alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pengamat : Elit Politisasi Impor Jagung Pakan Karena Dangkal Pemahaman
2.33 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5be01a7c94786872608b4567/pengamat--elit-politisasi-impor-jagung-pakan-karena-dangkal-pemahaman

Pengamat : Elit Politisasi Impor Jagung Pakan Karena Dangkal Pemahaman

Menteri Pertanian stop impor Jagung untuk kebutuhan pakan ternak sejak 2015

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandangan yang menyayangkan dikaitkannya keputusan impor 100 ribu ton jagung pakan dengan kecukupan produksi dalam negeri, datang dari elit politikus. Dekan Fakultas Pertanian Univeritas Islam Riau, Ujang Paman Ismail menyayangkan kedangkalan memahami impor jagung pakan.

"Sejatinya dalam definisi kedaulatan pangan di negara manapun, swasembada dan impor merupakan dua hal yang tidak bisa disandingkan atau di pertentangkan. Karena Swasembada lebih memiliki orientasi kecukupan produksi dalam negeri, sementara impor bisa lebih banyak terkait pada upaya untuk stabilisasi harga melalui distribusi antar wilayah atau bahkan lintas negara,” kata Ujang.

Menurut Ujang, di beberapa negara tetangga seperti Jepang dan Thailand telah mendeklarasikan sudah swasembada pangan secara nasional. Dua negara itu bahkan telah surplus beberapa komoditas pertanian. Namun di lain waktu dan pada beberapa lokasi kedua negara itu melakukan kegiatan importasi yang ditujukan untuk stabilisasi harga di suatu wilayah.

Baca: Impor Jagung 100 Ribu Ton Saat Surplus, Gerindra: Bukti Pemerintahan Jokowi Amburadul

"Politisasi impor 100 ribu ton jagung pakan yang sangat kecil tersebut sangat lucu dan dangkal dalam memahami persoalan yang ada. Bagaimanapun juga, pemerintah kita telah mampu meminimalkan impor melalui keputusan berani dari Menteri Pertanian yang menyatakan stop impor Jagung untuk kebutuhan Pakan ternak sejak 2015,” ujarnya.


Ujang mengatakan, persoalan fluktuasi harga jagung belakangan ini bukan masalah produksi. Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyimpulkan produksi dan pasokan jagung 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton PK. Selama tiga tahun, Indonesia sudah menstop impor jagung yang biasanya 3,5 juta ton pertahun. Bahkan untuk tahun ini, sampai bulan Oktober Indonesia sudah mengekspor 370 ribu ton jagung ke negara tetangga.

"Kenapa pada saat harga tinggi banyak yang komplain masalah produksi. Padahal jelas-jelas data menunjukkan produksi kita surplus. Harus digarisbawahi persoalan konektivitas sentra produksi ke pengguna jagung yang memusat di beberapa provinsi saja merupakan masalah utama,” tuturnya.

Akademisi yang juga Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia ini juga khawatir, polemik terkait impor yang volumenya kecil ini akan mempengaruhi psikologi pasar dan menjadi pukulan telak bagi jutaan petani jagung kita. Terlebih sejak 2015, petani menikmati keuntungan yang sangat layak dari usahatani jagung dan terbukti keringat mereka sudah mencukupi kebutuhan pakan ternak dalam tiga tahun terakhir.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Petani Centre Entang Sastraatmaja menilai, isu impor sengaja dibesar-besarkan kalangan elit yang memiliki kepentingan.

"Impor ini menurut saya lebih banyak digaungkan di kalangan elit. Orang yang punya kepentingan-kepentingan sesaat begitu. Mereka menggoreng isu impor ini menjadi sesuatu yang penting,” tutur Entang.

https://republika.co.id/berita/ekono...i-jagung-pakan

Pengamat Sudah Buta HatI, Impor Jagung 100 Ribu Ton Sangat Kecil

Bisnis.com, JAKARTA--Kementerian Pertanian (Kementan) meyakinkan poduksi jagung dalam negeri sangat aman.

Adapun berita terkait impor sebesar 100.000 ton, menurut Dirjen Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto, merupakan jumlah yang sangat kecil dan tidak terkait dengan asumsi bila produksi jagung nasional kita mengalami kekurangan pasokan.

"Pengamat yang mempersoalkan impor yang sangat kecil itu, padahal Indonesia telah surplus dan malah sudah mengekspor ratusan ribu ton jagung ke berbagai negara sebenarnya telah ‘buta hati’ dan sangat picik dalam memahami persoalan yang ada," ujar dia dalam rilisnya, Sabtu (3/11).

Saat ini Indonesia tengah mengalami surplus jagung dan bahkan telah mengekspor jagung ke berbagai negara. Impor jagung sebenarnya tak perlu mengingat jumlahnya yang sangat sedikit (100.000) dibanding dengan jumlah ekspor yang sudah dilakukan.

Itu pun, impor ini bukanlah terkait masalah produksi, namun lebih karena persoalan tatadistribusi jagung yang tidak merata. Ada daerah yang sangat melimpah dan ada daerah yang kekurangan pasokan. Terkait masalah distribusi yang tak merata inilah kebijakan impor terpaksa diambil.

"Namun mengapa Kementan selalu menjadi sasaran kritik? Karena para pengamat biasanya hanya melihat persoalan ini dengan sangat sederhana dan memakai logika kausalitas dangkal," tuturny.

Asumsinya, bila Indonesia impor, maka jumlah produksi pangan kita pasti mengalami defisit. Padahal asumsi ini sangat artifisial mengingat dalam sistem pangan nasional kita, di samping ada produksi, ada distribusi, ada pasar dan lain-lain.

Terkait produksi jagung, Data Badan Pusat Statistik (BPS) sudah memberi keterangan resminya. BPS menyimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton PK. Selama 3 tahun ini Indonesia sudah menstop impor jagung yang biasanya 3,5 juta ton pertahun, setara menyelamatkan Devisa Rp 10 triliun, bahkan ditahun 2018 saja, sampai bulan Oktober, Indonesia sudah mengekspor 370 ribu ton jagung ke negara tetangga.

http://www.tribunnews.com/nasional/2018/11/03/pengamat-sudah-buta-hati-impor-jagung-100-ribu-ton-sangat-kecil?page=all

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro menjelaskan pemerintah memang harus melakukan impor jagung untuk menstabilkan harga jagung yang melewati harga pokok penjualan (HPP) Rp4.000 per kg.

Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) harga jagung sudah mencapai Rp5.200-Rp5.300 per kg.

"Bahwa impor maksimum 100.000 ton untuk kebutuhan para petani ternak mandiri. Kenyataan jagung kita surplus sehingga untuk impor itu hanya bagi yang membutuhkan, saat ini para peternak mandiri," jelas Syukur dalam konferensi pers di Gedung Kementan, Jakarta, Sabtu (3/11/2018).

Syukur menjelaskan masalah distribusi menjadi pemicu harga jagung meningkat. Hal ini karena sebaran waktu dan lokasi produksi jagung yang bervariasi, selain itu pabrikan pakan ternak tidak berada di sentra produksi jagung, sehingga perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistiknya murah.

Dia mencontohkan biaya transportasi dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Tanjung Pandan, Belitung biayanya lebih mahal dibandingkan kalau mengekspor ke Malaysia, dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang, Malaysia.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4286221/alasan-pemerintah-putuskan-impor-harga-jagung-naik-jadi-rp-5300kg

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pemerintah menjaga harga jagung karena saat ini ada pergeseran di mana perusahaan biasanya mengimpor gandum untuk ternak, kini membeli jagung dari petani.

"Jagung harus jaga, khususnya untuk peternak, sekarang memang ada pergeseran karena ada biasanya kita impor gandum untuk ternak, sampai hari ini nggak ada. Ada pergeseran perusahaan-perusahaan tertentu membeli jagung ke petani. Sehingga, harga naik. Insya Allah dalam waktu dekat kita atasi. Kemudian kita tahu masalah jagung dulu kita impor 3,5 juta ton, hari ini ekspor 370 ribu ton sampai hari ini," kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai rapat koordinasi pangan di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jumat (2/11/2018).

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4285377/pemerintah-mau-impor-jagung-100000-ton-ini-alasannya


Impor jagung di tengah swasembada

“Sesuai Permendag 21/2018 tentang ketentuan impor jagung, bahwa yang dapat mengimpor jagung tanpa rekomendasi Mentan/rakortas adalah API P dalam rangka bahan baku Industri. Importasi jagung mengingat industri-industri membutuhkan jagung jenis dent corn yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri,” papar Oke.
Dent corn atau yang dikenal sebagai jagung gigi kuda memiliki kandungan tepung (starch) yang tinggi. Sehingga cocok untuk industri makanan seperti keripik jagung (corn chips), tepung maizena, keripik tortilla maupun taco.
Berdasarkan data Bea Cukai, setidaknya 31 importir jagung yang tercatat melakukan importasi jagung. Lima di antaranya merupakan importir yang mendatangkan jagung dengan HS code 10059090.
Ketua Dewan Jagung Maxdeyul Sola mengakui saat ini produksi jagung Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan industri pangan yang membutuhkan jagung jenis dent corn.
Alhasil, impor untuk jenis jagung ini tidak bisa dihindari. Ketidakcocokan produksi dengan kebutuhan industri pangan ini disebabkan kandungan alfatoksin produksi jagung nusantara yang kerap di melebih batas kebutuhan industri pangan sebesar 20 ppg. “Jadi kita baru bisa menanam, tapi tidak bisa mengamankan produksi yang dihasilkan masyarakat," katanya.
Dewan Jagung pada tiga bulan lalu sempat mengumpulkan pabrik-pabrik yang membutuhkan dent corn. Saran untuk bermitra dengan petani pun dilontarkan dan disetujui. Kementerian Pertanian sendiri diminta untuk membantu mengembangkan benih dent corn ini.
Menurut Max, industri mamin sepakat untuk membantu pengembangan jagung jenis dent corn sambil menunggu kebijakan larangan impor nantinya. “Soalnya Dewan Jagung akan mengajukan, kalau memang sudah ada produksi dalam negeri, kita akan ajukan setop impor,” tukasnya.
https://industri.kontan.co.id/news/impor-jagung-tetap-tinggi-di-tengah-rencana-swasembada
Jihat jagung emoticon-Belgia
No jagung, no popcorn emoticon-Wow
pusing baca trit nya .. modal copas saja gk di rapiin
Rejim sontoloyo
jadi sebenernya berita kedua itu buat bales pengamat yang ada di berita pertama bukan si? kok ane malah jadi gagal paham ya emoticon-Bingung
Yuk nanem jagung ke sawah, nyangkul, kasi pupuk, nunggu tumbuh besar, panen, njemur jagung yg uda dipanen, mipili jagung yg uda kering, masukin karung, baru jual kepasar.....mau??? Ato cm ngemeng jangan impor jangan impor....
pengamatnya yg buta tuli apa emang bodoh . dia bilang stabilisasi harga di beberapa wilayah . emangnya dimana harga jagung di indonesia rendah . jangung di indonesia sudah sangat tinggi . makanya harga pakan tiap minggu naik . apalagi statement yg menyatakan surplus jagung . ini jagung pakan udah harga tinggi barang susah dicari .
Quote:
Quote:


Nah betul ini, aksi nyata

Tapi beneran c jagung kurang masyarakat harus lihat juga dari sisi peternak jangan petani mulu

Kalau jagungnya ngk ada apa salahnya import
Quote:




×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di