alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Inspirasi /
Investasi untuk Semua, Semua Bisa Investasi
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbc2e6ede2cf259428b4568/investasi-untuk-semua-semua-bisa-investasi

Investasi untuk Semua, Semua Bisa Investasi

JAKARTA- Salam …apa kabar para pejuang SCC? Semoga selalu dan terus semangat membangun misi besar bersama! Doa kita bersama agar Allah impahkan kesehatan dan keselamatan serta terus mendapat berkah-Nya.

Seperti yang sudah dipaparkan pada buletin sebelumnya bahwa sangat penting bagi siapapun untuk menentukan pilihan yakni berpindah Qudrant dari kiri ke kanan atau kuadran pekerja menjadi kuadran pengusaha atau investor. Yang menjadi pertanyaan kita sebagai pejuang SCC yang notabene masih menjalani hari-hari sebagai pekerja, bagaimana harus pindah kuadran? Berhenti kerja? Atau tetap bekerja namun tetap bisa pindah kuadran dan memiliki passive income?

Menjawab pertanyaan di atas dan melanjutkan bahasan pada edisi II Februari 2018 penulis menghadirkan seorang praktisi yang sudah akrab dan tak asing lagi bagi kita. Beliau akrab disapa dengan “Kapten Sar”, seorang praktisi investasi yang sekaligus salah satu founder dari Holistic Investment Quotient (HIQ) yang menerbitkan buku dan menyelenggarakan pelatihan tentang kecerdasan holistic di bidang finasial dan revolusi gaya hidup.

Penulis mewawancarai langsung beliau pada tanggal 20 Februari 2018 lalu di kantor SCC Investment Corporation Graha Mandiri Jakarta. Pria kelahiran Madiun yang juga menyandang predikat sebagai Master of Clinical Hypnotherapy (MCH/CHt) ini menjadi daya Tarik penulis untuk diwawancarai mengingat gencarnya kampanye beliau saat ini tentang perubahan gaya hidup masyarakat dari konsumtif menjadi hidup produktif sebagai Investor.

Berikut hasil kutipan wawancara penulis dengan Kapten Sar.

“Saya sangat mengapresiasi langkah luar biasa dari para BOD SCC atas pencanangan tahun 2018 menjadi tahun pembangunan SDM saat saya hadir juga dalam annual meeting lalu. Selama ini mayoritas dari perusahaan yang ada di Indonesia masih memberlakukan bahwa Sumber Daya Manusia/SDM itu adalah (hanya) sebagai pekerja, sehingga cara memperlakukannya pun hanya dianggap sebagai pekerja biasa. Perusahaan menghargai hasil kerja dengan upah/gaji tanpa memberi apresiasi lainnya. Maka keputusan yang diambil oleh Founder merupakan terobosan dan inovasi produktif. SDM bukan hanya diperlakukan sebagai buruh/pekerja melainkan diposisikan sebagai asset penting bagi perusahaan” Demikian Kapten Sar memulai wawancara pertama untuk kami.

Ketika kami tanya tentang kaitan hal di atas dengan misi besar, praktisi HIQ yang juga dikenal sebagai motivator dan pakar otak kanan internasional ini menjawab bahwa kaitannya sangat erat terutama dalam pembentukan karakter. Seperti diketahui bahwa dengan pembangunan Tower-Tower Aparkost yang saat ini telah eksis di 10 kota, ada dua unsur pembentukan karakter yang disasar oleh SCC yakni 1. penghuni (penyewa unit kost) dan 2. Investor (pemilik kost). Untuk para mahasiwa penghuni aparkost mendapatkan materi yang ada kaitannya dengan pengembangan kepribadian dan soft skill (EQ, SQ) dan untuk para pemilik kost mereka akan diyakinkan pentingnya menjadi investor sebagai solusi bangsa – mengubah gaya hidup yang konsumtif menjadi produktif sehingga mereka akhirnya akan menjadi “center of influence” atau penebar virus produktifitas dan perubahan gaya hidup positif untuk keluarga lingkungan dan masyarakat luas.

Sejalan dengan itulah mengapa keputusan para Founder menjadikan tahun ini sebagai tahun pembangunan SDM dirasa sudah tepat dan sesuai momentum. Bahwa pembentukan karakter di luar SCC untuk masyarakat luas selama ini harus diikuti dengan kesiapan SDM internal SCC. Maka hal ini sudah sangat pas dan sejalan dengan visi besar di atas.

Pria humble dan humoris yang per 1 Maret besok mendapat tugas khusus dari para Board of Director (BoD) untuk menjabat Direktur Pengembangan Bisnis di HIQ Management dan akan meninggalkan jabatan lamanya sebagai Manager Investor Relations (IR) SCC ini mengatakan bahwa dirinya pernah memberikan quote/statement sewaktu memberikan orasi di depan para Walikota dan Bupati se Kalimantan Timur di Hotel Tarakan beberapa tahun lalu. Membangun negeri tercinta Indonesia ini jika tidak terlebih dahulu mengubah mindset masyarakatnya maka akan seperti menanam benih tanaman di tanah berbatu, berkoral, berpasir dan berbelukar Inilah sesungguhnya esensi tentang revolusi mental yang sebenarnya itu. Jadi yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah karakter dan “mindset“ masyarakatnya. Mustahil menjadi harimau jika “mindset” kita masih seperti tikus Demikian Kapten Sar dengan gaya berapi-api menambahi ulasannya.

Visi besar SCC akan menjadi sia-sia jika para SDM internal tidak membangun kesadaran atau awareness. Kesadaran inilah esensi dari “mindset” atau pola pikir yang merupakan pondasi penting dari visi besar. Maka hal pertama yang harus dimulai untuk menyukseskan visi besar ini tidak lain adalah kesadaran bersama untuk mengubah mindset atau pola pikir/ mindset revolution.

Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir bersama para SDM ini adalah the first and fundamental step (langkah pertama dan sangat penting) sebelum benar-benar terjun sebagai praktisi/investor ke depannya. Jika seluruh SDM telah menghayati dan menyadari sepenuhnya tentang visi besar perusahaan maka mereka akan bekerja sepenuh hati dan bukan hanya sepadan gaji. Mengapa? Karena kita (SDM) menganggap bahwa diri mereka adalah para pejuang bukan pekerja. Karena pejuang mereka menganggap setiap menit bekerja adalah ibadah yang selain mendapat balasan dunia sebagai bonus maka ada balasan berupa transferan ke rekening BCA masing-masing (BCA = Bank Cabang Akhirat = pahala). Jika step pertama berupa kesadaran ini telah menjadi nafas para SDM maka akan ada transisi berupa perubahan gaya hidup sehari-hari. Setiap kali berbelanja mereka akan ingat apakah uang yang mereka mereka belanjakan konsumtif atau produktif. Setiap kali menerima gaji dari perusahaan akan terjadi kesadaran – akan dibelanjakan semua untuk konsumsi atau ada yang ditabung dan diinvestasikan agar menghasilkan asset dan “passive income”. Jadi proses kesadaran akan dimulai di sini sebelum akhirnya kita semua memiliki aset-aset riil sebagai investor. Amiiin

Bangunlah jiwanya, Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya, Cuplikan syair Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ini sangat pas dengan apa yang dicanangkan para founder dan BoD SCC untuk menetapkan Tahun Juang 2018 sebagai tahun membangun SDM. SDM adalah soul atau jiwa dari visi besar sehingga perlu dibangun, setelah itu baru badan/bangunan” demikian Kapten Sar menganalogikan pentingnya SDM di atas.

Dalam kapasitasnya sebagai salah satu founder dan Director of Business Development di HIQ Management, Kapten Sar menjelaskan bahwa apa yang akan dibawa dalam buku dan seminar Holitistic Investment Quotient (HIQ) sangat senada dengan visi besar yang dibangun SCC. Maka ke depan antara SCC dan HIQ justru akan terjadi sinergi dan kemitraan lebih efektif dan saling terkait.

Kapten Sar yang pada Oktober 2016 dinobatkan sebagai penerima Beli Indonesia Award bersama Bupati Kulon Progo, Pimpinan PP Aisiyah serta beberapa tokoh nasional menambahkan bahwa seminar HIQ berdurasi 3-4 jam dikemas dengan multimedia berkelas internasional yang mengangkat tema bagaimana menjadi seorang investor sejati yang memberi dampak terhadap pembangunan karakter dan ekonomi masyarakat secara luas.

Tujuan dari dilaksanakannya seminar HIQ adalah para alumni memiliki gaya hidup produktif sebagai investor sejati yang ditandai dengan tercapainya asset dan passive income yang dilambangkan sebagai atap dari sebuah rumah/bangunan. Tujuan besar dari HIQ hanya akan terwujud jika memiliki pondasi/dasar yang kuat sebagaimana sebuah rumah/bangunan. Itulah yang disebut sebagai lifestyle changing awareness atau kesadaran masyarakat untuk mengganti gaya hidup dari konsumerisme menjadi produktif.

Hidup itu sesungguhnya mudah dan simple. Yang membuat semuanya menjadi sulit, mahal dan berantakan adalah gaya hidup manusia. Dan gaya hidup inilah pangkal dari kesenjangan sosial dan ekonomi saat ini. Gaya hidup inilah muara terjadinya upeti/pungli, korupsi, kriminalitas, narkoba sampai penyakit kejiwaan bernama shopa holic (keranjingan belanja)

Kapten Sar yang hari-hari akrab dengan Gerakan Beli Indonesia menambahkan bahwa Indonesia telah mendapat peringkat sebagai negara paling konsumtif ke dua di dunia. Mengapa itu terjadi? Bahwa sejak jaman penjajahan VOC Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke4 di dunia sudah dibidik dan ditargetkan sebagai bangsa konsumen yang akan membeli produk-produk mereka. Hingga saat ini mayoritas produk yang kita pakai dan beli sehari hari adalah produsk asing, dari mulai produk IT, Farmasi, minuman dalam kemasan, peralatan kamar mandi hingga mainan anak-anak. Di sector pertanian kita belum mampu mejadi bangsa produktif karena masih terus import jagung, kedelai, padi dan buah-buahan, padahal kita telah dianugerahi tanah luas membentang subur makmur dari Sabang sampai Merauke. Kita punya laut yang luasnya dua pertiga dari wilayah negeri kita, ironisnya garam masih import hingga saat ini.

Jangan tanya Indonesia hari ini punya apa, tapi tanyalah apa yang tidak dimiliki Indonesia? Semua ada, semua kita punya. Ada satu yang nyaris hilang dari negeri kita yaitu kakarter! Padahal karakter inilah yang menentukan nasib bangsa Indonesia. Uang dan kekayaan itu bukan karakter melainkan benda yang dalam sekejap bisa hilang kapan saja.

Masih ingat petinju legendaris Mike Tyson. Apa yang dia tidak punya, si leher beton ini menjadi mesin uang dan kaya raya pada jamannya. Tragisnya dalam ending kehidupannya, Mike Tyson menjadi miskin dan terjebak hiutang jutaan dollar Amerika karena berminset petarung dan bukan berkarakter kaya. Sebaliknya ada professor Yunus di Bangladesh peraih Hadiah Nobel Dunia yang menghimpun orang-orang miskin dalam Greemnen Bank sehingga dengan kekuatan mindset mereka bisa menjadi sejahtera dan kaya.

Apa yang dilakukan untuk SDM disini adalah membangun kesadaran terlebih dahulu yaitu kesadaran betapa bahayanya konsumerisme. Bersambung ke edisi I buletin Maret selanjutnya bersama narasumber lainnya. Semangat YEP !!!



(isk/MC)

Sumber
Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di