alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Post-mortem Love (21++)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04e136d9d7706e168b4567/post-mortem-love-21

Post-mortem Love (21++)

π•»π–”π–˜π–™-π•Έπ–”π–—π–™π–Šπ–’ π•·π–”π–›π–Š

π˜›π˜©π˜ͺ𝘯𝘨𝘴 𝘺𝘰𝘢 𝘯𝘦𝘦π˜₯ 𝘡𝘰 π˜₯𝘰 𝘒𝘧𝘡𝘦𝘳 𝘺𝘰𝘢 π˜₯π˜ͺ𝘦

Spoiler for Sinopsis:


π‚π‘πšπ©π­πžπ«



Diubah oleh themagikarpi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
1


Gue minum kopi kebanyakan, dan sekarang gue melihat tubuh gue sendiri didalam peti mati. Ternyata ada yang namanya overdosis kafein, dan gue masih bisa merasakan pahitnya kopi di tenggorokan. Gue tentu pernah mendengar, bahwa pendengaran adalah panca indera terakhir yang pergi meninggalkan otak yang telah mati. Sungguh mengecewakan ternyata kata-kata terakhir yang gue dengar berasal dari orang yang sama sekali gue nggak kenal.

β€œβ€”kasihan dia masih 24 tapi mati muda, mulai besok kamu aku kurangin jatah ngopinya!”

Gue bahkan nggak sesuka itu dengan kopi.

3 Juni 1994 – 5 Mei 2018. Betapa pendeknya umur seorang Joshua Rizkinaldi.

Agak aneh dan canggung sebenarnya, menghadiri pemakaman diri sendiri. Dan menariknya, sekalipun gue bukan siapa-siapa, ternyata masih ada orang yang benar-benar tertarik untuk berada disini, menangisi ketiadaan gue, dengan memakai baju warna hitam yang paling elegan yang mereka punya. Padahal gue sendiri nggak melakukan apapun yang berdampak signifikan di dalam hidup mereka, tapi tetap saja tetes demi tetes air mata itu mengalir dari sudut mata. Mungkin mereka menangisi ekspetasi mereka terhadap gue yang nggak kesampaian.

Akhirnya.

Ternyata meninggal itu memang menyenangkan. Gue menunggu kesempatan ini sudah terlalu lama.

Dan ternyata gue nggak bisa melayang. Gue berjalan dengan baju yang gue pakai terakhir disaat semaput, menuju bangku lipat Chitose jelek, menunggu sesuatu terjadi entah apapun itu. Gue selalu fleksibel, gue nggak akan sedih kalau ditendang ke Neraka, dan juga nggak akan lega kalau di taruh di Surga. Jika ternyata dua-duanya sama sekali non-existent, maka gue akan tahu jawabannya. Tapi sekarang ini, gue sama butanya dengan manusia yang masih hidup.

Bahkan disaat gue mati, gue masih nggak tahu apa-apa soal kematian.

Saat punggung gue menembus sandaran punggung bangku Chitose, tahu-tahu gue terjatuh di dapur yang mengepul aroma cabai. Panik, gue berusaha jalan merangkak menembus tembok. Siapa tahu gue kembali lagi ke sepetak tanah dimana β€˜gue’ ditakdirkan untuk membusuk selamanya. Seseorangβ€”entah itu malaikat atau setan sedang menunggu gue disana! Tapi justru badan gue menembus ke kamar serba warna putih yang rapi, lalu ganti menembus ke kamar mandi yang habis di sikat lantainya dengan Portex. Gue kembali menembus tembok dan berdiri di belakang seseorang cewek yang sedang memasak. Mata gue melihat ke segala penjuru ruangan dengan perasaan waswas. Di meja makan terdapat tujuh kotak tupperware yang terbuka dan sudah terisi lauk. Gue melihat salmon, nasi putih dengan serbuk seaweed yang masih mengeluarkan panas. β€œOh, dia sedang bikin meal prep untuk seminggu.” Pikir gue seterusnya. β€œOke, terus kenapa gue bisa berada disini?”

Penasaran, gue berjalan ke samping cewek yang memunggungi gue untuk melihat wajahnya. Tapi gue sudah tahu siapa dia. Semua ini terlalu tipikal. Tentu saja, dia adalah cewek yang selalu gue takutkan adalah jodoh yang terlewat.

Dan dia bernama Leila.

Setengah berharap, Leila tetiba bisa melihat hantu lalu β€˜kaget’ dan mendadak menangisi kematian gue. Tapi dia terus memasak, sedikit-sedikit mengecek rasa dan menambah boncabe level 30 ke sayap ayam yang sudah berwarna cokelat kental. Melihat tumpukan bumbu boncabe yang ditumpahkan dari toples plastik kecil itu menggelitik hemmoroid gue yang seukuran leunca. Gue sudah 24 jam mati, tapi gue bisa merasakan asam lambung yang melambung naik membuat maag akut gue kambuh lewat aroma pedas yang mengumpul di ruangan.

Tapi setelah gue berhenti untuk bersikap dramatik, perasaan mual itu hilang dengan sendirinya.

Gue merosot duduk berjongkok didekat kaki Leila. Kedua mata terpejam, sementara suara kompor yang menyala dan gesekan sumpit kayu panjang di wok berbahan besi baja berukuran medium, membuat segala sesuatunya membingungkan dan menyakitkan disaat yang sama.

Jika saja gue mempertahankan Leila, mungkin kata-kata terakhir yang gue dengar berasal dari pita suaranya.

Apapun yang dia katakan, jauh lebih berarti daripada perkataan Emak-emak yang ketakutan suaminya mati keracunan kafein.

Dan sekarang gue penasaran, apa yang bakalan dia katakan kalau memang dia tahu gue meninggal?

β€œ Sampai kapan lo mau duduk disitu? Disitu kan jorok, karena deket tempat sampah. β€œ

Mata gue terbelalak, dan gue mendongak menatapnya. Dia mematikan kompor, hanya untuk berdiri sambil melipat kedua tangannya menghadap gue.

Lalu semuanya menjadi jelas. Oh, betapa tipikal nya semua ini. Fase berikutnya nggak akan terbuka didepan gue, kalau gue belum menyesali kehidupan gue berakhir dengan sia-sia. Seseorang menjebak gue dengan membuat gue terlempar kesini, menghadapi jodoh yang gue lewatkan. Seseorang ingin menenggelamkan gue ke dalam lautan penuh penyesalan.

β€œ Leila. β€œ kata gue setelah lama bingung mau berkata apa. Tapi lalu gue tersenyum, detik berikutnya bilang. β€œ Ternyata lo yang menang, gue memang nggak bisa β€˜hidup’ tanpa lo. β€œ

*
Diubah oleh themagikarpi
2



Dulu sekali, sebelum algoritma Tinder mempertemukan gue dengan Leila lagi, gue sudah bertemu Leila sewaktu berumur 13 tahun, karena kita sekolah di SMP yang sama. Leila lebih tua setahun, dan memiliki kebiasaan telat yang membuatnya sering dihukum dengan berbagai macam hukuman. Setiap pagi setelah bel selalu ada perkumpulan di kelas paling ujung di lantai dua, khusus untuk yang beragama Kristiani. Membuat gue secara tidak langsung terpaku ke arahnya. Mungkin, perkumpulan itu cuma satu-satunya kesempatan gue untuk melihat ke arah dia. Karena entah kenapa, Leila selain hobi telat dia memiliki penyakit IQ tiarap, yang membuatnya selalu berada di kelas yang berbeda.

Dan gue tahu dia selalu punya pacar. Gue tahu itu dari Gian, temen sekelasnya yang juga satu agama. Sekalipun Gian itu cowok, entah kenapa dia yang paling dekat dengan Leila dan sedikit-banyaknya membuat gue cemburu. Leila suka menyandarkan kepalanya ke bahu Gian ketika perkumpulan, lalu mereka ngobrol bisik-bisik.

Disaat itu, untuk pertama kalinya gue berharap gue menjadi seseorang yang bukan β€˜gue’.

Lalu Gian bilang, β€œ Kalau elo beneran suka sama Leila, Cuma ini saatnya lo nembak dia. β€œ katanya disaat ngumpul bareng di kelas gue yang kosong karena Sekolah sedang mengadakan kegiatan PORSENI, ngomongin cewek dan Point Blank.

Gue menatap Gian, tertarik dan penasaran saling menyatu. β€œ Kenapa? Dia putus dari cowoknya? β€œ

β€œ Ya, tapi selain cowoknya yang sekarang, dia juga lagi dideketin Kakak kelas. Dari kelas 8-7. β€œ jawab Gian pendek, menenggak aqua gelas dalam tiga kali teguk lalu bangkit berdiri dari bangku didepan gue. β€œ Gerak cepet lo sebelum keduluan lagi. β€œ

Sehingga dalam keadaan panik, gue menyusun rencana dengan Gian. Rencana dimana gue menunggu di dekat tangga lantai bawah, dengan perasaan yang nggak pasti, menunggu Gian menggiring Leila ke tempat gue.

Dan sisanya menjadi sejarah. Gue macarin Leila, sekalipun cuman bertahan satu tahun lebih sebelum Leila mutusin gue karena kita pergi ke Sekolah yang berbeda. Sakit hati, gue menghapus semua tweet gue soal dia, foto kita berdua yang makan tempat 500 mega byte di handphone gue format ulang, membakar tiket nonton di tempat sampah depan rumah, dan berjanji bahwa gue yang akan duluan keluar sebagai orang yang move on paling pertama dari hubungan ini.

Lalu Leila menghilang. Gue nggak pernah mendengar kabarnya satu kalipun, bahkan Gian juga putus kontak dari Leila.

Di SMA gue, yang tahu Leila cuma satu orang dan dia kakak kelas gue, tapi dia pun tutup mulut nggak mau ngomongin Leila seakan-akan Leila adalah topik yang tabu. Dan gue, tentu saja, ketemu lagi satu orang dan gue macarin dia. Tapi sesuatu tentang Leila yang membuat gue sering berhenti berjalan, hanya untuk memperhatikan kerumunan orang, berharap salah satunya adalah dia.

Disaat itu juga, untuk pertama kalinya gue berharap seseorang untuk mati.

Gue berharap Leila untuk mati, karena kalau dia memang benar-benar mati, gue nggak akan berharap bahwa hubungan kita adalah meant to be, dan salah gue hubungan itu berakhir sia-sia. Gue juga nggak akan meneliti satu-persatu wajah di tempat yang ramai akan orang, berharap Leila berdiri di radius lima meter dari gue, karena gue tahu dia dimakan ulat di tanah.

Perasaan aneh itu berubah menjadi kemarahan yang nggak mendasar. Gue marah sama dia karena gue nggak tahu apa-apa soal dia. Gue kesal karena dia selalu seperti seseorang yang nothing to lose, dia nggak masalah pergi menghilang dari kehidupan orang-orang yang dia kenal, nggak perduli seberapa dekatnya dia dengan mereka. Gue marah karena seharusnya gue sudah move on, dan hubungan kita berdua juga nggak akan bisa diperpanjang lagi umurnya, gue pikir gue sudah terima kenyataan itu karena gue juga sudah macarin orang lain setelah dia.

Lalu fotonya muncul di Tinder, dan tentu saja setelahnya semua menjadi jelas.

Gue ingin balikan lagi. Tapi entah kenapa, gue nggak mau terima kenyataan itu dan menganggapnya sebagai β€˜kekalahan’.

Dan untuk pertama kalinya, gue menelan ego gue, tepat ketika ibu jari gue swipe kanan nama Leila. Mata gue terpejam, jantung gue berdetak keras sampai-sampai gue bisa mendengarnya di belakang telinga. Saat mata gue terbuka, ada notifikasi error. Leila menghapus permanen akun Tindernya. Dan tampaknya, gue sekali lagi kehilangan dia.

*

β€œ Hei, Leila. β€œ kata gue, duduk jongkok di dekat kakinya sambil menutup muka gue dengan kedua tangan. β€œ Astaga, gue nggak mau disini. Gue mau pergi dari sini. β€œ Kata gue bangkit berdiri dan langsung berderap jalan ke pintu keluar.

Leila nggak menahan gue, dia masih terpaku dengan tangan melipat didepan dada. Kepalanya menunduk dan lalu melihat gue sambil menggeleng-gelengkan kepala. β€œ Oke, hati-hati dijalan kalau gitu. β€œ katanya tanpa basa-basi.

Gue langsung berhenti didepan pintu dan melihat ke balik bahu. Leila menarik bangku didepan meja makan yang menghadap pintu keluar, memandangi punggung gue. β€œ Kenapa lo bisa meninggal? β€œ tanya nya sambil mencuil salmon dari salah satu kotak tupperware yang berderet di atas meja makan. β€œ Lo kan masih muda, lo udah bosen hidup? β€œ

Badan gue memutar ke arahnya dan lalu tangan gue menunjuk ke arah Leila. β€œ Lo sendiri kenapa ngapus akun Tinder lo? Gue udah swipe kanan! Tapi tahu-tahu lo ilang lagi. Kenapa lo blocked semua temen-temen lo? Kenapa lo putus kontak dari kita semua? β€œ

Leila menatap mata gue dan lalu mendenguskan napas. β€œ Gue bikin Tinder karena gue marah sama cowok gue, tapi pas kita baikan, gue hapus akun gue. β€œ lalu dia mengambil sendok dan mulai makan dari kotak tupperware. β€œ Gue selalu begitu, gue nggak pernah mau berhubungan lagi sama temen-temen sekolah gue, itu udah jadi modus operandi gue. β€œ

β€œ Kenapa? β€œ Tanya gue masih nggak percaya.

Leila mengedipkan mata. β€œ Karena lebih gampang begitu. β€œ Lalu dia bangkit berdiri sambil mengangkat kotak tupperware nya, menyendoki sayap ayam ke atas nasi putih. Gue menatap dia terus-menerus sampai Leila duduk lagi di bangku yang sama.

Gue meneliti kedua tangan Leila, mencari-cari cincin diantaranya. β€œ Lo belum kimpoi? Ini rumah siapa? β€œ

β€œ Gua udah kimpoi tolol. β€œ Jawab Leila sambil mengunyah. Lalu dia menarikan bangku disampingnya, matanya menatap gue dan bangku itu secara bergantian. β€œ Duduk sini, ayo kita ngobrol. β€œ

Gue mengikuti perintahnya, tapi mata gue nggak lepas menatap dia. Badan gue duduk di bangku yang ditarikin Leila dan lalu melihat dia mengunyah makanan. β€œ Enak? β€œ tanya gue. Leila menatap gue sambil menganggukan kepala.

β€œ Ya entah kenapa gue jadi bisa masak, β€œ lalu dia mendengus tertawa. β€œ Berkat bantuan emak-emak dari Cookpad. β€œ

Gue tersenyum tipis lalu tangan gue ditaruh diatas meja makan untuk menopang muka gue. Kepala gue tetap terpaku ke arah Leila, β€œ Lo suka minum kopi nggak? β€œ

β€œ Nggak, gue lebih milih minum teh hijau. Kenapa? β€œ

Gue mendengus. β€œ Gue mati gara-gara minum kopi kebanyakan, gue baru tau ternyata manusia bisa overdosis kafein. β€œ

β€œ Nggak usah kopi, kita juga bisa mati gara-gara overdosis air. β€œ jawab Leila cepat. β€œ Terus lo nyesel nggak mati gara-gara minum kopi? β€œ

β€œ Awalnya nggak, malah kesannya jadi lucu. β€œ Gue kini menempelkan dagu diatas meja. β€œ Kalau gue tahu bahwa manusia bisa overdosis kafein, mungkin gue nggak bakalan segila itu minum kopinya. β€œ

Gue terdiam sebentar. β€œ Bahkan gue nggak suka kopi sampai segitunya. β€œ

β€œ Duduk yang bener, ntar bengkok tulang punggung lo. β€œ Kata Leila, sambil memakan sayap ayam dengan tangan kosong.

β€œ Udah nggak penting lagi, kan udah mati juga gue. β€œ

β€œ Hmm, bener juga. β€œ

Lalu gue menegakan badan dan menatap lurus ke tembok didepan gue. β€œ Karena gue sudah mati, kayaknya sekarang waktunya yang tepat untuk bilang ini ke elo. β€œ

β€œ Nggak. β€œ Tolak Leila mentah-mentah. β€œ Gue nggak mau tahu apapun soal lo. β€œ

Gue nggak memperdulikannya. β€œ Tiga bulan sebelum gue mati, Gue datang ke reunian rohani kristen SMP kita. β€œ Leila menggerang sambil menggigit daging sayap ayam. β€œ Disana, gue berharap bahwa lo dateng, tapi lo nggak pernah dateng. Semua orang suka ngebahas lo, mereka nggak ngejelekin elo, malah mereka kayak kagum sama lo. β€œ

Leila diam saja tapi jelas sekali bahwa dia mendengarkan. β€œ Lo bener-bener ngilang, sama sekali nggak ada social media yang nyisa, Facebook lo hapus, Instagram mungkin lo buat tapi nggak follow siapa-siapa, nggak ada yang tahu lo dimana. β€œ

Mata gue melihat ke Leila. β€œ Gue pun, asal lo tahu, kalau lagi jalan ke Mall atau ke Gramedia, gue masih suka nyariin lo. Beberapa kali ketemu cewek yang mirip sama elo, tapi gue tahu elo bukan mereka. Jadi, pulangnya agak sedih. β€œ

β€œ Dan nggak ada yang bisa gue kenang dari lo, karena setiap foto β€˜kita’ udah gue apus-apusin karena waktu itu gue, jujur aja, marah bareng sama lo. Jadi, gue minta Gian dan siapapun itu yang kira-kira punya foto lo. Cuma untuk ngebayangin gedenya lo kayak apa. β€œ

Gue menarik napas panjang. β€œ Gue minta maaf Leila, gue milih keputusan yang salah. Gue tahu lo yang mutusin gue, tapi gue bisa ngeyakinin untuk kita tetep pacaran. Seharusnya kita nggak putus, kita bisa long distance, gue tahu kita bisa. β€œ Leila masih saja makan sementara gue menatap dia dengan tatapan sendu. β€œ Lo pernah nggak sih sekalipun mikirin gue? Karena gue suka mikirin lo, β€œ.

Leila menarik selembar tisu dari kotak tisu, menaruh tulang ayam yang bersih dari daging diatasnya lalu melipatnya. Kemudian dia menarik tisu lagi untuk membersihkan jarinya yang bekas makan ayam. Mata gue mengikuti setiap pergerakan Leila, meneliti ekspresi mukanya yang masih lempeng. Lalu, dia menatap tepat di mata gue. β€œ Gue sempet beberapa tahun mimpi lo setiap malam. β€œ

Mata gue terbelalak. β€œ Mimpi? β€œ

β€œ Ya, mimpi. β€œ Leila menutup kotak tupperware yang sudah habis dan menggesernya ke arah tembok. β€œ Gue mimpi kita masih sekolah, gue selalu ngelihat lo dari jauh, seakan-akan kita putus pas masih sekolah. β€œ

β€œ Tapi β€˜kan kita putus pas udah sama-sama lulus. β€œ Kata gue menegaskan.

β€œ Iya gue tahu, tapi saking seringnya gue mimpi begitu. Memori gue soal hubungan kita jadi sempet ketuker gitu. Gue sempet percaya, bahwa pas SMP, kita putus dan akhirannya gue selalu ngelihat lo dari jauh. β€œ

Leila tersenyum. β€œ Setuju nggak sih? Pas kita pacaran, setiap memorinya seakan-akan jauh lebih bagus daripada kenyataannya? β€œ

Tangan gue terangkat dan menaruh diatas punggung tangan Leila. Leila melihat punggung tangan gue sementara gue bilang, β€œ Menurut gue, β€˜seharusnya’ kita jodoh. β€œ

Leila menghela napas sambil melihat ke arah tangan gue. β€œ Gue bahkan udah nggak bisa ngerasa apa-apa dari badan lo. β€œ Katanya yang membuat mata gue melihat ke tangan kita berdua. β€œ Sebenar-benarnya, gue makin kesini makin yakin justru kita nggak bakalan cocok. Pasti ujung-ujungnya pisah lagi kalaupun dipaksa. β€œ

β€œ Kenapa? β€œ

β€œ Karena lo religius, dan gue nggak. Lo pengen anak, dan gue benci anak-anak. Lo ambisinya tinggi, dan gue juga, makanya kita nggak bakalan cocok. β€œ kata Leila menerangkan semuanya.

β€œ Gue nggak sereligius yang lo pikir. β€œ tegas gue.

β€œ Gue tahu darimana coba? Dunia kita udah beda. β€œ kata Leila cepat. β€œ Gue tahu lo udah mati sekarang, tapi yang gue maksud adalah pas kita berdua sama-sama hidup, dunia kita udah beda. β€œ

β€œ Nggak sebeda yang lo pikirin.” Kata gue. β€œ Gue bohong, asal lo tahu gue selalu ingin balikan. Ada sesuatu tentang lo yang bikin gueβ€”β€œ

β€œ Sesuatu tentang gue? β€œ Leila membuang muka. β€œ Lo salah tangkep, yang membuat β€˜gue’ seakan-akan meant to be itu cuman perasaan nostalgia aja. Seperti yang gue bilang sebelumnya, memori gue sama lo seakan-akan jauh lebih indah daripada kenyataannya. Karena otak kita pilih-pilih, mereka cuman pingin kasih bagian yang sempurna aja. β€œ

Gue mengerutkan dahi. β€œ Tapi kalau memang begitu kenyataannya, terus kenapa gue disini? β€œ

Leila menatap gue tepat di mata lagi. β€œ Ya, lo kenapa disini? β€œ

β€œ Gue pikir, β€˜seseorang’ mengirim gue ke tempat lo supaya gue menyesal, dan kalau sudah menyesal baru boleh pergi ke fase berikutnya. β€œ Kata gue jujur. β€œ Leila, β€œ gue menatap matanya. β€œ Lo bener-bener nggak nganggep bahwa gue jodoh lo yang kelewat? β€œ

β€œ Astaganaga, Joshua. β€œ Leila menatap muka gue dengan nggak percaya. β€œ Jangan kirim gue balik ke masa-masa kelam itu. Sekarang gue udah happy, semua udah ada di tangan gue. Gue bener-bener di posisi yang positif sekarang. β€œ

β€œ Leila, mungkin sekarang bener-bener terakhir kalinya kita bisa ngobrol kayak gini. β€œ Kata gue mendesak. β€œ Jawab gue yang jujur! Lo nggak mikir bahwa gue adalah jodoh lo? Bahwa kita seharusnyaβ€”β€œ

Leila sekarang menangis. β€œ Joshua, lo jangan begini. Lo harus mikirin gue juga, gue masih hidup dan udah nikah juga. β€œ

β€œ Jawab yang jujur, Leila. β€œ Kata gue pelan dengan lirih.

Leila menatap lurus ke tembok. β€œ Ada sesuatu tentang lo juga yang membuat semuanya jadi ribet. β€œ dia menarik selembar tisu dari kotak tisu untuk menyeka air mata. β€œ Tapi kita beda, gue nggak kayak elo, gue tahu bahwa kita seharusnya pisah, bahwa kita emang nggak ditakdirkan buat bareng. β€œ

Tahu-tahu air didalam galon aqua mengeluarkan banyak gelembung yang membuat Leila melonjak kaget. Leila bangkit berdiri dari kursi untuk mencuci tangan di bak cuci piring dan kemudian dia berjalan ke arah gue sambil mengeringkan tangan dengan handuk kecil.

Secara tidak langsung, gue tahu, bahwa pembicaraan sudah selesai dan nggak ada lagi yang perlu diungkapkan. Karena semua sudah terlalu terlambat, dan nggak ada yang bisa kita perbuat tentang hal tersebut.

Setelah gue perlahan-lahan kembali tenang, air didalam galon aqua berhenti menggelonjak dan semua kembali sunyi. Sunyi ini sekalipun singkat rasanya seperti selamanya, tapi Leila mematahkan kesunyian itu dengan berkata. β€œ Kasih tahu gue kalau ternyata manusia bisa reinkarnasi. β€œ

Gue kembali menatapnya sambil mendenguskan napas. β€œ Gue sama butanya sama lo, gue nggak tahu apa-apa soal protokol orang mati. β€œ

β€œ Ah, β€œ Leila menaruh handuk kecil di dekat kompor. β€œ Mungkin disaat lo β€˜akhirnya’ tahu, semuanya sudah terlalu terlambat. Jadi gue nggak akan pernah tahu. β€œ

Gue tersenyum. β€œ Sama seperti hubungan kita. β€œ badan gue bangkit berdiri, kembali berjalan menuju pintu. β€œ Dan asal lo tahu, gue tetep bersikeras bahwa lo adalah jodoh gue. β€œ

β€œ Terserah, tapi gueβ€”β€œ

β€œ Lo baik-baik disini, dan sorry gue terlalu terlambat buat ngasih tahu semuanya. β€œ Kata gue sambil tersenyum selebar mungkin. β€œ Doain gue untuk nggak gentayangan kelamaan di Dunia sini, oke? β€œ

Leila menghela napas sambil balas tersenyum. β€œ Oke. Nggak janji, tapi oke. β€œ

β€œ Auf widersehen! β€œ kata gue sambil melempar tangan hormat di samping kening. Gue nggak menunggu balasannya, dan berjalan menembus pintu. Tepat di sebelah kiri gue, gue melihat ada Cowok yang membawa dua keranjang kucing di masing-masing tangan lalu menembus badan gue untuk mengetuk pintu putih di belakang gue.

β€œ Beb, β€œ katanya sambil menaruh dua keranjang itu disisi badan. Lalu dia mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya.

Pintu itu langsung dibuka dan Leila ganti mengangkat dua keranjang kucing itu ke dalam rumahnya, tanpa melihat ke arah gue sama sekali.

Gue berjalan menuju lorong apartement dan mendengar suara pintu dikunci di belakang gue. Di depan gue terdapat lift kosong dengan pintu terbuka, tanpa berpikir panjang gue masuk ke dalamnya. Setelah gue masuk, lift itu naik ke lantai yang paling atas dan perlahan-lahan pintu besi itu terbuka.

Seseorang laki-laki memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat di siku dan celana kain berwarna hitam yang disetrika rapi, berdiri di samping gue sambil berkata. β€œ Gimana rasanya? Lega? β€œ

β€œ Ternyata sama sekali nggak menyelesaikan masalah. β€œ Jawab gue jujur sambil menghela napas. β€œ Apakah abis ini gue bisa langsung pergi ke tahap selanjutnya? β€œ

β€œ Kenapa buru-buru amat? β€œ Tanyanya sambil tersenyum mengejek dengan tatapan yang melihat gue dari sudut mata. β€œ Nanti juga bakalan tahu kalau waktunya sudah tepat. β€œ

β€œ Kapan? β€œ tanya gue sambil melihat cermin didalam lift, yang tentu saja tidak menampilkan kita berdua.

Laki-laki tersebut mengabaikan pertanyaan gue. Pintu lift menutup ketika Laki-laki tersebut menekan tombol Lower Ground.

*

seru juga, ini ambil dr buku juduknya apa bre?
Quote:


Iseng aja buat judul begitu bos, nggak ngambil dari buku mana-mana.
Quote:


Keren bro jalan ceritanya, coba aja kirim ke koran/penerbit. Mantap nih
Quote:


Makasih banyak bos, ane pasti kalah sama yang beneran passionnya di nulis. Makanya nulis disini aja emoticon-raining

3

Laki-laki itu menggerakan kepalanya menuju pintu lift yang terbuka. β€œ Nanti habis ini kita ketemu lagi. β€œ

β€œ Oke? β€œ gue jalan keluar lift dengan langkah nggak yakin. Pintu lift itu tertutup di belakang gue, dan gue melihat ke sekeliling ruangan pekat dengan aroma antiseptik. Disaat gue menoleh ke belakang, yang ada cuma pintu kayu geser sedikit tertutup yang membiarkan sinar matahari menerabas masuk.

Lift itu hilang, begitu pula laki-laki tersebut.

Sekali lagi, gue melihat bangku lipat Chitose yang kain kulit cokelatnya sudah sobek dengan busa kuning yang sudah dicongkel. Gue duduk disitu, menyilangkan kaki sambil melipat kedua tangan didepan dada, menunggu seseorang masuk ke dalam ruangan.

Pintu itu di geser dan mata gue langsung bertemu tatap dengan seorang cowok berambut panjang. Dia memakai baju pasien dengan muka pucat tetapi tatapan matanya tajam sekali. Gue bingung, sementara dia mengabaikan keberadaan gue dengan menggeret tiang infus bersamanya ke samping tempat tidur yang berantakan. Cowok tersebut duduk di samping tepi tempat tidur, menghela napas keras-keras dan baru menatap ke arah gue.

Gue menatap dia balik.

β€œ Lo kenapa masih disini? β€œ Katanya dengan suara parau. β€œ Sekarang neraka ada waiting list-nya? β€œ

Telinga gue berdiri dan gue langsung ganti gaya duduk. Badan gue duduk dengan tegap, menunggu sesuatu keluar dari mulutnya. Cowok itu mengedipkan mata sambil tersenyum tipis. β€œ Kenapa? Ada yang salah? β€œ

β€œ Lo yang kenapa? Kok tahu-tahu marah? β€œ tanya gue kesal, lalu bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu geser. β€œ Gue juga nggak tahu kenapa gue disini, pasti gue salah tempat.”

β€œ Lo nggak salah tempat, gue kenal lo tapi lo nggak kenal gue. β€œ Katanya sambil membuka kotak permen dan mengambil satu butiran permen berwarna kuning ke dalam mulut. β€œTeknisnya, kita saudara. Tapi beda ibu. β€œ

β€œ Nggak mungkin. β€œ kata gue langsung cepat. Matanya menatap gue dengan tatapan kosong sementara mulutnya mengulum permen. Gue berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan memperhatikan mukanya.

Meski sedikit tapi gue bisa melihat sepasang mata dan alis yang Bapak gue miliki. Bahkan cowok ini mirip seperti Bapak ketika dia masih berumur 19 tahun. Sekalipun perangainya seperti anak punk, dan warna kulit yang jauh lebih pucat serta badan yang sepuluh kilo lebih kurus. Dia seperti cetakan Bapak gue waktu masih kuliah.

β€œ Hanya karena kesannya bokap lo setia, nggak berarti dia nggak tebar sperma sembarangan. β€œ Dia mengulurkan tangan menawarkan kotak permen yang tutupnya terbuka. β€œ Mau? Oh iya, lo kan udah mati. β€œ Telunjuknya langsung menutup tutup rapat kotak permen dan menaruhnya diatas kabinet besi berwarna putih.

Gue menatap dia dengan tatapan nggak percaya dan lalu mengabaikan sikap buruknya. β€œ Lo kenapa dirawat disini? β€œ

β€œ Karena gue sakit? β€œ Jawabnya sarkastik tapi gue masih nggak puas dengan itu sehingga dia mengibaskan tangan. β€œ Gue cuman tifus, nanti bentar lagi juga sembuh. β€œ

β€œ Oh, oke. β€œ Gue kembali duduk di atas bangku Chitose. β€œ Gue kira lo lebih parah sakitnya. β€œ

β€œ Huh, sekarang lo doain β€˜saudara’ lo sendiri untuk cepet mati? β€œ Dia sekarang tiduran menyelonjorkan kakinya di atas tempat tidur. β€œ Nggak suka ya kalau β€˜saudara’ lo dikasih nyawa lebih panjang daripada lo? β€œ

Gue nggak kuat dengan sikap sinisnya ke gue, sehingga gue bangkit berdiri dan menembus keluar pintu, hanya untuk melihat laki-laki yang didalam lift tadi sedang membaca koran di kursi depan lorong. Laki-laki tersebut menurunkan koran untuk menatap muka gue dan menggerakan kepalanya, menyuruh gue untuk kembali masuk. β€œ No, jam kunjungnya belum habis. Balik lagi kesana kalau mau cepat-cepat β€˜if you know what I mean’ β€œ tangannya juga bergerak mengibas-ngibas keluar.

β€œ Nggak, β€œ Bantah gue. β€œ Gue nggak kenal dia, dan dia jelas-jelas nggak mau gue ada disini. β€œ

Laki-laki tersebut mendecakan lidah, melipat koran lalu mengapitnya di ketiak kiri sebelum tangan kanannya bergerak ke depan, yang mana membuat badan gue terlempar ke belakang menembus pintu.

β€œ Waktu masih panjang, nggak usah buru-buru pergi. β€œ Kata laki-laki itu dari lorong, tapi suaranya seperti muncul persis di balik telinga. β€œ Kalau mau selamanya disini juga bisa, pokoknya waktu masih banyak. β€œ

Gue melihat ke arah cowok itu yang sekarang menaruh kedua tangannya dibalik kepala, sementara matanya menatap gue dengan bibir yang kedua sudutnya tertarik ke belakang. β€œ Kenapa? Kok balik lagi kesini? β€œ

Badan gue terbangun dan menebas-nebaskan debu dari celana, murni karena kebiasaan lalu kembali berjalan ke bangku lipat Chitose. β€œ Nama lo siapa sih? Umur lo berapa? Kok lo nggak sopan sama gue? β€œ

β€œ Virdi Rizkinaldi. β€œ Jawabnya singkat sementara tangan kirinya menyambar kotak permen itu sekali lagi dan mengambil satu butiran sebelum memasukannya ke dalam mulut lewat sudut bibir. β€œ Kita cuman beda dua tahun, dan respect is earned, not given. β€œ

β€œ The fuck nama kita sama. β€œ Kata gue sambil menggeleng kepala nggak percaya.

β€œ Huh? Nama depan lo Virdi juga? β€œ katanya mengejek. β€œ Setahu gue lo Joshua? β€œ

β€œ Ha-ha, lucu lo. β€œ gue mendenguskan napas. β€œ Gue tahu gue udah mati, tapi gue mau cepet-cepet pergi dari sini. β€œ

β€œ Ya, bye bye kalau gitu. β€œ jawabnya cepat.

β€œ Maksud gue, kalau lo benci gue. Sekarang waktu yang tepat buat ngata-ngatain gue. β€œ Kata gue sambil memijit dahi dengan dua jari dengan rasa gemas yang memuncak di kepala.

Virdi nggak menanggapi omongan gue secara serius. Dia bahkan memutuskan untuk menyalakan TV dan mengganti-ganti saluran channel selama beberapa menit, sambil mengomentari beberapa dengan suara dibawah napas. Suara TV yang lumayan pelan itu membuat gue bangkit berdiri dan berjalan mengarah ke tempat tidur Virdi dan tidur di sampingnya persis. Diluar perkiraan gue, dia ternyata nggak risih ada gue tiduran menghadap nya disamping kirinya. Justru dia malah balas memposisikan badannya menghadap gue dan mengerucutkan bibir, mendekatkan kepalanya untuk mencium muka gue. Sontak gue langsung mundur sementara dia cuman memutar kedua bola matanya sambil mendenguskan napas mengejek.

Virdi kembali mengganti channel TV sampai dia berhenti ke channel Animax, dan menonton episode ulang Ranma Β½, dengan dubbing bahasa Inggris.

β€œ Sebenarnya sih gue pernah benci sama lo. β€œ kata Virdi kali ini duduk tegap diatas tempat tidur dengan mata lurus terpaku ke TV LCD berukuran 25”. β€œ Justru lebih ke arah iri, kalau boleh jujur. β€œ

β€œ Hah? β€œ gue sekarang malah bingung dan menatap belakang kepalanya. β€œ Gue aja baru pertama kali ketemu lo disini, gimana caranya lo bisa iri sama gue? β€œ

β€œ Hanya karena lo nggak tahu gue ada, bukan berarti sebaliknya sama. β€œ Virdi membuka laci kabinet tanpa mengubah posisi sehingga dia bergantung di tempat tidur, untuk mengambil Cheesy puff dari laci. Dia menggigit ujung plastik yang mana ujung tajamnya mengenai gusinya sampai berdarah.

β€œ Astaga, β€œ gue sekarang duduk diatas tempat tidur sambil menunjuk plastik snacks itu. β€œ Lo buka dari tengah, nggak usah pake gigi segala. Dasar jorok. β€œ

β€œ Sorry dude, gue cuman denger nasihat orang yang masih hidup. β€œ dan dia merogoh tangannya masuk ke dalam plastik sementara matanya kembali terpaku ke Ranma 1/2.

Gue mengabaikannya dan kembali menyandarkan kepala ke atas bantal sementara mata gue tertuju lurus mengamati langit-langit ruangan. β€œ Kenapa lo iri sama gue? β€œ

β€œ Karena lo yang dianggap sebagai anak sah Bokap gue, β€œ jawabnya cepat. β€œ Simpel sebenarnya, gue mau harta bokap gue. Tapi ternyata, harta bokap gue cuman turun ke keluarganya yang sah, yaitu elo dan adek-adek lo. β€œ

β€œ Oh, β€œ gue melipat kedua tangan gue ke balik kepala. β€œ Fair point, kalau gue diposisi lo gue juga pasti bakalan devastated. β€œ

β€œ Ugh, gue nggak butuh duitnya tapi emak gue yang mau duitnya. β€œ katanya lagi, kesal mendengar respon gue barusan.

β€œ Kenapa? Bokap gue nggak ngebiayain hidup kalian sama sekali? β€œ tanya gue lagi, kali ini murni penuh dengan rasa penasaran.

β€œ Bokap β€˜kita’ ngebiayain keluarga gue, tapi bagi emak gue nggak pernah cukup. β€œ katanya sambil menghela napas. β€œ Jadi gara-gara itu, emak gue rada benci sama gue karena menurut dia, gue β€˜gagal’ bikinin emak gue jadi istri yang disayang Bokap. β€œ

β€œ Oke, β€œ gue nggak tahu harus ngomong apa lagi. β€œ Nggak enak juga kalau situasinya begitu. β€œ

β€œ Yep. β€œ jawabnya singkat lagi, lalu dia mengunyah Cheesy puff sampai mulutnya penuh.

Gue bolak-balik ganti gaya di atas tempat tidur sampai akhirnya gue mati gaya. β€œ Oke deh! Kalau begitu. β€œ Gue bangkit duduk di tepi tempat tidur dan menepuk-nepuk tempat tidur sambil tersenyum. β€œ Nice to meet you, I guess? β€œ Tapi ketika gue ingin menjejakan kaki di lantai vynil anti-microbial, tahu-tahu kaki gue nggak bisa bergerak.

β€œ Nope, masih panjang waktunya. β€œ Kata laki-laki tersebut di belakang telinga sementara gue yakin, dia masih di lorong dan baru saja membalikan kertas korannya.

β€œ Ugh. β€œ Gue menghempaskan badan gue ke tempat tidur lagi. β€œ Selain iri, lo kenapa lagi sama gue? β€œ kata gue secara mendesak.

Virdi menoleh ke balik bahu untuk menatap gue sebelum dia membuang muka dan bilang, β€œ Oh, dan gue juga mantannya Leila juga. β€œ

Gue langsung duduk tegap di atas kasur dan merasakan jantung gue merosot dari rongganya. β€œ Nggak mungkin, β€œ kata gue cepat, mekanisme defensif gue terbangun. β€œ Dia nggak bakalan mau sama yang jauh lebih muda dari dia, sama gue aja dia malu sendiri. β€œ

β€œ Yeah, tapi gue beneran mantanan sama dia. β€œ kata Virdi sambil mengangkat bahunya. Dia menghela napas dan bilang, β€œ Tapi dia nggak tahu kalau gue saudaraan sama lo. β€œ

Tangan gue memegang bahu Virdi, tapi entah kenapa sesuatu menjerat masuk ke dalam tubuh gue lewat dari permukaan kulitnya. Gue mengedipkan mata berkali-kali sementara gue melihat wajah Leila yang belum gue pernah lihat sebelumnya, memegang muka gue dan lalu menempelkan bibirnya ke gue.

β€œ Virdi. β€œ suara Leila menggema di belakang tengkorak.

Gue menarik tangan gue dari bahu Virdi sementara rasa mual naik dari perut menuju ke tenggorokan. Refleks, gue memuntahkan semuanya dari perut gue ke samping tempat tidur. Saat gue melihat ke lantai, sama sekali nggak ada cairan muntah di sana dan Virdi cuman melihat gue dengan muka kaget.

β€œ Lo nggak apa-apa? β€œ Tanyanya, kedengarannya mengejek tapi gue merasakan ada rasa khawatir disana.

Lagi, gue menghempaskan badan gue ke belakang dan kali ini gue menutup mata gue dengan tangan kiri. Semua memori tentang Leila berhamburan masuk, saling menghimpit satu sama lain sehingga kepala gue rasanya seperti mau pecah. Setiap percakapan mereka baik dari yang nggak penting sampai ke pertengkaran mereka masuk ke dalam gendang telinga, tanpa sama sekali nggak ada yang bisa gue saring.

Gue mengerenyitkan dahi, sementara kaki gue tertekuk mengenai dada. Sampai pada akhirnya memori terakhir tentang mereka berdua masuk paling belakang diantara semua yang mendorong masuk secara paksa ke dalam tenggorokan, gue mual di sepanjang perjalanan dan terbatuk-batuk.

Dibalik mata gue, ada Leila.

Dan dia memanggil nama orang lain sambil menatap mata gue secara langsung.

*

asal tau aja ya, thread kayak gini yg jadi salah satu alasan SFTH masuk ke dalam list forum favorit gw

btw gw yakin ini TS nya sama kayak yg dulu pernah gw baca. kalo emang iya mohon konfirmasi lewat PM. anyhow, good job! mohon dilanjutkan. +1 fans buat ente, atau mungkin masih sama jumlah fans nya kalau memang ane adalah fans ente dari jaman thread sebelumnya.


×
GDP Network
Beritagar β€’ Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di