arkianwidi
TS
arkianwidi
#IniIndonesiaku "KBBI LEBIH POPULER DARI MACMILLAN DAN LONGMAN "



foto: liputan6.com


Bagi pegiat literasi pasti sudah tidak asing dengan alat bantu satu ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan[/URL] (KBBI Daring) dari Badan Bahasa Kemendikbud RI. Sejak diluncurkan 28 Oktober 2016, Meski bersumberdaya terbatas, KBBI Daring telah membantu lebih dari 25 ribu pengguna terdaftar. Dan ternyata, KBBI Daring lebih populer diakses dibanding Kamus MacMillan dan Longman yang sudah lama eksis. Yuk, gan n sis, kita telusuri fakta menarik dari dapur pacu pangkalan data akbar dari situs yang baru berusia (sejak artikel dituliskan) 660 hari ini.

Unggul Peringkat Dunia

KBBI Daring berbasis data KBBI Edisi Kelima. KBBI daring dimutakhirkan tiap 6 bulan sekali. Untuk tahun ini, KBBI edisi kelima dimutakhirkan. Terhitung pada April 2018, ada 1000 kata atau lema baru yang sudah masuk ke KBBI daring.

Secara teknis, KBB Daring dapat dimutakhirkan tiap saat. Karena KBBI Daring membuka peran serta masyarakat untuk urun daya menambah kosa kata baru. Ada 57 editor, 5 redaktur dan 1 validator yang mengelola masukan data dan saran lema baru. Agan dan Sista punya usulan kata baru? Nyok, segera merapat ke TKP





Video Tutorial Mengusulkan Kosa Kata Baru


Statistik penggunaan KBBI Daring sampai saat ini memiliki 22 juta lebih jumlah pencarian (33 ribu perhari), 1 juta akses unik, dan 41 ribu jumlah usulan. Tak heran Alexa mengganjar peringkat 1700-2000 (Apr 2018 – Mei 2018). Adapun rangking dunia KBBI Daring jauh di atas Kamus MacMillan dan Longman yang lebih dulu eksis di dunia maya.

Menurut situs Check Page Rank, KBBI Daringmenempati Global Rank: 2,421 dan Alexa Reach Rank: 2,885. Peringkatnya di atas Longman Dictionary of Contemporary English Online yang menempati Global Rank: 5,187 dan Alexa Reach Rank: 6,252. Juga mengungguli MacMillan Dictionary yang menempati Global Rank: 4,502 dan Alexa Reach Rank: 4,068. (Data diakses, Senin 20 Agustus 2018).

Kita patut berbangga. Artinya, antusiasme warganet, khususnya masyarakat Indonesia akan Bahasa Indonesia, sangatlah tinggi. Bahwa berselancar di dunia maya juga termasuk trafik yang berkaitan kegiatan kebahasaan. Dari kabar baik ini, semoga kesadaran anak bangsa untuk merajut persatuan dapat dicapai, salahsatunya lewat kecintaan bersama terhadap Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.


Kamus Zaman Old


Mari kita sejenak tengok ke belakang. Zaman di mana kita masih harus menggendong dan memangku KBBI cetak. Masa di mana kita masih harus membuka kitab yang punya berat lebih dari 3 kilogram. Waktu di mana kita masih harus menelusuri buku besar berisi tak kurang dari 2 ribu lembar halaman. Semua demi menemukan kata-kata tertentu. Bayangkan berapa lama kita habiskan waktu hanya untuk mencari kata-kata saja.

Biasanya pun tak banyak yang punya kamus cetak. Dalam hal ini kamus terbitan resmi keluaran Badan Bahasa Kemendikbud. Yang berukuran jumbo itu. Kalau ada juga, yang kita punya adalah kamus-kamus berukuran saku. Kamus ‘pemberi harapan palsu’, begitu saya menyebutnya. Karena di sampul sudah dijanjikan judul “kamus lengkap”. Sebagian menyebutnya Kamus Turis. Karena memang bukan untuk kepentingan serius. Hanya teman sambil jalan.

Kalau memang mau serius, kita datangi perpustakaan-perpustakan. Demi menemui kamus cetak yang sedang teronggok di pojok rak. Menembal debu menunggu kita untuk membuka lembar tiap lembarnya. Hanya orang-orang yang terpilih saja yang semangat membuka kamus cetak dan berniat membelinya. Sisanya, orang buka kamus kini sekadar romantisme zaman dulu sahaja. Kegiatan para hipster mewarnai feed akun Instagram mereka.





Kamus Zaman Now


Kita kembali ke hari ini. Di mana semua dituntut serba cepat dan ringkas. Kesadaran akan kualitas literasi dalam karya makin tinggi.Meski sekadar update status di medsos. Jurnalis media daring mau segera menaikkan berita. Pembuat konten ingin lekas aktual di lini masa. Penulis-penulis kejar tayang diburu klien. Bagaimana mempertahankan komitmen mutu dikejar lesat tenggat? KBBI Daring salahsatu jawabannya.

Tak perlu lagi kita ke perpustakaan cari kamus cetak. Kalau pun ada yang punya, hanya instansi-instansi tertentu saja yang memiliki. Karena kamus dicetak terbatas. Mengingat biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Untuk mencetak mencetak 500 eksemplar saja, butuh dana kurang lebih 200 juta rupiah. Beban ini belum termasuk ongkos kirim. Sedangkan syarat jumlah minimal cetak 3000 eksemplar.

Syukurlah Badan Bahasa kembali berinovasi menjawab kebutuhan zaman now. Sekali lagi, berbekal sumber daya terbatas, mereka berhasil “menipiskan” kamus hingga seukuran ponsel pintar kita. Kini kita bisa akses kamus kapan pun di manapun lewat app yakni KBBI Luar Jaringan (Luring). Semua gratis. Berkas berukuran 6.5 MB ini bisa diunduh di KBBI Luring.

Tampilan awal app menyajikan kategori Bahasa, Bidang, Kelas Kata, Ragam, dan Jenis. Menurut penulis, pengkategorian ini cukup memudahkan untuk pencarian lebih lanjut. Bisa menambah khazanah berbahasa kita. Apalagi jika nanti KBBI bergabung bersama Korpus Indonesia, Tesaurus, dan Ensiklopedia, membentuk 4 pilar dalam eksistensi di era digital. Makin lengkap kesiapan badan Bahasa menyongsong era big data.

Dalam penutupan Seminar Leksikografi 2018, didapati fakta, tenaga bagian teknologi dan informasi Badan Bahasa masih sangat minim. Yakni sekitar 5 orang saja. Kendati demikian, performa yang ditampilkan, setidaknya untuk KBBI Daring, sudah membanggakan kita. Pekerjaan rumah ke depan adalah Badan Bahasa mengajak lebih banyak lagi instansi dan segenap elemen masyarakat untuk berpartsipasi bersama agar lebih memperkaya dan memperkuat KBBI Daring demi mewujudkan cita-cita luhur Bangsa.


Diubah oleh arkianwidi 28-09-2021 04:39
1
7.7K
62
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan