alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhanan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd654849e7404a13b8b456c/kekuasaan-negara-dan-monopoli-kebertuhanan

Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhanan


Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhanan


CAKRAWALA.CO, PONOROGO – Sebelum masuknya agama-agama ‘impor’ ke Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu), masyarakat Indonesia sudah ber-Tuhan dan menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa di atas segala-galanya. Karena itu, tuduhan para penganjur “negara agama”, justru sangat ahistoris, sangat bertentangan dengan kenyataan sejarah.

Sebaliknya, sejarah membuktikan bahwa Dasar Negara Pancasila berakar pada kepribadian bangsa dalam rentangan perjalanan sejarahnya selama ribuan tahun yaitu sebagai bangsa yang luwes, toleran dan terbuka. Sejak awal sejarahnya yang paling dini, pengaruh agama-agama luar diterima dengan ramah, tetapi direfleksikan kembali dalam prinsip Ketuhanan yang lebih universal, mengatasi “agama-agama terorganisasi” (organized religions) yang cenderung sektarian dengan sikap monopoli Kebertuhanan atau dalam bahasa ilmiahnya: “imperialisme doktriner”- yang membahayakan keutuhan bangsa, bahkan peradaban manusia.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa, sebetulnya merupakan pengakuan (rekognisi) terhadap kehidupan dan kemerdekaan beragama rakyat Indonesia. Sayang, rumusan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”, seperti dipakai dalam UUD Proklamasi 1945, UUD RIS, dan UUDS 1950, membuka peluang penyangkalan (misrekognisi) terhadap penganut aliran kepercayaan atau agama-agama lokal nusantara yang lebih dulu hidup di Nusantara.

Baca Juga  Warga Surabaya Tolak Risma Cawagub Gantikan Anas

Dan itu terjadi di zaman Orde Baru. Dimulai dari Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 1/PNPS/1965 junto Undang-undang Nomor 5/1969, yang menyebut enam agama yang dianut oleh rakyat Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Namun, Konghucu dipinggirkan di masa Orde Baru. Berdasar Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri tahun 1974, kolom agama di KTP harus diisi dengan pilihan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu ,dan Budha. 

Lalu perlahan-lahan muncul istilah agama resmi dan tidak resmi. Di luar lima agama itu, hanya dianggap aliran kepercayaan saja, termasuk agama lokal. Padahal, menurut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003, pernah ada 245 agama lokal di Indonesia. Karena tidak diakuinya agama lokal, muncul anggapan bahwa orang Indonesia tidak beragama sebelum abad pertama.

Menurut Parsudi Suparlan dalam buku ‘Agama Dalam Analisis dan Interpretasi Sosiologis’ (1988), agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhan, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. 

Mengacu pada definisi Parsudi Suparlan, jika agama itu seperangkat peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, maka tak hanya keenam agama yang diakui pemerintah yang layak disebut agama. Aliran kepercayaan pun layak disebut agama, bukan?

Baca Juga  Kelompok Cipayung Plus Tuntut Hapuskan Komersialisasi Pendidikan

Sayang sekali, praktik misrekognisi warisan Orba itu masih terwariskan hingga sekarang. Jelaslah bahwa pembatasan terhadap hanya 6 agama yang diakui pemerintah,(dan ini semestinya di luar kewenangan pemerintah untuk mengu-rusinya) − jelas-jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tampak sekali “definisi agama” yang melatarbelakangi munculnya berbagai kebijakan diskriminatif terhadap agama nusantara adalah jelas-jelas definisi agama menurut agama tertentu. Misalnya, syarat-syarat bahwa agama harus mempunyai konsep Tuhan, Kitab Suci, dan Nabi adalah jelas-jelas definisi Islam. Diantara agama-agama semitik saja (Yahudi, Islam dan Kristen), konsep Nabi, Kitab Suci dan pe-wahyuan saja sudah berbeda, lebih-lebih lagi agama-agama non-Semitik, seperti Hindu dan Buddha.

Baca Juga  Dasar Penipu, Ratusan Ribu Orang Mendadak Miskin Layak Dipidana

Kondisi ini berangkat dari persinggungan antara kekuasaan negara dan keyakinan agama. Jika kekuasaan negara menjadi alat mayoritas untuk menguasai dan menancapkan legitimasi agama tertentu, maka hal ini akan menjadikan agama sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebagaimana ditulis Charles Kimball dalam ‘When Religion Becomes Evil’ (2002): “Alih-alih mengharapkan kedamaian dan keadilan yang menjadi muatan utama agama, malah sebaliknya, sakralitas agama pun dinodai oleh umatnya demi menuruti ambisi sesaatnya. Agama pun, menjadi semacam ‘makhluk’ menakutkan yang hanya menebar kejahatan (evil).”

Otoritas kekuasaan yang bersandar pada agama, atau sebaliknya, agama yang bersandar pada kekuasaan negara, hanya menjadikan negara berkuasa mutlak. Memutuskan sesuatu hal seenaknya, mengabaikan “yang lain” yang berbeda, serta menjadikan agama sebagai legitimasi kekuasaan belaka tanpa menciptakan keadilan bagi semua masyarakat.

Oleh : Wanda I. Ramadhan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fitrah

https://www.cakrawala.co/kekuasaan-n...-kebertuhanan/

Betul, agama itu sifatnya personal, bukan komunal , apalagi hegemonik


dari dulu adem ayem aja kehidupan beragama
di rejim ini saja terus menerus konflik
mungkin karena kaum PKI dan liberal mulai unjuk gigi
Agama itu kan sifatnya pribadi. Agama itu harusnya jadi penghubung antara penganut dan Tuhannya saja. Seseorang yang menganut Agama/Kepercayaan A tidak bisa memaksakan ajaran Agamanya kepada seseorang yang menganut Agama/Kepercayaan B. Begitupun sebaliknya. Tapi kalau di negara kita, yang menjadi mayoritas lebih banyak memaksakan ajaran Agamanya ke khalayak luas secara terang-terangan. Terkadang jika tidak mau mengikuti aturan dan ajarannya, malah dikucilkan. Kepada yang berbeda Agama saja seperti itu, sekarang ke yang se Agama juga malah seperti itu ketika berbeda pendapat atau pilihan.
Akan lebih baik kalo negara ini berhenti main2 dalam urusan tahayul.. emoticon-Recommended Seller
Agama org koq diurus
Kayak hidupnya bener aja
Tiep hare ribotin soel agama kalo ga ye soel selangkangan...emoticon-Mewek
Tiap PDIP berkuasa pasti banyak konflik agama. Jaman megatron dulu juga
emoticon-Bingung
Balasan post 15dreka19
Quote:

Apa yg dipaksakan?

Balasan post bebekberbulu
Quote:

Bener, mungkin karna pengikutnya kebanyakan nasionalis radikal, makanya selalu ga tahan ketika ada agama, seolah selalu berusaha menyingkirkan agama emoticon-Big Grin

Quote:


jadi mayoritas aja juga bukan atas keinginan sendiri melainkan hasil paksaan

Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhanan
agama impor, yang gak impor nyembah batu, pohon, matahari, bulan, sempak eh...
yg bagus tu.. acara acara kejawen... acara di bali.. (itu aja sih yg pernah gw liat)
enak liat nya..
kebersamaan dan kekhusukan nya menyenangkan
Pemikiran-pemikiran kaya gini mah sebenernya udah ada dari jaman dulu, iya jaman jahiliyah sebelum muncul nya Islam di Arab, sebelum muncul nya Kristen, sebelum muncul hindu dll , jadi selamat ente balik lagi ke jaman itu emoticon-Ultah
Balasan post winehsuka
Quote:


Dan batu hitam sama kotak hitam
#paganArabNgakuMonotheis
Balasan post bhinnekax
di Indo gak ada batu hitam ama kotak hitam
Balasan post winehsuka
Batu dan kotak hitam kan dimport
Kenapa pilih yang bayar upeti kalau ada yang gratisan. emoticon-Nyepi
Quote:


Selama sukarela, no problem....
Quote:


Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhanan
Balasan post rajakadall
Kekuasaan Negara dan Monopoli Kebertuhananyg nge bom bali pki, liberal
Diubah oleh safarsahara
Beda jaman, beda kondisi.
Apalagi kalau kita menilik jaman sekarang dimana konsumerisme (yang butuh duit tentunya), juga sistem kompetisi, seakan menjadi pengetahuan wajib dan kemudian menjelma menjadi basis pemikiran.

Terkait basis pemikiran itu bisa dibandingkan antara orang yang basisnya adalah kebaikan dan yang berbasis "jualan" plus "sikut-sikutan" sambil sesekali "cubit-cubitan".
Itu bisa terlihat pada kondisi yang ada/ditemui dalam diri orang itu sendiri (terkait ranah pribadi).

Cuma ..., disebabkan karena pada jaman sekarang itu keberadaan dari mereka yang jualan, sikut-sikutan, cubit-cubitan, itu juga cukup banyak (tidak perlu tutup mata mengenainya, walau pada jaman dahulu mungkin juga sudah ada), seseorang yang pola pikirnya itu didasari oleh kebaikan itu biasanya akan mudah menjadi mangsa dari mereka-mereka ini.
Untuk menangkal itu, maka janganlah selalu percaya kepada omongan orang. Jangan selalu percaya akan hal yang muluk-muluk. Karena fungsi salah satu fungsi agama itu adalah menuntun manusia dalam kehidupannya sehari-hari untuk memperoleh keselamatan (terkait fisik) dan kedamaian (terkait batin). Bila ada salah satu atau bahkan kedua-duanya dilanggar, maka lebih waspadalah ...


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di