alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
MYTHS JILID II (MISTERI ALAS MANGIN)
5 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf6a91d1a9975057d8b456b/myths-jilid-ii-misteri-alas-mangin

MYTHS JILID II (MISTERI ALAS MANGIN)

JILID I CEK DISINI GAN /SIS : MYTHS JILID I (SI GUNDUL & MISTERI PABRIK PENGGILINGAN PADI)

INDEX
SALAM PEMBUKA

CHAPTER I KI BANDENG

CHAPTER II TIPU DAYA

CHAPTER III API KEMARAHAN

CHAPTER IV ILUSI

CHAPTER V DIA BUKAN MANUSIA

CHAPTER VI RENCANA BALAS DENDAM

CHAPTER VII KESURUPAN

CHAPTER VIII SI PENGANTAR PESAN

CHAPTER IX TAK TERSAMPAIKAN



SALAM PEMBUKA


 
Gunung Karang Pandeglang yang tinggi menjulang terlihat jelas dari bukit di tengah hutan. Hutan yang rimbun di penuhi pohon-pohon tinggi, serta semak belukar yang menghiasi setiap sudut hutan itu menyimpan banyak misteri.

Hutan itu sudah ada sejak jaman penjajahan belanda, tempat di mana para gerilyawan dan warga mengungsi dari sergapan kolonial yang terkenal kejam dan sadis. Hutan itu diberi nama Alas Mangin, karena dihutan itu selalu terdengar bunyi angin yang menghempaskan dedaunan dengan tiada hentinya.


Cerita ini saya ambil dari beberapa kisah nyata yang aku alami, dan yang dialami warga sekitar Alas Mangin yang terkenal dengan keangkerannya. Terima kasih kepada seluruh warga yang sudah berbagi cerita dan sebagai privasi, beberapa nama tokoh dan tempat akan saya samarkan.


MYTHS JILID II (MISTERI ALAS MANGIN)

THE STORY BEGINS emoticon-Ngacir

Diubah oleh athoxzoemanta
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Mana ceritanya gan?? emoticon-Keep Posting Gan
Quote:


Sabar gan 😁😁 sedang dicek ulang kata per kata.. malam ini masuk CHAPTER I
CHAPTER I
KI BANDENG


Terik mentari menyengat kulit seolah ingin menghentikan langkah Bu Rodiah, yang tengah berjalan dengan tangan menggenggam erat baskom kondangan. Ia baru saja pulang kondangan dari tempat saudaranya di Kampung Cilangkap. Demi menghemat waktu dan tenaga, ia terpaksa pulang dengan jalan memotong melewati Alas Mangin, karena jika lewat jalan utama terasa sangat jauh dan jalannya memutar. Kampung Lembur dukuh tempat Bu Rodiah tinggal, sangat dekat dengan Kampung Cilangkap, hanya di batasi Alas Mangin dan persawahan yang terbentang luas.

SRAK SRAK SRAK

Bu Rodiah mulai masuk ke dalam Alas Mangin, langkah kakinya berbenturan dengan dedaunan kering menimbulkan suara bising. Suara dangdutan dari tempat kondangan sudah tidak terdengar lagi, kini hanya terdengar desir angin di seluruh penjuru Alas Mangin seolah menyambut kedatangan Bu Rodiah. Bu Rodiah terus berjalan tanpa lelah melewati Alas Mangin, hingga tanpa ia sadari, ia telah melangkahi satu tumbuhan keramat yang biasa di sebut Ki Bandeng.

Ki Bandeng merupakan sejenis tumbuhan merambat yang membawa kesialan bagi yang melangkahinya. Tumbuhan ghaib yang hanya terlihat di waktu tertentu, karena sebenarnya Ki Bandeng ini merupakan jelmaan dari setan penghuni jalan di Alas Mangin.

Angin bertiup kencang menghempaskan dedaunan pohon yang tinggi menjulang. Bu Rodiah mulai merasakan lelah dan pegal di kakinya. Namun ia memilih terus berjalan agar segera sampai dirumahnya tidak terlalu sore. Lama ia berjalan tapi entah kenapa jalan yang dilalui seolah tidak ada ujungnya.

“Kayaknya jalan ini sudah saya lewati, tapi kenapa saya melewatinya lagi?”. Gumam Bu Rodiah. Keanehan soal jalan itu mulai dirasakan Bu Rodiah.

“Ah terserah, mungkin cuma perasaanku saja”. Gumam Bu Rodiah lagi.

Bu Rodiah pun mulai kembali melangkahkan kakinya menyusuri Alas Mangin. Dedaunan yang tertiup angin seolah menertawakan Bu Rodiah yang terlihat berjalan berputar-putar di tempat itu. Kaki Bu Rodiah sudah tak kuasa menahan lelahnya berjalan, membuat ia terpaksa duduk beristirahat sejenak untuk melepas penat.

“Kenapa saya tidak bisa sampai ke perkampungan?, kaki saya pegal sekali”. Bu Rodiah mulai cemas. Dengan gontai ia berdiri lagi dan meneruskan perjalanannya.

Entah sudah berapa jam Bu Rodiah berjalan menyusuri Alas Mangin itu namun selalu kembali ke tempat semula, membuat Bu Rodiah menangis tersedu-sedu. Ia tak tahu harus berbuat apa agar bisa keluar dari Alas Mangin. Pandangannya seolah di butakan, membuat ia menjadi tidak tahu arah pulang. Hingga senja menjelang, Bu Rodiah tetap tidak bisa keluar dari hutan itu.

Bersambung dulu emoticon-Traveller Biar Penasaran emoticon-Ngakak
Quote:


Kentangnya jangan lama2 gan emoticon-Keep Posting Gan
Seharusnya The Story begins emoticon-Peace emoticon-Peace emoticon-Peace
Quote:


Iya gan.. mudan2an bisa tiap malm updatenya emoticon-Big Grin

Quote:


Aku blasteran sunda inggris, jadi harap di maklum emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
mantengin dulu gan..
Segi penceritaan cukup bagus
Untuk tulisan kampung di peta gambar jangan merah gan, lebih baik kuning, biar kontras dengan gambar peta
Dibuat index gan, termasuj ke myth pertama, ini udah myth 2 aja, yg pertama mana emoticon-Big Grin
gelar tiker dimari
Quote:

Monggo emoticon-thumbsup

Quote:

Done.. sudah di index, terima kasih sarannya emoticon-Wowcantik

Quote:

Silahkan,,, mau kentangnya juga gak? emoticon-Wakaka

CHAPTER II
TIPU DAYA


ALAS MANGIN
PUKUL 17.00


Senja mulai datang mengisyaratkan para penggembala kerbau untuk bersiap pulang. Barisan kerbau berjalan beriringan bak parade yang di pimpin oleh seorang dirijen. Andi yang setiap hari menggembalakan kerbaunya di lapangan berumput hijau subur dekat Alas Mangin, mulai menggiring kerbaunya pulang melewati Alas Mangin. Sesekali ia berhenti, untuk memetik buah-buahan liar yang tumbuh di sekitar jalan setapak. Tanpa ada prasangka apapun, ia terus berjalan masuk melewati Alas Mangin yang mulai gelap karena waktu sudah senja dan sinar matahari tertutup pohon yang tinggi menjulang.

Sementara itu, Bu Rodiah masih terjebak didalam hutan tak tahu arah pulang. Namun kali ini ia di kejutkan dengan kehadiran seorang anak kecil berusia sekitar 8 tahunan yang tak tahu dari mana datangnya. Anak itu berperawakan kurus kering dan terlihat beberapa tulang rusuknya menonjol.

“Aneh, mana mungkin ada anak kecil berkeliaran di Alas Mangin pada saat senja begini”. Pikir Bu Rodiah dalam hati.

“Ibu mau kemana?, ibu tersesat yah?”. Tanya anak itu.

“Ibu mau pulang, Nak. Tapi entah kenapa ibu tidak bisa sampai ke perkampungan”. Jawab Bu Rodiah.

“Mari saya bantu carikan jalan keluarnya Bu, Karena waktu sebentar lagi menjelang maghrib, nanti ibu kemalaman di hutan ini”. Ajak Anak itu sambil meraih tangan Bu Rodiah yang tengah duduk lesu.

Bagai terkena hipnotis, Bu Rodiah menurut saja dan mengikuti ke mana anak kecil itu pergi.

“Adek, kenapa kita malah semakin masuk ke tengah hutan?”. Tanya Bu Rodiah keheranan karena jalan yang dilewati malah semakin susah untuk dilalui.

“Ibu lihat pohon yang besar itu?, naiklah ke dahan pertama dan ibu akan melihat jalan perkampungan dari atas sana”. Anak itu menjelaskan sambil tersenyum picik seolah ada yang ia sembunyikan.

Bu Rodiah semakin kebingungan dengan perintah anak itu. Ia merasakan beberapa kejanggalan, namun lebih memilih menuruti perintah anak itu agar harapan untuk pulang bisa terwujud.

SROK..SROK..SROK

Dengan sisa tenaganya, Bu Rodiah memanjat pohon besar itu dan langsung menginjak dahan pertama.

ASTAGFIRULLAH

Bu Rodiah terperanjat kaget dengan apa yang tengah di lihatnya dari atas dahan pohon.

“Adek, kenapa ada istana diseberang sana?”. Tanya Bu Rodiah keheranan. Ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

HAHAHAHAHA HAHAHAHAH
SYUUTTT...


Anak itu tertawa keras dan tiba-tiba berubah menjadi makhluk mengerikan dan bertanduk membuat Bu Rodiah bertambah kaget.

“Ayo Bu, ikutlah ke alam kami. Disana ibu akan diperlakukan dengan baik, dan di istana sana Ibu akan hidup tenang dan bahagia”. Ajak makhluk mengerikan itu.

Bu Rodiah gemetar tak karuan, rasa takutnya memuncak. Ia pun memberanikan diri menjawab ajakan anak itu.

“Ti..Ti..Tidak mau, sa..sa..saya masih punya keluarga di rumah, jangan kau paksa aku”. Jawab Bu Rodiah terbata-bata.

CRINGG..

Setelah menjawab pertanyaan anak itu, tiba-tiba pandangannya menjadi kembali normal. Bak telah lepas dari sihir makhluk itu, kini yang dilihat Bu Rodiah bukanlah sebuah istana, melainkan tumpukan mayat yang membuat miris orang yang melihatnya. Bu Rodiah tak kuasa melihat pemandangan itu, kakinya pun lemas dan.....

BRUKKK

Bu Rodiah jatuh dari dahan pohon dan ambruk di tanah. Sementara makhluk itu raib di kegelapan Alas Mangin.

Makhluk itu adalah wujud asli dari Ki Bandeng yang suka mengajak manusia untuk ikut ke alamnya. Ia mampu memanipulasi jalan dan pemandangan di sekitarnya sehingga membuat korbannya akan linglung dan tak tahu arah pulang. Namun kelemahannya adalah ia tidak mampu membawa manusia itu ke alamnya jika manusia itu tidak ingin ikut tinggal di sana, dan kekuatannya pun akan hilang jika manusia itu bersikeras menolak ajakannya.

Angin bertiup kencang seolah ingin mengabarkan tentang Bu Rodiah yang jatuh dari pohon. Dari kejauhan terlihat seorang anak yang berlari kencang seperti tengah memburu sesuatu. Anak itu tak lain adalah Andi yang sedang berjalan pulang sambil menggiring kerbaunya. Namun ia dikejutkan oleh suara benda jatuh yang terdengar tak jauh dari tempatnya berjalan. Ia beranggapan bahwa itu adalah suara jatuhnya buah nangka matang yang pohonnya memang banyak tumbuh liar di Alas Mangin itu.

“Wah kayaknya saya dapat rezeki nomplok nih”. Gumam anak itu sambil terus berlari ke arah tempat Bu Rodiah Jatuh.

ASTAGFIRULLAH

Andi menghentikan larinya. Ia kaget bukan main, karena yang dilihatnya bukanlah buah nangka matang melainkan seorang ibu yang tengah terbaring kesakitan.

“Bu, Ibu kenapa?”. Tanya Andi keheranan sambil menggoyang-goyang tubuh Bu Rodiah.

“I..Ibu mau pu..pulang, Antarkan ibu, Nak”. Jawab Bu Rodiah terbata-bata.

“Pulang kemana, Bu?”. Tanya Andi lagi karena ia tidak kenal dengan Bu Rodiah.

“Ke..Ke.. Kampung Lembur Du..Du.. Dukuh”. Jawab Bu Rodiah Lagi.

“Saya harus membawa pulang kerbau-kerbau saya, bagaimana kalau Ibu saya bawa ke kampung Pariuk Nangkub dulu, sekalian luka ibu di obati disana”. Ajak Andi kepada Bu Rodiah yang kakinya ternyata terkena luka cukup banyak setelah di paksa berjalan mengikuti Ki Bandeng kala itu.

Bu Rodiah hanya mengangguk tanda setuju, dan Andi pun dengan perlahan-lahan membawa Bu Rodiah Pulang sambil menggiring kerbau-kerbaunya. Dan tak lama kemudian, ia sudah keluar dari Alas Mangin dan langsung membawa Bu Rodiah ke tempat kediamannya untuk di obati oleh ibunya.

Bersambung emoticon-Traveller

Just info : sebenarnya seluruh kejadian dan misteri di Alas Mangin tidak terjadi bersamaan, namun agar ceritanya tetap berjalan, waktu kejadian akan saya jadikan berurutan. Nantikan Chapter III nya, jangan lupa emoticon-Toast
Cool
ceritanya keren gan.. ane setia nungguin dah..
Quote:


emoticon-Mewek jadi terharu

Quote:


Sangkyu gan emoticon-Cipok jangan lupa baca MYTHS Jilid I nya, karena nanti akan ada tokoh yang kembali dimunculkan lagi dalam cerita ini
Quote:


udah baca gan.. barusan.. itu daerah Jawa barat ya gan
Quote:


Dulu Jawa Barat, sekarang udah jadi Banten emoticon-Ngakak
jadi pingin maen kesana emoticon-Shakehand2
tinggalin semvak dl
ijin ngopi dimari gan sambil baca yang jilid 1 emoticon-linux2 emoticon-coffee
ditunggu updetnya,sekalian ane gembok ya,semoga di alas mangin gak ada kebun kentang emoticon-Ngakak
Diubah oleh si.matamalaikat
Balasan post athoxzoemanta
Ayo gan dilanjutkeun
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di