alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!
4.89 stars - based on 9 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9c968c947868a77b8b4568/sudah-belajar-bertahun-tahun-kok-belum-lancar-bahasa-inggris-ini-alasannya

Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!

Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!

Sebelumnya, tulisan ini ndak ada sangkut pautnya dengan pro-kontra terkait debat capres dan cawapres, yang diusulkan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. If you maksa buat dihubung-hubungkan, saya not responsible with any consequence. Pokoknya gitu deh.

***
Sebagai salah satu negara pemenang perang dunia, Inggris banyak melakukan kolonialisasi kepada beberapa negara dibelahan bumi ini.

Seperti disadur dari Wikipedia, kalahnya Napoleon di tahun 1815, membuat kerajaan Inggris kian sumringah. Artinya, mereka tidak memiliki saingan yang berarti, selain Rusia di daerah Asia Tengah. Selebihnya dianggap remahan rengginang. Fakta ini didukung dengan kuatnya armada laut yang dimiliki.

So, negeri asal Ratu Elizabeth, yang juga pernah menggunakan Stuntman bersama Daniel Craig (tapi nggak direcokin), dipembukaan Olimpiade 2012 dulu, menjelma menjadi monster di lautan. Oleh karena itu, mereka lantas menobatkan dirinya sebagai polisi dunia, selanjutnya dikenal dengan sebutan Pax Britannica. Dampaknya, posisi Inggris mempunyai hak kontrol tidak resmi, lalu membuatnya mendominasi perdagangan dunia. Secara efektif, negara seperti Cina, Argentina dan Thailand, pernah dikendalikan oleh Inggris. Kondisi yang terjadi tersebut, oleh sejarawan, lantas disebut sebagai "imperium informal".

Demikian secuil sejarah, mengapa bahasa Inggris, lantas disepakati menjadi bahasa pengantar internasional. Terlepas ikhlas atau tidak, which is, tiap-tiap negara memiliki bahasa sendiri, but itulah yg terjadi.

***
Indonesia, sebuah negara besar dikawasan Asia, memiliki kurang lebih 700 bahasa lokal. Sebuah kekayaan budaya yang konon menjadikan penduduknya menjadi poliglot natural. Minimal bisa bercakap dengan dua bahasa. Keren nggak?

Sebab musabab memiliki banyaknya bahasa daerah, para pendahulu bangsa, yang kadang namanya tercecer dari sejarah, sepakat menggunakan satu bahasa sebagai pemersatu, diantara ratusan bahasa yang dipunyai. Kemudian, dipilihlah bahasa Melayu, yang lantas disempurnakan menjadi bahasa Indonesia. Dalam perjalanannya, bahasa ini terbuka dengan pelbagai kosa kata, apakah diangkat dari bahasa lokal, maupun dari negara lain.

Berkaca pada sejarah dominannya imperium Inggris, sehingga komunikasi internasional banyak menggunakan bahasa tersebut, maka Indonesia juga ikut menjadikan mata pelajaran bahasa Inggris dalam kurikulumnya.

Meski dijadikan mata pelajaran, bahkan kini sudah diperkenalkan sedari SD, tidak lantas membuat semua penduduk berjumlah 200jutaan ini fasih cap cip cus berbahasa Inggris. Kenapa Valea?

Berikut alasan logisnya:
1. Bukan bahasa ibu
Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!

Bahasa Ibu, atau mother tongue, makna harafiahnya adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seseorang. Orang yang mengenalkan bahasa tersebut, lantas disebut sebagai penutur asli.

Lazimnya, seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka. Jika lahir dari keluarga suku Aceh, maka anak diperkenalkan dengan bahasa ini. Demikian pula suku lainnya. Hal ini terjadi, terutama di keluarga yang masih tinggal di daerah yang nuansa budayanya masih kental. Pergeseran kebiasaan mulai terjadi bila anak dilahirkan di kota besar. Biasanya, bahasa Indonesia lebih dominan dikenalkan pada anak ketimbang bahasa daerah asal orangtuanya.

2. Hanya sebatas kurikulum wajib
Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!

Beberapa siswa kadang sebal dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Beragam alasan klise, sering dilontarkan demi membenarkan ketidaksukaan atas mata pelajaran ini. Ada yang memang tidak menyukai disebabkan gurunya yang killer dan ndak asyik, ada pula yang memang otak kanannya bermasalah.

Meski sudah dijadikan mata pelajaran wajib, namun tidak sertamerta membuat siswa mahir berbahasa Inggris. Pelajaran ini jadi semakin ribet sebab 'memaksa' para siswa menguasai bahasa Inggris secara perfect. Tata aturan, semisal grammar, kudu tepat dan jelas. Padahal, unsur terpenting dari bahasa itu adalah mengenalnya lebih dalam, tak hanya sekedar grammar. We have to know what does language itself.

Bahasa itu, harusnya ditekankan pada komunikasi. Memberikan pra-syarat grammar itu ndak salah. Namun, mengekspresikan bahasa itu, menjadi bentuk komunikasi yang dimengerti, jauh lebih esensial. As we know, banyak yang jago tata bahasa. Namun, tatkala harus mengungkapkan idea through the english, sebab jarang dipraktekkan, jadinya ya kagok.

3. Lingkup komunikasi yang terbatas
Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!

Jika penggunaan bahasa Inggris terbatas, pertanyaan ini jelas sudah terjawab. Sebagian besar penduduk Indonesia bertutur sapa menggunakan bahasa Indonesia, atau bahasa lokalnya. Bisa pula kombinasi dari keduanya.

Berbanding terbalik, posisi bahasa Inggris kemungkinan banyak digunakan di daerah-daerah pariwisata yang menjadi jujugan wisatawan manca negara. Sebut saja Bali, Yogyakarta, atau Medan. Kenapa Medan disebut? Kan ada wisata Danau Toba? Lagian, suka-suka ku lah. Ini Mael Lee, bukan kaleng-kaleng!?

Ada juga sekolah tertentu yang memang mewajibkan siswa-siswinya kudu pake bahasa Inggris. Semisal ponpes Gontor, SMU Bakti era tahun 1990-an, yang keduanya berlokasi di Ponorogo. Lalu ada pula desa Pare di kota Kediri, Jawa Timur, yang hampir penduduk disana fasih berbahasa Inggris.

Pun demikian saudara-saudara, tidak semua orang di kota yang saya sebut diatas mahir berbahasa Inggris. Paham ya?

***
Sebagai bangsa yang beradab, penduduk Indonesia harusnya berbangga diri. Meski ratusan tahun dijajah oleh lebih dari satu negara, jati diri bangsa ini tetap tampak dengan menggunakan bahasa asli sebagai bahasa nasional.

Tengoklah Amerika. Negara super power tempat Buni Yani pernah mengeyam pendidikan disana, toh mereka ndak punya bahasa sendiri. Demikian pula tetangga berisik bernama Australia. Bahasanya pure bahasa Inggris meski ada sedikit sentuhan modifikasi dengan aksen ala mereka.

Jikapun ada yang menguasai bahasa Inggris namun terdengar medok, hal ini bukan merupakan sebuah aib. Demikian pula bila seseorang kelahiran Samosir, lantas bisa ngomong pake bahasa Inggris tapi logatnya ke-batak-an, salahnya dimana? Wajar dong, karena bahasa asing itu sering dipengaruhi oleh logat atau aksen daerah asal. Bagi penggemar moto gp, coba simak Valentino Rossi atau Marc Márquez saat konferensi pers. Paham?

Mempelajari bahasa Inggris merupakan hal yang baik. Bahkan bisa dibilang teramat baik. Apalagi, fakta berbicara bila bahasa asal David Beckham ini, banyak dijadikan bahasa internasional. Namun, tetaplah berpegang teguh pada bahasa nasional yang kita miliki. Bahasa pemersatu diantara ratusan bahasa lokal yang menjadi penambah khasanah kekayaan bangsa. Mari gunakan dengan bijak, khususnya pada kegiatan kenegaraan. Sebab, di luar sana, banyak negara tidak memiliki bahasa nasionalnya sendiri. Mungkin pengaruh dari bekas negara yang pernah menjajahnya, atau bahasa asli nenek moyang mereka sudah punah. Seperti punahnya etika berbicara saat berdiskusi, karena afiliasi dan preferensi yang berbeda. Seriously, ini sungguh terlalu...




©Skydavee 2018
Sumber gambar: google
Diubah oleh: skydavee
Halaman 1 dari 12

Kata Kaskuser.......

Quote:

Quote:



Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Quote:

Quote:


Quote:
Diubah oleh skydavee
Becos ai won not keminggris..
I jas can spik englis litel - litel..


emoticon-Goyang
Sudah Belajar Bertahun-tahun, Kok Belum Lancar Bahasa Inggris? Ini Alasannya!
Quote:


penyebabnya banyak sih Gan. tapi yang paling utama adalah kesempatan untuk daily practice. Dulu waktu belajar Bahasa Inggris, gw punya cara yaitu dengan masuk ke komunitas orang orang yang pintar berbahasa Inggris. tiap kali kumpul dengan temen temen yang jago bahasa INggris itu, gw selalu minta mereka bicara dalam bahasa Inggris. Apalagi sekarang dengan gw bekerja di perusahaan yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari hari, mau enggak mau ya dipaksa untuk bisa
Quote:

Samalah kita. Litel-litel sih ai ken.
Quote:

emoticon-Big Grin
Quote:


Unsur terpenting dari bahasa adalah penggunaannya secara rutin. Jika kerap dilakukan, kosa kata akan tetap terekam dalam memori otak
sering nonton film bule tanpa subtitle lama kelamaan paham, beda kalau yang ditonton ikeh ikeh
kurang dipraktekin. itu aja
Gue stuck di grammar gan susahnya minta ampun emoticon-Ngakak (S)
Quote:

Wah ike² ini apaan yach?emoticon-ceyem
Quote:

Betul gan. Kudu sering² dipraktekkanemoticon-Big Grin
Quote:

Ayo belajar lgemoticon-Monggo
Balasan Post skydavee
Quote:

It will gan emoticon-Malu (S)
Bahasa Inggris cuma sekedar tahu aja gan, kalau orang ngomong udah sampe analitikal tapi pake bahasa Inggris tanpa subtitle (pake subtitle Inggris masih ngedong ane) susah

Apalagi grammar, ngecek ini bener atau salah ngga tau selain dikatain orang RIP ENGLISH emoticon-Leh Uga padahal kalau Singapore juga bahasa Inggrisnya aneh karena grammar itu mirip EYD kalau di mari
Diubah oleh hendiii1211
Quote:


Goodluck ya? Wish your english fluently just like u hopeemoticon-Malu
Quote:


Betul ganemoticon-Big Grin
sing penting yakin bae lah dab..

Englis ra english...sing iso gur ai lop piyu karo yes no yes no emoticon-Leh Uga
Quote:


Pokoke yakinemoticon-Goyang
Keseringan make bahasa english jaksel sih emoticon-Entahlah
Quote:


Hahahaha. Iye. Jdnya kek gini. Literally, sayah sih suka bingung sendiri. Moreover somebody elseemoticon-Tepar
Yg mau walikemoticon-Monggo
Poin2 nya betul banget tu om. Jadi ada ide nich buat nulis tentang english emoticon-Angel
Halaman 1 dari 12


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di