapa lama aku berdiri disitu. Menolak untuk percaya. Hingga ayah menghampiriku.
Ayah : naya masuk yuk.. emoticon-Frown
Aku : gak yah. Naya nunggu A'imamnya disini aja yah. Naya pengen cepet2 ketemu a'imam
Ayah : imam sudah ada di dalam naya
Aku : gak mungkin yah. Dari tadi Naya belum lihat aa
Ayah : ambulance tadi yang mengantar Imam pulang.
Aku : gak yah. Gak mungkin. Itu bukan A'imam. A'imam belum sampai yah. Ini naya lagi nungguin. Nanti kalau A'imam pulang, naya langsung kasih tau ayah.
Ayah : Naya... Istigfar sayang. Kamu harus nerima emoticon-Frown Imam sekarang udah gak ada. Kamu harus ikhlas...
Aku : ...
Ayah : sabar yaa. Kita semua kehilangan...
Aku : aaarrrrggghhhhh.....
Teriakku kencang, kemudian semuanya menjadi gelap...
Wah, roman romannya ga enak nih...

Lanjut sis...
Ini mirip cerita sebelah yg d tinggalin calon lakinya.

4 Januari 2017

Pukul 15:45 WIB
Mataku terasa berat. Kepalaku pusing. Jilbab yang tadi ku kenakan sudah tak lagi berada di tempatnya. Ku lihat ada bi ade di sampingku.
Bi ade : alhamdulillah, naya udah siuman.
Aku : bi, Imam udah pulang?
Bi ade : yang sabar yaa. Allah lebih menyayangi Imam. Hiks emoticon-Smilie
Aku : gak bi gak. Imam harus pulang... Jilbab ku mana??
Aku bangkit tergesa. Ku sambat jilbab yang ada di samping bi ade. Setengah berlari aku keluar kamar. Tak ada yang ku pedulikan saat itu. Aku hanya ingin bertemu Imam.
Aku : Aa...
Teriakku dari anak tangga terakhir. Imamku terbujur kaku di atas karpet. Semua orang mengelilingi imam. Lantunan surah yasiin terhenti seketika. Semua mata kini tertuju padaku.
Aku : A, bangun a... Aku udah masakin sayur ketupat. Aku juga udah pake baju putih seperti yang aa suruh. A bangun... 3 bulan lagi hari pernikahan kita a..
Isak tangis kembali terdengar. Air mata terus mengalir dari mataku.
Aku : a, kata kata aa aa pengen liat aku pake baju putih kan a. A bangun a. Hiks...
Isak tangisku semakin kencang. Meraung di antara bacaan surah yasiin.. Samar ku dengar ibu menenangkanku. Namun tak ku gubris. Aku hanya ingin membangunkan imamku.
Aku : a, kenapa aa gak bangun. Ini naya a. Naya kangen aa. Bangun a. Aa bangun... Jangan tidur terus. Hiks...
Entah siapa lagi yang berusaha menenangkanku, aku tak perduli.
Aku : a, naya sekarang udah wisuda a. Aa kan janji mw nikah kalau naya udah wisuda. Hiks..
Entah berapa kubik air mata yang mengalir dari sudut mataku. Kehilangan imam meninggalkan begitu banyak luka. Hatiku teriris. Ahhh seperti sebilah pisau yang di tancabkan ke dadaku. Rasa perih itu entah bagaimana harus ku jelaskan. Yaa Allah... Kenapa semua ini terjadi padaku???

4 Januari 2017

Pukul 16:30 Wib

Allahuakbar... Allahuakbar...
Allahuakbar... Allahuakbar...
Asyhadualla illaha illallahh..
Asyhadualla illaha illallahh..
Gema adzan terdengar dari tempat peristirahatan terakhir Imamku. Hatiku makin tersayat. Sakit. Teramat sakit untukku jelaskan dengan kata-kata. Hanya tinggal hitungan menit, aku tak akan lagi dapat melihat Imamku. Yaa allah kenapa sesakit ini?? Aku tak dapat berkata apa-apa. Yang aku ingin hanya menikmati pertemuan terakhirku dengan imamku. Tangisku pecah begitu keras. Aku berteriak histeris. Saat tanah merah mulai menutupi tubuh Imamku. Tak peduli pada mereka yang memandangku... Aku terus menangis... Hingga semuanya menjadi gelap...

Quote:
boleh kasih krisan kah?


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di