alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
- Kisah Abadi Yang Terluka (New Version) -
4.65 stars - based on 17 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c85249928c99133e073fa0f/kisah-abadi-yang-terluka-new-version

- Kisah Abadi Yang Terluka (New Version) -

- Kisah Abadi Yang Terluka (New Version) -


# PROLOGUE -

Malam itu, di cirebon. dua hari sebelum akad nikah gue, gue tengah merapihkan barang – barang di kamar , karena rencananya kamar ini akan dijadikan gudang oleh ibu gue. Setelah gue rasa semuanya telah gue pilah dan rapihkan kedalam kardus, gue melirik ke arah laci lemari baju berbahan kayu jati setinggi serastus delapan puluh centi yang ada di sudut kamar gue.  Tetiba Entah kenapa, seperti ada perasaan yang sulit gue jelaskan karena sebagian diri gue sangat tahu apa isi di dalam laci tersebut.

Gue mendekat kearah laci lalu perlahan membukanya. “sreetttt...”

“degh.........” napas gue mendadak sedikit terasa sesak ketika melihat kotak hitam berbahan carton ukuran empat puluh centimeter persegi yang ada di dalamnya.

“hfffhhh........” gue menghela napas panjang, kemudian membuka tutup kotak hitam itu.

Gue tatap lekat isi didalam kotak itu, masih sama seperti beberapa tahun sebelumnya saat pertama kali gue letakan isi di dalamnya. Nampak beberapa lembar kertas serta foto ukuran 4 R disana, perlahan namun pasti gue raih kertas di tumpukan paling atas didalam kotak dengan tangan kanan gue kemudian masih dengan rasa sesak ini gue coba perlahan membaca isi didalam kertas tersebut.

Andai kau tau.
Terlalu sulit ku bangkit dari tempatku berpijak.
Terlalu letih ku merangkak untuk mencari sandaran hati yang tak lagi syahdu.
Kau begitu dalam tertanam dalam bias awan kelabu.
Kau pelita yang cerahkan jiwaku.
Kau yang terlewati diantara waktu.
Namun kini kau hanya debu
dari setumpuk buku-buku usang, yang isinya kisahku dan kisahmu..
Adakah kini dirimu lihatku?
Kau temaram.
Kemudian hilang  terbawa kepakan sayap malaikat.
Kau, aku, dan waktu yang terlewati.

Sebuah deretan kata yang terangkai menjadi sebuah sajak yang ditulis oleh perempuan jauh dari masa lalu gue. Gue lipat lagi kertas itu, menaruh ke posisi semula, lalu menutup kotak hitamnya. Dari kamar gue di lantai dua, gue beranjak turun kebawah, berhenti di dapur yang ada di bawah tangga, mengambil sekotak korek kayu kemudian melanjutkan langkah keluar rumah, menuju sisi kanan depan garasi.

Terdapat tong sampah warna biru tua disana, gue letakan kotak hitam yang gue tenteng kedalamnya.

“Gue yakin, elu lihat gue sekarang. Dan seandainya lu bisa rasain kebahagian gue saat ini, gue harap lu juga bisa bahagia disana. Vi, Mungkin inilah saatnya, saat dimana gue mesti benar benar mengikhlaskan lu dari kedalaman hati gue. Maafin gue vi untuk semuanya, semua yang pernah terjadi antara kita di masa lalu.”

“blebhhh......” suara sembulan api dari kotak hitam yang gue bakar, yang perlahan kepulan asap nya mulai menebal dan meluap keatas langit malam itu.

Tanpa gue sadari, sedikit air mata terasa hangat membasahi kedua pipi gue, air mata yang gue tahan sedari gue baca sajak pemberiannya. Dan seiring asap mulai menipis serta kotak hitamnya menjadi abu saat itu pula waktu seolah memutar ulang jauh kembali ke masa lalu, tepatnya ke tahun 2007, di sebuah kost di jakarta utara, tempat dimana semua cerita ini dimulai.


profile-picture
profesor.id memberi reputasi
Diubah oleh blank.code
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 18
Assalamua’laikum...

Hallo, perkenalkan, Gue Andra. Bukan nama asli sih, melainkan nama pena saat gue pertama kali memutuskan untuk menuliskan curhatan panjang gue di forum ini “SFTH” tempat yang selama ini selalu gue anggap sebagai rumah. Sebab, selama dan sejauh apapun gue pergi gue pasti akan kembali dan menetap disini.

Sedikit menjelaskan, cerita yang akan gue tuliskan ini adalah gubahan dari tiga sessi cerita yang pernah gue tulis yang sempat tercerai berai. Dimulai gue tulis pada bulan mei 2011, kemudia stuck di (Trilogi) nya tahun 2014. Dan sekarang, maret 2019 gue berusaha mengumpulkan kisah yang terpisah itu menjadi satu dengan isi cerita yang masih sama, namun akan banyak tambahan untold story yang belum pernah ada di thread sebelumnya. Tentu juga dengan perapihan tulisan serta gaya bahasa gue dalam menulis.

dan sebelumnya ingin mengucapkan terimakasih pada TS yang pernah me “reborn” kisah gue, yaitu om “maling” dan om “ucln” well, spesial buat om ucln, terimkasih banyak om, tulus dalam hati gue, karena selain me – reborn kisah gue, juga sudah direpotin gue, untuk mengumpulkan dan menyimpan cerita gue kedalam satu folder utuh. Makasih emoticon-shakehand emoticon-Malu (S)

Terakhir, ijinkan gue kembali menuliskan ulang curhatan kisah hidup gue disini, semoga masih ada sedikit hal yang bisa “dicecap” dari kisah ini nantinya, dan selamat membaca untuk kawan kawan reader semuanya.

Regards.

Andra. emoticon-Smilie

emoticon-heartAndemoticon-rose


Quote:


- INDEX -

Spoiler for INDEX KAYT ::



profile-picture
profile-picture
profile-picture
jrangking dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh blank.code
ijin gabung pejwan om..
habis terima chat langsung buka kaskus emoticon-Ngakak (S)
kali ini kudu sampai tamat om ceritanya

*Rate 5 dan Cendol done..
profile-picture
profile-picture
jrangking dan andreeowe memberi reputasi
Diubah oleh ucln
Quote:


sejujurnya, elo orang pertama yg gue kabari saat gue "nulis" lagi disini. emoticon-Ngakak (S)
mengingat. lu termasuk salah satu orang yg berjasa dalam menyimpan dan menjaga curhatan hidup gue ini.emoticon-Embarrassment

sekali lagi, trims ya om emoticon-shakehand
makasih juga udah menyempatkan mampir disini. emoticon-Big Grin

emoticon-heart&emoticon-rose

Diubah oleh blank.code
ane blom pernah baca nih gan. jangan ada yang spoiler ya.
Quote:

Mudah - mudahan sih enggak ada yg spoiler, well mumpung ini pasih di page one, semoga juga bisa jadi Peringatan bagi reader, untuk yang sudah tahu setidaknya keseluruhan cerita untuk nggak SPOILER di thread ini nantinya.

btw, makasih gan udah sempetin nongkrong disini emoticon-Big Grin
yang nyaman ya, sebentar lagi part pertama akan gue post, cukup untuk menutup hari minggu ini.

salam kenal baytheway.. emoticon-shakehand

# Bagian 1-

Awal july 2007...

Malam itu, angin berhembus cukup kencang dan perlahan menerpa badan gue serta rizal dan agung, dua sahabat gue. Dinginnya terasa
bahkan seolah meresap kedalam jaket yang kami pakai. Mereka adalah sahabat gue, sama – sama satu STM, satu jurusan serta satu kelas
yang sama selama tiga tahun bareng gue.

bersama gue, keduanya akan bertolak menuju jakarta guna memenuhi panggilan tes kerja di salah satu perusahan produsen spare part automotive di penjaringan jakarta utara.

“Bro, jam berapa ya sekarang?” tanya gue ke agung dan rizal, saat kami kumpul di teras rumah gue sesaat sebelum bersiap ke jakarta.

“ jam setengah dua belas bro...” jawab mereka serentak.

Gue menganguk.

“yuk cabutlah, biar sampe sana pagi dan nggak telat.” Ujar rizal.

“santai bentar bro, ke bawah jembatan dulu yuk, terus baru cari angkot ke lampu merah graksan, ngetem bus.” Timpal agung.

Gue dan rijal memicingkan alis, tanda kami merasa heran dengan ucapan agung, yang mengajak untuk kumpul sejenak di bawah jembatan tol, yang jaraknya tak jauh dari rumah gue.

“udah nggak usah pada heran gitu ngeliatnya, nanti gue jelasin disana.” Jelas agung yang menangkap isyarat keheranan kami.

Setelah sebelumnya pamit ke kedua ortu gue, serta meninggalkan kedua adik lelaki gue ery dan eza yang sudah terlelap di kamarnya, kami bertiga berjalan dari rumah gue menuju kebawah jembatan tol yang berjarak kurang lebih seratus meter, jembatan yang melintang diatas salah satu ruas jalan tol palimanan – kanci, tempat yang dimaksud agung.

“lu pengin ngapain sih bro, nyuruh kita kumpul disini dulu.” Tanya gue ke agung.

“gini bro, malam ini kan dingin, dan biar badan kita rada angetan, gue udah siapin doping ini.” Kata agung, sambil menunjukan sebotol mi*one dengan isi yang mencurigakan di dalamnya yang ia keluarkan dari ransel abu-abu, ke gue dan rizal.

“apaan itu bro?” tanya rizal.

“jamu bro, biasaa. AO”

“Bangke, lu! Gimana ceritanya besok mau test kerja malem gininya lu minta kita buat nokip.” Sergah gue.

“kalem lah, Cuma dikit untuk bertiga ini mah nggak bakal bikin mabok. Kan gue bilang barusan, untuk jamu sama enakin badan aja.” Timpal agung, sahabat gueyang berwajah oriental, lumayan tampan, kurus, tinggi dan model rambut spike, yang kala itu tengah hits di kalangan remaja di jaman kami.

“hajarlahh... bro..” rizal melanjutkan, sambil nepuk pundak kanan gue.

Begitulah, sedikit kenakalan kami semasa remaja. Yang terkadang melakukan ritual “minum” di saat-saat tertentu, kami bukan alcoholic, dan cukup tau batasan mana yang tidak boleh kami lampaui. Karena terikat secara kebersamaan dan tanda setia kawan, akhirnya gue menyetujui untuk sedikit “minum” jamu tersebut, sebotol dibagi tiga. Dan selesainya minuman kami habis, cukuplah untuk membuat kepala kami terasa ringan dan benar kata si agung, efek hangat seolah terasa mengalir keseluruh badan kami.

Lima belas menit kemudian, kami telah tiba di perempatan kangraksan, tempat perhentian bus sementara yang berangkat dari arah terminal harjamukti cirebon. Semua bus serta elf yang transit sebentar disini beragam tujuan, dari mulai kearah selatan seperti bandung, sumedang, tasik. Juga bus-bus tujuan jakarta serta paling ujung tujuan merak cilegon.

Malam itu kami naik bus Lur*gung ekonomi tanpa AC jurusan cirebon – jakarta pulogadung. Jam setengah enam lewat sepuluh menit pagi, bus yang kami tumpangi tiba di terminal pulogadung, awalnya dari pulogadung kami berencana ingin melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot jurusan akhir jakarta kota lalu lanjut naik kopaja ke arah penjaringan. Namun, karena sisa efek alcohol dan sedikit rasa pusing dikepala , sialnya membuat kami salah naik angkot dan malah nyasar sampai terminal tanjung priok. Beruntungnya, berbekal nomor kontak salah satu alumni sekolah kami yang tak lain kakak kelas gue yang bekerja di perusahaan tempat kami akan test, gue bisa hubungi kakak kelas gue itu dan diarahkan soal transportasi, sampai berhasil tiba di tempat tujuan kami tepat jam tujuh pagi. Sejam sebelum waktu test dimulai.

Senin pagi itu, gue lihat di dalam ruangan dalam pabrik ini yang gue terka ada sekitar dua puluhan orang yang memakai kemeja putih serta bawahan celana bahan hitam yang juga test bareng kami bertiga. Waktu yang bergulir cepat, membawa kami sampai selesai test psikologi, yang pengumumannya diberitahu langsung oleh embak – embak personalia bertubuh mungil dengan rambut hitam panjang sebahu yang dibiarkan tergerai itu.

Alhamdulilah, gue, rizal dan agung lolos test tahap pertama, saat itu juga si embak yang gue lupa namanya itu memberitahu jika test tahap selanjutnya, atau interview user akan dilaksanakan setelah jam istirahat, atau jam satu siang pada hari itu juga.

“oi, kalian nanti kalo misal pas interview yang ngetes nanya yang aneh-aneh, atau tentang kehidupan pribadi gitu, jangan lu bertiga jawab sekenanya. Tapi jawab yang pantas lu jawab. Kalo ada pertanyaan bahkan yang enggak kalian ngerti cukup jawab jujur aja, jangan sok tahu.” Ujar mas iksan, kakak kelas yang gue maksud, memberi kami wejangan, sambil kami menyantap makan siang di warteg terdekat saat jam istirahat.

Kami bertiga menganguk sepakat dan paham dengan maksud penjelasan mas iksan.

Test tahap interview pun tiba, gue mengira kami akan di interview masing-masing bergiliran di ruangan yang sama tempat pertama, namun perkiraan gue salah. Gue, agung, dan rizal di interview dalam waktu yang bersamaan namun di ruangan berbeda dan dengan orang yang berbeda pula.

Singkat nya, interview kami pun selesai. Dan kami diberitahu untuk menunggu satu jam sampai pengumuman akhir. Yang akan diberitahu finnal, dan langsung tanda tangan kontrak hari itu juga.

Pengumuman pun keluar, di sebutkan nama-nama peserta test yang lolos tahap akhir atau interview oleh si mbak mungil, yang sama yang memandu test tahap pertama. Dan saat itu gue merasakan senang dan sedih disaat yang bersamaan, karena mendengar nama gue dan rizal disebut dan lolos sedangkan satu sahabat gue, agung gagal di tahap akhir ini.

“sabar ya bro, mungkin belum rezeki lu. Tenang aja, kita tetep support lu kok apapun pasca gagal ini. Kalo perlu bakal bantu lu juga buat cari info loker yang lain. Okey!” gue berusaha membesarkan hati agung. Beserta rizal, sambil merangkul sahabat kami itu.

Mungkin saat itu gue berpikir, takdir diterimanya gue dan rizal di perusahaan swasta di penjaringan tersebut adalah bagian rencana tuhan dalam meletakan puing-puing keping pudzle yang masih berserakan sebagai analogi titik nadir di hidup gue. Sebuah awal yang kelak akan menuntun gue pada sebuah pencarian jati diri serta jalan hidup yang masih samar, di hari-hari selanjutnya.

Diubah oleh blank.code
semangat bang updatenya
seinget gw udah pernah baca nih dari judulnya tapi udah lupa ceritanya
subscribe done
Weh renew ini ceritanya? Ijin nenda di pejwan om
Kayanya dulu pernah baca tp lupa" inget emoticon-Hammer

Lanjut pak, ijin nenda emoticon-Cendol (S)

Btw kota udang juga nih hehe emoticon-Wink
Quote:
sip. Pantengin aja kelanjutanya gan emoticon-Big Grin makasih udah subsribe juga. Hehe... Salam kenal emoticon-shakehand

Quote:

ya.. Renew biar lebih rapih aja.
Nenda yang nyaman ya. Dan makasih udah sempetin baca. Salam kenal emoticon-shakehand
Quote:

Pantengin aja terus kelanjutannya, biar ga lupa lagi gan emoticon-Stick Out Tongue
Aih.. Cerbon ne ngendi ang?
Salam kenal ya emoticon-shakehand

numpang buka tenda
Quote:


Iya, berhubung lupa jd anggep aja blum pernah baca emoticon-Embarrassment

Di sumber pak, deket kan? emoticon-Big Grin emoticon-Wink salam kenal juga emoticon-Betty
Diubah oleh nthoetz
Pasang ward dulu :nyantai
Numpang dlu di thread baru rasa lawas emoticon-Big Grin
Dlu udh prnh baca tp lupa emoticon-Ngakak (S)

# Bagian 2 -


Sejenak gue pandangi wajah-wajah polos kedua adik lelaki gue yang sedang terlelap dikasurnya, eri dan eza. melihat mereka cukuplah mengobati rasa kangen gue yang tak terasa sudah dua bulan lamanya enggak pulang. karna biasanya menjadi agenda rutin gue minimal tiap bulannya untuk pulkam ke kota kelahiran gue, cirebon satu kota di jawa barat yang kini telah berkembang pesat.

Jam dinding ornamen club liga italia favorit gue dan eri, dengan paduan gradasai warna putih dah hitam diatas kusen pintu kamar mereka nampak menunjukan pukul sebelas malam. gue selesai merapihkan semua baju serta barang bawaan lainnya kedalam ransel warna marroon merk E***R kesayangan gue. tepat tengah malam nanti gue mesti bersiap untuk balik lagi ke jakarta karena esok senin paginya gue harus sudah ada disana dan melakukan rutinitas kerja seperti biasanya, waktu yang bergulir cepat, tanpa terasa membuat gue teringat telah hampir genap setahun bekerja di ibukota

Beberapa menit setelah packing barang bawaan, gue turun ke lantai bawah dari kamar adik gue dilantai dua. dari tangga saat hendak turun gue lihat ayah gue tampak sibuk dengan laporan-laporan pekerjaannya. Ayah gue adalah perawat senior, kala itu ayah ditugaskan di salah satu rumah sakit umum daerah yang ada di daerah kesambi, cirebon.

"lagi ngapain yah?" tanya gue sambil menghampiri beliau di ruang tamu.

"Biasa, rekapan data pasien. " jawabnya sambil jemari beliau mengetikan sesuatu di tuts keyboard serta pandangan mata fokus ke layar laptop.

"Oh...” balas gue singkat.

"kamu udah siap berangkat?" tanya ayah, saat lihat gue baru menuruni tangga dengan ransel kapasitas 40 liter di belakang punggung gue.
"iya, entar lah lima belas menitan lagi yah."

"ya sudah, nanti ayah antar ya ke teminalnya?"

"iya" gue mengangguk.

Setelah kurang lebih lima belas menitan kami ngobrol diruang tamu, ayah gue beranjak masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobil.

"ibu mana yah?" tanya gue dari luar pintu kamar.

"ada tuh, dikamar. udah tidur dari jam sembilan." jawab ayah, lalu tampak keluar dari kamar dan terlihat mengenakan jaket jeans biru muda.

Tak lama seusai mengobrol, lalu gue pun langsung menuju terminal diantar ayah. sepanjang perjalanan dari rumah menuju terminal, gue lihat dari kaca mobil samping kiri gue, sebuah siluet keheningan kota cirebon yang bagi gue seperti gambaran rindu yang menggelayut dan tak ingin berpaling jauh. Sejujurnya bikin gue berat harus meninggalkan kota ini, lagi.

"yah, ini nitip buat ery sama eza" gue masukan amplop putih berisi uang ke kantong depan jaket jeans ayah, begitu mobil x*nia hitam yang kami tumpangi terparkir di pinggir jalan persis sebelum pintu terminal besar harjamukti.

"yasudah, kamu hati-hati ya disana, terus kalo udah nyampe sms ayah ya" sahut beliau.

Dan gue pun membalasnya dengan sebuah anggukan lalu menyalami beliau.

Beberapa menit setelah ayah pergi gue pandangi sekitaran terminal yang terasa sunyi. sesekali gue lirik angka digital di jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan gue. sambil menunggu bus arah jakarta yang keluar terminal, gue mengambil rokok menthol dari saku celana kemudian membakarnya. sensasi asap dan rasa mintnya menambah suasana malam ini semakin dingin, namun seolah menghangatkan badan gue.

Saat tengah bergumul dengan kepulan asap putih dan duduk di trotoar sambil melihat-lihat kearah pintu keluar terminal, tiba-tiba hp gue bergetar, gue lihat nama pemanggil di layar nya, tertulis nama “ my love” sebuh panggilan sayang gw ke Mutiara alinda a.k.a Ara yg tak lain adalah kekasih gue.

"hallo, asallamualaikum." sapa gw begitu menerima panggilan.

"waalaikumsalam., sayang. udah berangkat belum?" tanyanya

"belum, yang. ini aku masih nunggu bus di depan terminal." jawab gue.

"oh, yaudah nanti kalo udah dapet busnya kabarin aku yah?".

"iya, pasti dikabarin kok, kamu belum tidur sayang?" tanya gw.

"ngga bisa tidur, mikirin kamu, masih kangen tau." Jawab dia.

"kenapa dipikirin? Sama, lah. aku juga masih kangen kamu" jawab gue. “waktu cuti sehari tuh kerasa cepet banget kalo udah bareng kamu, sayang.”

"wajar kepikiran, terus kangen kan? ketemu aja sebulan sekali" sahutnya manja.

"iya itu maksudnya, aku juga ngerti dan ngerasain hal yang sama. tapi kita kan udah komitmen, apapun yang terjadi, kita harus bisa ngelewatin dan pertahanin hubungan jarak jauh ini" gue sambil memberi pengertian.

"iya,yaudah. kalo udah nyampe kabarin juga.."

"iya, bawel haha.." canda gue

"ati-ati dijalan sayang, assalamualaikum"

"iya, siap! Kamu juga langsung tidur gih, istirahat. Waa’llaikumsalam." Seraya gue akhiri telfon dan membalas salamnya.

Sambil meerokok, gue coba mengingat kembali saat pertama kali bertemu ara. saat itu gw masih kelas 2 STM sedangkan ara kelas 1 SMA, selisih setahun dengan gue. di sebuah forum pengajianlah kami di pertemukan, lebih tepatnya gue yang udah duluan suka dia dan berusaha pedekate serta masuk dalam sebuah forum kajian yang sama.

awalnya gue merasa minder, secara dari sudut pandang gue, sosok ara terlalu sempurna. walau sebenarnya nggak ada manusia yang sempurna. selain parasnya yg anggun, lembut tutur kata juga kepribadiannya yang taat ibadah, buat gue terkadang merasa nggak pantas bersanding dengan perempuan yang satu ini. namun dari dialah justru gue belajar banyak, belajar memperbaiki diri. sejak mengenalnya gw mulai rajin ibadah, mulai berkaca diri seiring kedekatan hubungan kami.

setelah kurang lebih satu bulan gue dekat dengan ara, berbekal keyakinan, gue memberanikan diri mengungkapkan perasaan sayang dan cinta gue ke dia. gue sangat bersyukur karna cinta gue nggak bertepuk sebelah tangan. ara menerima gue sebagai cowoknya, dan momen tersebut menjadi salah satu momen yang paling membahagiakan buat gue. 16 desember 2006 adalah tanggal dan tahun jadian kami, bahkan tepat di hari ultahnya yang ke-16 tahun.

Seketika lamunan gw tentang ara dibuyarkan oleh bus yg melintas pelan persis di depan mata gue, yang kemudian berusaha gue susul walau dengan sedikit berlari akhirnya gue bisa masuk juga ke dalam bus. nafas gue sedikit tak beraturan. sambil celingak celinguk, gue lihat kursi penumpang kosong, posisinya tepat dibelakang bangku supir. gue pun duduk masih dengan nafas yg terengah-engah namun kali ini sudah agak stabil.

Setelah membayar karcis dg tujuan akhir terminal pulogadung, gue mengeluarkan earphone wrna hitam dari saku kiri celana jeans abu-abu muda yang gue kenakan malam itu, untuk mendengarkan playlist lagu-lagu dari folder mp3 di hp gue. Namu, rasa kantuk yang mulai menggelayuti kedua mata serta ditambah harmonisasi bait lagu “kasih taksampai”nya Padi, mampu melayangkan jiwa gue ke alam mimpi dengan bus yang mulai melaju cukup cepat menuju jakarta.

Tak terasa hampir enam jam sudah gue tertidur pulas, saat terbangun gue lihat seorang wanita rambut cokelat panjang sepunggung dan dikuncir rapih yang gue terka usianya sedikit lebih tua dari gue tengah tertidur pulas persis di bangku sebelah gue. Tak lama sesampainya di terminal pulogadung, wanita tersebut terbangun gara-gara sebuah teriakan.

"pulogadung, pulogadung, minal, minal, minal, terakhir..terakhir.." suara yang asalnya dari kenek bus dengan kalimat “terminal” yang dipercepat tak beraturan sehingga terdengarnya hanya kata “minal” di telinga gue.

"udah nyampe ya?" wanita itu menoleh dan menatap ke gue tiba-tiba.

"iya mbak, udah nyampe pulogadung" jawab gue.

Lalu tanpa membalas omongan gue, dengan raut muka dinginnya wanita itu keluar dari bus, disusul gue yang mengekor dibelakangnya.

"mbak, tunggu mbak?" sahut gue.

Perempuan itu menoleh kearah belakang, menghadap gue.

"ini, tasnya ketinggalan,"tambah gue sambil menyodorkan tasnya.

"makasih.." jawabnya, singkat.

Dia nampak keluar area terminal dengan langkah kaki yang tergesa-gesa meninggalkan gue yg masih berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang juga baru keluar dari pintu bus. Sambil berdiri, gw ngebayangin sosok perempuan itu. parasnya memang manis sih? tapi sayang ketutup ekspresinya yang sedikit jutek dan dingin.

"lah? apaan ini." gumam gue heran begitu melihat sapu tangan warna biru muda yang jatuh tak jauh dari posisi gue berdiri.

Seketika, ambil sapu tangan yang tergeletak itu, yang kemungkinan milik si perempuan jutek dan “dingin” itu. Batin gue.

"ini cewek ceroboh amat ya? tadi tas, sekarang sapu tangan." Gue bergumam sendiri.

Kemudian gue masukan sapu tangannya ke saku kanan sweater hitam gue, sembari membenarkan letak earphone yang nyangkut di kerah.

"Jam 6" gumam gue saat melihat hp.

ah!! gue lupa sms ara, nampak di inbox sudah ada 7 pesan masuk dari ara.

Saat itu juga gue langsung me-reply sms dari ara nanya perihal gue udah sampai tujuan atau belum, semua isi pesan lainnya merupakan kalimat serupa.

"aku, udah nyampe di pulogadung yang, sekarang lagi mau otw ke kostan. maap ya tadi ketiduran di bus, jadi baru sempet bales smsnya.." sms balasan gue kirim.

Satu menit kemudian terlihat satu pesan masuk.

"iya, gak apa- apa. yaudah, take care ya sayang, jangan lupa sarapan kalo mau berangkat kerja" isi balasan sms ara.

"siyap, yang" balas gue singkat.

Setelahnya, gue memasukan kembali hp dan beranjak keluar terminal guna mencari angkot yg ke arah kostan gue di daerah pluit. Sebuah bangunan kost empat lantai yang masing-masing lantainya terdiri dari dua puluh lima kamar. Dari bentuknya, rasanya lebih pas menyerupai semacam rusun. Namun dengan design yang jauh lebih minimalis. Dari tempat itu kelak, kamar nomor 99 semua kisah hidup penuh makna diperantauan gue, dimulai.
Diubah oleh blank.code
Quote:
kayaknya kenal nih. emoticon-Betty (S): emoticon-Big Grin

Quote:
siap om, makasi udah mampir dimari emoticon-shakehand

Quote:
sip,gan.. Makasi udah mampir. emoticon-shakehand
Enjoy reading ya.. emoticon-Smilie

Diubah oleh blank.code
Mantap nih cerita dilanjut,,
Moga kaga kentang yak
mantap nih cerita... kalo disimak melalui gaya bahasanya bakalan jadi legend ini, mudah2an sampe tamat...
Quote:


Ah masasih emoticon-Embarrassment jadi takut ane emoticon-Malu

Edit, G E M B O K emoticon-Cool
Diubah oleh nthoetz
Quote:
sip, akan selalu diusahakan konsisten. emoticon-Big Grin kalo soal kentang nya, nggak janji gan emoticon-Peace

Quote:
Bagi gue, yang legend di hati hanya "kisah 2 kamar" nya -Om anto gan. emoticon-Embarrassment
amiin... gue update rutin insyaallah. btw, makasih udah sempetin mampir disini ya. emoticon-shakehand


Halaman 1 dari 18


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di