CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
KUMPULAN CERITA PENDEK Stories From the Heart
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c89d2f482d4952b6a589daf/kumpulan-cerita-pendek-stories-from-the-heart

KUMPULAN CERITA PENDEK Stories From the Heart

Quote:



profile-picture
profile-picture
profile-picture
pucuy19 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh radheka
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 2
profile-picture
miniadila memberi reputasi
Diubah oleh radheka
Kumpulan CERPEN LOMBA COC 2019


INDEX :

Quote:

profile-picture
miniadila memberi reputasi
Diubah oleh radheka
reserved
Mantap nih idenya si Tante

Ane ijin baca2 dulu ya.
Quote:



KUMPULAN CERITA PENDEK Stories From the Heart

– Dilema Festival Patah Hati –


Valensi eden dan taman aurora adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, jika diibaratkan kota itu adalah sebuah organ tubuh maka Taman aurora adalah jantung mereka. Sebab sudah sekian lama tempat itu ada, seolah segala yang ada di taman aurora telah berdiri dengan sendirinya.

barisan pohon cemara yang berjejer rapih mengelilingi area taman, juga beberapa diantaranya terdapat pohon palem, belum lagi tanaman mawar merah dan putih yang ada disana, juga dua pohon beringin besar yang dahannya menyilang seolah olah seperti dua pohon yang menyatu, yang sering disebut pohon beringin kembar. Tak mengherankan bila masyarakat valensi eden menganggap jika segala yang melekat pada taman aurora layaknya nirwana dan tempat bagi orang-orang saling mengenang dari dahulu hingga saat ini.

Hari demi hari berlalu di kota itu. Begitu pula dengan enjang laksana, pemuda berbadan tegap dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh centi, rambut belah tengah, kulit kuning langsat dan pembawaan sifatnya yang lugu dan ramah membuat orang orang disekitarnya suka padanya.

Namun hal ini tidak berbanding lurus dengan kisah percintaannya, sebab terakhir atau lebih tepatnya pacar pertama dan satu satunya pengalaman dia dalam percintaan dengan perempuan adalah dua tahun lalu.

Lilis adalah nama gadis itu, yang tak lain kekasih enjang . Enjang masih mengingat betul bagaimana cara takdir mempertemukan mereka.

Kala itu enjang tengah menyaksikan live musik dari salah satu musisi indie yang tampil di malam festival patah hati. Festival yang jatuh pada tanggal dua puluh tujuh desember setiap tahunnya.

Awalnya enjang enggan untuk melihat acara hiburan semacam itu, namun karena desakan akbar, tetangga dia. akhirnya enjang bersedia untuk menemani akbar untuk pergi ke malam acara festival patah hati yang diadakan di taman aurora.

Saat membeli es teh di salah satu both minuman yang ada disana, enjang disapa oleh gadis itu, lilis. ternyata mereka pernah satu smp, walau tidak pernah sekelas. Dari pertemuan malam itu segalanya berlanjut dan bergulir begitu cepat, beberapa pertemuan selanjutnya, seperti ajakan lilis ke enjang untuk nonton film berdua di bioskop, dan pergi ke beberapa tempat wisata yang ada di sekitaran valensi eden. Namun, tetap saja Taman aurora adalah tempat favorit ketemuan mereka berdua.

Perlahan namun pasti, benih-benih cinta mulai menguasai hati dua anak manusia tersebut. Dan sebulan tepatnya sejak pertemuan pertama mereka di festival patah hati akhirnya mereka memutuskan untuk berikrar menjadi sepasang kekasih.

Hari demi hari dan bulan demi bulan berlalu saat mereka mejalani kisah cinta yang bahagia. Seperti pasangan kekasih lainnya, jatuh hati adalah perasaan paling indah yang membuat seolah dunia milik mereka yang tengah kasmaran, sampai tiba pada suatu siang saat enjang merasa cukup yakin untuk bertemu dengan ayah lilis dan mengenalkan dirinya ke orang tua lilis bahwa perasaan cinta enjang kepada lilis adalah suatu yang serius dan bukan main-main.

“Siapa kamu?” tanya pak hartono, ayah lilis ke enjang, saat enjang datang ke rumah orang tua lilis.

“saya enjang pak..” jawab pemuda itu, sambil berusah menjabat tangan ayah lilis.

“saya tidak tanya nama kamu! Saya tanya, kamu siapanya lilis?”

“mmhh, justru itu pak maksud kedatangan saya kesini menemui bapak. Saya kekasih lilis, pak.” Jelas enjang.

“saya ingin bilang ke bapak, kalau saya cinta dan serius dengan anak gadis bapak” Lanjutnya.

Mendengar enjang, pak hartono hanya berekasi acuh dan sedikit memaalingkan muka, ini karena bagi pak hartono, lilis adalah anak perempuan semata wayangnya, walaupun sebetulnya lilis punya adik tiri dari ibunya yang sekarang. Namun, adik tirinya itu tindak tinggal bersama keluarga pak hartono, melainkan di ibukota, tinggal bersama neneknya.

“kamu kerja apa?” cecar pak hartono.

“saya sehari-hari bantu kakek saya di kebun, pak. Sambil jualan hasil kebun di pasar.”

Gesture wajah pak hartono mulai berubah mendengar enjang bicara.

“mulai sekarang, lupakan kalau kamu pernah pacaran sama lilis, kamu pikir kamu itu siapa?! Mana mungkin saya biarkan anak saya untuk hidup susah sama kamu.”

Rupanya, suara pak hartono cukup keras untuk didengar lilis yang tengah berada di dapur saat lagi membuatkan minuman untuk enjang, mendengar itu lilis langsung berlari menuju ruang tamu.

“ayah ini bicara apa, kenapa ayah bilang seperti itu ke enjang.” Ujar lilis dengan nada suara bergetar.

“lilis cinta enjang yah...”

“sudah, kamu nurut sama ayah, masuk sana! Bu, ini anakmu bawa masuk kedalam kamar.” Balas pak hartono, sambil memanggil sang istri yang tak lain ibu tiri lilis.

Dan lilis pun di tarik perlahan oleh ibu waty, ibu tirinya menuju kamar. Lilis sedikit berontak namun tubuhnya terlalu lemah, sambil terisak iya terpaksa menuruti kemauan sang ayah.

“pak, saya mohon. Saya tau saya bukan dari keluarga yang berkecukupan, dan tidak sebanding dengan anak bapak. Tapi, saya sungguh mencintai lilis dan saya yakin bisa membahagiakan anak bapak dengan apa yang saya usahakan.”

“kalau kamu cinta lilis, tinggalkan dia. Lupakan perasaan kamu padanya. Itu lebih baik, karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian.” Bentak pak hartono.

Disini, enjang mulai menyadari bahwa seolah ada tembok pembatas yang sangat tinggi antara dia dan lilis, kekasihnya. Ia sadar, bahwa ia tidak bisa egois untuk membuat lilis memilih antara dirinya atau orang tua dia. Ia pun mencoba membesarkan hatinya sendiri dan mengerti bahwa tiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan bagi pak hartono, mungkin dia bukanlah yang terbaik bagi anak gadisnya.

Dengan perasaan berat dan hati yang remuk, enjang pulang dari rumah lilis. Sepanjang perjalanan pulang mengayuh sepeda enjang memutar tiap kenangan selama sepuluh bulan bersama lilis dikepalanya. Tanpa sadar, air mata mulai meleleh hangat membasahi pipinya.

“kamu harus coba ikhlaskan lilis, jang..” batin dia.

“kuyakin kita akan bahagia, meski kita tak saling bersama....”

Sebuah bait lagu yang terdengar dari warung kopi di pertigaan jalan yang berada dekat gang yang menuju ruamah enjang.

****

Nanti malam, adalah malam festival patah hati. Entah apa yang ada dipikiran enjang saat akan memutuskan untuk menghadiri acara tersebut. Padahal tahun lalu, ia abstain untuk tidak pergi ke malam festival patah hati. Karena merasa bahwa hatinya masih terlalu sakit untuk mengingat apa yang pernah terjadi dengan kenangan masa lalunya. Namun tahun ini ia ingin pergi kesana, ia sadar bahwa hal terbaik utuk melanjutkan hari-hari kedepan adalah dengan berdamai dengan kenangan masa lalu.

Jam dinding dikamarnya menunjukan pukul tujuh kurang lima menit, setelah siap dan memakai tas selempang di punggungnya dan bersepatu lengkap ia kunci pintu rumah dan memanaskan mesin motor astrea second yang ia beli sebulan lalu. Kini, pekerjaannya sudah cukup lumayan stabil. Ia dipercaya untuk mengurus administrasi sebuah toko kelontong milik koh akiong di pasar.

Dan berangkatlah ia menuju taman aurora. Sampai lima belas menit kemudia ia telah sampai di area parkir taman lalu memarkirkan motornya disana.

Taman aurora sudah mulai dipadati pengunjung bukan hanya dari valensi eden melainkan juga dari kota lain. Taman ini seketika disulap menjadi tempat yang bernuansa modern dengan panggung utama yang megah di sisi kanan gapura pintu masuk taman.

Lampu sorot warna-warni yang terpasang diatas panggung memberi nuansa malam ini semakin meriah.

Enjang berjalan ke sisi berlawan dari panggung utama yang mulai terdengar sang MC baru memulai acara. Ia berjalan mendekat kearah pohon beringin kembar dan berdiri sesaat di sisi belakang pohon.

Enjang adalah pemuda yang religius. Dibukanya resleting tas selempang dan mengambil botol air mineral ukuran besar dan sebuah sajadah. Ia tahu bahwa sekarang telah masuk waktu isya, ia bersiap untuk bisa sholat isya tepat waktu sebelum menonton acara.

Ia wudhu dengan air mineral yang dibawanya, lalu mnggelar sajadah menghadapkan kearah kiblat dengan melihat penunjuk kompas digital dari smarthphone miliknya.

Ia tenggelam dalam kusyuk ditengah keramaian acara. Sampai beberapa saat kemudian ia selesai menunaikan sholatnya.

Baru saja memasukan sajadah kedalam tas dan menutup resletingnya, tiba-tiba entah darimana asalnya ia melihat seorang gadis berhijab biru navi dengan hiasan kacamata bening bulat berframles hitam yang melekat dikedua bola matanya.

Gadis itu tersenyum kearah enjang. Lesung pipi gadis itu menambah senyumnya menjadi lebih manis.

“hai...” gadis itu menyapa enjang.

Enjang hanya membalas dengan senyum, malu.

“O iya, kak. Aku tyas.” Ujar Gadis itu sambil menyodorkan telapak tangan kanannya.

“oh iya, aku enjang.” Enjang masih malu-malu sambil membalas jabat tangannya.

Enjang masih sedikit takjub, dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya, ia terpesona pada pandangan pertama melihat gadis bernama tyas itu.

“aku, kagum loh sama kakak, karena jarang aja liat orang yang nyempetin sholat saat acara ramai-ramai kayak gini.”

Enjang diam, ia tidak sadar jika sedari tadi ketika ia sholat ada seorang gadis yang memperhatikannya dari kejauhan.

Lalu, obrolan mereka pun berlanjut sampai menikmati acara di malam festival patah hati. Enjang masih berpikir bahwa ia bermimpi bisa berkenalan dengan gadis cantik dan manis disaat dan tempat yang memiliki kenangan masa lalunya itu.

****

Tiga minggu kemudian, enjang resmi menjadi kekasih tyas, ia menjalani hari-hari indah bersama tyas setelah setahun lebih putus dari lilis. Kini ia merasa bahwa hari-hari jauh lebih berwarna. Ia banyak menghabiskan waktu bersama tyas seperti layaknya sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta. Baginya, tyas adalah malaikat penyembuh dari patah hatinya.

Namun hubungan cinta yang indah ini tidak berlangsung lama, sebab hampir genap setahun kemudian, tepatnya enam jam sebelum festival patah hati dimulai, ia merasakan hal yang tidak pernah ia duga.

Sore itu, ia janji ketemuan dengan tyas di taman aurora. Tyas meminta tolong ke enjang untuk membantunya menyebar undangan milik sang kakak ke beberapa kerabat juga teman yang ada di daftar undangan.

“Udah lama nunggu yah? Maaf ya sayang..” ujar enjang. Begitu tiba di taman aurora.

“iya, nggak apa apa kok, sayang. Baru sepuluh menitan sih aku nunggunya, enggak lama juga kok.”

“yuk,..temenin aku nganterin undangan.”

“oke, siap.. oya. Aku boleh liat undangannya.” Pinta enjang.

“nih..” tyas memberikan salah satu undangan pernikahan cover warna maroon ke enjang.

Enjang stuck dan terperangah kaget ketika membaca nama mempelai perempuan di undangan tersebut.

Sebuah nama yang menyebabkan hatinya sakit cukup lama. Sebuah nama yang sangat ia kenal.

“ Lilis sunengsih”

Sebuah Dilema, tepat enam jam sebelum festival patah hati.

-THE END-








profile-picture
TaraAnggara memberi reputasi
Diubah oleh blank.code
reseped
ini trit index cerpon kah? emoticon-Bingung (S)
pm in nomer wa tan,
atau gua cari sendiri?
waw boleh juga nih,

mejeng dimari dulu mak emoticon-Leh Uga
ane nyimak dulu deh
wah baru tahu permisi
ikut nyimak ya
ijin nanya tante momod, kalo diriku seandainya punya cerpen/carpon, apa boleh upload ceritanya disini atau Share link nya aja?
Lihat 1 balasan
Reserved deh.

# Perempuan Capuchino –

KUMPULAN CERITA PENDEK Stories From the Heart
- Perempuan Capuchino -


Angin yang bertiup kencang di akhir september, mengugurkan dedaunan prunus serrulata yang berwarna merah jambu, tampak cantik dah syahdu beradu dengan langkah seorang pemuda berkemeja putih dan celana bahan hitam serta dasi biru tua bergaris putih yang dikenakannya sore itu.

Askha, pemuda itu berlari kecil menerabas hujan, Semua itu ia lakukan agar ia tidak melewatkan detik-detik senja, di kedai kopi langganannya dua bulan terakhir ini.

“tring..tring..” ia membuyikan lonceng kecil yang menggantung di pintu kedai, sebagai tanda bagi tiap pengunjung yang masuk kedalam kedai itu.

“irasshaimase..” Sapa pelayan perempuan, berbusana yukatta warna krem, sambil sedikit membungkukan badan.

Askha membalas sapaan perempuan pelayan itu dengan seutas senyum dan sedikit menundukan kepala.

Ia pandangi sesaat suasana di dalam kedai kopi langanannya ini, sebuah tempat bernuansa etnik dan dipadukan dengan design interior art deco yang keseluruhan cat nya berwarna putih. Lalu, ia melangkah menuju meja favoritnya, deretan meja paling belakang disisi kanan dari pintu masuk kedai, sebab dari tempatnya duduk ini ia bisa bisa melihat dengan jelas semburat langit senja yang menguning keemasan karena atap yang ada persis diatas kepalanya itu terbuat dari kaca.

Pelayan yang sedari awal menyambut askha tampak berjalan menuju meja nya.

“irrassaimase. Gochuumon wa?” Tanya sang pelayan sambil menyodorkan kertas menu kedai ini.

“Shinguru rongu esupuresso o kudasai.” Ashka memesan ekspreso ukuran besar.

sang pelayan mengangguk paham lalu tampak beranjak menuju meja bar, tempat dimana miunuman biasa dibuat.

dalam duduk ia pandangi langit senja yang mulai menguning keemasan, lembut dan berbinar. Pikirannya seketika terlempar jauh kebelakang, mengingat saat pertama kali ia menginjakan kaki di negeri sakura, yang pada tatap perempuan-perempuannya, sang proklamator pernah terpikat.

Sudah menginjak tahun kelima dia disini, selepas menamatkan beasiswa S2 nya di waseda, ia melanjutkan untuk kerja di salah satu badan riset teknologi di negeri itu. Pikirnya, ia ingin menimba pengalaman sebelum nanti dia kembali pulang ke indonesia dan siap mendedikasikan seluruh keilmuan yang ia dapat untuk memberikan maanfaat bagi negeri tercinta, negeri asalanya, tempat ia lahir dan tumbuh besar.

beberapa waktu yang lalu teman-teman setanah airnya, yang juga satu perkumpulan pelajar di negeri itu sempat mencibirnya. kata mereka, buat apa pulang ke indonesia toh orang-orang seperti kita kurang dihargai disana. Lebih baik tinggal disini, nyaman, hidup terjamin dan sejahtera.

Tapi ia, askha. Pemuda itu tetap pada pendiriannya. Bahwa keyakinan hati yang kuat serta doa yang tulus pasti akan mampu memwujudkan impian terbesar, dihatinya. Yaitu, kelak dengan memberi manfaat sebanyak-banyakya untuk negeri tercinta. Ia tidak peduli dengan bagaimana nanti cara birokrasi akan mempresulit jalan untuk ia bisa mewujudkan mimpinya itu, baginya hidup hanya terlalu singkat bila untuk digunakan mengejar materi semata, sungguh tipikal pemuda yang idealis.

Tanpa sadar, pandangannya yang menengadah keatas itu dikagetkan dengan datangnya sang pelayang sambil membawa nampan berisi minuman yang ia pesan.

“douzo, meshi agatte kudasai..” Ucap sang pelayan begitu meletakan segelas besar ekspreso panas di meja askha.

“arigtou gozaimash..” Balas askha.

Padangannya yang teralihkan seiring dengan warna langit yang mulai gelap. Disesapnya perlahan minuman pesanannya itu, sambil menup-niup pelan asap tipis yang mengepul di bibir gelas yang digenggamnya.

Ia perhatikan suasanan sekeliling kedai yang tampak sepi. Yang ia lihat hanya sepasang suami-istri paruh baya yang duduk saling berhadapan di meja paling depan, Juga dua pelayan perempuan yang ada di sisi pintu kedai lalu sang bartender yang berdiri di sisi belakang meja bar.

Baru saja ia letakan gelas ekspresonya, tetiba terdengar suara samar gemrincing lonceng dari arah pintu masuk, praktis dari posisi mejanya asha bisa lihat jelas seorang yang baru masuk kedalam kedai.

Perempuan berambut pendek sebahu tergerai dengan balutan kaos lengan panjang hitam. Perempuan itu menuju salah satu meja yang hanya terpaut satu meja di depan ashka.

Perempuan itu memposisikan duduk, dan tak berapa lama sang pelayan segera menghampiri tamu yang baru masuk itu dengan kalimat yang persis seperti yang ia ucapkan pada ashka. Dari sini, ashka bisa dengar jelas minuman yang dipesan si perempuan. Secangkir capuchino.

Beberapa menit berlaalu saat ashka sesekali memperhatikan perempuan yang duduk di sebrang mejanya itu menyesap perlahan capuchinonya. Ada getaran yang tidak biasa di dada askha, sebentuk perasaaan aneh yang muncul begitu saja, seperti munculnya hembusan angin.

“aku enggak mungkin pulang segera ke jakarta, ras. Sebelum aku selesaikan semua masalahku disini.” Sebuah percakapan telfon yang terdengar dari bibir tipis perempuan itu, matanya yang bulat sempurna parasnya yang manis, sungguh membuat ashka terpikat. Terlebih, begitu ia dengar jika perempuan itu ternyata berasal dari negara yang sama dengannya.

Ada sebentuk keinginan dihati kesil ashka untuk mendekati meja si perempuan lalu berkenalan, namun rasa kagumnya pada pandangan pertama pada sang perempuaan manis itu entah mengapa membuat nyali ashka ciut, dan ia hanya bisa meperhatikannya dalam diam.

Hampir empat puluh menit berlalu saat ashka melirik angka digital di arloji army yang melingkar di pergelangan tangan kananya. Ekspreso di mejanya pun telah habis, begitu juga dengan capuchino di meja perempuan itu.

Tak lama berselang, sang perempuan beranjak dari duduk menuju meja kasir. Lalu seketika keluar pintu kedai ini, meninggalkan ashka yang masih duduk di tempatnya.

****
sepuluh hari berlalu, seiring sepuluh kali senja yang ia lewati sejak saat itu. Dan sepuluh kali itu pula , saat detik-detik sang mentari turun keperaduannya, ia nikmati senja di kedai ini, berjibaku dengan diamnya memperhatikan perempuan itu, perempuan yang selama sepuluh hari itu mengunjungi kedai yang sama, dengan pesanan yang selalu sama yaitu segelas capuchino panas.

Namun saat hari kesebelas, ashka ditugaskan oleh atasnya untuk dinas ke luar kota yang jarak tempunya dua jam dari tempat ia bekerja, alhasil di hari itu ia tak bisa menikmati senja di kedai kopi langgannya. Dan melihat perempuan capuchino yang mampu memikat hati askha selama sepuluh hari belakangan ini.

Ashka menikmati senja nya di kedai lain, kedai yang ada di sudut kota dimana ia kunjungi. Saat tengah menyesap perlahan ekspreso panas favoritnya, ia lihat sebuah berita di layar TV led empat puluh inchi yang tergantung ditengah tengah kedai, sebuah lintasan berita sekilas peristiwa yang ada di salah satu chanell. Tentang berita kematian seorang perempuan yang tersenyum di sebuah kedai usai menikmati segelas capuchino panas. Diberitakan disana penyebab sementara kematiannya diperkirakan akibat kandungan sianida pada kopi yang diminumnya.

askha yang tampak terkejut, bangkit dari duduk dan berjalan mendekat kearah tv. Untuk memastikan perihal berita yang dilihatnya sore itu.

“dia, perempuan itu.....” Gumamnya dalam hati begitu melihat jelas wajah korban.

“Perempuan Capuchino..” Lanjutnya.

-THE END -



Tante radheka, tolong masukin index yah cerpen gue yang ini emoticon-Embarrassment
matursuwun... emoticon-shakehand emoticon-heart&emoticon-rose :
Diubah oleh blank.code
nitip mod, ini aja dah.
Buat nabung cerpen emoticon-Big Grin

Playboy's Diary : Mantan Pacar Playgirl Terindah - amikurnia - https://kask.us/iAppD


Thanks emoticon-Ngacir
Diubah oleh amikurnia
Tambahiiinnn ceritanyaaa!!
nandain dlu mod emoticon-Cendol Gan
Haaaaaa
tante, tolong masukin index cerpen new realese yang diatas yah..kalo sempet aja. emoticon-Malu (S) emoticon-shakehand

****
nanti diedit post ini, untuk reserved next cerpen. emoticon-linux2 emoticon-Peace
Diubah oleh blank.code
Reserved buat nambahin cerita

Thx.
Halaman 1 dari 2
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di