CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be91ad0ded770fa028b4571/demi-ibu-kutebus-dosa-ayahku---kemarau-panjang-di-kota-hujan

Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan

KEMBALI
Tempatku bukan dibawah payung yang terbuka lebar, mengembang.. terlalu mengacuhkan air langit yang menetes secepat ferrari, hidup yang singkat , nafas mulai menghilang ditelan malam, terus tenggelam dan air langit tadi turun menjadi hujan dipelupuk mataku, ibuku wafat karena kanker stadium akhir, seraya kugenggam tangannya yang mulai dingin, belum sempat kuucapkan kata "aku sangat mencintaimu bu..", ia sudah pergi, tapi aku yakin ia melihatku disana sembari berkata "aku sudah mencintaimu semenjak kau dirahimku, nak..", sekarang aku hidup sebatang kara, ibu telah pergi untuk selamanya, aku memutuskan untuk pindah ke bogor dan mencari pekerjaan disana, tak ada saudara, tak ada orang tua, aku fix sebatang kara, kehidupanku tak terlalu baik setelah pindah ke Bogor karena di Jakarta aku tinggalkan rumah warisan dan usaha ibu begitu saja kepada adik dari ibuku yaitu bibi Gita, memilih untuk mengekos dengan sisa uang yang kuperoleh dari hasil kejahatanku dimasa silam, sebut saja aku Rebe, ya dulu aku seorang begundal yang tak takut apa dan siapapun, sampai Tuhan menegurku dengan hilangnya satu per satu orang-orang yang kucintai dan yang terakhir adalah ibuku.

Sejak saat itu kutinggalkan pula dunia hitamku, teman-temanku, gerombolanku, kuhapus semua kontaknya dari ponselku dan kujual ponselnya. Aku ingin menjadi orang baik, aku ingin mencari ketenangan dan menebus segala dosa-dosaku di masa silam disini di Bogor kota hujan kota kelahiranku, dengan sisa uang yang aku perkirakan hanya cukup untuk menyewa kos selama 2 bulan, aku mulai mencari pekerjaan, sulit untuk tamatan SMA mendapatkan pekerjaan yang layak, aku sudah mencari kesana sini tapi hasilnya nihil, hingga suatu hari aku duduk di sebuah taman yang cukup sejuk dan bisa melindungi kepalaku dari sengatan matahari, memandangi sekitaran banyak yang bermain skateboard di taman itu, aku beli segelas es kelapa menikmatinya sembari sila di atas rumput taman, dan aku pun melamun, mulai berpikir bahwa Tuhan tak berpihak kepadaku saat ini.Tiba-tiba lamunanku berantakan, ada 3 orang yang menepuk pundakku, "Sendirian aja lo disini..?" tanya salah satu diantara mereka, dan mulai menodongkan pisau ke arahku, mungkin mereka sudah memperhatikanku semenjak aku di taman itu,dengan kasar 1 diantara mereka berkata "Heh..Goblok!! Gw minta duit, ini wilayah gw!!" Sontak aku berdiri dan dengan tenang ku libas tangannya yang menggenggam pisau lalu kusikat batang lehernya dengan tinjuku sampai dia jatuh terlentang tak sadarkan diri , ternyata 2 orang temannya pun memegang pisau dan mulai menghunuskannya kepadaku tapi untungnya dengan pengalaman begundalku aku dapat menghindari serangannya dan menghajar mereka satu per satu, 2 orang itupun lari terbirit-birit setelah banyak pukulan telak mengarah ke wajah yang mematahkan hidung mereka, namun mereka meninggalkan 1 orang temannya yang pingsan dan sebuah gitar bolong yang tergeletak diatas rumput, aku berpikir mungkin mereka pengamen tukang palak, ku pikir gitarnya juga bisa berguna maka kuambil saja, setelah kubayar es kelapa banyak orang ramai mengerubuni si pemalak yang masih pingsan  dan bertanya kepadaku "mas, tidak kenapa-kenapa?" , lalu kutinggalkan tempat itu, masa bodoh.

Keesokan harinya aku bingung karena masih belum mendapatkan pekerjaan, dikosan hanya ada seonggok gitar butut yang kemarin kudapatkan dari pemalak, aku berpikir harus kuapakan gitar ini, sementara bermain gitarpun aku tak bisa, apa aku jual saja tanyaku dalam hati, tapi hanya laku berapa untuk sebuah gitar yang kulit kayunya sudah banyak yang mengelupas dan banyak tempelan stikernya. Baiklah kubawa saja mengamen, dengan modal nekat dan kemampuan bermain gitar "nol" , tak disangka ternyata banyak orang bilang suaraku bagus tapi permainan gitarku payah, namun aku tak menyerah setelah 41 hari hampir 2 bulan belajar gitar secara otodidak dan dengan ketekunan dan kesungguhan serta doa juga dibantu oleh beberapa satpam komplek yang sudah akrab denganku di tempatku mengamen akhirnya aku bisa bermain gitar walaupun hanya chord dasarnya saja, tapi paling tidak aku sudah memiliki modal untuk mengamen dalam hatiku, Sementara dewi fortuna sedang berpihak kepadaku, ku kumpulkan pundi demi pundi untuk kubangun kembali puing-puing keluarga yang telah hancur.

PELURU TAKDIR 
Tuan Roy seorang pengusaha sukses yang terhormat, dia memiliki beberapa perusahaan seperti eksport import daging sapi, cengkeh, gula dan minyak sawit. Selain itu masih banyak anak perusahaan lainnya yang dia miliki, hampir setiap harinya diisi dengan meeting keluar dan dalam negeri, keluarga yang dimilikinya, anak istrinya pun hanya dapat berjumpa 1 bulan paling lama 3 hari, itu pun bahkan bisa hanya sebulan sekali, selama 11 tahun tanpa peduli dan memperhatikan perkembangan istri dan 2 orang anak laki-lakinya ternyata tuan Roy memiliki wanita idaman lain di Singapura, hal tersebut membuat tuan Roy makin jarang pulang,istrinya pun kemudian selalu diteror oleh wanita jalang tersebut dengan mengaku bahwa tuan Roy telah memiliki anak lagi bersama selingkuhannya itu, keadaan berubah semenjak tuan Roy tahu melalui ajudannya bahwa istrinya ternyata telah tahu dia memiliki simpanan, setiap tuan Roy pulang istrinya selalu dibentak dan dikasari  bahkan tidak segan- segan tuan Roy menampar istrinya jika banyak bertanya ini itu mengenai wanita simpanannya,di depan ke 2 anaknya, hingga menjadikan ke2 anaknya pun menyimpan rasa dendam didalam hati kepada ayahnya namun dengan kesabaran dan kerendahan hati, sang istri tidak ingin bercerai karena memikirkan nasib anak-anaknya yang masih kecil. Istri yang teraniayaya tersebut dia adalah ibuku pejuang hidupku dan kakakku Natan.Sementara tuan Roy adalah ayahku.

Waktu itu aku berumur 12 dan kakakku Natan 15 tahun, aku ingat sekali dimana dihari ulang tahunku yang ke 12 harusnya ayah hadir dalam pesta tersebut tapi ayah tidak pernah kembali sampai saat ini, ia telah melupakan ibu, kakak dan aku. Saat pesta ulang tahunku berakhir  ibu dengan bohemian dress berwarna salemnya menangis dipinggir jendela ditemani hujan deras disore hari sembari menggenggam ponsel yang tak kunjung ada jawaban dari ayah.. Hari demi hari berlalu sudah hampir 2 tahun kondisi keuangan ibu semakin menipis, beberapa aset peninggalan ayah seperti 2 mobil yang terparkir di pekarangan pun ikut terjual karena terpakai untuk biaya aku masuk SMP dan kakakku masuk SMA. Akhirnya ibu memutuskan untuk menjual rumah kami di Bogor dan memutuskan kembali ke Jakarta ke rumah orang tuanya, sekolah aku dan kakakpun ikut pindah kesana, kami membeli rumah sederhana yang tidak jauh dari rumah orang tua ibu, kemudian ibu membuka usaha toko kelontong kecil-kecilan untuk menghidupi kami.

Di jakarta aku dan kakakku Natan mendapatkan teman-teman baru, disekolah ataupun dilingkungan rumah, kami memiliki banyak teman, sampai kami tidak bisa membedakan mana teman yang baik dan mana teman yang menjerumuskan, banyak hal suka duka yang kami lalui. Di sekolah aku memang terkenal tukang berantem dan selalu mencari masalah dengan siapapun bahkan guru priaku sempat ku buat menangis, sampai ibu sering di panggil kepala sekolah karena perbuatanku, semua itu merupakan bentuk rasa kecewaku terhadap ayahku. Ada cerita saat itu aku kelas 3 SMA dan Natan setelah lulus SMA menganggur tidak bisa melanjutkan kuliah karena ibu tidak mampu membiayai kuliahnya, sehingga membuat Natan sering keluar malam dan mendapati pulang pagi dengan keadaan mabuk, ternyata Natan terpengaruh oleh temannya yang merupakan komplotan preman pasar dan bandar narkoba di Jakarta, Natan menjadi seorang junkies sekaligus pengedar, dia juga mengepalai preman-preman di pasar, keberadaan Natan sebenarnya hampir terendus Polisi karena aku dan ibu pernah didatangi reserse kerumah yang menanyai Natan dengan sebutan "si kancil" tapi kami berdua merahasiakan keberadaan dan identitas Natan. Setiap malam ibu selalu menangis dalam ibadahnya karena sejak saat itu Natan tak pernah pulang aku tak tega melihat ibu seperti itu terus, sampai suatu waktu saat aku telah lulus SMA, aku beranikan diri mencari Natan sendiri melalui informasi dari kawan-kawannya yang berada di pasar dan di klub-klub diskotik, akhirnya aku mendapatkan info bahwa Natan sedang ada pertemuan dengan Bos besar di ambhara blok m, tanpa berpikir panjang aku langsung pergi kesana, sampai disana ternyata kudapati Natan sedang berpesta narkoba dengan para kelompoknya di salah satu kamar vip, dengan cepat aku menghampiri dan menghajarnya sampai pelipis kanannya robek, sontak para kawanannya pun hampir mencoba mengeroyokku, namun Natan menahan mereka. " Balik lw ibu sakit!!" bentakku. Dengan kondisi mabuk Natan mencoba sadar dan mencuci mukanya dengan air mineral. "Oke gw balik". Jawabnya. Sejak kecil kami memang tidak pernah merasakan didikan dari seorang ayah sehingga membuat kami liar dan kasar dalam kehidupan namun demikian kami masih tetap saling menyayangi, sementara ibu adalah seorang yang lembut bak malaikat, tidak pernah menceritakan keluh kesahnya kepada siapapun, sehingga membuat aku dan Natan selalu patuh dan menurut apabila ia sudah berucap.

Hari demi hari kondisi Natan semakin memburuk, ia sering sakit dan badannya menjadi kurus karena efek dari sabu yang berlebihan, beberapa kali ia ditemukan tak sadarkan diri dikamarnya sehingga membuat dia harus keluar masuk rumah sakit dan panti rehab, hal itupun membuat tabungannya menipis, sementara ibu hanya menangis melihat kondisinya, saat Natan di rehab, aku disuruh menggantikan posisinya di pasar menjadi kepala pasar, banyak teman-temannya pun yang sudah mengenaliku, setiap hari mereka menyetor uang kepadaku hasil dari parkir dan uang sewa pedagang di kios-kios, beberapa bulan akupun sudah terbiasa dan tahu cara mainnya, jelang beberapa bulan Natan sembuh dan bisa kembali kerumah, dia menyerahkan sepenuhnya tugas dipasar kepadaku dan dia memfokuskan pekerjaannya hanya sebagai pengedar narkoba bersama dengan komplotannya, aku sempat melarangnya, namun Natan tetap bersikeras dengan pendiriannya. "Gila lo!! Lo bisa mati Nat, mau sampe kapan bikin ibu nangis terus??" kataku berdebat dengannya. "Gw harus beresin apa yang udah gw mulai, Reb..Lw tenang aja ini gak akan lama."jawab Natan sembari tersenyum, ternyata senyuman itu adalah senyuman terakhir Natan, memang keluar dari lingkaran sindikat Narkoba tidak semudah yang di bayangkan, Natan harus menghapus jejak-jejak jaringannya terlebih dahulu dengan meninggalkan komplotannya dan menghilangkan identitasnya yang sudah melekat di kalangan kepolisisan sebagai "si kancil". Malam itu hujan deras di Pluit Jakarta Utara, "si kancil" sedang melakukan transaksi terakhirnya dengan pembeli baru disana, tiba-tiba terjadi penggerebekan yang mencekam, ada perlawanan dari komplotan "si kancil" dengan para reserse kepolisian, 2 anggota polisi tewas di tempat karena tertembak di dada, "si kancil" yang saat itu menjadi pimpinan komplotan berlari menerobos hujan ke arah utara tepatnya ke arah pemukiman elite yang sepi, dia berlari dengan cepatnya , teman-temannya yang dibelakang karena tidak bisa mengikutinya ada yang tertangkap kemudian disiksa dengan peluru ditembakkan kekakinya lalu dipukuli, ada pula yang ditembak mati karena melawan, lampu sorot dan anjing pelacak terus mencari keberadaan "si kancil" di tengah hujan lebat, dia terus berlari hingga sampai di tepi daratan yang menjorok ke laut "si kancil" pun terpojok dengan sorotan lampu mengarah kepadanya, dia mengangkat kedua tangannya kemudian membalikan badannya dan "DORR!!" , suara letusan pistol terdengar lirih ditengah malam, menembus dada sebelah kiri "si kancil", "si kancil" terjatuh ke dalam lautan, ombak menghempaskan tubuhnya dan sampai sekarang pun tidak pernah ditemukan, entah dia menghilang tenggelam terbawa ombak, entah pihak kepolisian sengaja menyembunyikan mayatnya dari keluarga juga teman- temannya.

Hanya saja rumor yang beredar di media massa bahwa "si kancil" tewas ditembak polisi dan tubuhnya tercebur kelaut hilang terbawa ombak. Sungguh membuat diriku dan ibu terpukul, selama seminggu aku tidak dapat tidur nyenyak dan tidak bisa makan, untung saja aku lebih bisa cepat pulih dalam mengontrol emosiku tetapi tidak dengan ibu,ia menjadi semakin sering menangis sendiri dan melamun setiap harinya, "Bu.. makan ya, biar Rebe suapin?" rayuku, tetapi ibu hanya menggelengkan kepala, "Bu semua itu udah takdir Tuhan kan?.. Rebe udah kehilangan ayah juga Natan, dan sekarang Rebe gak mau kehilangan satu-satunya orang yang Rebe sayangin lagi, yaitu ibu. Ibu juga sayang kan sama Rebe?" Tanyaku sembari bersimpuh dan memeggang tangan ibu. Ibu mengusap kepalaku dan berkata "Iyaa sayang, ibu gak papa, ibu sayang kamu Rebe anakku?" lalu kupeluk tubuh ibu dengan rasa haru yang mendalam.

RIMBUN MEMORI
Angin kering yang dingin berhembus kencang, suara burung kedasih terdengar samar-samar, masa-masa sulit itupun sudah berlalu, tak ada lagi suara, yang ada hanya airmata dan juntai selang-selang rumah sakit juga monitor jantung yang terpasang di tubuh, cobaan demi cobaan yang dijalani dengan tabah, tersembunyikan penyakit yang di rahasiakan dengan baik, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menampakan rasa sakitnya, sampai tiba waktunya, kukira ibu hanya tertidur dengan kanker hati stadium 4, tapi ternyata ibu terbangun di dimensi yang mungkin sudah berbeda.

Saat kembali ke Bogor aku jadi teringat kembali wajah ibu sewaktu muda, beliau tersenyum bahagia melihatku belajar menaiki sepeda roda 3 sembari menyuapi sup hangat ke dalam mulutku, hal itu takkan pernah terulang lagi, aku ingat persis bagaimana penampilannya, rambutnya, pakaiannya, bentuk giwangnya, wanginya. Semua hal itu menarik diriku untuk kembali mengunjungi rumah yang dulu pernah kami tempati. Pak Par mantan Supir pribadi keluargaku terlihat sedang membersihkan pekarangan rumah itu, ternyata pak Par sekarang sudah pensiun sebagai supir, usianya yang sudah mencapai 65 tahun membuatnya memutuskan untuk menjadi tukang kebun disana. "Pak Par..Pak Par.. " kupanggil dari luar pagar rumah itu, kemudian dia menghampiri dengan mata yang di kerenyitkan dia bertanya. "Ada apa ya?" Pandangannya mungkin sudah rabun. "Masih ingat saya gak?" tanyaku dengan tersenyum. Dengan raut muka yang bingung dan terus memperhatikan akhirnya syaraf otaknya sedikit demi sedikit kembali dapat menyala layaknya lampu yang sudah dimatikan selama 10 tahun lalu. "Den Rebe ya?"   (Bersambung...)  
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ummuza dan 42 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 7
mantab gannn
lanjut gan
keren kisah hidup ente gan
cerita baru ...
semangat baru

emoticon-Salaman
ntapss bre. . next pliss
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Demi Ibu Kutebus Dosa Ayahku - Kemarau Panjang di Kota Hujan
(Part 2)

Dengan raut muka yang bingung dan terus memperhatikan akhirnya syaraf otaknya sedikit demi sedikit kembali dapat menyala layaknya lampu yang sudah dimatikan selama 10 tahun lalu. "Den Rebe ya?" Tanya Pak Par ke arahku, “Iya Pak, ini saya Rebe.” Jawabku. “Ya Allah, Den Rebe!” Pak Par dengan cepat membuka pintu pagar dan langsung memelukku erat, kulihat matanya berkaca-kaca menahan air mata yang pada akhirnya pun tumpah, sembari menunjukan raut muka kebahagiaan karena bertemu denganku. Pak Par sudah seperti sosok ayah buat aku dan Natan, sejak kecil dia yang selalu mengajak aku dan Natan bermain di hari libur karena ayah memang jarang sekali dirumah, apalagi untuk mengajak kami bermain, kami selalu diantar jemput sekolah olehnya, istrinya Bu Yem membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, bisa dibilang Pak Par dan Bu Yem adalah ayah dan ibu angkatku sejak kecil. “Ya Allah, nak, kamu sudah besar sekali, gagah.” Beliau mengusap-usap kepalaku berkali-kali dan menepuk-nepuk lenganku seperti orang yang sedang bingung antara kenyataan atau mimpi. “Sehat Pak?” Tanyaku tersenyum sembari kucium hormat tangan beliau yang dipenuhi urat-urat keikhlasan dan kulit yang tidak sesegar dulu menandakan beliau adalah pekerja berat , “Alhamdulillah..alhamdulillah, sini, sini masuk kita ngobrol didalam, Den.” Pak Par merangkulku kedalam teras rumah, Kulihat tidak banyak yang berubah dari Pak Par, beliau masih tetap ramah dan bersahaja, hanya saja memang tubuh manusia sudah diprogram oleh Tuhan untuk menua terlihat dari uban dirambut Pak Par yang semakin banyak, “Gimana keadaannya di Jakarta, Den, Den Natan juga pasti sudah besar ya, Ibu sehat kan?” Tanya Pak Par sembari menghapus airmatanya dengan jempol, “Alhamdulillah saya sehat Pak, Natan dan Ibu juga sehat cuman mereka udah gak di Jakarta lagi sekarang.” Jelasku kepadanya, “Oh Alhamdulillah kalo semuanya pada sehat, memang Den Natan dan Ibu dimana sekarang, Den?” Tanya Pak Par kembali, “ Natan dan Ibu udah gak ada, Pak.” Terangku kepadanya, “Maksud Aden?” Pak Par penasaran , “Natan dan Ibu sudah meninggal, Pak.” Jawabku lugas. Pak Par menutupi wajahnya kembali, beliau tak dapat membendung isak tangisnya. “Ibu orang yang baik, Den..” kata Pak Par sembari terisak, lalu aku menceritakan sedikit demi sedikit apa yang sudah kami lalui selama ini di Jakarta kepada Pak Par, sembari mengajakku berjalan mengelilingi pekarangan, Pak Par juga bercerita bahwa rumahku dulu ini sudah 2 kali berganti pemilik dan pemilik yang sekarang ini adalah orang Jakarta yang sudah berkeluarga, mereka hanya datang kalau liburan saja ke Bogor, bisa seminggu sekali atau sebulan sekali mereka datang untuk tinggal menginap beberapa hari disini, “Dulu Den Rebe waktu kecil sering panjat pohon itu tuh sama Den Natan suka metikin buahnya sembari disuapin Ibu.” Kenang Pak Par menunjuk kearah pohon Kersen yang rimbun di pekarangan, “Hahaha.. Nakal saya dulu ya pak waktu kecil?” Tanyaku sembari senyum-senyum kecil teringat masa itu, “ Yaahh.. nakalnya anak laki-laki, Den, manjat pohon, lari-lari.” Terang Pak Par sembari kami berdua tertawa berdiri dibawah pohon Kersen, menghela nafas dalam aku bertanya, “ Ada kabar apa tentang Ayah, Pak?” Pak Par menunduk menggelengkan kepala, “ Tak ada kabar apa-apa lagi Den semenjak Ibu, Den Natan dan Den Rebe pergi ke Jakarta, beberapa hari setelah itu Bapak coba hubungi Ayah Aden tetapi sepertinya nomor ponselnya sudah tidak aktif lagi, Den.” Jawab Pak Par. Percakapan kami tentang Ibu, Natan dan memori-memori masa kecilku pun berlalu sampai sore, “Kalo tidak keberatan biar Den Rebe tinggal sama kami ya?” Tawar Pak Par kepadaku, “Gak usah Pak ngerepotin, saya sekarang ngekost kok pak gak jauh dari sini.” Jawabku. “Lho nanti Aden bayar kosannya gimana?” tanya Pak Par kembali, “Penghasilan saya dari ngamen lumayan kok pak, cukup buat bayar kosan tiap bulan, lagian saya juga jadi semangat buat cari uangnya.” Terangku pada Pak Par. “Betulan , Den?” Tanyanya kembali, “Iya Pak.” Jawabku meyakinkannya, “ Begitu ya, Den, ya sudah kalo itu jadi keputusan Aden, tapi nanti kalo Aden ingin makan tinggal datang aja ya ke rumah bapak, gak usah sungkan, rumah bapak masih yang dulu kok, Den, Istri bapak Bu Yem masih ingat kan? Sekarang jualan nasi uduk Den tiap pagi, nanti Aden kalo mau sarapan tinggal datang aja ya gak usah bayar, Den.” Jelas Pak Par terlihat khawatir padaku. “Iya, Pak, InshaAllah nanti saya kapan-kapan pasti mampir ke rumah Bapak.” Jawabku membesarkan hatinya. “Saya pamit dulu ya pak, salam buat Bu Yem dirumah.” Ku peluk dan ku cium tangan Pak Par sebelum aku pergi meninggalkan rumah itu.



ARAS BERKAWAN
Api membara bergejolak dalam dada, debur ombak amarah membutakan akal yang sehat, menyelinap disetiap aliran darah, lahir dan batin tidak terima, peluh keluar sia-sia, rasa dendam kesumat manusia.

Aku bersumpah akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dibanding kemarin dan dapat menghapus rasa sakit serta memaafkan kesalahan-kesalahan Ayahku dimasa lalu. Setiap pagi pasti selalu kuawali hariku dengan sholat dan doa, lalu berangkat mengamen di lampu merah, dimana banyak orang-orang yang berangkat kerja dan menghentikan kendaraannya di saat lampu merah menyala, setelah itu kulanjutkan mengamen ke beberapa komplek terdekat disiang harinya. 5 pasang mata mengamatiku, mungkin dari berbulan-bulan yang lalu, maut itu sudah mengincarku, beberapa komplek yang kusambangi memang ada jalan yang sepi dan jarang orang lewati, saat itu sense ku memang tidak enak dan sebenarnya aku hanya ingin stay dikosan, tetapi entah kenapa aku melangkah ke tempat itu, jalanan komplek yang sepi di siang hari, aku merasa ada beberapa orang yang mengikutiku dari tadi dibelakang, kudengar langkah itu semakin cepat datang kepadaku, saat ku membalikan diri ternyata ada 5 orang berlari kearahku, dan 2 diantaranya mencoba memukulku dengan mengangkat balok, reflek secara sigap aku melompat 2 kaki menjauh kearah belakang, sampai yang 3 lainnya pun ikut memutar-mutarkan sabit dan juga golok mereka keatas mencoba mengancamku, “Hoy.. baik masih inget gua gak lo!?” tanya salah seorang dari mereka, kulihat dan kuperhatikan wajahnya ternyata dia adalah preman yang pernah kuhajar dan ku ambil gitarnya ketika ditaman waktu itu, dengan tenang aku perhatikan muka-muka dan kuda-kuda mereka 1 per 1, aku tersenyum sepertinya mereka memang merencanakan untuk menghabisiku ditempat ini, “Ya gua inget muka lo, 3 diantara lo semua.” Jawabku sembari menunjuk kearah muka mereka. “Gitar lo udah gua bagusin nih, sekarang kalo emang lo semua laki, duel ama gue jangan pake senjata!” gertakku kepada mereka, mereka saling pandang satu sama lain, “Lagian gua sendiri nih lo ber 5, tampolin lah gue pake tangan kosong lo pada, gue juga kalah.” Tantangku, sepertinya darah di dada dan di kepala mereka semua sedang bergolak, tanpa berpikir panjang mereka semua membuang senjatanya ke arah samping kiri mereka dan berlari ke arahku, “Sini lo baik!” Teriak 1 diantara preman yang pernah kuambil gitarnya langsung mengarahkan pukulan kearahku dengan tangan kanannya, sepertinya dia yang paling nafsu karena pernah kubuat pingsan waktu itu, aku menghindarinya dengan merundukan cepat kepala kebawah dan kubalas dengan tendangan memutar mengenai rahang pipinya, seketika 1 preman ambruk, datang 2 preman lagi mencoba mengeroyokku dari kiri dan kanan serta 2 dari depan menyerang langsung dengan pukulan membabi buta, aku pun menghindar dan menepis serangan mereka secara fokus.

Sebenarnya selain dunia jalanan yang melatihku saat aku di Jakarta. Aku ingat waktu SMA dulu jurus-jurus pencak silat yang pernah diajarkan oleh Pak Tohir guru Pencak Silatku, karena aku sering berantem saat masih SMA, makanya aku lebih senang ikut ekskul Pencak Silat, tetapi aku selalu menolak saat diajak tawuran oleh teman-temanku, karena menurutku tawuran itu tidak lebih dari segerombolan ‘banci’ yang membawa senjata (sabit, gear, copel, dll) toh ‘banci’ pun bisa ikut tawuran kan? Aku lebih suka duel antar anak SMA lain 1 by 1, biasanya sih ‘cabut’ waktu jam sekolah, tapi pinter-pinter juga, aku gak mau ngecewain Ibu karena nilaiku merosot, apalagi kalo udah mau persiapan buat ujian, biasanya aku yang menentukan waktunya sehabis pulang sekolah, minta kawan dari sekolah kita ketemu lawan dari sekolah lain, karena waktu itu harga diri jiwa muda makanya mereka sepakat deal-dealan tempat dan waktunya, aku pernah ikut kejuaraan Pencak Silat tingkat sekolah sekota, bahkan sempat Pak Tohir menawariku ikut ajang pertandingan Pencak Silat tingkat provinsi tetapi aku menolak karena aku tidak bisa jauh dari Ibu, jujur aku takut Ibu kenapa-kenapa kalo aku jauh dari dia.

Pukulan demi pukulan aku tangkis sampai pada akhirnya aku balas mereka semua secara bergiliran dengan tinju keras dan tendangan ke arah perut, 2 diantara mereka jatuh tersungkur dan 2 yang lainnya mencoba menangkis pukulanku dengan tangannya tetapi pukulanku terlanjur masuk dan mengenai dagu salah satunya dari bawah secara upper cut, 2 sudah tumbang pingsan, 2 lagi sedang meringis kesakitan memegangi perutnya, tinggal 1 lagi mencoba kabur tetapi ternyata dia mengambil sabit yang berjarak 2 meter darinya, dan beringaslah iya tidak terima kekalahan, setelah sabit itu diambil olehnya, dia langsung mengayunkannya dari atas kebawah dengan cepat, aku pun menghindar dan terus menghindar, saat ku lihat iya lelah dan lengah saat itu pula ku hentakan kakiku ke samping kanannya, lalu kutangkap lengannya dan kukunci kebelakang sampai sabit itu lepas dari genggamannya dan berbalik kutodongkan sabit itu kelehernya, “Aaampunn bang.. aaampuun bang..” Pintanya ketakutan, “Mau mati lo, hah?” bentakku kepadanya, “Eeengga bang..Eengga bang.. Aampuunn..” pintanya lagi sembari teriak ketakutan, “Gua udah lama gak sikat orang sampe mampus nih, mau gua putusin kepala lo hah!?” Tanyaku sembari mengunci tangannya dari belakang dan tetap mengaitkan sabit dilehernya, “Eeenggaaa bang..huuhuuhu..jangaan bang..huuhhuu..” preman itu pun menangis sampe terkencing-kencing dicelana, “Brengsek lo!” kutendang pantatnya kedepan dan ku buang sabit itu kesamping kananku, “Udah gua bilang jangan pake senjata, hampir aja gua putusin pala lo.” Kataku sembari menarik nafas kesal, “Astagfirullah.. Ya Tuhaan..” seruku beristigfar dan mulai mengatur nafasku kembali, “Yaudah gini aja, lo kan gak terima gitar lo itu gw ambil, nih gua gantiin gocap (50rb), terus lo bawa tuh gitar lo yang udah gua bikin bagus lagi.” Terangku kepada mereka semua. “Bbbukaan gitu bang.. kita sebenernya mau bantuin temen kita aja tuh si Ewang yang gitarnya diambil abang.” Jawab salah satu yang memegangi perut didepan, sembari nunjuk kearah yang lagi pingsan, “Terus ngapain lo pada bawa-bawa senjata buat nyerang gue?” tanyaku kepada mereka, “Awalnya sih cuman mau nakut-nakutin aja bang, gak ada niatan buat nyerang abang, cuman tadi saya khilaf karena terpojok.” Jawab si preman yang kencing dicelana. “Siapa nama lo?” tanya ku kepada preman yang kencing dicelana. “Saya Ilham bang.” Jawabnya, “Ham, lo gak mikir apa, kalo sampe gua mati, lo tuh jadi pembunuh, lo tuh pembunuh, dan lo bakalan jadi DPO Polisi seumur hidup, hidup lo gak tenang, keluarga lo jadi susah.” Terangku kepada preman bernama Ilham, “Sekarang bangunin tuh 2 temen lo yang masih pada pingsan, lo bangunin terus lo tanya dia maunya apa? Nih gitarnya.” Suruhku kepada mereka sembari memberikan gitar kepada Ilham lalu duduk ditepi jalanan komplek itu, ke 3 preman yang masih sadar berusaha membangunkan 2 temannya yang pingsan dengan cara-cara mereka yang cukup ‘menggelikan’, ada yang menampar-nampar wajahnya, ada yang menutup hidungnya agar dia sadar.

Setelah 15 menit barulah ke 2 temannya tersebut bangun, “Aaaaa... Dimana nih?” Tanya salah 1 preman yang baru saja bangun dari pingsannya, “Woi, woi, Wang udah sadar lu?” Tanya Ilham menepuk-nepuk pipi Ewang, “Diiimaana kitaa, coyy?” Tanya Ewang masih teler dan bingung, “Komplek wang.” Jawab Ilham sembari mendudukan dan menggoyangkan tubuh Ewang agar sadar. “Haaah kompleeek? Oiyaaa yaak, kaan kitaa tadii maauu ambiil gitaar guee yaang diembaat, Haam.” Oceh Ewang mulai berangsur sadar, “Iye nih gitar lo udah di balikin ama orangnya.” Jawab Ilham kepada Ewang, “Hah, mana, Ham?” Tanya Ewang lagi menggeleng-gelengkan kepalanya supaya lebih sadar, “Oiyaa beeneer, ssshh aduuh rahang gua sakit, ham, susah ngomong, nih.” Jelas Ewang sembari memegangi rahangnya, “Iya.. noh orang yang nendang rahang lo lagi duduk.” Terang Ilham, dengan kaget Ewang langsung melotot mencari-cari keberadaanku disekitaran, “Hah, mana, Ham, mana?? baanggsssatt ayok kita serang lagi, Ham.” Seru Ewang sembari bangkit dari duduknya kepada Ilham, tetapi Ilham dan teman-teman yang lainnya menahan tubuh Ewang, “Ttaahaan, coy.. lo mau dibuat pingsan lagi entar?” Tanya Ilham, “Aaa.. Kagak si, Ham, cuman kan kita banyakan dari dia.” Jawab Ewang, “Dia jago berantem coy, lo kagak liat anak-anak pada bonyok noh ama dia, lagian gitar lo udah dibalikin ini kan.” Terang Ilham, Ewang terlihat planga-plongo sedikit mikir karena sepertinya memang benar apa yang dibilang Ilham, Ewang sudah 2 kali dibuat pingsan olehku, pertama di taman dan yang kedua dikomplek, dan dia sudah kapok kalo harus pingsan lagi, “Mending kita samperin yuk orangnya, kita minta maaf.” Ajak Ilham kepada Ewang dan 3 temannya yang lain, tampak mereka masih kesakitan saat berjalan kearahku dengan tertatih-tatih.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan pindah dibawah pohon Flamboyan dibelakang, ada sedikit rumput kami pun ber 6 berkumpul duduk dibawahnya. Ku bakar sebatang rokok lalu kulemparkan 1 bungkus kearah depan mereka , “Nih rokok, bakarlah, kalian hisap, santai aja.” Kataku kepada mereka, mereka pun saling pandang 1 sama lain keheranan, “Kenapa kalian gak ngerokok?” tanyaku, “Eeee.. ngerokok sih bang.” Jawab Ilham, “Yasudah, hisaplah itu, santai aja.” Terangku kepada mereka, akhirnya Ilham, Ewang dan 3 teman lainnya membakar rokok yang aku berikan, kami pun mulai ngobrol santai. “Kalian udah lama kerja kayak gini?” tanyaku pada mereka, “Lumayan sih bang,udah 5 tahunan kalo ngamen.” Jawab Ilham, “Malakin juga?” tanyaku kembali, “Ya kalo hasil dari ngamen kami kurang aja sih bang, itu juga biasanya supir-supir angkot yang kami palakin sama orang-orang di taman doang.” Jawab Ilham lagi, “Oh gitu, biasanya kalian emang ber5 doang, apa ada lagi temen-temen kalian? Wang, woii? Lo diem aja, masih kesel ama gue?” tanyakku ke arah Ewang, “Eee..eeenggaaa..Bang, engga, saya cuman masih pusing aja ini kepala.” Jelasnya sembari memegangi kepalanya, “Hahaha.. sori-sori gua minta maaf jadi bikin kalian sakit semua, yaudah entar gua kasih minuman, kalian pasti pada minum kan?” tanyaku memancing, mereka hanya mengangguk saja. “Kalian kayaknya masih tegang aja nih, santai ajaa lah, hehehe..” jelasku. “Gua juga dulu kayak kalian, sering mabok, tukang palak, sering berantem, buat rusuh 1 kampung, pasar gua obrak-abrik, dulu gua pegang pasar Kelapa Gading di Jakut, terakhir taun lalu gua masih pegang, kalo lo pengen bukti lo ketemuin, lo cari aja disana yang namanya Hanif Suyanto alias Yanto Budeg, dia yang sekarang pegang, tanyain dia kenal Rebe gak atau Opit biasanya gua dipanggil, cuman sekarang gua udah berubah, gua ke Bogor buat tinggalin semua itu, jadi santai aja.” Terangku kepada mereka semua. “Jadi kelompok kalian cuman ber5 aja?” tanyaku kembali. “Sebenernya diluar kita ada lagi sih bang, jadi kayak ada beberapa komunitas gitu, cuman mencar-mencar, kayak Endoy nih, dia megang anak punknya di Bogor, kalo saya sama Ilham biasa koordinir pengamen-pengamen jalanan di Bogor selain punk, kalo punk Endoy nih yang tattonya banyak.” Jelas Ewang sembari menunjuk kearah temannya yang badannya memang penuh tatto sampe ke muka dan pierching dilidah, “nah basecamp kita tuh ada dibelakang taman biasanya buat pada anak-anak nongkrong, ngopi-ngopi bareng gitu bang, sama pada nyetor hasil ngamen ama malak ke saya, Ilham, Endoy, Boti nih, sama Waru, nah kalo Boti yang badannya item gembul nih dia tugasnya koordinir gembel-gembel sama pengemis di stasiun sama pasar Bogor nanti setornya ke dia tuh, kalo Waru yang badannya tinggi muka bopeng nih dia kurir, biasanya dia yang suka disuruh-suruh bawa barang atau paket apa dan ngasih setoran lagi ke Bos besar kita di Terminal Baranangsiang bang ada namanya Bang Febri, dia yang ngepalain semua preman-preman sekota Bogor mulai dari pasar, terminal, stasiun dan jalan-jalan di Kota Bogor dia semua yang pegang, dia hubungannya udah ke atas lagi, bang, biasanya sama Kepala ormas-ormas di Bogor dan orang-orang ‘dalem’ Terminal-terminal juga Pasar-pasar.” Lanjut Ewang menjelaskan. “Oh gitu, bisa gua ketemu Bang Febri?” tanyaku. “Wah, gak bisa sembarangan bang ketemu dia.” Jawab Ewang, “Iya bang biasanya dia mau ketemunya sama orang-orang yang berkepentingan aja, bang, baru dia bisa ketemu.” Tambah Ilham, “Kayak kita nih pengen setoran misalnya, Waru pengen setoran kesana baru bisa tuh ketemu dia.” Jelas Ewang lagi, “Oh gitu, iya, ru?” tanyaku kepada Waru meyakinkan, “Iya, bang, Bang Febri tuh disana banyak anak buahnya, karena saya udah sering kesana jadi langsung bisa ketemu aja, langsung masuk kedalem gitu, ke ruangannya dia, kalo engga mah, yang asing gitu biasanya ditanyain dulu keperluannya apa didepan, ada 20 orang lebih kali anak buahnya dia disana.” Jelas Waru. “Dimana sih, Terminal Baranangsiang kan basecampnya?” tanyaku, “Iya Baranangsiang.” Jawab Waru. “Lho bukannya ada pos polisi ya di depan terminal itu, ada kan?” tanyaku kembali. “Ya ada bang emang, cuman kan tau sendiri, Bang Febri juga pastinya ngasih jatah ke Oknum kepolisian, Bang, makanya aman.” Jelas Ilham.

“Hmm.. Kalian pasti pada haus kan, nih gw bawa minuman, sesuai omongan gua tadi.” Terangku sembari mengeluarkan sebotol air mineral 1 liter dari dalam tas gemblokku. “Lah katanya ‘minuman’ bang?” tanya Ewang bingung. “Iya, emang minuman, minuman kan ini buat ngilangin haus?” tanyaku kepadanya, “Hehehe, kita pikir minuman kayak manson gitu, bang, ciu lah minimal, tadinya kita pikir itu, hehehe.” Jawab Ewang cengengesan. “Gw udah berenti minum yang kayak gituan.” Jelasku.

Tiba-tiba, “Itu celana lo kenapa, Ham?” tanya Ewang polos, “Ngompol gua.” Jawab Ilham dengan muka merah, kami pun semua melihat menuju kearah celananya Ilham dan saling tertawa terbahak-bahak. Dan siang itu, hati serta pikiran kami pun mencair, kami bahkan menghabiskan waktu sembari bertukar pengalaman satu sama lain, tertawa lepas. Kicauan burung gereja terdengar lirih dari hembusan angin sejuk siang itu, menyapu peluh yang kami keluarkan sia-sia. Menarik kesimpulan bahwa tidak setiap masalah harus diselesaikan dengan kekerasan, karena salah paham membuat hati buta akan kebenaran. Sebetulnya mereka semua adalah orang-orang baik tetapi lingkungannya lah yang membentuk mereka semua sama halnya dengan diriku, Ewang dan Ilham juga perantau dari seberang pulau yang tidak memiliki keluarga di Bogor mereka berdua tinggal di kosan lingkungan kumuh yang bayaran per bulannya hanya 100 ribu, sementara Endoy, Boti dan Waru mereka no madden artinya berpindah-pindah bisa tinggal dimana saja kadang di mushola, mesjid, pom bensin, terminal, stasiun atau bahkan emperan jalan tetapi mereka lebih sering tinggal di basecamp karena disana wilayah bekas gudang dan banyak barang-barang rusak seperti sofa-sofa dan meja yang bisa dijadikan alas tidur untuk mereka serta anak-anak jalanan lainnya, mereka bertiga yatim piatu dan kabur bersama waktu umur 10 tahun dari panti asuhan, mereka terjebak oleh situasi ekonomi yang menjadi faktor utama mereka melakukan aksi kriminalitas tanpa memikirkannya terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan, aku mencoba mencari jalan keluar dari lingkaran setan yang membawa mereka kedalam dunia hitam, sebuah ide dan gagasan yang akan merubah hidup mereka dikemudian hari kelak.
(Bersambung...)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
arzikii dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mantap ceritanya gan
Lanjut updatenya
sepertinya seru ini, kantcutkan gaaan....
Lanjut gan...
Keren ceritanya.
mantulll ... terus..terus...teruskaaannn Gan
menarik nih ceritanya...lanjut gan
Mantep nih gan, ditunggu updatenya yak emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
mantap om lanjutken🏃🏃🏃🏃
lanjut gan
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Lanjutkam huu
semanget update gan, niatkan untuk konsisten cerita sampai kelar, karna itu yang paling berat
Lanjut gaaannn...
lanjut gan
keren nih cerita , nyejak dulu gan
lanjutin gan ceritanya.... jgn kendor semangat nulisnya...

izin bangun basecamp ya gan. hehehe
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di