alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Politisi, Demokrasi dan Perilaku Korupsi
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b1d4582d4951cb930eaf9/politisi-demokrasi-dan-perilaku-korupsi

Politisi, Demokrasi dan Perilaku Korupsi

Politisi, Demokrasi dan Perilaku Korupsi

Sepanjang jalan, beberapa baliho, stiker dan semacamnya, ramai dengan gambar para politisi. Pepohonan nan malang pun tak luput dari gambar-gambar mereka. Berbagai gaya bak foto model berikut kata-kata yang manis, adalah sajian khas menjelang tahun politik di tahun 2019. Ada yang salah? Nggak juga sih. Sebab itulah salah satu cara, meski konservatif, mengenalkan diri politisi ke khalayak ramai. Dengan harapan, masyarakat mengenal, lalu melimpahkan suaranya kepada politisi tersebut.

Politisi, Demokrasi dan Perilaku Korupsi
source:google.com

Merujuk pada ulasan dari Wikipedia, politisi adalah mereka yang berkaitan dan terlibat dalam politik. Jadi, meski sebatas calon, mereka dianggap bagian dari politisi itu. Kelak, jika suara yang diraup dari masyarakat memenuhi ketentuan dan syarat sebagaimana diatur dalam Undang-undang pemilu, maka politisi ini selanjutnya akan duduk di pemerintahan. Mereka bertugas membuat berbagai kebijakan dan ikut mengontrol jalannya roda pemerintahan. Bukankah tugas ini begitu mulia?

***
Sistem pemilihan di Indonesia menganut paham demokrasi. Melalui sistem ini, rakyat diarahkan dan memiliki hak suara untuk memilih siapa saja wakil rakyat (politisi). Harapan terbesar masyarakat adalah, terwakilinya suara mereka diparlemen. Baik itu tingkat daerah, maupun nasional.

Secara sederhana, demokrasi adalah sebuah bentuk pemerintahan yang melibatkan peran masyarakat secara langsung. Meski sistem ini tidak diterapkan secara total, namun kita dapat melihat sistem ini melalui pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, hingga pemilihan presiden. Untuk pemilihan camat, saya belum pernah menemukan.

Demokrasi ala Indonesia ditengarahi berbiaya mahal. Inilah adalah konsekuensi logis pemilihan secara langsung. Coba lihat, butuh biaya berapa untuk pasang iklan di hampir tiap pojokan jalan. Biaya untuk cetak stiker, memodifikasi kendaraan, biaya logistik dan konsumsi timses, dan biaya tetek bengek lainnya. Belum lagi mahar yang harus dikeluarkan politisi calon legislator ke partai tempatnya bernaung. Seperti klaim La Nyalla, mantan ketum PSSI. Terlepas benar atau tidaknya mahar itu, hanya Tuhan dan mereka yang tahu. "Lagipula, apa hak anda menanyakan hal tersebut?". Begitu kira-kira kata Lord Edy, yang juga mantan ketum PSSI. Lho? PSSI lageee....

***
Mahalnya ongkos politik yang harus dikeluarkan oleh politisi, lantas membuat sistem demokrasi kehilangan tujuan baiknya. Padahal, meski nggak totally baik 100%, sistem demokrasi jauh lebih baik daripada sistem pemerintahan yang otoriter.

Melalui asas demokrasi, suara rakyat adalah penentu. Rakyat juga berperan dan ikut bagian dari jalannya roda pemerintahan melalui wakil-wakilnya yang duduk manis di parlemen. Mereka (rakyat), memiliki hak pula untuk berekpresi dan bebas berserikat serta berkumpul. Tentu, kondisi demikian tidak ditemukan di sistem pemerintahan yang otoriter, dimana suara rakyat tersandera oleh ganasnya sikap pemerintah. Sedikit saja kritis, wassalam. Begitu gambarannya.

Akan tetapi, layaknya hitung-hitungan ala pedagang, biaya yang terlanjur dikeluarkan untuk serangkaian prosesi politik ini, membuat banyak politisi menjadi kalap. Tepatnya buta hati. Mereka akan mengkalkulasi semua biaya, kemudian berpikir bagaimana caranya modal awal kembali ditambah keuntungannya. Bukankah demikian yang terjadi dalam dunia perdagangan?

Jika iman dan takwa telah tercerabut dari akal sehat, maka berbagai proyek (fiktif) akan menjadi incaran yang pertama. Melalui kekuasaan yang dimiliki, ditunjang dengan proses lobi-lobi tingkat dewa-dewi, lahirlah sebuah pemukatan jahat untuk secara bersama-sama melakukan tindakan korupsi. Baik untuk tingkat legislatif, demikian pula oleh mereka yang duduk sebagai eksekutif.

Politisi, Demokrasi dan Perilaku Korupsi
source:google.com

Fakta demikian begitu mudah ditemukan. Jika rajin, tataplah layar televisi kita. Begitu seringnya lembaga anti-rasuah (KPK) melakukan OTT kepada kepala pemerintahan di daerah. Baik itu bupati, gubernur maupun mereka yang duduk dilingkaran kekuasaan. Hebatnya lagi, nyaris semua segmen tak luput dari tindakan korupsi ini. Entah itu mark up biaya proyek jalan, jembatan, sekolah, bahkan pengadaan ayat suci pun sanggup dikorupsi. Edian!

***
Tindakan korupsi adalah musuh besar bangsa ini. Fondasi perekonomian negara akan tergerus secara perlahan-lahan bila korupsi merajalela. Tak usah membayangkan kita akan mengeksplorasi bulan, atau melakukan jelajah religi ke luar angkasa.

Melihat jalanan yang baru saja diaspal lalu awet selama bertahun-tahun saja merupakan fenomena luarbiasa. Atau melihat jembatan yang kokoh. Atau melihat gedung sekolah tak miring karena termakan usia. Atau dana pajak tak diembat orang semacam Gayus. Atau tak ada anggota DPR (ketua) melakukan mark up dana E-KTP. Atau tidak menyaksikan hakim yang konon katanya wakil Tuhan mempermainkan bunyi Undang-undang sekehendaknya. Atau masih banyak atau lainnya. Itu saja sudah luarbiasa.

Pada kenyataannya, semua perilaku korupsi dari mereka yang diamanahkan mandat dari rakyat, justru membuat banyak rakyat sakit hati. Ah, jadi ingat Luna Maya. Sabar ya mbak?

***
Sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita yang telah memiliki hak suara untuk memilih, benar-benar bisa melihat calon politisi yang akan kita pilih. Jangan terjebak dengan rupa mereka yang tampak rupawan di baliho. Percayalah, itu hasil editing dari maestro foto. Namun, perhatikan latarbelakang kehidupannya selama ini. Benar, tidak ada manusia yang berjalan dikehidupan ini secara stagnan. Dinamika pasti terjadi. Akan tetapi, jejak masa lalu bisa dijadikan sebagai bahan referensi.

Ayo tetap menatap masa depan Indonesia dengan rasa optimis. Semoga nantinya, ada Undang-undang anti korupsi yang bisa menimbulkan efek jera pelakunya. Menghilangkan sama sekali tidaklah mungkin. Tapi setidaknya, jangan parah-parah amat seperti sekarang ini. Dan, perilaku anti korupsi, kita mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal yang sederhana, dan dimulai dari sekarang...


©Skydavee 2019
Diubah oleh kaskus.support16
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Politisi, Demokrasi dan Perilaku Korupsi
oli pembangunan emoticon-Salaman
Quote:


Bntr gan. Ntu yg ngomong fadhli zon ya?emoticon-Bingung
Selamat menunaikan ibadah sholat Jum'at bagi yg menjalankannyaemoticon-Salaman
Quote:


ane tidak terkejut emoticon-Big Grin












yg penting kan santun emoticon-Big Grin
Quote:


Santun dalam kebiadabannyaemoticon-Hammer2
Ente mau kaya???? Kalo kaya berarti biasanya beruapa fulus donkkk... Berapa sih nominal fulus nya. Biar bisa di sebut kaya???? Mikir dulu yaaa.... Tetot... Ude 30 menit. Kaga keluar juga tuh nominal. emoticon-Ngacir
Quote:


Bingung sayah. Ini mksdnya apaan ya?emoticon-Bingung
Kenalan masa kecil aku, keluarga orang kaya banget d kota aku. Sekarang jadi calon anggota dpr. aku lihat di baliho nya samping kanan ada tulisan dari keluarga haji "anu".
Terus disertakan nama sang ibu, dengan bukan nama asli (nama akun facebook dengan tulisan sedikit alay).
Ini asli..
Dan aku bener2 tau masa kecil dan masa sekolahnya gimana, naik kelaspun harus nyogok ke sekolah.

Well. Aku. Simpulkan sebagai rakyat jelata, mudahnya bagi orang berduit mencalonkan siapa saja yang akan menjadi wakil rakyat bagaimanapun latar belakangnya.
Diubah oleh nitadanie
Quote:


Yup. Gak jauh beda dgn temanku nit. Tp sdhlah. Mgkn benar, tdk ada manusia yg stag. Dinamika pasti terjadi. Semoga kl terpilih amanah. Gitu ajaemoticon-Big Grin
Balasan post skydavee
Bener. Kita doakan saja emoticon-Smilie

btw tulisan tentang mantan nya buat ga kak? emoticon-Big Grin
Diubah oleh nitadanie
Quote:


Liat ntr deh nit. Kl sempat aku buat. Tp keknya kemungkinan besar gak dehemoticon-Embarrassment
Balasan post skydavee
waah bikin dong... ingin tau kisahnya kakak gmn
Diubah oleh nitadanie
Quote:


Hahahahaha.... Gak janji deh nitemoticon-Malu


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di