CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Female / Wedding & Family /
[COC] Wanita Karir Jangan Lupakan Dapur Sumur Dan Kasur #AslinyaLo
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc7e6255a51632d328b4568/coc-wanita-karir-jangan-lupakan-dapur-sumur-dan-kasur-aslinyalo

[COC] Wanita Karir Jangan Lupakan Dapur Sumur Dan Kasur #AslinyaLo

Menjadi wanita karir merupakan trending kehidupan wanita masa kini. Kesetaraan gender yang gencar disuarakan ke seluruh penjuru dunia, membuat peningkatan wanita karir saat ini bertumbuh pesat.

Quote:


Coba kita berpikir sebentar saja, jika kita berumah tangga, makannya di luaran, mandinya di luaran dan tidurnya gentayangan di luaran pula, rumah tangga macam apa yang kita bina ?

emoticon-Wakaka

Silakan direnungkan dan dijawab dalam hati masing masing. Ditulis oleh arbib kaskus 2018 berdasarkan nasihat lama dan pengamatan keadaan terkini. Sampai jumpa dan jangan lupakan bercinta serta baca juga thread lainnya.

emoticon-terimakasih

Diubah oleh arbib
Halaman 1 dari 3
Bahasan berat, untung ane masih jomblo, cukup membayangkan aja dah emoticon-Ngakak (S) emoticon-Traveller
Makanya hanya cowo mapan yang boleh nikah, minimal yg bisa menyediakan satu pembantu + satu baby sitter.

Cowo miskin gak usa menikah, karena ujung-ujungnya istri harus kerja buat menopang ekonomi keluarga.

Mending kalo cowo miskin tahu diri, gak nuntut istrinya mesti urusin dapur, sumur, kasur secara maksimal.

Lah ini nuntut dilayani kayak raja, padahal kasih nafkah gak mencukupi.
Lihat 1 balasan
nice thread.. memang betul jangan sampe lupa 3 hal itu..
dapur dan sumur: ada art
kasur: ada spa & massage emoticon-Embarrassment
dari ketiganya....

satu yang ane masih belum bisa...dapur emoticon-Ngakak

olahan luar malah kadang bersanding dengan olahan suami di meja makan....kalau ane mulai ke dapur suami selalu bilang, kamu mau masak apa ini, di apain....udah sana kamu istirahat aja..nanti kalau udah mateng aku panggil emoticon-Salam Kenal
Lihat 5 balasan
Balasan post bitha
Quote:
dibawa nyantai aja gan

Quote:
Tak semua wanita karier itu alasan nya akarena faktor ekonomi, BTW agan pria atau wanita ? apa sudah berkeluarga ?

Quote:
yups, jan sampai ketiga hal ini biasa dapat di luaran emoticon-Ngakak

Quote:
hapal bener ente gan emoticon-Leh Uga

Quote:
Urusan dapur ngga selalu masak memasak, bisa variasi "main di dapur kok sis" emoticon-Wakaka

Wkwkwkwk..... Istrinya GGWP. Dicariin yang online emoticon-Wagelaseh
kalau saya pribadi berpendapat sih, utk urusan dapur dan sumur sebenarnya bisa didelegasikan. Ga harus istri yg turun tangan sendiri mengerjakan semuanya, bisa dikompromikan pembagiannya antara suami dan istri, bisa pake jasa pihak ketiga (PRT misalnya). Ini berlaku baik istri bekerja di luar rumah maupun tidak bekerja ya.

Tapi menurut saya pribadi juga paling tidak memang idealnya istri/ibu tau makanan favorit masing2 anggota keluarga, tau cara membuatnya dan tidak berkeberatan membuatkan. Atau ada momen-momen spesial dimana sang istri/ibu turun sendiri di dapur. Karena bagi saya, makanan itu menciptakan memori. Memasak buat orang yang kita sayangi itu merupakan bahasa kasih, pertanda bahwa kita berusaha memberikan rasa, memberikan yang terbaik untuk yang terkasih itu emoticon-Big Grin
Diubah oleh .hades
Balasan post arbib
Quote:


Hampir semua karena faktor ekonomi.
Bagi yang bukan karena faktor ekonomi, biasanya wanita model begitu menikahnya dengan lelaki yang juga selevel.
Kayak istri boss g, kayak artis, contohnya.
Yang seperti itu gak usah kamu sok-sok bilangin pun, suaminya sudah menyediakan pembantu, baby sitter, sopir, dan pola pikir lelaki semacam itu juga sudah beda dengan pola pikir kamu.
Balasan post cloning.ortillo
Quote:
Ane rasa banyak suami yang mau kali, dicariin yang lagi online (BO) pas lagi istri capek emoticon-Entahlah

Quote:
tepat sekali gan, yang tidak patut menurut ane adalah 100% di delegasikan ke pihak luar, karena itu berbahaya, tetap urusan dapur, sumur dan kasur, istrilah yang punya kontrol full, alias me manage nya
Quote:

Ya, hampir semua karena alasan ekonomi pada awalnnya. Berdasarkan pengalaman saya sendiri delapan tahun yang lalu, kira2 begitulah.

Di awal pernikahan saya dan istri kerja, lalu istri saya suruh dirumah saja ketika punya calon bayi usia 3 bulan, karna anak pertama takut terjadi sesuatu.

Setelah beberapa bulan melahirkan, istri minta kembali kerja, Alasan utamanya karena memang saat itu kondisi keuangan keluarga lagi rawan. Akhirnya kerja , dengan alasan ekonomi.

Setelah anak pertama berusia 2 tahun, mulai rewel, mulai susah ditinggal orang tuanya, kemana kami pergi selalu mau ikut. sampai setiap pagi mesti diboongin dan dititipkan ke saudara yang biasa mengasuh.

Sayapun meminta istri untuk berhenti kerja namun tak begitu saja di penuhi dengan alasan karirnya sayang, lagi bagus bagusnya, katanya. Dengan kondisi ekonomi yang lumayan mulai cukup akhirnya saya kasih pilihan kepada istri, jika tidak mau berhenti, maka saya yang akan berhenti kerja dan dirumah saja.

Akhirnya pun istri mengalah. Karir di tempat kerja mesti dikorbankan demi kepentingan bersama, kepentingan keluarga. Jadi memang awalnya karena alasan ekonomi, namun tak jarang wanita karir akan sayang dengan karirnya disaat bukan lagi alasan ekonomi dalam berkarir.

Di sinilah beratnya pilihan antara karir dan keluarga

Diubah oleh arbib
Quote:


Apakah harus selalu memilih gan? Saya tidak berbicara tentang keputusan agan dan istri ya. Itu hak absolut agan dan istri mau memutuskan seperti apa.

Yang saya komentar adalah saya banyak sekali melihat/membaca/mendengar kalimat ini kalau kita sudah berbicara tentang perempuan bekerja. Pilihan antara karir dan keluarga . Kalau namanya pilihan mestinya cuma boleh milih salah satu kan emoticon-Big Grin

Entahlah ya, mungkin saya yg cukup beruntung dikelilingi perempuan hebat yang bisa sukses dalam karirnya tanpa mengurangi perhatiannya terhadap keluarga.
Rada sedih aja saya kalau membaca kalimat semacam itu. Seakan ada stigmatisasi ga mgkn seorang perempuan unggul di keduanya.
Lihat 1 balasan
Balasan post arbib
Quote:


Pada saat istrimu bekerja di luar untuk menopang ekonomi keluarga (YANG MANA ADALAH TANGGUNG JAWAB PRIA), apa nggak malu terus berkoar-koar istri jangan melupakan urusan dapur, sumur, kasur!?
Quote:


om yg garis bawah
lom di jawab doik om emoticon-Ngakak

Ya, intinya sebagai wanita karir yg sdh berumah tangga... dia tidak boleh lupa utk menjadi "pakar" dlm urusan domestik di rumah tangganya.
Tidak melupakan tugas utamanya sbg pengatur urusan rumah tangga dan mendidik anaknya (jika sdh punya)

Ane sependapat dg sis Hades, bahwa hal2 yg sifatnya teknis dlm hal masakan atau kebersihan, penataan ruangan, masih bisa didelegasikan. Tidak harus istri yg terjun langsung.
Tapi istri yg bertanggung jb terhadap urusan domestik rumah tangga, dia harus memastikan bahwa tugas2 tersebut telah terdelegasi dg baik, jika blm maka dia yg harus turun tangan.
Termasuk juga saat anak dititipkan ke baby sister atau ortu/mertua/saudara... istri tdk boleh lepas tangan.
Tanggung jb penuh pendidikan dan kasih sayang thd anaknya tetap di dia.

Melihat beratnya tanggung jb sebagai istri yg mengurusi rumah tangga dan juga kerjaan di luar (jika dia wanita karir) maka ini pun harus disadari oleh istri dan suami...
Dibutuhkan adanya kerjasama antara suami istri utk tetap menjaga kenyamanan dan keharmonisan dirumah.

Jika rumah masih terhandle dg baik, anak2 terdidik dg baik, hubungan istri masih berjalan harmonis, tercipta rumah tangga yg samawa, maka wanita pun msh bisa berkiprah di luar sbg wanita karir atau melakukan aktivitas2 sosial lainnya dg izin suami dna tdk melanggar aturan2 yg diyakini.
Dan... memang itu tadi, yg penting tidka lupa dg tanggung jawab utamanya mengatur urusan domestik di rumah tangganya dan pendidikan serta curahan kaish sayang utk anak2 nya.
inti nya kalo binik kerja juga laki harus tau diri ...misal ikut bantuin nyuci baju,nyuci piring,momong anak,nyapu,ngepel dll bagi2 tugas sesempet dan sekuat sapa...misal binik lagi cape ya laki yg nyuci baju...tar piring binik yg nyuci..bagi2 tugas lah tau diri udah ga bisa nyukupin laki nya masih menganggap dapur dan sumur tugas binik 100 persen

laki gitu enak nya di rendem di sepic tank emoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Balasan post wikowok
Quote:


Tumben pinter.
Quote:


yo sis soal nya ane sebagai orang kere bantu2 binik rumah tangga...buat ngeringanin binik...biar ga nagih ml terus ama binik ane jauhin nonton bokep,cerita2 mesum dll biar syahwat terkendali dan jarang2 minta ama binik..sangking flat nya syahwat ane kemaren binik yg minta emoticon-Ngakak
Lihat 1 balasan
Balasan post wikowok
Quote:


Too much information, dude. -.-
Quote:


Ah ngga juga kok. Saya kerja, laki saya bahkan ga perlu angkat jarinya buat ngerjain apa-apa di rumah.
.
.
.
Eh saya juga ding, kan ada mbak.



emoticon-Ngacir
Diubah oleh .hades
Balasan post cloning.ortillo
Quote:


Dia minta ijin kerja itu ane ijin kan atas ketentuan yang sama. Tidak melupakan urusan dapur sumur dan kasur. Pada saat awal menikah hingga punya anak, kami sudah membayar orang untuk urusan itu yang berat2. Dan masih terbiasa untuk ketiga hal tersebut, didapatkan dari luaran karena masih terbawa kebiasaan ketika masih sendiri sendiri.

Cari uang itu tanggung jawab pria , betull sekali. Kalo ente wanita suami ngga kerja, sungguh malang nasibmu, tapi bersabarlah.

Ane masih ijinkan istri kerja karena alasan ekonomi, dengan catatan tak boleh melupakan urusan dapur sumur dan kasur. Tapi ketika semua urusan itu harus membayar orang lagi, balik lagi ke thread. Saya mikir akan membina rumah tangga macam apa?.

Mau makan aja masih seperti anak kos, selalu ke warung beli makan. Dan melihat anak udah mulai tumbuh besar maka ane tegaskan untuk istri agar dirumahnya saja.

Tapi ngga langsung diterima, karena alasannya sayang karir lagi bagus. Dan saya tegaskan salah satu harus mengalah. Jika istri berkarir maka saya dirumah. Karena alasan berkarir istri tidak bisa saya terima.

Istri bekerja untuk menopang ekonomi keluarga, malu,? ..

Untuk apa malu? Kalo memang keadaan memang mengharuskan begitu. Walaupun jika mau mengubah gaya hidup, waktu sendiri dengan waktu sudah berkeluarga penghasilan saya cukup waktu itu.

Miskin malu ?
Bagi saya tidak malu miskin, karena sudah ditakdirkan lahir dalam kemiskinan dan kesulitan hidup ..

Yang malu bagi saya adalah jika saya berpikir miskin dan berpikir tidak mampu menghidupi keluarga.

Saya dinilai hidup susah tidak pernah merasa malu kepada siapapun, tapi saya malu kalau saya berpikir saya ini hidupnya susah. Karena terbukti semua tidak ada yang susah. Yang buntupun selalu ada jalan keluarnya dengan berdoa dan berusaha .

emoticon-Angkat Beer
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di