alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Tribunnews.com /
Menelisik Bahaya Narkoba Jenis Sabu dari Fisik hingga Kejiwaan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b46112525c332a14af67d/menelisik-bahaya-narkoba-jenis-sabu-dari-fisik-hingga-kejiwaan

Menelisik Bahaya Narkoba Jenis Sabu dari Fisik hingga Kejiwaan

Menelisik Bahaya Narkoba Jenis Sabu dari Fisik hingga Kejiwaan

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA–Narkoba di Indonesia masih terus berkembang. Awal bulan ini, polisi menangkap pengguna narkoba khususnya sabu yang profesinya berpengaruh di masyarakat.

Sabu, yang merupakan nama jalanan dari jenis methamphetamine ini merupakan jenis narkoba yang paling adiktif sehingga akan menimbulkan ketergantungan bagi para penggunanya.

Dokter sekaligus peneliti dalam bidang adiksi di Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN), Jakarta, Hari Nugroho pun menjelaskan mulai dari bahaya dan bagaimana para pengguna keluar dari sabu dengan cara rehabilitasi.

Dokter Hari, tolong dijelaskan seberapa bahayanya sabu dan efek yang ditumbulkan bagi pemakainya?
Sabu atau narkoba jenis methamphetamine yang berbentuk kristal (crystal methamphetamine) ini merupakan turunan dari amphetamine, yang mempunyai efek stimulansia.

Di dalam otak methamphetamine akan mempengaruhi pengeluaran dari zat kimia natural di dalam otak yang disebut dopamine. Dopamine sendiri mempunyai pengaruh kepada motivasi, kesenangan, pergerakan tubuh.

Pada jangka pendek penggunaan sabu meskipun dalam dosis yang kecil akan menyebabkan penggunanya lebih terjaga, tidak mengantuk, dan fisik terasa lebih segar.

Baca: BNNP Kalimantan Barat Amankan 100 KG Sabu

Pengguna juga akan merasa nafsu makan turun, denyut jantung yang cepat dan dapat tidak teratur serta meningkatkan tekanan darah serta suhu tubuh.

Sementara pada jangka panjang pengguna sabu dapat mengalami gangguan dalam penilaian (judgment) dan pengambilan keputusan yang dapat meningkatkan risiko untuk melakukan perilaku berisiko. Seperti seks yang tidak aman sehingga kemungkinan untuk tertular penyakit menular seksual juga meningkat.

Selain itu penggunaan jangka panjang juga dapat menyebabkan turunnya berat badan secara drastis, gangguan di gigi yang disebut meth mouth, sering gatal-gatal, gangguan cemas, gangguan tidur, paranoia, halusinasi serta perilaku kekerasan.

Baca: Tak Hanya Jadi Pengedar Narkoba, Pasutri ini Konsumsi Sabu untuk Tambah Stamina saat Hubungan Intim

Studi terbaru juga menemukan bahwa pengguna jangka panjang methamphetamine rentan untuk mengalami gangguan kognitif dan meningkatkan risiko untuk mengalami Parkinson.

Overdosis juga dapat terjadi jika dosis semakin meningkat dimana pengguna dapat mengalami stroke, serangan jantung dan gangguan ginjal.

Pada penggunaan yang akut atau baru saja memakai, kita dapat melihat pupil mata pengguna akan melebar, denyut nadi atau jantung meningkat, suhu tubuh dapat naik, tahan untuk tidak tidur selama beberapa waktu, tahan untuk tidak makan.

Baca: Oknum PNS Pemprov Lampung Ditangkap Saat Pesta Sabu

Pada mereka yang sudah mengalami kecanduan, dapat terlihat kehilangan berat badan yang ekstrim, wajah tampak lebih tua dari usia kronologisnya, lebih sensitif dan mudah marah. Serta dapat mengalami gejala gangguan jiwa seperti paranoia, cemas, atau halusinasi.

Bagaimana dengan mental pengguna dok? Emosinya apakah meledak-ledak terus?
Methamphetamine akan memengaruhi juga area yang terkait dengan kognisi dan emosi, khususnya dalam melakukan pertimbangan dan pengambilan keputusan serta membuat penggunanya mengalami gangguan emosi. Lebih sensitif dan mudah marah yang dapat berujung pada perilaku kekerasan.

Banyak kasus pengguna di dalam perawatan yang melakukan perilaku kekerasan baik verbal maupun fisik kepada keluarganya sehingga anggota keluarga mengalami KDRT.

Banyak mereka yang konsumsi sabu untuk alasan kesehatan
Betul, methamphetamine dapat digunakan sebagai obat, methamphetamine merupakan obat sekunder untuk kondisi ADHD, dan juga dapat digunakan untuk terapi gangguan tidur yang disebut narcolepsy. Dosis yang digunakan dalam terapi biasanya tidak lebih dari 25mg per hari.

Dalam dosis terapi seperti ini methamphetamine akan membantu penderita ADHD untuk memusatkan perhatian, dan membuat mereka yang mengalami narcolepsy untuk dapat terjaga.

Dosis yang biasa dugunakan untuk pengobatan itu berapa sehingga bisa terjadi penyalahgunaan fungsi sabu?
Dari penelitian dosis yang sifatnya toksik (menimbulkan bahaya / keracunan) jika kadar methamphetamine dalam plasma mencapai 200 ng/ml atau melebihi dosis aman untuk terapi yang berkisar 25mg/hari.

Penyalahgunaan yang menuju ke ketergantungan umumnya terjadi pada mereka yang menggunakan methamphetamine secara berulang pada dosis sekurangnya 100 -150mg atau di jalanan sekitar paket Rp 100-200 ribu.

Baca: Sabu Asal Malaysia Seberat 11 Kilogram Diamankan

Apakah rehabilitasi memang lebih disarankan daripada diberi hukuman?

Banyak riset yang telah menyebutkan bahwa hukuman pemidanaan semata tidak cukup efektif untuk membantu para pecandu untuk pulih. Pendekatan kesehatan masyarakat, dengan diantaranya mempermudah akses kepada rehabilitasi dapat lebih membantu mereka untuk pulih, serta mengurangi stigma sehingga para pecandu ini mau mengakses layanan terapi.

Pada dasarnya terapi dan rehabilitasi ini bertujuan agar mereka tidak menggunakan narkoba lagi, mengurangi tingkat keparahan pemakaian, mengurangi atau mencegah kekambuhan agar mereka dapat berfungsi sebagaimana masyarakat lainnya secara bio-psiko-sosial.

Faktor apa saja yang mempercepat pemulihan dalam rehabilitasi?

Faktor-faktor yang dapat mempercepat pemulihan dapat berasal dari diri pecandu sendiri maupun kondisi eksternal. Kondisi internal yang mempercepat pemulihan adalah penerimaan diri dan mau mengakui jika mereka bermasalah dengan narkoba yang pada ujungnya dapat meningkatkan motivasi untuk berubah.

Kemauan yang kuat untuk dapat berubah dan kemauan untuk mengikuti dan tetap dalam terapi juga faktor yang penting.Selain itu dukungan dari keluarga atau orang-orang terdekat, disertai kemudahan untuk mengakses layanan terapi dan rehabiitasi juga dapat membantu mereka untuk pulih.

Baca: Dua Buruh Sembunyikan Sabu di Kandang Ayam

Hal ini juga perlu didukung dengan kebijakan pemerintah yang mengedepankan pendekatan kesehatan masyarakat dibandingkan pendekatan yang bersifat punitif semata.

Tahapan penyembuhan mana yang paling susah dilakukan pasien? Berapa lama ketergantungannya?
Paling susah adalah mereka yang masih dalam tahapan prekontemplasi, atau belum merasa bahwa pemakaian narkobanya adalah suatu masalah yang perlu untuk diperbaiki. Yang kedua adalah pada mereka yang tidak mempunyai modailitas dukungan dari keluarga dan lingkungan yang memadai.

Seringkali keluarga juga butuh untuk diterapi, adanya kejadian penggunaan narkoba oleh salah satu anggota keluarga dapat membuat keluarga tersebut “sakit” yang juga butuh untuk diperhatikan, pada keluarga yang tidak mau untuk terlibat dalam proses pemulihan si pcandu, risiko untuk kambuh tentu lebih besar.

Sementara itu para pengguna yang ditangani banyak juga yang mempunyai riwayat penggunaan narkobanya diatas 10 tahun, bahkan ada yang lebih dari 20 tahun memakai narkoba.

Apakah bisa benar-benar pulih orang yang berhenti dari narkoba jenis ini?
Orang yang mengalami gangguan penggunaan zat dapat pulih seperti sedia kala, asalkan mendapatkan penanganan dan dukungan yang adekuat, termasuk para pengguna sabu ini.

Mungkin saja pasien kambuh lagi ya dok? Terutama bagi mereka yang berusia tua?
Kekambuhan dapat terjadi pada mereka yang mengalami gangguan penggunaan narkoba.

Usia bukan menjadi faktor yang menyebabkan kambuh, namun kekambuhan dapat terjadi pada mereka-mereka yang belum bisa mengindentifikasi pemicu pemakaiannya. Belum punya strategi mencegah kambuh atau strategi menghadapi faktor pencetusnya (trigger), dan pada meraka yang tidak mempunyai dukungan yang baik dan cukup

Apakah lingkungan terdekat berpengaruh pada proses penyembuhan ya dok?

Para penyintas adiksi ini dapat mengalami craving (keinginan untuk memakai ) jika bertemu dengan faktor-faktor pencetusnya. Atau misalnya dalam situasi yang mirip dengan situasi dimana mereka memakai narkoba.

Baca: Polisi Ciduk Pemasok Sabu Kepada Eddo Eks Idol

Keluarga atau orang-orang terdekat punya peran penting agar menjadi faktor yang sifatnya protektif, komunikasi yang baik, asertif dan efektif antara keluarga dan mantan pecandu menjadi hal yang krusial.

Pada mereka yang juga mengalami gangguan jiwa akibat penggunaan narkoba, pemantauan dan kontrol teratur pada dokter ahli kesehatan jiwa juga penting untuk terus menjadi perhatian keluarga.

Memberikan kepercayaan, bersikap non-judgnental dan mendorong para mantan pecandu agar terus produktif juga perlu dilakukan oleh keluarga agar para mantan pecandu ini dapat terus bertahan untuk clean and sober.


Sumber : http://www.tribunnews.com/kesehatan/...ingga-kejiwaan

---

Baca Juga :

- Oknum PNS Pemprov Lampung Ditangkap Saat Pesta Sabu

- BNN Ungkap Narkotika Jenis Baru, Happy Water yang Dijual Rp 3 Juta per Kemasan

- Sabu Asal Malaysia Seberat 11 Kilogram Diamankan

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di