mongkiefunAvatar border
TS
mongkiefun
Paru - Paru Besi, Peninggalan Terakhir Kengerian Wabah Polio




Iron Lungsatau Paru - Paru Besi



Paru - paru besi adalah mesin yang harus digunakan oleh para survivor Polio.
Mereka wajib menggunakan mesin ini supaya mereka tetap hidup.

Virus Polio yang sudah kita anggap punah masih menyisakan
gambaran kelam bagi penderitanya melalui mesin tua ini.
Berikut adalah kisah dari mereka yang menjadi pemilik Paru - Paru Besi terakhir.



Masih nampak senyum di wajah Martha Lillard ketika ada yang bertamu ke rumahnya.
Senyum itu bisa dilihat dari cermin yang dipasang di atas kepalanya,



Martha berbaring dengan badannya tertutupi oleh mesin 'kapal selam' tersebut dan hanya kepalanya yang bisa menyembul keluar. Sudah 60 tahun hidupnya bergantung pada Paru - Paru Besi ini.

Martha sudah biasa tinggal sendiri. Ya, walaupun tidak terlalu sendiri karena rumah kecilnya selalu dipenuhi oleh 20 ekor kadal dan 3 ekor anjing kesayangannya. Dia bahkan menceritakan dengan semangat setiap kadal yang dipeliharanya dalam akuarium.




Ruang tidurnya dipenuhi berbagai boneka dan mainan yang dikoleksi dari kecil. Dan di tengah kamar tidur itu, berdirilah mesin besar berwarna kuning itu membuat ruangannya terlihat sempit. Namun mesin inilah yang membuat Martha bisa hidup hingga hari ini. Paru - paru besi ini sudah dipakainya sejak kecil. Setiap hari, selama 12 jam dia harus masuk ke dalamnya hanya agar bisa bernafas dengan normal.




Cerita lain dari pengguna Paru - Paru Besi adalah dari Paul Alexander yang sudah berumur 70 tahun. Paul yang terjangkit Polio sejak umur 6 tahun, sama sekali tidak bisa menggerakkan seluruh badannya kecuali lehernya. 



Saat dia umur 6 tahun, hampir semua bagian negara di Amerika mengalami mimpi buruk yang tidak bisa terbayangkan. Wabah polio menyebar dengan cepat. Sekolah, bioskop, taman bermain semua harus ditutup melihat banyaknya anak - anak yang terjangkit polio ini.
Pertama nampak seperti demam biasa, tapi ibu Paul melihat wajah dari anaknya langsung tahu bahwa anaknya menjadi korban dari wabah mematikan itu.



Dan dalam lima hari saja, Paul kehilangan semuanya, dia tidak bisa berjalan, tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali, dan pada hari terakhir, dia tidak bisa bernafas. Hingga sekarang dia harus tergantung dengan Paru - Paru Besi itu dan juga dibantu seorang suster.



Paul hanya bisa keluar dari mesin itu selama beberapa jam saja. Ketika keluar dia harus secara sadar dalam menarik dan membuang nafas. Dan itu benar - benar sangat membuatnya mudah kelelahan. Berbagai masalah juga muncul dari mesin yang setengah abad ini. 





Paul harus meminta bantuan dengan Youtube memohon kepada siapapun bisa mencari informasi atau seseorang yang bisa memperbaiki Paru - Paru Besinya.

Dan ketemulah dia dengan Brady Richard seorang ahli mesin dekat dengan tempat tinggalnya. Brady membawa mesin itu ke bengkelnya dan murid - muridnya malah bertanya untuk apa dia membawa mesin pengasap daging ke bengkel mobil. Banyak anak muda tidak tahu sama sekali tentang mesin ini. Brady harus melihat dengan teliti cara kerja dari mesin ini dan kesulitan yang paling besar adalah mencari spare-part yang rusak. Karena spare-partnya sudah tidak ada yang produksi lagi



Tapi untunglah berkat Brady, Paul bisa tetap hidup dengan Paru - Paru Besi yang sudah diperbaiki.

Martha juga mengalami masalah yang sama. Paru - Paru Besi miliknya sudah rusak berkali - kali. Dia harus membeli bekas atau second dari orang lain dengan menawar habis - habisan tapi masih harus membelinya dengan 8000 dollar. Spare-part mesinnya banyak yang rusak dan perusahaan pembuat mesin ini, Philips Respironic sudah tidak mau melayani Martha lagi.


Kerah kanvas mesin Martha sudah bocor dan dia harus menambal dengan lakban. Ketakutan terbesarnya adalah ketika badai topan datang dan membuat aliran listrik mati, jika mesin tidak bekerja, maka dia yakin besok dia akan tinggal nama..

Martha juga menceritakan kisah mengerikan ketika masa - masa dia terjangkit penyakit polio. Banyak Paru - Paru Besi berjejer di kamar rumah sakit yang berisi anak - anak seumuran. Dan ketika itu badai datang dan listrik mati. Semua mesin mati, para suster harus bekerja keras untuk memutar motor secara manual dengan tangan.


Kekurangan tenaga rumah sakit, Martha dan anak - anak lain merasakan bagaimana ngerinya tercekik tidak bisa bernafas. Dia harus mengetukkan lidahnya untuk memanggil suster. Malam itu kamar rumah sakit yang gelap dipenuhi bunyi ketukan lidah seperti ayam - ayam. Anak - anak dalam keadaan gelap dan memohon nafas yang tidak bisa mereka hirup, itulah gambaran kengerian polio.



Namun, Paul dalam kondisi seperti itu, tetap tidak menyerah dengan hidup. Dia berhasil mendapatkan gelar sarjananya dan menjadi pengacara. Semua klien yang melihat keadaannya awalnya terkejut, tapi mereka semua akhirnya percaya kepadanya. Karena Paul dalam kondisi seperti itu masih bisa tetap semangat menjalani hidup, tentu kasus kliennya dapat ditanganinya dengan baik. Dia bahkan sudah menyelesaikan buku kisah hidupnya yang dia ketik dengan menggunakan mulut sendiri.



Martha berkali - kali menanyakan pertanyaan mengapa harus saya. Tapi dia percaya hidup harus tetap dijalani. Apapun keadaannya..



Paul berkata bahwa dirinya tidak memaksa orang tua yang tidak mengimunisasi anaknya. Sama sekali tidak ada paksaan karena itu tanggungjawab mereka. Tapi Paul hanya ingin menunjukkan fakta mengenai polio melalui dirinya sendiri. Dia tidak menyangkal bahwa hidupnya memang berat. Dia ditinggal teman dan keluarga, selalu sakit, bahkan pemerintah tidak berbuat apa - apa.

Lalu bagaimana menurutnya mengenai resiko dari pemberian vaksin yang ditakuti orang tua, dia menjawab ya dia tidak tahu, silahkan tanya dokter saja, tapi dia sudah merasakan bagaimana resiko tidak adanya imunisasi.



Polio seharusnya menjadi penyakit yang punah di dunia ini. Dengan adanya vaksin seharusnya tidak ada lagi anak atau pasien polio. Namun di beberapa negara penyakit ini mulai mewabah lagi. Tahun lalu, Pakistan, Nigeria, dan Afghanistan mendapatkan wabah ini muncul kembali.

Indonesia sendiri pada tahun 2005, wabah polio kembali menyebar di Jawa Barat. Memang imunisasi langsung dilakukan. Tapi melihat banyaknya orangtua sekarang yang memilih untuk tidak mengimunisasi anaknya, penyakit polio dan penyakit lainnya yang sudah dianggap musnah mungkin akan kembali mengambil korban.






0
18.9K
108
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan