CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c811e195cf6c4693b15aef4/la-vie-en-rose

La Vie En Rose

La Vie En Rose

Atau bagaimana mereka, menjalaninya
sementara aku, mempertanyakanya
hidup...
satu kata berjuta interpretasi
Atau bagaimana aku, menyayanginya
sementara dia, memalingkan matanya
puisi...
satu tema tentang rasa yg multidimensi
penyiratan makna yang mengharuskan manusia meraba

Malam selalu membuat terhenyak, bintang yang mengorbit, bulan yg bertukar peran dengan matahari, penonton setia bagi jiwa yang sepi dan kedinginan. Kopi, sahabat pahit dengan keagungan kafein nya. Tak lupa, rokok, salah satu keajaiban di dunia yg acapkali didebat oleh para pemerhati kesehatan. Baiklah, persetan. Terimakasih, cukup sempurna. Tinggal satu lagi, dia.
"Hallo?"
Suara nya menjawab dari ujung telfon.
Ada tenang yang menusuk di dalam perasaan yang tak karuan.
"Hallo? Ini siapa?"
Ini aku
Yang memikirkanmu
Di tiap detik sang waktu
Sudi kah kita saling mengenal?
Kemudian saling bertukar kabar?
Sia-sia, lidahku kelu, saraf ku membeku.
Tuuutt... Handphone nya dimatikan.
4 detik yang berharga. Tidak mengapa. Malam yang cukup baik.
Sampai jumpa di ujung telfon yang lainya

-

Namanya Luna defiana. Gadis pendiam berambut panjang yang disukai banyak orang. Matanya tajam, hidung nya mancung, berbibir tipis, struktur wajah nya judes, dan menambah kesan anggun dan misteriusnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh beariot13
Halaman 1 dari 3

Awal Semula

3 hari kegiatan ospek di kampus baruku tidak membuatku menggebu. Aku lebih memilih berdiam diri di kos. Suatu keputusan yang tidak begitu baik untuk mahasiswa baru. Kegiatan ospek seharusnya menjadi peluang untuk memperkenalkan diri dan mencari teman baru. Tapi yang sering kudengar ospek hanya ajang bagi senior untuk menegaskan senioritasnya. Tidak menarik buatku.
Aku bukan tipe orang yang introvert. Aku cukup terbuka, meski tidak sampai ke level extrovert. Biasa-biasa saja.

Namaku Rama Dihalmahera. Nama pemberian dari pamanku, yg sudah ku anggap seperti Ayah ku sendiri. Pamanku sangat menyukai cerita Ramayana, yang berarti Rama-Ayana (Perjalanan Rama) tokoh suci dalam kitab hindu yg berasal dari bahasa sansekerta. Rama yang bertempur melawan Rahwana demi mendapatkan kekasihnya, Shinta. Sementara Dihalmahera, Paman bercerita sewaktu aku dalam kandungan bulan ke 7, Paman yang saat itu sedang berlibur ke Maluku, tepatnya ke pulau Halmahera, terkagum-kagum dengan pantai dan lautnya.
Saat itu juga Paman langsung menelfon ibuku dan meminta agar ketika aku lahir, aku di beri nama Rama Dihalmahera.
Paman bekerja sebagai diplomat di Kedutaan Besar Indonesia di Paris, Prancis. Sudah 6 tahun aku tidak bertemu denganya.

Semoga Paman selalu di rengkuh kehangatan Tuhan

Kebiasaanku dalam membaca sepertinya sudah melampaui hobi. Buku sudah menjadi semacam zat adiktif di kepalaku. Sehari saja aku tidak membaca, rasanya ada yang terlewat. Aku suka membaca novel, biografi, auto biografi, kumpulan puisi, politik, intelijen,militer, arkeologi, astronomi bahkan 'kitab' bagi orang-orang berhaluan kiri, Das Kapital. Yang jelas, membaca membuat daya imajinasi ku seakan terkonstruksi, hingga menjadi semacam ruang tersendiri.
Sialnya, kebiasaanku membaca seringkali membuatku buta waktu. Tak terasa sudah pukul enam pagi, hari ini aku mulai masuk kuliah untuk mengurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) Matahari mulai meninggi, sinarnya pertanda bangun nya bumi.

Setelah bersiap, aku berkaca, rambutku yg kelewat berantakan, mataku yang merah karena kebanyakan kopi dan kekurangan tidur, membuatku tertawa sendiri. Kantung mataku, Ya Tuhan... Bisa disangka menangis sepanjang malam kalau begini. Sembab.

Masih pagi
Dan dirimu kembali menghadirkan tanda tanya untuk dirimu sendiri
Kaca hanya perantara
Sebab kaca sungkan untuk berdusta
Kamu menatap matamu yg merah
Lama sekali
Seakan waktu hanya dongeng
Embun-embun telah usai, dan perlahan menguap
Kamu menatap matamu yg merah
Mulutmu mulai berucap
"Kenapa aku disini?"
Lirih
"Apa manusia itu bebas?"
Akar akumulasi perih
"Atau, semua hanya lelucon yg Tuhan grand design?"
Kamu menatap matamu yg merah
Tidak
Kamu meratapi hadirmu di bumi

Setibanya di kampus, aku menuju gedung dekanat Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Negeri Samarinda, Kalimantan Timur. Aku sendiri berasal dari Kota Balikpapan, kota kecil yang tenang. Aku mengambil jurusan Hubungan Internasional, aku ingin seperti Pamanku. Menjadi diplomat, menjadi "lidah"," mata",dan "telinga" negara di luar negeri. Baiklah cukup, itu adalah jawaban yang akan ku katakan kalau ada orang yang menanyakan ingin jadi apa aku setelah lulus nanti. Jawaban normatif.
Sejujurnya, aku ingin menjadi novelis, menggoreskan cerita semi-fiktif imajinatif, lalu dikenang sampai nafas terlanjur habis. Aku ingin menjadi homo sapiens yang berpikiran bebas, yang pada akhirnya, aku ingin menemukan jawaban. Definisi absolut dari bahagia.

"Ambil KTM dimana ya, bang?" seorang mahasiswa berkacamata bertanya padaku.

"Aku maba. Ini aku juga mau ambil KTM. Mau bareng?"

Jawabku sambil berjalan pelan.

"Kirain senior hahaha. Jurusan apa?"

"Bukan, HI, aku Rama."

"Lah sama dong. Aku HI juga. Randy syahputra. Panggil aja Randy."

Perkenalan awal ku dengan seorang teman, yang kebetulan satu jurusan. Di sepanjang jalan, Randy terus menceritakan tentang dirinya, bagaimana dia bisa masuk jurusan HI dan apa yg melatar belakanginya. Di lorong gedung, banyak sekali mahasiswa/i yang menegur nya, mereka memberitahu Randy letak ruangan untuk mengambil KTM.
Randy juga mengenalkanku dengan teman-temanya.
Aku tidak begitu hafal nama-namanya. Mengingat wajah serta perawakan lebih mudah ketimbang nama. Selain itu, kondisi gedung yang tumpah ruah seperti di pasar membuat kepalaku sedikit pusing.

"Kok kamu gak ada kenal satupun? Kemarin gak ikut ospek?"
Randy mulai memberondong ku dengan pertanyaan.

"Gak, kemarin lagi gak enak badan."
Aku beralasan.

"Padahal sayang banget gak ikut, kalo kamu ikut, kamu bisa tau solidaritas angkatan itu gimana, bisa kenal temen-temen satu angkatan, bisa kenal sama senior, terus bisa...."

Demi apapun, diam lah ran. Cukup euforia nya.

"Pokoknya sayang banget, deh, kamu gak ikut ospek kemarin."

Di ruang TU, penuh sesak dengan maba. Daripada berjubel, aku memilih duduk di luar sambil merokok. Menunggu agak siangan. Sementara Randy memilih ikut mengantre.

"Rama, hidup itu perjuangan!".

Pekik nya saat aku berjalan pergi meninggalkanya beberapa menit yang lalu.
Ayolah, yang benar saja gumamku dalam hati.

Kunikmati tiap hembusan rokok ku. Aku duduk di depan gedung, nampak beberapa orang juga merokok. Hanya aku yang duduk sendirian. Aku mengawang. Aku melihat langit di siang hari ini begitu tenang. Awan-awan yang bergumpalan. Angin yg berhembus pelan. Dan manusia berlalu lalang.

"Permisi bang, ruang TU dimana, ya?"

Lagi-lagi ada yang memanggilku bang

"Oh, lurus aja mbak, terus belok ke kiri di ruangan paling ujung." Aku menjawab tanpa terlalu menghiraukan.

"Makasih ya, bang."

Aku menoleh ke arahnya dengan maksud membalas ucapanya dengan senyuman. Yang terjadi adalah... Aku gagu

Lagu lifehouse yang berjudul You and me harusnya menjadi latar belakang di moment ini.

Seketika tercipta sedikit narasi di kepalaku.
[I]
Hai, nama kamu siapa?

Aku Rama, Rama Dihalmahera

Matamu

Ada bulan di matamu

Apa aku bisa menjadi Neil Armstrong

Lantas aku menjadi manusia pertama yang mendarat di bulan itu

Di matamu

"Lunaaa!?"

Teriakan dari seorang wanita terdengar dari dalam gedung. Membuat dimensi khayalku yang tak berdurasi kacau saat itu juga.

"Dewiii!"

Kemudian gadis ini pun menghampiri temanya yang tadi kudengar bernama Dewi. Dari belakang terlihat rambut panjang nya terurai gerai.

Luna?

Jadi namanya Luna?

Luna kan artinya bulan?

Baiklah, kebetulan yang sempurna

Aku tersenyum memandanginya dari belakang. Entah pikiran darimana, tiba-tiba aku spontan meneriakinya.

"Lunaaaa!"

"Kita satu angkatan!"

Dia menoleh dan tersenyum. Kemudian pergi bersama temanya menuju ruang TU.

Luna...

Gadis berambut panjang

Yang matanya membawa bulan
profile-picture
echariemas memberi reputasi
Diubah oleh beariot13

Harapan Sederhana

Pukul 11 malam, aku merebahkan diriku sejenak di kasur. Setelah selesai menghabiskan membaca novel Supernova:Partikel karya salah satu novelis kesukaanku, Dee lestari. Aku tidak habis pikir bagaimana Dee bisa melahirkan novel yang sedemikian njlimet dan membuat ku kembali berfikir tentang manusia dan semesta.
Walaupun itu fiksi, tapi tergambar jelas riset yang melelahkan hingga sampai buku itu terbit.
Zarah Amala, tokoh utama yang digambarkan Dee sebagai gadis yang kritis, cerdas, dan independen. Ketika kepalaku mulai mem-visualisasikan seorang Zarah Amala, yang muncul adalah seorang Luna, dengan bulan di matanya, dan dengan rambut panjangnya yang terurai. Padahal dari segi fisik, jelas berbeda. Zarah di gambarkan sebagai gadis keturunan arab sunda. Sementara Luna kupikir berdarah sunda atau manado. Entahlah. Tidak ada relevansi nya. Aku belum mengenal Luna secara langsung.

Sejurus kemudian aku tersentak dan terbangun.
Ada yang salah dengan kepalaku
Bagaimana mungkin aku memikirkan gadis yang tak ku kenal
Aku mencoba membuang jauh pikiranku. Bahkan, kalau perlu kubunuh. Ku buka laptopku, dan mulai mengetik bait puisi.

Dan kau Rama
Yang bila resah seolah seorang pujangga
Merangkai kata diantara 25 dasar abjad
Harum semerbak rindu yang bertuliskan satu nama
L U N A
Bila logika yang menjadi dewa, maka mati lah bulan di matanya
Namun kini, saat kau menuliskan ini
Jangan mengelak kalau kau sedang menjadi pencinta
Kau Rama
Kau tau kalau perasaan itu seperti lumpur hidup
Dimana semakin kau ingin keluar, semakin kau terhisap olehnya
Jangan kau hirup oksigen kalau kau takut terluka
Sebab Rama, kau tau jelas bahwa terkadang hidup adalah tentang kecewa

Aku benci jatuh cinta.
Logika seringkali dipermainkan bila perasaan yang mengambil alih otoritas dirimu.

Luna
Luna
Luna

Tak sadar aku merenung cukup lama. Segera ku hela nafas panjang, lalu pergi ke depan pintu kos ku. Kos ku masih sangat sepi penghuni nya. Kos baru berlantai dua yang di depan nya terdapat kebun yang cukup luas. Berhubung kamar ku berada di atas, maka bintang terlihat jelas. Hening sekali. Kopi yang baru saja ku buat ku minum dengan nikmat.
huuuhhh
Asap dari rokok ku melayang bebas. Sementara nikotin nya menghendap di paru-paruku. Menunggu waktu, untuk suatu saat membunuh ragaku.

Dulu sekali, aku pernah berpikir. Kenapa Tuhan menciptakan perasaan? Khususnya perasaan Adam kepada Hawa, maksudku, rasa cinta.
Dalam literatur beberapa agama, dikisahkan bila Adam dulu kesepian saat sendirian di surga. Bisa kau bayangkan? Disurga pun, tempat segala kenikmatan berada, tetap akan hampa tanpa wanita. Lalu Hawa tercipta, yang seketika memberikan rasa teduh di dadanya. Wanita juga bisa membuat laki-laki tak berdaya, Adam memakan buah pengetahuan saat Hawa merayunya. Adam tak tergoda oleh iblis, tapi ia menuruti belahan jiwanya.
Saat Tuhan murka, mereka dimarjinalkan ke bumi. Terpisah 300 tahun lamanya, lalu dipersatukan kembali. Adam kembali memeluk tulang rusuk nya sendiri.
Itulah mereka, cinta pertama yang di lukis Tuhan, dan diabadikan semesta.
Luna
Apa kau dari tulang rusuku?

Telfon dari aplikasi social media masuk menelfonku.
Gladis Veronica
Namanya membuat ku mengerenyutkan dahi.
Buat apa dia nelfon?
Tak kuangkat telfon darinya. Langsung kumatikan hanphone ku saat itu juga.
Aku malas bernostalgia dengan luka-luka yang lama.
Biarlah sekarang, harapan ku sederhana. Esok, melihat Luna.
profile-picture
echariemas memberi reputasi
Diubah oleh beariot13

Irish - Goo Goo Dolls

"Ada yang bisa sebutkan nama Presiden Amerika Serikat yang pertama?"

Seisi kelas tak bersuara, ada yang seolah-olah berfikir, ada yang pura-pura mencatat, ada yang berusaha searching di hanphone nya tapi ditegur duluan oleh dosen.

Jadi benar-benar tidak ada yang tau?

Kalau aku mengangkat tanganku, bagaimana persepsi mereka?

Dicap sok pintar, atau dikira pintar?

"Goerge Washington, bu."

"Iya tepat sekali. Nama kamu siapa?"

"Rama Dihalmahera, bu."

Semua mata kini tertuju padaku. Entah apa yang mereka pikiran, tapi pertanyaan barusan memang terlalu familiar sebenarnya.

"Rama, kita harus sharing."

"Soal apa?"

Sudah seminggu kehidupan perkuliahan ku berjalan. Flat. Tidak ada yang menarik. Kecuali satu. Luna.
Sudah banyak waktu yang kurelakan untuk tak langsung pulang ke kos demi bisa melihat Luna, dan sialnya, belum sekalipun aku melihatnya. Bahkan setiap selesai kelas, aku selalu mengiyakan ajakan Randy untuk ngopi di kantin kampus bersama teman kelas yang lain. Seperti halnya sekarang ini.

"Rama? Kamu cari siapa sih? Daritadi clingak-clinguk mulu."

"Eh kenapa tadi Ran? Gak, cewek disini cakep-cakep, ya."

Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Soal cewek ntar aja lah, yang penting, dari sekarang kita harus sering-sering diskusi. Kamu kan punya pengetahuan yang luas."

"Hah? Gak lah Ran, tadi cuma kebetulan pernah denger aja soal Goerge Washington."

"Jangan merendah buat meroket."
Ikmal temen kelasku nyeletuk.

"Udah sore, nih. Yuk balik." Setelah menyanggupi permintaan Randy, aku berinisiatif mengajak untuk bubaran.

Aku berjalan dengan lesu menuju parkiran. Suasana sore ini padahal sangat meneduhkan. Namun, tetap tak merubah perasaan ku yang kecewa karna mengharapkan pertemuan.
Di atas motor, aku membakar sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam, agar kandungan kimia nya bisa cepat sampai ke otak dan membuat pikiranku agak tenang. Kupasang headset di telingaku dan memilih lagu apa yang akan kudengarkan di jalan pulang.
Memilih lagu yang akan ku putar adalah salah satu hal sulit untuk dilakukan. Butuh lagu yang sesuai dengan apa yang dirasakan. Bukankah begitu? Lagu adalah gambaran dari rasa yang kadang susah untuk dijabarkan.
Butuh waktu sekitar kurang dari 5 menit untuk menyelesaikan hal sederhana ini.

Hoobastank - The Reason

Ku rapihkan rambut berantakan ku saat akan memakai helm. Aku tertegun saat berkaca di spion. Kulihat ada dua orang cewek duduk di bangku depan gedung teori di area parkiran. Seseorang gadis berjilbab dan seorang gadis dengan rambut yang terurai.

Luna

Jantungku mulai berdegup.
Ia terlihat cantik dengan baju dan celana berwarna hitam, selaras dengan rambut nya, dan kontras dengan kulit putihnya.
Kuamati dia dari parkiran, dia sedang mengobrol dengan teman nya yang entah siapa.
Akhirnya, aku melihat nya lagi, dan sekarang apa?
Apa yang harus kulakukan?
Sial, kenapa aku gugup seperti ini?
Baiklah tenang, aku harus membuat keputusan
Aku akan menghampirinya

Kukumpulkan segenap keberanianku, adrenalinku mulai meninggi, kubuang rokok ku yang belum sampai habis ku hisap, jantungku bertabuh bak genderang perang.
Aku terus berjalan dengan gesture tubuh seseorang yang seakan akan menuju ke medan perang.
Take it easy, Rama, take it easy
Tubuh ku semakin banyak memproduksi keringat.
Kenapa jarak nya terasa jauh sekali?
Langkahku terhenti di jarak sekitar 10 meter dari tempat Luna duduk bersama temanya.
Luna dan teman nya melihat tepat dimana sekarang aku berdiri. Mereka terlihat heran melihatku yang mematung di depan mereka.
Hei logika, selamatkan aku. Pengalaman adalah guru terbaik. Dan sejauh ini, aku akui, aku takut. Takut kalau aku akan menjadi korban dari perasaanku sendiri, lagi.
Kutinggalkan Luna, aku kembali ke motorku, membakar sebatang rokok lagi, memasang headset, entah kenapa, lagu yang ku putar adalah Iris - Goo Goo Dolls.

Setiba di kos, aku langsung menjatuhkan diriku ke kasur.
Tak lama, aku tertidur.

---

Di malam yang belum terlalu malam. Dua anak manusia membentuk lingkar rasa yang tak bermuara. Dialog mereka, sederhana menyimpulkan cinta. Setidaknya, untuk sementara.

"Rama?"

"Ya?"

"Cinta itu gak pernah salah. Dan waktu gak berlaku atas cinta. Manusia yang bodoh.."

"Jadi aku bodoh?"

"Kita, Rama. Kita yang bodoh."

"Hahaha retorika yang bagus."

"Maaf Rama."

"Udah, gapapa."

"Mata kamu bohong Rama..."

Sebagaimana bintang utara
Dia kan terus merekah
Saksikan jiwanya

Sebagaimana kita harusnya
Menjauh sejauh-jauhnya

Kelak kau kan termenung
profile-picture
echariemas memberi reputasi
Diubah oleh beariot13

Mendebat Diri Sendiri

Aku terbangun pada jam 10 malam. Pola tidur ku benar-benar kacau, pola hidup tepatnya dan semua sudah berlangsung semenjak aku SMA.

Masih dengan memakai pakaian yang kupakai di kampus tadi, badan ku terasa cukup gerah.
Setelah mandi aku mengechek hanphone.
Hanya ada satu notif masuk ke wa ku, pesan dari Randy yang mengajak ku ngopi di angkringan. Dan satu panggilan tak terjawab dari Gladis Veronica.

Di tepi kasur, aku menghampa. Melamuni cerita-cerita yang dulu pernah terjadi, rasa perih, rasa perih memang akan sembuh seiring waktu bergulir. Teori nya begitu.
Namun, luka tetaplah luka, membekas sisakan ketakutan mengulangi hal serupa.
Seandainya saja, dulu aku bisa mencintai dengan sewajarnya, mungkin aku akan lebih berani dengan perasaanku sendiri. Ya, mungkin begitu. Entahlah

Derai kisah tentang nya
Yang dulu menghendapkan kesendirian
Kini tinggal kanvas tanpa bunga

Satu hal yang aku tau, hidup memang penuh dengan berbagai kejutan. Kau tak kan pernah tau, akan bagaimana perasaan mu esok hari. Kau tak kan pernah tau, akan jatuh kemana cinta mu. Ya, kadang cinta memang tak perlu rencana. Seperti hal nya aku, yang memikirkanya. Purnama. Bulan di mata Luna purnama.
Kaki ku terhenti, bukan karna aku ragu. Aku takut. Aku sangat takut.


Bagaimana jika saja tadi sore aku menghampirinya?
Apa itu artinya aku melegitimasi perasaanku padanya?


Kau naif


Dan setelah itu aku akan mati-matian memperjuangkanya, bukan?


Begitulah


Dan setelah itu.... Lahirlah luka baru. Seperti yang sudah-sudah?!


Itu adalah konsekuensi. Grow up!


Tapi, hidup memang menciptakan perspektif. Lalu menjadi sebuah acuan dalam pengambilan keputusan.


Kalau begitu, matilah saja!


Aku ingin pergi dari dunia ini atas keteraturan semesta. Bukan dengan melumuri tanganku dengan darahku sendiri!


Jangan mengatasnamakan perasaan untuk mentasbihkan ketiadaan


Aku tidak akan pernah lupa tentang hari itu, dimana aku menangis kepada Tuhan di teras rumah, 13 tahun yang lalu! Semua seperti semacam ketakutan yang menumpuk. Akar akumulasi perih.


Just keep breathing, ok?


Kalau hanya sekedar bertahan, aku tidak akan pernah benar-benar 'hidup'!

"Demi Tuhan, Rama! Berhentilah berdebat dengan kepalamu sendiri!".

Aku menjambak rambut ku.
Muak!
Dan untuk memperlancar sirkulasi darah. Berharap kepalaku tidak malah pusing.

'Tok tok tok'
"Rama? Rama?"

Ku usap mataku dan kurapikan rambutku. Aku tidak mau terlihat dan dikira seperti orang yang sedang depresi.
Pasti Randy, nih

"Yoo, bentar."

Aku bergegas membuka pintu sambil terus merapikan rambutku.

"Ayo ngopi!"
Randy setengah berteriak.

"Gak usah nge-gas gitu, juga, Ran."
Randy memang anak yang terlampau semangat, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya dilakukan dengan santai.

"Ntar aku nyusul ,deh."

"Alah alesan, ayok." Sambil menarik-narik tanganku.

"Iyaudah, ayok, ntar aku pake jaket dulu."


Kau menang ,Ran

--

"Ini nama nya caffe, bukan angkringan."

"Ini namanya caffe, tapi harga angkringan."
Randy memberikan pengertian, yang sebenernya adalah pembelaan.

"Halah."
Jawabku ketus.

Suasana 'angkringan' terlihat cukup ramai, yang kutebak mayoritas adalah mahasiswa/i satu kampus dari berbagai macam jurusan dan fakultas, karna lokasi nya yang tak begitu jauh dari kampus.

"Kamu cari tempat, deh, Ram. Biar aku yang pesen, kamu pesen apa?"

"Kopi hitam aja."

Aku memilih meja paling pojok di sebelah kanan, yang agak sepi. Di tengah dan di depan terlalu ramai.

"Oke sekarang ajarin aku."
Decit suara kursi terdengar saat Randy duduk.

"Yaelah ngobrol santai aja lah. Lagi males bahas yang berat-berat."

"Tuh, kan. Kalo punya ilmu itu mesti di bagi."

Menghela nafas

"Oke. Oke. Yang pertama, jangan ada istilah 'ngajarin' dan 'diajarin'. Karna itu klasifikasi. Kamu musti sadar, kita ini setara. I mean sama-sama lagi belajar, cuman mungkin aku kebetulan tau yang kamu gak tau, begitu pun sebaliknya. Got it?"
Dengan mimik muka serius, aku menawarkan semacam MoU.

Jujur saja, aku selalu teringat akan apa yang dikatakan Soe Hok Gie, aktivis dan tokoh yang mengkritik Pemerintahan Soekarno dulu.
Dia bilang, "Guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau." Karna itu aku tak mau jika Randy menganggapku sebagai 'guru', atau yang lebih parah, dianggap 'menggurui'.

"Terus apa?" Ia mengerenyutkan dahi, dan sedikit membenarkan posisi duduknya.

"Anggap aja kita lagi diskusi, sharing, dialog kopi, ngalor ngidul,atau apa lah terserah."
Kubakar sebatang rokok dan menawarkan nya kepada Randy.

"Oke, paham!"
Jawab Randy seraya mengangguk dan ikut menyalakan rokok.

"Jadi, kita mulai dari jurusan yang kita ambil, International Relation, emm.... Kamu harus tau dulu, perbedaan Diplomat dan diplomasi."

Randy terlihat serius menyimak.

"Diplomasi itu sendiri, sepengetahuanku, adalah negosiasi atau loby-loby yang dilakukan State to State, Negara antar Negara. Sederhananya, menjalin komunikasi, itu generalnya ya, maksudku, umumnya. Tapi sebenarnya, konteks diplomasi itu terbagi ke 3 cabang. State to State, Business to business, dan People to people.

Ku jeda sejenak untuk menghisap rokok, begitupun Randy yang tak bergeming dan terus menyimak.

" Sedangkan Diplomat, adalah orang-orang yang melakukan kegiatan diplomasi. I tell you something, Ran. Kamu punya akun social media, kan?"

"Punya!"

"Selow, jangan pake tanda seru."

"Punya."
Randy memelankan volume suaranya.

"Nah, kamu punya gak temen di socmed yang dari luar negeri?"

"Ada, namanya Chloe Moretz, orang Amerika, ya, gak akrab banget sih, cuman waktu itu aku pernah bilang ke dia, kalo aku dari Indonesia, dan ngucapin salam kenal aja, sih."

"It's ok, Ran. That's a good thing. Persetan soal intensitas nya, yang jelas, karena kamu sudah melakukan komunikasi ke dia? Itu berarti secara langsung atau tidak langsung, kamu udah jadi 'Diplomat'. Karena kamu adalah representasi dari Negaramu, begitupun dia."

Ku minum kopi ku yang baru saja sampai di mejaku.

"Congratulations, ya!"

Randy terperangah dengan rawut wajah yang entah bagaimana mendeskripsikannya. Entah takjub atau senang.

"Yee malah diem. Napa lu? "

"Gila, gila, gila, gila, kok kamu bisa tau yang begituan?"
Dengan menggelengkan kepala.

"Ran. Buku itu jendela dunia."
Dan mata Luna, jendela bagi semesta

--

Pagi ini, gerimis, para mahasiswa/i banyak yang memakai jaket, pun aku yang memakai jeans hitam melapisi kaos ku berwarna putih.
Terlihat pula beberapa orang berlari kecil meminimalisir terkena gerimis saat menuju gedung teori.

Di kelas, teman-teman yang cowok ada yang duduk-duduk di depan kelas, merokok sembari menunggu dosen datang. Sementara yang lain bercerita di dalam kelas. Hanya ada 2 orang cewek yang ikut nongkrong diluar, bercerita soal kampus.
Aku sendiri ikut merokok diluar, tapi tidak ikut bercerita, ya, mungkin posisiku lebih mirip seperti simpatisan pasif diantara yang lain.

"Rama, kamu lagi baca apa?"

Zifa, cewek berjilbab yang menurutku memiliki pembawaan yang cukup supel bertanya sambil memegang buku ku.

"Oh, ini, kumpulan sajak nya Sapardi Djoko Damono, Hujan bulan Juni." jawabku.

"Loh, kamu suka puisi, juga?".

Tanya Zifa dengan artikulasi yang cepat.

"Ya, lumayan."

Kau bercanda? Aku mencintai nya!

"Aku suka puisi nya--"

Kata-kata Zifa terputus dikarenakan teman-teman mendadak heboh dan mengerumuni Angga. Zifa pun ikut nimbrung, sementara aku melanjutkan membaca, walaupun aku juga mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Coba liat? .... Cantik banget, sih, ini. Jurusan apa?"

"Luna Defiana, ini maba? (Mahasiswa Baru)? Kok, gak pernah liat, ya?".

Luna?!

Setiap mendengar namanya, darah ku seperti nya mendesir dengan cepat, dan semakin memompa jantungku hingga berdegup dengan tidak normal.

"Dia maba juga, kok. Tapi kemarin dia bilang dia gak ikut ospek. Dia jurusan Ilmu Komunikasi, sebenernya dia mau ambil jurusan Ilmu Pemerintahan, tapi keterima nya di Komunikasi."

Angga menjawab pertanyaan anak-anak seolah-olah mengenal Luna dengan baik.

Angga tidak mungkin, pacarnya Luna, kan?

Tidak mungkin

"Tau darimana kamu, Ngga? Dia kayaknya bukan anak Samarinda, deh."

Sergah Randy

"Aku chatingan sama dia. Ya, lagi pdkt gitu, lah. Iya, dia dari kota nya si Rama, Balikpapan."

Angga menjawab dengan percaya diri, dan meliriku saat menyebutkan kota Balikpapan.

PDKT kau bilang?!

Luna juga dari Balikpapan?

Darahku semakin mendesir. Aku cemburu.

Gila

Kau siapa, Rama? Menghampirinya saja membuatmu mendebat isi kepalamu

"Luna, temen kamu, Rama?".

Randy bertanya dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya.

Iya, aku nyaris mengajaknya berkenalan

" Gak kenal."

Jawabku ketus.

"Tapi cewek cantik begitu, pasti banyak sih, yang ngedeketin, apalagi senior."

Wahyu yang dari tadi diam tiba-tiba menyuarakan pendapatnya. Atau, mungkin fakta.

"Bodo amat, yang penting chat ku di balas."

Baiklah, cukup, aku akan menembak kepala Angga

5 menit kemudian, dosen datang.

Di dalam kelas, aku berpindah duduk di sebelah Zifa.
Aku ingin bertanya seputar Luna.

"Zif, tadi Angga kasih liat Luna ke anak-anak di aplikasi, apa?"

Aku bertanya dengan setengah membisik.

Aku mempunyai aplikasi social media yang populer di kalangan generasi saat ini, seperti WA , Line, Instagram, dan twitter. Tapi aku pengguna yang pasif.

"Instagram, kenapa? Kamu juga suka sama Luna? Berat Rama, banyak siangan kalo ngedeketin cewek cantik kayak Luna. Bibir nya itu, lho, sexy, tipis. Pengen banget aku sebagai cewek punya bibir setipis itu."

Dengan setengah berbisik juga, Zifa menjawab.

Aku hanya tersenyum kecut, saat mendengar apa yang dikatakan Zifa.

Ya, Zifa benar. Berat. Terlebih aku belum satu suara dengan diriku sendiri, tentang perasaan ku ke Luna
profile-picture
profile-picture
andrian0509 dan echariemas memberi reputasi

Buku Yang Tersesat

Setiap orang memiliki cara nya sendiri untuk menghadapi kerisauan di hati nya.
Mungkin sebagian orang akan 'pergi' ke musik. Aku termasuk salah satu dari sebagian orang itu. Tapi, aku lebih suka melakukanya dengan berkeliling kota menggunakan motor matic ku di waktu sore menjelang petang. Melihat kendaraan hilir mudik. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu menikmati tiap kilometernya. Yang pertama, jalanan di Samarinda cukup macet di titik-titik tertentu, mungkin dikarenakan Kota ini adalah Kota terpadat di Provinsi, lain hal nya dengan Balikpapan yang hanya berpenghuni sekitar 700.000-an orang. Yang kedua, mungkin aku hanya belum terbiasa. Yang ketiga, baiklah aku belum hafal jalan-jalan di sini. Aku tidak perlu takut tersesat, aku ingat pesan Randy.


'Kalau kamu tersesat? Cari aja sungai Mahakam.'


Ya, cari saja Sungai Mahakam, sungai terbesar di Indonesia. Maka Tuhan akan membimbingmu kembali ke jalur yang benar.
Karna sungai mahakam berada tepat di jantung kota dan memisahkan antara Samarinda perkotaan dan Samarinda sebrang.
Aku berhenti di warung pinggir jalan disepanjang tepi sungai Mahakam. Orang-orang menyebutnya tepian, tempat yang selalu ramai dikunjungi orang sembari menikmati tenang nya sungai.
Di saat begini, aku tidak terlalu memusingkan pilihan lagu, aku menyerahkan semuanya pada mekanisme acak dari mp3 player di hp ku. Aku ingin semuanya random, tidak terkonsep, dan menggelinding liar.

Diantara imaji yang seringkali ku kedepankan, perasaan kerap menjadi kuda hitam yang melesat seperti peluru, menghujam kejam ke dalam sanubari ku.
Sebelumnya, sudah kukubur, namun kini ia reinkarnasi. Menjadi seorang gadis berambut panjang yang bahkan hanya kutau namanya saja.
Aku akan coba memaklumi, setidaknya, untuk kali ini.
Lagipula, aku manusia. Laki-laki mana yang tidak jatuh cinta dengannya?!
Tapi, apa mereka bisa melihat bulan purnama di matamu, Luna?
Aku rasa, mereka tak kan bisa.

Dering handphone ku berbunyi, saku celana jeans ku cukup sempit, sehingga agak sulit mengeluarkanya.

Paman Tom

"Hallo, Paman?!"
Tak bisa ku sembunyikan raut bahagiaku.

"Hallo, Rama, gimana kabarmu?"
Suara berat Paman membuatnya berwibawa

"Baik, Paman Tom, Paman apa kabar? Paman masih dinas di Paris?"

"Sudah 3 tahun Paman pindah tugas ke Belgia. Sekarang Paman di tarik ke Jakarta, Paman sekarang jadi pengajar di Sekdilu (Sekolah Dinas Luar Negeri)."

Senyum ku merekah saat mendengar Paman kembali ke Indonesia.
"Wah itu kabar baik, Paman Tom. Kapan Paman ke Balikpapan?"

"Ya, nanti Paman kabarin kamu. Kamu tunggu saja, ya?"

"Iya, Paman."

"Gimana kabar, Ibu mu?"

"Baik-baik aja, Paman."

"Ya, syukurlah."

"Rama? Na het afstuderen moet je de broederschap aangaan. Regeneratie voor loji Jakarta [1]."

Aku terdiam cukup lama. Tak ada kata iya atau tidak yang keluar dari mulutku.

"Jaga dirimu baik-baik."
Paman Tom mematikan telfon.

Seperti biasa, nikotin memeluku.

Aku terlalu muda untuk menjadi 'tukang batu', paman

I need coffe

"Ini, mas, kopi nya."
Kata penjual warung.

--

Hari ini, setelah selesai kuliah aku menuju perpustakan daerah. Meskipun masih banyak buku pribadi ku yang belum sempat aku sentuh, tapi sepertinya aku perlu pergi ke luar, mengencani buku-buku di rak yang lain.

Aku mengajak Randy, dan kebetulan dia juga mau ke perpustakaan daerah bersama teman-teman yang lain. Teman kelas sebelah katanya, HI B.

"Aku duluan aja, deh, ya?"

Sambil memutar-mutar gantungan kunci motor.

"Yaudah, ntar aku sama yang lain nyusul."

"Emang kalian mau ngapain, sih? Pake berjamaah segala perginya?"
Kadang aku memang menyebalkan.

"Kita mau diskusi kecil-kecilan, Ram. Ntar kamu ikutan ya?!"

"Lain kali aja Ran. Aku lagi mau *quality time* sama buku-buku asing yang belum pernah aku kenal."

"Tuhkaaannn begituuu."
Dengan intonasi yang terkesan menyindir.

"Iyadeh, iya, ntar aku gabung. Yaudah aku duluan."

"Oke!"
Sahut nya dengan semangat.

--

Gedung perpustakan daerah (Pusda) di Samarinda cukup besar, sama seperti Pusda di Balikpapan. Gedung berlantai 3 di sebelah jalan layang.
Buku-buku berjejer rapi sesuai kategori masing-masing.
Cukup ramai, banyak Mahasiswa dan siswa/i sekolah. Sebagian ada yang membentuk kelompok di meja-meja yang telah disediakan, sebagian ada yang menyendiri, sebagian ada yang mondar-mandir mencari buku yang ingin dibacanya.

Jika telah disuguhkan banyak pilihan, dalam banyak hal, manusia akan cenderung bingung memutuskan.

Baca apa ya

Kuputari rak per rak, dari mulai kategori sastra, politik, sampai dengan resep makanan.

Belum nemu yang cantik

Di rak kategori ekonomi, aku menemukan satu buku yang sepertinya sedang tersesat. Hal yang lumrah ditemui saat di perpustakaan. Tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Dari cover dan judulnya, sepertinya rumah nya di rak sastra.

Pelita yang Tak Kunjung Padam

Judul yang cantik. Kamu sedang tersesat ya? Baiklah, kita harus berkenalan, sebelum ku antar pulang kau ke rak mu

Meja yang sepi selalu berada di pojokan.
Kutarik pelan-pelan kursi nya agar tidak mengganggu pengunjung yang lain.

Sampai di bab ke 7, pesan WA dari Randy masuk.

'Rama, kita gak jadi ke Pusda. Sekarang aku lagi di McD sama yang lain. Ntar kesini aja.'

Oke. Kalo sempet nyusul

Balasku datar.

Kulihat jam di tangan kananku telah menunjukan pukul 3 tepat, suara dari speaker memberitahukan bahwa perpus akan tutup.

Sekarang, kamu sudah di rak mu, bersama teman-teman mu yang lain. Nanti aku akan meminjam mu, membawamu pulang, intim di sunyi nya kamar ku

Pengunjung yang lain juga mulai meninggalkan ruangan. Saat melewati meja pelayanan perpus, terlihat seorang gadis berambut panjang agak kepirangan memakai jaket hijau seperti sedang tawar menawar dengan petugas perpus.

"Yah, Pak, masa gak bisa, sih? Baru juga lewat 10 menit? Tolong Pak, saya cari buku ini udah lama, dan baru ketemu nya disini."
Suaranya terdengar agak serak.

"Maaf mbak, peraturan nya memang seperti itu. Jam peminjaman buku sudah habis terhitung 20 menit sebelum perpus tutup."
Petugas yang masih tampak muda itu mencoba memberikan penjelasan.

"Yah, Pak. Tolong Pak, besok saya langsung kembalikan. Malam ini pasti saya sudah selesai baca nya."

"Maaf mbak, gakbisa. Kalau mau, besok mbak kesini aja lagi."
Jawab petugas muda itu dengan tersenyum.

"Iya, deh, Pak. Terimakasih."
Rawut kecewa tergambar jelas di wajahnya.

Saat ia hendak pergi dan mengembalikan buku dengan berat hati, aku melihat buku yang hendak ia pinjam, yang ternyata adalah buku Chairil Anwar yang berjudul Aku karya Tsumandjaya.

He's never die, right? Dasar Binatang Jalang, di abad 21 ini, jejak mu masih berteriak lantang

Dia berjalan tepat di belakangku, saat kami menuruni tangga menuju lantai dasar. Sepertinya dia ingin sekali menyelesaikan membaca itu, sampai-sampai ia berusaha me-loby petugas.

Baiklah

"Emm... Hai?"
Aku berhenti dan menoleh kebelakang.

"Iya?"
Wajahnya kebingungan.

"Gini, tadi aku liat kamu mau minjem buku Aku, Chairil Anwar, tapi kayaknya waktu peminjaman udah habis."

"Terus?"
Masih dengan raut bingung.

"Emm... Kalo kamu mau, kamu bisa pinjam buku ku."

Ia tertegun, ada orang asing yang tiba-tiba saja menawarkan untuk meminjamkan buku nya.

"Aku gak ada maksud apa-apa, kok. Cuman buku itu emang legendaris banget, dan kamu kayaknya lagi butuh banget sama buku itu."

Ia masih berdiri dan tak sepatah kata pun terucap.

Aku malah terlihat seperti penodong

"Sorry, lupain aja."

Aku berbalik badan dan berjalan dengan agak cepat. Kepalaku memang kadang kontradiksi dengan sekitar. Bisa disangka modus kalau begini. Aku akui dia manis, tapi aku hanya ingin membantu. Barangkali takjub nya dia dengan karya Chairil antiklimaks gara-gara peraturan perpus?

"Tunggu!"
Setengah berteriak dengan suara serak.

"Iya?"
Langkahku terhenti dan berbalik badan.

"Ehem ehem, nama kamu siapa?"
Menghampiri seraya mengulurkan tangan.

"Rama, Rama Dihalmahera, kamu lagi sakit ya?".

"Khirana, Khirana Sandhya. Iya, lagi radang tenggorokan."

Kami berbicara sambil berjalan menuruni tangga.

"Khirana Sandhya? Itu dari bahasa sansekerta, ya?"

"Iya, artinya matahari yang terbenam, senja. Kok kamu tau?"

"Ya gak tau artinya kalo gak kamu kasih tau barusan, cuman bahasa Sansekerta itu emang khas banget. Oiya, kamu kuliah atau gimana?"

"Kuliah di Universitas Negeri Samarinda, jurusan Manajemen."

"Satu kampus dong. Aku jurusan Hubungan Internasional."

"Itu FISIP kan? Gak terlalu jauh fakultas kita."
Dengan tersenyum.

Di parkiran perpus, karna kami terlalu asik mengobrol, tak sadar aku mengikuti nya sampai ke tempat motor nya terparkir.

"Kamu mau baca buku "Aku", bukan karna film AADC yang pertama, kan?"

"Hahaha kamu pikir aku se-klise itu? Aku udah baca buku itu dari SMP, aku suka sama keberanian Chairil, bengal nya terlihat dari sajak-sajak nya. Aku juga suka Hapsah, sama wanita misterius, Ida Nasution. Tapi beberapa kali buku aku dipinjem dan gak balik-balik. Tadi siang aku cari di toko buku gak ada."

Ia terlihat semakin manis saat tertawa, gingsul nya terlihat pas dan membuat orang-orang pasti sepakat dengan ku

"Well, aku pikir kamu melewatkan wanita magis bagi Chairil, Dien Tamaela."

"Aku gakbisa berkata-kata soal dia. Dia itu Dewi..."

"Yang dijaga Datuk-datuk."
Aku memotong kalimatnya.

Kami diam beberapa detik. Entah kenapa. Mungkin karna hawa magis Dien Tamaela.

"Soal buku nya Chairil beneran gakpapa, nih aku pinjem?"

"Iya, gakpapa. Ini buku nya."
Mengeluarkan buku dari tas ransel.

"Oh kamu bawa buku nya?"

"Gaktau, ngikut mulu tuh, buku. Tiap mau aku taroh di meja, kalo gak lupa tiba-tiba aja mager."

"Hahaha dia sayang banget sama kamu. Buku juga punya jiwa, loh."

"Ohya? Jiwa? Maksudnya?"

"Iya, sama seperti musik, gambar, puisi atau yang lain seputar seni. Jiwa dari pengarang, orang yang telah melahirkan suatu karya, pada saat proses pembuatan, pasti mencurahkan segala yang dia pikirkan ke dalam objek nya."

Ia melanjutkan penjelasan nya.

"Jadi semacam "pencipta" yang meniupkan "ruh" sehingga objek nya menjadi hidup. Buku ini pun, ada jiwa dari Chairil. Kamu boleh gak percaya, tapi aku yakin, Rama, kamu juga merasakan nya. "Pencipta" dalam skala yang berbeda loh ya?"

Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum.

Kita sepakat
Gumamku.

---

Pantai dengan pasir putih sejauh mata memandang. Debur ombak menderu-deru berkejaran, seperti anak-anak kecil yang berlarian. Manis dan ceria. Kadangkala, menggetarkan. Langit biru, seperjanjian dengan laut itu. Suara angin tak perlu perantara, mengibas dari telinga sampai jiwa juga terkena. Tapi aneh, tidak ada matahari di ufuk. Lantas darimana cahaya ini menghidupkan?

Ada gadis. Ada gadis dengan rambut panjang yang terurai gerai. Rambutnya berwarna hitam, sedang tubuhnya memancarkan ketenangan. Dengan gaun berwarna putih selutut, dia berucap tegas namun elegan.

"Berhenti!"

Dan semuanya berhenti. Dari mulai ombak, angin, sampai burung yang terbang, semuanya terdiam. Hanya dia, hanya dia yang tak lekang.

Ia menoleh ke belakang. Ia melihatku yang berdiri kebingungan. Cantik sekali. Apa aku sudah mati? Lantas ia bidadari?

Tunggu dulu!

Aku kenal wajah itu. Itu Luna, bukan?

Ia tersenyum dan tangan kanan nya menunjuk ke arah timur. Disitu ada gadis memakai cardigan berwarna merah maroon dengan rambut hitam yang juga panjang. Gadis itu terpaku menatap laut yang membeku.

Gadis itu melihat ke arah gadis yang menunjuknya, mereka bersebelahan, namun cukup jauh. Terlihat wajah samping kiri gadis itu oleh mataku. Ia berlinang.

Apa ini?

Itu juga, Luna!

Ada dua Luna?

Apa maksud dari semua ini?

Tuhan, Kau bercanda, kan?

---

Catatan Penulis

[1] "Saat lulus nanti, kamu harus masuk ke persaudaraan. Regenerasi untuk loji Jakarta.
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Malaikat Yang Kebingungan

Sudah beberapa bulan aku dan Khirana menjalin pertemanan yang hangat, rasa sayang kami kepada dunia literasi, khusus nya puisi, membuat kami satu frekuensi. Khirana mempunyai tubuh yang tidak terlalu tinggi, sama seperti gadis indonesia pada umum nya. Kulit nya coklat, mata nya agak bundar, berhidung mancung dan rambut nya panjang. Dia mahasiswi perantauan yang berasal dari Jogjakarta, semasa SMP dan SMA dihabiskan nya di Jogja. Saat masih SD, dia bersekolah di Samarinda dan tinggal bersama Paman dan Bibi nya. Sekarang ia kost tak jauh dari kampus, dia bilang, Paman dan Bibinya telah pindah ke Jogja. Aku selalu heran, mengapa ia kuliah disini, padahal di Jogja adalah sarang nya tempat-tempat pendidikan yang berkualitas. Dia selalu mengatakan kalau tempat itu tidak jadi masalah, yang terpenting adalah niat dari individu nya sendiri. Satu hal yang membuat nya semakin manis adalah saat dia tertawa dan memperlihatkan gingsul nya. Saat dia bercerita soal keindahan dan keunikan Jogja, mata nya berbinar, sorot mata nya menyiratkan satu hal. Kerinduan.
Ia sangat menyukai kelinci. Sejauh yang aku tau, banyak laki-laki di fakultas nya yang mencoba mendekatinya, tapi dia selalu menghindar. Entah kenapa.
Tak jarang setiap selesai kelas aku menemuinya di kantin fakultas ekonomi.

Siang ini pun kami berada di kantin itu. Kantin berwarna biru yang di dinding nya banyak tulisan-tulisan motivasi untuk berani menjadi enterpeneur di usia muda. Meja-meja yang berjejer rapi terlihat lenggang tanpa penuh sesak oleh Mahasiswa. Kami membahas seputar buku-buku yang pernah dan ingin kami baca. Khirana menyukai buku-buku puisi, sajak, dan novel. Ia cukup antusias dengan penulis-penulis baru yang novel nya melejit. Tapi dia tidak begitu tertarik dengan hal-hal seputaran politik, biarpun telah ku jelaskan bahwa politik juga merupakan sebuah seni.

"Seni? Seni menipu dan mengelak maksudmu?"

Tanya Khirana dengan satire.

"Khusus untuk kalimat menipu dan mengelak, itu bukan kesalahan dari politik nya, tapi dari user nya, politisi yang mengatasnamakan politik untuk kesejahteraan rakyat, tapi kenyataan nya justru malah mencuri uang rakyat. Sama saja seperti teroris yang mengatasnamakan agama untuk membunuh orang. Yang beda cuma senjata nya, kalau teroris memakai bom rakitan, maka politisi rakus memakai lidah dan mulut mereka."

"Jadi aku salah? Jadi aku salah untuk tidak menyukai politik?"

"Gak ada salahnya, Khirana. Kita juga gak lagi berdebat. Tapi yang jelas, seberapa besar pun kamu gak interest sama politik? Segala sesuatu itu berpolitik tanpa disadari. Menurutku, Tuhan pun 'berpolitik'."

"Ohya? Bagaimana bisa?"

"Gini, definisi politik itu banyak. Terlalu banyak kalau mau ku sebutkan dari perspektif para ahli. Buatku sendiri, politik itu sebuah tujuan. Jadi, siapapun yang berusaha untuk menggapai tujuan? Maka sudah berpolitik. Kamu kuliah disini juga punya tujuan, kan? Kalau soal Tuhan, orang bodoh pun tau, kalau Tuhan menciptakan alam raya ini mempunyai tujuan. Dia ingin diketahui sebagai Tuhan, jadi dia menciptakan makhluk, agar makhluk tau kalau Tuhan itu ada. Tuhan belum jadi Tuhan kalau Ia hanya sendirian."

"Rama, pikiran kamu kadang bahaya, ya? Hahaha. Tapi, aku rasa Tuhan tetap Tuhan tanpa perlu makhluk menyembahNya."

"Aku sepakat. Aku gak bilang Tuhan butuh disembah. Tapi, siapa yang tau Tuhan, kalau Tuhan tidak menciptakan makhluk?"

"Harusnya kamu kuliah jurusan teologi Rama."

"Gak harus masuk teologi untuk mencoba 'menerka' mau nya Tuhan, Khirana. Lagian, aku tau aku gak akan bisa. Tapi setidaknya aku mencoba."

"Memang apa yang mau kamu 'terka' ?"

"Entahlah, mungkin garis perjalanan yang Dia tulis untuk manusia."

"Maksudmu?"

"Suicide, bunuh diri itu hal yang paling kelam buatku. Maksudku, latar belakang dari itu. Depresi."

Khirana mengerenyitkan dahi nya, ia menatap ku dengan tanda tanya tanpa perlu berkata. Aku melanjutkan kalimatku.

"Kamu tau black hole di antariksa, kan? Lubang hitam, daya tarik lubang hitam itu sangat kuat. Bahkan, sebuah planet pun bisa terisap kalau ada lubang hitam yang muncul di dekatnya."

"Iya aku tau, terus?"

"Depresi dalam diri manusia itu seperti lubang hitam, Khirana. Lubang hitam yang timbul akibat kesedihan-kesedihan yang menumpuk tanpa bisa dikikis, lalu jadi lah sebuah kehampaan, setelah itu... Menghabisi nyawa adalah satu-satunya jalan."

"Jadi kamu mau bunuh diri?"

Tanya Khirana dengan wajah tegang.

"Khirana, siapa yang menjamin kalau aku atau kamu, ataupun orang-orang di luar sana benar-benar 'hidup' ? Kita sejati nya tidak 'hidup'. Kita hanya menunggu."

"Apa yang pernah terjadi sama kamu, Rama?"

"Kamu boleh anggap aku melankolis atau yang lebih buruk lagi dramatis. Silahkan aja. Tapi apa kamu tau, Khirana? Tentang seorang kakak yang masih duduk di bangku SMP mengajak adik nya yang masih SD melompat dari apartemen nya di Jakarta, mereka merindukan orang tua nya yang sibuk bekerja. Atau tentang Kurt Cobain, yang dengan segala ketenaran, harta, dan anak. Tapi ia tidak bisa mengelak kalau dia hanyalah seorang Pisces yang lemah. Semua manusia punya lubang hitam di dalam dirinya. Selama otak telah mengetahui bahwasanya ada satu cara untuk membuat manusia tertidur selamanya. Maka potensi untuk suicide ada."

"Hmm, kalau gitu jangan biarin orang-orang di sekitar kita sedih."

"Masalahnya, kita gak pernah tau orang yang depresi itu gimana. Diluar, mereka bisa aja ketawa dan bercanda. Titik krusial nya adalah saat mereka sendirian. It's complicated."

Kumatikan rokok ku setelah isapan terakhir yang dalam. Aku melanjutkan.

"Siapa yang salah, Khirana? Kalau segala sesuatu di dunia ini memang telah ditakdirkan, maka kita tak lebih dari seoarang aktor dan aktris yang menjalankan script dari Tuhan. Begitupun mereka yang menghabisi nyawa nya sendiri. Mereka hanya pemain yang berakting."

"Rama, kamu gakpapa?"

Khirana memegang tangan kanan ku.

"Hey, kenapa nangis?"

Aku mengusap air mata yang tiba-tiba saja mengalir sendiri. Aku juga tak mengerti. Kenapa aku harus memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dipikirkan. Aku juga tak mengerti. Kenapa kepalaku mudah sekali kalut, ketika mulut ku berucap dengan cepat, dan sorot mataku ku perlahan lahan redup.

"Hahaha sorry. It's oke, emosi ku sering gak stabil, aja. Tapi entar juga baikan. Oiya, aku ada kelas, dosen ku tiba-tiba nyuruh masuk."

Mereka yang bunuh diri
Adalah Malaikat yang kebingungan
Mereka tidak salah
Mereka....
Hanya ingin lekas pulang

--

Masih dan selalu tentang Luna, saat dosen tengah menjelasakan materi dengan membosankan, aku beruntung duduk di ujung dekat jendela. Dari jendela terlihat taman kecil di sebelah jalan setapak, terlihat juga orang-orang duduk dan melewati jalan itu. Dan yang membuatku tersenyum sendiri adalah Luna. Aku melihatnya duduk di bangku panjang tepat di depan taman kecil memakai baju putih dan jeans. Dari jendela kelas, aku terus memperhatikan nya. Ia duduk sendiri dan sibuk dengan hanphone nya. Ketika cowok-cowok melewati nya, mereka selalu melirik Luna. Aku benci sekali melihat itu. Tapi aku pun mungkin akan begitu saat menjadi mereka.

Kau sedang menunggu seseorang, Luna?

Ternyata benar, ada yang menghampirinya, si cantik yang hidup nya tidak lama. Kupu-kupu.
Kupu-kupu berwarna kuning dengan corak hitam hinggap di pundak nya.

Hanya dengan melihatmu, susunan kata mengalir dengan sendirinya. Bisa kau bayangkan kalau kita bersama, Luna? Tapi aku cuma pengecut dan pengagum bodoh. Rasa-rasanya aku tak pantas.
Apa lagi yang lebih indah dibanding saat ini? Saat melihatmu dan kupu-kupu itu? Kalian berdua cantik.

Luna, apa kau tau? Kalau kupu-kupu hanya bertahan hidup selama beberapa minggu bahkan beberapa hari saja. Karna itu Luna, ia tak sembarang hinggap. Biasa nya ia hinggap di bunga. Namun, sekarang pun, tak ada beda nya. Mungkin ia menyangka, kalau kau adalah bunga.

Tak lama kupu-kupu itu terbang berputar-putar di atas kepala Luna. Luna terperanjat kaget, dan sontak berdiri sedikit menjauh. Kejadian yang tidak direkayasa dan spontan ini membuat ku tertawa sendiri.

Luna? Yang benar saja? Kau tidak takut dengan kupu-kupu, kan?

Mereka berdua sepertinya sama-sama sepakat untuk berpisah, Luna pergi, dan kupu-kupu itu terbang.

Tuhan, terimakasih atas opera dua makhluk indah ini
Meskipun sebentar, aku menikmatinya

"Rama?! Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri ngeliatin jendela? Kamu mau saya antar ke Rumah Sakit Jiwa?!"

Begitulah, Pak. Saya gila. Gila dengan perasaan saya sendiri. Bapak tau? Kalau di kepala saya sekarang hanya ada Luna, Luna, dan Luna. Tapi, Pak, saya takut. Saya takut kalau lagi-lagi cinta hanya omong kosong belaka. Iya, Pak, saya sakit, jiwa saya sakit

"Maaf Pak. Tadi saya melamun."

Semua orang di kelas tertawa dengan keras.
Mereka menertawakan ku. Tidak apa-apa. Aku tidak malu.

"Baik, sekarang jawab pertanyaan saya. Kalau kamu tidak bisa menjawab, kamu keluar dari kelas saya."

Kata Pak Andi dengan tegas.
Pak Andi dikenal sebagai dosen yang santai tapi juga bisa mendadak 'bringas' bila ada yang mengganggu di mata nya.

"Siapa yang paling berkuasa dalam hal penentuan kebijakan politik dan ekonomi di dunia? Bahkan sampai bisa meng-intervensi kebijakan negara lain?"

Pak Andi melihatku dengan tatapan yang tidak bersahabat.

"Amerika Serikat, Pak. Tapi dalam konteks yang lebih dalam, otoritas sesungguhnya bukan pada Presiden dan para senator Negara Bagian. Melainkan The FED[1] (Federal Reserved) The FED yang sebenarnya hanya dimiliki oleh para segilintir orang. Mereka mengatur inflasi dan deflasi dollar, yang pada akhirnya juga berimbas terhadap mata uang negara-negara lain. Orang-orang yang berada di balik The FED lah, yang mengatur dunia dalam tirai hitam. Mereka Aristokrat tua yang sebenarnya."

Aku menjawab dengan lugas.
Teman-teman hening, Pak Andi diam, dan mengangguk-ngangguk.

"Baik, jawaban yang bagus. Tapi sepertinya kamu terlalu banyak membaca teori konspirasi."

"Apa salah nya dengan teori konspirasi, Pak? Toh, teori konspirasi juga menggunakan riset dan penelitian, hanya memang kurang ter-konfirmasi. Karna para orang-orang kuat di dunia ini enggan mengomentari. Apa bapak bisa menjelaskan bagaimana relevansi yang membingungkan diatara kematian Presiden Abraham Lincoln dan John F Kennedy? Saya yakin, di dalam pikiran bapak, bapak juga masih bingung dengan banyak hal yang terjadi di dunia ini."

Suasana kelas yang tadi nya hening, menjadi riuh seketika, anak-anak tepuk tangan dan bersorak-sorak.

"Cukup! Cukup! Kita lanjutkan ke materi. Rama tetap disitu, saya apresiasi jawaban kamu."

Pak Andi melanjutkan mengajar nya yang sempat tertunda gara-gara aku melihat Luna. Teman-teman ada yang memanggilku dengan berbisik, dan mengacungkan jempol nya.

'Keren, Ram!'

Rama, nanti jelasin ke aku tentang The FED'

Parah kamu, Ram. Kasian Pak Andi'

Entah ada apa dengan mereka, tidak ada yang special harusnya. Karna sebagai mana layaknya, kampus adalah tempat untuk berpikir bebas. Yang jelas, yang minta di jelaskan soal The FED tidak lain dan tidak bukan adalah Randy.

--

Balikpapan

"Daniza Ramadhan."

"Rama, Rama Dihalmahera."

Aku dikenalkan oleh teman lama ku, Putra Fadhilah, kepada teman-teman nya, salah satunya kepada Daniza Ramadhan. Laki-laki gondrong dengan wajah tirus. Mata nya nampak sayu. Dia 2 tahun lebih tua dariku, sedang menempuh pendidikan di Institut Negeri Samarinda. Putra juga mengenalkanku dengan Hendra Syahputra, teman dekat Daniza. Kami semua berkuliah di Samarinda, dan sekarang sedang pulang di sabtu minggu. Kami tidak sengaja bertemu di warung kopi di Balikpapan.

"Pemerintah harus nya nge-legalin ganja. Itu murni tumbuhan, dan sebenernya, rokok itu jauh lebih bahaya ketimbang ganja!"

Putra berbicara dengan cukup keras, seperti orang yang lebih mirip berorasi ketimbang mengobrol.

"Bahkan, di Amerika aja udah mulai di legal kan."

Daritadi, aku hanya mendengarkan mereka bertiga membahas seputar Cannabis Sativa, atau biasa disebut ganja. Dan Putra adalah yang paling dominan.

"Kalau menurutmu, gimana, Rama?"

"Kalau menurutku, mayoritas Negara-negara melarang penggunaan ganja, pastilah mereka sudah melakukan riset baik secara ilmiah ataupun medis. Dan kalo tadi, kamu bilang Amerika udah nge-legal-in ganja? Kamu salah, Put. Yang bener adalah ada beberapa Negara Bagian di Amerika yang legal-in ganja untuk kebutuhan medis, dan diluar medis, penggunaan nya di batasin. Yang cukup bebas soal ganja itu, Belanda."

"Oh ya ya ya. Tapi kalo menurutmu gimana?"

Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Lama juga kami mengobrol. Dari soal ganja sampai dengan masalah perempuan.

Pukul 2 malam, aku pulang ke rumah. Besok aku ingin ke pantai, cukup lama aku tidak mendengar deru ombak.

Perasaan bodoh dan rindu sialan ini datang, lagi

Luna

'Khirana, kamu udah tidur?'

'Belum, nih. Kenapa, Rama?'

'Aku telfon, ya? Pikiran ku lagi kalut.'

'Iya, telfon aja.'

'Thanks.'

'Sama-sama, Rama.'

---

Catatan Penulis

[1] Bank Central Amerika
profile-picture
echariemas memberi reputasi

La Vie En Rose

Sore hari di pantai milik PT. Pertamina, di tengah Kota Balikpapan. Rama Dihalmahera, laki-laki muda itu menatap kosong laut beserta ombak nya. Tangan kanan nya memegang sebatang rokok yang belum di bakar. Angin di pinggir pantai membuat rambut nya semakin berantakan. Ia tidak memperdulikan anak-anak kecil yang berlari-lari di depan nya, tidak juga dengan pasangan muda-mudi yang tengah mendulang asmara, atau rombongan keluarga yang tengah sibuk berfoto. Ia benar-benar tidak memperdulikan nya. Tidak ada yang berubah dengan gaya berpakaianya, kaos berwarna abu-abu, celana jeans dan sepatu converse selalu menjadi pilihan utamanya, casual.

Dengan segala kerumitan di kepala nya. Kembali, ia di porak porandakan oleh rentetan tanda tanya yang terjadi. Perspektif Rama terhadap sebuah rasa sayang, adalah ketakutan. Terakhir kali, ia pernah ditinggalkan begitu saja oleh seorang perempuan bernama Rena Tsumarauw. Saat itu, yang ia tau, rasa ketertarikan dan ingin memliki kepada kaum Hawa adalah anugrah terindah yang Tuhan sisipkan di dada manusia. Di sela-sela rasa marah nya kepada hidup, cinta hadir meneduhkan hatinya, kala itu. Tapi, yang ia yakini sekarang adalah, manusia itu suka sekali meninggalkan, dan keikhlasan untuk menjadi yang tertinggalkan, jauh lebih sulit dibanding rumus-rumus algoritma. Disaat sekarang ia mencoba untuk belajar memaklumi kesendirian. Tatapan mata Luna beserta bulan purnama di matanya selalu saja terngiang di segala lini diri nya.

Andai saja

Rama bergumam di dalam batin nya. Iya, Rama, andai saja kamu bisa jauh lebih kuat, andai saja kaki mu tak sekalipun letih, andai saja pikiranmu tidak kau biarkan terus berkelana menyusuri belantara imajinasi. Anda saja kamu tidak mempertanyakan mengapa kamu dilahirkan sebagai seorang Rama Dihalmahera. Andai saja, Rama. Andai saja.

Ia menutupi korek api dan rokok yang sekarang ia bakar dengan tangan nya. Angin pantai yang kencang membuatnya cukup kesulitan menghidupkan rokoknya, sahabatnya. Setelah isapan pertama, ia kembali menatap kosong laut beserta ombaknya. Raga nya disini, tidak dengan hati dan pikiran nya.

Hati nya terpagut pada satu nama, Luna. Hati nya membisik,

Rama, coba resapi perasaan ini, ayolah, Rama, berhenti memusuhiku. Cinta memang begitu, perlu kepedihan untuk mendewasakan diriku juga dirimu. Tidak mengapa, kalau sekarang kau hanya tau nama nya. Rama, kau perlu bahagia. Aku sangat tau bahwa kita berdua tulus. Karna itu Rama, berhentilah memusuhiku. Maafkan aku

Sementara pikiran nya menengok yang lalu-lalu,

Rama, kita sudah sepakat, bukan? Bahwa hidup adalah tentang meninggalkan atau tertinggalkan. Coba kau ingat lagi, bagaimana Rena melihatmu hari itu. Coba ingat lagi, Rama. Mata nya, mata nya berbicara, mata nya seolah mengatakan bila ia harus meninggalkan mu. Kau sudah hancur, Rama. Terimalah itu. Hidup lah dengan kehampaan. Tidak apa-apa.

Ia tidak mengerti. Rama sekali tidak mengerti dengan pola hidup yang dia lihat dan dia jalani.

Kepala nya mendongkak ke langit. Ia lihat lembayung sore malu-malu mulai menunjukan diri. Ia teringat dengan teman bermain nya, dari SD sampai SMP. Glady Veronica. Ia membenci Gladys. Gladys adalah gadis yang sepemikiran dengan Rama. Walau masih tergolong anak-anak. Mereka berdua telah mampu melihat jika sebenarnya langitu itu kelabu, bukan biru.

Rama? Jangan bahas bunuh diri lagi, ya?

Pinta Gladys sore itu di taman dekat rumah mereka. Mereka berdua sangat dekat semenjak SD, tak jarang teman-teman sebaya mereka menggoda mereka dengan meneriaki Rama dan Gladys pacaran.
Di mata Rama, Gladys itu bukan sekedar gadis cantik dengan rambut yang selalu terikat. Gladys adalah wanita dewasa yang terjebak di dalam tubuh seorang anak kecil menuju remaja. Begitu pikir Rama. Gladys itu cerdas, kalau Rama tidak tau, Gladys pasti tau. Rama seringkali bercerita kalau suatu saat ia ingin bunuh diri saja. Disaat itu pula, wajah Gladys akan memerah dan marah.

"Rama! Kamu, tau?! Kalau semesta yang maha luas ini ber gerak dengan teratur bahkan penuh dengan harmoni. Begitu pula, kita! Manusia! Semesta akan menangisi manusia yang mati dengan menggunakan tangan nya sendiri. Iya, Rama, aku tau, aku ngerti, kalo hidup ini adalah theater kesedihan. Tapi, tolong... Mati lah atas keteraturan semesta!"

Pesan itu selalu tertanam di kepala Rama.
Karna Gladys, kematian yang bisa saja dia jemput sendiri selalu ditahan.

Rama sangat benci, ketika ada teman-teman sebaya nya yang bertanya tentang Ayahnya. Rama akan gagu menjawabnya, ia tak punya Ayah dalam arti sesungguhnya. Disaat itu, Gladys yang menjawab nya, Gladys bilang, Ayah Rama sedang sibuk bekerja, dan Rama tidak terlalu akrab dengan Ayahnya. Rama selalu heran, kenapa Gladys rela berbohong untuknya.

"Yang penting, kamu gak sedih"

Itu kalimat yang selalu diucapkan Gladys dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipi nya.

"Pembohooooong!"

"Kau pembohong ulung, gladys!"

"Apa nya yang hidup, apa nya yang keteraturan semesta? Kenapa kau yang pergi?! Kau membuatku terlihat seperti seorang pembual!"

Pikiran nya kalut. Terlalu kalut untuk sekarang ini. Ia teriak di dalam batin dan pikiran nya. Air mata nya mengalir, jatuh diatas pasir pantai.

Hari itu Gladys tidak masuk sekolah, padahal itu adalah hari ujian kenaikan kelas ke kelas 3. Rama gelisah karna tidak biasanya Gladys absen. Gladys adalah perempuan yang sangat kuat. Ia rela menahan demam atau flu demi masuk sekolah. Tidak pula ada surat izin yang masuk. Rama gusar. Buru-buru ia menyelesaikan ujian Bahasa Indonesia nya dan berlari menuju rumah Gladys.
Rumah Gladys yang berlantai 2 tidak terkunci. Ia setengah berteriak memanggil Gladys.

"Gladys? Gladys?"

Tidak ada satupun suara yang menjawab panggilan Rama. Orang tua Gladys saat itu sedang ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan. Pembantu Gladys juga tidak terlihat. Dengan terus berteriak, Rama menaiki tangga menuju lantai dua. Ia menuju kamar Gladys.

"Gladys? Kamu di dalam? Gladys? Kamu sakit?"

Pintu kamar Gladys juga tidak terkunci, dengan ragu-ragu, Rama membuka pintu kamarnya.
Lutut Rama lemas seketika, jantung nya berdetak dengan sangat cepat, mata nya berkaca-kaca.

"Rama? Belum waktu nya kamu mengerti cara berpikirku, perasaan ku, apalagi jiwa ku."

"Manusia itu memakai topeng, Rama. Dan kamu tau, Rama? Aku mulai bosan dengan topeng yang selalu kupakai ini."

"Rama, Rama? Coba liat, sini, cepet! Itu bulan nya, Purnama!"

"Rama? Kalau suatu saat nanti kamu merasakan cinta? Kamu harus belajar sama burung merpati, ya?"

Perkataan Gladys terbesit dan terus mengulang di kepala Rama. Ia masih tertegun. Rama masih diam di depan kamar Gladys. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Jadi orang dewasa itu akan menyebalkan, Rama. Tapi kamu harus tetap bernafas! Jangan aneh-aneh, apalagi sampai bunuh diri. Inget ya, inget tentang 'mati dengan keteraturan semesta'."

Rama berjalan pelan menghampiri Gladys. Kaki nya serasa tak sanggup berjalan. Tapi ia tetap berusaha. Ia mulai menangis, dan terisak.

Gladys Veronica, gadis yang selalu menguatkan Rama. Terbujur kaku dengan mulut yang berbusa. Disebelahnya terdapat botol pembersih lantai yang telah diteguk nya.

"Gladys? Bangun...Gla...bangun...ja...ngan...bercanda...Gla..dys..."

Suara Rama berpadu dengan isak tangis nya. Ia memapah kepala Gladys di paha nya.

"Kamu melarangku...ta...ta...pi...kena...pa...kamu seperti...ini...Gladys?"

Tangisan Rama seperti anak kecil. Rama tidak mengerti lagi. Ia benar-benar tidak mengerti. Gladys tidak pernah menceritakan permasalahan yang menimpa nya. Bahkan, ia sama sekali tidak terlihat menahan beban. Gladys selalu terlihat tersenyum. Meskipun ia tau bahwa hidup adalah kepedihan, tapi ia tidak terlihat seperti dilanda kepedihan. Pertanyaan tentang alasan Gladys bunuh diri masih terbayang di kepala Rama.
Hasil otopsi dari kepolisian tidak menunjukan tanda-tanda kekerasan fisik. Gladys Veronica ditetapkan murni bunuh diri. Orang tua Gladys juga tidak pernah melihat Gladys bersikap aneh. Rama yang saat itu menjadi saksi di kepolisian juga tidak tau apa yang terjadi dengan Gladys. Kepolisian menemukan kertas di dekat mayat Gladys yang isi nya seperti ini;

Dunia yang terlupa

Aku bahagia atas semua nya

Atas takdir ku menjadi seorang Gladys Veronica

Atas pertemuan ku dengan Rama Dihalmahera

Aku bahagia, karna menemukan orang yang satu frekuensi dengan kepalaku

Tapi sungguh, jangan sampai Rama mengikuti keputusan ambigu ku

Karna dia harus pergi atas keteraturan semesta

Karna aku bersama nya

Karna aku mengorbit di jiwa nya

Rama mengusap air mata nya. Kembali ia membakar rokok nya. Setelah rokok pertama habis dimakan angin.

Dering handphone nya berbunyi. Ada telfon masuk ke handphone, Rama. Gladys Veronica. Telfon yang tak pernah nyata.

Hallo?

Gladys? Aku bertemu dengan perempuan yang satu frekuensi dengan kepalaku dalam hal puisi, nama nya Khirana Shandya. Dia manis.

Gladys? Aku jatuh cinta dengan perempuan yang terdapat bulan di mata nya. Dia cantik. Banyak laki-laki yang menyukai nya. Nama nya Luna.

---

Samarinda

Khirana terlihat semakin manis dengan memakai kaos dan rok hitam selutut, tas kecil perempuan berwarna hitam memadukan gaya berpakaian nya yang cukup casual.
Kami berdua menuju ke caffe yang lumayan jauh dari kos kami. Setelah memesan minum dan kentang goreng sebagai cemilan. Kami berbicara dengan intro seputar puisi. Sampai dengan masalah hati.

"Jadi, kenapa kamu kayak menghindar dari cowok-cowok yang ngedeketin kamu, Khirana?"

Khirana menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan ku.

"Karna aku egois, Rama."

"Maksudnya?"

"Iya, aku egois. Aku mentingin perasaan ku sendiri dengan gak kasih kesempatan ke mereka buat ambil perasaanku."

"Hahahaha buat lebih sederhana, please."

"Untuk orang yang punya isi kepala seluas kamu, kaget juga kamu perlu penyederhanaan dari kalimatku."

"Aku bodoh soal perasaan."

"Rama, gini, orang yang gak mau dengan mudah terlibat sama hal yang pelik, khusus nya perasaan? Kemungkinan besar karna mereka udah pernah coba tulus. Tapi--"

"Disakitin?"

Khirana tersenyum melihatku saat aku memotong kalimatnya.

"Iya, disakitin. Traumatik. Jadi, ya, buat apa? Hahaha."

"Khirana, jujur, aku lagi suka sama orang."

"Ohya?! Selamat! Selamat berjudi dengan perasaanmu sendiri, Rama."

"Sial nya, aku 'penjudi' yang buruk. Karna sering kalah, aku gak yakin kali ini bakal menang."

Jangan menatap ku seperti itu, Khirana

Kau manis

"Terus? Kamu berani? Emang siapa? Kasitau, dong."

"Nama nya, Luna. Satu fakultas, tapi aku cuma tau namanya aja, belum kenal. Maksudku belum berani buat ngajak kenalan."

"Kenapa gak berani? Kamu minder? Ayolah, Rama, aku sudah hafal karakter puisimu, seorang Rama Dihalmahera itu puitis! Kasih aja dia, si Luna, itu, puisi mu."

"Itu salah satu nya. Dia cantik, Khirana. Aku yakin yang ngejar dia gak sedikit. Disamping itu, emm, sama kayak kamu, aku takut, traumatik. Hahahaha yang ada dia nganggep aku ter obsesi sama novel atau sok penyair kalo aku bikinin puisi. Puisi itu klasikal banget, bisa di anggap norak ntar."

"Kenangan buruk itu buat manusia, jadi takut, walaupun gak seharus nya jadi penakut. Tapi, rasa takut itu yang membuat manusia menjadi manusia, Rama. Soal itu, aku gak bisa kasih saran. Karna, kita sama-sama lagi belajar 'sembuh'. Rama, puisi itu memang klasik, tapi clasic is gold, right? Puisi memang gak bakal kasih kenyamanan seperti mobil, rasa terkejut seperti kado, ataupun barang-barang mahal yang biasa nya dibeli cowok-cowok di masa pdkt. Tapi, percaya deh. Puisi itu menusuk ke dalam perasaan dan jiwa. Karna puisi hidup bukan di alam materi."

"Entahlah...."

"You'll be ok, Rama?"

"Semoga."

Jawabku dengan senyum memaksa.

--

Pukul satu dinihari. Tidak biasa nya Rama tertidur di jam seperti ini. Biasa nya ia tidur pada pukul empat atau paling lama pukul lima. Aktivitas nya hari ini tidak begitu padat. Dia tidak kelelahan. Entah hawa mengantuk dari mana yang membuat nya tidur jauh lebih cepat dari kebiasaanya begadang sambil membaca buku.
Bulir-bulir keringat terlihat membanjiri wajah Rama. Ia gelisah, posisi tidur nya berganti-ganti. Kesamping kanan, samping kiri, tengkurap, dan terlentang.

Ia bermimpi, Rama sekarang berada di ruang yang semua nya berwarna putih. Ia terlihat bingung. Segala nya terasa nyata. Ia berjalan dan tidak tau mana arah utara, mana selatan. Cukup jauh ia berjalan, namun ruangan putih itu nampak tidak bertepi.

"Rama?"

Dari belakang terdengar suara gadis yang memakai gaun putih selutut memanggil nya.

Rama menoleh ke belakang dan dilihatnya wajah wanita itu. Wajah yang ia kenal, yang ia pikirkan di setiap langkah kaki nya. Wajah Luna.

"Luna?"

Raut wajah Rama nampak sangat kebingungan. Ia mencoba memejamkan mata nya dan berharap bisa bangun. Ini sudah terlampau aneh untuknya. Ini kali kedua ia bermimpi bertemu dengan Luna. Dan anehnya semua nampak nyata.

"Kau belum bisa pergi, kalau belum kuizinkan, Rama. Dan aku bukan Luna."

"Jadi, kamu siapa? Kenapa wajah mu mirip dengan Luna?"

Wanita yang mengaku bukan Luna, itu, tersenyum. Senyum nya membuat hati Rama bergetar.

"Aku adalah manifestasi atas kasih sayang alam raya, Rama. Aku tidak menemukanmu, tapi kau yang menemukanku. Imajinasi mu begitu megah. Sampai membuat kosmos dan segala kerumitan nya bergetar."

"Bullshit! Jawab pertanyaanku, siapa kamu?"

Wanita itu berjalan pelan mendekati Rama. Sementara, Rama berjalan mundur karna ia masih tak yakin dan bingung dengan semua nya.

"Rama, sesuatu harus hancur. Untuk sampai di titik nol. Puncak dari kasih sayang, adalah merelakan"

Ia mengulurkan tangan kanan nya kepada Rama. Dengan maksud mengajak Rama ke suatu tempat. Dengan keraguan, Rama memegang tangan wanita itu. Dan tiba-tiba ruangan putih itu menyusut dengan sendirinya. Hingga dengan segala ketidak masuk akalan nya, sampai lah mereka berdua di daerah pemukiman warga yang belum terlalu banyak rumah. Mereka berada di depan rumah yang terlihat baru jadi dan disebelahnya terdapat rumah yang belum sepenuhnya rampung.

"Kita dimana?"

Tanya Rama.

"Diam dan perhatikan. Untuk menggapai purnama, kau harus tau saat dulu ia sabit"

Di dalam rumah yang belum rampung itu, terlihat gadis kecil sekitar umur lima tahun bermain sendirian. Ia berlari-lari, tertawa, dan sesekali teriak kegirangan. Seperti sedang bermain dengan seseorang. Namun, tidak terlihat dengan siapa gadis kecil itu bermain.

"Lunaaa?! Ayo pulang, sudah senja.",

Teriak seorang laki-laki paruh baya dari sebelah rumah itu.

"Iya, Ayah. Sampai ketemu besok, lagi, ya?"

Gadis kecil itu seperti sedang berpamitan, dan berlari pulang menuju rumah yang di sebelahnya.

"Itu Luna? Dari kecil dia memang cantik"

Rama bertanya pada diri nya sendiri.

Tiba-tiba semua mendadak memutih, lalu kembali menyusut. Sekarang mereka berdua berada di sebuah sekolah dasar.
Puluhan murid berjejer rapi sedang melakukan paduan suara. Suara mereka nampak merdu dan seperti bersatu satu antar lain. Saat mereka selesai, murid-murid itu berjalan melewati Rama dan wanita bergaun putih itu. Ada satu gadis yang berjalan paling belakang sendirian.

"Itu pasti Luna"

Kata Rama dengan tersenyum.

Semua mendadak memutih kembali, lalu dimensi putih itu menyusut lagi. Kini mereka berdua telah sampai di sebuah pesta ulang tahun. Rama menebak kalau ini adalah murid-murid SMP yang sedang menghadiri acara ulang tahun teman nya. Saat akan memasuki rumah yang di teras nya terdapat banyak anak-anak sedang makan dan minum. Rama dikagetkan dengan seorang gadis berjalan tertunduk yang mau pergi dari rumah itu.

"Luna, kenapa kau sedih?"

Di teras rumah itu mendadak semua memutih kembali, dan tak lama menyusut sendiri. Kini mereka berada di SMA di Balikpapan, Rama sepertinya tau sekolah ini, ia terus berfikir untuk mengingat kembali. Namun gagal.
Wanita itu berjalan di depan, dan masuk ke dalam sekolah, ia menuju ke suatu kelas. Tanpa diperintah, Rama mengikutinya. Di sebuah kelas, murid-murid terlihat berisik seperti kelas yang menunggu guru nya masuk. Semua nampak ceria, semua bergerumul dengan teman-teman nya masing-masing. Di meja depan, ada yang melamun menatap jendela dengan headset terpasang di telinganya.

"Kamu cantik, Luna"

Rama tersenyum sendiri. Ia seperti terbenam dalam sinema hidup dari seorang Luna Defiana. Ia, bahagia.

"Rama? Lagu yang sedang ia dengar berjudul, La Vie En Rose"

Wanita itu memanggil Rama dengan senyum nya yang menggetarkan jiwa.
Saat Rama menoleh, ia mendadak bangun dengan keringat yang sangat banyak di wajahnya. Nafas nya tersengal-sengal.

Aku mimpi aneh lagi

La Vie En Rose?
profile-picture
profile-picture
andrian0509 dan echariemas memberi reputasi

Kantin Kayu

Untuk para kekasih sepi
yang berdamai dengan bosan

Bila pernah ada yang kau rindukan


Sesungguhnya bukan hangat rengkuh perempuan


Mungkin saja, kematian


Dari sekarang mencoba terus bertahan


Lepaslah saja


Tidak ada yang perlu ditakutkan


Tidak ada orang yang menantimu dengan harapan


Lepaslah saja


Jiwa mu telah dipaksa usang


Hapus saja yang dikhawatirkan


Pedih terlampau lama tertanam


Bahkan kini ia tumbuh seperti pohon di tengah hutan


Angin takan sanggup menggoyang


Kecuali ada topan


Dan topan adalah nafas lembut dari kepulangan

-

Semenjak mimpi aneh itu, aku semakin sering memikirkan Luna. Ini sedikit membuatku frustasi. Mimpi itu terasa nyata sekali. Kalaupun itu bunga tidur, maka bunga nya mungkin sebesar raflesia bentuk dan harum nya seperti midllemist camelia.
Buku-buku yang kubaca tak lagi mampu kuselesaikan, pola tidur ku yang sedari dulu kacau menjadi semakin kacau karna kegelisahan. Ada apa dengan Luna? Dengan gadis di mimpi ku yang wajahnya mirip seperti Luna? Ada apa dengan diriku?
Ah, barangkali ini adalah konsekuensi logis dari sebuah rasa sayang. Tunggu dulu, rasa sayang kepada siapa? Luna? Dia bahkan tidak mengenalku. Bodoh. Benar-benar bodoh.
Sepanjang hari aku hanya diam dikamar, aku bahkan tidak ada tidur. Aku tidak bisa tidur dan tidak ingin tidur. Aku sangat gelisah.
"Brengsek!"
Aku membanting tubuhku ke kasur. Satu jam lagi aku akan berangkat ke kampus. Suara petir terdengar menggelegar, tak berselang lama, suara hujan terdengar turun dengan lebat. Tanpa gerimis.
Suara hujan membuat ku sedikit tenang. Aku memejamkan mataku tanpa bermaksud untuk tidur.

La Vie En Rose

Aku teringat akan apa yang dikatakan oleh gadis di dalam mimpi kemarin malam. Ia memberitau ku bahwa lagu yang didengarkan Luna didalam mimpiku adalah La Vie En Rose. Aku penasaran dengan lagu itu.

"Itu cuma mimpi. Seaneh-aneh nya mimpi itu, tetaplah sebuah mimpi."

Kataku meyakinkan diriku sendiri. Mataku menatap langit kamar dengan lamat-lamat. Hawa pagi ini begitu dingin. Entah berapa derajat. Kuraih handphone ku, dan mengetik La Vie En Rose di google. Jaringan seluler sepertinya ikut memburuk bersama cuaca di pagi ini. Aku sampai 2 kali mematikan jaringan kemudian menghidupkan nya lagi untuk memperbaharui jaringan jelajah. Sia-sia. Tiba-tiba sms dari penyedia jasa jaringan masuk memberitahukan bahwa kuota ku sudah habis.

'Baiklah! Ini namanya kesialan yang sempurna!'

Aku tidak tau persis siapa yang kuhardik barusan. Namun ini memang menyebalkan, 2 hari yang lalu aku baru saja membeli paket kuota. Kos ditempatku tidak menyediakan layanan Wifi gratis seperti kos-kos yang lain.

Jaket yang kukenakan basah karna aku nekat menerobos hujan. Kelas yang aku gunakan pagi ini masih sepi. Tumben, biasanya sudah banyak teman-teman.

"Astaga--"

Ku koneksikan hp ku dengan wifi kampus. Meskipun lemot, tapi sepertinya cuma itu satu-satunya harapanku untuk menge-chek grup kelas. Benar saja, ketua di kelas memberitaukan bahwa dosen pagi ini tidak masuk karna terhambat oleh banjir. Jam kedua dimulai pukul setengah 12 dan sekarang masih pukul 8 kurang. Itu artinya 4 jam aku akan terdampar di kampus.
Awan hitam masih bergumpal dan air dari Tuhan masih ditumpahkan. Barangkali ngopi di kantin disaat hujan deras begini adalah opsi yang baik. Ada dua kantin di fakultas, kantin di sebelah dekanat yang selalu ramai, tapi belakangan ini aku tidak terlalu tertarik lagi kesana. Karna sejauh ini, Luna tidak pernah sekalipun terlihat disana. Mungkin dia tidak suka ke kantin. Kantin yang kedua berada di pojok kanan di belakang ruang sekre organisasi-organisasi kampus. Kantin sederhana yang sebenarnya lebih cocok disebut warung ketimbang kantin dan terbuat dari kayu.
Aku memilih ke kantin yang kedua. Dengan sedikit berlari aku sampai disana, hanya ada satu orang mahasiswa gondrong yang terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir makan gorengan dan meminum kopi hitam.

"Kopi hitam nya satu ya, bu."

Ibu penjual kantin itu senyum dan mengangguk. Aku memlilih duduk di pojok. Bau gorengan yang baru selesai di goreng tercium lezat, tapi percuma, aku sedang tidak berselera. Asap mengepul dari mulutku, sebatang rokok kretek ku hisap dalam. Suara hujan terdengar lebih kencang karna kantin ini beratapkan seng.

'Disela ketakutan kita, tanpa terasa kita terlalu kuat memeluk luka. Sampai kita lupa, bahwa waktu tidak perduli dengan manusia dan ceritanya. Yang ia tau, ia tidak akan pernah bisa memutar arah dan berbalik ke belakang, Rama'

Pesan dari Khirana. Sajak? Tumben sekali, ada apa?

'Karya?'

Ku balas pesan nya dengan terus menerka.

'The one and only, Khirana Shandya.'

Memukul jidat, aku tertawa sendiri.

'Tumben, ada apa?'

'Nothing. Boleh jadi iseng hehehe'

'Aku mimpi Luna dengan segala keanehanya'

'TAHAN DISITU, TUAN! CERITAKAN LANGSUNG NANTI SIANG DI KANTIN MENGHARU BIRU'

Terkesiap dan tersenyum. Aku menjuluki kantin di fakultas nya mengharu biru. Sederhana nya karna kantin itu jelas berwarna biru. Kompleks nya, sampai saat ini aku tidak tau kenapa aku manambahkan kata mengharu untuk julukan yang telah kusematkan secara de facto.

'Baiklah, oke.'

Balasku singkat.

"Ini teh susu hangat nya, mbak."

"Oh iya, makasih, bu."

Di kursi plastik yang berjarak 2 meter dari tempatku duduk. Seorang gadis mengenakan cardigan merah maroon duduk dan sedang mengotak-atik hp. Aku tidak sadar, sejak kapan ia duduk disitu. Mahasiswa gondrong yang duduk membelakangiku sudah tidak ada.
Sekilas gadis itu terlihat cantik dengan make up yang kurasa kelewat natural, menampilkan sisi elegan nya tersendiri.

'Cantik dan kayak pernah liat'

Aku kembali bersama duniaku. Meja kayu panjang tempat menaruh kopi hitam ku dan teh susu gadis itu berhasil mempersatukan kami. Kursi plastik yang kami duduki lah yang memisahkan. Sementara kantin kayu ini adalah semesta nya. Aku bumi, dia bulan. Ibu penjaga kantin ini barangkali adalah asteroid. Atau-- ah terserah.

Tunggu--

Mataku menyipit dan dahiku mengernyit. Otak dikepalaku sedang mencari file yang aku lupa menaruh dimana. Aku berpikir cukup keras.
Aku menoleh ke gadis itu lagi.

Kenapa ada dia?

Desir darah dan degup jantungku meningkat. Terlampau signifikan. Aku bahkan bisa mendengar jelas suara jantungku sendiri. Suara hujan diatas seng seperti sunyi. Berulang kali aku menarik nafas dan mengeluarkanya dengan perlahan. Lumayan. Aku bisa sedikit mengontrol diri. Pantas saja tadi aku bermain analogi antariksa. 2 meter disebelahku adalah Luna.

Aku ulang, ya?


Kantin kayu ini barangkali adalah galaksi bimasakti


Terserah apa menjadi siapa


Aku tidak perduli kalau botol kecap dan saus di kantin ini adalah venus,mars,jupiter, atau saturnus


Yang jelas aku bumi, yang tak pelak butuh cahaya apabila malam gelap gulita


Maka dari itu, kau adalah bulan yang benderang, purnama abadi


Pelengkap dari kuat nya bumi beredar di garis mengelilingi matahari

Senyum ku merekah sendiri, seperti orang gila dijalan yang tak punya beban. Kata-kata seperti tersusun sendiri di kepalaku. Namun mulutku terus saja seperti orang yang habis digampar. Sakit saat mau bicara.

Silent is gold--apanya yang emas, silent is shit

Aku menggelengkan kepala.

Aku harus memulai pembicaraan dengan Luna. Barangkali sajak yang dikirimkan Khirana ada benarnya. Waktu tidak perduli dengan manusia dan ceritanya. Yang ia tau, ia tidak akan pernah bisa memutar arah dan berbalik ke belakang. Waktu tidak bisa diputar. Tidak akan pernah bisa. Yang ku bisa sekarang adalah berjalan ke depan. Meskipun pelan. Selain itu, aku butuh penjelasan tentang mimpi aneh itu.

Baiklah

Kita akan berkenalan, Luna

Batin ku berusaha meyakinkan diri sepenuhnya. Sekuat-kuatnya.

Untuk ketiga kali nya, aku menoleh dan melihatnya. Sial. Kenapa harus ada kemegahan dalam kesederhanaan. Kali ini aku bukan sekedar menoleh dan melihatnya. Aku menatapnya. Terpana.
Tangan kanan nya menopang dagu. Headset berwarna hitam terpasang di kedua telinganya. Cardigan yang ia kenakan nampak sedikit basah di bagian bahu sampai lengan. Matanya menatap hujan.
Ini bahkan lebih manis dari saat dia dan kupu-kupu di taman tempo hari. Ini masterpiece.
Jarak kami hanya 2 meter, dan apalagi yang lebih aku inginkan dari melihatnya termangu sendiri seperti ini. Teruslah begitu, jangan perdulikan aku yang menatap mu dengan sayu. Jangan perdulikan. Aku serius.

Hold me close and hold me fast
The magic spell you cast
This is la vie en rose

Mataku terbelalak. Dari bibir tipis nya, samar-samar terdengar suara yang bernada. Luna bernyanyi. Pelan sekali, meskipun suara hujan ikut andil dalam memelankan frekuensi nya. Tapi aku masih dapat mendengarnya, terkhusus di bagian lirik 'This is la vie en rose'. Dengan aksen prancis di kata la vie en rose, persis seperti gadis misterius di mimpi ku melafalkan nya. La vie ang rose, huruf 'r' nya menggunakan suara tenggorokan. Ah- susah menjelaskanya.

When you kiss me, heaven sighs
And though I close my eyes
I see la vie en rose

Luna melanjutkan nya. Ia sepertinya tidak perduli dengan sekitarnya. Barangkali, perasaan nya tidak disini. Barangkali.

When you press me to your heart
I'm in a world apart
A world where roses bloom

And when you speak, angels, sing from above
Everyday words seem
To turn into love songs

Give your heart and soul to me
And life will always be
La vie en rose

Air mata nya mengalir melewati pipi. Ia mengusap nya lalu tersenyum.

Apa yang terjadi denganmu, Luna

Air mata apa itu? Kesedihan, haru, kosong, atau apa

"Suaranya bagus."

"Hah?"

Suaraku terdengar parau.

Apa yang kulakukan

Dia melihatku dengan heran.

"Sorry, Lun. Lupain."

Aku kembali melihat lurus ke depan. Tegang.

"Kok tau namaku?"

Luna melepas headset nya.

Sial. Suaranya membuatku bisu. Aku tidak tau harus menjawab apa. Aku tegang sekali. Ia menunggu aku menjawab. Tapi aku tidak tau harus bagaimana. Aku melirik dengan hati-hati ke arahnya. Dia sudah tidak melihatku.

'Pecundang'

Aku beranjak dari kursi plastik ku, membayar kopi dan pergi dengan kepala tertunduk. Di ujung pintu kantin aku berhenti.

--

Jakarta

Di parkiran gedung Bappenas (Badan Perencanaan Nasional) seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun-an lebih sedang menunggu seseorang. Tak lama mobil mercedes hitam dengan plat putih CD 12 66 (mobil diplomat amerika yang memiliki kekebalan diplomatik) yang dikemudikan seorang supir berkebangsaan asing memarkir mobil tepat di sebelah laki-laki itu berdiri. Laki-laki itu masuk ke mobil di bagian belakang.

"Maaf terlambat."

"Tidak masalah. Kita berada di Jakarta, kota termacet yang melatih kesabaran."

"Selera humor anda selalu menjadi yang terbaik, Tom."

Laki-laki berkenegaraan Amerika itu terkekeh. Rambut nya putih, badan nya besar. Ia sedang berbicara dengan paman Rama, Tommy Wirahadikusumah.

"Bagaimana dengan para petinggi di Tel Aviv dan Washington?"

Paman Tom bertanya dengan raut wajah serius.

"Mereka mungkin sedang berdansa di Venice dan tertawa dengan bahagia. Tidak ada instruksi baru. Para 'insyinyur' telah menemukan sesuatu."

"Ohya? Apa? Bom berskala besar yang bisa di proyeksikan ke dalam bolpoint? Kalau soal itu, Mossad, MI6, dan CIA juga bisa."

"Tidak. Bukan soal itu. Ini tentang kekuatan manusia yang tersembunyi."

"Superhero?"

"Hahaha kita di dunia nyata, Tom. Masalah superhero, biarlah para 'pion' kita di Hollywood yang membuatnya. Ini soal imajinasi."

"Imajinasi?"

"Imajinasi yang bisa memburamkan batas-batas kenyataan. Tanpa bantuan jamur langka atau obat-obatan."

Laki-laki itu mengeluarkan secarik kertas dari kantong di balik jas hitam nya, dan menyerahkan nya ke Paman Tom.

"Sesuatu harus hancur untuk sampai di titik nol?"

Paman Tom membaca dengan bersuara pelan. Ia kebingungan.

Mobil mercedes hitam itu melaju pelan meninggalkan paman Tom di parkiran gedung Bapennas.

Di dalam mobil, diplomat itu memerintahkan sang supir memutar lagu klasik prancis kesukaanya. La vie en rose versi original yang dinyanyikan oleh Edith Piaf dalam bahasa Prancis. Diplomat tua itu fasih menyanyikan lagu dengan aksen prancis yang sangat baik.

"Jones, apa kau tau lagu ini?"

"Maaf pak. Saya tidak tau."

Sang supir berbadan tegap yang bernama Jones ini menjawab dengan lugas. Meskipun selama ini lagu ini terus diputar berulang-ulang. Jones tidak tertarik dan tidak begitu menikmati lagu nya.

"Ini lagu klasik yang diciptakan pada tahun 1945. Namun baru populer pada tahun 1947 yang dinyanyikan oleh Edith Piaf. La vie en rose berarti 'Hidup dalam warna yang cerah'. Makna lagu ini penuh dengan energi positif. Lagu ini juga biasa diputar di Prancis, ketika ada kerabat atau kekasih yang pergi. Lagu ini bisa menjadi penguat dikala hati berkabung."

Diplomat tua itu menjelaskan sambil menatap kosong ke jendela mobil.

"Apa perjalanan kita kembali ke Kedutaan lancar?"

"Tidak semacet tadi, Pak."

--

"Aku gatau harus bicara apa, Rama."

Khirana menatapku dengan tidak kalah bingung.

"Ini semua terdengar konyol. Apa kita sedang berada di dalam film? Novel? Atau dongeng? Aku gak ngerti."

"Kamu gak lagi bercanda, kan, Rama?"

"Khirana--"

"Oke, oke, sorry. Aku percaya sama apa yang kamu ceritain Rama. Ini semua memang gak masuk akal."

"Tadi pagi aku baru mau cari tau tentang lagu itu. Tapi kuota ku mendadak habis. Dan Luna tiba-tiba aja muncul dan nanyi lagu itu. Bahkan dia mengenakan pakaian yang percis sama kayak di mimpi yang pertama. Dan dia menangis. Kalaupun ini kebetulan? Ini kebetulan yang sempurna!"

Aku berbicara cepat dan sedikit kehilangan kontrol atas diriku sendiri.

"Rama--"

Khirana menggenggam tanganku dan membawaku pergi dari kantin mengharu biru. Kantin fakultas nya yang semakin ramai.

"Ki- ki- ta mau kemana?"
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Huruf-huruf Konsonan

Khirana berjalan agak cepat, dengan kaki menjinjit, langkahnya riang seperti anak kecil. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, tentang alasan mengapa tiba-tiba ia membawaku ke sebuah mall. Kalimat-kalimat pertanyaanku yang bertubi-tubi ku arahkan padanya, sama sekali tidak digubris. Tak lama kami sampai di lantai 3, kami berada di sebuah wahana bermain yang dipenuhi oleh orang tua yang membawa anak nya yang masih kecil, remaja beserta geng-geng nya, dan banyak pula pasangan kekasih yang selalu berpegangan tangan. Khirana menukarkan rupiah nya dengan sebuah kartu. Lalu kami menuju wahana bermain melempar bola basket. Permainan yang tidak pernah mati.

"Kamu gak main, Rama?"

"Aku jadi penonton aja. Kita ngapain, sih, kesini? Kamu buat kepalaku makin pelik."

"Hmm iyaudah, selamat jadi penonton yang baik, Rama!"

Ia berkedip setengah genit. Tumben sekali.

Sudah 3 kali ia bermain memasukan bola basket ke keranjangnya. Dan sepertinya, masih akan terus bertambah. Aku tebak, ia akan menghabiskan saldo kartu nya hanya untuk di permainan ini.

"Rama?"

Sambil tetap bermain, ia bersuara dengan intonasi yang lembut namun dalam.

"Dulu, waktu aku masih kecil, Papa pasti ajak aku ke mall dan main ini. Di setiap moment, entah lagi dapat ranking di kelas atau kalau lagi sedih."

"Papa kamu yang di Jogja?"

"Bukan. Itu papa tiri aku. Yang aku maksud itu Papa kandungku Rama."

"Kamu belum pernah cerita soal itu."

"Karena baru sekarang saatnya aku cerita, hehe."

"Aku masih belum paham."

"Suatu saat, cepat atau lambat, aku bakalan ikut Papa."

Suaranya menjadi sedikit lirih.

"Memang Papa kamu sekarang dimana?"

Khirana langsung menatapku. Tatapanya jujur dan penuh akan kasih sayang, atau mungkin, kerinduan.

"Papa sekarang pasti lagi keliling dunia Rama. Ke-li-ling-du-ni-a."

"Khirana—"

"Ohiya Rama—"

Khirana dengan cepat memutus kalimatku. Ia berjalan pelan meninggalkan wahana bermain. Dan tanpa diperintah, aku mengikutinya dari belakang.

"Apa yang udah kamu lakuin tadi pagi, hebat dan manis. Sebagai laki-laki, kamu dapat nilai 100. Dan satu lagi Rama, apa nanti aku boleh kenalan sama Luna?"

"Hah? Kenalan? Tu—tunggu dulu. Aku—"

"Nanti aku kenalan sendiri, Rama. Gak lewat kamu, kok. Oke?"

Ia berkedip lagi, bukan main. Aneh sekali.

Tadi pagi, di kantin kayu

Langkahku terhenti, waktu membeku. Sekali lagi, kelabu. Degupan jantungku semakin memburu nafas yang semakin sulit di hembuskan. Tapi kata Chairil Anwar,

Kali ini penghabisan!

Aku berbalik badan, Luna masih tetap diam menatap langit. Dengan headset yang masih terpasang di kedua telinganya, ia semakin magis bila tak sadar sedang diperhatikan. Diperhatikan dari jarak beberapa meter. Langkah kaki ku gontai seperti ada sesuatu yang membeban. Tak ada siapa-siapa. Hanya kita. Rama dan Luna.

Ku sentuh pelan pundak nya, sisa hujan di cardigan nya masih terasa. Aku terus berdoa aku akan terbiasa dengan ini semua. Dengan segala ketakutan dan kekakuan yang ada.

"Boleh duduk disini?"

Suaraku bergetar, sinkron dengan jantung, selaras dengan jiwa.

Luna melepas sepasang headset nya dan mengangguk pelan. Sekilas kulihat ia menggigit bibir nya.

Sekarang utuh sudah. Kami berdua terjebak di situasi canggung yang membingungkan. Antara apa dengan siapa, atau sebaliknya, siapa dengan apa. Lama tak ada suara yang keluar dari mulutku. Hanya suara hujan yang perlahan mereda. Kami berdua duduk tegap, mata kami fokus ke depan. Layaknya robot, kami kaku sekaku-kakunya. Aku sadar yang kubutuhkan sekarang adalah sebuah intro. Ya benar, sebuah permulaan.

"uhmmm... nama kamu, Luna, kan?"

Ku mulai intro ku dengan sebuah basa-basi murahan. Aku menoleh ke arahnya. Meskipun leher ku terasa berat, seperti ada baut yang menahan. Aku memaksa dengan segala paksaan yang ada.

Luna menoleh, ia mengangguk pelan. Ujung bibir nya yang tipis sedikit mengeluarkan senyum.

Takan selamanya

Kau kubiarkan sekedar menjadi teka-teki di kepalaku

Takan selamanya

Aku menjadi pengagum bodohmu

Takan kubiarkan

Kau sekedar menjadi korban dari gugusan imaji-imajiku

Sebab kini kamu akan mengenalku

Sebab kini kuperkenalkan diriku

Yang entah bagaimana, aku setengah mati mendambakanmu

"Kenalin, aku Rama. Rama Dihalmahera, Hubungan Internasional. Semester awal."

"Luna, Luna Defiana. Ilkom."

Aku akan mengingat moment ini sampai kapanpun, moment dimana aku memberanikan memperkenalkan diri, dan kami berdua berjabat tangan. Tak pernah ada hal yang sederhana di balik terbit nya sebuah rasa. Tak ada yang sederhana. Tak pernah ada.

"La Vie En Rose, ya?"

"Hah? Oh yang tadi. Hehe iya, La Vie En Rose. Suka juga?"

Entah bagaimana menjelaskanya, aku rasa akan terdengar aneh bila kukatakan bahwa aku mengetahui lagu itu dari dirimu yang lain. Yang sampai sekarang belum sepenuhnya kumengerti. Belum seluruhnya kupahami. Luna, kamu adalah susunan puzzle yang berhamburan. Perlu ada sebuah penjelasan yang rasional tentang kamu, dan dirimu yang lain. Tentang aku, yang ingin menapaki misteri hidupmu.

"Uhmm.... i—i—iya suka. Kebetulan juga suka."

Luna mengangguk kemudian kembali menatap ke depan. Lagi, ia menggigit bibir nya.

"Kenapa kamu suka lagu itu, Lun?"

Tarikan nafas Luna terdengar.

"Karena...lagu itu—"

Kata-kata nya terhenti. Ia pamit pergi.

"Rama, aku duluan, ya? Aku ada kelas."

Luna pergi dengan cepat, meninggalkanku yang tak ada pilihan lain selain bernafas lega karna telah mampu mencapai di titik ini dan sekaligus semakin bertanya tentang sikap Luna terhadap La Vie En Rose. Kupikir, hidup memang seringkali begini, semakin dalam aku mencoba mencari jawaban, semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan baru yang kutemukan. Kupikir, Luna laksana samudra yang dalam, yang bilamana kuselam, cahaya matahari semakin redup menembus kegelapan.

Aku tau!

Secercah sinar matahari itu adalah dirimu yang lain

Dirimu yang menguasai dimensi-dimensi tak bertepi

Setidaknya, dia yang akan menuntun ku menyelami kedalaman hatimu

Bukan begitu, Luna?

Aku bangkit dari kursi, mengejar Luna yang berlari kecil menghindari hujan lebat yang kini tinggal gerimis.

Entah apa yang kukejar

Entah siapa sebenarnya dirimu yang berlari menghindar

Bilasaja esok takan lagi ada

Ku terjang pagi ini untuk membunuh takut dan ragu yang membingkai

Anggap saja aku orang asing yang aneh

Yang pernah mengintip cerita hidupmu walau sebentar

Kan kuceritakan semua

Kan kubuktikan saat ini juga

Bilasaja esok takan lagi ada

Maka hujan di pagi ini adalah dunia kita

Dan kau, Luna

Kau pemeran utamanya

"Luna, tunggu!"

Di bawah kegenitan gerimis

Kini semua seperti bersiul menggoda kita

Bak adegan telenovela

Kau pencipta dari segala kata-ku yang ada

"Iya?"

"Luna, aku tau ini mungkin kedengaran aneh. Tapi, aku tau kalo kamu selalu dengerin La Vie En Rose dari SMA, di bangku paling depan, kamu duduk sendirian. Aku juga tau kalau waktu SMP, kamu pernah datang ke acara ulang tahun teman kamu. Dan kamu lari pulang dalam keadaan sedih—"

Kalimatku terucap dengan cepat, mataku horizontal mengunci matanya. Suatu keberanian yang entah datang darimana. Karena adrenalin, nafasku ikut tersengal. Aku melanjutkan kalimatku.

"Aku—aku juga tau kalau waktu kamu SD, kamu pernah ikut paduan suara. Waktu umur kamu baru sekitar 5 tahun, kamu main sendirian di rumah kosong di sebelah rumah kamu."

Luna meliahtku dengan beribu persepsi.

Maaf Luna

Aku tidak bermaksud menusuk mu dengan pedang kebingungan

Aku menusuk mu dengan pedang pengakuan

Jangankan dirimu

Aku juga dilumuri darah segar kegamangan

Di detik itu juga, kita adalah susunan huruf-huruf konsonan. Terhapus sudah interval waktu yang memisahkan. Aku merasa kita berjalan di gelombang frekuensi yang sama. Sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan. Aku mohon dengan segala permohonan, katakanlah sesuatu, agar aku yakin, bahwa pertemuan kita sejatinya bukanlah sebuah kebetulan. Aku mohon, Luna.

"Sorry, aku ada kelas."

"Aku boleh minta kontak mu, Luna?!"

Dengan cepat aku menghadangnya. Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Luna menggeleng dan matanya menyipit, penuh curiga. Dan dengan tidak kalah cepat, Luna kembali berlari kecil.

"Aku bakal cari kontak mu, bagaimanapun caranya! Dan aku bakal telusurin jejak-jejak hidupmu, apapun konsekuensi nya!"

Aku setengah berteriak. Luna sempat berhenti sejenak, lalu kembali mempercepat langkanya.

---

"Rama... Aku..."

Di depan cermin besar di kamar kost nya, Khirana nampak cantik dengan piyama biru nya. Handphone yang ditaruh di depanya, tergeletak tak berdaya. Beberapa kali notif dari banyak laki-laki masuk ke handphone nya. Khirana tak berselera, hambar tak ada rasa. Lama ia memandang wajahnya sendiri, tak bisa dipungkiri, bahkan baginya sendiri, ia memang manis.

"Luna Defiana, ya?"

Dia berbicara sendiri, ada hal yang mendistraksi pikiranya. Barangkali—

"Barangkali... sesuatu yang terasa memang lebih baik di simpan baik-baik. Ya, kan, Rama?"
profile-picture
profile-picture
andrian0509 dan echariemas memberi reputasi

Bulan Dan Kelinci

Khirana memarkirkan motornya di parkiran Fakultas Ilmu Politik. Pagi itu ia mengenakan hoodie berwarna putih. Ia tidak tau harus mulai mencari dari mana, kontur Fakultas FISIP menanjak ke atas, mata Khirana mawas memperhatikan orang-orang. 2 hal yang akan ia lakukan hari ini adalah; Mencari seseorang dan jangan sampai bertemu dengan seseorang. Sesuatu yang ia sendiri tak yakin, tapi nekat nya telah mengalahkan tekad nya yang mungkin hanya 60%. Ia berjalan pelan menaiki tangga menuju gedung-gedung teori, kepala dan matanya fokus memperhatikan sekitar. Ketika melewati kelas-kelas yang sedang melangsungkan mata kuliah, ia mengintip dari jendela. Begitu seterusnya.

"Aku lupa, aku gaktau orangnya yang mana."

Khirana tersadar dan merasa geli dengan dirinya sendiri. Ia tertawa pelan.

"Permisi mas, boleh nanya gak?"

"Iya?"

"Tau yang namanya, Luna Defiana? Ilmu Komunikasi semester awal?"

"Oh kurang tau, mbak."

Di setiap ada mahasiswa laki-laki yang berkumpul, Khirana selalu menyempatkan bertanya, Khirana pikir, Luna pasti cukup populer di fakultas nya. Walaupun sejauh ini nihil, malah tak jarang Khirana digoda dengan bercanda saat berinteraksi dengan orang-orang yang ditanyainya.

"Khiranaaaaaaa!!!!!"

Teriakan kencang dari arah belakang mengagetkan Khirana. Ia menoleh.

"Randy? Aduh kenapa musti ketemu dia, sih?"

Dengan sekejap Khirana mengambil langkah seribu, ia berjalan cepat menghindari Randy.

Khirana telah mengenal Randy cukup baik. Saat itu Rama yang mengenalkanya dengan Khirana, dan sudah beberapa kali mereka jalan bertiga. Randy adalah satu-satunya teman yang Khirana tau adalah teman dekat Rama.

Ketidaktauan Khirana akan denah kampus, membuat misi penyelamatan dirinya berantakan. Dari jauh Randy masih terlihat mengejar nya. Di salah satu lorong kampus, Khirana melihat Rama berjalan dari depan. Dengan sigap dan dipenuhi kepanikan, Khirana langsung memasuki kelas yang berada tepat di sebelahnya. Kelas yang dipenuhi oleh mahasiswa, dan ada dosen yang mengajar. Setelah sadar dengan keadaan, bahwasanya ia telah menjadi pusat perhatian seisi kelas. Raut wajah dosen yang melihatnya terlihat tidak terlalu bersahabat. Sontak Khirana langsung duduk di salah satu bangku bersama seorang mahasiswi. Kini Khirana malah terjebak dalam situasi yang diluar prediksi nya. Kini ia malah menjadi mahasiswi tingkat atas yang di mata seisi kelas sedang mengulang mata kuliah.

Kenapa jadi, gini?!

Ia membatin kesal.

Dengan bersabar dan menunggu sekitar 15-20 menit, Khirana sebenarnya bisa saja beralasan ingin ke WC dan kemudian tidak kembali lagi. Tapi entah apa yang menahanya. Sesuatu yang sulit di jabarkan. Ada yang memerintahkanya, sesuatu yang mendekam di dalam dirinya, intuisinya.

3 Jam sebelumnya

Suara musik dari Paramore – Decode, berdering dan bergetar kencang dari alarm ponsel yang berada dekat di kepalanya. Rambutnya yang panjang sedikit kusut, mata nya memejam dan membuka seperti sedang berirama, ia mulai mencoba mengumpulkan segenap nyawa nya yang masih mengambang. Pukul setengah 6 pagi, Luna terbangun dan duduk, urung beranjak berdiri. Hari ini ada kelas pagi, Luna akan bersiap, setiap hari ia selalu bangun pagi, entah saat libur atau hari-hari kuliah. Suatu kebiasaan yang ditanamkan dari kecil oleh ibunya.
Baju tidur berwarna hitam dengan corak bunga mawar yang hanya bertali satu dan diatas lutut membuatnya anggun. Bahkan saat bangun tidur. Di depan kaca besar di dalam kamar mandi, ia melepas baju tidur nya. Kini tak sehelai benang pun memeluk tubuh nya. Ia bisa merasakan desah nafas nya sendiri, teratur dan tenang. Sepilas detik Luna menatap matanya sendiri dengan tajam. Bola mata yang bisa membunuh.

Di depan cermin, rambutnya yang panjang dan lurus dibiarkan tergerai jatuh dan membelai bahunya yang putih.

"So, This is La Vie En Rose?"

"I don't think so."

"I only live in my dreams."

Setelah selesai bersiap, Luna menunggu Dewi teman akrab di kelasnya untuk menjemputnya. Kost nya yang tak jauh dari kampus mengantarkanya sampai hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Dan saat sudah memasuki kelas, beberapa teman laki-laki yang duduk terpisah dibelakangnya diam-diam selalu melihat Luna. Pikiran mereka berimajinasi bisa mendapatkan hatinya. Ada yang hanya memendam, ada yang bercerita kepada temannya yang kemudian tersebar dalam satu kelas, ada pula yang gigih mencoba, meski Luna tidak memberikan respon.Luna duduk di bangku paling depan sendirian. Dewi duduk di belakangnya bersama temannya. Tak lama, dosen pun datang. Namun, ada suatu perasaan aneh yang mengganggunya. Entah apa. Yang jelas, ia mengerti bahwa saat ini intuisi nya sedang bekerja.

Ia fokus mendengar dan memperhatikan dosen bicara. Dan tiba-tiba saja ada seorang wanita yang masuk ke kelasnya dengan tergesa-gesa dan bersembunyi di balik pintu masuk. Seperti orang yang dikejar hantu, wanita itu keringatan, Luna melihatnya tanpa menerka ada apa denganya. Sejurus kemudian, wanita yang mengenakan hoodie berwarna putih itu duduk di sebelah Luna. Wanita itu adalah Khirana. Seorang yang belum pernah bertemu denganya. Wanita yang saat ini sedang mencarinya.

Sesungguhnya Tuhan tidak pernah menciptakan yang namanya kebetulan

Dan karna itu, maka tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini

Yang ada hanya untaian takdir

Yang kadang entah kenapa, bisa tiba-tiba saja hadir

Mereka berdua memperhatikan dosen menjelaskan. 1 jam berlalu, Khirana diam memperhatikan, meski di dalam kepalanya tetap berkecamuk tentang yang mana yang namanya Luna Defiana. Sementara Luna yang duduk di sebelahnya, sibuk mencatat.

"Saya permisi ke ruangan saya sebentar."

Dengan memegang sebuah buku, dosen itu pergi meninggalkan kelas.

Suasana kelas yang tadinya hening... mendadak menjadi riuh.

Apa kesempatan yang sungguh baik itu dimanfaatkan Khirana untuk pergi dari kelas? Yang sementara alasan mengapa ia terjebak di kelas itu adalah karna mencari orang yang sedang duduk di sebelahnya. Beruntunglah orang-orang yang memliki intuisi yang tajam. Khirana pelan-pelan menyadari, bahwa orang yang dicarinya sudah dekat. Tapi entah dimana. Ia tak pernah tau wajah Luna.

Bulan dan kelinci. Luna dan Khirana adalah dua orang wanita yang memainkan peranan penting dalam arus jiwa seorang Rama Dihalmahera. Sejatinya, mereka bertiga adalah jiwa-jiwa yang retak, menjadikanya terlalu gelap karna kabut. Sayangnya, tak banyak yang bisa dijelaskan tentang Luna. Biarlah nanti, ia sendiri yang berbicara. Sebab ada satu kerumitan didalam dirinya, hingga semesta ikut hadir menyaksikan mereka. Siapa yang datang? Siapa yang pergi? Siapa yang kembali? Siapa yang pergi, dan takan pernah kembali lagi? Entah siapa, tapi, semoga saja tidak ada. Begitu semesta berbaik sangka.

Khirana memperhatikan suasana kelas, beserta wajah-wajah nya. Tak satupun yang ia kenali. Lalu matanya terhenti tepat di sebelah ia duduk. Wanita yang melamun menopang dagu, dengan sebuah pulpen yang terselip diantara jemarinya. Rambutnya hitam panjang dan lurus, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Khirana mengakui, wanita yang duduk di sebelahnya memilki inner beauty yang kuat. Yang bisa membuat wanita lain merasa terintimidasi. Yang bisa membuat laki-laki tak punya alasan untuk tidak mencintainya.

Luna juga mengenakan baju berwarna putih, yang berbeda hanyalah, Khirana menggunakan hoodie, sedangkan Luna mengenakan kemeja putih yang lenganya digulung. Tanpa sadar, Khirana termangu menlihat Luna. Ia cukup kaget saat Luna menoleh ke arahnya. Tak tau harus apa, Khirana memberikan senyum yang ramah. Dan Luna pun tersenyum kecil. Mereka berdua memliki senyuman yang tulus. Senyuman manusia yang lelah dan ingin tidur yang lama.

"Hai, kenalin, Khirana. Khirana Shandya."

Khirana mengulurkan tanganya.

"Luna. Luna Defiana."

Mereka bersalaman. Dan Khirana? Ia terdiam.

"Kenapa?"

"Eh, nggak, nggak kenapa-napa hehehe."

Luna kembali melanjutkan mencatat. Kini suasana menjadi hening untuk Khirana.

Ada detik yang berhenti saat mereka berdua beradu tatap.

Matanya, matanya seperti pedang yang terhunus

Khirana berkata dalam hati.

Pantas saja kalau Rama seperti orang yang berdarah-darah saat bercerita tentang Luna

Kini aku tau, rasanya sekarat

Khirana beranjak dari kursinya dan langsung pergi keluar kelas. Ia menuju parkiran. Ia akan pergi.

"Khiranaa!!! Kamu kemana tadi? Aku panggil sombong banget."

Randy yang akhirnya menemukan Khirana, agak kesulitan mengimbangi Khirana yang berjalan dengan cepat.

"Woi! Khirana? Kamu kenapa?"

Khirana tak menggubris. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi. Itu saja. Di turunan tangga terakhir, Khirana dan Randy yang terus mengikuti langkah cepat Khirana bertemu Rama yang saat itu akan menaiki tangga.

"Loh, Khirana? Kamu ngapain disini?"

Khirana berhenti, pun Randy. Randy mengangkat bahu nya saat Rama melihat ke arahnya. Sebuah kode yang mengatakan bahwa Randy juga tidak mengetahui apa-apa.

"Aku capek. Aku duluan."

Khirana berkata datar dan dingin.

"Kamu sakit?"

Aku gak sakit, aku cuma mau pulang, Rama

Khirana tak memberikan jawaban. Ia lalu kembali berjalan menjuju parkiran. Randy yang akan kembali bertanya diminta Rama untuk diam. Rama memperhatikan Khirana yang berjalan cepat dan kemudian pergi dengan motornya.

"Dia kenapa, sih? Kok jadi aneh, gitu? Gak kayak biasanya."

Rama pergi meninggalkan Randy sendiri, juga tanpa berkata apa-apa.

"Rama! Kamu mau kemana?"

"Lah, malah diam, juga. Ini ada apa, sih?!"

Randy bingung sendiri.

Di kelas, Luna mengambil sebuah buku catatan kecil berwarna hitam dari tas nya. Ia menulis sesuatu;

Di ujung dermaga
fatamorgana hadir menjelma ilusi
menatap sanubari yang tenggelam bersama bumi dan seisinya
hilang dan mati
ditelan mentah-mentah oleh waktu yang abadi
maaf,
puspa rasa harus pergi.

-Dari saya, untuk, entah siapa

Luna Defi-ana
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Dewi Bulan

Jakarta

Paman Tom berjalan tergesa-gesa di lorong kantornya. Ia telah ditunggu oleh seseorang di ruangan kerjanya. Staf nya mengatakan ada seorang yang mengaku sebagai aktivis lingkungan internasional yang ingin bertemu dan telah membuat janji.

"Selamat pagi. Maaf menunggu."

Suara paman Tom menggema di ruanganya saat ia membuka pintu.

"You late, Tom."

Pria tua yang mengenakan pakaian safari berwarna coklat dipadu dengan jeans biru dan sepatu boat hitam itu santai menjawab. Duduk menyilang kaki di sofa.

"Welcome to Indonesia. Tadi aku terjebak macet."

"Aku dengar, itu alasan yang cukup ampuh di negara ini, benarkah?"

"Cukup ampuh, tapi terlalu murahan.
Kau tidak cocok menjadi aktivis lingkungan, Benjamin."
Paman Tom mendilik dari atas sampai bawah.

"Oh ayolah, aku arkeolog dan ilmuwan terbaik di Persaudaraan. Tidak perlu mengomentari cover ku, Tom."

Pria yang bernama Benjamin itu mendengus kesal.
"Kau sudah bertemu dengan Peter?"

"Ya. Beberapa minggu yang lalu dia ke Jakarta. Sekarang dia berada di Islamabad."

"Sialan orang tua itu! Harusnya dia meloby Tel Aviv untuk menyerahkan transkip dokumen kuno itu."

"Dia sudah mendapatkan transkrip nya. Aku sudah membacanya."

"Benarkah?!"

Benjamin mendongkakan tubuhnya kedepan.

"Apa ini semua mungkin?"

"Secara teoritis, Einstein mengatakan probabilitasnya cukup besar, Tom. Tapi ilmu pengetahuan belum mampu menjamahnya. Karna itu kita perlu kembali ke zaman Solomon."

"Jelaskan padaku."

"Kau meminta penjelasan atas dasar profesiku, Tom?  Hahaha baiklah. Begini Tom..."

Samarinda

Sore hari, aku memutuskan untuk menemui Khirana di kostnya. Berharap ia akan bercerita tentang apa yang dialaminya.

'Aku di depan kost mu. Keluarlah.'

Hampir 10 menit,  chat ku tidak di balas. Aku mencoba bersabar. Tak terasa,  sudah hampir satu jam aku menunggu. Sialan.

'Mau ngapain?'
Kirana membalas.

'Gaktau.'

'Oke! Jawaban yang bagus,  tuan. Kalau gitu aku keluar.'

Dengan tampang malas,  rambut kusut,  dan raut kisut, Khirana menghampiriku.

"Everything is fine, nona? "
Tanyaku dengan agak menggoda.

"Menurut situ?"

"You look like a shit, madam. Keluar, yuk?"

Ia mengangguk pelan, dan langsung beranjak kembali masuk ke kostnya.

"Loh, mau kemana?"

"Emang kamu mau aku jalan pake kaos dan celana pendek begini? Ha?"
Matanya melotot menatapku galak. Lucu juga.

Di sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku bingung harus membahas apa,  sedikit banyak, kejadian tadi pagi membuat kami kikuk.

"Ke tepian aja,  yuk?"

Aku tak menjawab,  langsung ku arahkan motorku menuju tepi Mahakam. Tepian.

Semburat matahari berwarna jingga hadir memayungi kami. Khirana memesan teh hangat, dan aku memesan kopi hitam murahan kesukaanku.

"Rama?"

"Hm?"

"Tadi pagi aku kenalan sama perempuan itu."

"Perempuan yang katamu di mata nya, kamu bisa ngeliat bulan."

"It's not funny, Khirana."

"I'm not kidding."

Tatapan matanya lurus kedepan. Sementara aku memperhatikan Khirana dengan sungguh.

"Ada satu hal yang pasti dari dia, Rama."

"Tatapan mata paling getir yang pernah kulihat."

Ia menoleh kepadaku. Aku tersenyum dan langsung membuang wajahku ke sembarang arah.

"Mungkin lebih baik kamu  jauhin dia Rama."

Sontak aku menoleh lagi kearahnya, apa yang dia pikirkan? Kemarin dia mengatakan bahwa aku seorang gentleman. Tapi sekarang?

"Sudah terlambat. Aku udah cukup gila jegat dia kemarin. Aku gak ngerti sama kamu."

"Kamu jangan salah paham dulu,  Rama. Dia beda."

"Buat lebih masuk akal, Khirana."

"Aarrghh. Susah jelasinnya. Yang jelas, dia ditakdirkan buat sendiri. Dan, dan kalo kamu sampai nekat? Kamu bakal tergilas sama perasaanmu sendiri. Lebih buruk lagi? Kamu bisa hilang!"

Tawaku pecah membahana jingga di tepian sungai mahakam.

"Takdir? Sejak kapan kamu jadi paranormal?"

Khirana menatapku dengan sebal, aku menertawakan perkataannya yang terlalu fiktif dan fantasi.

"Ini cuma insting seorang perempuan. Kamu boleh anggap ini lelucon. Tapi, jangan pernah raguin insting perempuan, Rama."

Oh lihatlah,  sekarang dia jauh lebih sensitif dan mulai bermain gender. Khirana membuatku semakin terpingkal, aku gemas bukan main. Ingin ku cubit pipinya sampai merah.
Tenang saja,  Khirana. Kalaupun insting mu itu suatu saat bukan bualan. Aku mungkin saja akan tetap memaksa. Semua hal butuh resiko, kan? Termasuk hilang yang kau maksud. Oh lihatlah, Luna. Kau baru saja membuat temanku yang manis ini membuatku berpikiran aneh.

__

Benjamin, seorang pria asal Amerika berdarah Yahudi dari ibunya nampak serius menjelaskan. Gestur tubuhnya menggambarkan bahwa ia memang seorang profesional. Bukan sebagai aktivis lingkungan, melainkan seorang arkeolog dan ilmuwan.

"Ini bermula dari sebuah legenda, Tom."
Suasana mendadak lengang.

"Mitologi dari seluruh dunia, dan bahkan beberapa diantaranya menjadi dogma di beberapa agama. Dalam banyak versi, Diceritakan bahwasanya bulan adalah jelmaan seorang Dewi. Kita sepakat,  bahwa segala hal di dunia ini, bergerak atas dasar energi. Baik yang terlihat, maupun yang tidak. Energi dari yang terkecil sampai yang terbesar. Energi memiliki pola,  tergantung seberapa besar materi nya. Soal bulan? Siapapun tau, bahwa salah satu hasil dari energi nya adalah mempengaruhi gelombang-gelombang laut. "

Paman Tom serius menyimak penjelasan Benjamin.

"Karna besar nya energi bulan, masyarakat kuno pada waktu itu mengabadikan nya lewat banyak peninggalan, baik relief maupun suatu ritual pemujaan."

"Bulan akan menghasilkan energi terbesarnya ketika purnama. Dan tepat saat posisi nya sejajar dengan bumi dan matahari, Sang Dewi 'turun' ke bumi dalam wujud yang lain."

"Ben, entahlah."

"Tom! Organisasi kita berdiri karna kita berhasil berhubungan dengan Tuan Omega. Dan kau tau betul masalah metafisika bukan hal yang baru untuk kita."

Perkataan Benjamin membungkam protes Paman Tom.

"Aku akan lanjutkan. Ada beberapa pertapa dan pendeta yang berhasil menjalin kontak dengan Dewi Bulan ribuan tahun yang lalu. Kemudian peradaban manusia menjuluki sang Dewi dengan banyak nama."

"Suku Afrika menyebutnya Mawu. Di China, ia dijuluki Heng O, kitab Veda menamai nya Dewi Soma. Sementara Yunani Kuno, mengenalnya dengan sebutan Luna."

"Kita harus menemukan dia, Tom. Harus!"

"Siapa yang kau maksud?"

"Dewi Bulan."

Benjamin menatap serius. Sorot matanya tak main-main.

--

"Luna?"

Luna menoleh saat namanya kupanggil. Hanya sekilas, dan kemudian pergi bersama seorang temanya.

"Itu siapa, Lun?"

Luna tidak menjawab, ia meraih tangan temanya dan mempercepat langkahnya. Berita buruknya, aku malah mengejarnya. Sejak tadi malam aku tertimpa longsoran perasaan yang aneh. Perasaan ingin lekas segera bertemu.
Langkah kami beradu, Luna berjalan cepat, seperti melihat hantu. Aku kasihan pada temanya, menjadi benteng asing diantara penyuka dan yang disuka.

Bukan begini
Bukan begini caranya, Rama

Aku berhenti. Lantas sedikit berteriak.

"Aku bukan hantu, Lun!"

"Aku orang yang terpaksa harus segila ini, cuma buat bisa kenal sama kamu."

"Ada apa?"

Luna bertanya padaku dengan bingung.
Aku berusaha mendekat agar kami tidak menjadi bahan pembicaraan.

"Aku mau bicara sama kamu. Sebentar."

Luna melirik ke temannya.
Sebuah anggukan kecil dari temannya menambah keberanian dari Luna.
Ini bisa jadi adalah sebuah awal, atau malah sebuah akhir tanpa klimaks.
Dan Luna mengangguk ragu, tanda ia setuju. Dan aku mengutuk diri sendiri, yang entah bagaimana seperti bukan diriku yang biasanya.
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Responsibilty

Aku berjalan pelan, beriringan dengan angin lembut yang tiadakan keresahan. Luna mengikuti tepat disampingku. Kami berdua melewati lorong-lorong kampus, beserta manusianya. Entah kemana aku harus mengajaknya bicara, tapi begitulah, sekarang aku dan Luna telah duduk berdua di kantin kayu. Hehe, aku senyam-senyum sendiri. Barangkali, ini adalah hal paling memalukan sekaligus paling manis yang kurasakan.

"Kamu mau minum apa?"

"Hm? Eh? Uhmm, terserah."

Luna menoleh sebentar dan langsung menatap kembali lurus ke depan. Ia sepertinya masih terjebak dalam keraguan, aku tidak tau, apa di dalam hati nya ia akan mengumpat dan mengutuk ku. Orang asing yang setengah gila ini berhasil membawanya pergi, berdua saja. Satu hal lagi, tidak ada kah jawaban lain, selain 'terserah'?

'Enak nya apa, ya?'

'Gimana kalau es jeruk?'

Aku bisa terlihat sedikit seperti laki-laki yang memimpin, setidaknya begitu. Tapi menghadapi jawaban 'terserah' benar-benar bukan sesuatu yang mudah.

"Gimana kalau es jeruk?"

Akhirnya itu juga yang keluar dari mulutku. Kekeringan ide.

"Boleh."

Anggukan nya yang pelan dan mata nya memancing perasaan ku untuk tak ingin menyegerakan hari ini berakhir.
Secangkir kopi hitam dan segelas es jeruk hadir sebagai teman kami.
Tatapannya masih lurus ke depan, kadang ia menopang dagu dengan tangan kanannya.

"Jadi gini, Luna."

Ku pecah hening, sekat tak terlihat. Ia menoleh. Sepilas detik yang pantang untuk dilupa.

"Uhmm, kamu suka warna apa?"

Terserah Rama. Terserah kau.

"Hah?"

“Eh iya, kamu suka warna apa?”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Uhm, hitam sama abu-abu.”

“Bad intro, ya? Pertanyaan konyol.”

Aku menunduk dan mendesis pelan. Tolol.

“Kamu kenapa?”

Luna bertanya dengan sedikit senyum. Apa ia iba? Maaf Luna, laki-laki di sebelahmu ini memang tidak bisa menyembunyikan kikuk nya.

“Ehem...”

“Apa yang mau kamu bicarain?”

Ia membenarkan duduknya, sedikit menyamping, menatap ku lurus, penuh selidik. Baiklah, mungkin aku memang tidak terlalu berbakat berbasa-basi. Ku balas mata nya, dengan mata. Ku teguhkan perasaanku, ayo, kuatlah sedikit, semua tindakan bodohku belakangan ini harus terbayar dengan sebuah jawaban.

“Beberapa hari yang lalu, aku—“

“Kamu tau darimana soal kemarin?”

Belum selesai aku menjawab, Luna memotong, lagi, dengan lebih selidik.

“Eh maksudnya?”

“Iya, kemarin waktu kamu jegat aku, dan dengan segala kenekatanmu, dari mana kamu bisa tau tentang kehidupanku? Dari aku SD yang ikut paduan suara, SMP aku datang di acara ulang tahun teman aku, dan waktu aku SMA.”

“Apa kita pernah kenal sebelumnya? Atau—“

“Atau apa?”

Kali ini aku yang berbalik penuh selidik.
Luna menggeleng.

Tunggu. Tunggu sebentar, biar kurunut lagi semuanya. Pelan-pelan.

Ini bermula dari kamu bertanya padaku kan?

Di pertemuan yang mungkin bagi mu sekedar angin lewat?

Aku membingkai hari itu dengan bingkai yang paling sederhana namun penuh kesan

Pada hari itu

Aku tau, kalau kamu perempuan pemalu yang selalu hadir dikala petang mulai pergi dengan perlahan

Hadir dikala malam

Karna di matamu

Aku bersumpah atas nama ibuku

Karna di matamu aku melihat bulan
Temaram

Sinarnya redup,

Sungguh temaram

“Es jeruk nya kok gak diminum, Lun?”

“Jawab dulu pertanyaanku. Kamu tau dari mana?”

Kemudian aku terus memikirkanmu, Luna

Aku terus menunggu di setiap sudut kampus

Namun saat yang ditunggu muncul dengan segala hingar bingar anggun yang pelan?

Aku tak pelak seperti batu yang diam

Yang terkutuk tanpa bisa bicara

Luna,

Aku...

Kuminum seteguk kopi ku yang sudah tidak panas seperti minum air putih. Aku perlu energi lebih. Luna masih menunggu penjelasan keluar dari mulutku.

“Aku tau itu semua dari mimpi.”

Mata nya menyipit, sedikit gelengan kepala mungkin menambah keyakinanya , kalau ia sedang bersama orang gila.

“Kamu salah suka sama aku, Rama.”

Suara nya memelan, kali ini ia yang tertunduk. 1 sama.

“Sebagai perempuan, aku udah tau, kalau kamu mungkin aja kayak laki-laki yang lain, lagi berusaha buat kenal lebih dekat sama aku.”

“Tenang, Rama. Aku percaya sama jawaban kamu.”

Luna tersenyum. Hangat.

“Kamu ketemu dia, ya?”

“Dia siapa?”

“Yang wajah nya mirip aku?”

Deg! Jantungku berdegup. Lututku lemas. Mataku mendadak sayup.

--

Di Purnama yang ribuan kalinya
Atas izin Sang Pemilik tata surya, dia mulai mengambil wujud seorang perempuan. Siklus yang terus berulang, hingga menjadi semacam kutukan.

Sementara itu, di bumi, tepat pada tanggal 13 Februari, dikala purnama sedang benderang, suara tangis bayi pecah di sebuah rumah sakit. Seorang bayi perempuan telah lahir dalam keadaan prematur, namun tangisan nya yang kencang membuatnya seperti bayi yang sehat.

Di belahan bumi yang lain, di sebuah kuil kuno. Sekelompok orang yang mengenakan jubah berwarna putih berdiri melingkar, dipimpin oleh salah satu orang yang membaca mantra-mantra. Mereka khidmat memejam mata.

“Dia sudah lahir.”

Pemimpin kelompok itu berbicara dengan suara yang dalam.

“Kemana dia akan berlabuh?”

“Ke arah timur!”

Dia, yang kini telah sempurna berwujud seorang perempuan cantik, melesat dalam kecepatan seperti bintang, menuju bumi. Dari bawah, manusia hari itu menyaksikan bintang jatuh yang ekor cahayanya sangat terang, nyaris seperti komet.

--

“Kenapa? Kenapa aku salah kalau memang aku suka sama kamu?!”

Luna kembali menggeleng.

“Apa? Jawab? Ini gila! Kenapa semua nya jadi gak normal begini?”

“Oke, oke! Kalau memang konsekuensi suka sama kamu, harus ngelewatin narasi-narasi yang gak logis? Kasih aku kesempatan buat ikutin jalan ceritanya!”

“Aku anter kamu pulang, besok aku jemput, nanti aku hubungin, aku udah punya kontakmu dari kemarin.”

Aku lekas mengambil tas ku, membayar minuman, kemudian menarik tangan Luna. Membawanya menuju parkiran, kemudian mengantarkanya pulang. Baik. Biar kuperankan ini dengan baik. Aku menggenggam tanganya erat. Persetan dilihat orang-orang. Persetan.

--

‘Aku minta maaf.’

Sebuah chat dariku kukirim kepada Khirana.

‘Untuk apa?’

‘Kamu bener soal, Luna. Ada yang aneh.’

‘Are you ok?’

‘i’m not ok. I’m fucked up.’

‘Mau ketemu?’

‘5 menit lagi aku jemput.’

-

Tampangku kusut, Khirana beberapa kali mencoba melempar lelucon yang kubalas dengan senyum kecut. Aku harus memulai ini.

“Well, kamu memang bener-bener yang ternekat diantara laki-laki yang ternekat buat perasaanya.”

Khirana menggenggam tanganku. Lantas ia berucap,

“Satu hal yang bakalan buat aku sedih, aku gakbisa nemenin kamu lebih lama, Rama.”

Mataku melotot, apalagi sekarang?

“Apa maksudmu?”

“Hahaha aku bercanda! Wajah kamu Rama, wajah kamu bener-bener khawatir. Kamu takut kehilangan aku ya?”

Khirana terpingkal, ia sukses membuatku salah tingkah.

“Sialan. Gak lucu!”

Aku mendengus kesal. Khirana semakin terpingkal.

“Iya, iya, maaf. Back to the Luna. Nah Rama! Keputusan sudah kamu ambil, sekarang, sebagai laki-laki, aku julukin, ‘si penekat’ deh, ya?”

“Terserah. And then?”

“And then what? Take your responsibilty! Laki-laki itu yang dipegang omonganya. Kan kamu sudah tegasin ke Luna, kalau kamu bakalan ikutin jalan ceritanya.”

Khirana memukul-mukul dadaku dengan tangan yang mengepal.

“Just don’t blame yourself. You’re the good one. Aku minta maaf soal saran bodoh kemarin. Aku mungkin juga bakalan bertindak kayak gini, kalau aku jadi kamu, Rama.”

“Khirana, i don’t know”

Ku usap wajahku yang semakin kusut, mataku memerah. Khirana kembali menggenggam tanganku.

“Do you love her?”

Aku bias, tidak menjawab.

“Rama? DO YOU LOVE HER?!”

Genggaman tangan Khirana menguat. Ia mencengkram tanganku menunggu jawaban dariku. Aku masih gagu.

Aku menggeleng. Bingung.

“Yes, you do! Mata kamu sudah jawab. Jawaban yang penuh keyakinan.”

Khirana tersenyum, cengkraman nya semakin kuat. Kulihat, mata nya berkaca-kaca.

“Aku bahkan bisa ngerasain perasaan kamu, Rama.”

Aku tergelak kemudian tertawa.

“Khirana oh Khirana, apa-apaan itu? Darimana kamu tau?”

“Insting perempuan.”

Ia memeluku. Sontak aku kaget dan salah tingkah, tidak tau harus bagaimana.

“Kamu gak salah. Kamu hebat, Rama, kamu hebat.”

Bisikan nya lembut memenuhi telingaku.

“Terimakasih, Khirana.”

Senyum ku getir, sedikit lelehan kelegaan keluar dari mataku.

Luna

Aku...
Aku menyayangimu
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Pemanah Matahari

Hidup itu dinamis, malah terkadang, Tuhan sengaja memberi sedikit sentuhan misteri dalam cerita yang Ia buat. Aku pernah membaca judul buku, "Soal cinta, kita semua pemula." Judul yang harusnya menampar kita semua.

Kost berbentuk rumah berlantai dua itu tampak sepi, pagar nya tertutup rapat. Tak berselang lama, terdengar suara pagar yang dibuka, cukup keras. Luna keluar dengan menggunakan kemeja putih bergaris merah.

Aku yang menunggu di atas motor memberi senyum. Senyum terbaik yang kumiliki di sepanjang hidupku. Luna menyipitkan matanya dan sedikit menggeleng. Ia memakai helm dan kemudian duduk di belakang. Tidak ada percakapan awal.

"Kelar kelas jam berapa?"

"Jam 2 siang."

"Oh, pulang nya sama siapa?"

"Gaktau, paling sama temen."

"Oke."

"Kenapa?"

"Gak apa-apa."

"Luna?"

"Apa?"
Ia sedikit memajukan badan nya, suara angin sedikit mengganggu suaraku.

"Nanti jam 2, jangan langsung pulang. Aku mau ngajak kamu makan es krim."

"Iya, boleh."

"Luna?"

"Apa?"

"Kamu cantik hari ini."

"Kemarin nggak, ya?"

Langsung ku berhentikan laju motorku, aku menepi. Kemudian tertawa di atas motor.

"Kenapa?"
Luna bertanya heran.

"Kamu nanya nya polos banget, Luna."
Aku sedikit membalik badan, raut wajahnya semakin bingung.

"Emang kenapa?"

"Udah udah gak kenapa- napa. Yuk, lanjut."

Kembali kujalankan motorku memasuki area kampus, aku mengintip sedikit dari spion. Kulihat ia tersenyum. Aku terenyuh, teduh sekali.

"Stop, Rama, stop!"
Luna memukul-mukul pundaku.

"Eh, kenapa?"

"Pokoknya stop!"

Aku berhenti lagi, bukan untuk menertawakanya.
Luna bergegas turun dari motor, sedikit berlari menyebrang jalan area kampus yang tidak terlalu ramai.
Dan demi Tuhan, kau tau apa yang dilakukanya? Ia mendadak memaksaku untuk berhenti hanya untuk mengelus seekor kucing jalanan.
Terlintas begitu saja di benaku, tentang mengapa hari ini aku disini, mencintainya. Siapa sebenarnya perempuan yang di setiap malamnya, ku angan untuk bisa mendekap nya dengan penuh ketabahan. Dengan penuh rasa syukur, mengenalnya saja, membuatku merasa sebagai laki-laki paling beruntung di dunia ini. Ah, Luna, siapalah kita, diantara luasnya nya belantara-belantara kerinduan yang sering berakhir sedih di akhir ceritanya. Siapalah kita Luna, siapalah kita....

"Udah?"

Luna menggangguk, bahagia.

"Kamu ada ada aja, Lun. Kirain ada apa tadi."

"Dia kesepian, Rama."

"Hah? Emang kamu tau darimana?"
Aku menertawakan Luna, lagi.

"Insting perempuan."

Aku terdiam. Benar-benar diam.

--

"Kalian harus melacaknya!"

Seorang pria paruh baya yang berpakaian setelan jas hitam dan dasi berwarna merah menodongkan sebuah pistol.

"Peter! Kau tidak perlu melakukanya."

"Diamlah, Tom! Kau urus saja bayi laki-laki itu agar berhenti menangis!"

"Kami tidak akan melakukanya."

"Coba saja sekali lagi. Atau kuhabisi semua keluarga kalian!"

Diantara ketegangan yang terjadi, di kuil kuno itu, suara tangis bayi laki-laki membahana di langit-langit.

"Cepat!"

'Dor! Dor!'

Suara pistol menyalak.

Sekelompok orang berjubah putih kembali membentuk lingkaran. Kembali merapal mantra.

Paman Tom, yang hari itu masih terlihat segar dan jauh lebih muda, menggendong seorang bayi laki-laki yang beberapa hari lalu baru ia adopsi dari sebuah panti asuhan. Yang ia beri nama, Rama Dihalmahera.

"Berikan persembahanya."
Ketua kelompok misterius berkata kepada Tommy.

"Apa yang ingin kalian lakukan? Kalian ingin membunuhnya?"

"Serahkan saja bayi itu, Tom!"
Peter menghardik.

"Tidak, tuan. Bayi itu akan menjadi penghubung kepada dewi bulan. Dia akan kami baptis dengan ritual Yunani kuno. Dia akan menjadi "Pemanah matahari"."

--

"Rama?"

"Iya, Paman?"

"Kau mau paman ceritakan tentang, Dewi Bulan dan Pemanah Matahari?"

Rama mengangguk dengan antusias yang tinggi, ia menaruh kelapa muda yang ia minum. Hari itu, di sebuah pantai di pulau Halmahera, Rama kecil pergi berlibur berdua dengan Paman Tom.

"Pada zaman dahulu kala, hiduplah sebuah pengembara yang kesepian. Pengembara itu menjelajahi dunia dengan memacu kuda nya yang gagah, ia dan kuda nya berlari kencang, bebas!"

"Teruskan, paman, teruskan."

"Pengembara itu memiliki sebuah panah sakti yang bisa membunuh matahari."

"Matahari? Kenapa harus matahari? Kenapa bukan dinosaurus atau monster bermata satu, paman?"

"Karna itu panah sakti, Rama. Pengembara itu pernah mengikuti sebuah sayembara untuk mendapatkan seorang putri yang cantik jelita. Diantara para peserta sayembara, terdapat pangeran dari kerajaan besar, ksatria pemberani, serta pendekar yang hebat. Sedangkan dia, dia hanya seorang pengembara yang ditemani seekor kuda, Rama."

"Memangnya sayembara apa, Paman? Sayembara matematika seperti di sekolah, Rama ya?"

Paman Tom terkekeh mendengar perkataan polos keponakan angkatnya itu.

"Iya, Rama, seperti di sekolahnya Rama. Tapi kali ini bukan sayembara matematika, tapi sayembara memanah!"

"Apa dinosaurus ada, paman? apa mereka memanah dinosaurus?"

"Oh iya, ksatria berhasil memanah dinosaurus! Tapi itu tidak menjadikan mereka sebagai pemenang sayembara Rama."

Paman Tom tersenyum.

"Lalu sang pangeran, mengatakan, "Aku akan memanah gunung!" Dan seketika, 'seett!' Panah itu meluncur sangat cepat! Hancurlah gunung itu!"

"Waaaaaahhhh hebaatttt!!!"
Rama kecil terkagum-kagum.

"Tapi itu tidak membuatnya menjadi pemenang, Rama."

"Loh kenapa, paman? Bukanya memanah gunung dan langsung hancur itu hebat, ya? Kayak sinar nya ultraman! Wuuussshh!"

Rama kecil lihai memeragakan.

"Memanah gunung itu memang hebat, Rama. Tapi yang menjadi pemenang adalah pemgembara yang kesepian itu. Kau tau apa yang dia panah?"

"Matahari! Eh, tapi Rama gak ngerti, paman."

"Iya, Rama memang pinter! Jadi, setelah semua peserta menunjukan kemampuanya, tibalah giliran sang pengembara yang kesepian itu. Ia berkata, "Aku akan memanah matahari!" Dan semua orang menertawakanya."

"Teruskan, paman!"

"Lalu pengembara kesepian itu memasang kua-kuda, ia bersiap, sejenak ia memejamkan matanya. Lalu ia mengambil sebilah panah dari pundaknya, ia kuatkan genggaman nya di busur miliknya. Semua orang tegang, lalu ia mengarahkan panah nya ke atas, ke arah matahari..."

"Lalu apa yang terjadi, paman?"

Paman Tom menatap Rama dengan tatapan yang dalam.

"Kau mau tau bagaimana kelanjutanya, Rama?"

Rama kecil mengangguk.

"Iya, paman. Aku ingin tau."

--

"Woi!"

Randy menepuk bahuku.

"Eh, Ran, ngagetin aja."

Aku terkaget melihat suasana kelas, yang hanya menyisakan beberapa teman. Ternyata kelas telah selesai.

"Cieeee, Rama yang goncengan sama Luna."

Zifa menggodaku dan langsung berlalu meninggalkan kelas. Sudah tersebar rupanya.

"Gila! Hebat kamu, Ram. Kamu jadian ama Luna?"

"Gak lah, Ran. Mana mungkin cewek kayak dia mau sama aku. Ada ada aja, kamu."

Aku melihat jam, sudah pukul setengah 2, jam 2 aku akan mengajak Luna makan es krim di sekitar area kampus. Aku bergegas mengambil ransel.

"Kamu kemarin sudah bikin heboh satu FISIP, Ram."

Randy mengikuti dari belakang.

"Ohya? Emang aku ngapain? Bawa bom?"

Aku pura-pura tidak tau. Ya jelas aku tau! Seorang mahasiswa biasa yang tidak punya banyak teman dan kutu buku kemarin menggandeng tangan bunga kampus dan mengantarkanya pulang. Jelas saja.

"Ram, sebat dulu, lah. Mau kemana,sih buru-buru?"

"Aku ada janji, Ran."

"Sama siapa?! Luna?!"

Aku tersedak asap rokok yang baru saja kubakar.

"Hahaha gila, gila, gila, hebat memang temanku satu ini! Besok biar ku sebar ke semua orang."

Randy berkata santai dan menyalakan sebatang rokok.

"Oke kita sebat, Ran."

"Gitu dong!"

Kulirik kembali jam di tangan kananku. Masih bisa ngobrol sebentar.

"Jadi kamu jadian, sama Luna?"

"Berapa kali harus ku bilang gak, Ran?"

"Tapi kamu suka sama dia, kan?"

Aku terdiam.

"Jawab bos!"

"Siapa yang gak suka, Ran? Cowok mana di kampus ini yang gak suka sama Luna?"

Sial. Aku masuk kedalam jebakan Randy. Sesi curhat 5 menit. Sialan!

"Teruskan, Ram, perjuangin kalau memang kamu sayang sama Luna."

Sontak ku tatap Randy. Bisa juga ternyata dia semengerti ini soal perasaan.

"Aku gaktau Ran."

Kepalaku tertunduk, kuhisap dalam rokok yang tinggal setengah.

"Aku tau diri. Aku punya beberapa pertanyaan yang harus aku cari jawabanya."

"Maksudmu?"

"Im joking with you, Ran."

Aku tersenyum pahit. Lantas pergi meninggalkan Randy.

"Ram! Rama!"

Randy berteriak kesal.

"Oiya, sob, ini korekmu, hampir lupa."

Kulemparkan korek berwarna biru miliknya. Headshot. Tepat terkena kepala Randy.

"Anji*g kamu, Ram!"

Kupercepat langkahku. Kabur. Pergi menuju yang dituju, Luna Defiana.

-

Ingin kupuisikan hari ini
Tentang seekor kucing jalanan yang mungkin esok akan rindu dengan perempuan ini
Dimana tiap bait syair bertuliskan dirinya yang utuh
Luna yang manis
Luna yang cantik
Luna yang menyebalkan
Luna yang membuatku jatuh dalam lautan keluh serta pengharapan
Tidak ada yang lebih berbahagia
Kecuali laki-laki ini
Bersama perempuan yang ia jadikan syair-syair cinta yang membahana
Sampai ke angkasa!

Sepotong es krim rasa coklat di tangan Luna meleleh.

"Luna?"

"Apa?"

Aku menunjuk bibirnya yang celemotan di samping bibirnya. Kusodorkan sebuah tisu.

"Makasih."
Ia tertunduk, malu. Sambil terus memakan es krim nya.

"Terus? Gimana?"

"Apa?"

"Kelanjutanya."

"Ohiya, belum selesai, ya?"

"Akhirnya pengembara kesepian itu memanah matahari. Panahnya secepat cahaya. Orang-orang masih terperangah melihatnya. Dan tiba-tiba... Dunia menjadi gelap, Luna. Seperti hal nya malam. Bintang-bintang tiba-tiba bermunculan, dengan benderang yang paling terang. Bulan muncul dengan purnama nya."

"Matahari nya mati?"

"Dia gak mati. Dia cuma terluka. Tapi panah dari pengembara itu sudah lebih dari cukup buat hilangin sejenak sinar matahari."

"Dan pengembara itu menjadi pemenangnya?"

"The one and only."
Aku tersenyum.

"Sejak hari itu, aku selalu bilang ke pamanku, kalau aku sudah besar, aku pengen jadi Pemanah Matahari."

Luna tersenyum. Cantik sekali.

"Dan sang pengembara, pun, menikah dengan putri cantik itu?"

"Kamu salah, Lun."
Aku menggeleng. Ku lanjutkan perkataanku.

"Pengembara itu dijuluki pengembara kesepian, karna ia tidak pernah percaya sama yang namanya cinta. Karna itu dia memilih sendiri. Pun dengan putri cantik itu. Ia menolak mempersunting putri itu. Gak ada getaran di hatinya."

Luna serius menyimak. Dari mata nya, tiba-tiba kulihat cahaya redup itu muncul kembali. Aku berusaha fokus. Kulanjutkan ceritaku.

"Kemudian dia tetap mengembara. Namun siapa sangka, semenjak panah nya mematikan sinar matahari, Dewi Bulan yang bersemayam di bulan tertarik, hingga ia rela turun ke bumi. Tepat pada saat matahari, bumi dan bulan sejajar. Ia memutuskan untuk menemui pengembara itu."

"Dewi bulan jatuh cinta sama pengembara itu?"

Bulan di mata Luna semakin besar. Nyaris sempurna. Aku nyaris kehilangan fokus.

"Gak Luna. Kamu salah. Malah sebaliknya, pengembara itu yang jatuh cinta sama Dewi Bulan."

"Akhirnya..."

"Iya Luna. Akhirnya pengembara itu jatuh cinta. Tapi..."

"Tapi?"

Luna mendelik.

Selesai sudah. Kini bulan di mata mu bersinar. Aku kalah.
profile-picture
echariemas memberi reputasi
Diubah oleh beariot13

Diana, Dewi Arthemis

Luna menjatuhkan dirinya ke kasur, ia memejamkan matanya. Sosok itu muncul,
"Dulu, ia sangat mencintaiku, Luna. Bahkan sampai sekarang, perasaanya padaku tak mengenal ruang dan waktu."

Suara itu muncul dari dalam kepala Luna.

"Kau sudah mendengar cerita itu dariku berulang kali. Cerita tentang ku dan pemanah matahari itu. Dan tadi, pemanah matahari mu menceritakanya padamu. Kau bertingkah seolah tak tau apa-apa di awal, lalu menembaknya dengan melanjutkan cerita yang tak sanggup ia lanjutkan. Kau persis sepertiku, Luna. Dingin dan membunuh, anggun dan magis, bahkan matahari pun takan bisa mendapatkan hati kita."

Mata Luna masih memejam.

"Mengapa kau memilihku? Diana?"
Bibir Luna mulai terbuka, ia berbicara sendiri.

"Laki-laki itu akan mencintaimu, seperti dulu, si pengembara kesepian itu mencintaiku."

"Jawab pertanyaanku, Diana?"

Dalam siklus yang entah keberapa ini, Dewi Bulan, yang dengan banyak nama memilih Luna Defiana untuk menjadi reinkarnasi nya. Dewi bulan mengenalkan dirinya dengan nama Dewi Arthemis, atau Diana. Luna lelah sekali hari ini, ia tertidur lelap tanpa sempat melakukan apa-apa. Suara hujan membasahi bumi dengan deras dan teratur. Sayup-sayup terdengar lagu La Vie En Rose, Dewi Arthemis menyanyikanya untuk dirinya yang lain, Luna.
Luna senyum, ia cantik, tanpa perlu sanjungan dari siapapun, ia akan tetap cantik. Begitu pikir Rama.

-

Setelah mengantarkan Luna pulang, Rama terjebak hujan sehingga memaksanya untuk berteduh. Ini bagian nya, silahkan, Rama...

Suara klakson mobil bergemuruh di jalanan, hujan memaksa mereka untuk memelankan laju mobil nya. Pemotor arif memilih berteduh, aku diantaranya.
Bila hujan adalah dirimu, Luna. Aku adalah bumi yang dengan senang hati kau basahi, yang bila kemarau, aku layu bermuka pucat putih pasi, menunggumu. Menunggumu tuk membasahiku kembali.
Aku tidak menihilkan kekecewaan. Aku terus menaruh kuat di kepalaku, bahwa potensi untuk terluka selalu ada. Namun, bolehkah sebentar aku memejam? Mengingat moment beberapa jam yang lalu? Saat aku tak kuasa melanjutkan cerita tentang Dewi Bulan dan Pemanah Matahari. Aku tau kamu berbohong, kamu menebak kelanjutan ceritanya, dan berkilah mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah insting perempuan. Aku tau, dari matamu, kau sepertinya pernah mendengar cerita itu, Luna. Entah siapa yang pernah menceritakan itu padamu. Aku pernah mencari cerita tentang Dewi Bulan dan Pemanah Matahari di semua buku dongeng, namun tak pernah kutemukan, meski sebait pun. Entah paman Tom mengarang atau tidak, cerita-cerita memang kadangkala menyimpan romansa, elegi, dan magis nya sendiri. Luna? Apa kau sudah lelap disana? Aku kedinginan, aku lupa memakai jaket saat tadi pagi menjemputmu. Tapi dibanding dengan mendengarkan lagu di satu headset yang sama, rasanya sepadan dengan dingin malam ini.

Selesai sudah, aku kalah.

Luna masih menyusuri kalimat lanjutan dari mulutku, tapi membisu bukan kuasaku. Aku tak menjawab, aku terpaku di antara dua bola matanya.

"Rama? Ayo lanjutin ceritanya. Tapi, apa?"

Terik siang terusir karna gumpalan awan, berbondong-bondong, berebut mengintip dan menguping pembicaraan kami. Bukan! Ini bukan kencan! Ini hanya sekedar mengajaknya memakan es krim rasa coklat. Sudah, pergi sana! Kalian membuatku terlihat payah, dengan gagu, dengan ketidakmampuanku melanjutkan ceritaku. Gumpalan awan tidak menggubrisku. Malah, mereka meragukanku. "Lanjutkan ceritamu anak muda! Jangan biarkan gadis mu menunggu terlalu lama!"
Pipiku memerah, sialan!

"Tapi... Alam raya mengutuk Dewi Bulan."
Kulanjutkan kalimatku, dengan terbata, dengan peluh yang daritadi kuseka.

"Dikutuk?"
Luna bingung, bahkan terkesan tidak menerima.

"Kelanjutan ceritanya terlalu melankolis untukku, Luna. Bahkan sampai sekarang usiaku genap 18 tahun. Maaf, tapi aku gak bisa lanjutin ceritanya."
Aku tertunduk. Malu dan takut, elaborasi keduanya. Menghasilkan satu kata yang membeban di kepala, "maaf".

" Lalu alam raya mengutuk Dewi Bulan, karna lancang meninggalkan bulan, dan turun ke bumi untuk menemui seorang manusia. Ketika itu, Dewi Bulan mencium Pengembara dengan lembut, sebagai ucapan maaf, karna bagaimanapun, mereka tidak akan pernah bisa bersatu. Sebelum semuanya terlambat, sebelum Dewi Bulan ikut jatuh dalam tulusnya cinta si pengembara? Ia pamit untuk kembali ke bulan. Pengembara itu menangis tersedu sedan. Ia akhirnya merasakan jatuh cinta. Namun, cinta bisa dengan sekali saja meluluhlantakan bahagia nya. Bulan pergi, dengan menahan air mata yang hampir saja tumpah dan bisa menggenangi bumi. Tepat saat purnama, ia pergi. Terbang dan hilang bersama dingin nya malam. Bersama pekat kabut pelengkap kelam."

Aku terperanjat kaget. Sungguh bukan main, nyaris saja aku memukul meja dan meneriakinya, "darimana kau tau kelanjutan cerita itu?! Cerita itu tidak ada di buku dongeng! Siapa kau sebenarnya?!"
Tapi sekali lagi, aku kalah.

"Darimana kamu tau kelanjutan ceritanya, Luna?"

Luna hening sesaat, belum selesai katanya.

"Saat Dewi Bulan telah sampai, ia terhempas dengan sendirinya ketika mencoba memasuki atmosfer bulan. Ia mencoba lagi, ia terhempas lagi, ia mencoba lagi, ia terhempas lagi. Ratusan kali ia gigih mencoba, namun ratusan kali juga tubuhnya terpental lalu mengambang di antariksa.
Dewi Bulan merasa sangat sedih, ia tidak mengetahui bahwa semesta telah bermufakat untuk mengusirnya dari bulan, rumahnya sendiri.
Gema suara alam raya bagai suara ribuan petir di bumi, "Dewi bulan, betapa lancang dan berani nya kau meninggalkan bulan? Kau mengambil kesempatan saat gerhana.
Saat bulan, bumi, dan matahari sejajar. Kau naif! Karna itu, kau tidak akan bisa kembali ke bulan! Sebelum ada manusia yang mencintaimu seperti ia mencintai kehilangan yang paling hilang! Manusia yang rela untuk terhapuskan! Dan saat bulan, bumi, dan matahari kembali sejajar, kau akan kembali turun ke bumi, be-reinkarnasi dalam bentuk seorang gadis yang lemah, yang sudah hancur tanpa perlu dihancurkan! Kau akan merasakan betapa pedih nya perpisahan! Dan saat tubuh manusia mu terlalu lemah untuk menampung energi mu, ia akan mati karna manusia adalah makhluk yang rapuh. Saat itu, kau akan kembali kesini, kau hanya diizinkan mengambang mengitari bulan, tanpa pernah masuk kedalamnya!"
Begitu semesta bersabda, dengan suara bak gemuruh, semesta sangat amat marah, dan Dewi Bulan hanya bisa menangis dan menangis."

Tubuhku bergetar, jantungku berdetak-detak seperti bumi yang diguncang gempa, entah berapa skala ritcher, dan tsunami dari mataku nyaris tumpah membasahi pipiku--tidak, pipi kita, pipi ku dan pipi mu, Luna.

Kami membiarkan detik berlalu, menit pergi dan jam datang sebagai anak bungsu yang manja. Akibatnya, es krim coklat Luna meleleh, menangis dibiarkan mati karna suhu udara mendadak kembali panas.
Kami menikmati hening diantara kami. Merasakan angin yang tidak terlalu membantu mengusir kegugupan kami berdua.
Ada yang aneh disini, ada yang aneh.
Siapa aku? Siapa Luna? Dan siapa orang-orang yang daritadi tertawa, bercanda, bergurau tentang hidup bukanlah sebuah dongeng atau cerita fiksi. Aku bantah dengan diam, lihatlah! Aku boleh jadi sekarang adalah kepingan cerita di dalam sebuah novel, yang sedang dibaca oleh seseorang di dunia paralel yang lain.
Boleh ku abaikan sebentar? Aku ingin disini, sebentar lagi, sebentar saja. Aku ingin mencintaimu dan segala pertanyaan yang mungkin selalu menghantui kepalaku dan kepalamu. Aku ingin terus disini. Mencintaimu, Luna. Seutuhnya! Semampus-mampusnya!

"Dari mana kamu tau?"
Kupecah hening yang sempat menjadi sekat.

Luna memaksa tersenyum. Seperi kata Khirana, senyum paling getir yang pernah ada.
"Insting perempuan."

"Dor!" Jawabanya tepat mengenai kepalaku, mematikan fungsi otak sebagai pusat narasi-narasi rasional, logis, dan bisa dipertanggung jawabkan. Jawaban itu mengajariku banyak hal, Khirana bilang, jangan pernah meragukan insting perempuan. Itulah senjata mereka yang paling mematikan.

Luna mengeluarkan headset dari tas hitam yang ia bawa, ia memasang di telinganya, menyeka rambut diantara dahinya. Aku tersipu, segera aku bertingkah seolah tidak perduli atas apa yang dilakukanya.

"Sini, deh."

"Hah? Apa?"

"Sini, mau dengerin gak?"

Aku beringsut dari kursiku, duduk di sebelahnya, jantungku kembali berdegup, ini terlalu dekat, ia memasangkan satu headset di telingaku, aku sedikit membenarkan posisi duduku, Luna di kuping sebelah kiri, dan aku di kuping sebelah kanan, ia menekan tombol play di handphone nya.
Lalu suara musik mulai menjalar dari kabel headset, sampai di telinga kami berdua.

Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara... lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara... akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja

Aku tertegun, memandangnya sedekat ini, lagu yang dipilihkanya merdu, liriknya membawaku untuk membentak waktu agar jangan berdenting.
Kalau saja aku adalah kekasihnya, sudah pasti kucium pipi nya. Membuatnya tersipu malu. Tapi aku bukan siapa-siapa. Aku pengembara, yang tersesat dan jatuh dalam lautan dirinya yang dalam, yang membuatku menerima sepenuhnya, bahwa kini dan nanti, aku tenggelam.

"Tinnn!!! Tinnnn!!!"

Klakson dari mobil berwarna hitam terdengar kencang dan membangunkanku dari perjalanan lintas pikiranku. Aku baru saja melakukan perjalanan waktu, berjalan mundur ke beberapa jam yang lalu.
Hujan masih deras, dan air yang menggenang jalanan semakin meninggi, beberapa orang memilih menerobos hujan, bermodalkan jas hujan kumal yang disimpan dalam jok motor.
Aku membakar sebatang rokok.
Sebuah pesan dari paman Tom masuk ke handphone ku.

'Rama? Pulang lah segera, paman sekarang di kost mu. Berkendaralah dengan pelan. Sebagai laki-laki, hujan tak harus memudarkan kenekatanmu.'

Segera aku berlari menuju motorku, membuka jok dan memasukan handphone ku. Dingin. Dingin sekali.
profile-picture
echariemas memberi reputasi

White Goes With White And Red Goes With Red

Paman Tom duduk di beranda lantai 1, tempat biasa tamu menunggu. Baju ku yang basah kuyup, tidak membuatku ragu untuk mencium tangan paman Tom dan memeluknya, begitupun paman Tom. Keberadaanya disini sangat membuatku senang dan berdebar disaat yang bersamaan. Paman Tom adalah seorang yang sibuk. Jauh-jauh ia langsung datang kemari tanpa mengabari sebelumnya tentu bukanlah sebagai kunjungan biasa.

"Gantilah pakaianmu, Rama. Paman akan menunggu disini. Berpakaian rapi, paman ingin berbicara denganmu di luar, sekaligus makan malam."

"There's something wrong? Paman?"

"dit is precair, oom zal je alles vertellen." [1]

Aku mengangguk serius. Segera aku berbenah, kemudian bergegas.

Suasana menjadi kaku selama di mobil. Tidak ada kalimat yang kurasa pas untuk mencairkan suasana. Paman menyetir dengan sangat fokus, entah kemana kami akan pergi makan malam. Tapi sebagai seorang diplomat, aku mengerti benar dengan level nya. Meja makan seringkali menjadi sebuah meja diplomasi, tak jarang, perundingan menemui titik temu setelah santapan selesai di santap, dengan segala table manner nya, dan jujur saja, aku tidak terlalu menyukainya.
Mobil paman terparkir rapi di sebuah hotel berbintang 4 di Samarinda. Rupanya benar dugaanku, paman akan membawaku ke sebuah restoran. Semoga saja western, aku tidak terlalu menyukai hidangan chinese. Dan diatas segalanya, nasi goreng di pinggir jalan jauh lebih nikmat. Apalagi setelah kau menutupnya dengan sebatang rokok. Surga.

"Atas nama Tommy Wirahadikusumah."

"Oh, silahkan, Pak Tommy."

Seorang pelayan laki-laki mempersilahkan kami duduk di bangku yang telah di reservasi.

"Kau mau makan apa, Rama?"

Kubolak-balik menu restoran ini berulang kali. Bukan karna mencari makanan atau minuman favoritku. Melainkan karna aku bingung harus makan dan memilih apa. Tapi beruntunglah ini adalah restoran western, sepotong steak selalu bisa menjadi sebuah alternatif dari sekampung-kampunganya seorang Rama Dihalmahera. Wajar saja, terakhir kali aku ke tempat-tempat begini karna diajak oleh paman Tom. Sisanya? Jangan harap, kalian hanya bisa menemukanku di warung-warung nasi goreng di balikpapan. Aku bercanda.
Paman Tom memesan Grilled chiken benedict beserta makanan penutup yang namanya terlalu sulit untuk kuingat.

"Berapa usiamu sekarang, Rama?"

"18, paman."

"Ini sudah waktunya kau mulai belajar menjadi seorang gentleman. Dan mungkin juga sudah waktunya kau menjemput takdirmu sendiri."

Paman memesan 2 botol wine. White wine berjenis Sauvignon Blanc untuk dirinya, dan red wine berjenis Merlot untuku.
Sialan. Apalagi ini. Aku hanya bisa meng-iyakan. Pantang bagiku untuk membantah, kami bisa saja beradu argumen tentang banyak hal. Tapi tidak ketika paman mengajaku ke restoran. Table maner adalah suatu disiplin ilmu yang sama sekali tak kukuasai. Dan kau benar-benar salah bila harus memprotes seorang diplomat tua. Seorang Tommy Wirahadikusumah.
Paman Tom berdehem palsu, memulai masuk ke dalam topik. Aku paham sekali dengan dia. Dia akan mulai menyusun kalimat, dengan pembuka yang elegan.

"Ada pepatah yang mengatakan, white goes with white and red goes with red."

Dahiku melipat, tidak mengerti.

"white wine cocok dengan daging putih, sementara red wine cocok dengan daging merah. Paman sengaja memilihnya sesuai makanan yang kita makan. Jangan khawatir, Rama. Paman memilihkan wine dengan aromatik dan rasa yang manis, ringan dan tidak pekat. Untuk seorang pemula."

Tak berselang lama, hidangan telah sampai di meja kami.
Setelah selesai beserta makanan penutupnya, paman melanjutkan perkataan nya. Masih seputar wine.

"Wine adalah minuman beralkohol yang dibuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera, yang biasanya hanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan. Umumnya, orang mengenal dua jenis wine yaitu red wine (anggur merah) dan white wine (anggur putih).
Padahal, jenis wine bermacam-macam, Rama. Mulai dari red, white, rose, sweet, fortified, dan sparkling. Rose wine kadang disebut juga sebagai pink wine. Sementara sparkling wine mengandung gelembung, misalnya champagne. Seseorang dapat mengetahui jenis wine maupun jenis anggurnya dari warna nya."

Aku takzim mendengarkan.

"Wine tergantung dari kecocokan. Wine sangat tergantung dari lidah, pengalaman, dan preferensi seseorang. Belum tentu botol seharga 30 juta bisa kita nikmati."

Ternyata wine bisa serumit itu. Kukira hanya soal wanita saja yang rumit. Ternyata di bumi kita, anggur hasil dari vermentasi menjadi sebuah simbol taste dan strata sosial seseorang. Untuk menunjukan kelas nya tersendiri, kelas seorang gentleman! Begitu kata paman.

"Ingat, Rama. Menikmati wine adalah menikmati kekompleksitasan rasa dan aromanya. Hal itu berarti adanya keseimbangan antara asam, sepet, pahit, manis, sampai asin. Wine yang baik adalah wine yang seimbang dan mengalami proses pendewasaan. Makin kompleks rasa suatu wine, maka harganya pun semakin mahal."

Paman tom membuka 2 crocks (tutup botol) wine yang sudah dipesan.

"Ketika crocs terbuka dan udara bebas masuk ke dalam botol, wine seakan mulai bernafas."

Gelas wine bertangkai panjang dengan wadah membulat seperti telur telah terisi. Paman menuangkan nya.

"Setelah wine dituang, lakukan aerasi atau proses memutar wine. Pegang gelas wine ditangkai lalu putar-putar dengan perlahan, Rama."

Kuikuti perintah paman Tom dengan agak kikuk.

"Jangan takut tumpah, karena gelas wine yang baik akan menahan wine agar tidak keluar dari gelas."

Paman sepertinya membaca gelagatku.

"Proses aerasi bertujuan untuk memasukkan udara ke molekul cairan wine. Ketika udara masuk, aroma wine yang sebenarnya akan dilepaskan."

"Biarkan wine bersentuhan dengan oksigen supaya aroma dan cita rasa dia ‘bangun’,” 

Lalu paman melakukan tilt atau memiringkan gelas.

"Sebaiknya arahkan ke cahaya atau di latar belakang taplak putih untuk dapat melihat kepekatan warna wine. Nikmati warna nya, Rama."

Kemudian paman menghirup aroma wine dengan mata memejam. Aku mengikuti nya, tidak buruk. Aku terbawa suasana dan langsung akan meminumnya. Tapi paman mencegahku.

"Jangan sekali teguk, Rama. Sesap sedikit wine nya, lalu bawa cairan ke atas dan bawah lidah. Kemudian tarik sedikit udara dari mulut agar terjadi bubble (gelembung) di bawah lidah. Jadi lakukan seperti menyeruput cairan dan bawa menyebar ke seluruh lidah agar membangkitkan indra perasa lidah.
Bagikan secara merata di lidah untuk mendapatkan konsentrasi penuh dari semua cita rasa wine, mulai dari rasa manis, asam, hingga pahit. Kemudian tahan sebentar di kerongkongan untuk mendapatkan sensasi after taste dari wine."

Kuikuti perintah paman Tom dengan baik.

Hmm

Benar juga, ada cita rasa yang seolah membawaku pada suasana retro yang meriah, namun monokrom. Aku amatir, tapi merasakan sensasi nya sungguh membuatku merasa delusi.

"Nah, sekarang, kau adalah seorang gentleman dengan table manner yang tidak terlalu buruk. Mr. Rama, bagaimana kabarmu?"

Suara berat dan khas paman Tom mengisi telingaku. Suara yang daridulu selalu menjadi ayah untuku. Paman tersenyum hangat.

"Baik, Paman. Mata kuliah yang kupelajari sudah aku pelajari dari buku-buku paman sewaktu SMP dulu. Hans J Morghentau, Adam Smith, Lenin, Henry Ford. Ini seperti membaca ulang."

Aku berusaha membangun pride, membuat paman merasa bangga karna memiliki keponakan sepertiku.

Paman Tom tersenyum dan menunduk sesaat. Lalu ia menatapku lamat-lamat. Tatapan yang kuingat sama seperti dulu paman menceritakan dongeng Dewi Bulan dan Pemanah Matahari.

"Kau masih ingat tentang kisah Dewi Bulan dan Pemanah Matahari, Rama?"

Aku mengangguk.

"Apa kau masih ingin menjadi seorang Pemanah Matahari, Rama?"

Tawaku keluar seadanya. Ini tidak lucu, aku bukan lagi anak kecil. Aku menggeleng pelan.

"Ik ben een volwassene, oom. maar als je het serieus wilt vragen, zal ik ja antwoorden." [2]

"Kau sudah menjadi Pemanah Matahari bahkan saat usiamu belum genap 5 bulan, Rama."
Intonasi Paman terdengar serius.

Apaa-apaan ini?!

"Paman sudah menyuruh ibu mu untuk pergi. Tugas nya telah selesai. Dia berhak untuk menjalani sisa hidupnya dengan kembali kepada anak nya yang sesungguhnya. Dia melakukan tugas dengan baik. Dia titip salam untukmu. Kau anak yang baik, katanya."

Apa? Anak sesungguhnya? Lantas aku apa?

Mataku memerah, beragam rasa mulai dari marah, kaget, lesu, lemah, apriotri, dan shock di tingkat tinggi. Aku nyaris lunglai, namun, aku menyadari ini adalah sebuah dialog "Men-to-men", filosofi wine barusan sepertinya bukan suatu simbolitas makna harfiah belaka.
Kukumpulkan sekuat-kuatnya tenaga dan segala kerasionalan miliku. Aku mengusap air mata yang nyaris tumpah, menyeka nya dengan cepat, persis seperti anak kecil yang buru-buru berkelit bahwa ia akan menangis akibat ledekan teman sebayanya. Kutarik nafasku dengan seteratur mungkin. Paman tidak sedang bercanda. Dan juga, ini bukan hari ulang tahunku, atau april mop, atau prank murahan yang akan kau temukan di youtube. Bukan. Ini sebuah perang. Aku terdesak oleh sebuah rahasia dan konspirasi menjijikan. Aku terserang. Habis-habisan!

Kuminum kembali wine miliku, dengan cara yang baru saja paman Tom ajarkan, kita setara.

"Jelaskan lebih detail, Paman. Paman membuatku bingung."
Senyum simpul seorang pesakitan Cumiar dari bibirku.

"Kau boleh membuktikanya. Telfon lah nomor ibumu."

Segera ku tekan tombol kontak, dan mengechek, "nomor yang anda tuju, sedang tidak akfif atau --"
Tanganku bergetar.

"Kau bukan anak dari ibu dan ayahmu. Dan aku bukan pamanmu. Just in case, kau tetap boleh memanggilku paman, young man. Mengganti sesuatu yang sudah terbiasa membutuhkan waktu."

"Dengan segala hormat, Paman. Jelaskan padaku."

Kunaikan volume suaraku dan menekan tiap intonasinya. Intonasi seorang laki-laki yang marah. Aku kalut. Tubuhku bergetar hebat.

"siapa aku sebenarnya? Ha?"
Mataku tajam mengupas mata miliknya. Dengan amarah yang paling marah.

"Pemanah Matahari."
Jawabnya singkat dan mantab.

"Lelucon yang buruk, Paman."

"Kau adalah anak yang dibuang oleh orang tuamu di sebuah panti asuhan di Bandung. Paman tidak tau persis siapa orang tuamu. 18 tahun yang lalu, Paman yang saat itu sedang mengurus pekerjaan di Bandung, tiba-tiba mendapat tugas dari Persaudaraan untuk mencari seorang bayi laki-laki untuk dijadikan pelengkap dalam sebuah misi."

Paman Tom memang bukan sekedar diplomat biasa. Pekerjaanya di Kemenlu adalah sebuah cover yang diberikan oleh Persaudaraan Tukang Batu. Paman pernah bercerita, ia adalah regenerasi dari ayah, serta kakek nya di persaudaraan. Persaudaraan Tukang Batu, adalah perkumpulan rahasia beberapa cendekiawan, ilmuwan, seniman, insinyur, politisi, jendral, pengusaha, dan lain-lain dari seluruh dunia. Singkat cerita, mereka adalah para intelektual yang mengedepankan humanisme sebagai landasan pikiran. Dan tak jarang, mereka melakukan afiliasi dengan berbagai mistisme dan pagan-pagan. Mereka kerap kali melakukan misi diluar nalar, tujuan mereka pun masih samar. Itu yang aku ketahui.

"Pelengap misi? Misi apa, paman?!"
Aku tak sabar, tubuhku refleks mendongkak. Perhatian beberapa pengunjung mengarah ke meja kami. Aku membenarkan kembali posisiku. Dan paman Tom masih terlihat sangat tenang.

"Misi dengan kode, "Memeluk Purnama"."

"Cih! Ini semakin tidak jelas!"

"18 tahun yang lalu, setelah aku mengadopsi mu. Aku membawamu ke sebuah kuil kuno di Timur Tengah. Dan kau dijadikan tumbal untuk mengetahui dimana Dewi Bulan turun ke bumi."

Penjelasan Paman Tom terdengar sangat lugas dan teratur.

"Namun, Misi itu gagal karna rekan Paman melakukan kekacauan. Ia membunuh ketua kelompok rahasia Ritus Pengawal Dewi Bulan."

Kepalaku masih dengan sangat pelan berusaha mencerna kalimat-kalimat paman.

"Dan misi itu dihentikan. Perintah langsung dari para degree 13 di persaudaraan."

"Selanjutnya kau paman bawa ke Balikpapan, karna kota kecil itu adalah kota pesisir yang tenang. Ditambah banyaknya ekspatriat jaringan Paman, membuat Paman bisa dengan mudah mengawasimu. Tidak ada apa-apa lagi, Rama. Paman memutuskan untuk merawatmu selayaknya seorang keponakan, bahkan anak. Paman membangun konstruksi kejiwaanmu dengan sebuah keluarga. Paman ingin, kau tumbuh menjadi laki-laki yang kuat. Karna itu, Paman men-setting keluargamu, seorang anak tunggal, yang hidup bersama ibu nya dengan sederhana, untuk memberi metode keterasingan, paman membuat seolah-olah kau memiliki ayah yang kurang bertanggung jawab. Itu memupukmu menjadi anak yang mandiri. Dan aku berpesan kepada ibu mu kala itu, untuk tidak memanjakanmu, beri perhatian selayaknya seorang ibu, guna menjaga stabilitas emosional mu. Memenuhi rasa sayangmu."

"Dan kau tetaplah seorang Pemanah Matahari. Dimanapun atau kemanapun kamu berada, takdir akan menuntunmu menemui Dewi Bulan. Itu adalah garis alam yang tidak bisa dilawan."

Aku masih diam dan dipenuhi getaran. Terperangah dan marah.

"Cerita tentang Dewi Bulan dan Pemanah Matahari bukan sebuah dongeng, Rama. Aku diceritakan kisah itu langsung dari ketua kelompok Ritus Bulan sebelum ia mati tertembak."

"Lalu...."

"Apa yang diceritakan semua kisah otu benar?"
Tatapanku kosong.

"Benar. Kecuali bagian dinosaurus. Itu sebuah lelucon untukmu dikala itu."

"Termasuk di bagian, 'energi dewi bulan terlalu besar untuk wujud manusianya'?"

"Ya, benar. Wujud manusia nya takan bertahan lama. Ketika ia mulai beranjak dewasa, energi dewi bulan juga akan ikut membesar, berubah menjadi semacam sel kanker yang membunuh."

"Berapa lama wujud manusianya bertahan?!"

"Mengapa ini menjadi penting, bagimu, Rama?"

"Jawablah!"
Aku mengentak meja.

"Diantara 18 sampai 19 tahun."

Deg! Kaki ku lemas. Aku tertunduk. Ini semakin tidak baik. Aku tau, Luna adalah reinkarnasi Dewi Bulan, dengan asumsi bahwa aku adalah anak yang dijadikan Pemanah Matahari? Maka memang benar hanya aku yang bisa melihat bulan di mata Luna. Selama ini aku tidak berhalusinasi!

"Aku harus, pergi, Paman."
Aku beringsut setengah sadar dengan wajah tertunduk.

"Kau mau kemana? Paman belum selesai."

Tidak kuhiraukan. Aku terus berjalan.

"Kau ingin menyelamatkan Dewi Bulan, Rama?"

Langkahku terhenti.

"Paman tau caranya. Namun kemungkinan nya kecil dan resiko nya terlalu besar."

Aku menoleh, berbalik badan. Aku tidak lagi perduli dengan jati diriku. Aku mencintai Luna. Tidak akan kubiarkan ia mati. Dan kalaupun tak ada yang bisa kulakukan. Aku akan mencintainya seperti dalam cerita itu. Aku akan terus menemaninya, memberinya bahagia. Bukankah, alam telah menulis takdirnya?

"Bagaimana caranya?"

Apapun. Apapun akan kulakukan.

---

[1] ini sesuatu yang genting. Paman akan menceritakan semuanya padamu

[2] aku sudah dewasa paman. Tapi bila paman bertanya sungguh tentang itu, maka aku menjawab iya
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Cerita Dimulai

Paman Tom fokus mengemudi, lalu memarkir mobil nya sembarang di bahu jalan utama sungai mahakam. Ia keluar dari mobil, aku mengikutinya. Kami berdiri di depan mobil dan menyandarkan sedikit tubuh kami di kap.
Ia membakar sebatang rokok. Aku baru ini melihatnya merokok. Tanpa bicara ia menyodorkan sebungkus rokok mild kepadaku, aku menolaknya. Ku rogoh rokok ku sendiri dari balik saku celana bahan ku. Kemeja biru muda yang kukenakan dengan kancing terbuka sedikit mengikis remang nya malam, bersama lampu-lampu jalanan, kami berkoalisi mewarnai malam ini.
Berhubung aku baru mengetahui bahwa aku hanyalah anak tidak jelas yang dibuang oleh orang tuanya sendiri di panti asuhan, kunyalakan rokok ku dengan gaya seorang depresan. Hanya kurang sebuah pistol untuk lalu kutembakan ke kepalaku sendiri. Dunia ini memang menyebalkan. Baru saja beberapa jam yang lalu, aku meronakan moment-moment luar biasa yang membuatku sangat bersyukur menjadi seorang Rama. Namun sekarang, aku tak ubahnya serigala yang dibuang dari kawanannya, lantas sial diterkam beruang grizly yang lapar. Aku berdarah, terpincang-pincang, kenapa tak mati sekalian?
Hembusan rokok ku menjadi kabut fana diantara kepalaku. Terpampang juga bulan yang sedang sabit, kalau bukan karna Luna, detik ini juga lebih baik aku tenggelam di sungai mahakam.

"Sejak kapan kau merokok, Rama?"

Paman bertanya tanpa memandang.

"Sejak aku mencium gelagat bahwa dunia ini memang tempat yang paling buruk untuk mati pelan-pelan."

"Kalimat satire yang baik."

Tak lagi ada perasaan canggung. Semua terselesaikan di meja makan tadi. Tidak semua, hanya beberapa. Aku selesai soal jati diriku. I don't give a shit. Tapi berbicara marah? Manusia mana yang tak marah?

"Aku baru ini melihat Paman, merokok."

"Di situasi sekarang ini, merokok mungkin adalah satu-satunya yang membuat Paman masih bisa sedikit tenang. Paman bukan perokok aktif. Namun bila hari sedang buruk, paman selalu menyediakan 'payung'."

"Bagaimana cara menyelamatkan reinkarnasi Dewi Bulan?"
Langsung saja kutodong.

"Reinkarnasi? Ah, paman mengerti sekarang. Satu hal yang membuatmu sekarang masih mau berada disini bersama paman, adalah karna kau jatuh cinta dengan reinkarnasi dewi bulan. Pasti dia perempuan yang cantik."

"Aku tidak perduli soal dewi bulan. Katakan saja bagaimana caraku menyelamatkan reinkarnasi nya."

"Siapa nama perempuan yang membuatmu sebegitu resah ini, Rama?"

"Jawablah pertanyaanku, paman!"

"Kau yang harus menjawab terlebih dulu, anak muda."
Dasar diplomat, dia memegang kartu AS ku.

"Luna. Luna Defiana."

Paman meliriku dan tersenyum. Aku tidak mengerti maksud senyumanya.

"Misi itu telah gagal, Rama. Dan kami berupaya melupakan semuanya. Kami berusaha tidak perduli bila sekarang, di balik dunia yang menyimpan banyak kesibukan di tiap manusia. Ada seorang Dewi Bulan yang berjalan di muka bumi."

"Namun tidak dengan Peter. Dia masih berambisi untuk melanjutkan misi itu. Beberapa saat yang lalu. Dia mendatangi paman di Jakarta. Dia menyerahkan sebuah salinan dokumen tambahan tentang Dewi Bulan, yang diperoleh dari pusat arsip rahasia pemerintah Israel."

"Aku sungguh tidak mengerti Paman. Apa urusanya dengan Israel?"

"Israel berdiri di atas tanah suci bagi 3 agama. Yerusalem. Dahulu kala, di tempat itu Raja Solomon membangun kerajaanya. Dan pada saat itu, banyak sekali shaman dan pendeta yang telah menguasai ilmu metafisika. Dan diantaranya, ada kelompok pendeta yang mengetahui tentang eksistensi Dewi Bulan. Mereka kemudian berusaha melacak Dewi Bulan, dan dibutuhkan seorang perantara, yaitu Pemanah Matahari. Mereka mengklaim hanya menjaga dan membantu semesta menjalankan kutukan terhadap Dewi Bulan. Lalu mereka mencatat detail tentang kisah Dewi Bulan, untuk dijadikan semacam kitab panduan untuk generasi mereka selanjutnya. Namun, saat itu Raja Solomon memerintahkan semua buku-buku yang mengandung kekuatan sihir untuk dikubur di istana nya. Tak terkecuali, kitab tentang Dewi Bulan."

"Kini pemerintah Israel telah memilikinya. Berangkat dari situlah, misi " Memeluk purnama" terbesut."

"Paman dan orang yang bernama Peter itu bekerja untuk Pemerintah Israel?"
Tanyaku penuh selidik.

"Tidak. Kami adalah para intelektual Rama. Kami berusaha mengupas dan menelusuri berbagai misteri di dunia ini. Baik dengan hukum ilmu pengetahuan modern, maupun ilmu-ilmu kuno."

"Suku Aztec, suku maya, SS ourang medan, kutub selatan, segitiga bermuda, perjalanan waktu, energi atom, kami menelusuri semuanya. Dewi Bulan hanya salah satunya."

"Peter menemukan dokumen salinan baru, yang berisi tentang kekuatan Dewi Bulan."

"Kekuatan?"

Udara semakin dingin, jam telah menunjukan pukul 2 pagi. Sudah beberapa puntung rokok berserakan di kaki-kaki kami.

"Ya. Kekuatan. Untuk mendapatkan kekuatan itu, harus dengan menarik keluar paksa Dewi Bulan dari tubuh manusianya. Dan bila itu terjadi--"

"Lanjutkan paman."

"Tubuh manusianya akan mati."

Tulang ku beku tertusuk angin yang tiba-tiba saja menghembus kesetanan.

"Lantas apa bedanya? Bukankah paman bilang, tubuh manusianya hanya akan bertahan sebentar? Energi Dewi Bulan akan menjelma seperti sel kanker?"

"Karna itu paman mencarimu dan menceritakan semuanya, Rama."

Aku menggeleng tidak mengerti.

"Kau belum paham alur nya? Peter akan mencari reinkarnasi Dewi Bulan, dan mempercepat kematianya. Sementara hanya kau yang bisa menemukanya. Peter akan mencari kalian berdua. Dan dengan fakta kau telah mengetahui semuanya, paman berani berasumsi bahwa kau tidak akan mengatakan apa-apa, karna kau jatuh cinta denganya!"

Suara paman terdengar emosional di akhir kalimat. Aku merasakanya.

"Dan bila aku berhasil menyelamatkan Luna dari Peter? Bagaimana caraku menyelamatkan Luna dari energi besar di dalam tubuhnya?"

Tawa dari suara berat paman Tom terdengar pelan, kemudian kencang dan lantang. Menertawakanku.

"Kau pikir kau siapa, Rama? Kau dan perempuan yang kau cintai itu hanya seorang remaja yang menuju dewasa! Tidak kah kau lihat perbandinganya? Apa melawan siapa?!"

"Aku pemanah matahari, paman."

Sontak tawa paman lenyap di udara. Ia terdiam, mematung, menatapku lekat. Biarlah sudah, aku sudah bilang, aku akan ikuti jalan ceritanya. Meski harus melewati narasi-narasi konyol yang tak masuk akal. Sudah basah, cebur saja sekalian. Darah muda.

"Pergilah ke Vihara Dhammadipa Arama, di daerah Batu, Malang. Mungkin teman paman bisa membantumu. Bawalah serta Dewi Bulan. Mulai saat ini, kalian harus terus bersama."

"Siapa yang harus kutemui?"

"Seorang biksu bernama Ashin Jinarakhita."

Aku terdiam cukup lama. Berusaha menyesapi hari ini yang kelewat gila. Ku keluarkan handphone ku, dan menelfon Randy.

"Hallo?"

"Kamu dimana, Ran?"
Sudah kuduga, dia belum tidur.

"Di warung kopi 24, nih. Lagi ngobrol sama senior soal organisasi. Ram? Gimana kalau aku masuk organisasi eksternal?"

"Tolong jemput aku sekarang."

Kumatikan telfon ku dengan cepat. Lalu mengirim sepotong chat memberitahu lokasi ku.

"Kau tidak mau Paman antar?"

"Tidak usah. Seminggu lagi mungkin aku akan membawa Luna pergi. Setelah ujian semester. Dia perlu alasan waktu yang logis untuk mau ikut bersamaku menjalani kegilaan ini."

"Ambilah ini!"

Paman menyodorkan dua buah kartu, sebuah ATM dan kartu kredit.

"Itu semua milikmu. Paman sudah membuatkanya untukmu. Semua password adalah tanggal lahirmu. Jangan tanya bagaimana caranya."

Aku menerima kartu-kartu itu dengan wajah bingung. Tapi paman benar. Di satu sisi, aku memang hanya remaja tanggung berusia 18 tahun yang tak punya kemampuan finansial untuk berpergian.

"Dan satu lagi. Bawalah semua data diri. Berlaku untuk kalian berdua."

Aku mengangguk.

"Kau tidak masalah harus menunggu temanmu sendiri? Paman harus segera kembali ke Jakarta. Kabari paman bila ada apa-apa. Paman akan memonitor dari Jakarta. Paman akan membantumu."

"Terimakasih, paman."

Kami berpandangan sebentar. Menormalkan kembali sirkulasi udara di tubuh. Paman mendekat dan menepuk-nepuk bahuku tanpa bicara. Kemudian ia pergi bersama mobilnya yang hilang di tikungan jalan.
Aku duduk di trotoar seorang diri. Suara mobil dan motor yang lewat sekedar memberi hibur untuku yang sedang gamang. Jantungku berdebar.

Cerita ini akan dimulai.
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Kita Pergi

Aku terpaku menatap langit-langit kamar. Suara detak jam dinding menumbuh, membumbung, mengisi, melengkapi. Melengkapi aku, yang di kabuti kegelisahan.
Besok adalah hari terakhir ujian semester, dan selama itu pula, aku berusaha menghindari bertemu Luna. Tidak hanya Luna sebenarnya. Semua orang. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan memenuhi layar handphone ku. Khirana mendominasi.
Tapi entahlah, aku merasa perlu menarik diri. Selesai ujian, tanpa ba bi bu, aku selalu langsung pulang.
Oh lihatlah, dunia ini begitu membingungkan dan mengesankan di waktu yang bersamaan. Aku yakin sekali, diluar sana, tiap manusia sedang berusaha memecah masalahnya, mencari solusi diantara pelik. Mencari setitik nafas, agar kembali hidup, setidaknya begitu. Iya kan?
Entahlah, diluar sana, aku sangat yakin, ada yang sedang berbahagia karna kekasihnya berlutut dan menyematkan cincin di jari manis. Ada yang berpikir mengagumi saja sudah lebih dari cukup. Atau, ada yang berpikir untuk sama-sama menikam dari belakang, rasa sakit harus dibayar dengan rasa sakit. Mata di balas mata. Menyelingkuhi dibalas diselingkuhi. Cinta memang kurang ajar, darah pertama di bumi tumpah karna nya. Cinta memang kurang ajar, bisa sampai membuat semesta yang bijak lantas marah dan mengutuk Dewi Bulan.
Cinta memang kurang ajar, ia memaksaku untuk membawa Luna pergi besok, harus dengan apa aku meyakinkannya?

'Luna, aku punya kabar baik untukmu, tebak, ternyata, cerita-cerita dongeng itu tak semuanya hanya fiktif. Kita adalah kenyataan dari itu semua. Aku adalah pemanah matahari, dan kau adalah dewi bulan. Ikutlah denganku, kita harus menjalani takdir kita'

Begitu kah? Begitu narasi yang akan kuberikan padanya besok?
Go to hell, Rama...
Itu buruk sekali.

Khirana
Ya, benar. Aku harus menceritakan kegilaan ini padanya.
Bergegas! Bergegas Rama!

--

Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki duduk diatas motor besar nya. Entah angin darimana, di tengah perjalanan menuju kos Khirana. Aku menyempatkan diri melewati kos Luna.
Firasatku menyuruhku untuk berhenti. Mengamati.
Tak berselang lama, seorang perempuan keluar dari dalam. Luna.
Ia terlihat tersenyum dan berbincang sebentar sebelum akhirnya duduk di belakang. Aku buru-buru memutar motorku, melaju dengan perasaan yang campur aduk.
Mungkin itu temannya, bisa saja kan?
Tidak. Ada yang berbeda dari mereka. Laki-laki itu bisa jadi lebih dari sekedar teman.
Sakit. Sakit sekali. Air mata ini tak boleh jatuh lagi. Aku bukan untuknya, aku hanya ingin menyelamatkanya. Lekas seka air mata. Lekas, selekas-lekasnya!

Aku berhenti di sembarang jalan. Menarik nafas, mencoba berujar lembut pada emosiku sendiri.
'Tenang lah, tenang lah, mari kita berduka bersama'
Rokok. Iya, aku belum merokok. Sedikit tawa hadir dari wajahku.

"Permisi nak, boleh pinjem korek nya?"

Aku menoleh, seorang bapak-bapak berusia sekitar 50tahunan dengan rambut gondrong yang sudah banyak beruban dan kumis hitam yang cukup tebal, tampak masih gagah dengan peci hitam di kepalanya.

"Oh, boleh pak."

Dengan takzim kepada orang yang lebih tua, aku meminjamkan.
Sebatang rokok kretek yang tidak kukenal terbakar sempurna, asap nya yang tebal melayang.

"Kamu kelihatan kusut, nak."

"Eh, gak kok pak."

"Ndak usah bohong."

Apa-apaan orang tua ini.

"Nak, kalau kamu lagi bingung? Cobalah sering-sering melihat langit."

"Kenapa gitu pak?"

"The secret, nak."

"Maksudnya, pak?"
Aku mendelik bingung.

"Rahasia alam. Langit itu jendela bagi manusia-manusia yang kecil, dari langit, kau bisa tau kalau kau tidak sendirian. Ada unsur-unsur dan partikel yang tak terhingga di atas sana. Cobalah ajak mereka, yakinkan mereka, bahwa kau sedang tak berdaya."

"Pak, saya gak ngerti bapak ngomong apa?"

"Begini, nak. Alam raya ini hidup. Jangan dikira mereka tak hidup! Yakinkan dirimu sendiri bahwa kamu akan melakukan apa pun untuk tujuanmu, dasar nya ikhlas, nak. Ketulusan hati. Murnikan dulu sisi internal, lalu kau pandang langit-langit, bilang pada mereka, bergerak lah sesuai ketulusan. Mereka akan mengerti, meskipun kamu tidak mengerti."

Orang ini aneh sekali.

"Jangan bersedih hati. Tapi bersedihlah kalau kamu tidak pernah merasakan sedih itu sendiri."

Aku menggeleng.

"Nama saya, Em."
Ia tersenyum, khas kebapakan yang hangat.

"Panggil saja, Pak Em. Nanti kita ketemu lagi. Ingat, nak. Dasar nya ikhlas."

Gubrak!!!
Suara benda terjatuh dan terseret terdengar dari jalan. Aku refleks menoleh, mobil dan motor berhenti, dua orang anak muda baru saja terjatuh, namun nampaknya mereka baik-baik saja. Mereka langsung berdiri dan mendorong motor ke sisi jalan. Kerumunan mereda.

Deg!

Bapak itu sudah tidak ada. Orang tua gondrong berpeci hitam itu lenyap entah kemana, padahal aku hanya menoleh ke jalan tak kurang dari 15 detik. Kuperhatikan lagi sekitarku. Benar-benar hilang.

'Ting!'

Sebuah pesan masuk, dari Khirana. Kubuka dan kubaca puluhan pesan nya yang sudah nyaris seminggu kuabaikan.

'Rama? Kamu dimana?'
'Woyyyy!!!'
'Hello there?'
'Camlikummm? Rama nya ada?'
'Kamu kemanaa ):'
'Are you ok, Mister?'
'Ditelpon gak diangkat. Sibuk banget ya?'
'Oke, saya mulai khawatir, anda baik baik aja, kan?'
'Plis angkat telpon!'
'Rama? Aku kayaknya udah berani buka hati, deh. Besok malam aku jalan sama cowok jurusan Teknik Sipil, satu kampus sama kita. Anaknya pinter dan gak ngebosenin kayaknya.'
'Rama? Aku lagi di caffe zero, nih. Sama cowok yang aku bilang kemarin. Kesini dong. Kamu harus kenalan sama dia! He's smart like you.'

Jariku mulai mengetik.

'Hallo... I was fucked up. There's so many things i would talk with you, Khirana. Tapi sepertinya gak sekarang. Hahaha oh ya? Congratulation ya! Salam buat cowok itu. Bilang salam kenal, ya! Besok aku harus pergi. Dan kayaknya jauh. Ada hal yang mesti aku selesaiin.'

'Thing!'
Balasan yang cepat.

'Pergi kemana? Sama siapa?'

'Luna. Maaf Khirana. Aku gak bisa cerita sekarang. Aku minta maaf kalo sekiranya belum jadi teman yang baik. See you'

Motorku melaju menyelip mobil-mobil. Aku kembali menuju kosku untuk menyiapkan baju yang akan kubawa besok.

--

"Kamu kenapa?'

"Hm? Gakpapa."

"Daritadi melamun."

Disebuah coffe shop, Luna dan seorang laki-laki duduk berhadapan. Tangan laki-laki itu menggenggam tangan Luna.

"Kamu kenapa, Luna? Cerita."

Luna menatap laki-laki itu dengan tajam.

'Luna. Besok kau akan menempuh takdirmu sebagai aku'

'Diana? Kau kah itu? Apa maksudmu?'

'Pulanglah, Luna. Istirahatlah.'

"Hey?! Kamu kenapa? Kamu sakit?"

"Eh, gak, gakpapa. Dani? Anter aku pulang sekarang, ya?"

"Luna..."

"Please, Dan. Aku capek."
Luna beralasan.

--

Ransel hitam ku sudah nampak seperti tas gunung. Beberapa pakaian telah tersemat di dalam.
Besok adalah awal. Aku kepikiran, sulit untuk tidur. Bagaimana bila besok Luna malah menertawakanku? Bagaimana kalau ia tidak mau ikut denganku? Bagaimana cara menjelaskan ini semua?! Bagaimana....

'The secret'

Sontak aku berlari keluar kamar, melihat langit, saran orang asing yang mengaku bernama Pak Em itu harus kubuktikan malam ini. Aku tidak lagi punya waktu untuk banyak berfikir.
Ku pejamkan mataku, mencoba meraba sisi-sisi tenang yang bisa kujejaki malam ini.

Lihat langit, lihat langit, lihat langit.

Lihat langit.

Lihat langit.

Lihat langit.

'Pokkk!'

Tanganku memukul tanganku yang lain, nyamuk diluar serasa mengerikan.
Sialan, sudah hampir satu jam aku memandangi langit, dan tidak terjadi apa-apa.
Saran bodoh. Aku tidur, persetan soal besok.

--

Selesai ujian terakhir, teman-teman kelasku berkumpul di depan kelas.

"Ran?"

"Kenapa?"

"Kamu liburan ini mau kemana?"

"Paling di sini aja, Ram. Kamu pulang ke Balikpapan?"

"Pulang, Ran. Tapi cuman sebentar."

"Terus langsung balik ke Samarinda?"

"Gak. Aku mau ke bulan, Ran."

"Dasar gila!"

Kemudian kami tertawa. Hingga lengang mengisi jeda.

"Thanks sudah jadi teman yang baik, Ran."

"Kayak mau mati aja minta maaf."

"Kita semua gak hidup, Ran. Mungkin aja, semua yang kita alami sekarang, cuman mimpi. Jiwa kita sedang tertidur di alam yang lain.'

Randy melempar pandangan nya, ada waktu yang seakan berhenti. Kami menyelam kedalam penghayatan diri masing-masing.

" Selamat liburan, Ran."

"Kamu juga, Ram. Hati-hati di perjalanan."

Kami bersalaman. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Randy Syahputra. Teman yang baik. Semoga kau selalu sehat.

--

"Hai? Bisa ngomong sebentar?"

Luna mengangguk. Ia permisi kepada teman-temanya. Aku membawa nya ke sudut ruang yang lebih sempit.

"Ada apa?"

"Aku bingung mulai dari mana..."

Luna menatap, tegas menanti jawaban.

"Ada sesuatu di dalam dirimu, Luna. Dan kita harus memisahkanya."

"Maksudmu Diana?"

"Diana?"

"Dia bilang, namanya Diana."

"Dewi Arthemis. Julukan masyarakat yunani kuno."

"Hah?"

"Nama lainya, Diana. Dewi Bulan. Jadi kamu bisa berkomunikasi sama dia?"

"Gak. Dia muncul lewat suara-suara di pikiranku. Komunikasi satu arah. Dia gak pernah jawab pertanyaan-pertanyaanku."

"Tangan kamu tremor, Luna."

Dengan cepat Luna menyembunyikan tanganya kebelakang.

"Oh, sudah biasa dari kecil."

"Sudah pernah periksa?"

"Sudah."

"Hasilnya?"

"Gak kenapa napa. Mungkin cuma kecapean. Soal Diana, aku pikir semua itu cuma halusinasi."

"Bukan. Itu bukan halusinasi."

"Kamu mau apa, Rama?"

"Aku mau bawa kamu pergi."

"Hah? Kemana?"

"Ke batu, malang. Wait, look! Energi yang dimiliki Luna, itu terlalu besar! Badan kamu, atau bisa kubilang, seorang Luna gak akan kuat menahan."

"Ya terus?"

"Ya terus lama-lama kamu bakal nyampe di batas terakhirmu, Luna!"

Ia terdiam cukup lama.

"Aku gak bisa ikut sama kamu, Rama."

Ia menunduk.

"Maaf..."

"Tapi, Lun--"

"Kalau memang aku akan menyentuh di batas kemampuanku? Aku terima. Kita semua memang punya batas kan? Terlepas soal energi yang kamu bilang tadi."

Ia memaksa tersenyum.

"Gak! Kamu harus ikut sama aku! Kamu harus hidup!"

Aku mulai kehilangan kontrol.

"Maaf. Boleh aku tanya satu hal?"

"Apa?"

"Kamu siapa aku, Rama?"

Sekejap aku tersentak. Pertanyaan mematikan.

"Jawab?"

"...."

"Kenapa diam?"

Aku menggeleng.

"Aku bukan siapa-siapa kamu. Aku cuma mau kamu bahagia. Mungkin gak sekarang, tapi suatu saat. Suatu saat, kamu... Kamu bakal menikah sama orang yang sayang sama kamu. Suatu saat, kamu bakal terenyuh sama tangisan anak kamu. Kamu akan lihat buah hatimu sebagai cermin. Suatu saat, kamu akan menua dengan tenang."

"Bahagiaku bukan urusanmu, Rama. Maaf, tapi aku capek sama semuanya."

"Kamu keras kepala."

"Memang. Aku permisi."

Aku gagal. Aku gagal membawanya. Luna pergi, aku mematung menatap punggungnya yang hilang.

--

Luna terbatuk dengan payah. Tiba-tiba ia merasa bahwa ada yang salah dalam dirinya.

'Kau bimbang, Luna'

"Stop!"

'Ikuti saja hatimu'

"Aku bilang stoppppp!!!"

Tanpa sadar Luna berteriak, teriakan nya membuat orang-orang di sekitar menoleh.
Luna lari, tergopoh-gopoh, mengejar Rama.

Rama sudah bersiap pergi, ia bertekad tetap akan pergi ke Vihara di Batu.

"Aku akan melakukanya. Aku akan mencari jawaban."

Wajahnya mendongkak ke atas, langit biru dan awan bergelayutan sebelum memuai.

"Semesta? Aku gagal. Tapi aku tidak berhenti. Aku menyayanginya. Tolong titip Luna."

Rama terkaget saat tiba-tiba ada tangan yang menggenggamnya.

"Luna?"

"Aku ikut!"

Berkali-kali, aku jatuh dalam kelopak matanya.
Dan semuanya bergerak sangat cepat, seperti potongan-potongan film.

"Begini, nak. Alam raya ini hidup. Jangan dikira mereka tak hidup! Yakinkan dirimu sendiri bahwa kamu akan melakukan apa pun untuk tujuanmu, dasar nya ikhlas, nak. Ketulusan hati. Murnikan dulu sisi internal, lalu kau pandang langit-langit, bilang pada mereka, bergerak lah sesuai ketulusan. Mereka akan mengerti, meskipun kamu tidak mengerti."
profile-picture
echariemas memberi reputasi

Kamu Bukan Luna

Mataku mengercap lalu membiarkan cahaya masuk ke retina. Aku sempat tertidur selama di perjalanan menuju Balikpapan. Kami menaiki sebuah bis, besok pagi, kami akan berangkat dari bandara sepinggan Balikpapan, menuju Surabaya. Luna yang duduk di dekat jendela, sedari tadi kuperhatikan hanya melihat keluar.

"Bentar lagi kita sampai."

"Hm?"

"Gak. Bentar lagi kita sampai di Balikpapan. Nanti kamu langsung pulang ke rumah dulu, buat pamitan sekalian bawa surat-surat kelengkapan diri."

"Emang buat apa, sih?"

Aku mengangkat bahu. Aku hanya mengikuti instruksi dari Paman Tom.

Luna kembali diam, pandanganya terlempar keluar, mengamati pohon-pohon yang berlalu dengan cepat.

"Aku boleh pegang tangan kamu?"

Ia hanya balas menatap.

"Buat penguatku, Luna."

Tangan nya dingin, sedingin tatapanya, hari dimana takdir menelanjangi dua anak manusia yang tak mengerti apa-apa telah memasuki bab pertama.

--

Taxi yang kunaiki turun di depan rumahku. Rumah sederhana yang menyimpan ribuan memori di kepalaku. Di depan teras, dulu aku bermain sendirian, lalu aku ingat, ibu suka duduk di kursi rotan dan memperhatikanku berjingkrak, teriak, tertawa, dan menangis ketika tersandung.
Ibu jarang bicara, ia lebih suka memeluk untuk mengekspresikan segalanya, baik suka dan duka. Sosoknya sering mengingatkanku pada almarhum Gladys, beda nya, ibu irit bicara.
Mengetahui kenyataan bahwa ibu yang selama ini merawatku bukanlah ibu kandungku, merupakan suatu getir yang teramat dalam.

'Klek'

Tidak ada orang. Kata paman, ibu sudah kembali ke kehidupan aslinya. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan terimakasih.
Kuputar sebuah lagu klasik tanpa lirik milik ayahku lewat sebuah tape player tua miliknya dengan volume keras. Hingga menggema syahdu, pilu, takut, sembilu yang paling biru, hari ini, disini, kutelan semua, mentah-mentah.
Aku melindu, sayu tak meraga, sisa sukma yang letih bagai dirajam.
Kukitari lagi rumahku. Meresapi apa yang selama ini kulewati, rindu, aku rindu saat aku tak tau siapa aku.
Kubuka rak di kamar ku, mengumpulkan semua data diri. Lalu aku membaring di kamar, apa yang akan terjadi besok? Dunia yang seperti apa yang akan kulihat?
Apa, Luna bisa menjadi miliku?
Apa ia bisa selamat?

Kemana lagi angin akan membawaku?

Suara ketukan pintu terdengar dari luar, terdistrak suara musik, ketukan itu pelan, namun hebatnya, telingaku mampu menerjang nya.
Paling hanya ketua RT yang menagih iuran kebersihan.

"Luna?! Kamu ada apa kesini? Kok tau rumahku? Sama siapa?"

Ia hanya menggeleng dan tersenyum misterius.

Dengan agak gugup kupersilahkan ia masuk ke dalam dengan pintu depan yang tetap terbuka, sebagai pertanda bahwa sedang ada tamu. Adab timur, yang menjunjung moral.
Kupelankan volume musik, dan sekarang kami duduk berdua di ruang tengah, diiringi musik klasik, sayatan biola dan piano saling beradu menciptakan ritme-ritme mistik.

"Kamu belum jawab pertanyaanku, Lun."

Ia tak bergeming, sesekali Luna merapikan rambut-rambut kecil di sisi telinga nya. Aku tak bohong, Luna aneh sekali.
Ia menatapku, mengunci pandanganku, terantai hingga seperti tak lagi ada sisi-sisi lain yang mampu ku lihat. Satu sisi absolut! Kuat menarik, seperti gaya gravitasi bulan, meluruhkanku sepenuhnya. Tatapanya... Tatapanya meluruhkan sisa-sisa kekuatan berdasarkan kesungkanan. Hingga habis sampai tak tersisa setitik. Ia memulai, badan nya mendongkak, aku tergugup, ragu bukan main, jantungku, ah, andai jantungku ini air? Ia pasti telah memuai ke atas. Dirinya semakin dekat, semakin dekat. Aku berada di kegilaan lain yang tak kalah gila dengan segala yang gila. Aku gila, dunia gila. Sentuhan lembut dari jemari nya membius sampai ke ubun. Aku tersengal, nafasku memburu kemana-mana. Tidak. Ini bukan Luna.
Kulepas perlahan dirinya dari saling dekap yang kelewatan. Kuperbaiki posisi duduku.

"Kamu bukan, Luna."

Lagi. Tak ada sepatah kata yang terujar, hanya senyum misterius yang untuk kali kedua siap memporak-porandakan lagi diriku yang kini terhuyung-huyung memegang kepala.
Wajahnya dengan cepat merapat ke sisi kanan telingaku, terpejam kini mataku, hentikanlah, aku terlalu takut untuk apapun yang menjurus pada kekhilafan.
Ia membisik pelan. Benar-benar pelan. Nyaris seperti angin lembut.

"Bagaimana bila Luna tidak mencintaimu, Rama? Kamu siap untuk hancur?"

Siapapun dirimu, yang kini tak berjarak lagi didepanku, kau telah membuatku marah.

Kudekapkan tanganku melingkar di pinggangnya, aku tak mau kalah, masalah perasaan Luna, itu urusanya!

"Siapa--ka--mu"

Masih dengan desah yang terputus-putus. Aku kembali menodongnya.

"Diana. Dewi Bulan."

Bedebah. Kali ini aku membeku, segala kontrol hilang lenyap terbawa perih yang entah menjemput darimana. Ia melumat, mendekap.

"Kau pasti hancur, pengembara."

Begitu katanya.

--

Sudah hampir setengah jam aku menunggu Luna di bandara, ia tak juga muncul, apa jangan-jangan ia gagal membuat alasan kepada orang tuanya?

"Sorry telat."

Aku membalikan badan. Terpesona dengan dirinya yang apa adanya, aku melamun seolah lupa dengan kenyataan.

"15 menit lagi pesawat kita take off. Kita boarding pass dulu. Yuk."

Kuraih tangan nya, menggenggamnya erat. Sebagai penguat, atau? Mumpung masih sempat?

--

Selamat pagi kepada seluruh penumpang, selamat datang di maskapai Kunang-kunang airlines, bersama pilot, Kapten Aditya Darmawan, kita akan terbang di ketinggian....

Suara pramugari terdengar lugas dari speaker. Kubiarkan Luna terpejam, ia terlihat lelah.

Perjalanan yang ditempuh akan memakan waktu sekitar 1jam 30menit, penumpang diharap duduk dengan tenang dan menggunakan sabuk pengaman selama lampu menyala

"Luna?"

"Mau izin pegang tangan aku lagi?"

Wajahku memerah. Aku tidak berani jawab, barangkali ia enggan.

"Kok diem?"

"Gakpapa."

"Kamu gelisah."

Jantungku berdebar, Luna menyentuh tanganku, merapatkan jemari, lalu menggenggam tidak kalah erat.

"Aku gaktau aku mau kamu bawa kemana dan tujuan sebenarnya apa, Rama. Tapi kalau dengan menggenggam tanganku bisa buat kamu lebih baik? Silahkan genggam dengan hangat. Maaf tanganku dingin dan suka tremor ya?"

Senyum di bibir nya terukir dengan berjuta makna yang tak bisa kuterka. Senyum yang berbahaya adalah senyum yang getir. Senyum yang membuat dirimu seakan hanya ada dua pilihan, meninggalkan atau ditinggalkan.

Diatas bumi, saat kami menyentuh awan-awan yang menghampar sejauh mata memandang, suara kami terkunci, tangan kami melebur dalam frekuensi samar yang tak terdeteksi.

"Mau aku ceritain sesuatu?"
Kataku setengah berbisik.

"Apa?"
Ia tak kalah membisik.

"Tentang awan, yang menunggu di ujung taman."

"Dengan senang hati!"

Luna, ini lah Luna. Pemilik senyum paling getir yang pernah ada.
profile-picture
echariemas memberi reputasi
tetap semangat untuk berkarya luna
Sepenggal cerita cinta luna, ga pake maya ya. emoticon-Big Grin

#gembok
Diubah oleh cos44
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di