CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c22eca9c0d770142e8b4568/langit-dan-bulan

Langit dan Bulan

Bisakah kita satu hari bersama, tanpa tumpukan kertas yang memenuhi meja kita?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?


Langit dan Bulan

Daftar Isi


Quote:



Saran dan masukan sangat membantu dalam penggarapan. Kiranya berkenan untuk mengingatkan jika ada kekeliruan dalam menulis.

Sosial media
Instagram : aldisabihat
Twitter: aldisabihat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aldiansyahdzs
Halaman 1 dari 2

#1

Gemintang kelap-kelip cahaya saling beradu terang di langit. Tanpa ada awan gelap ribuan bintang saling unjuk pamer sinar. Bagi Langit, malam ini adalah kali pertamanya menikmati keindahan malam hari meskipun memandang lewat bingkai jendela kamar. Diantara bintang-bintang yang sedang Langit amati, salah satunya ada yang menukik melesatan kencang. Langit tak berkomat-kamit untuk meminta keinginan. Baginya itu cuman dongeng semata. Menikmatinya adalah suatu kebahagiaan.

Langit memang menyukai segala keindahan alam. Hamparan bintang dikala gelap, senja diakhir petang, fajar terbit, rintik gerimis sendu, bau tanah selepas hujan reda.

Waktu berada di sepertiga malam awal. Mata Langit mulai merayu untuk segera terlelap. Namun tugas kuliahnya harus segera di selesaikan malam ini. Dosen kadang berlaga seperti dewa, seenaknya. Tugas diberikan saat sore. Lalu esoknya harus selesai.
Jentikan jemari yang beradu dengan tuts keyboard memecah hening malam. Sesekali terdengar desis angin. Kembali, matanya yang sudah layu dipaksa untuk tetap terjaga demi tidak dapat potongan nilai karena keterlambatan. Esok jam 8 pagi tugasnya harus segera di letakan di meja dosen. Langit memaksakan matanya untuk tetap fokus mengerjakan tugas. Asal-asalan mengerjakan bisa diganjar dengan huruf D. Matanya menyapu setiap huruf, memeriksa dengan jeli

***


Kapan aku sembuh, gumam Zafira dalam hati. Ini kali ke lima bolak-balik dalam satu bulan mengunjungi rumah sakit. Kelelahan menjadi sebab utama penyakit yang sedang diderita. Kadang darah mengucur dari hidung. Membuat ia takut terhadap dirinya sendiri.

“Dek jangan kecapean ya dijaga kondisinya” lima kali bertemu lima kali pula ucapan itu yang Zafira dengar. Obat yang ia terima pun masih sama.

Zafira sebisa mungkin menjaga kondisi. Minum obat teratur, makan makanan bergizi, dan tidur tidak lebih dari jam sembilan malam. Tapi tidak membuahkan hasil. Ia masih harus bertemu dengan dokter untuk berkonsultasi, jawabannya ya seperti biasa. Istirahat yang cukup.

Aku gamau sakit, tolong.

***


Buku, komputer jinjing, alat tulis, serta tugas yang semalam telah ia kerjakan sudah berderet rapi di dalam tas. Disisir olehnya rambut yang sudah menutupi telinga. Sepintas mirip Yuni Shara, hanya Langit memiliki kumis dan brewok yang tipis.

Langit tidak pernah memusingkan hari ini harus pakai baju apa atau warna apa. Baginya asal nyaman dan terlihat tidak kucel sudah aman. Lagi pula tidak ada yang naksir padanya.

“Pulang jam berapa?”, sambil menyerahkan tempat makanan yang di isi nasi goreng.
“Jam 5”, jawab Langit.
“Oh yaudah, hati-hati ka”, ujar sang adik Kaila.

Dibelahnya kemacetan jalan Kopo di pagi hari dengan motor Honda CB-70 yang ia tunggani. Takut jika tugas yang ia sudah kerjakan semalaman malah dikurangi nilainya.

Langit memarkirkan motor, ia langsung melesat menuju ruangan dosen. Beruntung, saat ia menyerahkan tugas jam menunjukan pukul 7.30.

Sejujurnya, Langit bukan mahasiswa bertipe pengejar deret nilai A pada lembar transkrip nilai. Namun kali ini ia terpaksa karena hasil nilai utsnya kemarin minor. Dosen memperingati jika untuk mengkatrol nilai utsnya setiap tugas yang diberikan harus dikumpulkan tepat waktu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
ijin nimbrunglah dimarihhh
Quote:


Ramaikan gan.
tak kasih bintang 2 dulu, kalau sudah tamat nanti ditambah

#2

Dua insan yang terpisah oleh jarak didekatkan melalui sambungan telepon. Mencoba melepas rindu setelah dua minggu tidak ada kabar yang intens. Bulan yang sibuk karena mengurusi ospek maba, Rizky mengurusi pekerjaannya di luar kota.

Percakapan antara dua insan haus akan perjumpaan. Mereka saling berucap rindu. Terutama Bulan yang ingin pergi bersama Rizky menghabiskan waktu. Bagi Bulan, kemanapun asal bersama Rizky ia akan tetap merasa nyaman.

Kasih mereka terjalin saat SMA. Rizky kelas tiga dan Bulan kelas satu. Singkat cerita mereka berkenalan, makan bersama di kantin dengan perasaan was-was karena takut dipergoki oleh guru, saling cerita, nyaman, dan berpacaran. Monoton, namun memang seperti itu kisahnya.

Quote:


Hubungan Bulan – Rizky sudah berjalan 3 tahun. Jalan hubungannya ya seperti kisah cinta remaja pada umumnya. Makan di restaoran atau menonton film di bioskop. Meskipun repetisi itu berulang-ulang Bulan tetap menikmatinya.

***


Setiabudi, tempat dimana sang pencari ilmu hilir mudik. Kampus ini seolah tidak pernah istirahat. Manusia-manusia gila belajar silih berganti memutar roda kehidupan kampus. Mengejar gelar sarjana demi membanggakan kedua orang tua agar kelak di masa depan nanti tidak susah menjadi beban negara.

Gadis berambut pendek seleher duduk di kursi selasar koridor. Petang ini ia harus bertemu ketua BEM fakultas untuk meminta tanda tangan pada lembar laporan pertanggung jawaban ospek kemarin.

Satu jam berlalu. Sudah beberapa kali kakinya menepuk-nepuk lantai. Menandakan sedang gelisah. Sang ketua tidak menampakkan dirinya padahal ia sudah berjanji. Di lirik ponsel milik gadis tersebut. Tidak ada satupun pesan yang masuk.

Hujan turun membasahi bumi Setiabudi. Sang gadis semakin tidak karuan lagi. Jika ia tahu akan seperti ini lebih baik ia akan mengerjakan rentetan tugas minggu ini.

Quote:
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi

#3

Sesuai dengan janji kemarin, Langit mengecek jadwal fakultas teknik hari ini. Matanya merayap, menyapu kolom demi kolom kelas Teknik Komputer A Semester 3. Setelah tertangkap oleh matanya. Sebelum ia melangkah menuju kelas Bulan, diperiksanya kembali laporan yang akan ia berikan. Takut tertukar dengan laporan yang lain.

Langit mengetuk pintu kelas Teknik Komputer A. Seorang laki – laki menghampirinya. Langit langsung menanyakan keberadaan Bulan.

Quote:
.

***


Hubungan Bulan dengan Rizky sudah tiga tahun. Setiap bulannya mereka merayakan kebersamaan mereka. Demi Bulan, Rizky rela bolos kerja serta dipotong gajinya hanya untuk berjumpa dan mengucap langsung selamat tanggal 22 setiap bulannya.

Rizky tipikal lelaki romantis yang digilai oleh kaum hawa. Sepucuk mawar di kantung jas dada tidak pernah absen untuk disampaikan kepada Bulan saat candle light dinner. Bulan dimabuk kepayang oleh sang adam.

Quote:


Dua insan yang dadanya sudah sesak oleh rindu kini saling bertatap mata. Rasanya ingin malam ini tidak pernah berakhir bagi mereka. Terutama bagi Bulan, ia tak mau kekasihnya sering keluar–masuk kota untuk mengurusi kerjaannya.

***


Sinar mentari membangunkan Zafira dari mimpinya. Ia beranjak dari kasur. Melipat selimut dan menata bantal. Lalu bergegas untuk mencuci muka.

Langkahnya gontai, dunianya seolah bergoyang. Zafira menahan dirinya meletakan kedua telapak tangan pada tembok. Ini bukan gempa bumi. Kepalanya terasa tertekan.

Sepagi ini darah harus turun dari hidungku?
profile-picture
mychain memberi reputasi
Diubah oleh aldiansyahdzs

#4

Muka meja dipenuhi oleh lautan kertas: surat masuk, surat keluar, revisi proposal, hingga laporan pertanggung jawaban per masing – masing himpunan mahasiswa jurusan. Dua rekan kerja hari ini harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ditemani lagu Lost Stars milik Adam Levine mereka mencoba mengusir jenuh yang kerap kali membuat mereka bosan mengerjakan repetisi yang berulang-ulang.

Mereka membagi tugas Zafira mengecek laporan pertanggung jawaban sedangkan Langit merevisi proposal. Coretan demi coretan dari pensil Langit menghiasi proposal yang sedang direvisi. Zafira dengan telitinya menghitung kwitansi pengeluaran. Mata dan jarinya seolah terkoneksi. Setiap angka yang ia lihat, jemarinya otomatis menekan tombol kalkultaor.

Quote:


Mereka beranjak dari meja. Berjalan menyusuri koridor lalu tiba di gerbang kampus. Langkah mereka beriringan diatas trotoar sebelum Zafira masuk lebih dulu ke dalam minimarket.Zafira mengambil es dari kulkas datar menunggu Langit yang sedang mencari minuman dingin.

Quote:


Zafira – Langit adalah rekan kerja. Mereka menjabat sebagai sekretaris di BEM. Zafira sebagai sekretaris umum, Langit sebagai wakilnya. Sudah enam bulan mereka bekerja bersama mengurusi administrasi hima fakultas yang mengajukan acara. Orang menganggap mereka kembar. Langit dan Zafira memiliki potongan rambut yang persis. Hanya saja yang membedakan Zafira memiliki lesung pipit–Langit memiliki bewok tipis, Zafira memiliki warna kulit kuning langsat–Langit memiliki warna kulit sawo matang terbakar matahari.

Terimakasih Langit, terimakasih telah mencoba untuk mengembalikan senyum yang hilang.

#5

Untuk berjumpa dengan Rizky, Bulan harus menunggu Rizky pulang ke Bandung tiap bulan. Itupun jika pekerjaan Rizky sudah beres. Rizky sudah tidak bisa mengambil resiko bolos. Bisa saja jika setiap bulan ia bolos satu hari, dalam satu tahun ia bisa bolos dua belas kali. Kantor akan memecatnya bila Rizky sering bolos.

Quote:


Dunia Rizky sesaat melambat, ingin rasanya meluapkan amarah. Namun demi sang kekasih ia rela menahannya. Lebih baik mengalah dari pada membalas amarah. Rizky sudah memikirkan langkah hubungan mereka kedepan. Rencananya, ia akan mengikat sang kekasih setelah lulus kuliah. Kalau bukan biaya catering, biaya riasan pengantin, biaya dekorasi, biaya hiburan, serta biaya uang muka rumah mahal mungkin bisa saja ia pulang ke Bandung menemui Bulan yang sudah resah. Sejujurnya, Rizky sudah lelah menerima rengekan Bulan. Ia sudah sering menjelaskan jika saat ini ia sedang berusaha untuk kerja keras agar kelak saat acara pernikahan serta berumah tangga dengan Bulan ia tidak akan memikirkan biaya-biaya apapun. Tapi Bulan memaksa.

#6

Bisakah kita satu hari bersama, tanpa tumpukan kertas yang memenuhi meja kita?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?


Kala itu, aku masih mengingatnya dengan baik. Kau berada di baris sebelahku. Masih menggunakan seragam SMA. Rambutmu cepak, badanmu kering kerontang, kulitmu masih satu warna dengan warna kulitku. Kita mengikuti upacara pembukaan ospek berjam-jam berdiri di bawah sinar mentari. Aku penasaran siapa namamu, ku lirik tanda pengenal. Langit Gema Wibawa. Saat itu pertama kalinya aku tau siapa namamu.

Saat merebah duduk setelah upacara kau melirikku. Aku malu. Ku tundukan pandanganku. Namun kau semakin membuat malu, kau tawarkan sebotol air untukku. Aku menganggukan kepalaku lalu mengambil sebotol air darimu. Saat itu memang aku sangat haus sekali. Kau seolah-olah tau apa yang aku butuhkan.

Namaku Langit, itu kalimat pertamamu. Kau ulurkan tanganmu lalu ku balas dengan genggaman.

Masa menyebalkan menjadi mahasiswa baru berlalu. Kita tidak sengaja dipertemukan lagi. Aku yang secara terpaksa menjabat sekretaris di BEM, pun kamu Langit yang terpaksa harus naik jabatan dari himpunan mahasiswa jurusan. Awalnya ku kira kau orang yang sulit diajak berbicara. Tapi kau yang lebih dulu mengawali percakapan diantara kita.

***
profile-picture
mychain memberi reputasi

#7

Demi kesehatan Zafira rela meluangkan waktu untuk datang menemui dokter. Konsultasi terhadap perkembangan penyakit yang ia derita. Memperjuangkan jika ia ingin hidup normal seperti remaja seusianya.

Hari ini adalah analisa dari rangkaian rutin pemeriksaan. Dadanya berdegup kencang. Khawatir jika hasil pemeriksaan tidak sesuai yang diharapkan.
Quote:


Sekuat hati Zafira menahan tangis. Dipatahkan hati oleh pria ia masih bisa tegar. Tapi untuk ini, ia tidak.

***


Matahari mulai condong ke arah barat. Mengantarkan hari menuju petang. Hari ini Zafira beruntung. Biasanya ia baru bisa pulang jam 8 malam. Tidak ada revisi proposal atau laporan pertanggung jawaban. Jiwanya sudah ada di kamar. Merebah dan memalas-malaskan diri diatas kasur. Namun raganya sedang duduk di kursi shelter menunggu bus yang akan ia tumpangi.
Tiga bus dengan muatan sesak penuh berlalu. Zafira sudah kesal. Jika sampai jam 17.30 tidak ada bus bisa-bisa ia tidak bisa pulang. Zafira mengecek jam tangannya. 17.33. Bus sudah tidak ada yang melintasi lagi. Memesan ojek online mahal. Rasanya percuma pulang cepat dan menghemat ongkos jika pada akhirnya harus naik ojek online.

Quote:


Petang sudah disambut oleh malam. Lampu jalanan mulai menyala. Samar-samar sinar senja dilahap oleh gelap. Jalanan lenggang, tidak macet seperti biasanya. Langit enggan kebut-kebutan. Ingin menikmati hal yang jarang didapatkan. Mengantarkan Zafira pulang. Biasanya Zafira sering menolak. Tapi kali ini tidak.
Quote:


Zafira melangkah menuju pagar rumahnya. Langit belum beranjak pergi. Memastikan Zafira sebelum benar-benar masuk ke rumahnya. Setelah Zafira membuka pintu rumahnya. Langit bergegas untuk pulang.

Terimakasih Langit, terimakasih selalu ada.

#7

Demi kesehatan Zafira rela meluangkan waktu untuk datang menemui dokter. Konsultasi terhadap perkembangan penyakit yang ia derita. Memperjuangkan jika ia ingin hidup normal seperti remaja seusianya.

Hari ini adalah analisa dari rangkaian rutin pemeriksaan. Dadanya berdegup kencang. Khawatir jika hasil pemeriksaan tidak sesuai yang diharapkan.
“Setiap ada pasien saya enggan memberitahu jika hasilnya mengecewakan” Zafira semakin gelisah.

“Tapi bagaimana lagi ini hasil pemeriksaan”
“Anda Vertigo”
Sekuat hati Zafira menahan tangis. Dipatahkan hati oleh pria ia masih bisa tegar. Tapi untuk ini, ia tidak.

***


Matahari mulai condong ke arah barat. Mengantarkan hari menuju petang. Hari ini Zafira beruntung. Biasanya ia baru bisa pulang jam delapan malam. Tidak ada revisi proposal atau laporan pertanggung jawaban. Jiwanya sudah ada di kamar. Merebah dan memalas-malaskan diri diatas kasur. Namun raganya sedang duduk di kursi shelter menunggu bus yang akan ia tumpangi.

Tiga bus dengan muatan sesak penuh berlalu. Zafira sudah kesal. Jika sampai jam 17.30 tidak ada bus bisa-bisa ia tidak bisa pulang. Zafira mengecek jam tangannya. 17.33. Bis sudah tidak ada yang melintasi lagi. Memesan ojek online mahal. Rasanya percuma pulang cepat dan menghemat ongkos jika pada akhirnya harus naik ojek online.

“Zaf” Kepala Zafira menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Ayo pulang” Zafira berjalan menuju Langit yang melambai-lambaikan tangan.
“Aku ikut sampe Andir aja ya”
“Ga usahlah, sampe depan rumah aja ya.”
“Nanti aku isi bensin kamu ya.”
“Ga usah.”

Petang sudah disambut oleh malam. Lampu jalanan mulai menyala. Samar-samar sinar senja dilahap oleh gelap. Jalanan lenggang, tidak macet seperti biasanya. Langit enggan kebut-kebutan. Ingin menikmati hal yang jarang didapatkan. Mengantarkan Zafira pulang. Biasanya Zafira sering menolak. Tapi kali ini tidak.

“Kalo tadi aku ga sapa kamu, kamu pulang jam berapa hayo?”
“Hehe makasih Langit”
“Bilang ya kalau mau bareng aku tunggu” Zafira hanya membalas dengan senyum.

Zafira melangkah menuju pagar rumahnya. Langit belum beranjak pergi. Memastikan Zafira sebelum benar-benar masuk ke rumahnya. Setelah Zafira membuka pintu rumahnya. Langit bergegas untuk pulang.
Terimakasih Langit, terimakasih selalu ada.

#8

Tiga bulan yang lalu, seorang gadis tersedu-sedu di sudut ruangan BEM. Simpul senyum yang biasa dirajut, hilang. Ku tatap wajahnya, yang jelas matanya sendu. Tak usah ku tanya kenapa. Sudah jelas ia sangat tidak baik-baik saja. Gadis itu enggan bercerita. Tanpa permintaan ku pininjamkan raga untuk bersandar. Dibalas dengan peluk, tangisnya tumpah dibahuku. Membiarkan sedihnya sejenak berlalu. Laki-laki yang selalu dibanggakan tega mendua. Hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun telah sirna. Ikatan tunangan menjadi sia-sia. Hanya kepedihan yang tersisa. Sungguh, aku tak tega melihat gadis itu menjadi sendu. Perihnya seolah ku rasa. Sakitnya seolah ku derita.

“Bantu aku senyum lagi Langit” pintanya lalu terlelap dalam peluk.

Wahai gadis, bolehkah kini aku menjadi alasanmu untuk tersenyum?
Bolehkah ragaku menjadi sandaran setiap kau berkeluh?
Jika iya, biarkan aku melebur lara
Biarkan aku melukis tawa


***


Dua minggu tidak ada proposal atau laporan pertanggung yang masuk. Muka meja yang biasanya dipenuhi oleh kertas-kertas kini bersih. Alat tulis yang biasanya berserakan, berdereat rapi di dalam wadah kaleng. Dua rekan kerja yang biasanya merevisi kini hanya memandangi birunya awan. Tanpa beban dipundak mereka.

“Temenin aku nonton dong” hati Langit bergetar. Tidak ada hujan tidak ada petir tiba-tiba ajakan Zafira memecah hening diantara mereka.
“Yakin?”
Please, yuk nonton” Zafira memelas sekaligus meyakinkan. Langit mengangguk.
“Besok ya. Kan ngga ada kelas.” senyum Zafira.

Untuk mengembalikan dunia Zafira yang telah hilang Langit mengiyakan permintaan Zafira. Dipangkasnya uang jajan untuk satu minggu ke depan. Demi Zafira yang saat ini masih mencoba untuk menjalani hari-hari dengan hati yang berat.

#9

Bulan beberapa kali mengecek ponselnya dengan resah. Dibukanya aplikasi, ditutup. Dibuka lagi, ditutup lagi. Sampai akhirnya ia hanya bisa pasrah menunggu kabar Rizky. Semua sosial medianya tidak menunjukan kabar apapun. Dibenaknya, Bulan menyesal karena terlalu menekan Rizky untuk bertemu. Ratusan pesan dikirim, tidak ada balasan. Dibacapun tidak. Sama juga hasilnya saat Bulan mencoba menelpon. Tidak diangkat.

“Ky, maaf. Maaf aku terlalu ingin ketemu sama kamu. Maaf aku takut jika ada diluar sana yang mampu lebih baik dari aku. Aku egois. Iya, aku egois ingin terus sama kamu.”
Bulan mengakhiri ratusan pesan yang ia kirim. Tidak mengharap dibalas. Ia mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri. Kantuk kini mulai hinggap di pelupuk matanya. Raganya sudah lelah. Sesaat sebelum dirinya diantarkan ke alam mimpi ponselnya berdering
“Bulan maaf, selama jadi pacarmu aku tidak membuat bahagia. Salahku terlalu sibuk bekerja sehingga setiap bulan kita sulit bertemu. Bulan rasanya berat. Tapi yang selama ini ku takutkan terjadi. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sehingga berimbas pada hubungan kita. Bulan, aku tahu aku bukan laki-laki baik. Terimakasih Bulan telah menemani sejauh ini. Semoga kau dan aku baik-baik saja meski berjalan dengan jalan yang berbeda.” Hujan turun dari mata Bulan. Jemarinya tidak mampu untuk membalas. Tertunduk. Tidak pernah menyangka jika harus berakhir karena terlalu egois dan terlalu posesif. Kepalanya ingin membela, tapi hatinya harus rela.

Segala hal terpikir di kepala Bulan. Jika dilanjut ia sudah tidak mau berjauh-jauhan menyiksa hatinya dan hati Rizky karena berjauhan. Ia takut jika semakin jauh melangkah, semakin keras pula tekanan untuk Rizky.
“Ky, semoga apa yang kamu ucap benar. Semoga kita baik-baik saja, meski berjalan dengan jalan yang berbeda.”

Terimakasih untuk kasih yang kau rangkai menjadi kisah
Ku kira selama ini aku bisa membuatmu bahagia
Ternyata tidak, aku malah menyiksa.
gan cerita yg sbelah kentang gw masih nubgguin nih
Quote:


Lagi proses kok, maaf ya sampe nunggu lama.

#10

Zafira melukis wajahnya dengan riasan. Tiga puluh menit ia habiskan di muka cermin. Tidak mau jika di depan Langit terlihat biasa saja. Riasannya memang tidak berlebihan. Hanya sekedar agar ia terlihat lebih cerah dari biasanya. Dan yang paling penting agar tidak memalukan saat berjalan bersama Langit.

Hari ini cerah. Secerah wajah Zafira. Menikmati hari tanpa lembar kertas. Langit sudah menunggu Zafira di depan rumah. Zafira datang. Langit terpaku memandang Zafira yang memang sudah cantik tanpa di-makeup. Kini lebih cantik. Senyum yang telah hilang kini perlahan kembali. Terpancar dari aura wajahnya.

Sepanjang jalan menuju mall Langit grogi. Perbincangan diatas motor Langit hanya dijawab dengan iya hehe dan iya hehe.

Begitu bodoh laki-laki yang menyia-nyiakan gadis secantik ini.

Zafira sudah memilih film apa yang akan ditonton. Langit mengiyakan saja. Tidak peduli apa film yang Zafira pilih. Baginya melihat Zafira kembali tersenyum sudah bahagia.

“Kamu, ga kayak biasanya. Kalo ngobrol di kampus kan ngalir, ga kayak tadi iya hehe iya hehe”, Zafira menirukan suara Langit saat di motor.
“Hehe, iya Zaf.” Zaf aku grogi kamu udah cantik jadi makin cantik.
“Tuh kan ah” Zaf, kamu cemberut masih aja cantik.

Zafira menceritakan film yang telah dipilih. Filmnya adalah film sekuel. Secara detil dua film yang telah ditonton Zafira ceritakan. Langit menjadi pendengar yang baik. Setidaknya Langit tidak mau terlalu bengong saat nanti menikmati film.

“Eh, dua film sebelumnya nonton sama siapa?” tanya Langit.
“Mendadak lupa ingatan” sudah bisa Langit tebak Zafira menonton dengan siapa.

Aku tau jatuh cinta pada pandangan pertama indah.
Tapi kini tidak, jatuh cinta pada seseorang yang mengembalikan senyum lebih indah.
Kiranya kini ada tempat untukku kembali bersinar saat kau gelap.

#11

Tidak ada yang terbiasa baik-baik saja setelah berpisah. Dan tidak pernah ada perpisahan yang baik-baik saja. Jika baik-baik mengapa perlu berpisah? Tanpa ada sapaan selamat pagi, Bulan mencoba untuk tegar menghadapi hari. Membiasakan diri tanpa Rizky. Tanpa ada penyemangat. Kini dirinya sendiri menyemangati. Merangkai kembali hati yang hancur.

Beberapa teman bertanya mengapa hubungan mereka berakhir. Bulan hanya menjawab dengan senyum.
“Ayo lah cerita”
“Put belum sekarang ceritanya ya”
“Aku ga mau kamu nyimpan beban sendiri aja”
Putri adalah teman kampus pertama Bulan sekaligus satu-satunya orang yang sangat dipercaya. Bulan ingin menumpahkan sedih. Pundaknya sudah tidak kuat menahan beban berat. Tapi sekatu hati ia tahan. Bulan tidak ingin mengganggu rasa bahagia Putri yang sudah dilamar oleh kekasihnya.

“Kamu pokoknya langgeng ya sampai mau nikah, terus jadi keluarga bahagia” Bulan memanipulasi hatinya. Putri tersenyum mengamini.

Put, jangan seperti aku. Kau harus tetap tersenyum.

***


Sudut meja kafe kerap menjadi tempat favorit bagi pengunjung menyendiri. Menyendu dibalik pilu. Mencari keramaian dikala kesepian. Memudarkan perih, membasuh luka sendiri.

Pramusaji mengantarkan pesanan Cappucino, Thai Tea, dan Sosis Telur. Ditujukan untuk meja nomor 22. Meja paling ujung di kafe. Dipandangnya meja itu dari bar. Hanya seorang gadis yang duduk. Pramusaji melangkahkan kakinya, tiba di meja 22 lalu menghidangkan pesanan. Gadis itu balas mengucap terimakasih.

“Mas live musiknya mulai jam berapa ya?”
“Sebentar lagi kira kira jam delapan”

Gadis itu Bulan. Hatinya masih luluh lantah. Beberapa kawan menawari diri untuk mendengar segala keluh kesah. Bulan menolak. Terlalu berat bagi lisannya untuk bercerita. Ia memilih tenggelam dalam lautan kesedihan. Membiarkan hatinya sendiri yang mengobati luka.

Dari banyak cara yang Bulan lakukan untuk mengobati lukanya adalah berada di keramaian tanpa ada satupun yang mengenalnya. Ia memilih kafe yang selalu di isi oleh live musik. Mendengarkan lagu yang dinyanyikan secara langsung membantu memulihkan hati.

“Selamat malam para pengunjung kafe Temaran Senja bertemu lagi bersama kami”
“Seperti biasa kami akan membawakan lagu-lagu bernuansa pop–kustik”
“Kami memberikan kesempatan untuk bernyanyi bersama atau rikues lagu”
“Rikues lagu bisa lewat dm ig kami”

Bulan merogoh telpon genggam. Membuka instagram, mencari akun instagram band yang sedang mengisi live musik di kafe. Setelah menekan tombol mengikuti, barulah ia bisa mengirim pesan.

Dua lagu sudah disuguhkan. Bulan menikmatinya dengan tenang. Sesekali ia ikut bersenandung mengikuti lagu yang dilantuntkan. Sejenak beban yang berada dipundaknya membias. Terurai bersama lirik-lirik lagu.
“Dua buah lagu telah kami bawakan semoga dapat menghangatkan malam ini”
“Ada sebuah lagu rikues yang masuk dari DM instagram kami”
“Yang rikuesnya tidak mau disebut namanya, ia ingin dibawakan lagu Nadir-nya Fiersa Besari. Kami akan bawakan langsung. Semoga berkenan di hati ya mba”
Band mulai memainkan lagu yang dipesan. Bulan memandang sang vokalis menyenandungkan lagu. Setiap liriknya Bulan ikut menyanyi. Menikmati lantunan nada-nada. Lagu seolah-olah sedang melakukan terapi pada hatinya. Membiarkan lukanya diobati oleh dirinya sendiri.

Cappucino dan Thai tea melegakan hausnya. Sosis telur sudah diolah oleh perutnya. Bulan beranjak dari meja nomor 22. Membayar pesanannya di kasir.
“Mas, makasih ya” Bulan memasukan uang dua puluh ribu ke dalam kotak musik band. Sang vokalis membalas dengan anggukan senyum.

Hati lega, beban dipundaknya perlahan hilang. Mencoba untuk mengikhlaskan apa yang bukan menjadi miliknya. Seutuhnya memang segala yang ada di alam semesta hanya milik Sang Pencipta.

Ky, semoga benar. Kita bisa bahagia dengan jalan kita masing-masing
ane menyimak

#12

Setelah rehat dari rutitinitas tanggung jawab. Zafira–Langit kembali harus berkutat dalam lautan kertas. Zafira sudah terlatih untuk menghitung dengan rinci laporan. Namun hari ini, Langit tidak seperti biasanya. Dari lima proposal yang masuk, satupun belum ada yang selesai direvisi. Semalam tidurnya tidak nyenyak.

Jemari Zafira lincah menekan angka-angka kalkulator. Menjumlah dan menjumlah, memastikan apa yang diperiksa tidak ada yang terlewat. Bahkan hanya seratus rupiah.

“Kamu kenapa?” Zafira menghentikan jemarinya diatas kalkulator. Merasa ada yang aneh dari Langit.
“Engga apa apa”
“Maaf aku menghambat, duluan pulang juga boleh. Aku pesenin ojek online”

Zafira mengambil proposal yang sedang direvisi oleh Langit. Lalu mengambil pensil yang sedang digenggam Langit.

“Tidur aja. Nanti kalo beres aku bangunin ya” ujarnya tersenyum.

Lima menit waktu yang dibutuhkan Zafira menyelesaikan revisi satu proposal. Tangannya meraih proposal kedua. Lalu membuka lembar pertama. Dibaca kata demi kata dengan teliti.

Clak, darah menetes. Jatuh diatas lembar proposal. Dunianya seolah melambat, seolah berputar. Ia memaksakan diri untuk melangkah menuju toilet meskipun gontai.

Selemah ini aku?

Langit terbangun. Duduk lalu memeriksa proposal pertama. Rasanya aman. Tangannya membuka lembar kedua. Membaca kata demi kata. Namun, matanya terhenti menemukan bercak darah.
Zafira menyumpal hidung dengan tissue. Berjalan kembali menuju ruangan BEM.

“Kamu kenapa?” sontak membuat Langit kaget
“Engga.” Zafira tersenyum. Menyembunyikan sakit yang dirasa.
“Kalo kamu ga apa-apa ngga akan ada tissue di hidung kamu” Zafira tidak bisa mengelak.
“Aku vertigo”

Langit menyeret kursi. Menyuruh Zafira untuk duduk. Tanpa penolakan Zafira menuruti apa perintah Langit. Langit berpindah posisi berada di belakang kursi. Mengikat rambut Zafira. Hal yang bisa ia lakukan untuk meredam pusing Zafira ada dengan memijit kepalanya.
Meskipun tidak selihai tukang pijit. Langit paham apa yang harus dilakukan. Ia mengambil minyak angin dari kotak P3K. Melumuri tangannya dengan minyak angin dan juga pada kening Zafira.

“Zaf kalo kerasa sakit bilang ya” Jemarinya memijat-mijat kening Zafira. Dari mulai putaran hingga sapuan satu arah. Mencoba mengusir pusing dari kepala Zafira.
“Kok enak ya, jadi ngantuk nih haha” ujar Zafira tertawa.
“Ke enakan gapapa tidur aja tapi nanti aku tinggalin pulang haha” balas Langit. Zafira tersenyum
Terimakasih Langit, dirimu adalah apa yang aku butuhkan. Tanpa meminta

#13

Sulit, aku akui membuka hati kepada orang baru. Lelaki silih berganti mencoba memenangkan hati. Anehnya, hati enggan terusik. Larut dalam kenangan bersamamu. Yang telah kita rangkai (apa aku masih boleh menyebut kita?) di masa lalu.

Halo, apa kabar lelaki yang pernah membawaku merasakan tingginya angkasa dan dalamnya samudra? Ku harap baik. Tidak sepertiku yang mencoba untuk membaik-baikan diri. Rasanya harimu cerah tanpa ada aku yang membuat gelap.

Aku tau ada atau tidaknya aku disampingmu kau akan baik-baik saja. Kau lelaki yang terampil mencipta bahagia. Kini entah kau bagi untuk siapa.
Setelah perpisahan, aku masih sering menengokmu di dunia maya. Melihat perkembanganmu tanpa ada aku disampingnya. Seperti yang kau ucap. Kau tetap baik-baik saja. Meneruskan kehidupanmu sebagai mana mestinya. Melakukan apa yang membuatmu senang. Tidak ada satupun postingan di sosial media mu jika kau sedang bersedih. Berbanding terbalik denganku yang sering membagikan lagu-lagu sendu yang sedang ku dengar. Berharap kau tau, dan bisa mendengarkan juga apa yang aku dengar.

Rizky, semoga aku bisa membuktikan ucapanmu
.

***


Sunyi. Hanya suara detik jarum bergerak yang menemani malam. Desis angin menyelinap dari jendela. Menambah dingin hati selepas pengisinya pergi. Ruang hati terasa semakin kosong. Mata enggan terlelap meskipun badan sudah meminta untuk beristirahat. Raga sudah lelah menopang jiwa mencari sepotong kebahagiaan dari dunia yang tidak berpihak pada takdir.

Pernikahan yang di idamkan sirna sudah. Dengan berat hati cincin yang melingkar di jari manisnya harus dilepaskan. Meski yang memasangkan cincingnya sudah lebih dulu lepas dari hidupnya. Derai tangis mulai turun dari pelipis mata. Hal yang selama ini diperjuangkan hancur karena egonya sendiri. Apa salahnya bersabar? Apa salahnya bersabar? Lagi dan lagi pertanyaan itu menyerang hati. Tidak bisa dijawab. Menyesal kala itu lebih mendenga ego.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Hanya bisa terbujur kaku disudut kamar. Menyendu dibalik baris lirik lagu. Mengayam rasa pilu. Memutar berulang-ulang kali. Hingga raganya lelah.
Saat pagi tiba, matanya membengkak. Badannya panas, kepalanya sakit. Sebodoh ini ternyata patah hati.
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di