alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Individualis, Korup, & Manipulatif: Sisi Gelap Teologi Kemakmuran
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bd11c58dbd770e40a8b4568/individualis-korup-amp-manipulatif-sisi-gelap-teologi-kemakmuran

Individualis, Korup, & Manipulatif: Sisi Gelap Teologi Kemakmuran

Korupsi yang melibatkan pejabat negara dan pengusaha sudah biasa. Tapi, bagaimana jika yang terlibat adalah seorang rohaniawan?

Pekan lalu, KPK mencokok Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dalam operasi tangkap tangan. Pada hari yang sama Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Bekasi Neneng Rahmi juga ditetapkan sebagai tersangka. Neneng Hasanah dan para birokrat di Kabupaten Bekasi ditengarai telah menerima suap terkait pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi.

Pada Senin, 15 Oktober 2018, KPK menangkap si pemberi suap, Billy Sindoro. Selain tercatat namanya sebagai direktur utama Lippo Grup, Billy Sindoro adalah seorang gembala senior (senior pastor) di sebuah megachurch di Tangerang, Banten.


Situsweb Gereja Christ Cathedral Basilea Gading Serpong menyebutkan Billy Sindoro adalah pemimpin umat di gereja tersebut.

Gereja Christ Cathedral Basilea yang bernaung di bawah Sinode Gereja Bethel Indonesia bukanlah gereja Protestan beraliran karismatik biasa. Christ Cathedral bisa dikategorikan sebagai megachurch. 

Menurut Hartford Institute for Religion Research, sebuah gereja bisa disebut berskala “mega” jika kebaktian di gereja tersebut dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2.000 jemaat per minggu. Situsweb Christ Cathedral sendiri menyebutkan ruang kebaktian utama gereja ini (Basilea Convention Center) dapat menampung 12.000 jemaat per kebaktian.

Gedung megah dengan tata cahaya dan suara bertaraf ruangan konser internasional itu sudah jadi rumah ibadah terpandang di Tangerang Selatan. Unit pelayanan yang dikerjakan oleh "gereja mega" ini juga sangat luas. Dari pelayanan rohani untuk anak balita dan kalangan lanjut usia, puluhan shuttle bus dengan 60 kursi, hingga pangkalan transportasi daring di gereja. 

Dari luas dan besarnya skala pelayanan gerejawi yang ditekuni Pastor Billy Sindoro ini tampak kegiatan gereja bukan sekadar kegiatan spiritual sampingan di akhir pekan, melainkan pekerjaan penuh waktu yang serius.

Baca juga:Menjamurnya Gereja-Gereja Raksasa

Pendeta atau Pengusaha?Salah satu warisan Protestanisme berbunyi: bekerja di dunia sekuler adalah perkara yang sama nilainya dengan bekerja untuk gereja; sama-sama mulia di hadapan Tuhan. Tak ada pembeda derajat kemuliaan pekerjaan. Asal dilakukan untuk memuliakan Tuhan dan manusia, pekerjaan itu halal.

Mungkin karena itulah Gereja Bethel Indonesia tidak melarang pendetanya menjadi usahawan.

Bagaimanapun, pekerjaan menjadi seorang pendeta dan pebisnis sama-sama membutuhkan kemampuan memimpin, manajerial, dan tentu pengaruh serta karisma pribadi.

Yang menjadi masalah, bagaimana jika kedua pekerjaan itu bersinggungan dan terjadi konflik kepentingan?

Pekerjaan sebagai pendeta, misalnya, mengharuskan sang rohaniwan berorientasi pada pelayanan rohani. Seorang pendeta adalah pengayom umat yang dituntut mengalokasikan waktu dan tenaga secara khusus untuk mengelola kegiatan gereja, mempersiapkan khotbah, bahan pembinaan dan katekisasi, hingga mengunjungi jemaat yang sakit atau mengalami pergumulan hidup.

Di sisi lain, seorang pengusaha pada dasarnya mengejar laba. Secara ilmiah, ia akan menautkan diri pada segala aktivitas yang efisien, efektif, terarah pada akumulasi modal, demi meraih profit yang lebih besar.

Pada satu titik, dua pekerjaan ini berpotensi untuk bersinggungan dan sulit didamaikan.

Kasus keterlibatan pendeta cum pengusaha dalam pusaran kasus korupsi juga bukan hanya menimpa Billy Sindoro. Kasus serupa pernah menimpa Pendeta Basuki Hariman pada awal 2017. Basuki terbukti memberikan uang suap kepada Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar. Suap itu ia berikan untuk memengaruhi putusan MK terkait permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Basuki berharap agar Patrialis menghasilkan keputusan yang menguntungkan posisinya sebagai importir daging.

Terlepas dari pelbagai problem integritas moral yang memungkinkan seseorang terjerat kasus korupsi, isu teologis agaknya juga punya andil. Pada 2006, Majalah Time membuat riset kecil tentang kecenderungan megachurch merengkuh Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel).

Teologi Kemakmuran adalah konstruksi ajaran Kristen yang mengajarkan kesalehan ala Kristiani dapat dilihat dari keberlimpahan harta, kepemilikan properti, mobil mewah, kesehatan, dan aneka simbol kesuksesan hidup lain. Time menyebut 17 persen umat Kristen Amerika Serikat yang berafiliasi dengan megachurch telah mengamini Teologi Kemakmuran. Sebanyak 31 persen responden mengatakan: “Jika kita memberikan uang kepada Tuhan [baca: kepada megachurch], maka Tuhan akan kembali memberikan kita berkat kelimpahan uang berlipat ganda." Sebanyak 61 persen dari responden mengatakan Tuhan memang menghendaki umatnya kaya raya.

Teologi Kemakmuran sebenarnya bukan barang baru dalam Gereja Protestan. Bermula dari ajaran yang dikembangkan di kalangan Pentakosta pada 1950-an, Teologi Kemakmuran mekar melalui pertemuan kebaktian kebangunan rohani (revival meeting) di pelbagai kota-kota besar di AS dan disebarkan oleh televangelist seperti Oral Roberts, A.A. Alen, dan T.L. Osburne. 

Tak dinyana, ajaran ini direspons secara positif oleh masyarakat Kristiani AS. Dalam konteks situasi pasca-Perang Dunia II, masuk akal jika Teologi Kemakmuran—yang mengkhotbahkan optimisme—diterima sebagai oase di tengah keputusasaan umat.

Meski banyak dikritik oleh pemuka agama Protestan, ajaran Teologi Kemakmuran tampaknya masih digemari dan cenderung menjadi payung ideologis bagi megachurchProtestan Karismatik di seluruh dunia. Nama-mana seperti Jim Bakker sampai Joel Osteen (yang masuk dalam daftar 8 pendeta terkaya di AS, dengan total kekayaan 40 juta dolar) menjadi rujukan utama dan ikon gerakan Teologi Kemakmuran hari ini.

Pakar teologi Oxford Tara Issabela Burton mengatakan Teologi Kemakmuran tidak berakar pada jantung kekristenan. Roh yang menghidupi Teologi Kemakmuran, ujar Burton, berasal dari semangat New Thought, sebuah filosofi yang dikembangkan Ralph Waldo Emerson dan psikolog William James.

New thought menekankan manusia sedalam mungkin menggali potensi dirinya. Apa pun yang kita pikirkan dapat menjadi kenyataan, karena pikiran adalah landasan dari kenyataan material. Dalam imajinasi intelektual New Thought, bahagia adalah tanggung jawab setiap individu.

Walhasil, bagi para pendukung New Thought, orang bisa mengubah kenyataan hidup selama ia mau berpikir positif. Ketika pemikiran ini dicangkokkan ke dalam kehidupan spiritual Kristen, rumusannya kira-kira seperti ini: jika kita percaya bahwa Allah akan memberikan kita kekayaan, kita akan memperoleh kekayaan; tentu dengan syarat dan ketentuan, misalnya, kewajiban kita menyerahkan minimal sepuluh persen dari total penghasilan bulanan ke gereja.

Semangat self-help yang menjadi jantung dari New Thought ini rupanya memberi karakteristik tersendiri dalam ajaran Teologi Kemakmuran, termasuk dalam pandangan tentang ketimpangan sosial yang diartikulasikan sebagai problem mentalitas belaka. Dus, seorang teolong kemakmuran akan lebih mudah menyalahkan kaum miskin: “Menaburlah di ladang Tuhan, maka kamu akan menuai berkat (uang) berlipat ganda. Jika kamu miskin itu bukan salah Tuhan, itu salahmu karena tidak menabur berkat di jalan Tuhan”.

Dalam praktik Teologi Kemakmuran, Kekristenan yang secara tradisional meletakan ketimpangan sosial-ekonomi sebagai problem struktural justru dibonsai jadi kultus pengembangan diri.

Tak dapat dipungkiri, ide-ide individualisme radikal ini menjadi ladang yang subur bagi manipulasi. Tak sedikit petinggi megachurch yang akhirnya dilaporkan oleh jemaatnya atau terlebih dulu diciduk oleh penegak hukum karena penggelapan dana gereja, bahkan penghindaran pajak.

Mengapa manipulasi ini cenderung terjadi? 

Karena Teologi Kemakmuran tidak memberikan hasil yang dijanjikan. Orang-orang yang terus berderma dalam jumlah besar tak kunjung mendapatkan “ganjaran balasan berlipat ganda” seperti yang dijanjikan. Mereka tetap berkubang dalam kesulitan ekonomi, tak berbeda dari orang-orang yang tak pernah datang ke megachurch.

Beberapa orang memang sudah berkelimpahan harta benda sebelum mereka menjadi bagian dari megachurch, dan mungkin akan tetap kaya. Sementara yang miskin akan tetap miskin sekalipun sudah memeluk erat-erat ajaran Teologi Kemakmuran.

Untuk menjustifikasi Teologi Kemakmuran, sang penganjur tentu harus terus terlihat sukses, sehat, dan kaya raya. Para penganjur Teologi Kemakmuran di Indonesia seperti Philip Mantofa dan Gilbert Lumoindong secara vulgar memamerkan kekayaan dan kemewahan hidup mereka di pelbagai platform media sosial. Bagaimanapun, brand image memang perlu dibangun untuk menopang klaim ajaran ini. Di titik itulah pintu menuju manipulasi dan korupsi terbuka lebar.

https://tirto.id/individualis-korup-amp-manipulatif-sisi-gelap-teologi-kemakmuran-c8mn

Oh gitu toh
Diubah oleh wismangan
Kalo yang ngasah biji, teologi apaan gan? emoticon-Malu (S)
pemuka agama ajah korupsi
lalu bagaimana umatnya ?


yg pasti sekarang lah masanya kaum munafikun berjaya emoticon-Ultah
prinsipnya, elu saleh, bakal tajir, elu dosa, bakal sengsara

gak beda lah sama yang bilang kalau gempa dan tsunami sebagai azab
makanya banyak yg ga setuju ama teologi kemakmuran
liat aja pendeta2 yg bicarain gituan rata2 pendeta jualan agama semua
Senin sampai sabtu ngerampok
Minggunya ibadah

emoticon-Ngakak:
Oaakkuui pertjoyoooo...
Mirip sedekah?

emoticon-coffee
Quote:
Balasan post madchick
pendeta tai kucing yang jualan teologi kemakmuran!
teologi pendeta masa kini

khotbah nya udah kayak seminar motivator

emoticon-Wakaka
Tulisan yang menarik gan, jadi paham apa itu teologi kemakmuran,, ane kurang setuju ama teologi kemakmuran ini karena lebih mengarah ke self-serving (egois) padahal Nabi Isa mengajarkan menolong sesama walau apapun keadaanya.. sehingga bila bisa menolong orang kesusahan di situlah kita merasa sudah 'makmur',, tidak perlu menjadi kaya dulu (punya rumah, mobil, apartemen, kesehatan) baru mau menolong sesama,, Lalu sudah seharusnya profesi Pendeta/Pastor & Pengusaha dipisah karena profesi tersebut berbeda tujuan.. Pendeta (Melayani jemaat) dan Pengusaha (Mengejar Profit secara maksimal)
teologi kemakmuran
mau disalahkan yah gimana
sudah terbukti juga kalo umatnya malah semakin kaya
walaupun dipalak 10% dari penghasilan
kalo di korsel itu spt gerejanya cho yonggi
di indonesia itu spt bethany
kaya2 semua itu umatnya

emoticon-Matabelo
Quote:


Sama aja gan ada orang sedekah juga makin kaya....

Semua tergantung itunyaemoticon-Ngakak (S)
Balasan post trrivia32
Quote:


beda gan, ajaran ama doktrinasi berpengaruh sama mindset pengikutnya
kalo yg kristen karismatik bener2 bikin agresif cari duit
kalo hidup luh gak kaya berkelimpahan artinya belum dikasihi tuhan
yah itu akhirnya muncul istilah senin sabtu nipu orang minggu nipu tuhan

emoticon-Ngakak


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di