CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
BORDERLINE - -Bentuk lain dari pemicu sakit hati (THRILLER)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c1909ff7e3a72197a2f396c/borderline----bentuk-lain-dari-pemicu-sakit-hati-thriller

BORDERLINE - -Bentuk lain dari pemicu sakit hati (THRILLER)

BORDERLINE - -Bentuk lain dari pemicu sakit hati (THRILLER)


Borderline
-Bentuk lain dari pemicu sakit hati-
Karya : Fey Mega.


PROLOG


Terdengar suara musik yang begitu parau, alunan-alunan penghantar kematian. Instrumen lagu-lagu retro yang melatar-belakangi kamar kosan yang tak begitu luas juga tak begitu sempit itu. Pencahayaan yang sangat minim, kepulan asap-asap rokok yang mengudara; hilir mudik tanpa pamrih. Kondisi ruangan yang serba berantakan. Tak terkendali.

Dinding yang dihiasi beberapa puisi cinta, lebih tepatnya puisi cinta yang tak tersampaikan.
Ada lima foto wajah seorang wanita, empat diantaranya sudah dia coret dengan spidol warna merah; menggunakan simbol silang. Semua foto itu dia beri judul— ‘Annual of rejection’.

Laki-laki dengan tingkat frustasi yang meledak-ledak. Melawan norma yang ada. Tertawa dan terkadang menjerit, menangis bahkan meraung-raung. Sambil memegangi kepalanya yang sudah kelewat vertigo itu.
Laki-laki malang itu membungkuk, memegang keras pipi seorang perempuan yang tak kalah malangnya itu. Perempuan yang terkapar dilantai kamar; sama sekali tak berdaya. Darah yang sudah bersimbah kemana-mana. Laki-laki itu mengelus lembut rambut panjang si wanita, perlahan lalu menjambaknya keras. Perempuan itu menjerit kesakitan.

Laki-laki itu tersenyum puas, licik.
Quote:


Laki-laki bernama Sastra, yang memang menyukai segala hal tentang sastra itu berdiri, setelah melempar keras kepala si perempuan ke lantai sampai merintih kesakitan.

Sastra berjalan santai ke arah dinding, mencopot paksa salah satu puisi karyanya. Tersenyum getir kali ini. ekspresi muka yang lelah, menahan rasa sakit yang berkepanjangan. Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir dengan penolakan adalah neraka baginya. Sastra kembali mendekati si perempuan, terduduk di hadapannya, perempuan yang sudah tampak sekali kesakitan, air mata yang terjun bebas.

Quote:

-My Angel-
-Puisi karya Sastra-

Hai, Selamat pagi.
Embun itu kau. Terik matahari juga kau.
Indahnya senja masih kau.
Bulan purnama pun masih juga kau.
Kau adalah keseluruhan dari hidup.
Kau tega menolak? Hidup menolakku.
Hadiah dari penolakan adalah sepi.
Terimakasih, My Angel.
You were the one but you’re born to say goodbye.
Forever....


Sastra menangis, air matanya turun perlahan. Dia mengusapnya, kemudian tersenyum kembali. Senyum picik. Lalu meremas kertasnya, melemparnya ke wajah si perempuan, yang masih memasang wajah kesakitan.

Quote:

Quote:

Kali ini wajah Sastra berubah sangat menyeramkan, dia berjalan cepat kearah lemari, membuka laci dan membawa sebilah pisau.

Quote:


(Flashback adegan-adegan penolakan yang dilakukan Lina terhadap Sastra— Sastra menculik Lina dan membawanya ke markasnya).

Quote:

Quote:


Sastra terbahak-bahak, menghampiri Lina yang sudah tak berdaya dilantai. Lalu menikamnya dengan beberapa puluh tikaman sadis. Seketika Lina terbujur kaku tak berdaya.

Sastra melemparkan pisaunya kesembarang arah, menyentuh pipi Lina yang berdarah. Mengoles, lalu mencium tangannya sendiri. Kali ini bibirnya penuh dengan campuran darah segar.
Tersenyum kemenangan.
Berjalan ke dinding. Kemudian menyilangkan spidol pada foto terakhir; foto Lina.
Quote:

Kemudian dia mematikan lampu dan hendak hibernasi, tertidur.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kodhok5 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Halaman 1 dari 2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kodhok5 dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
seperti sebuah film pendek dmn diperankan oleh seorang pemuda tampan dan mapan .. dia berhasil membawa beberapa gadis muda ke tempatnya .. dia layani seperti gaya para bangsawan eropa jaman dulu ..

hanya saja .. di saat para gadis muda ini menolak pinangan nya (dijadikan istri) di setiap kencan pertama mereka ..

maka gadis muda itu akan dimutilasi ..


pemuda ini tidak ingin ada gadis muda yg tercatat dalam biografi nya yg menolak pinangan nya ...



maksudnya dalam keadaan hidup ..


itulah knp dia membunuh mereka ..

pemuda ini hanya mencari cinta sejati .. jatuh cinta pada pandangan pertama .. dan mau menikah pada kencan pertama ..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Oh iya? Makasih infonya. Kebetulan premis-nya kayanya beda sih gan hehe

Ane terinspirasi dari kisah nyata serial killer gan emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 2


Aku melengos, melamun sambil merekatkan pelukan di tanganku, pada tas ransel butut di hadapanku. Sesekali tertidur, lalu terbangun oleh kegaduhan di sekelilingku.

Bis usang yang sedang membawaku dari sebuah desa terpencil, menuju ambang batas mimpi dan citaku. kebetulan aku mendapatkan beasiswa di salah satu perguruan terkemuka di ibu kota. Dengan modal nekat dan bekal seadanya, aku yang udik ini hanya bisa pasrah.

Ku pandangi lekat-lekat setiap elemen yang ada di dalam bis ini. Tempat duduk yang kusam dan sudah tak layak, lampu-lampu yang berdebu. Dan suara ayam jago yang kadang-kadang berkoar. Bau-bau keringat dari setiap desakan penumpang yang menyesakkan ini.

Aku beruntung, mendapatkan kursi di sebelah jendela, setidaknya itu dapat menyelamatkan sedikit paru-paru kotorku, yang kebanyakan merokok. Kontingen yang sudah menjadi ciri khas orang-orang pelisir sepertiku.

Quote:


Suara ibu-ibu setengah baya yang tiba-tiba membuyarkan lamunan nan panjangku.

Dengan sedikit menghela napas, tanpa basa-basi, aku bergeser, banyak-banyak. Hingga ujung pinggangku menyentuh besi-besi bis. Membuatku berdenyit ngilu, menahan sakit.

Aku berusaha tenang. Perasaan sakit ini dapat luput bercampur aduk dengan perasaan senang, karena salah satu impianku bisa terwujudkan.

Orang tuaku pasti bangga, di syurga sana.

Oh, iya. Ngomong-ngomong, namaku Sastra. Salam kenal!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Part 3

Balik lagi nih sama aku, Sastra.

Ini adalah kali pertama aku melihat mimpiku berwujud, sebuah universitas negeri ternama di Bandung. Perjalanan kemarin membuat seluruh tubuhku nyaris remuk. Gimana enggak, jarak antara Bandung dan desa terpencilku begitu membentang. Desa kecil dengan peradaban manusia paling minim, bahkan, untuk menyebutkan namanya saja aku ragu.

Namun, disinilah aku sekarang. Ditengah-tengah gerbang besar, bercat putih, dengan nuansa gedung yang megah. Seperti hendak memberikan seluruh jiwanya padaku.

Aku masih termenung.

Sebenarnya, aku selalu membenci apapun yang berhubungan dengan konsep 'pertama'. Entah itu pertama menangis, pertama terluka, pertama masuk toilet, pertama naik sepeda; motor; mobil-- sampai pertama ciuman. Semuanya serba menakutkan bagiku. Bisa jadi kegagalan akan mengiringinya.

Aku menarik kencang-kencang tas hitam di punggungku. Tas kusam yang selalu melekat sejak aku SMA.

Menghela napas.

Menyisir rambut gondrongku dengan tangan, membenarkan kacamata hitamku, lalu, tersenyum kecut.

Nerveous.

Pelan-pelan aku berjalan, layaknya kura-kura sakit yang kelaparan. Mata sayuku tak dapat lengah dari tanah, ubin, dan segala yang menempel disepatuku.

Setelah beberapa menit memperhatikan, aku sadar, betapa miskin dan dekilnya aku. Sepatu butut peninggalan Bapak masih terpakai manja dikakiku.

Ada rasa malu yang mencuat, gedung dan segala fasilitas ini, membuatku sesak oleh rasa malu. Tapi, aku tak gentar. Walaupun, semakin lama bobot sepatuku semakin berat, ku seret tak berdaya.

Akhirnya aku berada tepat di pintu ruangan yang akan menjadi kelas pertamaku. Sebuah pertemuan untuk perkenalan. Aku masuk dengan canggung, setelah mengumpulkan beberapa keberanian yang tersisa.

Tak disangka, kelas sudah ramai, ricuh, tak ada yang menyadari kedatanganku.

Aku menelusuri, memperhatikan semuanya.

Quote:


Tak ada bangku yang tersisa, kecuali bangku di pojok belakang kelas ini.

Mulai hari itu aku tahu, kalau kehidupan di kota besar macam begini, tak dapat disamakan dengan kehidupan di kampung. Aku tak mendapatkan keharmonisan itu, keramahan itu. Semua seakan fokus pada diri mereka masing-masing.

Aku duduk dengan kasar.

Lambat-laun, mulai mengutuk diri sendiri, atas kebodohan diriku, pilihan yang salah.

Setidaknya, aku masih ditemani beasiswa dan uang saku dari pemerintah.

Selamat bergabung di pesakitan, Sastra.

Gumamku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Part 4

Hari-hari di kampus mulai membuatku jenuh. Tak ada yang membuatku terkesan. Semua yang pernah aku dambakan dulu mengenai kota ini mulai memudar-- Disini, semua orang tampak bergulat dengan egosentris mereka masing-masing. Entah apa yang ada dipikiran mereka semua. Tak dapat aku masuk ke dalam dunia yang semi-individualis, itu kata yang sengaja aku ciptakan sendiri.

Seperti hari-hari biasanya, setiap kali tak ada mata pelajaran, aku akan nongkrong di perpustakaan. Membaca beberapa novel bertema pembunuhan, aku menyukai konsep kegilaan. Dunia yang akhirnya di kuasai oleh darah-darah mendidih manusia-manusia pendendam. Dari jaman Habil dan Qabil pun pembunuhan sudah menyejarah. Tak dapat di pisahkan dari sebuah rantai yang membentuk dan menciptakan lingkaran setan tersendiri.

Sebentar, kok aku jadi malah membahas konsep pembunuhan? Sudah tidak waras ih.

Quote:


Aku menoleh spontan, ada seorang perempuan bertubuh mungil, berjilbab coklat dengan setelan yang serba coklat juga, kacamata kotak berwarna hitam. Baju tuniq dipadu dengan celana jeans hitamnya, dan sepatu kat-nya, casual. Wait, mungkin sekarang style seperti ini akan menjadi pedoman bagi orang-orang yang menamai diri mereka sendiri sebagai sekelompok manusia dengan julukan 'nerd'.

Aku tak pernah ingin bicara dengannya. Dia membuatku risih dengan segala bualannya soal ilmu pengetahuan! Persetan itu semua, kita bahkan bukan berasal dari jurusan itu atau semacamnya. Kita berdua berada dalam satu kelas yang sama; Jurusan Hukum. Bukankah itu cukup menegaskan padanya bahwa aku tidak tertarik pada ilmu ekstrak semacam itu? Dia memang luar biasa aneh.

Aku berkemas, hendak pamit. Namun wanita ini tetap saja memangil namaku berkali-kali, membuat seisi perpustakaan menoleh dan mendesis marah pada kita berdua. Memang menyusahkan!

Quote:


Setelah melihat reaksinya, aku malah merasa bersalah. Nisa tampak sedih sekali. Akhirnya, aku menyerah padanya. Lagian, dialah satu-satunya di kampus ini yang mau dekat-dekat sama mahasiswa kampungan kaya aku ini, dan sepertinya dia sama kesepiannya sepertiku.

Kita berdua sama-sama seorang perantau udik yang harus rela ditertawakan oleh anak-anak metropolitan yang hidupnya cuma bisa hedon ajah.

Quote:
.

Quote:


Quote:


Dia mengangguk girang seperti anak kecil. Yah, begitulah hidupku sekarang. Tak ada yang menyenangkan. Ini semua, sama sekali diluar ekspektasiku.

Tak ada sahabat-sahabat yang seru. Tak ada kegiatan yang menggairahkan. Bahkan, tak ada wanita cantik yang mendekatiku. Eh, bukan berarti aku memaki Nisa jelek. Dia gak jelek kok. Nisa termasuk wanita manis.

Tapi, aku menginginkan yang..... Argh! Minimal seksi dan menggoda.

Aku menggeram.

Dunia memang tidak pernah adil, terutama pada orang-orang berpikiran picik sepertiku.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
profile-picture
renzu01 memberi reputasi
Semoga cerita ini berlanjut.. Saya suka dengan pemilihan katanya..
profile-picture
feymega24 memberi reputasi
Quote:


Pasti lanjut hehe. Makasih emoticon-Cendol Gan
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Part 5



Hari-hari berlalu tanpa aku sadari, kini keberadaanku sudah memasuki semester empat di sini. Tahun-tahun berlalu dengan membosankan. Entahlah, apa yang membuat semua orang enggan dekat-dekat denganku. Padahal, aku mencoba untuk baik dan bersikap ramah sebisa mungkin. Bisa saja, karena Nisa yang selalu nempel padaku. Jadi, penilaian orang terhadapku stereotipe, aku harus rela disejajarkan dengan deretan orang-orang norak yang kutu buku.

Karakter itu tidak berlangsung lama terhadapku. Dengan penuh ketekadan dan niat yang sudah bulat. Aku memutuskan untuk bergabung dalam kegiatan pecinta alam yang memang saat ini sedang menjadi primadona ekstrakulikuler di setiap kampus. Dengan modal yang sudah sengaja aku kumpulkan dari uang saku selama berbulan-bulan. Akhirnya, besok adalah hari pertama aku ikut naik gunung.

Seluruh gairah tumpah ruah menjadi satu. Betapa tidak, bayanganku mengenai kehidupan di kampus akan menjadi kenyataan. Aku akan bertemu banyak teman-teman yang keren, menjelajah gunung sambil menyalakan api unggun, dan bercengkrama dengan wanita cantik. Nah, memang benar. Tujuan utamaku masuk Mapala atau Mahasiswa pecinta alam hanyalah untuk berdekatan dengan ‘dia’.

Wanita yang sudah setahun terakhir aku incar. Mahasiswi Fakultas MIPA. Wajahnya selalu terbayang-bayang di manapun aku berada. Membuatku hilang konsentrasi. Bukan karena dia terlalu mempesona atau cantik. Banyak sekali wanita yang cantik di kampus ini. Tapi, Ratih mampu membuat perutku gemetaran, seakan ada banyak kupu-kupu yang terbang dan sedang terperangkap di dalamnya.

Yah, Ratih. Dia cukup tomboy untuk wanita yang mengaku pernah mengikuti ajang Mojang Jajaka kota Bandung, itu bukan masalah buatku. Semua yang dilakukannya terlihat seksi, di mataku. Rambutnya yang hitam dan selalu di ikat kuda; alis tebal; bibir merahnya yang tipis; hidungnya yang begitu mancung; kulitnya yang bersih dan bersinar. Terutama saat dia berkeringat. Tubuhnya sedikit atletis, konon dia sering latihan bela diri.

Pokoknya, semua tentangnya itu keren!

Kasih itu berawal saat dia membantuku, melawan preman-preman kampus yang hobinya malak. Aku sudah bilang pada mereka, kalau aku hanyalah anak tukang tani yang dapat beasiswa. Gak mungkin bisa memberi mereka uang tambahan, apalagi dengan cara paksa kaya gitu. Hm.

Mereka tetap bersikukuh dan aku tetap keras menolak. Preman yang berjumlah empat orang itu akhirnya mengeroyokku, di belakang perpustakaan yang sepi dan tak pernah ada yang mau berkunjung ke sana. Tempat aku bersemedi. Entah, darimana mereka tiba-tiba nyasar ke tempat itu. Padahal, itu tempat persembunyianku. Sungguh kejadian yang memilukan kalau di ingat kembali.

Ketika muka dan sekujur tubuhku penuh dengan darah dan luka. Dia datang, seperti sebuah cahaya dari kegelapan. Menyergap tanpa belas kasihan. Aku tak sepenuhnya sadar apa yang sudah terjadi di sana waktu itu. Aku hampir pingsan soalnya. Perutku mual, gak karuan.
Seingatku, Ratih sudah mengelap darah di mukaku dengan sapu tangannya. Bergumam lirih ‘Gak apa-apa kan?’

Setelah aku dibawa ke ruang kesehatan dan mendapatkan pertolongan, aku mulai mengerti. Bahwa, Ratih sudah menolongku, ada beberapa luka di wajah manisnya itu. Dia berkelahi dengan empat orang brandal itu, dan menang!

Dia melakukan semua itu untukku? Atau hanya kebetulan? Atau Kasihan?

Semua itu mengubah segalanya, kini aku benar-benar menggilainya. Aku selalu terpikirkan olehnya. Diam-diam aku memberikan bekal makan ke dalam tas-nya, menyiapkan handuk untuk keringatnya, memberi dia tiket nonton, memberi dia boneka, coklat bahkan bunga. Semuanya aku lakukan hampir setiap hari. Sampai-sampai aku terlihat seperti stalker. Apa boleh buat, semenjak kejadian itu, aku tak berani mendekatinya. Bahkan, untuk sekadar berterimakasih.

Kegiatan tersebut berdampak buruk terhadap kondisi keuanganku, semakin hari uang saku yang kupunya harus terpakai. Kemudian, aku cepat-cepat mencari solusinya. Dengan berjualan biji kopi kemasan. Usahaku lumayan lancar, walau untungnya tak seberapa. Itu semua cukup untuk bekal aku makan sehari-hari.

Tapi, lihatlah aku sekarang! Sudah berhasil keluar dari zona nyaman dan berani menantang sebuah peluang emas. Persetan dengan rasa malu!

Quote:


Aku lumayan terperanjat oleh gertakan itu, pasti ini suara Nisa. Dia memang senang sekali membuat hariku jadi buruk. Buat apa meladeni dia. Buang-buang waktu.

Quote:


Aku tak menggubrisnya. Lagi-lagi dia datang ke sini, ke tempat persembunyianku. Taman belakang perpustakaan. Dasar tukang ganggu.
Aku hanya diam. Menatapnya datar.

Quote:


Aku beranjak, siap-siap untuk meninggalkan wanita menyebalkan ini sendiri.

Quote:


Dengan kegeraman hati yang meledak-ledak. Aku menahan semuanya dengan bersikap dingin. Dia memang wanita yang tidak tahu malu. Sudah aku cuekin juga masih bisa deket-deket.

Jika diperbolehkan, aku ingin sekali membunuhnya...

profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Part 6

Pendakian pertamaku berakhir tragis, teman-teman Mapala memang ramah-ramah. Tapi, semua itu tak berjalan lama. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ternyata Ratih sudah punya gebetan. Sepertinya, dia sedang dekat dengan Andre, mereka satu fakultas, juga komunitas.

Hatiku cemburu. Berminggu-minggu aku tak bisa berpikir jernih. Emosiku meluap-luap. Sesekali aku melempari barang-barang di kosanku atau menonjok sekeras-kerasnya cermin di kamar. Semua bertambah buruk, ketika, Ratih dan Andre semakin sering menampakkan intensitas kebersamaan mereka.

Di sinilah aku sekarang. Tersenyum picik di depan cermin, sebuah kosan yang sudah lama aku persiapkan. Setelah mengetahui kalau Ratih tak pernah menyukaiku, dia hanya menganggapku sebagai kucing jalan yang patut di kasihani, semua hadiah yang kuberikan tak pernah membuatnya terkesan sama sekali. Aku diambang batas patah arang.

Senyuman mereka berdua memperparah situasi mentalku. Aku tak bisa lagi fokus pada mata pelajaran mana pun. Nilai-nilaiku anjlok. Bahkan, aku sudah tak tahu lagi tujuanku datang ke kampus ini. Bayangan mereka berdua sudah berhasil merampas bagian yang lainnya

Quote:


Dia meludah tepat di wajahku. Aku menyeringai puas, mengelap bagian yang sudah berlendir. Tak ada lagi Sastra yang naif. Seharusnya kau tahu itu, Ratih. Aku sudah banyak berkorban untukmu.

Aku merapikan rambut dengan santai. Berjalan, lalu berdiri di belakang kursinya. Ratih sudah berlumuran darah di sana, dengan tangan di borgol dan kaki terikat. Mulutnya sengaja tidak aku plester. Aku senang mendengar rintihan kesakitannya, ketika pisauku ini bertemu dengan tubuh indahnya.

Ah! Ini lebih menyenangkan daripada dugaanku. Aku tertawa melihatnya kepayahan. Lalu, menjambak rambutnya yang sudah terurai dan gimbal. Badan yang atletis dan kemampuan bela dirinya, tak dapat menandingi ilmu berbohong dan memanipulasiku. Dia terkecoh olehku.

Kosan di tengah hutan yang kedap suara. Aku berterimakasih pada diriku sendiri. karena, sudah berhasil untuk menyewa tempat seperti ini dalam waktu kurang dari dua minggu. Tak mudah memang, aku harus menekan pengeluaran. Bahkan berhari-hari hanya makan sekali, pakai nasi dan kerupuk saja. Tapi, tak masalah. Aku bangga atas semua pencapaianku ini.

Dinding-dinding yang sudah terkontaminasi oleh puisi. Aku mencintai Sastra. Sebanyak aku mencintai namaku sendiri. Tubuhku mulai gemetaran, tak karuan. Aku harus membacakan sebuah puisi untuk, Ratihku tersayang.

Aku menciumi telinganya. Dia menggeram, jijik. Berani sekali dia menghindar disaat-saat seperti ini!

Aku mencekik lehernya, lagi-lagi emosiku memuncak. Dia tak boleh dimiliki oleh siapapun kecuali diriku sendiri. Dia meronta-ronta kesakitan, matanya berair. Hatiku hancur melihatnya, tapi, kurasa cara inilah yang terbaik baginya. Lagian, Andre bukan sepenuhnya laki-laki yang baik baginya. Cowok itu brengsek! Aku sudah melakukan banyak survei soal itu. Dia memiliki pacar lebih dari satu.

Quote:


Quote:


Two can play this game, right? I’m happy...

Quote:


-Gurat Air Mukamu-
-Puisi karya Sastra-


Hai, kamu. Iya, kamu
Terimakasih pada sepotong senyum yang kau titipkan pada arakan senja
Menghapus kesalku, jadi tawa merekah
Apa-apaan kamu? Matamu berbinar
Sedangkan, aku menatapmu dengan mata sayu
Aku tersenyum, refleks.

Bisa-bisanya menularkan senang
hanya dengan senyum itu
Kau kado yang masih terbungkus dengan pita merah muda diatasnya
Lupa sudah aku membukanya
Saking fokus pada kertas kadonya
Sudahlah, segala tentangmu aku ingat
Terutama senyuman itu
Semesta membalasnya, terikat di langit-langit syurga
Bodo amat! Kupikir, kita bisa bersama selamanya.


Aku menyelesaikan puisinya dengan indah, suara parauku membuat suasana temaram ini, berubah menjadi sedikit syahdu dan romantis, mungkin itu semua hanya perasaanku saja. Hatiku mulai melembut, kenyamanan yang kerap kali kudapat ketika aku bersenandung aksara karya-karyaku sendiri, tepat di depan orangnya.

Tunggu dulu, aku tidak akan cepat-cepat menghabisi nyawanya, aku akan membuatnya sengsara dulu. Ratih harus mengerti bagaimana rasanya menahan sakit, bahkan lebih dari setahun terakhir ke belakang.

Ratih mulai kepayahan, ia terkulai lemas. Aku tersenyum gemas, masih memainkan pisau Emerson Knives. Jangan tanya darimana aku bisa mendapatkan pisau combat yang harganya tidak murah itu. Simpel saja, aku mencurinya dari guru olahragaku di desa. Aku tak pernah tahu kalau pisau keluaran Amerika ini harganya cukup mahal. Dulu, aku tak pernah berpikir kalau pisau ini bakalan berguna. Aku bangga.

Setelah beberapa menit bersenang-senang. Akhirnya, aku memutuskan untuk menusuk bagian lehernya. Dia terlalu berisik, aku bahkan tak bisa berkonsentrasi berkat kegaduhan-kegaduhan serta rintihan panjang yang dikeluarkannya. Setelah puas melihat hasilnya, aku segera memberikannya ciuman di pipi. Karena, kehabisan banyak darah. Aku yakin dia sudah mati. Mungkin, beberapa tusukan lagi akan membuat permainan semakin seru.

Here we go...

Setelah selesai, aku berbaring di kasurku. Ternyata, pengalaman pertamaku membunuh manusia, lumayan asik dan menguras banyak energi. Sepertinya, aku butuh hibernasi.

Goodbye, world...

profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Part 7


Tak terasa sudah ada empat orang wanita di kampus ini yang menjadi sasaran kemanisan pisauku. Tak ada sama sekali yang curiga. Ternyata, aktingku lumayan jago dan aku bangga karena hal itu.

Kalian harus tahu, bangkai-bangkai wanita cantik yang sudah menolakku itu. Aku simpan di dalam tangki-tangki air besar yang sengaja aku beli dan simpan di kosan keduaku di hutan. Takkan ada yang menemukannya, aku rasa. Pemilik kosan itu sudah manula, mereka tak akan curiga pada pria muda yang terlihat ramah dan sopan sepertiku.

Entah kenapa, setelah rentetan pembunuhan itu, sekarang aku menjadi lebih percaya diri. Menjadi lebih bebas untuk mengekspresikan diriku.

Quote:

Quote:


Quote:


Deg!

Aku menelan ludah, gugup. “Mana aku tahu, Gak jelas ah, Nis.” Berlalu sembari menatapnya tajam.
Sudah dari awal, harusnya aku membunuhnya terlebih dahulu sebelum aku membunuh yang lainnya.
Aku harus benar-benar membunuhnya sekarang...

...

Batu-batu marmer yang tersusun sempurna, gedung-gedung pencakar langit, lengkap dengan lampu yang menghiasi seluruh kota. Aku berdiri membeku. Tak menyangka kalau bocah norak itu, tinggal di tempat yang sangat mewah seperti ini.

Memang betul sih, aku tak pernah bertanya atau penasaran pada kehidupan pribadinya. Dia selalu berperan seperti seorang jurnalis di depanku. Bertanya-tanya walaupun jawaban yang kuberikan selalu terdengar ketus. Dia tak pernah meninggalkanku sendirian.

Aku masuk dengan perasaan yang tidak karuan. Bukan karena aku takut. Aku hanya tidak pernah mencoba untuk membunuh tanpa rasa sakit hati di dalam dadaku. Ini kali pertama, aku membunuh dengan perasaan gugup. Dia tak pernah membuatku sakit, sebab tak ada cintaku untuknya. Perasaanku datar-datar saja padanya.

Aku menekan tombol lift dengan ragu-ragu. Orang-orang hilir-mudik, aku bahkan tak menggubris tatapan aneh mereka. Aku tak ambil pusing.
Pintunya terbuka, di lantai yang memang sudah kutuju.

Aku menelan ludah, menyisir rambut panjangku dengan jari-jari. Menghuyung perlahan. Menggenggam erat tas ransel usangku.

Jika, aku tetap nekat membunuhnya. Berarti, ini kali pertama juga aku membunuh di tempat selain kosan hutanku. Aku tak menyiapkan puisi, karena memang tak pernah ada puisi istimewa untuknya. Aku tak menyiapkan kata-kata indah untuk mengelabuinya dulu, yang kubawa hanya sebilah pisau; baju ganti serta keresek hitam besar.

Tet...tet...tet...

Bunyi bel yang terus-menerus bersuara. Belum ada tanggapan yang berarti. Aku masih sabar untuk menunggu, kesabaran dan strategi yang tepat, memang senjata yang paling dibutuhkan untuk operasi pembunuhan kali ini.

Quote:


Mungkin ada semacam kamera di pintunya? Aku berdiri tepat di sebuah lubang hitam, seperti kamera mini. Melambaikan tanganku, sembari tersenyum penuh ketulusan padanya. terdengar suara kekehan dari arah dalam.

Quote:


Ding.

Quote:


Quote:


Aku sudah berada di ruang tengah apartemennya. Nisa memang termasuk orang borjuis. Tempat dan perlengkapan yang dia punya, merupakan barang-barang yang cukup mahal. Kita sama-sama orang perantauan, tapi, dia memang lebih beruntung soal keuangan. Aneh, dengan segala yang Nisa punya. Kenapa, ia memutuskan untuk berteman denganku? Padahal, bisa aja dia menjauh dan ikut dengan yang lain.

“Duduk, Sas. Aku mau buatin jus mangga kesukaanmu dulu. Hehe.”

Aku duduk dengan perasaan yang masih sama, bimbang. Nisa tak pernah memperlakukanku dengan buruk, justru sebaliknya. Hatinya terbuat dari apa sih? Tapi, aku harus menghabisi nyawanya, sebab dia seperti benalu. Tak mau enyah, membuatku sangat terganggu.

Quote:


Ada sebuah film pembunuhan yang bermain, kebetulan yang cukup mengerikan. Kita berdua menonton dalam diam. Aku merogoh saku jaketku, memastikan kalau pisau lipatnya sudah kutaruh di tempat yang tepat. Oh, benar. Pisaunya ada. Namun, aku belum siap untuk membunuhnya. Aku harus menunggu waktu yang tepat.

Quote:


Quote:


Quote:

Quote:


Dia menunjukkan arahnya, aku segera bergegas menuju toilet. Untuk buang air kecil.

Aku diam di sana sebentar, belum berani keluar. Setelah mencuci tanganku di wastafel, aku mencuci mukaku berkali-kali. Merasa frustasi.
Argh! Apa ini keputusan yang benar? Apa aku harus membunuhnya?!

Aku menatap depresi, pantulan bayanganku di cermin. Ini pembunuhan paling berat yang pernah kutangani. Setelah merapikan diri, aku berjalan keluar lagi. Kali ini tekadku sudah bulat.

Quote:


Wajah polosnya, membuat hatiku kelu. Ada perasaan lain yang sekarang datang, aku tidak tega padanya.
Badanku mulai gemetaran hebat. Tangan kiriku memegang bibir, lama-lama kedua tanganku sudah memegang bibir. Ada bunyi keras yang dihasilkan dari jatuhnya pisau ke lantai. Kutatap mata Nisa yang berkaca-kaca, mukanya tambah pucat. Dia membisu. Tak bergerak sama sekali.

Quote:


Dia masih terdiam.
Quote:


Quote:


Wanita ini memang terlalu baik untukku. Untuk masa lalaku, bahkan untuk masa depanku. Dia berhak mendapatkan sesuatu yang setara dengan kebaikannya sendiri.

Quote:


Quote:


Jawaban singkat iitu membuatku lemas, aku tersungkur ke lantai. Tak pernah ada yang menyayangiku sebelumnya. Aku merasa hina. Pengakuannya ini membuat dadaku sakit.

Quote:


Aku mengangguk lemas.

Quote:


Quote:


Quote:


Aku diam tak bergeming, dengan ragu membawa kembali pisau yang tadi terjatuh. Menaruhnya dengan rapi di saku jaketku. Aku beranjak pergi dari situ dengan tergesa-gesa.

Quote:


Aku berbalik, melihat Nisa yang masih memasang tampang yang memelas, mungkin merasa bersalah. Ternyata dia sudah mencurigaiku sejak lama. Dia menelepon polisi, ketika, aku sedang di toilet.

Sialan!

Quote:



profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
gelar tikerr
profile-picture
feymega24 memberi reputasi
keren
profile-picture
feymega24 memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
The Last Part




Aku menghembuskan napasku, keras-keras.

Quote:


Aku terdiam. Kaca-kaca pembatas ini membuatku tak nyaman. Kulihat bayanganku sendiri di dalam kaca. Baju orange ini membuatku muak, wajahku semakin lusuh. Rambut gondrong yang tidak terawat, kumis dan brewok yang dekil. Mata sayuku, memperlihatkan, betapa tersiksanya aku berada disini.

Quote:


Kata maaf yang selalu terulang dari mulutnya, membuatku iba. Aku dijatuhi hukuman seumur hidup atas meninggalnya keempat wanita itu. Sudah dua tahun aku berada di sini. Nisa selalu menjengukku disini, bahkan ketika hari wisudanya. Aku menarik napas dalam-dalam, ketika, sekelabat bayangan kebodohanku di masa lalu muncul kembali. Aku tak bisa membalikkan waktu. Sekarang yang tertinggal hanyalah penyesalan.

Quote:


Quote:


Dia memberikannya pada petugas yang sedang berjaga, berbisik sebentar. Lalu, menghampiriku lagi. Beberapa saat kemudian, kita saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tenggelam ke dalam sebuah kesyahduan yang kuharap akan abadi.

Aku belum cerita, soal bagaimana Nisa bisa tahu, akulah yang membunuh ke empat gadis itu. Ternyata, diam-diam dia menyelidiki kasusnya. Dia memang terobsesi menjadi seorang detektif. Bahkan, dia mengikutiku sampai hutan. Membuat beberapa fakta, lalu, menungguku masuk ke dalam jebakannya.

Aku tak bisa menyimpan dendamku padanya. Dia mempunyai alasan atas semua ini. Katanya, dia ingin aku kembali menjadi Sastra yang pertama dia kenal, dan bolehkah aku juga ikut meminta padanya? Aku juga sama, menginginkan Nisa yang dulu.

Sekarang dia tumbuh menjadi wanita yang sangat mempesona, dia mulai belajar bergaul, belajar ikut komunitas. Dia sudah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang aku tidak kenal. Aku takut, satu-satunya kebahagiaanku pun lambat-laun akan menghilang.

Aku sadar, sekarang perasaanku padanya sudah berkembang terlalu jauh. Aku tak pernah tahu perasaan dia sekarang padaku bagaimana. Mungkin, waktu sudah memudarkannya. Aku tak pernah punya keinginan untuk menggapainya. Ketika, sesuatu itu dekat, aku merasa jauh. Namun, ketika dia menjauh, aku malah merasa dekat.

Penyesalan memang menyesakkan.

Quote:


Quote:


Quote:


Ya, Nis. Aku memang sudah bertaubat.... kepada-Nya.

profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan diadem01 memberi reputasi
Quote:


Makasih Sis. Ceritanya beres nih emoticon-Big Kissemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
diadem01 dan mbak.far memberi reputasi
Quote:


Mampir lagi gan. Ceritanya abis emoticon-Big Kiss
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Waa menarik ceritanya
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di