alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Modernisasi Pertanian Melalui Alsintan, Lebih Efisien Tingkatkan Produktivitas Pangan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbd99ffd675d4cf2e8b4569/modernisasi-pertanian-melalui-alsintan-lebih-efisien-tingkatkan-produktivitas-pangan

Modernisasi Pertanian Melalui Alsintan, Lebih Efisien Tingkatkan Produktivitas Pangan

Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman belakangan ini gencar mengimplementasikan Program Pengembangan Pertanian Modern. Program tersebut diejawantahkan dalam bentuk pemberian bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) kepada kelompok petani.

Alsintan sendiri sebagai sebuah program merupakan terobosan Kementerian Pertanian dalam memodernisasikan penggunaan alat-alat modern secara masif, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan tahap panen dan pasca panen. Dengan begitu, mengubah kegiatan usaha pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian yang modern. Ini menggambarkan adanya proses modernisasi pertanian di dalam kebijakan Kementerian Pertanian tersebut.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman sendiri menyatakan bahwa modernisasi pertanian mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian. Hingga kini pihaknya telah menggelontorkan ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke berbagai daerah..

Sejak tahun 2015, Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan alat dan mesin pertanian dalam jumlah yang cukup besar. Dalam rentang waktu tahun 2010-2014 jumlah bantuan alsintan yang dibagikan sekitar 50.000 unit.
Pada periode 2015--2017 jumlah bantuan alsintan berbagai jenis yang dibagikan pemerintah kepada petani masing-masing berjumlah 157.493 unit, 110.487 unit, dan 321.000 unit atau naik lebih dari 600%. Meningkat pesat dibandingkan periode sebelumnya.

Amran menilai modernisasi pertanian melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas komoditas pangan dan pendapatan keluarga petani sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien. Melalui penggunaan Alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen karena sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien.

Dalam hal biaya produksi saja, dengan penggunaan Alsintan, dapat menekan biaya produksi. Menekan biaya produksi hingga sekitar 40%. Dimana, yang biasanya biaya panen manual Rp2 juta per hektare, dengan teknologi hanya Rp1 juta. Ini secara tidak langsung bisa meningkatkan kesejahteraan petani.

Bagaimana besarnya manfaat penggunaan Alsintan sebagai salah satu upaya modernisasi pertanian juga disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian I Ketut Kariyasa. Ia mencontohkan Alsintan berupa penggunaan traktor roda-2 dan roda-4 yang mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha, dan biaya pengolahan tanah menurun sekitar 28%.

Lalu, penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha sehingga biaya tanam menurun hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha. 
Begitupula penggunaan combined harvester mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%. Bahkan menekan kehilangan hasil dari 10,2% menjadi 2%, serta menghemat waktu panen menjadi 4 sampai 6 jam/ha.

Ketut mengungkapkan, berdasarkan perhitungan sederhana, penggunaan Alsintan mulai dari olah sawah hingga panen dapat menekan biaya produksi padi sebesar 6,5% dan meningkatkan produksi sebesar 33,8 %, dari 6,0 ton GKP/ha menjadi 8,1 ton GKP/ha. 

Masing-masing bersumber dari penurunan kehilangan hasil sebesar 10,9% karena menggunakan combine harvester, peningkatan produktivitas 11,0% akibat penggunaan transplanter yang mendorong petani menerapkan sistem tanam jajar legowo (jarwo), dan peningkatan produktivitas 11,9% akibat penggunaan input lainnya yang membaik. Artinya, mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani mencapai 80%, dari Rp 10,2 juta/ha/musim menjadi Rp 18,6 juta/ha/musim.

Selain itu, modernisasi pertanian juga dapat mendorong minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap dunia pertanian. Jika sebelumnya pertanian dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan untuk orang yang kurang pendidikan dan miskin, bekerja penuh lumpur di bawah terpaan sinar matahari serta lebih banyak mengandalkan kerja otot. Tapi, saat ini profesi petani modern merupakan pekerjaan yang menjanjikan dan dapat ditekuni secara profesional serta tidak lagi mengandalkan otot saja.

Pendapatan yang diperoleh sebagai petani tidak kalah menariknya dan bahkan lebih besar dari upah atau gaji dari seseorang yang bekerja pada sektor non pertanian. Pada kondisi seperti ini, tanpa perlu didorong, petani dengan sendirinya akan terus bersemangat untuk berproduksi.

Tak hanya pertanian padi, Alsintan juga bermanfaat pada komoditas pertanian lainnya. Kebijakan revolusi mekanisasi pertanian melalui penggunaan Alsintan juga sangat membantu percepatan produksi hortikultura, khususnya cabai dan bawang. Hasilnya, dalam rentang 4 tahun terakhir, produksi Cabai dan Bawang Merah terus meningkat setiap tahun, bahkan melampaui kebutuhan nasional. Dengan Alsintan, petani bisa mengatur pola tanam dalam skala luas secara lebih mudah dan cepat.


Terkait efisiensi biaya, misalnya pada budidaya cabai, penggunaan mekanisasi pertanian secara umum bisa menekan biaya tenaga kerja hingga 40%. Dengan begitu, titik  impas atau Break Event Point (BEP) produksi cabai jauh lebih murah. BEP produksi cabai dari Rp10.200 menjadi hanya sekitar Rp5.300 per kg. Petani untung, biaya kecil, produksi dan kualitas cabainya malah semakin naik.***
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di