alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Salahkah Aku Tuhan...?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd49d5f12e2571a1c8b456b/salahkah-aku-tuhan

Salahkah Aku Tuhan...?

Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan cinta yang hilang
Semua itu karna dia

Oh tuhan... Kucinta dia
Ku sayang dia, Rindu dia
Inginkan dia
Utuhkanlah, rasa cinta dihatiku
Hanya padanya, untuk dia


Lagu yang bisa menuliskan hidup ku ini lah yg sering terngiang di telingaku. Setiap malam dalam kesendirianku, setelah semuanya berubah berbalik 360° dari semula.

Sebelumnya saya baru pertama kali menulis disini, mohon bimbingannya untuk para sesepuh disini apabila ada melanggar atau ada kata-kata saya yang kurang pantas harap pm saya agar saya bisa merubahnya supaya thread ini tidak di delete atau di close.

Mohon maaf apabila tulisannya kurang baik, karna saya masih belajar menulis dan perlu agan-agan semua untuk mengoreksinya.

Untuk sahabat dan keluarga saya di kaskus. saya hanya mohon jaga privasi identitas saya. Dan untuk abang-abang saya yang juga anak-anak kaskus, maafkan adikmu ini yang ingin berbagi kisah disini.

Perkenalan karakternya langsung saja didalam cerita.



Sekilas

Sebut saja saya dedek. Anak brutal dari sebuah keluarga bertahtakan R dari kota demak. Didikan keras dari orang tua yang agamanya sangat kuat tapi tetap saja saya adalah anak brutal yang tidak bisa diatur didalam keluarga. Namun ketika masalah bertubi-tubi datang padanya, perubahan menjadi dewasa sangat signifikan. Pemikiran yang berubah total dari kebrutalannya dulu menjadi contoh bagi saudara-saudaranya yang lain bahkan menjadi tempat teman-teman meminta nasehat untuk hubungan mereka dengan pasangannya.

Didikan orang tua yang sangat keras yang ku rasakan sejak kecil membuat aku tidak bisa diam saja. Melihat kekerasan yang selalu dan hampir setiap hari karna kesalahan kecil yang dibuat oleh kaka-kaka ku membuatku menjadi anak yang brutal dan berani melawan orang tua. Karna sebuah kesalahan kecil yang sering membuat ayahku sangat marah, dengan alasan janji tepat waktu tidak bisa dikompromikan, jika sudah telat maka harus menerima konsekuensinya. Hantaman keras dan pukulan dengan kayu, rotan, sabuk kulit, hanger/kastok, sapu dll adalah hal yang sudah biasa kami terima. Hidung berdarah, wajah bengkak adalah hiasan hidup kami.

Ayahku yang mempunyai sifat keras dan sangar, didikan dari orang tuanya yang biasa kami sebut didikan penjajah didalam keluarga. Turun temurun perlakuan ini dari keluarga ayah yang dari kecil juga ayahku dan adik-adiknya rasakan hingga kakek kami wafat di tahun 1980. Sehingga membuat mereka anak-anaknya stres dan menjadi lebih brutal pada saat itu.

Kedisiplinan waktu dan agama sangat diutamakan sudah turun temurun sejak kakek buyut ku. Ketika masjid mengumandangkan lantunan panggilan untuk umat, semua dikeluarga wajib untuk langsung menunaikan ibadah. Walaupun salah satu dari kami sedang tidur karna kecapean atau sakit, sebisa mungkin tetap melaksanakan ibadah walaupun ketika sakit hanya ibadah dengan cara tiduran tetap wajib dilaksanakan. Tidak ada kompromi untum hal ibadah dikeluarga ini.

Aku yang brutal dan paling jail dikeluarga, selalu berusaha mencari titik aman agar tidak menjadi sasaran ayahku. Walaupun kadang tetap menjadi sasaran karna kesalahan yang ku perbuat namun aku berusaha melawan dengan niatan agar ayahku sadar bahwa kekerasan yang sangat parah ini tidak pantas untuk mendidik anak-anaknya.

Aku adalah seorang anak yang paling sering melawan dengan ayahku. Ketika aku berbuat salah atau ketika kaka ku berbuat salah, aku akan selalu melawan ayahku dengan memukulnya lalu kabur, atau dengan ocehan-ocehanku.

Berjalannya waktu dan dengan semakin dewasanya kami, ayah pun mulai mengurangi didikan ala penjajahnya. Namun kami tetap waspada dan siaga jika sewaktu-waktu ayah akan melakukan kekerasan itu lagi. Namun kesiagaan kami dan aku yang dari kelas 5 sekolah dasar berani melawan, ayahku mulai sadar dan mengurangi kekerasan itu dan menggantinya dengan ocehan-ocehan dari bibirnya. Tapi untuk ibadah, ayah tetap dengan kekerasannya.

Ibu, karakter ibu yg lemah lembut dan jarang berbicara, menyimpan rahasia tersendiri yaitu kata-kata yang keluar dari bibirnya sangat tajam menusuk hingga ke ubun-ubun. Ibu yang sangat disayangi anak-anaknya dari pada ayah.

Kami 4 bersaudara laki-laki semua, hanya ibulah yang paling cantik dikeluarga kami. Mantan seorang pendidik disekolahan, mantan seorang pengasuh anak dari negara korea diperusahaan tempat ayah bekerja.


Quote:


Quote:


Quote:

Urutan Terlama
Diubah oleh Deka04
reserved index
Sekilas Perjalananku 1

14.10 wib 08 september 2014 menujur akhir tahun beberapa tahun yang lalu, dimana aku merasakan kebahagiaan yang sempurna. Ya.. Istriku telah melahirkan buah hati kami yang sangat cantik dan juga pintar. Yang sudah lama kami tunggu-tunggu untuk lahir kebumi ini, yang sudah lama kami nantikan kehadirannya.Anakku adalah cucum ke 3 dari keluargaku dan cucu pertama dsri keluarga istriku.

Bertempat tinggal disalah satu kota disumatra disalah satu daerah yang berdekatan dengan laut perbatasan malaka. Istriku berasal dari suku yang berada disumatra barat, yang menurut ku sangat kental dengan budaya adat sukunya. Sedangkan aku bersuku jawa hanya keturunan namun kota kelahiranku adalah kalimantan paling bawah, tidak kental dengan adat manapun jawa atau kalimantan aku berusaha netral untuk semua suku.

4 tahun kami menjalin ikatan resmi, dengan berbagai macam cobaan yang menguji kesetiaan kami. Dan yang pada akhirnya aku serta istri dan anakku harus berpisah dengan jarak. Aku pergi ketika aku meninggalkan istri dan anakku karna ketidak sukaan orang tuanya padaku, ntah dari segi apa mereka tidak suka padaku, namun aku mendapatkan perlakuan dan fitnah yang sama sekali tidak pernah kulakukan.

Aku diusir dari tempat itu, dari kota itu, meninggalkan istri dan anakku. Berbagai macam cara kulakukan agar aku bisa tetap tinggal bersama keluarga kecilku, tapi semuanya percuma, usahaku untuk bersama ditolak oleh istriku sendiri.

Sebut saja istriku reni.
Quote:


Aku pun pergi kesalah satu warung tempat langganan untuk melepaskan sejenak beban pikiran yang ada didalam otakku. Lumayan sering aku ke tempat ini, karna seorang istri dari pemiliknya juga orang kalimantan dan orang kalimantan itu terkenal dengan candaannya yang gak mutu tapi lucu dan bisa menempatkan candaan dalam posisi dan porsinya masing-masing. Candaan yang kalau menurut orang luar sangat menusuk kehati, namun kami sudah terbiasa dengan situasi seperti ini karna ada kalanya bercanda dan setelah bercanda kami saling meminta rela dan maaf sebelum kami bubar.

Pesan teh panas tanpa gula, minuman yang sangat nikmat menurutku dengan sebatang rokok yang berlogokan kereta api dan bertuliskan gudang *****.

Menikmati hisapan demi hisapan rokok andalan dan teh tanpa gula kesukaanku, sambil mendengarkan candaan-candaan ibu-ibu rempong yang satu ini. Sejenak dapat meringankan beban yang tadinya memberatkan otakku ini. Tak terasa 3 batang rokok dan segelas teh tanpa gula habis, bayar dan kuputuskan untuk pamit pulang kerumah.

Quote:


Saling meminta maaf tanpa harus mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Hal yang mudah tapi tetap saja masih mengganjal didalam hatiku dan otak terus bertanya-tanya siapa yang salah dan apa kesalahannya. Namun takkan ku biarkan otakku mempengaruhi diriku supaya tidak menjadi perdebatan lagi.

Kami lalui hari demi hari kedepan dengan bahagia. Usaha sendiri dirumah bisa selalu bersama anak istri itu adalah anugrah luar biasa. Mencari rupiah dan bisa menjaga mereka adalah hal yang tidak mudah namun sangat menyenangkan untuk dijalankan.

Tepat 27 Desember 2014 setelah aku melaksanakan shalat magrib ayah mertuaku mengajakku bicara 4 mata. Tak ada pikiran aneh padaku saat itu, namun aku sedikit penasaran dan ku ikuti saja beliau yang sedang bersiap duduk dimeja kasir tokoku.

Quote:


Ayahnya berlalu pergi dan kami pun pergi ke kamar untuk membereskan baju-baju kami. Isak tangis masih terdengar dari reni yang tangannya tak henti terus membereskan baju sambil sesekali mencium kening anak kami.

Kami tidak tau kemana ayah berlalu pergi membawa si merah roda 4nya. Kami hanya sibuk membereskan baju kami bertiga ke dalam koper dan tas. 1 koper 1 tas berukuran sedang dan 1 tas kecil kesayanganku yang hingga saat ini masih terus ku pakai. Tas kecil yg berisikan hp, dompet dan benda-benda kecil lainnya.

Quote:


Tak lama simerah roda 4 kembali datang, kali ini yang keluar tidak sendiri, ya... Ada mama keluar dari mobil itu juga, membuatku berpikir bakalan ada apalagi ini.

Quote:
Sekilas Perjalananku 2

Quote:


isak tangis reni terus masuk kedalam telingaku, ingin rasanya sejenak ku tenangkan dia, namun waktu sudah tak mendukung. rasa itu telah berganti menjadi rasa yang tidak karuan dalam hati ini. Aku hanya ingin mempertahankan mereka dan tetap menjadi keluarga kecil yang bahagia sampai akhir nanti. Namun semua takkan mudah, setiap jalan pasti ada rintangannya.

dari kejauhan terlihat ada mobil yang sepertinya aku kenal cengan ciri-ciri mobil ini. Dan iya, ternyata simerah roda empat kembali datang. Firasat buruk ku rasakan dalam hatiku. hanya bisa berdo'a dalam hati, semoga ini tidak akan terjadi suatu hal yang tidak ku inginkan. berharap ini hanya firasat ku saja yang karena sejak sehari ini aku sudah mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan.

Mobil terus menuju ke arah kami dimana kami berdiri menunggu kedua temanku yang tak kunjung datang. dan ternyata firasatku benar, saat mereka keluar dari mobil. dan kali ini ayah tidak datang sendirian, ternyata ada mama yang datang bersama adik-adiknya yang masih kecil. tak pernah menyangka dan terbayangkan dalam diriku, apa yang mereka lakukan sampai sejauh ini mencampuri kehidupan kami. Setelah semua terjadi hal-hal yang sudah berlalu, kini akan terjadi lagi sebuah perkara baru dengan datangnya mereka ke sini.

Quote:


Sebuah amarah dari orang yang selalu ku hormati seperti orang tuaku sendiri. kali ini aku berusaha untuk masih menghormatinya, namun aku malah terbawa emosi karna perkataan-perkataannya yang tidak pantas untuk diucapkan dari mulut seorang yang telah memiliki anak. dan ini bukan tempat yang pantas untuk mengeluarkan perkataan seperti siraman rohani ini. aku tau dan paham watak orang-orang daerah itu, namun yang sangat ku sayangkan perkataan ini keluar dari mereka.

mendengarkan dan sedikit menjawab siraman rohani itu, kedatangan dua teman yang ku telpon tadi membuat mereka malu dan menghentikan amarahnya. malu atau takut aku tidak tau aku sudah masa bodo dengan itu semua. memang ku akui kedua teman-teman yang ku telpon tadi memang berbadan besar bahkan aku tidak sebanding dengan mereka. Namun aku yakin mereka diam hanya karna malu kalau kesalahan mereka disebarkan oleh kedua temanku ini.

Quote:


tak lama ayah mengajak kami berbicara didalam ruko tempat aku, reni dan anak kami tinggal selama ini. mungkin ada niat baik dari mereka yang ingin mengajak ku berdiskusi didalam ruko. Oke... aku turuti apa mau mereka. Ku ikuti mereka masuk dalam rumah dan duduk di ruang tengah yang sengaja hanya ku beri karpet atau hambal tebal, karna aku lebih suka tidur diruang tengan beralaskan karpet karna sebuah kebiasaan ku di mess perusahaan tempat ayah ku bekerja dulu. Lama ayah reni bicara panjang lebar mengeluarkan isi kepalanya. Mama...? Tidak ada disini, dia berlalu entah kemana perginya aku tidak menghiraukannya lagi, karna sudah terlanjur hatiku kesal dengan perbuatan atas ucapannya tadi.

Ku akui, aku senang berdiskusi dan saling bertukar pikiran dengan ayah reni. walaupun hanya sekedar mendengar lagu bersama. karna kami sama-sama suka lagu-lagu indonesia era 80an

Quote:


Berat ku meninggalkan istri dan anak ku yang selama ini kami tinggal bersama melewati apa yang menguji kami. Rela dan ikhlas ku tinggalkan mereka walaupun hati merasa berat namun hatiku sudah tak bisa lagi diajak kompromi untuk tetap tinggal dikota itu. Pamitan dengan istri dan anak, tak lupa kecup kening keduanya aku pamit pergi tanpa membawa apapun. Barang-barangku tidak boleh dibawa oleh reni, hanya itu satu pintanya terakhir dengan alasan kalau kangen dia bisa menggunakan barang-barang itu.

Quote:


Sejahat apapun mereka, aku tetap harus sopan, Karna mereka telah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri, sampai kapan pun tetap sama walaupun pada akhirnya tuhan berkata lain. pamitan dengan kedua orang tua reni lalu aku berlalu bersama temanku untuk menuju ke travelan.

Quote:


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di