alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0691ad9478683d468b456a/rezim-militer-dan-keajaiban-ekonomi-korea-selatan

Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan


Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Sekarang, masyarakat dunia, terutama remaja, mengenal Republik Korea, umum disebut sebagai Korea Selatan, dari beberapa hal. Dramanya yang menguras air mata, K-Pop yang enerjik, dan kegemaran melakukan operasi plastik. 3 dekade lalu, dunia mengenal negara ini karena dua hal : Keajaiban ekonomi dan rezim militer yang otoriter. Korea Selatan pernah merasakan berada di bawah rezim militer selama hampir tiga dekade. Pertama, dari Mei 1961 hingga Oktober 1979 di bawah kepemimpinan Park Chung-hee. Kedua, dari September 1980 hingga Februari 1988 di bawah kepemimpinan Chun Doo-hwan. Sebuah pergerakan politik yang dimotori mahasiswa pada tahun 1987 akan membawa akhir bagi peran militer dalam perpolitikan negara ini meski kemajuan yang dimulainya masih terus berlanjut hingga sekarang.


Klik gambar untuk menuju sumber gambar

Kudeta 16 Mei
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Park Chung-hee, berdiri di sisi paling kiri foto, bersama beberapa perwira militer Korea Selatan setelah berhasil mengudeta pemerintahan sipil pada 16 Mei 1961.
Korea Selatan mulai memasuki era kediktatoran militer menyusul sebuah kudeta militer pada 16 Mei 1961. Saat itu, Park Chung-hee dan beberapa perwira militer yang loyal kepadanya melakukan manuver di ibu kota Seoul dan menggulingkan Republik Kedua Korea, pemerintahan sipil demokratis yang baru berusia satu tahun lebih beberapa hari. Padahal, baru setahun sebelumnya, Syngman Rhee, Presiden pertama Korea Selatan yang memimpin pada periode awal negara itu dengan otoriter, diturunkan pada 26 April 1960 dan Korea Selatan memiliki presiden yang terpilih secara demokratis. Park kemudian menjadi pemimpin tertinggi negara tersebut dan mulai menjabat presiden pada 1963.

Keajaiban di Sungai Han
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Aktivitas proyek Saemaul Undong di sebuah desa di Korea Selatan. Program yang digagas Park Chung-hee pada 1970 ini sukses mengangkat taraf hidup masyarakat pedesaan di negeri ginseng dan banyak ditiru negara lain.
Kalau Anda telah membaca thread saya sebelumnya yang berjudul Argentina, Kejayaan Masa Lalu dan Keterpurukan Masa Kini, mungkin Anda dapat mengambil kesimpulan bahwa apa yang dialami Korea Selatan adalah kebalikan dari yang dialami Argentina. Bila berkuasanya rezim militer Argentina malah membawa kemunduran bagi perekonomian negara tersebut yang sebelumnya makmur, kekuasaan militer di Korea Selatan justru menjadi katalis awal bagi perkembangan pesat negara yang sebelumnya sangat miskin ini.
Dengan kekuasaan penuh di genggamannya, Park memulai programnya untuk mengindustrialisasikan Korea Selatan. Meski telah dirancang sejak era Republik Kedua bahkan sejak zaman Rhee, baru pada masa kekuasaan Park, pembangunan ekonomi yang terencana dan sistematis dapat dilakukan. Hal ini sangat urgen untuk dilakukan mengingat kondisi Korea Selatan saat itu. Kontras dengan saat ini, Korea Selatan kala itu adalah salah satu negara termiskin di dunia. Mereka masih belum dapat keluar dari bayang-bayang kehancuran Perang Korea hampir satu dekade sebelumnya. Dengan pendapatan per kapita hanya 155,21 dolar AS pada 1960, Korea Selatan masih lebih miskin dari Filipina yang saat itu berpendapatan per kapita 254,44 dolar AS dan sekarang tertinggal jauh dari Korea Selatan. Bahkan, Republik Demokratik Rakyat Korea atau Korea Utara yang mendapat dukungan finansial dari Uni Soviet sudah mengalami perkembangan lebih maju daripada Korea Selatan. Kondisi dalam negeri juga bergejolak dengan meningkatnya inflasi dan kenaikan harga beras, bahan baku makanan pokok rakyat Korea Selatan, hingga 60% dalam 4 bulan (Desember 1960 - April 1961).
Dibuatlah rencana lima tahun pertama untuk periode 1962-1966. Fokusnya adalah ekspansi industri energi, terutama batu bara, pembangunan infrastruktur dasar sebagai pondasi bagi pengembangan industri selanjutnya, peningkatan ekspor dan penyeimbangan neraca pembayaran, dan pengembangan teknologi. Untuk merangsang ekspor, diberilah insentif kepada para konglomerat berbasis bisnis keluarga, chaebol yang akan berperan besar dalam kemajuan ekonomi tersebut. Pemerintah menguasai perbankan nasional dan menyalurkan kredit kepada para pengusaha besar untuk membantu ekspansi bisnis mereka. Proteksi bagi pengembangan industri domestik baru, seperti automotif, juga dilakukan. Contohnya, pembuat mobil asing tak bisa masuk sepenuhnya ke pasar Korea Selatan dan harus bekerjasama dengan perusahaan mobil Korea Selatan untuk melakukan penetrasi ke pasar. Ini pun memungkinkan perusahaan automotif Korea Selatan semacam Kia Motors dan Hyundai Motors berkembang. Sebagai konsekuensi, mereka harus memenuhi target produksi dan ekspor yang ditentukan pemerintah. Bila target terpenuhi, mereka akan mendapatkan kemudahan kredit, insentif pajak, dan dukungan birokrasi. Sebaliknya, bila gagal, mereka akan menemui kesulitan bahkan terancam diambilalih. Setelah periode pertama selesai, enam periode rencana lima tahun berikutnya dilaksanakan hingga tahun 1996.
Pembangunan memerlukan mata uang yang stabil. Pada 10 Juni 1962, mata uang Korea Selatan yang nilainya tergerus inflasi, hwan, diganti mata uang baru, won, dengan kurs 10 hwan per 1 won. Hwan ditarik sepenuhnya dari peredaran pada 22 Maret 1975. Antara 1962 dan 1997, Korea Selatan menerapkan kurs tetap. Kurs awal yang ditetapkan pada 10 Juni 1962 adalah 125 won per dolar AS. Pada 3 Mei 1964, won didevaluasi menjadi 255 won per dolar AS. 3 Agustus 1972, won didevaluasi lagi menjadi 400 won per dolar AS, 7 Desember 1974 menjadi 480 won per dolar AS, dan 12 Januari 1980 menjadi 580 won per dolar AS. Selanjutnya, dari 1980 hingga 1997, won mengambang terkendali terhadap dolar AS hingga mencapai level 800 won per dolar AS pada 1997.
Kebijakan luar negeri Park berfokus pada peningkatan dan perbaikan hubungan dengan negara lain. Pada Juni 1965, hubungan diplomatik dengan Jepang diresmikan. Ini pun memungkinkan aliran investasi dari negeri Matahari Terbit masuk ke Korea Selatan. Korea Selatan juga ikut mengirimkan pasukan ke Vietnam Selatan melawan gerilyawan komunis Vietcong dalam Perang Vietnam. Namun, hubungan dengan Korea Utara tetap memanas dan baku tembak di perbatasan sering terjadi.
Hasilnya sangat mengesankan. Pada periode pertama, rata-rata pertumbuhan Produk Nasional Bruto (Produk Domestik Bruto + Faktor produksi milik penduduk di luar negeri - Faktor produksi milik bukan penduduk di dalam negeri) mencapai 8,3%. Periode berikutnya (1967 - 1971) lebih mengesankan lagi, 11,4%. Keajaiban ekonomi ini lazim disebut sebagai Keajaiban di Sungai Han dan berlangsung hingga krisis finansial Asia 1997.
Pada 1970, Park memulai program untuk meningkatkan produksi pangan dan taraf hidup masyarakat pedesaan juga landasan bagi industri berat dan kimia. Di bawah program Saemaul Undong, 33.267 desa mendapat jatah 335 karung semen gratis per desa pada 1970. Mereka diminta menggunakan pemberian ini untuk pembangunan infrastruktur desa dan jika memenuhi target akan mendapat 500 karung semen dan satu ton baja lagi per desa. Ini pun turut merangsang industri semen dan baja. Meskipun program ini sukses mengurangi angka kemiskinan di desa dan meningkatkan tarif hidup mereka, arus urbanisasi ke kota besar tak dapat dicegah karena industrialisasi yang cepat membuat lapangan kerja di kota menjadi berlimpah dan menawarkan upah yang lebih menarik ketimbang di desa. Kesenjangan pendapatan antara desa dan kota tetap saja lebar. Ini juga menyebabkan kota-kota besar di Korea Selatan memiliki kepadatan populasi yang begitu tinggi, di samping Korea Selatan yang memiliki kepadatan populasi yang cukup tinggi di dunia. Namun, perkembangan ekonomi juga membuat angka kelahiran di Korea Selatan jeblok dan menimbulkan masalah demografis berupa peningkatan rata-rata usia penduduk, serupa dengan di Jepang, yang berarti semakin banyak jumlah penduduk berusia tua dalam komposisi penduduk.
Perusahaan Korea Selatan mulai aktif melebarkan sayap ke luar negaranya. Salah satunya ke Indonesia. Pada 1973, Hyundai memenangi tender sebagai kontraktor utama pembangunan Tol Jagorawi (Jakarta - Bogor - Ciawi). Proyek ini dikerjakan selama 5 tahun dan diresmikan pada 1979 sebagai jalur tol pertama di Indonesia.
Kemajuan yang diraih Korea Selatan ini berharga mahal. Sebagai konsekuensi dari keharusan menjaga stabilitas politik, pers disensor ketat dan perkembangan seni budaya, terutama industri perfilman, stagnan. Apalagi, Park menjadi semakin otoriter semenjak memperpanjang masa kepresidenannya, yang sesuai konstitusi harusnya berakhir pada 1971, dan menerapkan Konstitusi Yushin pada 1972 yang memantapkan cengkeramannya.
Masa kekuasaan Park berakhir dengan tewasnya sang diktator oleh peletuk pistol Kim Jae-kyu, direktur Korean Central Intelligence Agency (Badan Intelijen Korea Selatan) pada 26 Oktober 1979 saat sedang menghadiri jamuan makan malam. Lima tahun sebelumnya, 15 Agustus 1974, ibu negara Yuk Young-soo juga tewas ditembak oleh simpatisan Korea Utara yang sebenarnya menargetkan dirinya.

Rezim Militer Kedua dan Pergolakan Juni 1987
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Suasana di Gwangju, sebuah kota di bagian selatan Korea Selatan saat terjadi protes massa menentang darurat militer. Pembantaian yang menjadi sejarah kelam bagi Korea Selatan terjadi di kota ini pada Mei 1980.
Kematian Park tidak secara otomatis mengakhiri periode rezim militer di Korea Selatan. Park digantikan oleh Choi Kyu-hah, Perdana Menteri Korea Selatan ketika pembunuhan itu terjadi. Namun, baru dua bulan menjabat sebagai acting (pejabat sementara) presiden, tepatnya pada 12 Desember 1979, seorang petinggi militer Korea Selatan, Chun Doo-hwan, melakukan kudeta terhadap pemerintahan Choi. Chun ketika itu memanfaatkan situasi pasca-pembunuhan Park untuk meningkatkan pengaruhnya. Ia yang ditunjuk untuk memimpin komite penyelidikan terkait insiden ini. Ia memerintahkan penangkapan Kepala Staf Angkatan Darat Jeong Seung-hwa atas dugaan terlibat dalam konspirasi pembunuhan Park. Lalu, unit-unit militer yang loyal kepadanya berhasil menguasai markas besar militer dan gedung Kementerian Pertahanan.
Meski Choi masih tetap menjadi presiden hingga Agustus 1980, wewenangnya tereduksi dan Chun secara de facto memegang kendali pemerintahan. Pada 17 Mei 1980, ia memperluas darurat militer yang telah diberlakukan sejak pembunuhan Park berdasarkan dugaan infiltrasi Korea Utara. Majelis nasional dibubarkan, universitas ditutup, dan aktivitas perkumpulan lebih dari 3 orang kecuali pemakaman serta partai politik dilarang. Sehari berselang, terjadi demonstrasi besar-besaran di Gwangju saat ribuan massa memprotes pemberlakukan darurat militer di depan pagar Universitas Nasional Jeonnam. Pasukan militer yang diterjunkan bentrok dengan massa dan berakhir dengan tewasnya kira-kira 606 orang (sumber lain menyebut 2.000 orang sementara laporan resmi pemerintah menyebut 200 orang), terutama mahasiswa, oleh tindakan represif aparat seperti penembakan dan pemukulan terhadap demonstran dalam konflik yang berlangsung sembilan hari ini. Peristiwa ini dikenang sebagai "Pembantaian Gwangju" dan menjadi salah satu tonggak sejarah penting dalam proses demokratisasi Korea Selatan. Peristiwa ini telah diabadikan sineas Korea Selatan dalam beberapa film, salah satunya A Taxi Driver (2017).
Pada 27 Agustus 1980, pemilihan presiden dilakukan oleh Konferensi Nasional untuk Unifikasi dengan Chun sebagai kandidat tunggal. Pemilihan ini diduga hanya untuk memformalkan kekuasaannya. Dari 2.525 suara, 2.524 memilih Chun dan 1 suara tidak sah yang diduga sengaja dibuat agar tidak terlihat seperti Korea Utara yang pemimpinnya mengklaim dukungan sepenuhnya dari pemilih. Chun mulai menjabat presiden pada 1 September 1980. Setelah berhasil meyakinkan Amerika Serikat, pemerintahan presiden Ronald Reagan mengakui pemerintahan militer Chun.
Korea Selatan kembali mengalami pergolakan politik pada tahun 1987. Pada 10 Juni 1987, mahasiswa mulai menggerakkan protes memperingati tewasnya mahasiswa dari Universitas Nasional Seoul bernama Park Jong-cheol yang menjadi ikon pergerakan ini karena keberaniannya untuk merahasiakan keberadaan kawan seperjuangannya saat diinterogasi dan disiksa hingga meninggal pada Mei 1987. Mereka menolak ditunjuknya Roh Tae-woo sebagai presiden baru Korea Selatan oleh dewan yang ditunjuk rezim. Mereka menuntut berakhirnya rezim militer dan pemilu bebas untuk membentuk pemerintahan yang demokratis. Gerakan ini menemukan momentum saat seorang mahasiswa Universitas Yonsei bernama Lee Han-yol terluka parah di kepala akibat terkena kotak logam gas air mata milik polisi saat ikut dalam demonstrasi di depan Universitas Yonsei pada 9 Juni 1987. Ia mengalami koma selama 26 hari hingga akhirnya meninggal pada 5 Juli 1987. Penderitaannya menjadi penyemangat bagi kawan-kawannya untuk terus menggerakan perlawanan melawan rezim militer Chun. Saat berdemonstrasi, mahasiswa meneriakkan "Kembalikan Lee Han-yol" selama 18 hari di bulan Juni. Ia pun juga menjadi ikon pergerakan demokrasi ini. Pemakamannya pada 9 Juli 1987 dihadiri lebih dari 1 juta orang dan menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah di negara tersebut. Peristiwa ini juga telah diabadikan dalam film 1987 : When The Day Comes (2017).
Akhirnya, pemerintahan Chun bersedia menyelenggarakan pemilu yang bebas dan menyiapkan transisi menuju era demokratis.
Pergolakan politik ini uniknya tak mengganggu jalannya kemajuan ekonomi Korea Selatan secara terus menerus. Perekonomian bertumbuh rata-rata 8,9% pada periode 1980-1989 dengan masa resesi hanya terjadi pada 1980 sebagai akibat pergolakan politik pada tahun tersebut. Setelahnya, ekonomi selalu bertumbuh positif. Hal yang berbeda dialami Filipina yang pada periode yang sama juga mengalami proses demokratisasi (terutama pada 1986) namun diiringi dengan stagnasi ekonomi selama bertahun-tahun. Asian Games 1986 dan Olimpiade 1988 di Seoul juga berlangsung dengan lancar dan sukses.

Era Demokratis dan Krisis Finansial Asia
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan dan Ekonomi Korea Selatan, Lim Chang-yuel (tengah) mengesahkan Letter of Intent antara IMF dan Pemerintah Korea Selatan, disaksikan oleh Direktur Pelaksana IMF, Michel Camdessus (kiri), pada 3 Desember 1997 di Seoul. Seperti Indonesia, Korea Selatan juga meminta bantuan IMF untuk mengatasi krisis keuangan dengan nilai paket bailout mencapai 57 miliar dolar AS.
Korea Selatan mengadakan pemilu pertama di era demokrasi stabil pada Desember 1987. Pemilu ini menghasilkan Roh Tae-woo, mantan perwira militer sebagai presiden baru Korea Selatan untuk periode 1988 - 1993. Lalu pada periode 1993 - 1998, Kim Young-sam menjadi presiden non-militer dan demokratis pertama yang menyelesaikan satu masa jabatan penuh.
Perkembangan ekonomi Korea Selatan dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto. Pada 1967, PDB Korea Selatan adalah sebesar 4,7 miliar dolar AS (157,29 dolar AS per kapita). Pada 1996, angka ini telah menjadi 557,64 miliar dolar AS (12.249,17 dolar AS per kapita). Artinya, dalam periode 30 tahun, PDB Korea Selatan meningkat 11.764,68% dan pendapatan per kapita Korea Selatan meningkat 7.687,63%. Sebagai perbandingan, PDB Indonesia pada periode yang sama meningkat dari 5,98 miliar dolar AS (56,63 dolar AS per kapita) menjadi 227,37 miliar dolar AS (1.153,59 dolar AS per kapita) pada 1996. Peningkatan PDB sebesar 3.702,17% dan pendapatan per kapita sebesar 1.937,07%. PDB Korea Selatan sejak tahun 1984 telah melampaui Indonesia. Korea Selatan menjadi satu dari empat negara yang dijuluki Macan Asia. Tiga negara lainnya adalah Taiwan, Singapura, dan Hong Kong.
Namun, perekonomian Korea Selatan memiliki kelemahan struktural. Industri domestik sangat bergantung kepada kredit perbankan dan jumlah kredit macet perbankan Korea Selatan cukup tinggi, 30 miliar dolar AS pada 1997. Krisis mata uang di Thailand pun membongkar kelemahan ini dan memicu keterpurukan ekonomi terbesar kesebelas dunia saat itu. Beberapa perusahaan Korea Selatan mengambil kesulitan keuangan bahkan mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan dimulai dari Kia Motors yang diambilalih Hyundai Motors. Grup Daewoo juga bangkrut pada 1999.
Kurs won terpuruk tajam, dari sebelumnya hanya 857,5 won per dolar AS pada 2 Januari 1997 menjadi 890 won per dolar AS pada 1 Juli 1997 hingga mencapai 1.960 won per dolar AS pada 23 Desember 1997. Bank of Korea tak dapat berbuat banyak untuk menahan laju depresiasi won karena cadangan devisanya yang kecil, hanya 8,9 miliar dolar AS pada Desember 1997. Dengan sektor perbankan terbebani kredit macet, perusahaan berguguran, dan utang jangka pendek 70 miliar dolar AS, masalah menjadi sangat pelik.
Akhirnya, pemerintah Korea Selatan terpaksa meminta bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 57 miliar dolar AS pada 3 Desember 1997. Kontributor bantuan terdiri dari IMF (21 miliar dolar AS), Bank Dunia (10 miliar dolar AS), AS (5 miliar dolar AS), Jepang (5 miliar dolar AS), Bank Pembangunan Asia (4 miliar dolar AS), dan negara maju lainnya (7 miliar dolar AS). Sebagai bagian dari kesepakatan, pada 24 Desember 1997, mata uang Korea Selatan diambangkan bebas. Kini dengan kurs sekitar 1.100-an won per dolar AS, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan nilai terendah di antara negara-negara industri maju maupun OECD.
Krisis ini juga membuat orang yang mengalami PHK membuka usaha waralaba ayam goreng dan membuat restoran ayam goreng bertebaran luas di Korea Selatan dengan jumlah sekitar 50 ribu. Kompetisi di sektor ini tergolong ketat dan banyak dari mereka bertumbangan.
Di Korea Selatan, krisis finansial Asia identik dengan IMF dan disebut sebagai "Krisis IMF". Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana IMF berperan dalam mengatasi krisis di Korea Selatan, silakan putar video berikut.
Diubah oleh gilbertagung
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3

#20,652

Pasca Krisis
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in berjabat tangan dengan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, di perbatasan kedua negara dalam pertemuan tingkat tinggi antar-Korea pada 27 April 2018.
Kepemimpinan Presiden Kim Dae-jung dan reformasi struktural dalam sektor finansial membantu pemulihan cepat Korea Selatan dari krisis. Perekonomian yang terkontraksi 5,8% pada 1998 bangkit dan membukukan pertumbuhan 10,2% pada 1999.
Kim juga mencoba memperbaiki hubungan dengan Korea Utara dengan mengadakan pertemuan dengan Kim Jong-il pada Juni 2000 di Pyongyang. Ini menjadi kali pertama seorang pemimpin Korea Utara bertemu dengan seorang pemimpin Korea Selatan. Atas usahanya ini, ia diganjar penghargaan Nobel Perdamaian 2000. Ia juga berperan dalam pemberian pengampunan kepada mantan presiden Chun Doo-hwan yang divonis hukuman mati pada Desember 1996 namun diturunkan menjadi seumur hidup oleh Presiden Kim Young-sam atas sarannya. Menariknya, Kim Dae-jung sendiri divonis mati oleh pemerintahan Chun pada 1980 meski diturunkan menjadi 20 tahun penjara lalu diberi amnesti pada 1982. Berkat kontribusinya dalam rekonsiliasi nasional ini, Kim digelari "Nelson Mandela dari Korea".
Korea Selatan, bersama dengan Jepang, sukses menyelenggarakan Piala Dunia 2002, bahkan mampu mencapai semifinal dan meraih posisi keempat.
PDB Korea Selatan mencapai 1 triliun dolar AS pada 2006, namun krisis keuangan global 2008 membuat PDB kembali turun di bawah 1 triliun dolar AS sebelum kembali lagi ke posisi ini pada 2010. Korea Selatan juga mencatatkan diri sebagai anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan G20.
Pada 2013, Park Geun-hye, putri Park Chung-hee dan ibu negara antara 1974 dan 1979, menjadi presiden wanita pertama Korea Selatan. Namun, ia dimakzulkan pada 10 Maret 2017 setelah tersandung kasus yang melibatkan kawan dekatnya, Choi Soon-sil.
Kemudian, Moon Jae-in menjadi presiden pada 10 Mei dan berhasil memperbaiki hubungan dengan Korea Utara, salah satunya lewat pertemuannya dengan Kim Jong-un akhir April 2018 lalu.
Sejak 15 tahun terakhir, gelombang budaya populer Korea atau Hallyu mulai menyambar dimulai dari kesuksesan serial drama semacam Winter Sonata, diikuti oleh munculnya grup musik semacam Shinhwa dan Super Junior ke panggung global. Kini, coba tanyakan kepada saudara perempuan Anda yang berusia remaja apa tujuan wisata luar negeri favorit mereka. Kemungkinan besar mereka akan menjawab : Korea.
Edukasi juga menjadi salah satu tonggak penting kemajuan ini. Sistem pendidikan Korea Selatan termasuk di antara yang terbaik di dunia. Namun, sistem ini mengharuskan pengorbanan besar dari para pelajar Korea Selatan guna mencapai hasil maksimal. Mulai dari belajar 15 jam sehari, tekanan tinggi untuk memenuhi kualifikasi guna masuk ke universitas unggulan, hukuman fisik untuk melatih kedisiplinan, dan mata rabun karena banyak membaca. Ini masih ditambah dengan perundungan (bullying) yang marak terjadi di kalangan remaja Korea Selatan, sama seperti di banyak negara, yang bahkan sampai memunculkan peluang bisnis berupa penyewaan orang untuk berakting sebagai paman yang sangar.

Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Demikian thread dari saya kali ini. Kemajuan yang diraih Korea Selatan merupakan buah kerja keras dan perencanaan matang. Semoga negara kita dapat mengambil pelajaran berharga untuk diterapkan dalam membangun negara kita. Terima kasih telah membaca dan semoga hari Anda menyenangkan.

Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Referensi I
Referensi II
Referensi III
Referensi IV
Referensi V
Referensi VI
Referensi VII
Referensi VIII
Referensi IX
Referensi X
Referensi XI
Referensi XIII
Referensi XIII
Referensi XIV
Referensi XV
Referensi XVI
Referensi XVII
Referensi XVIII
Referensi XIIX
Referensi XX
Referensi XXI
Referensi XXII
Referensi XXIII
[URL="http://koreabridge.net/post/610-democracy-movement-610-민주항쟁-intraman"]Referensi XXIV[/URL]
Referensi XXV
Referensi XXVI
Referensi XXVII
Referensi XXVIII
Referensi XXIX
Referensi XXX
Referensi XXXI
Referensi XXXII
Referensi XXXIII
Referensi XXXIV
Referensi XXXV
Referensi XXXVI
Referensi XXXVII
Referensi XXXVIII
Referensi XXXIX
Referensi XL
Referensi XLI
Referensi XLII
Referensi XLIII
Referensi XLIV
Referensi XLV
Referensi XLVI
Referensi XLVII
Referensi XLVIII
Referensi XLIX
Referensi L
Referensi LI
Referensi LII
Referensi LIII
Referensi LIV

Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan

Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Diubah oleh gilbertagung

#20,653

RESERVED
Kim jo un
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 08
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 08
Mantap threadnya, btw mana nih momod itu akun spam ganggu banget dah..

Btw keren jg ya pemimpin Korea, tp apakah dia memperkaya diri jg dengan serakah kaya Sukaharata? Tapi nasibnya naas banget dibunuh gitu..
Diubah oleh Arzal
aha..... kaum chaebol (konglomerat korsel), trnyata awal mula nya tumbuh di masa2 diktator militer berkuasa di korsel ya, gan.... jd, bs dibilang bhw sebagian chaebol masa kini adlh warisan dr bagian dr kebijakan ekonomi korsel ya, gan.... ??

dan... kasus korsel lbh kurang mirip spt era ORBA.... para pensiunan jenderal & jendera2 aktif, mlh jd motor penggerakan perekonomian & stabilitas kamtibmas di RI..... sayang nya, reformasi sospol di RI br muncul pasca krismon 1997..... beda dgn korsel yg sdh muncul pd menjelang akhir perang dingin....
Diubah oleh yoseful

#20,658

Quote:


Sebenarnya kan Orde Baru banyak meniru konsep pembangunan ala Korea, contoh
Five-year plan = Repelita
Saemaul Undong = Inpres desa tertinggal
Konglomerat didukung pemerintah = chaebol didukung pemerintah Korea
Bahkan, Kia (salah satu perintis mobil Korea) membantu Timor (salah satu proyek mobnas Indo).
Pengaruh Amerika juga berperan karena di Korea pengaruhnya lebih kuat daripada di Indo, di sono ada pangkalan dan pasukan AS.
Satu lagi gan, dua-duanya sama-sama jadi pasien IMF gara-gara krisis 1997. Ini foto ikonik keduanya sama IMF.
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Seoul, 3 Desember 1997
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Jakarta, 15 Januari 1998
Tebak, apa persamaan kedua gambar ini?
Diubah oleh gilbertagung
Quote:


Korut pernah ngelebihin Korsel ya
trus gimana ceritanya Korut malah sekarang jd turun jauh dr Korsel

#20,659

Quote:


Tahun 60an - 70an, Korut pernah lebih maju dari Korsel. Tapi karena Korsel berkembang pesat di bawah militer, ditambah Korut stagnan sejak Soviet runtuh, makanya sekarang mereka tertinggal jauh.
Diubah oleh gilbertagung
Balasan post dragonroar
Quote:


korut dulu maju krn byk dibantu soviet,bukannya murni mandiri..trus kena hajar bencana kelaparan bertubi tubi alhirnya jadilah kek skrg emoticon-Ngacir

Quote:


tu bule nya sama kan yah?tp gaya nya beda amat emoticon-Embarrassment

btw,beneran ya syarat IMF kasih indo pinjaman dengan syarat membunuh industri pesawat indonesia? kalau iya, apakah korsel dan negara negara pasien imf lain mengalami nasib serupa?

seberapa korup pemerintahan korsel dibanding indonesia?
Diubah oleh beritafilistin

#20,660

Quote:


Sama gan. Namanya Michel Camdessus, orang Prancis, Direktur Pelaksana IMF dari 1987 sampai 2000, kalau sekarang ya si Christine Lagarde.
Iya gan, salah satu syarat IMF adalah dihentikannya fasilitas untuk IPTN dan Timor karena dianggap menghabiskan anggaran dalam jumlah besar sementara pemerintah harus berhemat agar gak terjadi defisit.
Kebetulan gue nemu artikel soal penanganan krisis di Asia oleh IMF, tapi dalam bahasa Inggris. Ini linknya.
https://fas.org/sgp/crs/row/crs-asia2.htm
Gue terjemahkan bagian Koreanya.
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Rezim Militer dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan
Korea Selatan pada 3 Desember 1997 resmi menjadi pasien IMF. Bantuan yang diperoleh 57 miliar dolar AS dari berbagai pihak. Mulai dari IMF, Bank Dunia, ADB, bilateral (negara lain).
Syarat :
1) Besar defisit transaksi berjalan diturunkan menjadi kurang dari 1% dari PDB untuk 1998 dan 1999.
2) Target inflasi tahunan 5% untuk 1998 dan 1999.
3) Menurunkan target pertumbuhan ekonomi dari 6% ke 3% untuk 1998 (kenyataannya, ekonomi minus 5% lebih tahun 1998).
4) Reformasi perbankan dan keuangan :
a) Restrukturisasi dan rekapitalisasi bank yang permodalannya tak memenuhi syarat Basel (standar perbankan modern), entah dijual ke asing atau merger (Indonesia juga, banyak bank swasta dijual ke asing).
b) Jaminan pemerintah terhadap deposito bank diganti sistem jaminan deposito biasa pada 2000 (Indonesia juga).
c) Standar akuntansi dan pengungkapan keuangan terhadap perusahaan, terutama yang besar, ditingkatkan.
d) Pengajuan RUU untuk independensi Bank of Korea untuk meningkatkan fungsi supervisi sektor perbankan (Indonesia juga, BI sejak 1999 independen dengan UU BI).
e) Bank dan sekuritas asing boleh beroperasi di Korea Selatan melalui perusahaan afiliasi mulai pertengahan 1998 (Indonesia juga, bank asing bebas beroperasi di Indonesia).
5) Reformasi struktural :
a) Memenuhi target perdagangan bebas WTO dengan menghapus subsidi yang berhubungan dengan perdagangan, menghapus pembatasan lisensi impor, dan diverisifikasi impor (Indonesia juga).
b) Batas kepemilikan asing di perusahaan terbuka Korea dinaikkan dari 26% menjadi 50% kemudian 55% untuk akhir 1998 (Indonesia juga, sekarang batas kepemilikan asing hampir 100%. Ingat heboh soal Daftar Negatif Investasi kemarin).
c) Per Februari 1998, pasar uang dan obligasi Korea Selatan harus terbuka untuk investor asing (Indonesia juga).
d) Mengurangi pembatasan PHK saat perusahaan merger, diakuisis, atau direstrukturisasi (Indonesia juga. Ingat sistem outsourcing).

Soal korupsi, di Korea Selatan juga ada, tapi mendingan. Ada mantan presiden sana kena kasus korupsi. Salah satunya Lee Myung-bak (2008-2013).
Lee Myung-bak
Diubah oleh gilbertagung
Kalo kesenjangan gimana gan?
Pernah baca para chaebol menguasai 80% perekonomian korsel.

Quote:


Support soviet mulai menurun makanya Kim Ill Sung mulai bikin konsep Juche istilahnya berdikari.
Tapi malah bikin remuk karena industri korut udah ketinggalan jauh dan membatasi diri dari hubungan negara lain.
Plus pengkultusan berlebihan pada Supreme Leader bikin kebijakan korut tidak terkontrol
Balasan post gilbertagung
Quote:


nah,kira kira menurut agan sendiri gimana dengan cara penanganan IMF terhadap indonesia?berhasil atau gagal?

sepertinya kita yg plg buruk dan telat pulih dibanding pasien IMF asia lainnya?
Balasan post mamorukun
*salah tabel,edit
Diubah oleh beritafilistin

#20,664

Quote:


Di Korsel, separuh warga lansia berada di bawah garis kemiskinan.
Lansia
Kesenjangan pendapatan Korsel paling tinggi di Asia. 10% penduduk terkaya menikmati 45% pendapatan.
Kesenjangan

Quote:


Kita gagal pada awalnya (rupiah terpuruk paling dalam, ekonomi terkontraksi paling parah) namun akhirnya berhasil pulih meski terlalu lama dibanding Thailand dan Korea. Pertama, program IMF gak sepenuhnya dijalankan pemerintah (Pemerintahan Gus Dur hampir gak pernah mendapat kucuran bantuan IMF). Kedua, program IMF menyentuh hal yang sangat penting bagi rakyat miskin (subsidi) makanya efeknya sangat terasa. Ketiga, krisis di Indonesia diikuti krisis politik dan usaha menggulingkan Orde Baru, makanya efeknya lebih parah.
Indonesia mulai stabil akhir 1999, mantap stabilnya pas 2000, sedikit terguncang 2001, benar-benar pulih pada 2003-04.
Diubah oleh gilbertagung
Quote:


Oh begitu, tp tetap gak merata ya.
Balasan post mamorukun
Quote:


btw sorry gw salah tabel,tu nilai kapitalisasi pasar bursa saham di korsel(kospi)emoticon-Hammer

nilai samsung sendiri dari keseluruhan gdp korsel "cuma" 14-17%
Diubah oleh beritafilistin

#20,668

Quote:


Begitulah gan. Di Indonesia pun sama.

Quote:


Termasuk besar persentasenya. Berarti, kontribusi sales Samsung ke GDP sekitar 200-an miliar dolar. Dulu, kontribusi sales domestik Grup Salim ke GDP Indonesia sekitar 5%.
BTW, KOSPI itu indeks saham utama Korsel, kayak IHSG. Bursa saham Korsel itu Korea Exchange.
Diubah oleh gilbertagung
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di