alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[TAMAT] Gadis Pramugari
4.9 stars - based on 59 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bc015fc54c07a212b8b4579/tamat-gadis-pramugari

Gadis Pramugari

[TAMAT] Gadis Pramugari

Alert +21 Only


Bab 1 - Gadis



"Oooohh.. Aaaaaahhh.. lenguhan itu berasal dari bibir tipisnya, disusul dengan erangan keras laki-laki itu. Aroma percintaan yang beruar diruangan kamar hotel itu semakin menambah panas percintaan keduanya, semakin meningkat di setiap gerakan hingga di satu hentakan keras membawa keduanya ke jurang yang tak bertepi, menenggelamkan keduanya jauh ke dasar paling dalam.

"Next week end schedule kamu kemana Dis?"

Pembicaraan basa basi sesudah orgasme yang seperti ini adalah jenis pembicaraan yang paling dibenci Gadis, namun ia menjawab juga dengan senyum menawan " Biasa Capt, nyerep, maklum FA 1 baru rilis, pasti dapat schedule begini sudah nggak heran"

"Kalau kamu nggak kena terbang kita ngedate ya?"

Ngedate? Huh, kalimat yang sangat halus untuk ajakan nge Fuck pikir Gadis.

"Sure Capt" jawab Gadis sambil berlalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Gadis tahu bahwa ketertarikan diantara keduanya hanyalah ketertarikan secara fisik, tanpa memerlukan percakapan untuk lebih mengenal pribadi masing-masing. Hubungan yang tidak lebih dari sebuah SEKS YANG HEBAT.

Capt Hendra hanyalah satu diantara banyak nama yang telah menjadi teman tidur Gadis di waktu day off nya.

Ya, Gadis Ginanti adalah seorang pramugari sebuah maskapai ternama di Indonesia. Karirnya di mulai ketika ia mencoba peruntungannya untuk menghadiri walk in interview di kota kelahirannya, Solo.

Berbekal paras yang cantik dengan kulit kuning langsat khasnya perempuan jawa serta kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni, Gadis berhasil lulus menjadi salah satu trainee di maskapai tersebut. Untuk mengikuti training, Gadis pun berpindah domisili ke Ibukota DKI Jakarta dimana ia hidup seorang diri di kosan nya yang sederhana.

Masa-masa training pun dijalaninya. Tidak pernah terbayangkan oleh Gadis betapa sulitnya menjadi seorang pramugari, di otaknya yang awam ia berpikir mudah untuk menjadi seorang pramugari, hanya diperlukan wajah yang cantik dan senyum yang ramah untuk melayani penumpang di pesawat.

"Aku ndak tau loh Rin ternyata menjadi Pramugari itu sulit ya Rin! Mesti belajar Aviation Knowledge, Aviation Security, Fire Fighting, Emergency Evacuation Drill, belum lagi Type Rating pesawat yang ngejelimet " Aku Gadis polos dengan logat Jawa nya yang belum tergerus kehidupan di Jakarta.

"Belum Dis, ini belum apa-apa, kata mbak ku yang sudah jadi pramugari beneran, nanti pada saat training wet drill kita akan loncat ke air dan berenang menuju perahu karet dengan membawa penumpang untuk diselamatkan,walaupun penumpangnya adalah rekan kita yang berperan menjadi penumpang disaat itu" Rini menambahkan dengan berapi-api.

"Memangnya ada Pramugari yang ndak beneran Rin? Kamu tuh ada-ada aja! tapi yang aku dengar juga begitu sih Rin. Ya sudah kita jalani aja Rin dengan sebaik-baiknya agar kita bisa cepat terbang dan menghasilkan uang" Gadis menjawab sambil memikirkan nasib ibunya di Solo.

Seorang penjual pecel pincuk yang bertekad menjadikan putrinya orang yang berpendidikan, tidak seperti dirinya yang hanya tamatan sekolah Dasar. Dinikahkan muda dan berakhir ditinggalkan suami yang kepincut perempuan lain di kota sebelah. Betapa Gadis ingin segera membahagiakan si mboknya yang malang.

"Iya Dis, aku pingin cepat terbang biar cepat ketemu pilot-pilot ganteng terus nikah dech sama salah satunya" Rini berkata dengan membayangkan pernikahan idamannya.

"Iyaa Rin, kalau aku sama kamu kan beda tujuan hidupnya, kalau kamu ingin bertemu jodoh impianmu, kalau aku kepingin cepat kirim uang buat si mbok biar ndak perlu jualan lagi dipasar Rin"

"Eh Iyaa Dis mudah-mudahkan cita-cita kita cepat tercapai yaa. Yuk kita kembali ke kelas Dis ! jangan sampai kita terlambat nanti kita bisa kena omel instruktur Inflight Service" Rini cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ketika ia melihat air mata Gadis mulai menggenang.

Sekilas percakapannya dengan Rini ketika menjadi trainee melintas dipikirannya. Gadis pun cepat-cepat menyudahi pikirannya yang melayang jauh ke masa lalu dan segera berpakaian.

Ketika Gadis keluar dari kamar mandi, ia mendapati bahwa kamar hotel itu telah kosong. Matanya terpaku melihat secarik kertas dan sepuluh lembar uang seratus ribu yang ditinggalkan di meja. Secarik kertas itu bertuliskan " I'm having a great time, I hope to see you soon - Hendra"

Lembaran uang dan kertas itu pun digenggamnya erat. Gadis bukanlah pelacur, setidaknya itulah yang selalu ia katakan dalam hati. Yang ia butuhkan bukan lah lembaran uang yang selalu ditinggalkan teman tidurnya setelah sesi percintaan mereka berakhir ataupun kenikmatan yang selalu ia dapatkan dari percintaan itu. Yang sebenarnya ia butuhkan adalah rasa yang dapat mengisi kekosongan di dalam jiwanya yang hampa.

Gadis sudah lupa kapan terakhir kali ia berdoa, mungkin berhari-hari setelah malam itu. Malam yang mengharuskan Gadis melepas satu-satunya kebanggaan dirinya, kebanggaan yang selalu ia jaga selama 20 tahun hidupnya dan ia agung-agungkan, meski Ia menyandang predikat sebagai anak janda penjual pecel pincuk yang miskin.




Bab 2 - Raka Sang Abdi Negara


"Lettu Inf Raka Wardhana, selamat bergabung di kesatuan kami"

"SIAP KOMANDAN" teriak Raka antusias

"Sekarang kamu dapat menemui Kapten Lukman untuk penugasan pertamamu"

"SIAP KOMANDAN" Raka menberikan sikap penghormatan yang tegas dengan postur tubuh yang tegap. Ia segera menemui orang yang dimaksud untuk melaksanakan tugas pertamanya sejak dipindah tugaskan dari Solo.

Ah Jakarta ... meskipun merupakan kota kelahirannya, kota ini tetap menjadi tempat yang asing bagi Raka. Raka yang dibesarkan di Solo merasa lebih sesuai dengan kehidupan disana dibandingkan dengan kota Jakarta yang keras dan modern.

Ayah Raka adalah seorang Perwira TNI Angkatan Darat. Sosok ayahnya yang tegas dan berwibawa, tidak menjadikannya sebagai seorang yang menakutkan di dalam keluarganya. Sebagai seorang ayah ia tetap melimpahkan kasih sayangnya kepada istri dan anaknya, menjadikan ia sebagai panutan hidup bagi Raka.

Raka merupakan putra pertama dari pasangan Tuan Siswanto Wicaksono dan Nyonya. Sulastri. Ia lahir di Jakarta ketika Ayahnya bertugas di kota itu, kemudian setelah berpindah-pindah kota mengikuti penugasan ayahnya akhirnya keluarga mereka menetap di Solo. Sedari kecil Raka tumbuh di lingkungan militer sehingga ia bercita-cita mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang abdi negara.

Untuk mencapai cita-citanya Raka belajar dengan giat dan tekun, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan dengan membaca di perpustakaan. Di sanalah ia melihat sosok Gadis Ginanti ... Gadis cantik yang langsung memikat hatinya dipandangan pertama.

Raka hanya berani memandang Gadis dari kejauhan tanpa berani menegurnya, berharap suatu saat akan datang kesempatan untuk berkenalan dengannya. Dan pada suatu hari, kesempatan itupun akhirnya datang juga. Ketika itu Gadis hendak mengambil salah satu buku yang berada di rak paling atas.
"Perlu bantuan untuk mengambil buku itu?" Sapa Raka malu-malu kepada Gadis.

"Oh Iya boleh ... kalau ndak merepotkan kamu" Gadis refleks menoleh dan menjawab tawaran tersebut.

"Buku yang ini ya?" " 10 Jurus jitu Belajar Bahasa Inggris dengan Mudah" Raka membaca judul buku tersebut dan menyerahkannya kepada Gadis.

"Iya benar, terima kasih" senyuman Gadis membuat jantung Raka berdebar halus.

“Hmmm... kamu suka pelajaran bahasa Inggris ya?” Raka mencoba melanjutkan percakapan dengan gadis idamannya.

“Tentu saja .. memangnya kamu tidak suka?” Gadis balik bertanya kepada Raka, tanpa menunggu jawaban Raka, Gadis pun melanjutkan “Cita-citaku menjadi seorang pramugari, jadi bahasa Inggris ku harus bagus, makanya aku harus belajar extra keras dari  siswa yang lain” senyuman Gadis makin membuat jantung Raka melompat-lompat.

“Oh begitu!” senyuman Gadis menular kepada Raka.

"Oya.. Kamu Raka kan siswa kelas 3 IPA 1?"Gadis memberikan senyuman manisnya.

"Iya benar.. kamu kok tahu?" jantung Raka berdebar makin kencang menanti jawaban Gadis.

"Waktu pemilihan OSIS, saya ikutan milih kamu untuk menjadi ketuanya" Jadi kamu menang berkat suara saya juga kan?"

Jawaban Gadis yang terdengar seperti alunan melodi indah ditelinga Raka memberikan suntikan keberanian kepada Raka untuk melanjutkan pertanyaannya.

"Nama kamu Gadis ya?”

"Oya betul ... kita belum berkenalan secara resmi ya? Raka kenalkan nama saya Gadis Ginanti" Gadis mengulurkan tangannya dan segera disambut dengan jabatan tangan Raka yang erat.

“Kamu tinggal di mana Dis? Boleh saya antar kamu pulang nanti?” Raka bertanya dengan harap-harap cemas menanti jawaban Gadis

"Boleh ... Tapi rumah saya jauh loh Raka! kamu yakin mau mengantar saya pulang?" Gadis menjawab dengan wajah berseri.

"Tentu .. tidak menjadi masalah buat saya. Saya tunggu kamu didepan gerbang sekolah yaa" jawab Raka antusias.

"Baik Raka, kalau begitu sampai bertemu lagi nanti" Gadis melambaikan tangannya, berpamitan dan pergi meninggalkan Raka.

Sejak saat itu Raka dan Gadis seperti tidak terpisahkan. Di sela waktu belajarnya Raka selalu menyempatkan diri untuk menemui Gadis. Mereka belajar bersama di perpustakaan sekolah, bersenda gurau, dan menghabiskan waktu bersama di kantin sekolah. Hampir setiap hari Raka mengantar Gadis pulang dan menghabiskan waktu bersamanya hingga akhirnya mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih.

                                ***

"Suh, Minggu depan jadi yaa nganter gw ke bandara Soetta, nggak usah naik mobil dinas, pakai mobil gw aja nanti lo pakai aja dulu di mess". Pertanyaan Adrian teman seletting Raka membuyarkan lamunan Raka tentang Gadis.

"Siap beres Suh" Raka mengangkat tangannya membuat gerakan hormat.
"Lo pake aja mobil gw, sesekali lo ajak Laras jalan-jalan naik mobil pribadi, jangan naik motor trill trus, kasian masa anak Jendral lo anter jemput pakai motor dinas, gengsi donk sama bapaknya" Adrian menambahkan kata-katanya dengan suara dengusan tertahan.

"Jadi calon istri tentara itu harus bisa prihatin Suh, hidup bersahaja. Bisa terima hidup apa adanya, siap ditempatkan dimana saja dan mendampingi suami di kala susah dan senang. Sesuai dengan singkatan TNI : Terima Nasib Ini" papar Raka panjang lebar disertai tawanya yang ringan.

"Ah, cangkem mu Suh! Lagian juga mobil bapak lo banyak kenapa juga nggak lo bawa satu dari Solo, masa dokter cantik lo anter jemput pake motor”
“Itu kan punya orangtua ku Suh, lagipula naik motor itu lebih fleksibel di Jakarta, cepat, irit dan nggak kena macet” Raka tersenyum maklum melihat keheranan Adrian mendengarkan penjelasannya.

“Untung aja muka lo lumayan ganteng Suh, makanya dokter Laras yang anak Jendral mau diajak susah sama lo! coba kaya si kipli udah muka ngepas, otak ngepas, dompet ngepas, cuma modal seragam doank, cewek-cewek jaman sekarang juga mikir - mikir dua kali buat jadi pacarnya"

"Lagi ngomongin apa Suh? kok gw denger nama gw disebut - sebut Suh" Kipli yang bernama asli Andika baru saja masuk ke ruangan dan bertanya dengan memandang Raka dan Adrian secara bergantian.
"Nggak papa suh, kita cuma muji kegantengan lo aja Suh" tambah Raka dengan senyum geli yang ditahannya.

"Ah mana mungkin!!! Telek lo Suh" Kipli tidak percaya kepada Adrian dan Raka yang memujinya, Kipli pun menambahkan‎" Mending lo traktir gw aja di kantin, uang remun telat turunnya nie!"

"Nah apa kan gw bilang, tentara ngepas gini yang bahaya, mesti dapet istri anak pengusaha biar hidup lo tenang Kipli" Adrian segera kabur karena dilempar sepatu PDL oleh Kipli.

Raka yang sudah sering melihat adegan Tom & Jerry seperti ini diantara kedua teman lettingnya segera beranjak mengikuti keduanya yang sedang berkejaran menuju kantin.

INDEX CERITA
Diubah oleh annastasia81
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 78
jajal di halaman pertama ahh.. emoticon-Smilie
emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Blue Guy Smile (S)
Diubah oleh annastasia81
good good.. again again

Bab 3 Di Atas 32.000 Kaki

"Flight Attendant, Take Off Position" mendengar Command dari Captain Gilang, Gadis pun bersiap melakukan "One Minute Silent Review". Kegiatan yang mengharuskan pramugari memusatkan konsentrasinya pada saat pesawat lepas landas. Pramugari wajib mengingat kembali secara singkat mengenai hal-hal yang berhubungan dengan evakuasi penumpang dan keadaan darurat yang mungkin terjadi pada saat itu. Karena saat kritis terjadinya kecelakaan adalah pada saat pesawat melakukan take off ataulanding, hal itu biasa disebut sebagai critical phase.

Ketika "Lampu tanda kenakan sabuk pengaman" dimatikan. Gadis sebagai FA 1 atau pramugari senior dipenerbangan itu memberikan announcement kepada penumpang untuk tetap menggunakan sabuk pengaman demi keselamatan mereka. Setelah melakukan announcement ia pun mengambil handset dan menekan tombol interphone untuk berkomunikasi dengan pilot, meminta akses masuk ke dalam flight deck.

Setelah kehadirannya di Flight Deck diketahui oleh Captain dan co pilot nya, Gadis menawarkan membuatkan minuman untuk mereka".

"Dis, saya mau minum kopi panas gula setengah krimer satu yaa" Capt Gilang yang pertama memesan jenis minuman yang dihapal Gadis sebagai minuman favorit Captain  muda itu.

"Baik Capt, kalau Mas Budi mau diambilkan minum apa mas?" Gadis menanyakan co pilot senior ber bar 3 itu dengan suara yang dibuat semenarik mungkin. Budi merupakan co pilotyang belum pernah ditidurinya, ia selalu menolak pesona Gadis, menurut desas desus dikalangan pramugari, laki-laki ini lebih tertarik kepada perempuan yang jauh lebih tua dibandingkan usianya. Ia lebih suka mengencani pramugari yang sudah menyandang status janda. Mungkin karena fetish atau mungkin karena biasanya pramugari yang sudah bercerai tidak akan menuntut macam-macam mengenai kelanjutan hubungan diantara keduanya. Cukup dengan saling memenuhi kebutuhan masing-masing secara fisik dan kenyamanan berhubungan. tanpa perlu melangkah ke jenjang yang lebih lanjut.
Setelah memberikan minuman keduanya, Gadis menempatkan diri duduk di kursi observer dan mencoba membuka pembicaraan dengan mereka.

"Bagaimana kabar Yudha, Captain? Jadi masuk ke SMP Don Bosco?".

"Iya sudah masuk Dis, uang masuknya mahal banget sekarang. Nanti kalau lo nikah, ikut KB aja Dis, anak jangan lebih dari dua, biaya pendidikan jaman sekarang mahal banget, nggak mungkin kan kita tega menyekolahkan anak kita ditempat yang biasa - biasa aja" ujar Captain Gilang yang terkenal pelit dikalangan Pramugari. Ia mendapatkan predikat Captain pelit karena ia tidak pernah sekalipun mentraktir crewnya apabila mereka sedang terbang dan menginap diluar kota. Ia selalu mencari cara untuk menghindar apabila ada ajakan pergi keluar bersama crew nya untuk mencari makanan di luar hotel mereka menginap.

Alasan Captain Gilang tidak pernah mengeluarkan uang bukan karena ia miskin tetapi karena istrinya tidak pernah memberikan uang sepeser pun.

Hal tersebut bertujuan agar suaminya tidak bermain gila dengan perempuan lain terutama dengan pramugari-pramugari yang cantik. Menurut teori istrinya, tidak akan ada pramugari yang mau dipacari oleh pilot yang tidak punya uang. Tetapi ternyata hal tersebut tidak terbukti benar seratus persen. Captain Gilang punya seribu cara untuk mematahkan teori istrinya.
Cara Pertama yang dilakukan Captain Gilang adalah dengan menyembunyikan sebagian uang Ron nya(Remain over night) di buku manual yang selalu ia simpan di lockernya yang berada di ruangan Flight Operation. Istilah dikit-dikit lama-lama menjadi bukit adalah pedoman yang ia pegang. Ia pun tidak pernah memberitahukan istrinya apabila terjadi kenaikan uang ron bagi crew. Ia hanya menyerahkan sebagian uang Ron nya agar sang istri tidak menaruh curiga.

Cara kedua adalah dengan mendekati pramugari-pramugari muda yang senang bercinta dengan Captain muda dan tampan. Ia pun meminta pramugari-pramugari itu untuk merequest schedule menyamakan schedule mereka dengannya agar mereka dapat berkencan di kamar hotel tempat mereka menginap di luar kota atau luar negeri.

Dan Captain Gilang menempuh cara kedua untuk dapat tidur dengan Gadis. Tetapi karena istri Captain Gilang yang sangat over protektif sehingga menyulitkan Captain Gilang dan Gadis untuk menyamakan schedule mereka. Sehingga percintaan mereka hanya terjadi sekali saja.

"Mas Budi Kapan nie melepas masa lanjangnya? Engga kepingin ada yang ngurus di rumah mas?" Gadis bertanya untuk memancing reaksi Budi yang dari tadi enggan ikut berbincang dan memilih untuk menyibukkan diri membaca manual.

Demi kesopanan Budi menjawab dengan cepat " Nanti saya kirimin undangan kalau saya menikah mbak"

"Kapan tuh Bud, jangan kelamaan nanti keburu lumutan tuh batang" Captain Gilang menggoda Budi yang terkesan enggan membahas masalah pribadinya

Melihat Budi yang mengacuhkan dirinya, Gadis pun akhirnya menyerah dan memilih untuk kembali ke cabin untuk mengecek keadaan penumpang.

                                ***

"Mbak Gadis, ada penumpang yang meminta obat sakit kepala kepada saya mbak. Saya kasihkan atau bagaimana mbak?" tanya Yuni, Junior Zero hour yang baru pertama kali bertugas dipenerbangan setelah lepas dari masa trainingnya.

Bertujuan mendidik Juniornya, Gadis tidak langsung mengiyakan tetapi balik bertanya kepada Yuni " Prosedurnya bagaimana Yun kalau ada penumpang yang meminta obat kepada kita?"

"Saya harus berbicara agak keras agar terdengar oleh penumpang lain, mengulang kembali permintaan penumpang tersebut" jawab Yuni yakin kemudian menambahkan " Seperti ini mbak : Apakah benar bapak meminta obat sakit kepala? Obat sakit kepala apa yang biasa bapak minum? Dan apakah sebelumnya bapak sudah mengkonsumsi obat?"
"Dan jika bapak itu sudah mengkonsumsi obat kamu jawab apa?" tanya Gadis kembali.

"Saya akan bilang : tunggu 6 jam pak setelah bapak minum obat lagi agar tidak berbahaya bagi kesehatan bapak. Dan jika bapak itu menolak, maka sebaiknya kita umumkan di cabin apakah ada dokter di pesawat untuk membantu memeriksa pasien" papar Yuni kembali menjawab pertanyaan Gadis.

"OK ...  kalau begitu lakukan prosedurnya Yun" perintah Gadis tegas.

"Baik mbak, Yuni akan tanyakan kepada penumpang tersebut dan melaporkan kembali kepada mbak Gadis" tambah Yuni

"Ok saya akan report masalah ini ke CaptainYun".

Setelah beberapa saat Yuni melaporkan bahwa penumpang tersebut belum meminum obat apapun dan menyebutkan salah satu nama obat yang biasa ia minum. Mendengar itu Gadis pun memerintahkan Yuni untuk memberikan obat yang dimaksud dan memastikan untuk mengecek terlebih dahulu tanggal expired obat tersebut.

"Mbak Gadis mau Yuni buatkan teh manis mbak?" Yuni yang baru saja selesai mengantarkan obat kepada penumpang masuk ke dalam galley dan menawarkan membuatkan minuman untuk seniornya yang terkenal karena kepintaran dan kecantikannya di maskapai ini.
"Tidak terima kasih Yun, kalau kamu mau buat aja Yun, boleh minum juice juga kok, jangan malu-malu yaa" Selain cantik Gadis juga terkenal sebagai senior angel, yang selalu baik dan tidak rese kepada junior-juniornya selama mereka menjalankan pekerjaannya secara profesional".

"Yuni mau buat kopi saja mbak" Yuni mengambil kopi sachet dari dalam handbag nya.

Aroma kopi segera menyeruak di galley itu.

"Hehehe... Kamu bawa kopi sendiri ya, kamu minum kopi setiap hari Yun?"

"Tidak setiap hari mbak, malahan dulunya aku nggak suka ngopi, tapi sejak training aku jadi kecanduan ngopi mbak biar nggak ngantuk di kelas".

"Hahaha... Iyaa aku ngerti banget, apalagi kalau besoknya ada ujian, malamnya pasti kita nggak tidur karena belajar semalaman".

"Tapi tadi malam kamu tidur cukup kan Yun?".

"Sebenarnya tadi malam aku nggak bisa tidur mbak, nervous karena  first flight, untungnya waktu kenalan sama mbak dan crew yang lain di flight operasional room (FLOP) aku mulai tenang mbak karena crew aku ternyata baik-baik mbak, nggak seperti cerita senior-senior di tempat training".

"Yun ... Semua orang pada dasarnya baik, mungkin pola pengajaran dan pengarahan di lapangannya saja yang kadang berbeda, sehingga ada istilah senior angel, killer, bully, laknat lah. Tapi kamu ingat saja satu hal, kita tidak bisa merubah orang lain yang bisa kita rubah yaa diri kita sendiri. Jadi kalau kamu profesional dan kompeten, aku rasa semua senior akan menjadi senior angel untuk kamu".

"Iya mbak terima kasih nasehatnya mbak, memang awalnya Yuni gugup banget mbak karena first flight tapi setelah dijalani, Yuni suka sekali mbak jadi pramugari".

"Iya Yun, apalagi nanti kalau kamu cuti terus lama nggak terbang, pasti kamu kangen banget terbang. Kata crew terbang itu seperti candu, kalau kebanyakan dosisnya bisa mati kalau terlalu sedikit atau jarang bisa ketagihan hehehe..."

"Kayanya Yuni nggak papa deh mbak kelebihan dosis karena kan makin kita banyak terbang uang kita juga makin banyak mbak, soalnya Yuni pingin nabung buat beli rumah. Keluarga Yuni masih tinggal di rumah kontrakan mbak".

"Iya mbak doakan supaya mimpi kamu cepat tercapai amiiinn...".

"Amiiinnnn...".

"Yun kita cek kabin dulu yuk, kita sudah mau landing nih".

"Baik mbak".

                                   ***

"Terima kasih atas kerjasamanya sehingga penerbangan ini dapat berjalan dengan baik. Apakah ada complaint atau compliment dari penumpang Gadis?" tanya Captain Gilang kepada Gadis selaku senior pramugari pada penerbangan itu.

"Tidak ada complaint Captain, tetapi kita mendapatkan compliment tertulis untuk Yuni karena telah membantu penumpang yang menderita sakit kepala, seperti yang sudah saya report tadi pada saat penerbangan Capt" Gadis berkata seraya memberikan surat compliment yang dimaksud olehnya tadi.

"Ok Good Job Yuni.." Captain Gilang menatap Yuni dan memberikan tanda Ok dengan tangannya sebagai pujian langsung kepada Yuni. Kemudian ia menoleh kepada Gadis " Dis kamu yang pimpin doa yaa".

"Baik rekan-rekan sekalian, mari kita berdoa bersyukur kepada Allah karena telah diberikan penerbangan yang lancar dan telah selamat sampai ke tujuan".

"Amiiinn" seru crew Captain Gilang serempak menutup doa mereka.

Seluruh crew pun menarik koper mereka turun dari pesawat dan menuju mobil jemputan maskapai yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Ketika Gadis hendak menaikkan kopernya ke mobil jemputan, suara sapaan ragu-ragu terdengar "Dis???"

                                ***
lanjutkan donks emoticon-Angkat Beer
Ini reborn ya? Kemarin kaya liat tapi gak dilanjut lagi emoticon-Smilie
Balasan post mikagamilo
Ane Newbie belum pernah nge-post di sini Gan
BAB 4 – GADIS DAN RAKA

Ketika Gadis hendak menaikkan kopernya ke mobil, suara laki-laki menyapanya dengan ragu-ragu "Dis???”

Seketika itu Gadis mengurungkan niatnya menaruh koper ke dalam mobil dan menoleh ke arah sumber suara itu.

“Apakah itu benar kamu ... Gadis? Gadis Ginanti???"

"Mas Raka?" wajah Gadis memucat seketika melihat Raka di tempat itu dan ia refleks mengepalkan jemari tangannya, menutupi kegelisahan yang tiba-tiba melandanya.

"Dis, benar ini kamu kan? selama ini kamu kemana Dis? kenapa kamu menghilang?

kenapa ibumu bilang kalau kamu jadi TKW ke Arab?" serentetan pertanyaan diajukan Raka dengan cepat.

Gadis menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Ia pergi menghampiri supirnya dan meminta maaf.

"Pak Toni, mohon maaf yaa, saya tidak jadi pulang pak. Nanti saya pulang sendiri saja pak, maaf merepotkan bapak yaa"

Gadis meminta supir maskapainya untuk segera meninggalkan tempat itu agar tidak mencuri dengar pembicaraannya dengan Raka, karena gosip dari supir airlines mengalahkan gosip di berita entertainment, makin digosok makin sip. Makin ditambah bumbunya makin meluas beritanya.

"Maaf mas Raka, sebaiknya kita bicara ditempat lain saja yaa, aku pakai baju seragam nggak enak kalau di tempat umum begini dilihatnya" bujuk Gadis kepada Raka untuk membawanya ke tempat yang lebih tertutup.

"Kita ke mobil" tanpa menunggu jawaban Gadis, Raka meraih pegangan koper Gadis dan menariknya cepat, tidak sabar untuk segera tiba di mobil.

Di dalam mobil keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Seolah dengan menambah kecepatan dapat membuat pikiran Raka tenang, ia membawa mobil itu membelah jalan tol dengan kecepatan tinggi dan membawa mereka ke pusat Jakarta.

"Aku anter kamu pulang, kamu tinggal dimana?" Raka lebih dulu memecahkan kesunyian diantara mereka.

"Sudirman Hill" Gadis menyebutkan salah satu nama apartemen mewah di kawasan Sudirman.

Mereka masuk ke kawasan apartemen yang mewah itu dan Raka segera memarkirkan mobilnya di basement. Ia membuka pintu mobil dan membantu Gadis mengeluarkan kopernya dari bagasi, kemudian berjalan mengikuti Gadis menuju lift.

Tidak ada percakapan yang terlontar ketika mereka berada di lift menuju unit apartemen Gadis. Gadis mempersilahkan Raka untuk masuk dan duduk di sofa, sementara ia masuk ke kamar tidur untuk mengganti baju seragamnya.

Raka berkeliling mengamati apartemen Gadis yang jauh dari kesan sederhana. Apartemen mewah dengan dua kamar tidur itu didominasi dengan warna putih gading dan abu-abu, Warna favorit Gadis batin Raka. Ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang tamu dilengkapi dengan sofa besar yang nyaman untuk diduduki. Tidak ada satupun foto atau hiasan yang terpajang di dinding. Hanya terdapat satu TV LED yang terpasang di dinding, menutupi kekosongan di dinding tersebut.

Ruangan itu tampak kosong meskipun dilengkapi dengan furnitur mahal dan berkualitas. Sekosong tatapan Gadis ketika berjalan bersama Raka menuju apartemennya.

Dada Raka berdebar kencang ketika ia melihat seorang perempuan yang ia yakini sebagai Gadis, memakai seragam pramugari di parkiran bandara. Menahan emosi yang berkecambuk didadanya, Raka segera menahan Gadis itu untuk berlalu pergi. Dan di sinilah ia sekarang menunggu gadis itu memberikan penjelasan, mengapa ia menghancurkan hati Raka bertahun-tahun lalu dengan menghilang dan meninggalkannya tanpa jejak.

Gadis keluar dengan menggunakan baju terusan tanpa lengan berwarna hijau toska yang membuat kulit wajahnya tampak lebih cerah dari yang diingat Raka.

"Kamu mau minum apa mas?" tanya Gadis mengalihkan tatapan Raka dari wajahnya.

"Air putih saja, terima kasih" Raka menatap kembali Gadis yang sedang menyiapkan minumannya.

Jantung Raka makin berdegup kencang, seperti saat pertama kali mereka bertemu di perpustakaan sekolah. Gadis yang ia tatap sekarang adalah Gadis yang selalu hadir mengusik mimpinya. Gadis yang semakin cantik, rambutnya bertambah panjang, rambutnya yang dahulu berwarna hitam alami sekarang berganti warna menjadi coklat terang dan terkesan lebih modern. Pembawaan Gadis yang semakin tenang semakin membuat Raka gelisah menanti kedatangannya di sofa ini.

"Silahkan diminum mas" Gadis menyerahkan gelas yang berisi air putih.

Untuk menghilangkan kegelisahannya Raka meneguk air tersebut sampai habis, melupakan tata krama jawanya untuk menyisakan sedikit minuman yang disuguhkan oleh tuan rumah.

"Mau saya tambahkan lagi mas?" melihat gelas Raka yang kosong, Gadis kembali menawarkan minuman kepada tamunya.

"Tidak terima kasih" tolak Raka halus.

Dan kembali keheningan diantaranya tercipta.

"Sekarang Mas Raka tugas dimana?" kali ini Gadis yang mencoba mencairkan suasana hening diantara mereka.

"Saya bertugas di Gambir. Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi Dis?" tukas Raka cepat dan tidak sabar.

“Pertanyaan? Ooo ... maksud mas Raka pertanyaan yang tadi di parkiran bandara?" Gadis menjawab pertanyaan Raka diikuti oleh senyum yang terlihat dipaksakan.

Dengan menatap wajah Raka, Gadis meminta maaf kepadanya.

"Saya mohon maaf apabila mas Raka tersinggung dengan tindakan saya, saya yang minta ibu saya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun dimana saya berada. Saya ingin mengejar karir dan mimpi saya mas"

Raka menatap Gadis itu lekat, mencoba mencari kebohongan dikedua matanya.

Raka tidak menemukan kebohongan disana, Gadis yang sudah piawai berbohong berhasil membuat Raka percaya akan setiap perkataan yang ia katakan.

"Karena karir kamu meninggalkanku...." batin Raka berteriak, namun kalimat itu urung dikeluarkan olehnya. Ia memilih melanjutkan pertanyaannya.

"Jadi sekarang mimpi kamu sudah tercapai?" Raka mencoba menekan emosinya sehingga kalimatnya terdengar lirih bergetar.

Mencoba mengabaikan tatapan mata Raka yang terlihat menyedihkan, Gadis berkata dengan lugas "Ya seperti kamu lihat... kehidupan saya sekarang lebih baik dibandingkan ketika di Solo"

Mencoba menekan rasa kecewanya, Raka kemudian berdiri dan berniat untuk pamit. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Gadis mengulurkan tangannya, seketika itu juga Raka menarik tubuhnya mendekat dan memeluknya erat.

"Tolong tetaplah seperti ini, walau hanya beberapa menit saja" pinta Raka dan ia semakin mengetatkan pelukannya. Entah apa yang membuat ia menarik Gadis ke dalam pelukannya, mungkin karena kerinduan yang menyesakkan hatinya membuat otaknya jadi kacau. Kehangatan tubuh Gadis membuat jantungnya berdebar kencang dan membuat ia merasa dadanya akan pecah. Harum aroma Gadis membuat Raka semakin terlena dan menenggelamkan wajahnya di rambut Gadis. Melepaskan kerinduan yang selama ini dipendamnya.

"Maaf mas Raka, tapi aku tidak bisa mas!" kalimat bernada penolakan yang dilontarkan Gadis membuat kesadaran Raka kembali timbul.

"Maaf... maafkan aku yang lepas kendali Dis. Sekali lagi maafkan aku! aku mohon agar kamu tidak marah" seperti orang yang kebingungan Raka meminta maaf dan melepaskan pelukannya. Ia menyesali tindakan kurang ajarnya. Ia dan Gadis sudah tidak lagi berhubungan, jadi ia tidak lagi berhak melakukan perbuatan itu. Namun kerinduannya membuat akal sehatnya mati.

Setelah berhasil menguasai dirinya, Raka bertanya dengan suara lirih "Tapi bisakah kita tetap berteman Dis?" melihat tatapan Raka yang penuh harap, Gadis pun tidak sampai hati menolak permintaan itu. Dan dengan berat hati Raka pamit pulang dan sekali lagi mengulangi permintaan maafnya.

***


"Gadis ... batas tipis antara nyata dan fantasiku"

Selama perjalanan menuju mess-nya Raka seolah tidak percaya telah menemukan Gadis kembali. Memang benar katanya bertemu dengan seseorang dari masa lalu itu lebih menakutkan daripada hantu. Bahagia, lega dan bingung bercampur dibenak Raka sekarang. Bahagia karena dapat bertemu kembali kepada gadis kecintaannya itu, lega karena tahu meskipun Gadis menolaknya tapi Gadis dalam keadaan yang jauh lebih baik dari keadaannya dulu. Dan bingung karena keadaannya yang tidak seperti dulu, dengan bebas dapat melepaskan kerinduannya.

Hatinya ingin sekali memperjuangkan kembali cintanya yang telah kembali itu, tetapi Gadis secara jelas telah menolaknya. Setelah sekian lama berpisah, sangat tidak mungkin jika Gadis tidak memiliki seseorang dihidupnya. Seperti Raka yang telah bersama Laras saat ini, meskipun jika Gadis tidak menolaknya tadi maka tanpa ragu Raka akan segera memutuskan hubungannya dengan Laras.

***
Diubah oleh annastasia81
ikut nyimak

Bab 5 - Pahitnya Kenyataan

Raka mungkin akan sangat terkejut apabila mengetahui efek dari pelukannya begitu meluluhkan hati gadis. Dengan berat hati Gadis menolak pelukan hangat dari pria yang sangat dirindukannya itu.

Bahkan tangannya tampak gemetar ketika menutup pintu apartemennya. Jantungnya berdetak kencang dan lututnya terasa lemas sehingga ia harus bersandar dibalik pintu.

"Raka tidak boleh tahu. Aku harus menjauhinya, aku sudah berjanji" bibir Gadis bergumam pelan memastikan kata-katanya tertanam kuat dibenaknya.

Gadis masuk ke dalam kamarnya, ia butuh berbaring menidurkan otaknya, mengendurkan syaraf - syarafnya yang tegang karena dipaksa berpikir terlalu keras. Ia terbangun ketika hari telah berganti malam. Kepalanya masih terasa berat, ia bangun dan mengambil aspirin di atas nakas untuk meredakan sakit kepalanya. Suara alarm dari telepon genggamnya berbunyi nyaring meminta untuk dimatikan. Ia meraih telepon genggamnya, mematikan alarm dan melihat 5 pesan yang masuk dan belum terbaca. Pesan dari Raka yang berisi permintaan maaf yang diulang-ulang.

"Aku harap kamu nggak marah Dis, maafin aku - Raka"

"Dis ... aku minta maaf, maafin aku"

“Dis, maafkan aku yang bodoh ini, aku benar-benar minta maaf”

"Dis.. Aku nggak maksud kurang ajar sama kamu, maafin aku Dis"

"Dis .. sekali lagi aku minta maaf, tolong jangan benci aku Dis"

Setelah membaca kata-kata penyesalan dari Raka, Gadis menaruh telepon genggamnya disampingnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, termenung sambil menatap langit-langit kamarnya dengan mata nanar.

Kemudian ia bergumam sendiri "Ah Raka betapa tragis kisah kita" Kisah lama itu kembali membayanginya.

"Kamu Gadis? teman dekatnya Raka?"

"Saya Ny. Sulastri, ibunda Raka"

Siang itu Ibunda Raka mengunjungi Gadis di rumahnya, berbekal alamat yang diberikan oleh Kepala Sekolah Raka yang merupakan teman satu sekolah ayah Raka dulu di SMA.

Ibunda Raka memperhatikan sekeliling rumah Gadis. Rumah tua yang sudah reyot itu berada di perkampungan kumuh. Dengan dinding-dinding yang catnya sudah mengelupas, dan pintu kayu yang sudah termakan rayap dan usia, membuat Ny Sulastri semakin mantap dengan kedatangannya.

"Iya ibu, saya Gadis bu" Gadis yang merasa terkejut atas kunjungan tiba-tiba Ibunda Raka menjawab dengan gugup.

"Silahkan masuk bu” Ny Sulastri mengikuti Gadis masuk ke dalam rumahnya.

“Silahkan duduk, ibu mau minum apa? Biar Gadis ambilkan dahulu" Gadis berusaha menenangkan dirinya dan tersenyum mengusir kegugupannya.

Ny. Sulastri, ibunda Raka menatap Gadis dengan tatapan menyeluruh.
Sekilas gadis itu tampak biasa-biasa saja pikirnya, seperti gadis Jawa pada umumnya. Wajahnya ayu, bermata bulat dan berkulit kuning langsat.Tetapi ada sesuatu didalam diri Gadis yang membuat semua orang terpesona dengan senyumannya yang manis dan tutur katanya yang hangat membuat Ny. Sulastri melembutkan suaranya.

"Tidak perlu repot-repot nak Gadis, ibu hanya ingin menyampaikan sesuatu"

Ny. Sulastri segera menahan Gadis yang hendak beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman untuknya dan ia pun segera melanjutkan maksud dan tujuannya datang menemui gadis itu.

"Nak Gadis, ibu mohon maaf sebelumnya apabila perkataan ibu ini membuat nak Gadis tersinggung atau kecewa. Tetapi Ibu harus memberitahukan ini kepada nak Gadis"

Mendengar nada suara Ny. Sulastri yang serius, senyuman di wajah Gadis perlahan menghilang dan berganti dengan ekspresi yang serius.

"Iya Bu, silahkan jika ada yang ingin ibu sampaikan kepada saya, insyallah saya dengan lapang dada akan menerimanya" Gadis menjawab ibunda Raka dengan suara lirih.

"Putus lah dengan Raka !!! Ibu mohon agar nak Gadis menjauhi Raka dan ibu minta agar pembicaraan kita ini tidak diketahui Raka"

"Kalau boleh saya tahu alasan ibu meminta kami putus karena apa Bu?" Jawab Gadis dengan air mata yang tertahan.

Dengan berat hati Sulastri mengutarakan hatinya. " Kamu gadis yang cantik dan baik namun... kami, saya dan ayahnya Raka berpendapat kamu tidak cocok menjadi calon menantu kami"

Gadis tahu maksud dari penolakan orang tua Raka. Bibit bobot bebet yang baik merupakan hal yang penting bagi orang Jawa dalam mencari calon menantu dan Gadis tidak memiliki itu. Sampai matipun ia tidak akan memiliki itu. Ia sadar diri, dirinya hanyalah anak dari janda miskin penjual pecel pincuk di pasar, jika dibandingkan dengan keluarga Raka yang berasal dari keluarga berada sangatlah timpang keadaannya. Apalagi dirinya yang hanya tamatan SMA dan belum bisa melanjutkan kuliah karena alasan biaya jika dibandingkan dengan Raka yang sedang menempuh pendidikan di akademi militer di Magelang makin membuat perbedaan mereka terlalu mencolok. Orang tua mana yang menginginkan calon menantu seperti dirinya, ditambah ayahnya yang tidak jelas keberadaannya sekarang.
Gadis yang merasa sakit hati karena merasa direndahkan berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia menguatkan hatinya, memandang Ny. Sulastri dengan lekat dan berkata dengan suara lirih" Baik Bu saya mengerti, saya berjanji saya akan menghilang dari hidup mas Raka"

"Terima kasih nak, ibu mohon agar kamu tidak memberitahukan Raka mengenai pembicaraan kita ini" Ny Sulastri mengenggam kedua tangan Gadis dengan erat, seolah meminta pengertian Gadis mengenai keputusan yang diambilnya.

Dan Gadis menepati janjinya. Ia menghilang dari Raka ketika berhasil lolos seleksi menjadi pramugari dan pindah ke Jakarta, ia segera mengganti nomer teleponnya dan meminta ibunya untuk berbohong kepada Raka mengatakan ia pergi merantau ke Arab Saudi untuk menjadi seorang TKW.
Raka yang tidak percaya bahwa Gadis secara tiba-tiba menghilang dari hidupnya, mencoba mencari Gadis melalui teman-teman dekatnya namun tidak satupun dari temannya yangmengetahui keberadaan Gadis. seolah perempuan yang bernama Gadis itu hilang ditelan bumi, tanpa bekas dan tanpa jejak.

Gadis mencoba melupakan Raka, cinta pertamanya yang kandas di tengah jalan. Ia bertekad untuk memulai hidup baru. Gadis bekerja keras melebihi siapapun, mengikuti training dengan sungguh-sungguh, menyimak semua penjelasan instruktur yang mengajarkan materi-materi baru yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia merasa memiliki tujuan hidup baru, mengejar mimpinya hingga berhasil lulus dan menjadi seorang pramugari. Agar tidak ada lagi orang yang akan merendahkan dirinya.

Hingga hidup kembali mempertemukannya dengan Raka. Menorehkan kembali luka lama yang coba dihapus Gadis dari ingatannya. Bukan karena kata-kata ibunda Raka di masa lalu, tetapi karena kenyataan memang tidak akan bisa dirubah.

                           
    ***
Diubah oleh annastasia81

Bab 6 - Masih Ada pramugari Baik-Baik

"Mbak Gadis, mba aku lagi butuh uang nich buat bayar cicilan mobil aku".  Angel pramugari junior berusia 20 tahun, berperawakan tinggi dan langsing dengan kulit putih dan berwajah oriental. Ia terkenal pandai membidik laki-laki berduit meski hanya dengan melihat penampilan luarnya.

"Mbak ... aku mau cari penumpang kaya aja ah, mau ku ajak tidur buat bayarin cicilan mobil aku" Gadis hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah juniornya yang akan segera menjalankan misinya di penerbangannya ini.

"Tapi jangan sampai buat skandal yaa dipenerbangan ini! Hati-hati dan jangan buat gw repot" tambah Gadis mengingatkan.

Berdasarkan pengalaman Gadis bertahun-tahun menjadi seorang pramugari, sangatlah sulit mengarahkan junior-juniornya yang masih sangat muda dan labil untuk bertindak sesuai dengan arahannya. Ia harus menjadi seorang teman untuk dapat mengerti dan memahami merekasehingga dapat bekerja sama dengan baik sebagai satu tim. Meski kadang sikap dan tingkah laku mereka yang kadang impulsif harus dapat ditaklukkan oleh Gadis sehingga tidak menyebabkan skandal dalam sebuah penerbangan.

Seperti misalnya aksi Angel yang telah sukses mendapatkan mangsanya. Seorang penumpang setengah baya dengan perut buncit dan berwajah oriental yang sudah bertukar nomer telepon dengannya dan sudah menyepakati untuk berkencan malam ini, setelah pesawat mereka mendarat nanti.

"Mbak Gadis ...” Angel menari-nari dengan senang dan merangkul pundak seniornya itu “aku sudah dapat mbak, penumpang no 3 D, nanti malam dia mau check in di hotel kita. Aku minta 5 juta buat bayar mobil kata dia ok nanti dibantu" Angel tersenyum lebar membayangkan salah satu masalah keuangannya akan segera terselesaikan.

"Hati - hati loh ya, jangan mau di rekam, trus lo pastiin dia pakai pengaman". Gadis kembali mengingatkan.

"Iya tenang aja mbak, aku kan bukan anak perawan kemarin sore hehehe.." Angel tertawa seakan tindakan Gadis mengingatkannya adalah suatu hal yang sangat konyol, mengingat dia adalah seorang yang pro dibidang ini.

"Ya, gw nggak mau aja ada pramugari viral, apalagi dari maskapai kita. Image kita yang sudah jelek di masyarakat nanti tambah jelek lagi". Gadis tidak ingin masyarakat memandang jelek terhadap profesinya, karena tidak semua pramugari seperti dia atau Angel. Masih banyak pramugari baik-baik yang masih menjunjung tinggi adat timur dengan menjaga keperawanan mereka untuk suaminya kelak. Bukan salah diprofesinya tetapi orang yang memilih melakukannya, pikir Gadis dalam hati.

Ia ingat ketika ia masih junior dan masih perawan, ia terbang dengan Captain Abdul yang terkenal sangat playboy. Gadis merasa sangat gugup ketika diminta untuk datang ke flight deck untuk memberikan minum kepada Captain Abdul. Tangannya berkeringat dan gemetar ketika ia memberikan minuman yang diminta Captain playboy itu.

"Ini first flight kamu sama saya ya?" Suara Captain Abdul yang serak dan terdengar kasar makin membuat kegugupan Gadis bertambah. Gadis pun menautkan jari jemarinya dan memainkannya, terlihat makin gelisah. Captain Abdul yang terus memandanginya, mengetahui kegelisahan pramugari cantik di depannya, ia melanjutkan pertanyaannya "Sudah pernah berciuman di atas 34.000 kaki belum?"

Gadis yang sudah mendengar tentang reputasi Captain Abdul semakin gelisah dan berkeringat mendengar ucapan tersebut. Semua doa ia rapalkan dalam hati dan mencoba mengingat-ingat trik yang diajarkan oleh salah satu seniornya mengenai cara menghindar dari pilot-pilot genit dan situasi seperti ini.

Berusaha bersikap tenang Gadis menjawab dengan percaya diri "Belum Captain, tapi maaf terima kasih"

"Terima kasih apa? maaf apa? Memangnya saya nawarin kamu?" Kekehnya senang karena merasa berhasil mem-bully pramugari baru.

"Terima kasih karena sudah bertanya dan maaf karena saya belum pernah" lanjut Gadis berusaha menjawab dengan penuh keberanian.

Mendengar jawaban Gadis, co-pilot Rahmat yang sejak tadi hanya menyimak saja tidak dapat menahan dirinya untuk tertawa. Merasa kesal ditertawakan, Captain Abdul bangkit dan berdiri dari seat nya "Minggir, saya mau ke lavatory, nanti gw cium baru tahu rasa lo. You take control Mat, jangan kebanyakan ketawa nanti gigi lo kering"

                               ***
Diubah oleh annastasia81
Njejak sek emoticon-Big Grin
bangun rumah dulu
Gelar tiker dulu
jejak dulu yaa...
lanjut gan emoticon-Ultah
subscribe dl ama rate 5

BAB 7- PEGUNUNGAN DAN PANTAI

“Mas Raka... Mas... Mas Raka.. Mas!!"

"Eh iyaa dek, ada apa? maaf ya dek, mas lagi memikirkan pekerjaan!"

Panggilan Laras membuyarkan pikiran Raka tentang Gadis. Sejak pertemuan mereka, tidak satu detik pun Raka berhenti memikirkan Gadis, meski kini ia sedang bersama kekasihnya.

"Tadi aku bilang ... Bapak nanyain Mas Raka, kata Bapak tumben Mas Raka jarang ke rumah akhir-akhir ini. Aku bilang mas lagi sibuk sama kerjaan kantor" Laras yang merasa akhir-akhir ini Raka bersikap lain dari biasanya mencoba menutupi kejanggalan sikap Raka di depan ayahnya.

"Iya dek terima kasih atas pengertianmu, karena jabatan yang baru aku pegang membuat pekerjaanku menumpuk, aku harap kamu sabar ya dek" Raka meraih tangan Laras dan menggenggamnya mencoba meyakinkan pernyataannya.

Raka menekan perasaan bersalahnya kepada Laras. Laras yang selalu ada untuknya, wanita yang mengobati hatinya yang luka karena ditinggalkan Gadis. Dan kini ketika Gadis kembali hadir kekehidupannya, Raka dipenuhi rasa bersalah karena merasa tidak mencintai Laras dengan cukup, sehingga hati dan pikirannya dipenuhi oleh bayangan Gadis.

Raka ingat pertama kali berkenalan dengan Laras, seorang perempuan cantik yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. Pada saat itu Raka baru saja menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer dan ditempatkan di Solo. Lettu Sitanggang, Senior Raka yang memiliki kekasih bernama Elizabeth bermaksud menjodohkan Raka dengan sahabat Elizabeth.

"Sudah Adek asuh, kau mau saja kujodohkan sama sahabatnya pacarku. Namanya Laras, calon dokter, cantik dan seiman dengan kau"

"Sudah kau lupakan saja pacar SMA mu itu yang tidak tahu rimbanya?" dengan logat Sumatera Lettu Sitanggang berusaha membujuk Raka yang sedang patah hati untuk membuka dirinya kepada Laras.

" Besok kau pakai pakaian dinas saja, cewek-cewek paling suka lihat pria berseragam"

"Ah Abang ini memangnya kita mau ngadep komandan pakai seragam segala!" Raka yang sebenarnya enggan berkenalan dengan Laras menolak saran seniornya untuk memakai seragam di waktu liburnya.

Di rumah Elizabeth lah Raka datang menemui Laras. Seorang perempuan cantik dengan pemikiran modern, cerdas dan santun. Jika saja hati Raka belum dimiliki sepenuhnya oleh Gadis maka Raka akan dengan senang hati memberikan seluruh hatinya untuk perempuan dihadapannya itu.

Laras lah yang berinisiatif meminta nomer Raka dan selalu menelepon disetiap kesempatan. Memberikan perhatian dan dukungan bagi Raka. Sehingga hubungan mereka menjadi dekat dan perlahan membuat Raka melupakan Gadis.

Hari-hari yang dilalui Raka bersama Laras sangatlah damai, ibaratnya Laras adalah sejuknya udara pegunungan. Laras yang pengertian membuat hubungan mereka harmonis tanpa ada pertikaian. Tanpa ada gejolak emosi cemburu dan amarah, yang ada hanya rasa kasih dan pengertian.

Jika Laras adalah pegunungan maka Gadis adalah Pantai bagi Raka. Selalu panas menggulung hatinya baik saat bersama maupun jika berjauhan. Selalu ada panas cemburu membakar Raka apabila melihat Gadis dekat dengan laki-laki lain. Ataupun rasa rindu yang membara bagaikan panasnya tengah hari di pantai.

Ketika Gadis menghilang, sosok Laras mampu menyejukkan hati Raka yang terbakar rindu dan kehilangan. Mengobati lukanya dengan perlahan dan penuh kasih. Membangun kedekatan mereka menjadi sebuah hubungan yang harmonis.

Namun meskipun hubungan mereka sudah berjalan lama, Raka enggan menceritakan tentang Gadis kepada Laras. Bagi Raka, Gadis akan selalu menjadi sebuah elegi, kisah yang akan selalu ia simpan rapat-rapat di hatinya. Gadis merupakan luka sekaligus candunya. Tanpa Gadis, Raka seolah sampan yang hilang arah, tanpa tujuan dan hanya berlayar mengikuti riak sungai, hingga tiba di muara bernama Laras.

Raka menghentikan lamunannya dan kembali meraih tangan Laras dan mengenggamnya erat "Mas janji mas akan segera menyelesaikan pekerjaan mas, sehingga Adek tidak akan merasa dinomor dua kan lagi". Raka berjanji didalam hatinya bahwa ia akan melupakan Gadis dari hati dan pikirannya.

Raka mencurahkan pikirannya untuk melupakan Gadis dengan bekerja dan disetiap kesempatan Raka berusaha untuk menemui Laras, menjalin kembali hubungan yang sempat renggang karena kehadiran Gadis diantara mereka. Hingga kemudian hidup Raka kembali lagi bersinggungan dengan Gadis.

***

Malam itu telepon genggam Raka berbunyi dan terdengar salam dari lawan bicaranya. Dengan tutur halus ia menjawab ibundanya di seberang sana.

"Iya Bu ... Raka jadi pulang besok dengan penerbangan pertama ke Solo"
"Ndak Bu ... Laras ndak bisa ikut karena belum bisa cuti!"

"Baik Bu"

Raka mengakhiri pembicaraannya dengan ibundanya di telepon dan berjalan ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke Solo esok hari.

***

Pagi hari itu langit terlihat cerah, Bandara Soekarno Hatta dipenuhi oleh penumpang yang sedang boarding menuju pesawat yang akan mengantarkan mereka ke kota tujuannya.

"Mbak Gadis, penumpangnya masih kurang satu ya?" Mas Irwan petugas ground handling melapor kepada Gadis setelah selesai melakukan cross check penghitungan jumlah penumpang.
"Tapi orangnya sudah check in belum mas ?" Tanya Gadis kepada petugas ground handling itu di depan pintu pesawat.

"Sudah mbak, sudah saya umumkan juga, mungkin lagi ngopi atau ke kamar kecil mba. Kita tunggu 5 menit saja mbak, saya sudah info Captain juga kok"

"Oh ... Itu dia penumpangnya mbak !"mas Irwan berseru senang karena tugasnya hampir berakhir.
Terlihat seorang laki-laki yang sangat dikenal Gadis sedang berlari di garbarata menuju ke arahnya.

"Mas Raka?" Mata Gadis membulat sempurna, terkejut melihat penumpang yang ditunggunya.

"Mbak Gadis kenal dengan penumpang itu" tanya mas Irwan dengan penuh ingin tahu.

"Eh iya teman saya mas" Gadis menjawab dengan cepat menghindari pertanyaan lanjutan dari mas Irwan.
Raka terkejut melihat Gadis, nafasnya yang belum pulih sehabis berlari bertambah sesak sehingga ia mengira akan terkena serangan jantung.

"Silahkan masuk mas, pesawat kita akan segera berangkat" Gadis mempersilahkan Raka untuk masuk ke dalam kabin dan meminta boarding pass untuk melihat nomer kursinya.
"Mas duduk di kursi 2 C di kabin depan kelas bisnis" Gadis mengembalikan boarding pass Raka dan tanpa sengaja jarinya menyentuh tangan Raka. Dan seolah ada sengatan listrik di antara keduanya membuat mereka langsung memisahkan diri dengan cepat.

Raka menyimpan kopernya di lugage bin dan Gadis mulai membacakan welcome announcement, sambutan selamat datang bagi para penumpang.
Selama penerbangan Raka mencoba untuk tidur dan melupakan bahwa Gadis berada sangat dekat dengannya. Harum tubuh Gadis yang berjalan melewatinya, tercium sangat jelas seolah - olah ia adalah anjing pelacak yang sedang mengintai buruannya. Ia menginginkan Gadis, sangat menginginkannya. Ia merasakan bara menyala dalam dirinya dan ia merasa gelisah. Ia tahu ia telah berjanji kepada Laras untuk melupakan Gadis, walau janji yang dia ucapkan sendiri dalam hati. Tetapi melihat Gadis yang sangat dekat dengannya membuat otaknya kembali kacau.

Merasa percuma dengan kepura - puraannya, Raka pun mengambil inflight magazine dan mulai membacanya. Tidak lama kemudian ia melihat Gadis mulai menawarkan makanan dan minuman kepada para penumpang yang juga berada di kelas bisnis. Gadis sangat cantik. Masih sama seperti Gadis yang dulu dikenalnya tetapi wajahnya tampak lebih dewasa ditambah dengan tatanan rambut croissant khas pramugari dan seragam yang melekat pas ditubuhnya yang indah.

Melihat Raka sedang memandanginya, Gadis berjalan ke arahnya dan menawarinya makanan dan minuman yang disediakan di penerbangan bisnis. Raka yang merasa tidak lapar hanya meminta segelas kopi.

5 menit kemudian Gadis membawakannya kopi hitam tanpa gula kesukaan Raka. " Ah ternyata ia masih ingat" pikirnya.

Raka menerima kopi tersebut dan mulai meminumnya. Ia mengalihkan pikirannya dari Gadis dengan mencoba melihat sekelilingnya. Kelas bisnis yang hanya ditempati oleh 6 orang penumpang dari 12 kursi yang tersedia membuat suasana kabin itu tampak lenggang. 3 penumpang di kelas itu adalah sebuah keluarga yang sedang berpergian bersama dan sedangkan 2 orang lainnya adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Pandangan Raka terpaku pada keduanya yang saling berpelukan, laki-lakinya mencuri kecupan dari kekasihnya, perempuan itu tersipu malu karena terlihat orang. Melihat kemesraan diantara keduanya, Raka kembali mengingat Gadis dan kenangan bahagia bersamanya. Mata Raka mulai mencari keberadaan Gadis yang kembali memenuhi pikirannya.
Raka melihat Gadis berdiri di depan kabin bersama rekannya yang terlihat lebih muda darinya dan tanpa berpikir panjang ia pun berjalan menuju ke tempat mereka.

Gadis yang melihat Raka mendekat, refleks menanyakan keperluannya secara profesional.

"Ada yang perlu saya bantu mas?"

"Bagaimana kabarmu Dis?" Raka bertanya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Baik mas" Gadis menjawab dan menyambut tangan Raka.

"Oiya mas kenalkan ini Pamela, rekan kerja aku"

"Pamela" junior Gadis itu mengulurkan tangannya dan tersenyum genit kepada Raka.

"Raka" Raka membalasnya dengan senyuman singkat.

"Mas Raka temannya mbak Gadis ya?"

"Iya saya teman SMA nya" jawab Raka menatap Gadis dengan intens.

"Mas Raka kerja di Solo?" Pamela merasa penasaran dengan sosok Raka yang tampan.

"Saya tugas di Jakarta, lagi mau nengok ayah saya yang sakit di Solo"

“Sakit ap .." belum selesai pertanyaan dilontarkan Pamela, Gadis langsung memotong pertanyaannya " Mas Raka ...apakah ada yang bisa kita bantu ? karena kalau tidak, mas sebaiknya kembali ke tempat duduk karena sebentar lagi kita akan segera mendarat”

"Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu, tetapi lebih baik saat kamu tidak sedang bekerja, sampai kapan kamu berada di Solo Dis?"

Belum Gadis menjawab, Pamela sudah memotong jawaban Gadis membalas tindakan Gadis sebelumnya "Kita menginap sampai besok sore mas Raka, ajak kita jalan-jalan donk di Solo, mau yaa?"

"Iya boleh nanti saya ajak makan bersama Gadis ya, kalian nginap di hotel apa?"

Pamela menyebutkan nama salah satu hotel berbintang di Solo tempat crew mereka menginap.

"Dis nanti saya telepon kamu ya" Raka melanjutkan dan berjalan kembali ke kursinya.

"Mbak Gadis temennya ganteng banget, aku minta nomernya donk mba, tentara yaa mba?" Sepeninggalan Raka, Pamela menarik-narik tangan Gadis meminta nomer Raka kepada Gadis.
"Dasar genit, mau dikemanakan mas David pacarmu itu" jawab Gadis gemas menanggapi Pamela yang kekanak-kanakan.

" Yaa kan mas David Pilot pacar diudara, kalau mas Raka kan tentara pacar di darat" Pamela membuat tanda victory dengan tangannya.

"Hahaha nggak mau ah nanti ketahuan mas David aku yang dimarahin lagi, bukan pacarnya yang buaya darat" tawa Gadis sambil berlalu meninggalkan Pamela yang masih memohon-mohon diberikan nomer Raka.

***

Setibanya di rumah, Raka disambut ibunya yang bahagia melihat kepulangan putranya.

“Kamu sudah tiba Le, kok tidak telepon ibu? Ibu tadi mau minta supir untuk menjemputmu”

“Ndak papa bu, Raka kan biasa pulang naik taksi Bu”

“Ya sudah, kamu sudah istirahat saja dulu di kamar”

“Bagaimana kondisi ayah Bu?"

"Alhamdulilah sudah baikan, sudah bisa makan sendiri tanpa ibu suapi. Tapi ayahmu sekarang sedang tidur setelah meminum obatnya tadi"

"Alhamdulillah ya Allah, Raka mau mandi dan berganti pakaian dulu ya Bu"

"Iya kamu istirahat saja dulu nanti malam ibu siapkan sayur kluweh dan ayam goreng kesukaanmu"

"Baik Bu"

Sehabis berganti pakaian Raka beranjak menuju meja disudut kamarnya, membuka laci yang berada di meja itu. Ia mengambil album foto yang berisi foto - fotonya bersama Gadis. Masa-masa bahagianya terabadikan lewat kamera dan hasil foto-foto itu tidak pernah dibuangnya melainkan disimpannya dengan rapi disudut kamarnya.

Kembali ke kamar ini membuat Raka mengingat lagi semua kenangannya bersama Gadis. Rasa cinta yang dalam dan bergejolak. Berbeda dengan perasaannya kepada Laras yang penuh rasa sayang dan pengertian. Memang tidak adil membandingkan perasaannya terhadap keduanya. Namun hati kecil Raka terus menjeritkan kerinduan yang menggelora kepada Gadis sedangkan otaknya menyerukan kewarasan untuk tetap setia kepada Laras. Otaknya semakin penat memikirkan hal itu, ia merasa lelah dan jatuh tertidur.
Raka terbangun ketika malam beranjak, sehabis menyegarkan diri dengan mandi ia keluar menuju ruang makan, namun disana ia tidak menemui ibunya sehingga Raka menuju kamar orangtuanya. Tanpa sengaja ia mendengarkan percakapan orangtuanya.

"Ibu pikir Raka sudah bisa melupakan Gadis itu yah dan sesuai dengan saran ayah, ibu menceritakan tentang Gadis kepada Laras"

"Laras bilang, Raka akan meminta kita untuk melamar Laras minggu depan yah" Suara ibundanya pun kembali terdengar. "Walaupun ibu tidak bisa melupakan rasa bersalah ibu melihat wajah gadis itu yang terluka yah, ketika ibu bilang dia harus putus dengan Raka karena bibit bobot bebetnya yang kurang baik"

Raka membeku mendengarkan percakapan itu. Bagaimana mungkin orang tuanya tega memisahkan dirinya dengan gadis yang dicintainya, membuat Raka menderita selama bertahun-tahun. Dan terlebih lagi Laras bersikap seolah tidak tahu mengenai semua ini. Darah Raka bergolak, ia pun segera bergeser perlahan meninggalkan pintu kamar itu dan segera mengambil kunci mobil, memacu mobilnya dengan cepat menuju satu tujuannya.

***
jangan lupa dibikin index yah gan, biar gampang lanjutin bacaannya emoticon-Angkat Beer
hmmmm ahir ny dpt gembok pejwan hahahahaha
lanjuuuuutttttt
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Blue Guy Peace:
Halaman 1 dari 78


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di