alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / Heart to Heart /
Bukan Jalan Terbaik
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bffec34ded770f3188b4567/bukan-jalan-terbaik

Bukan Jalan Terbaik

“Hei, ngomong-ngomong kalian tau gank dari SMA 52?”
“Iya aku tau, emang ada kabar apa lagi?”
“Kemarin si Husein babak belur dipukulin mereka.”
“Salah apa si Husein?”
“Katanya sih cuma karena si Husein pegangan tangan sama anak cewek dari SMA 52.”
“Kejam ya mereka. Aku paling jijik sama orang sok kuat gitu. Apalagi ketuanya itu, si Hakim.”
“Ah, ga usah dibahas lagi! Itu orangnya sama ganknya. Nanti kena pula kalian.”
                Hampir setiap hari orang-orang membicarakannya ataupun kelompoknya. Wajah garang dengan mata tajam dan tubuh yang proporsional cukup mendeskripsikannya. Tak ayal siapapun yang melihatnya akan merasa ketakutan. Ketakutan berhadapan dengan manusia biasa hanya berlaku bagi mereka yang tidak bersalah. Lain lagi bagi mereka yang mencari masalah dengannya--- jangan harap mereka masih bisa menikmati masa SMA-nya.
                “Hoi, kalian bertiga! Kalian dari SMA 8 kan?” tanya salah seorang dari kelompok yang terlihat aura hitam disekelilingnya.
                “Iya.” Salah seorang dari sekelompok murid SMA 8 menjawab dengan gemetar.
                “Cepat panggil Husein kesini?”
                “Iya.”
                “Oh yaa, jhaangan lupaa sulyuh Usyein awa puulpen yaa!” salah seorang dari kelompok mengerikan tadi meneriakkan sesuatu.
                “Haa? Maaf kami gak ngerti?” Dengan nada bingung bercampur takut, salah satu dari murid SMA 8 menanyakan kejelasan pernyataan tadi.
                “Apa kalian bilang? Kata-kata Hakim kurang jelas? Cari masalah kalian ya? Suruh Husein kesini dan suruh dia bawa pulpen. Cepat!” teriak salah seorang dari kelompok mengerikan itu dengan nada kesal merasa direndahkan.
                “Shantai Dit. Uryusan Khita hanyia deengan Usyein.” Balas seseorang yang berbicara tidak jelas tadi.
                 Kelompok itu diliputi aura hitam yang membuat orang merinding jika mereka menyadarinya. Kelompok itu adalah gank Putoh Kawat yang mengerikan dari SMA 52. Anggotanya: Adit, Zulfan, Danu, Risya, dan yang terakhir adalah ketuanya, Hakim. Gank mereka menguasai hampir seluruh wilayah SMA 52 dan SMA 8 yang bertetanggaan.
                Hakim namanya, pemimpin gank Putoh Kawat yang terkenal itu. Sudah menjadi rahasia umum sang ketua terkenal dengan cara bicaranya yang tidak jelas. Penyebabnya adalah kecacatan yang dialaminya sejak kecil di bagian lidanya sehingga pengucapan kata-kata Hakim susah dimengerti oleh orang yang tidak dekat dengannya. Namun dengan cara bicara Hakim itu, menambah kesan garangnya seorang Hakim. Hal itu membuat orang-orang harus merasa mengerti apa yang Hakim inginkan.
                Entah bagaimana cara berpikir anak-anak SMA dewasa ini--- walaupun Hakim dikenal dengan kengeriannya, namun tidak mengurangi orang-orang untuk mendekatinya. Mereka yang mendekati Hakim dan kelompoknya bukan hanya sebatas ingin berteman dengan mereka. Sebagaimana seorang teman, kita selalu ingin untuk melindungi mereka. Itulah yang dipikirkan oleh mereka yang mendekati gank Putoh Kawat. Mereka menginginkan perlindungan dari gank itu. Tak hanya laki-laki yang mendekati gank Putoh Kawat, bahkan mereka dari kalangan perempuan pun banyak yang mencoba menjadi pacar atau hanya teman semata. Tak ayal hal ini membuat Hakim terkenal di kalangan laki-laki dan perempuan.
                                                                                                -----
                “Dil, tolong ambilin tongkatku dong!”
                “Nih, hati-hati!”
                “Terima kasih.”
                Mereka adalah Riska dan Dila. Dua siswi SMA 52 yang dapat dibilang biasa-biasa saja. Riska adalah siswi yang cukup pintar dan disiplin. Namun satu hal yang membuat Riska sedikit menjadi perhatian adalah Riska kehilangan sebelah kakinya akibat kecelakaan. Kehilangan salah satu bagian tubuhnya tentu akan menghambat aktifitas Riska. Disanalah datang sosok Dila--- sahabat karib Riska semenjak SMP--- untuk membantunya sehari-hari. Mereka tak pernah terpisahkan.
                Suatu hari, Riska berpapasan dengan gank yang ditakuti di SMA-nya, Gank Putoh Kawat. Mereka saat itu tengah sibuk mencoba mengambil sesuatu diatas sebuah pohon, namun karena ketinggian mereka tidak bisa menggapainya.
                “Hei, Riska pinjam tongkatmu sini!” pinta Adit, salah satu dari gank Putoh Kawat.
                “Ngapain sih kalian?” Riska menanggapi dengan nada kesal.
                “Aah, gak usah banyak bacot, cepat sini! Penting ni!” paksa Adit sekali lagi sambil menggenggam salah satu ujung tongkat.
                Dila yang melihat temannya diganggu, sontak dia mendorong Adit agar melepaskan tangannya dari tongkat Riska. Dorongan itu membuat tubuh Adit terhempas kebelakang mengenai batang pohon didekatnya. Melihat kejadian itu, teman-teman Adit hanya tertawa melihat apa yang dialaminya. Adit yang kesal sontak berdiri dan mencoba mendorong Dila balik. Namun tak sampai tangannya meraih bahu Dila, Hakim dengan sigap menahan Adit.
                Saat kejadian itu Zulfan, Danu, dan Risya hanya tertawa terbahak-bahak melihat apa yang terjadi. Adit yang kesal berusaha mendorong Dila dengan segenap amarahnya. Dila saat itu memasang tembok pertahanan yang kuat--- agar tubuhnya tidak terdorong--- dan menutup matanya. Dalam kejadian ini yang menjadi perhatian adalah hanya Riska seorang yang benar-benar melihat dengan jelas kejadian saat itu. Riska yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat Hakim menahan Adit dengan sigap. Saat itu ekspresi Hakim bukanlah ekspresi seorang pemimpin gank yang sangat ditakuti itu. Wajah penuh kekhawatiran, kecemasan, dan takut akan luka yang akan atau pernah dialami seseorang digambarkan oleh wajah Hakim pada saat itu. Hakim seakan berada di posisi Riska yang pada saat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Seakan-akan kejadian ini pernah dialaminya sebelumnya.
               
“Oi Dit, ngapain kau tahan aku? Cewek ini yang mulai duluan.” Adit membentak Hakim dengan nada kesal.
                “Jangan kayak banci kau Dit, beraninya sama cewek.” Balas Risya sambil tertawa sinis.
                “Aah, sudahlah. Terserah kau aja.”
                Adit saat itu merasa sangat kesal dengan sikap Hakim yang mengehentikannya. Dia menunjukkan wajah cemberut masamnya bak buah jeruk purut yang masih hijaunya. Adit yang kesal ini malah jadi bahan tertawaan teman-temannya membuatnya menyimpan dendam tersendiri didalam hati. Namun Hakim mengabaikan perasaan Adit pada saat itu.
                “Liska, phinyam toongkhatmu bhental! Shepatu ulpan nangkhut di atasy.” Pinta Hakim kepada Riska. Namun Riska seakan sehabis melihat sebuah keajaiban dunia hanya terpatung tak menanggapi permintaan Hakim.
                “Liska?” tanya Hakim sekali lagi. Riska yang terpatung kemudian kaget mendengar Hakim berbicara seakan ruhnya yang keluar telah kembali kedalam tubuhnya. Dengan reflek Riska langsung memberikan tongkatnya kepada Hakim. Riska yang sedang tidak menggunakan tongkat dibantu oleh Dila yang sedang keheranan melihat tingkah Riska yang tidak biasa. Setelah sepatu Zulfan diambil dari atas pohon, Dila dan Riska meninggalkan gank Putoh Kawat.
                “Ris, kamu gak apa-apa kan?” tanya Dila penuh kekhawatiran.
                “Gak apa-apa kok.”
                “Tumben kamu kasih tongkatmu tadi, padahal aku aja gak ngerti dia ngomong apaan. Kamu gak diancam kan?”
                “Hehe, gak kok. Gak ada apa-apa.”
                “Serius ni, kalau ada apa-apa bilang ke aku aja.”
                “Iya. Aku serius. Kamu gak usah khawatir Dil!”
                “Yaudah deh kalau begitu.”
                                                                                                ------
                Dua minggu berlalu setelah kejadian antara Dila, Riska, dan gank Putoh Kawat, Riska beberapa kali memikirkan ekspresi yang ditunjukkan Hakim saat itu. Ekspresi yang menunjukkan karakter seseorang dari masa lalunya itu tak mungkin ada seorangpun yang dapat melupakannya. Riska yang pada saat itu baru pulang sekolah dan menuju halte dekat sekolahnya. Riska tengah melamun tidak memperhatikan jalannya. Tiba-tiba sebuah sepeda yang dinaiki oleh seorang anak yang melaju dengan kencangnya menyerempet Riska hingga terjatuh dan tongkatnya rusak tidak bisa digunakan lagi. Kemudian Riska berusaha bangkit dan mengambil tongkatnya yang patah menuju ke sebuah tempat duduk di pinggiran jalan. Dia mencoba menenangkan dirinya dan membersihkan debu dari baju dan roknya ketika terjatuh tadi.
                Beberapa menit Riska mengistirahatkan tubuhnya datang sosok yang beraura hitam di sekelilingnya. Dia bukanlah jin atau setan melainkan ketua dari gank Putoh Kawat, Hakim. Melihat Riska yang duduk termenung dengan tongkatnya yang rusak, Hakim datang menghampirinya.
                “Lis, Khamu khenapa?” tanya Hakim kepada Riska.
                “Tadi keserempet sama sepeda. Tapi gak apa-apa, Cuma lutut aku agak sakit.”
                “Pergi Khemana oraangna?” tanya Hakim dengan nada kesal karena dia menduga Riska korban tabrak lari.
                “Ga apa-apa, Cuma bocah kok. Lagi pula salah aku karena melamun. Eh Hakim, kamu jangan asal main kekerasan sama orang. Aku gak minta bantu kamu kok.” Riska sedikit kesal dengan tanggapan Hakim tadi yang seakan-akan ingin menghajar bocah yang telah melukai Riska.
                “Aah, syantai olang itu phantas di khasyih pelaajalan!”
                “Kalau kamu mikirnya gitu, pergi aja sana. Aku gak suka lihat orang kayak kamu.”
                Mendengar itu Hakim merasa terpukul oleh kata-kata Riska. Selama dia menjadi ketua gank Putoh Kawat, tidak, bahkan sejak SMP tidak ada orang yang pernah melempar kata-kata itu kepadanya kecuali orangtuanya. Hakim merasa perempuan ini bukan sembarangan, bahkan laki-laki sekalipun tak ada yang seberani dia kecuali anggota gank Putoh Kawat. Hakim tidak akan pernah meremehkan perempuan ini.
                “Okhey khalau ghitu. Aku miinta maaf. Omong-omong khamu mhau khemana?”
                “Aku mau ke halte. Mau pulang. Tapi tongkatku….”
                Mendengar kata-kata Riska sekaligus melihat kondisinya saat ini, Hakim yang mengerikan itu merasa iba. Kemudian dia menawarkan bantuan untuk mengantar Riska ke halte yang ingin dituju.
                “Ayo, Aku Bhantu ke halte. Khamu bhisya phegang bahu aku.”
                “Ok. Terima kasih.” Riska yang ingin pulang tidak menolak tawaran Hakim.
                Riska yang tingginya sebahu Hakim merasa sedikit kesusahan ketika Hakim menawarkan bahunya. Oleh karena itu Hakim berusaha sedikit membungkuk agar Riska dapat berjalan senyaman mungkin. Kejadian itu membuat aura seorang Hakim yang hitam pekat berubah warna menjadi kuning kemerahan karena pengaruh Riska. Hakim yang garang itu dalam sekejap berubah menjadi peri penolong bagi Riska.
                Riska yang sedang digotong Hakim saat itu menoleh kearah wajah Hakim seakan dia tidak percaya apa yang dialaminya saat ini. Riska membandingkan kejadian ini dengan berita yang tersebar selama ini. Ini mustahil pikirnya. Riska memandang wajah Hakim beberapa saat sambil berjalan. Dengan Intuisi penasarannya Hakim tiba-tiba juga menoleh kearah wajah Riska. Saat itu mata dua insan itu bertemu satu sama lain mamantulkan diri mereka bak cermin kehidupan. Langkah mereka kemudian terhenti sejenak diterpa oleh angin jalanan yang dibawa oleh alunan kendaraan yang berlalu lalang.
                “Khamu ngak apa-apa?”
                “Gak, gak apa-apa kok. Ayo jalan lagi.” Saat itu Riska merasa sangat canggung berhadapan dengan Hakim.
                Setelah tiba di Halte, Hakim menemani Riska sejenak sambil menunggu bus transkota. Lima menit menunggu, bus yang dinantikan pun tiba. Kemudian Hakim kembali menggotong Riska menuju tempat duduknya didalam bus.
                “Khamu gak apa-apa syendili?”
                “Ga kapa-apa kok, nanti ayah aku jemput di halte tempat aku turun.”
                “Okhey, khalau gitu shamphai di ini ulu ya!”
                “Iya, terima kasih.”
                Hakim kemudian lekas turun dari bus karena dia tidak pulang menggunakan bus transkota melainkan berjalan kaki karena jarak rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Didalam bus, Riska kembali terpikir dua kejadian yang dialaminya ketika bertemu Hakim. Di dalam hatinya yang paling dalam Riska bertanya, Siapakah sebenarnya Hakim itu?
                                                                                ---Bersambung---

lanjutannya mohon bersabar ya!
silahkan kasih pendapat kalian di komenemoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Pertamax .....
Quote:


Salah kamar gan.

Ke SFTH aja
Ampun dih ni gak bisa baca sub forum apa...... emoticon-Mad
tolong hapus ni thread please agan/sis moderator, salah kamar ni heheemoticon-Sorry emoticon-Sorry
story...kirain curhatan emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di