alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Di Balik Punah dan Terancam Punahnya Puluhan Bahasa Daerah
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be0f672dbd77013768b456a/di-balik-punah-dan-terancam-punahnya-puluhan-bahasa-daerah

Di Balik Punah dan Terancam Punahnya Puluhan Bahasa Daerah

Di Balik Punah dan Terancam Punahnya Puluhan Bahasa Daerah

YANG TERSISA: Tulisan di gapura masuk Negeri Allang Maluku Tengah ini menjadi satu-satu tulisan dalam bahasa Allang yang masih ada. (Firma Zuhdi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Indonesia kaya bahasa. Ada 652 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi. Sayang, puluhan bahasa sudah punah, terancam punah, dan kondisinya kritis.
---
"ADUH sudah tidak bisa. Hanya bisa dua tiga kata," ujar Baparaja Yopi. Kalimat tersebut meluncur ketika Jawa Pos bertanya apakah pria bernama lengkap Yacob Nicholas Tuhuleruw itu masih bisa bahasa Tawiri, satu di antara 50 bahasa yang ada di Maluku.
"Pagibae itu artinya selamat pagi. Maenusuk itu artinya mari masuk," ujar Yopi sambil mengingat-ingat. Yopi menyatakan, hanya itu yang masih diingatnya. Selebihnya tidak ada.
Terancam punah kalau memang belum bisa disebut punah. Begitulah nasib bahasa Tawiri. Betapa tidak, seorang baparaja alias kepala desa yang memimpin Negeri Tawiri saja sudah tidak bisa berbahasa tersebut, lalu bagaimana masyarakatnya? Padahal, baparaja itu adalah pemimpin tertinggi di kampung tersebut.
Negeri Tawiri berada di Pulau Ambon. Lokasinya hanya lima menit dari Bandara Internasional Pattimura, Ambon. Tepatnya di sebelah timur bandara.
Yopi bercerita, bahasa negerinya itu sudah tidak digunakan. Semua warganya menggunakan bahasa Melayu Ambon. "(Tahun) 2007 masih ada hitungan jari yang bisa, 2010 sudah mulai hilang," terangnya. Kini, sebut dia, hanya ada satu orang yang bisa. Namanya Yoseph Tuhuleruw, baparaja Tawiri sebelum dirinya. "Tapi, orangnya kini di Jakarta," katanya.

Menurut pria 56 tahun itu, bahasa di negerinya hilang karena memang tidak diajarkan. Di sekolah tidak ada pelajaran bahasa daerah. Bahasanya juga tidak pernah digunakan sehari-hari. Apalagi, hampir 70 persen penduduknya adalah pendatang. Efek pengembangan desa. Tanpa diajarkan dan tak lagi digunakan, semakin hilanglah bahasa itu.
Bahasa Tawiri tak hanya hilang secara lisan. Tulisan pun sama. Jawa Pos sempat meminta Yopi menunjukkan satu barang atau apa pun yang terdapat tulisan dengan bahasa Tawiri. "Tidak ada, tidak ada sama sekali," jawabnya. Sebagai baparaja, Yopi sebenarnya sangat ingin bahasa daerahnya itu tetap lestari. "Kami sedang mengusahakan agar jadi muatan lokal di sekolah," ucapnya.
Bergeser dari Negeri Tawiri, Jawa Pos menuju Negeri Laha. Kondisinya masih lebih baik daripada Tawiri. Di Laha masih ada ratusan penduduk yang bisa berbahasa Laha. Walaupun jumlahnya masih di bawah 500 orang. Laha, seperti yang dijelaskan Harlin Turiah, peneliti bahasa dari Kantor Bahasa Maluku, merupakan satu-satunya negeri di Kota Ambon yang masih menggunakan bahasa daerah. Negeri lainnya di Ambon sudah tidak menggunakan bahasa daerah.
Jawa Pos mencoba membuktikan pernyataan tersebut. Koran ini pun masuk Kantor Negeri Laha. Tampak Sekretaris Negeri Laha Halik Kaliki sedang menandatangani sejumlah berkas warganya. Berkas yang sudah selesai langsung dia berikan ke warganya. Dia panggil warganya langsung. Bahasa yang digunakan untuk memanggil tidak familier di telinga Jawa Pos yang datang bersama Harlin. "Itulah bahasa Laha," ujar Harlin.
Ada dua tipe bahasanya. Ada bahasa Laha yang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Ada pula bahasa Tana Laha. Bahasa Tana Laha digunakan untuk acara-acara adat. Terbilang sakral. Misalnya digunakan saat acara doa bersama sebelum menaikkan kubah masjid. Atau saat ada acara pelantikan baparaja baru di rumah adat Laha, Baileo Kakihang Siwateru. "Bahasa Tana Laha yang bisa hanya sedikit. Semuanya di atas 50 tahun," ungkap Halik.
Pria 63 tahun itu termasuk salah seorang yang masih bisa. Halik lantas menunjukkan sejumlah kosakata bahasa Tana Laha. "Yamikuru artinya kami turun. Yamikuruheri artinya kami turun dari atas, bisa gunung atau bukit," ujarnya mempraktikkan. Resepnya, agar bahasa tetap lestari, harus selalu digunakan. "Biar anak-anak mendengar, akhirnya mereka ikut praktik," tuturnya.
Dari dua negeri tersebut, tampak betapa kayanya bahasa di Maluku. Antardesa saja bahasanya sudah berbeda. Contohnya bahasa Iha dan bahasa Luhu di Seram bagian barat. Bahasanya sangat berbeda, padahal hanya dibatasi pintu gerbang. "Kembali lagi, sayang sekali kondisinya akan punah," kata Harlin.
Berdasar penelitian Harlin pada 2007 saja, bahasa Titawai di Negeri Titawai yang ada di Pulau Nusa Laut, Maluku, hanya tinggal memiliki dua orang penutur. Keduanya berusia di atas 70 tahun. Tidak tertutup kemungkinan keduanya sudah meninggal. Sebab, penelitiannya sudah sebelas tahun silam. "Kami belum identifikasi lagi saat ini. Saya takutnya orangnya sudah meninggal dan bahasanya pun ikut punah," ucap Harlin.
Pria asli Buton itu menyebutkan, dari penelitiannya, ada empat bahasa daerah di Maluku yang sudah punah. Yakni bahasa Kayeli di Pulau Buru, bahasa Piru, bahasa Loon, dan bahasa Nakaela di Pulau Seram. Bahasa-bahasa itu punah karena tak lagi diajarkan di sekolah. "Sudah begitu, tidak sedikit di antara mereka yang berpikir tidak ada gunanya bahasa daerah dan itu dianggap bahasanya orang mati," beber Harlin.
Indonesia memang kaya bahasa. Kekayaan itu tidak hanya ada di Maluku. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat sudah ada 652 bahasa daerah yang diidentifikasi. Bahasa itu tersebar mulai di ujung barat Sumatera hingga bagian paling timur Papua.
Sayang, sebelas di antara ratusan bahasa daerah itu telah punah. Sembilan di antaranya berada di Maluku dan Maluku Utara. Dua lainnya di Papua. Di luar sebelas bahasa daerah yang punah itu, ada puluhan lainnya yang terancam punah dan kritis karena minim penutur.
Yang terancam punah itu antara lain bahasa Hulung di Maluku, Namla (Papua), Adang (NTT), Benggaulu (Sulawesi Barat), dan bahasa Lematang di Sumatera. Sedangkan yang kritis itu antara lain bahasa Reta di NTT, Saponi (Papua), Ibo (Maluku), dan bahasa Meher (Maluku Tenggara Barat).
"Yang kritis itu bahasanya dituturkan orang-orang yang usianya 40 tahun ke atas. Sedangkan yang terancam punah dituturkan mereka yang usianya 70 tahun ke atas," terang Kepala Bidang Pelindungan Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa Kemendikbud Ganjar Harimansyah.

https://www.jawapos.com/features/05/...-bahasa-daerah
Quote:
Diubah oleh 54m5u4d183
penggunaan di lingkungan jarang di gunakan ditambah muatan lokal di sekolah dsb jarang ada bahasa daerah
Karena belajar bahasa Arab bisa menjawab pertanyaan dari malaikat saat ditanya emoticon-Ngakak
Kalau bahasa daerah kan cuma bisa dipakai di bumi aja, di akhirat nanti nggak bisa dipake buat komunikasi sama malaikat emoticon-Malu
Quote:


Ah kalo gitu ane mw cr Tuhan & malaikat2nya yg agak cerdas dikit ah... Yg gak cuma bisa bahasa Arab
Gimana gak punah, lha wong pakai bahasa daerah dikira orang ndeso emoticon-Wagelaseh
baguslah...bahasa lokal awalnya ada karena isolasi lokasi, jaman udah connected bisa ke mana aja, semakin sedikit jenis bahasa semakin mempererat hubungan antar manusia mana ajaemoticon-thumbsup
peran ortunya sangat berpengaruh, krn dr ortu lah anak pertama kali belajar bahasa
rata2 ortu pd males ngajarin, apalg kl pny ortu nya dr dua suku berbeda ambil jalan tengah pk bhs indonesia aja biar gampang, yg bs nyelamatin bhs daerah kl masuk kurikulum sekolah setidaknya kl ortunya males ngajarin, bisa di backup dg pelajaran muatan lokal di sekolah
Balasan post white wolf
Quote:


Malaikate pekok berarti ra dong basa jawa
Bahasa itu bagian dari Kebudayaan, artinya bahasa itu bisa berkembang apabila lingkungannya pun masih mencerminkan budaya setempat. gimana bahasa setempat gak punah kalo Budaya yang mendasari bahasa tersebut pun digeser sedikit demi sedikit dengan Budaya Asing.
wkk.. papah ngarit dulu, mamah lagi derep emoticon-Big Grin

ning kuping gatel emoticon-Big Grin
Balasan post white wolf
Quote:


bahasa onta bahasa sorga penuh bidadari...wajib bagi onta
Loh, itulah efek dari globalisasi. Bahasa daerah gunanya apa sih sekarang ini? Paling cuma ngobrol sesama satu daerah aja. emoticon-Big Grin

Mending diajarin bahasa inggris supaya bisa melanglang buana ke luar negeri. Mending ajarin bahasa arab biar ngerti maksud agamanya.

Jadi cukup 3 bahasa aja sebenernya. Indonesia, Inggris, Arab. Dah cukup mengarungi dunia ini. emoticon-shakehand
Quote:

Betul... Efek pergaulan....
Mkin lama penutur makin dikit, akirnya punah...

Klo dijawa, wong jowo ra jawoni...
Balasan post obnoxiouspussy
Quote:


dilema ya gan
Balasan post winehsuka
kagaklah perjalanan manusia itu ke masa depan kagak bisa ke masa lampau....future > nostalgia always
Muatan lokak udah gak ngajarkan materi bahasa daerah lagi.
Bener-bener gak bisa dipercaya emoticon-Mewek
Padahal guru bahasa daerah itu merupakan profesi pula lho. Bisa membuka lapangan pekerjaan pula. Walau mungkin nanti perlu dikaji, ditaruh pada jenjang SD atau SMP. Bisa juga mengada pada level perguruan tinggi, saat penjurusan. Walau memang, yang begini ini tidak termasuk pada "lahan basah".


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di