alexa-tracking

5 Alasan Kenapa La Liga Lebih Baik daripada Liga Inggris.

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b9b1a50d675d490508b4578/5-alasan-kenapa-la-liga-lebih-baik-daripada-liga-inggris
5 Alasan Kenapa La Liga Lebih Baik daripada Liga Inggris.
5 Alasan Kenapa La Liga Lebih Baik daripada Liga Inggris.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kalangan yang acap membanding-bandingkan dua kompetisi terbaik Eropa, La Liga dan Liga Inggris. Namun, ada lima alasan yang menyebut kalau liga di Spanyol lebih baik ketimbang Inggris. 

Liga Inggris memang punya liga yang sengit. Tak ada yang bisa memprediksi siapa juara yang akan angkat piala di akhir musim meski sudah memasuki bulan Februari atau Maret.

Namun demikian, secara kualitas tampaknya masih kurang menonjol. Salah satu alasan, tengoklah susunan lengkap FIFA FIFPro World XI 2016.



Dari 11 pemain terbaik, tak ada satupun pemain dari Liga Inggris yang hiasi daftar. La Liga sendiri bahkan menyumbangkan sembilan nama. Hanya Manuel Neuer dan Dani Alves saja yang berasal dari luar La Liga.
Itu hanya satu contoh saja. Masih ada lima alasan lain yang menyebut kalau La Liga lebih bagus ketimbang Liga Inggris. Beriku daftarnya dikutip dari Sportskeeda:

1. Sejarah 

Fakta menyebut kalau Divisi Pertama di Inggris lahir pada 1888. Namun,faktanya Liga Inggris baru muncul pada 1992 sedangkan La Liga sudah sejak 1929. Tapi itu hanya alasan lahir saja. 

Ada lagi histori yang bisa dibilang berpihak kepada La Liga. Di Spanyol sangat kaya akan budaya. Sebut saja, Catalan, Basque, hingga Castillan yang punya identitas erat kepada klub seperti Barcelona, Athletic Bilbao dan Real Madrid. 

Di Inggris sendiri ada contoh Liverpool dan Everton mungkin memiliki klaim untuk mewakili 'Scouse' identitas. Tapi itu lebih dari dialek saja. Inggris bukan tanpa budaya, tapi di La Liga unsur ini memiliki kekhasan dan dibawa ke ranah sepak bola. Sehingga acap kali para tim bertemu, unsur itu ikut berbicara. 
5 Alasan Kenapa La Liga Lebih Baik daripada Liga Inggris.
2. Kualitas Sepak Bola 

Soal sepak bola yang baik itu subjektif memang. Namun, bila ditelisik lebih dalam, cara La Liga lebih berkualitas. Sebab, rata-rata permainan di La Liga selalu dari kaki ke kaki. 

Sedangkan di Inggris, timnya lebih mengutamakan bola-bola panjang. Saat pemanasan sebelum laga juga menarik. Di Spanyol klub menyuruh pemain melakukan pemanasan dengan bola. 

Berbeda ketika di Inggris. Para pemain hanya berjalan, peregangan, dan melompat tanpa bola. Kalau Anda penasaran coba saksikan secara langsung. 



3. Hadirnya Dua Pemain Terbaik di Dunia 

Jika Anda ingin menonton pemain terbaik di dunia, Anda harus memilih La Liga. Dalam 60 tahun terakhir, ada 20 pemenang yang berasal dari La Liga, diikuti 18 Serie-A. 

Sedangkan, Liga Inggris sendiri hanya mampu menyumbang lima nama saja. Eden Hazard dan Alexis Sanchez memang boleh dianggap sebagai pemain terbik. Tapi mereka belum bisa melampaui apa yang dilakukan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. 

Belum lagi nama-nama lain, seperti Antoine Griezmann, Gareth Bale, Luis Suarez dan Neymar yang selalu hadir dlam daftar penyerang terbaik dunia. Itu menunjukkan kalau pemain terbaik ada di La Liga. 

4. Kompetitif 

Sejak Liga Inggris digulirkan 1992 lalu, ada enam pemenang, termasuk Leicester City musim lalu. Dalam periode yang sama, La Liga hanya lima pemenang saja. 

Awalnya, orang akan menilai kalau perebutan gelar La Liga hanya antara Barcelona dan Real Madrid. Namun nyatanya, Sevilla dan Atletico Madrid kini jadi penantang serius. 

Ada satu contoh menarik kala Barcelona melawan Leganes, 20 Februari lalu. The Catalans hanya bisa menang beruntung 2-1 dan itupun karena penalti. 

5. Tuan dari dunia, bukan hanya Eropa 

Dari 12 piala internasional yang tersedia dalam sejarah sepak bola, La Liga telah menyapu bersih semuanya. Sejak zaman Milenium, telah ada 30 trofi klub internasional yang didapatkan klub La Liga. 

Sedangkan Liga Inggris hanya mengambil 8 di antaranya. Selain itu dalam hal koefisien peringkat EUFA 10 besar, empat klub La Liga memimpin. Sedangkan hanya Chelsea yang masuk 10 besar dari Premeir League 

Total gelar dunia dari 2013: 

Liga Champions 2013/14: Real Madrid 
Liga Europa 2013/14: Sevilla 
Piala Super Eropa 2014: Real Madrid 
FIFA Club World Cup 2014: Real Madrid 
Liga Champions 2014/15: Barcelona 
Liga Europa 2014/15: Sevilla; 
Piala Super Eropa 2015: Barcelona 
FIFA Club World Cup 2015: Barcelona 
Liga Champions 2015/16: Real Madrid; 
Liga Europa 2015/16: Sevilla; 
Piala Super Eropa 2016: Real Madrid; 
FIFA Club World Cup 2016: Real Madrid
ADAKAH YANG MAU MEMBANTAH ?
emoticon-Cool emoticon-Cool emoticon-Cool emoticon-Cool emoticon-Cool emoticon-Cool
emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up
Kini, yang berbangga hati menonton siaran sepakbola Eropa lewat teve berbayar pun ada. Meremehkan mereka yang menonton dari jalur hitam berupa streaming. Seolah tidak pernah tumbuh menjadi seperti sekarang berkat tayangan gratisan di RCTI, Trans7, TV One, SCTV, atau tentu saja TVRI serta teve swasta lain yang bisa ditonton cuma-cuma.

Industri sepakbola Eropa memang mengarah ke sana. Digiring oleh pemodal besar hanya untuk mereka yang punya modal cukup. Di sini cukup bolehlah diartikan di atas rata-rata. Rata-rata ya mereka itu yang masih menempatkan sandang, pangan, papan sebagai kebutuhan primer.

Liga Primer Inggris (yang nilai hak siarnya paling tinggi di jagat sepakbola) sudah terang-terangan membikin peraturan untuk membatasi sebaran tayangan ulang pertandingan. Tayangan langsung tidak perlu ditanya. Gak punya uang ya gak usah nonton. Begitulah industrialisasi (atau lebih tepatnya kapitalisasi) sepakbola bekerja.

La Liga, dalam hal nilai hak siar, masih kalah jauh dari EPL. Mulai musim depan nilai siaran La Liga 2,65 miliar euro untuk tiga tahun mendatang, Sementara EPL sudah ada di angka yang kurang lebih sama tapi untuk satu musim saja. Dengan kata lain, hampir tiga kali lipat dari La Liga.

Satu aspek yang berpengaruh pada besaran nilai hak siar adalah jumlah penonton. EPL ditonton hampir 5 miliar pasang mata di seluruh dunia, La Liga baru secuil di atas 1 miliar. Teve jelas berani keluar uang lebih banyak jika penontonnya lebih masif.

Divisi Pemasaran EPL memang cerdas. Mengubah jam pertandingan untuk menyesuaikan pasar Asia yang penduduknya melimpah ruah (dan masih hobi beranak pinak), membuat game Fantasy Premier League hanyalah dua dari beberapa cara pemasaran yang terbukti tokcer. Sementara La Liga lebih memilih menyesuaikan pasar Amerika Selatan yang populasinya kalah dari Asia, belum lagi budaya tidur siang di Spanyol.

Toh dengan segala kecerdikan pemasaran itu, bukan berarti jalan La Liga menyamai (atau malah mengungguli) jumlah penonton tayangan EPL tertutup. Jenis tayangan yang dibatasi oleh EPL bisa dimanfaatkan La Liga untuk menggesur pasar lawan.

Satu yang sudah dilakukan adalah menyajikan tayangan ulang pertandingan secara cuma-cuma. Tengok saja kanal LaLiga di Youtube dan akan kau temukan banyak sekali ulasan pertandingan LaLiga berserakan di sana. Mereka memblokir IP address Indonesia, tapi toh masih bisa dengan mudah diunduh. Cuplikan wawancara pun bisa mudah diakses (tapi dengan bahasa Spanyol yang tidak banyak orang paham, tanpa terjemahan pula) untuk dimanfaatkan pewarta.

Masih kurang? Ada kanal El Dia Despues yang menayangkan kejadian menarik di samping pertandingan utama. Dan semuanya bisa diakses secara gratisan. Padahal yang punya kanal ini Movistar, pemilik sah hak siar La Liga. Tidak ada orang yang tidak suka gratisan. Sekalipun anda seorang kaya. Yakinlah.

Kemudahan akses ini yang bisa jadi senjata La Liga. Sementara EPL membatasi, La Liga bisa membebaskan untuk mencuri audiens. La Liga bisa belajar banyak dari Angry Bird.
Angry Bird, game yang bisa dimainkan tanpa keluar duit, menuai kesuksesan besar. Pada 2010, game bikinan Rovio meraih $1 juta per bulan dari iklan saja. Game berbayar (di konsol) harus terjual 25.000 kopi agar bisa mendapat duit sebanyak itu. Jika Angry Bird mendapat pemasukan $100 juta, itu sama dengan harga 2,5 juta kopi game konsol.

Game gratisan pun merajalela. Meraih lebih banyak audiens daripada yang pernah dilakukan game berbayar. Menurut pengakuan pengembang game lokal, harga adalah barrier to entry alias hambatan masuk pasar. Dengan kata lain adalah kesulitan akses.

Nilai hak siar La Liga boleh saja naik, tapi mengikuti cara EPL tidak akan membantu mereka memenangkan hati pemirsa. Adalah bijaksana jika nilai hak siar dikontrol pada titik daya beli teve gratisan macam RCTI atau sejenisnya. Dengan begitu tayangan langsung La Liga bisa diakses oleh banyak kelas. Tidak hanya mereka yang punya pendapatan di atas rata-rata. Maka audiens pun menggelembung otomatis.

Gelembung audiens bisa dijual kepada para pengiklan. Angka-angka yang lebih besar kerap membuat pengiklan takluk, hingga akhirnya mau mengumbar investasi beriklan di La Liga. Siapa yang tak mau produknya dikenal hampir separuh penduduk bumi?

Demikian, La Liga bisa mendapatkan uang lebih banyak dari iklan dan sponsor sambil tetap membikin akses ke tayangan mereka mudah. Sesekali berjiwa komunal bolehlah.

VIVA LA LIGA !!!
×