CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Cerpen] Kala Bintang Cemburu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3c12f6af7e93295d42ae15/cerpen-kala-bintang-cemburu

[Cerpen] Kala Bintang Cemburu

Sekali-kali ngepost di sfth ah. Ini cerpen ane 7 tahun lalu, waktu masih belajar nulis, masih unyu-unyuemoticon-Big Grin. Gaya tulisannya pun berbeda dengan yang sekarang, dan masih banyak kekurangan. Cerita ini fiksi. Hope you enjoy it.

Kala Bintang Cemburu


“Tak apalah, Mas gak usah cemburu…”, katanya sambil menggeloyor pergi. Aku termenung di ruang tamu ditemani putraku yang baru berumur  tiga tahun. Berantakan. Dia sedang bermain bola pantul di atas meja. Terdengar suara pintu kamar ditutup. Rupanya istriku mau istirahat setelah siangnya berdiskusi tentang mode pakaian dengan teman-temannya.
Istriku, yang kini jadi teman hidupku, belahan jiwaku, ibu dari anak-anakku, akhir-akhir ini memang selalu sibuk. Di samping profesinya sebagai pengusaha butik di tengah kota, dia juga mengurusi beberapa toko pakaian di tanah abang Jakarta. Intinya, dia sedang sibuk.
***
Dulu dia sangat lugu. Itu yang kusuka darinya. Waktu SMA dia pernah satu kelas denganku. Prestasinya lumayan.  Dia juga sering mengaji pada kakeknya yang seorang kyai. Dia punya keunggulan di bidang yang berkaitan dengan perancangan busana dan desain grafik. Setelah lulus SMA, dia melanjutkan studinya ke universitas dekat tempat tinggalnya. Aku tak langsung kuliah, melainkan cari kerja di beberapa tempat. Itu pun melalui sebuah keterpaksaan, biaya. Selain itu aku juga ingin membantu penghasilan orang tua.
Hafsah, begitu aku memanggilnya, masuk fakulttas desain grafik. Dia sangat unggul di sana. Benar kata orang, suatu pekerjaan akan terasa memuaskan bila dikerjakan oleh ahlinya. Otaknya yang brilian dalam merancang grafik sangat menakjubkan. Aku tahu itu ketika aku tak sengaja bertandang di rumahnya. Dia menunjukkan sebagian karyanya kepadaku. Sebuah kaligrafi. Indah sekali. Seindah paras senimannya. Aku yang sebagai teman SMA hanya bisa menyemangati supaya sukses.
Akhirnya beberapa tahun kemudian, dia lulus dengan IP yang memuaskan. Waktu itu dia langsung meneruskan usaha ibunya. Sedangkan aku membuka losmen yang tak terlalu besar di pinggir kota. Ya…yang penting bisa hidup mandiri dulu di samping membantu orang tua. Juga mengumpulkan biaya untuk satu misi.
***
Berbekal keberanian, sore itu aku membulatkan tekad. Aku melamarnya. Tak kusangka, setelah bermusyawarah dengan dia dan orang tuanya, dia mau kuajak hidup bersama. Kami pindah ke Jakarta empat tahun lalu. Membuka usaha sendiri. Awalnya, hari-hari kami lalui penuh tantangan. Namun, kami mampu melaluinya. Dia membuka toko butik di kawasan tanah abang.
Mengenaskan, usahaku tidak berlangsung lama. Losmen yang kubuka kalah saing dengan banyak rivalku. Mau tak mau untuk sementara waktu aku membantu usaha istriku memasarkan dagangannya. Ironis memang. Tapi aku berketetapan dalam hati, aku harus secepat mungkin cari kerja. Aku tak mau dikatakan berpangku tangan.
Istriku, yang kini bisa dibilang sukses dalam usahanya, mengerti akan keadaanku.
“Sudahlah, Mas. Gak usah terlalu dipikirkan”. Katanya. Kutatap wajahnya lama di pagi itu. Sungguh elok tak terperikan. Harusnya aku bersyukur bisa memiliki istri secantik dia dan bisa mengerti seperti yang ada di hadapanku sekarang. Harusnya.
“Tapi kan Mas gak bisa tenang kalau terus-terusan begini. Do’ain aja ya biar Masmu ini bisa dapat kerjaan secepatnya.”
Sungguh, itu menjadi duri tersendiri bagiku. Namun aku tetap bersabar. Aku ingin membuktikan bahwa orang yang sabar disayang Tuhan.
***
Ternyata, yang baru aku  tahu beberapa bulan yang lalu, aura hedonisme dengan sangat halus mengikis jiwa seorang istrinya. Dan, atau lebih tepatnya, bisa dibilang tidak menempatkan sesuatu pada posisinya. Suatu hari, kami bertiga sarapan di ruang makan. Maklum, rumah kami lumayan luas. Kalau tak ada anak kecil pasti seperti gudang yang ditinggalkan. Beruntung, si kecil yang kuberi nama Rifa’i sudah menjadikan suasana di rumah kami layaknya rumah tangga sungguhan. Rengekannya, tangisannya, tawanya, seperti musik yang senantiasa mendamaikan rumah yang lengang.
“Rifa mau makan apa hayo? Mama suapin ya?...”
Di umur yang baru dua tahun, yang diinterogasi cuma bisa menjawab,”Ipa..mam bubuy!...”
Ada-ada saja anak kecil. Dia lalu tertawa renyah ala anak balita. Kami langsung ikut tertawa menyambut kata brilian yang barusan keluar dari mulut mungilnya. Inilah kenikmatan yang didapatkan jika cara mendapatkannya dengan halal.
Seusai acara keluarga yang menyenangkan itu, aku memandangi istriku lama. Dia berbalut daster bermotif batik yang selalu dipakai di rumah. Memang, dipakaikan apapun untuk istriku tetap saja dia cantik. Aku sadar kalau di rumah dia lebih suka memakai pakaian rumah layaknya perempuan lainnya. Sejak punya anak, dia tak menggubris permintaanku jika aku ingin ia tampil lebih sopan kalau mau keluar untuk apa saja. Atau, dia mencoba untuk menyeimbangkan penampilannya waktu di rumah dan di luar rumah. Sebagai seorang suami seharusnya aku lebih berhak melihat penampilan terbaik istriku. Daripada orang lain tentunya. Karena aku juga manusia, punya kebutuhan rohani, termasuk melihat penampilan terbaik istriku.
“Ma, kok kalau di rumah Mama lebih senang memakai daster yang samaaa…terus. Apa tidak bosan, Ma?”, tanyaku.
“Kan cuma di rumah, Pa. Kalau di rumah ya cukup gini-gini aja kan?”
“Ya tapi sekali-kali berdandan gitu…Papa juga berhak kan melihat penampilan terbaik istriku?”
“Kan Papa bisa lihat kalau Mama mau berangkat kerja Pa…”,glek. Aku tak suka perkataan terakhir. Aku mencoba bersabar.
“Tapi itu bukan untuk Papa, kan?” Dia diam saja.
“Papa kan ingin melihat Mama cantik lagi kayak dulu…”, tambahku.
“Berarti maksud Papa, Mama gak cantik lagi ya?”, tanyanya memasang muka masam. Waduh, mau jawab apa ya?
“Ya gak gitu juga sih…”
“Trus?”
“Penampilan Mama itu loh…, kebalik. Seharusnya kan Mama lebih mendedikasikan kecantikan Mama untuk Papa, bukan malah untuk orang lain…”, akhirnya terluncur juga. Namun aku tak mengungkapkan secara lugas bahwa dia over performance, takut tersinggung. Dia lalu berdiam lama. Tidak berkata-kata lagi.
***
            Ruangan ini penuh sesak oleh peserta seminar. Tema yang diambil dalam seminar kali ini tentang Mode Pakaian di Era Modern. Istriku jadi tamu yang spektakuler. Dia memang sangat terkenal di  kalangan yang fans modis begitu. Itu juga karena dia mengajar di salah satu SMA ternama. Ya tentu saja mata pelajaran Tata Busana.
            Seminar dimulai. Sangat seru. Pemakalah menyampaikan makalahnya dengan sangat professional sehingga menimbulkan suatu gelombang mobilitas para peserta dan tamu yang hadir. Dan tentu yang paling kukagumi yaitu istriku. Aku sebagai suami tentu bangga dengan penampilannya. Dari kejauhan saja aura kecantikannya terpancar dengan sempurna. Hanya saja terlalu modis daripada dulu. Dibandingkan penampilannya waktu SMA, sekarang sungguh kontras. Dia berubah sekian derajat. Yang kurisaukan, penampilannya itu bukan dipersembahkan untukku. Dia lebih ingin mempersembahkan penampilannya itu untuk khalayak. Aku sebenarnya tak rela bila kecantkannya dinikmati oleh banyak orang.
            Seminar sedang mencapai klimaksnya. Banyak pertanyaan cerdas yang ditujukan untuk istriku. Semuanya dijawab dengan runtut dan jelas. Aku berbisik ke telinga anakku sambil menunjuk ke arah ibunya, tersenyum penuh kebahagiaan.
            “Lihatlah, nak. Kamu harus lebih sukses dari ibumu.” Rifa terus bermain pistol mainan sambil terus kupangku tanpa memperhatikan ayahnya sedang berbicara. Dasar anak kecil, sukanya nyuekin orang tua.
            Akhirnya seminar usai. Dia turun dari panggung. Dia diberi standing applause yang sangat panjang. Dia dikerumuni banyak muridnya dan beberapa teman serta para pengusaha butik. Dia jadi bintang. Banyak percakapan unik saat itu yang keluar dari fans-nya.
            “Mbak, boleh foto-foto nggak?”
            “Bu, kalau berkenan minta alamatnya dong. Mungkin nanti ada sesuatu yang akan aku tanyakan ke Ibu.”
            “Wah, penampilan yang hebat!”
            Ya begitulah… Dia disalami banyak orang. Itu wajar. Aku tersenyum sendiri. Setelah rombongan mulai renggang, seorang lelaki mendekatinya. Selanjutnya layar ‘hitam’ berkelebat di depan mataku. Terekam dalam memoriku.
            “Mbak, boleh minta nomor HP-nya?”
            “Oh, tentu.”
            Lalu banyak lelaki yang meniru adegan itu. Istriku dikerubungi banyak laki-laki!!!
***
            Jalan di depan rumah tampak lengang meski hari sudah siang. Rumah kami memang agak menyendiri dari tetangga. Deru angin terasa ramah melewati pintu depan, lalu ke kolong meja, kursi, menyusup ke kulit tuan rumahnya. Damai. Aku duduk-duduk di teras menikmati suasana ini. Tiba-tiba istriku pamit. Dia mengajak Rifa.
            “Mau kemana, Ma?”
            “Ada perlu dengan rekan-rekan, Pa. Rifa aku ajak ya…” Istriku berdandan layaknya selebritis. Cantik sekali. Dan, bedaknya…naudzubillah. Setelah pamitan, mereka menuju gerbang.
            “Jangan lupa pulangnya beli jajanan!”
            Lengang. Banyak onak. Kucoba untuk tabah. Sangat tak lazim jika seorang suami ngambek.
            Pukul sebelas siang Hafsah kembali bersama tiga orang lelaki. Mungkin rekannya. Satu orang bertubuh agak gemuk, pendek, dan keriting. Yang satunya lagi berkulit putih, lebih ganteng sedikit dariku, tinggi pula. Dan yang terakhir berkulit hitam, seperti orang negro. Dia punya badan mirip Tyson. Istriku sendiri menumpang di mobil yang mereka naiki. Setelah turun dari mobil, Rifa menyongsongku.
            “Papaaaaa…” Kami lalu berpelukan. Kuajak dia ke belakang. Hafsah dan temannya duduk-duduk di ruang tamu.
            Merasa bosan, kuajak Rifa membeli bakso.
            “Pamit dulu sana sama Mama!”
            Satu hal yang menjadi hiburan saat ini adalah anakku. Dia sangat penurut dan menggemaskan. Dia berlari ke ruang tamu. Kudengar samar-samar Hafsah sedang mengobrol dengan tamunya. Masih seputar dunia busana. Setelah pamit, kami lalu keluar lewat pintu belakang membeli bakso. Kami naik motor. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 800 meter. Namun cuaca memaksa kami untuk naik motor.
***
“Sudah, Mas! jangan dibahas lagi! Aku capek nih.”, bentaknya. Aku tersengat.
            “Hei, sejak kapan kamu berani membentak suami, hah?!!!” Kulihat dia naik pitam. Keadaan tegang. Untung saja Rifa sudah pulas. Jika dia menyaksikan kejadian ini, akan menyisakan suatu trauma tersendiri untuknya. Kuambil selembar foto dari dompetku.
            “Ini apa?!!!”, bentakku sambil membanting foto itu ke lantai, tepat di depan istriku. Mukanya pasi. Aku merasa tak tahan. Semenjak kejadian di seminar, hatiku tak lagi tenang. Rasanya seperti ada setan yang selalu membayangi. Selama ini, istriku memang lebih mendominasi pendapatan keluarga. Kuakui itu. Tapi, mana petuah orang tuanya yang menyuruh untuk memuliakan suami? Manakah ilmu yang ia timba dari kakek sekaligus kyainya? Mana?
            Keadaan hening sejenak.
            “Sudah diberi makan, masih saja membatasi hak!”, bentaknya memecah kesunyian.
            Ya Allah, aku ingin menangis. Aku lebih rela dijatuhi langit daripada mendengar kata-kata itu. Serendah itukah martabatku di matanya? Betapa berat cobaan ini. Apa dosaku, Ya Allah? Inikah hasil istriku bertahun-tahun menimba ilmu? Inikah yang didapatkan istriku setelah bergaul dengan masyarakat ibukota? Inikah hasil dari tiap kali dia meletakkan keningnya ke lantai menyembah-Mu lima kali sehari? Kemana istriku yang dulu?
            Ah, aku memang suami yang tak bertanggung jawab terhadap kesucian hati istrinya. Hingga sekarang ia sudah terlampau jauh dari garis-garis yang Engkau tetapkan. Malam itu bagai neraka.
***
            Setelah kenyang melahap bakso, kami mengucapkan hamdalah.
            “Alhamdu…”, pancingku.
            “Lilaaahhh…”, jawabnya dengan semangat. Sangat menyenangkan memang pergi berdua dengan Rifa.
            “Anak pintar…”, kataku sambil mengelus kepalanya yang ditumbuhi rambut yang masih halus.
            Kami lalu pulang menyusuri jalan berbatu dengan sepeda motor. Hari masih panas, tak seperti di rumah. Rifa aku payungi meski dengan tangan kiriku. Hal itu membuatku kesulitan mengendarai sepeda motor di jalan yang tidak rata. Pemerintah hanya mengaspal sebagian jalan saja. Sekitar 5 km dari rumahku, jalan masih berbatu. Aku sampai tidak mengerti mengapa hanya sebagian saja yang diaspal. Apakah kekurangan biaya? Ataukah uang itu digunakan untuk mengaspal jalan-jalan di depan rumah pemerintah itu saja? Atau…ah, aku tak mau memikirkan yang tidak-tidak.
            Tak terasa kami sudah sampai di gerbang rumah. Sebuah mobil diparkir di halaman rumah. Mobil tadi. Aneh, pintu depan kok ditutup yah? Tak seperti biasanya kalau ada tamu pintu depan ditutup rapat. Firasatku tidak enak. Aku bergegas menurunkan Rifa dari motor dan langsung menuju pintu. Kucoba membukanya. Terkunci!!! Tak lama kemudian terdengar dari dalam, barang-barang seperti dilempar. Lalu teriakan seorang wanita. Istriku!!!
            “Toloooong!!!”
            Aku kaget bukan main. Langsung kudobrak pintu di depanku. Tatkala pintu terbuka, kondisi di dalam sangat berantakan. Terlihat di sudut ruang tamu, kerudung putih milik Hafsah. Aku langsung berlari ke dalam, mencari Hafsah. Saat kakiku menginjak dapur, kulihat tiga lelaki sedang mencoba melucuti pakaian Hafsah yang sudah tak berdaya. Pipinya kirinya merah. Tanpa pikir panjang, kuambil sapu - karena itulah benda yang paling dekat – lalu kupukulkan ke kepala orang yang bertubuh gemuk.
            Plakkk!!! Gagang sapu patah. Dia langsung tersungkur. Darah segar merembes dari pelipisnya. Dua orang lainnya yang baru menyadari bahwa aku sudah tiba di rumah, mengambil kuda-kuda. Berbekal ilmu bela diri yang sempat kupelajari waktu masih SMP, aku pun berkelahi dengan mereka. Lelaki yang berkulit putih lumayan lincah. Dia mencoba memukulku dengan tangan kanannya. Saat kepalan tangannya hampir menyentuh perutku, langsung kutangkap tangannya dan kuplintir. Tak ayal dia kesakitan. Terdengar suara “krek” dari tangannya. Dan kutendang dia ke belakang. Dia langsung jatuh ke belakang, dekat pintu. Kesakitan. Sekarang tinggal si Hitam. Agaknya yang satu ini aku harus lebih waspada sebab dia tampak seperti petarung kelas kakap. Badannya seperti pegulat. Dia merangsek ke arahku. Tubuhku yang memang dari dulu sudah ringan, dengan mudah menghindar. Kami lalu mengambil kuda-kuda lagi. Siap dengan serangan masing-masing.
***
           Berlanjut di komen...
Diubah oleh arai01
Lanjutan...

Satu layar masa lalu menggenang di pikiranku. Suatu malam, beberapa hari setelah kami menikah, dia berdiri di depan cermin di kamar kami. Maklum, masih bisa dibilang pengantin baru. Aura romantis menyelimuti kamar ini.
“Mas, sebenarnya aku cantik nggak sih?”, tanyanya pada waktu itu sambil merapikan rambutnya yang tergerai indah. Hitam lebat. Aku bangkit dari tempat tidur dan berdiri di belakangnya. Kubelai rambutnya dengan kasih sayang tak terhingga, yang datangnya dari jiwa. Aku lebih tinggi sekitar 10 cm darinya sehingga aku leluasa untuk membelai rambutnya.
“Jika Allah memberi kemampuan pada Mas untuk memetik bintang, tahukah kamu apa yang akan Mas lakukan?”
“Apa, Mas?”
“Mas akan ambilkan satu bintang yang terindah untukmu. Dan kan Mas pasangkan hiasan angkasa terindah itu di wajah isteriku yang terindah. Tatkala sinarnya membias, sempurna sudah keindahan paras wajahnya. Terperciklah aura bidadari. Bak permata. Kala malam tiba, kan Mas katakan pada angin, kan kudekap erat dirinya mengungkapkan segala rasa yang menggumpal di hati, takkan ada masa seindah saat itu. Walau hanya seberkas kata, namun merdunya tak terperikan dihias nada-nada cinta. Kan kuminta kepada Tuhan supaya waktu tunduk terpaku di tempat. Dan alam menyaksikan drama ini, menyaksikan bahwa inilah saat-saat dimana kekuatan cinta bertumpu pada pengharapan mencari ridho-Nya…”, aku ucapkan kata-kata itu sambil memeluk tubuhnya. Aku hampir tak percaya bahwa aku bisa mengatakan kata-kata seindah itu padanya. Kulirik wajahnya yang terpantul di cermin. Air matanya meleleh deras. Aku tak kuasa menahan diri untuk tak menyeka air matanya. Saat kusentuh pipinya yang halus bagai sutra, dia memegang tanganku erat. Lalu dia berbalik. Kami saling berhadapan. Bibirnya bergetar sangat indah, berusaha mengucapkan kata-kata. Terharu.
“I..i..Indah sekali, Mas… Makasih ya..”. Oh, aku bagai melayang terbang ke awan. Dia lalu mengecup punggung tangan kananku. Aku mengucapkan syukur kepada Allah dalam hati berkali-kali.
***
Kuambil kursi plastik yang ada di dekatku. Aku mengayunkan kursi itu dengan cepat ke arah kakinya.
Wusss…Brakkk!!! Dia kena betisnya.
“Aarrgghh..!!!”
Dia memulai aksinya lagi. Mencoba untuk mengayunkan tangannya ke arahku. Hampir saja mengenai mukaku, aku melakukan gerakan kayang. Namun, pada saat yang genting itu, sebelum aku kembali ke posisi semula, dia menendang perutku kuat sekali. Aku langsung terjerembab ke sudut dapur. Punggungku mengenai pucuk tempat cuci yang memang agak lancip. Kurasakan sakit yang sangat. Punggungku terasa patah. Darah keluar dari mulutku. Kubersihkan dengan lengan. Kulihat Hafsah, dia tampak syok berat melihat keadaanku. Lalu dari balik pintu, seorang anak kecil muncul.
“Nak, pergi!!!” pintaku sambil mengisyaratkan untuk pergi. Dia berbalik. Namun si Hitam berlari ke arahnya dan langsung menendangnya. Aku tidak melihat si Hitam menendangnya, tapi aku tahu itu karena kaki si Hitam dalam posisi menendang di ambang pintu. Aku tak percaya pada apa yang terjadi. Petir serasa menyambarku. Aku tak tahu bagaimana keadaan Rifa sekarang. Yang jelas, terdengar suara benda terbentur ke lantai. Aku sangat khawatir.
“Hei, bajingan!!! Kau apakan anakku?!!!” aku sangat marah. Aku tak rela amanah Allah diperlakukan sedemikian rupa. Dengan rasa sakit, aku bangkit dan berlari menuju ke arah pintu. Aku tak melihat ada kaki lelaki berkulit putih yang menyilang di depanku. Aku pun tersandung.
Duggg!!! Kepalaku terbentur pintu saat aku jatuh. Sakit sekali. Aku sangat menderita. Pandanganku berkunang-kunang.
“Ayo pergi!!! Pasti sebentar lagi ada orang ke sini!”, si Hitam berteriak mengajak pergi dua orang temannya. Sesaat kemudian terdengar langkah terseok-seok keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu. Aku masih tengkurap, belum sadar sepenuhnya. Terdengar suara deru mobil di halaman. Makin lama makin mengecil, lalu menghilang.
Hening.
Kucoba untuk mengangkat kepala. Meskipun sakit, kupaksakan. Aku ingin melihat keadaan anakku. Aku kaget setengah mati saat aku melihat keadaannya. Dia tengkurap tak bergerak. Saking kagetnya, tak begitu kurasakan sakit di kepalaku. Hanya terasa ada cairan kental meleleh di kening kananku. Setelah aku sanggup berdiri, aku berjalan ke arahnya. Aku tak begitu mempedulikan isteriku yang masih terdiam bagai batu. Mungkin masih syok.
Kasihan Rifa, kuperiksa nafasnya sambil mengangkatnya ke pangkuanku. Alhamdulillah, masih ada. Hanya saja luka memar menodai sebagian pelipisnya. Kuangkat Rifa menuju dapur. Tampak Hafsah masih membatu. Aku sangat marah padanya. Dia menoleh. Dengan menahan emosi, aku bertanya dengan nada biasa, lemah.
“Sudah puas?”
Hanya itu yang terucap dari bibirku yang kelu.
Hening sejenak. Hawa mencekam menyelimuti rumah kami.
“Ini bukan salahku!”, bentaknya.
Oh, aku ingin menghajar istriku. Ingin kurobek mulutnya. Bagaimana tidak?
Kurang apa aku ini? Kuakui aku memang tak berguna. Namun, aku ingin membuktikan bahwa masih ada seberkas cinta yang masih tersisa di kalbuku. Aku ingin menunjukkan bahwa aku masih sayang padanya. Allah, tolonglah hamba-Mu yang lemah ini…
“Jangan menatapku dengan tatapan menyalahkan begitu!”
Ya Allah, istriku telah hilang. Benar-benar hilang. Kakiku lumpuh seketika. Lalu ada cahaya yang sangat menyilaukan. Sekejap lalu gulita.
Allah, istriku telah hilang…
***
Gelap. Mataku seolah hilang entah kemana. Namun sesaat kemudian kulihat ada setitik cahaya dari kejauhan. Perlahan mendekat dan membesar. Akhirnya terang sudah sekelilingku. Aku bingung ada dimana. Yang kutahu badanku tak bisa kulihat. Hanya penglihatan mataku yang seolah sebuah kamera. Lalu di bawah sana tampak setitik noda. Lama-lama membesar lalu seperti membentuk atap rumah. Atap rumahku. Aku mendekat dan semua menjadi berwarna. Aku kembali ke kotaku. Aku memasuki rumahku, mencari istriku.
Kakiku sampai di pintu kamar. Aku melihat dua sosok sedang bergumul mesra. Mereka sedang berciuman. Namun aku rasanya mengenal mereka yang kurang ajar bermesraan di kamarku. Dia istriku! Hah, dia selingkuh? Aku marah dengan mereka. Aku maju mendekatinya. Ingin kupukul lelaki yang telah menjamah bibir istriku itu. Namun saat aku akan memukulnya, baru kusadari sosok lelaki itu adalah aku! Aku kaget. Aku melihat badanku terlepas dan kini sedang bergumul dengan istriku. Bingung dengan apa yang terjadi, kusadari aku berada di alam mimpi, menyusuri jejak memori dalam tempurung kepalaku. Aku baru ingat kejadian yang ada di depanku kini. Terjadi kira-kira empat bulan yang lalu. Aku teringat sesuatu.
Kakiku bergerak menuju lemari. Kubuka lemari itu dan tidak bisa! Aku tembus! Aku coba mengingat sesuatu lagi. Kakiku bergerak lagi entah kemana. Aku sampai risih sendiri dengan kakiku. Namun aku tak melihat kakiku. Aneh sekali. Aku seperti terseret oleh sesuatu. Benar-benar aneh. Aku menuju ke kamar Rifa. Dia masih tertidur mengenakan baju yang baru dibelinya, persis seperti empat bulan lalu. Waktu itu kami senang sekali habis main ke taman mini.
‘Kakiku’ kembali resek. Aku dibawanya ke kamarku. Dua sosok itu masih berpelukan.
“Sayang…”, kata lelaki itu kepada istriku. Aku tersenyum mendengar itu. Aku romantis juga rupanya. Tak pernah kuucapkan kata itu kepada siapa pun kecuali kepada istriku.
“Ya, Mas… ada apa?”
“Kamu cantik sekali hari ini.”
“Kayak judul lagu, Mas.”
“Memang” Kami lalu tertawa bersama. Indahnya.
“Mas, kalau aku berubah nanti, apa yang akan Mas lakukan?” Aku tak ingat istriku pernah mengucapkan itu.
“Berubah yang gimana maksudnya?” Aku juga tak ingat kalau aku pernah mengucapkan itu. Aneh.
“Ya misalnya aku tidak cinta lagi sama Mas. Aku tidak sayang lagi, dan aku lupa tugasku sebagai istri gimana? Apa yang akan Mas lakukan?” Wah, ini sudah melenceng dari skenario nih. Dalam naskah tak ada kata-kata seperti itu. Aku menatapnya dalam-dalam. Aku melingkarkan kedua lenganku ke lehernya. Dia juga sama.
“Sebisa mungkin Mas akan menyadarkan kamu. Sebisa mungkin Mas akan mengembalikan kamu seperti dulu. Agar kita bisa seperti sekarang ini. Mas tak mau kamu yang sekarang ini hilang, lenyap di masa yang akan datang. Tak akan Mas biarkan orang lain merenggutmu. Tak akan. Ingatkah puisi yang pernah Mas persembahkan untukmu?”
“Ingat, Mas. Terima kasih ya…”
Aku tertegun. Bagaimanapun jauh dari dialog dalam ingatanku, baru saja dialog itu memberikanku satu pelajaran. Aku harus menyadarkan istriku. Harus! Tiba-tiba layar di depanku menjadi gelap lagi. Aku sangat kesal. Berkali-kali aku jengkel dibuatnya. Padahal aku masih ingin melihat adegan itu.
Kali ini yang kulihat adalah sebuah lampu putih tepat di atas. Aku mulai sadar dari mimpi. Mataku telah terbuka. Lalu cakupan pandanganku melebar. Aku segera sadar dimana aku sekarang berada. Tampak seorang wanita yang kukenal. Dia Hafsah. Masih saja dia cantik. Tapi tentunya bukan untukku seorang. Air matanya mengucur deras. Aku membalikkan pandangan darinya. Kesal. Aku membelakanginya. Kurasakan kepalaku diperban. Sakit. Punggungku serasa tak lagi bersahabat. Sakit sekali.
“Mas, jangan marah, Mas…” Katanya lembut. Namun aku tak boleh tergoda. Pasti itu salah satu muslihatnya. Aku tetap diam dalam posisi membelakanginya.
“Maafkan Hafsah, Mas… Hafsah baru menyadarinya. Hafsah tak akan mengulanginya lagi, Hafsah janji.”
“Mana Rifa?”
“Anak kita, Mas. Rifa meninggal beberapa jam yang lalu…”, katanya lalu menangis sambil memelukku yang masih berbaring.
Glekkk…!
Tak terasa air mataku juga mengucur. Hatiku sakit sekali. Takdir yang tak pernah terbayangkan akhirnya muncul juga. Teman kecil yang menggemaskan itu sekarang telah tiada. Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Rasanya semua hal tak lagi indah tanpa kehadiran anak itu. Dia sekarang pulang kepada Penciptanya.
“Sudah puas?” Kataku hampir tak terdengar. Namun aku yakin bisa didengar olehnya. Ngilu. Aku harus kuat menghadapi cobaan ini.
“Maafkan istrimu, Mas…maafkan…”
“Kamu seharusnya sadar dari dulu.”, kataku ketus.
“Ya aku tahu itu salahku, makanya maafkan aku, Mas…” katanya di sela-sela tangisnya yang semakin keras.
“Lihatlah aku, Mas. Mana mungkin aku berdandan secantik ini sedangkan sesuatu yang buruk baru saja menimpa kita. Ini untukmu, Mas. Demi Allah. Aku ingin menjadi istri yang baik.” Aku trenyuh. Aku berbalik memandangi istriku. Wajahnya sembab berlinang air mata. Naluri sebagai seorang suami akhirnya muncul juga. Aku memegangi kepalanya dengan kedua tanganku. Aku memaafkannya.
“Janji ya…”, kataku pelan dan menarik kepalanya ke bibirku dan mencium keningnya. Dia lalu tersenyum manis. Meski masih terisak. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, meski menyisakan segores luka. Yang terpenting sekarang ini adalah mengembalikan istriku seperti semula. Kuusap air matanya. Dia menggenggam tanganku. Kulihat ketulusan yang dulu terpancar dari matanya. Dia mencium punggung tangan kananku. Gencatan senjata.
***
Kami duduk-duduk di halaman belakang rumah kami. Menikmati malam yang ditaburi bintang-bintang. Halaman belakang rumah kami tentu saja sepi. Aku menariknya ke pangkuanku.
“Sayang…”, wah nikmatnya mengucapkan kata itu kepada istri.
“Ya, Mas…ada apa?”, lho kok jawabannya sama? Aku teringat suatu mimpi.
“Kamu cantik sekali hari ini.”
“Kayak judul lagu, Mas.”, aku tertawa dalam hati. Ini salah satu kekuasaan Allah yang ditunjukkan kepadaku.
“Memang” Kami lalu tertawa bersama. Indahnya.
“Mas, kalau aku berubah nanti, apa yang akan Mas lakukan?” Sungguh, aku menjalani satu naskah mimpi.
“Berubah yang gimana maksudnya?” Aku menirukan kata-kataku waktu di mimpi itu.
“Ya misalnya aku tidak cinta lagi sama Mas. Aku tidak sayang lagi, dan aku lupa tugasku sebagai istri gimana? Apa yang akan Mas lakukan?” Katanya sambil membalikkan badan. Masih di pangkuanku. Kami berhadapan. Wah, ini bagian yang kusuka. Aku menatapnya dalam-dalam. Aku melingkarkan kedua lenganku ke lehernya. Dia juga sama.
“Sebisa mungkin Mas akan menyadarkan kamu. Sebisa mungkin Mas akan mengembalikan kamu seperti dulu. Agar kita bisa seperti sekarang ini. Mas tak mau kamu yang sekarang ini hilang, lenyap di masa yang akan datang. Tak akan Mas biarkan orang lain merenggutmu. Tak akan. Ingatkah puisi yang pernah Mas persembahkan untukmu?”
“Ingat, Mas. Terima kasih ya…”
“Ke kamar yuk, Mas akan bacakan lagi untukmu.” Dia tersenyum manis sekali. Kami lalu masuk ke kamar.
Kami saling berhadapan di tepi ranjang. Masih tetap melingkarkan tangan. Matanya sayu, indah sekali.
“Mas, sebenarnya aku cantik nggak sih?”, katanya sambil tersenyum lucu. Aku juga tersenyum, namun hatiku tertawa keras. Bahagia sekali.
“Jika Allah memberi kemampuan pada Mas untuk memetik bintang, tahukah kamu apa yang akan Mas lakukan?”
“Apa, Mas?”
“Mas akan ambilkan satu bintang yang terindah untukmu. Dan kan Mas pasangkan hiasan angkasa terindah itu di wajah isteriku yang terindah. Tatkala sinarnya membias, sempurna sudah keindahan paras wajahnya. Terperciklah aura bidadari. Bak permata. Kala malam tiba, kan Mas katakan pada angin, kan kudekap erat dirinya mengungkapkan segala rasa yang menggumpal di hati, takkan ada masa seindah saat itu. Walau hanya seberkas kata, namun merdunya tak terperikan dihias nada-nada cinta. Kan kuminta kepada Tuhan supaya waktu tunduk terpaku di tempat. Dan alam menyaksikan drama ini, menyaksikan bahwa inilah saat-saat dimana kekuatan cinta bertumpu pada pengharapan mencari ridho-Nya…”, aku ucapkan kata-kata itu sambil memeluk tubuhnya. Aku hampir tak percaya bahwa aku masih ingat kata-kata itu. Padahal sudah terlalu lama. Kulepaskan pelukanku. Air matanya meleleh deras. Aku tak kuasa menahan diri untuk tak menyeka air matanya. Saat kusentuh pipinya yang halus bagai sutra, dia memegang tanganku erat. Lalu dia mencium tanganku. Bibirnya bergetar sangat indah, berusaha mengucapkan kata-kata. Terharu.
“I..i..Indah sekali, Mas… Makasih ya..”. oh, aku hampir tidak percaya. Sungguh elok tak terperikan kisah ini. Cahaya keagungan Allah berkilat-kilat dalam hati. Kami melakukan ibadah, seindah desau angin di malam itu. Biarkan bintang-bintang cemburu melihat kami. Biarkan. Aku mengucapkan syukur kepada Allah dalam hati berkali-kali.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mahaagung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.” (QS. Ar Rahman: 75-78) [END]
Diubah oleh arai01
Semoga diadaptasi menjadi Anime emoticon-Betty (S)


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di