alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b6adc661a9975423b8b4568/myths

MYTHS CHAPTER 01

Mikum gan / sis....

Saya Athox dari Rangkasbitung, sedang mencoba membuat karya tulis berupa cerita fiksi yang beberapa diantaranya diambil dari kejadiannya nyata di kampung saya.. Mohon di koreksi kalau ada salah kata . emoticon-shakehand


selamat membaca...emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin



CHAPTER I

SI GUNDUL

 

Senja yang datang mengisyaratkan anak-anak untuk pulang setelah bermain bola di lapangan dekat pabrik gilingan padi. Athox yang masih asyik bermain terpaksa harus menghentikan permainannya karena waktu sebentar lagi menjelang maghrib. Suara anak-anak bershalawat di mesjid terdengar sampai ke penjuru kampung Pariuk Nangkub, membuat Athox harus segera bergegas pulang agar tidak terlambat ikut shalat maghrib berjamaah di mesjid yang lumayan jauh dari rumahnya.

Adzan berkumandang dari speaker masjid mengingatkan warga kampung Pariuk Nangkub agar segera melaksanakan ibadah shalat maghrib. Terdengar riuh anak-anak yang bercanda di depan teras masjid yang membuat Pak Amin geram. Tidak kurang dari sekali Pak Amin membentak anak-anak berhenti bercanda karena mengganggu bapak-bapak yang sedang berdzikir sambil menunggu imam datang.
Pak Amin adalah ketua pemuda di kampung Pariuk Nangkub yang disegani, hingga anak-anak pun takut jika Pak Amin membentak mereka. Mereka pun diam sambil menunggu imam datang, tak lama kemudian imam pun datang. Shalat berjamaah maghrib pun berjalan khusyuk karena anak-anak pun ikut shalat walaupun bacaannya belum fasih.

Semilir angin Menembus sela-sela sarung membuat Athox, Adong, Kukus, Jejen dan Endang merasakan kedinginan sambil terus berjalan menyusuri pematang sawah. Seperti biasa mereka berlima pergi belajar mengaji di rumah Hajjah Sapriah setelah shalat maghrib. Jalan yang agak becek karena sore tadi turun hujan tetap mereka lalui demi menuntut ilmu yang bermanfaat. Namun yang membuat mereka enggan untuk mengaji karena jalan yang dilalui harus melewati pabrik penggilingan padi yang terkesan angker.

Pabrik Penggilingan Padi milik Pak Mamat yang berada di pertengahan kampung itu telah berdiri sejak tahun 1948. Pabrik itu di kelola dan diwariskan turun temurun hingga saat ini. Saat malam suasana gelap menyelimuti pabrik itu karena tidak ada penerangan dan saat itu belum ada listrik yang di alirkan ke kampung Pariuk Nangkub. Banyak hal mistis yang sering di ceritakan turun temurun dari kakek-kakek buyut seperti beras yang di simpan di pabrik selalu berantakkan padahal sebelumnya sudah di susun rapi, kadang terdengar suara ibu-ibu dan bayi menangis dan masih banyak lagi cerita-cerita mistis yang sampai saat ini belum terungkap kebenarannya.

Pukul 21.00
MYTHS

Athox, Adong, Kukus, Jejen dan Endang bersiap pulang dari pengajian, di perjalanan mereka saling bercanda satu sama lain untuk menghilangkan rasa takut karena sebentar lagi mereka akan melintasi pabrik penggilingan padi yang angker itu. Hawa dingin semakin membuat rasa takut meluap-luap hingga mereka pun semakin mempercepat langkahnya. Tanpa disadari, Jejen yang tidak bisa melihat dengan jelas karena memiliki kelainan mata tertinggal di belakang.

 “Wooy... Tunggu aku dong “ Sahut Jejen dengan nada setengah teriak.



HUHAHAHAHAHA...... HUHAHAHAHAHA.....



Tiba-tiba terdengar suara makhluk yang tertawa di atas pohon Randu belakang pabrik sehingga membuat teriakan Jejen tidak di hiraukan Athox dan yang lainnya karena mereka langsung lari terbirit-birit. Sementara itu, Jejen yang sempat melihat ke arah pohon randu gemetar tidak karuan. Sosok yang terlihat menyeramkan dan berkepala Gundul membuat Jejen hampir kehabisan nafas dan sarungnya yang lusuh harus rela terkena banjir bandang yang tak terduga. Jejen pun pingsan di di dekat pohon randu belakang pabrik.



“Hah.. Hah.. Hah.. Aku lihat lho makhluk tadi yang di atas pohon randu” Kata Athox dengan nafas yang masih sesak setelah berlari lumayan jauh dari pabrik.



“Ah masa sih, hah..hah..hah.. yang aku dengar Cuma suara tertawa yang menyeramkan” Kata Kukus dengan nafas terengah juga.



“Iya, aku juga lihat makhluk itu, kepalanya gundul” Kata Adong menimpali.



“Terus bagaimana soal Jejen, apa kita susul saja?” Tanya Endang.



“Ogah, tadi aja lihatnya udah seram banget apalagi harus balik lagi kesana” jawab Athox dengan wajah setengah takut.



“Yaudah begini saja, Endang dan Adong pergi ke Pos Ronda, nanti saya dan Athox yang akan pergi ke rumah Pak Amin untuk memberitahu beliau, lagian anak-anak macam kita bisa apa tanpa bantuan bapak-bapak” Jawab Kukus.


Kukus memang yang paling tua di antara mereka berlima dan mereka pun menyetujui usulan kukus dan langsung bergerak sesuai yang di perintahkan.

Bersambung......
Diubah oleh athoxzoemanta
Halaman 1 dari 2
lanjut numpang2 baca pengalaman mistisnya gan

MYTHS CHAPTER 02

Sore menjelang malam agan/sista,

Penasaran dengan chapter ke - 2 "MYTHS"?

Yuk langsung aja disimak.. ini dia......


CHAPTER II

POS RONDA


Kampung Pariuk Nangkub terbilang cukup luas. kampung yang di kelilingi hutan ini sering sekali menjadi incaran para maling dan begal, karena hutan yang mengelilinginya memudahkan para maling maupun begal untuk lolos dari kejaran warga. Hutan yang lebat dengan pohon yang menjulang tinggi membuat warga tidak berani melewatinya saat malam hari, inilah yang membuat maling dan begal merasa di untungkan. Niat dan hati yang busuk seorang maling, mampu membuatnya melewati hutan tersebut tanpa rasa takut.


Di pertigaan jalan kampung, berdiri sebuah Pos Ronda dengan tujuan untuk menjaga keamanan. Namun apa yang terlihat tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan, Pos Ronda hanyalah sebuah tempat yang di gunakan warga untuk bermain gaple sampai malam larut. Tidak ada seorang pun warga yang giliran ronda berkeliling untuk mengecek kondisi kampung. Dan terkadang Pos Ronda hanya di jadikan tempat tidur bagi para peronda. Pak Amin tidak bosan-bosannya mengingatkan setiap ada pertemuan agar warga semakin waspada, karena bukan sekali dua kali kampung ini di gondol maling, namun warga yang mengiyakan hanya mampu menjalankannya selama dua sampai tiga malam, dan setelahnya tetap kumat lagi.


Dari kejauhan sayup sayup terdengar suara teriakan seperti orang ketakutan yang tak lain adalah suara Adong dan Endang. Semakin lama teriakan itu semakin terdengar jelas sehingga para peronda yang tengah asyik bermain gaple pun menghentikan permainannya dan menoleh ke arah sumber suara.


“Tolong... Tolong.. Ada setan gundul” Teriak Adong dan Endang hampir bersamaan dan berulang-ulang.


Setelah cukup dekat barulah para peronda tahu bahwa yang berteriak barusan adalah Adong dan Endang. Kaos yang mereka kenakan basah kuyup karena keringat, suara nafas mereka pun terengah-engah naik turun. Pak Doel salah seorang peronda, segera memberikan air putih kepada mereka berdua. Tanpa  basa-basi mereka berdua langsung meneguknya. Setelah keadaan menjadi tenang, barulah pak Juli, Pak Doel, Pak Saep, dan Pak Nahuri menanyakan alasan kenapa mereka berdua lari ketakutan.


“Ada apa, Dang”. Tanya Pak Nahuri kepada anaknya,  yaitu Endang.


“Ada setan gundul pak,hah..hah...hah.. di pohon randu belakang pabrik”. Jawab Endang yang masih terengah-engah.


Rupanya air putih yang disuguhkan belum cukup membuat rasa ketakutannya hilang. Tentu saja jawaban Endang membuat Bapak-bapak itu terperangah, dan terlihat sedikit ketakutan di wajah mereka.


“Tolongin Jejen pak, dia masih ada di belakang pabrik”. Adong pun ikut berbicara setelah nafasnya mulai kembali normal.


“Anak saya kenapa?”. Tanya Pak Saep, bapaknya Jejen.


“Maaf Pak, kami tadi ketakutan mendengar suara Si Gundul, makanya kami lari terbirit-birit meninggalkan Jejen di belakang”. Jawab Endang dengan nada memelas dan hampir menangis.


“Kalian kan tahu, anak saya itu kurang jelas penglihatannya, kenapa kalian tinggal”. Ucap Pak Saep lagi dengan nada tinggi.


“Sudah.. Sudah.. jangan emosi Pak Saep, lebih baik kita cari solusi dari permasalahan ini dan menjemput Jejen secepatnya”. Jawab Pak Doel melerai Pak Saep yang naik pitam.


Sebenarnya dia juga khawatir soal bagaimana keadaan anaknya yaitu Athox, karena dia tahu anaknya selalu pergi mengaji bersama mereka.


Bapak-bapak itu pun saling bertatap mata satu sama lain, menandakan bahwa mereka sedang diliputi rasa bingung.


“Aduh, bagaimana ini Pak Doel?, Si Gundul itu masih saja suka mengganggu anak-anak”. Tanya Pak Nahuri kepada Pak Doel.


Pak Doel hanya terdiam sambil menggigit kuku jempol kirinya, tidak tahu apa yang dia pikirkan namun hanya terlihat wajah yang sedang kebingungan.


“Saya Juga bingung, harus bagaimana biar arwahnya Si Gundul itu bisa tenang.” Pak Saep Menimpali, emosinya pun mulai mereda.


“Mungkin dia masih dendam sama kita, Pak Nahuri”. Jawab Pak Doel.


“Tunggu dulu, sebenarnya Si Gundul yang di obrolin barusan itu siapa?”. Tanya Pak Juli yang sejak tadi diam saja.


Pak Juli adalah warga yang baru pindah, sebelumnya ia tinggal di Kampung Lembur Dukuh. Namun setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan seorang janda di Kampung Pariuk Nangkub dan menetap disana. Kampung Lembur dukuh dan Pariuk Nangkub terbilang cukup dekat, hanya terpisah oleh pematang sawah dan masih satu kelurahan. Wajar kalau Pak Juli tidak tahu menahu soal keangkeran Pabrik Penggilingan Padi milik Pak Mamat itu.


Pak Nahuri menarik nafas dalam-dalam, dan ia pun mulai menceritakan tentang siapa Si Gundul kepada Pak Juli.


“Begini Pak Juli, Si Gundul itu........ Diihhh..


Pak Nahuri menghentikan ceritanya sambil menghalangi matanya dengan siku, karena silau dari cahaya senter yang mengarah padanya.


“Ini senter siapa sih?, jangan diarahin ke saya, silau tahu”. Ujar Pak Nahuri dengan nada gusar.


Mereka yang ada di Pos Ronda mengalihkan pandangannya ke arah datangnya cahaya senter yang menyilaukan. Tampaklah bayangan dibalik cahaya senter, satu orang tua dan dua orang anak-anak yang tak lain adalah Pak Amin, Kukus, dan Athox.


“Wah.. Wah.. Wah.. Kirain saya kalian udah pada tidur, tadinya mau saya siram pakai air selokan. Hahahaha.” Ucap Pak Amin setelah dekat dengan Pos Ronda sambil tertawa.


“Sembarangan saja kalau bicara, lihat dong ini lagi melek, pakai acara ngarahin senter segala, silau tahu gak?” Jawab Pak Nahuri ketus.


Pak Nahuri memang tidak akrab dengan Pak Amin, itu bermula ketika terjadi pertikaian perebutan sumber air untuk mengairi sawah mereka. Di tambah lagi Pak Nahuri adalah kandidat kedua ketua pemuda yang di calonkan warga, namun warga lebih banyak memilih Pak Amin. Hal inilah yang membuat Pak Nahuri tidak bisa akrab dengan Pak Amin.


“Sudah, jangan diteruskan”. Ujar Pak Doel melerai Pak Nahuri dan Pak Amin yang mulai memanas. Pak Doel pun merasa tenang karena melihat Athox baik-baik saja.


“Iya, jangan berkelahi disini, lebih baik kita segera ke pabrik sana menjemput anak saya”. Jawab pak Saep sambil menunjuk ke arah pabrik.


“Hey..Hey.. Hey.. Si Gundul itu siapa? Saya tidak tahu menahu soal Si Gundul, jadi percuma juga kalau saya ikut.” Tanya Pak Juli lagi.

Mereka semua menatap ke arah Pak Juli, membuat Pak Juli jadi salah tingkah.


“Yah, Mau bagaimana lagi, karena kamu warga baru disini, kami akan menceritakan seluk beluk pabrik itu, dan tentang siapa sebenarnya Si Gundul itu”. Jawab pak Nahuri.


Bersambung...


Jangan lupa jejak nya yah gan emoticon-Wowcantik


Ilustrasi gambar : https://www.widodogroho.com/2017/01/fungsi-dan-sejarah-pos-ronda.htmlMYTHS


MYTHS CHAPTER 03

Malam gan/sista
Ini tulisan ke-3 saya, lanjutan dari cerita fiksi "MYTHS"
Ini dia chapter 03 nya... cekidot emoticon-Ngacir2


CHAPTER III

PABRIK PENGGILINGAN PADI

 
Pariuk Nangkub, Tahun 1948

Kemerdekaan Negara Indonesia tahun 1945 memang sangat terasa dampaknya. Warga sudah mulai bekerja keras tanpa rasa takut akan kolonial dan antek-antek penjajah. Hal itu pun dirasakan oleh warga di kampung Pariuk Nangkub. Mereka dengannya giatnya mulai bertani menanam padi, berkebun dan menjual hasilnya ke pasar tanpa rasa lelah. Pedesaan memang sangat cocok untuk pertanian, maka hasil yang di dapat juga sesuai dengan yang di harapkan. Tumpukan karung berisi padi hasil panen menumpuk menghiasi dapur setiap rumah warga.

“Alhamdulillah, panen tahun ini lumayan bagus”. Gumam pak Udin, sambil mengelap keringatnya karena lelah menumpuk puluhan karung berisi padi hasil panen di dapurnya.

MYTHS

ASSALAMU’ALAIKUM

Tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar rumah, Pak Udin pun bergegas ke luar rumah.

"Wa’alaikum salam, eh.. Pak Sanuri, tumben sore-sore datang ke sini?, Silahkan duduk Pak!” Kata Pak Udin, mempersilahkan tamunya duduk di kursi rotan depan rumahnya.

Orang yang di panggil Pak Sanuri itu pun tersenyum, ia pun duduk di kursi itu. Ternyata Pak Sanuri tidak bertamu sendirian, ia membawa anaknya yang cikal yang sejak tadi berdiri mematung.

“Oh iya, ini siapa pak?” Tanya Pak Udin.

“Ini anak cikal saya, Namanya Misri, ayo adek juga duduk sini”. Jawab Pak Sanuri, sambil menyuruh anaknya ikut duduk.

Misri yang sejak tadi berdiri, akhirnya duduk menuruti perintah ayahnya. Misri yang berumur 17 tahun ini terlihat kikuk karena baru sekali ini ia di ajak bertamu oleh bapaknya.

“Yati.. Yati.. Ambilkan air untuk tamu ayah”. Seru Pak Udin, memanggil anaknya yang ada di kamar depan.

“Iya Pak”. Jawab Yati, dari dalam kamar.

Tak lama kemudian, wanita cantik seumuran Misri yang tak lain adalah Yati, datang dengan membawa teko di tangan kanannya, dan gelas di tangan kirinya. Misri yang melihat ke arah Yati merasa takjub dengan kecantikannya.

“Silahkan diminum pak, maaf cuma ada air putih”. Ucap Yati sambil tersenyum.

“Aduh.. jadi ngerepotin.” Ucap Pak Sanuri.

“Tidak apa-apa Pak, silahkan diminum pak”. Timpal Pak Udin.

Sementara itu, Misri masih asyik memandangi Yati yang beranjak masuk ke dalam rumah.

“Hey.. Jangan melamun, gak ada gunanya, gak bisa lihat yang cantik dikit, matamu langsung seliweran”. Ucap Pak Sanuri, membuat Misri kaget bukan kepalang.

“Maaf Pak”. Ucap Misri singkat.

“Hehehe, anak saya cantik yah, dek?” Kata Pak Udin, menggoda Misri.

Misri hanya tertunduk malu. Yati memang cantik hingga Misri sangat terkagum-kagum walaupun baru pertama kali bertemu.

“Oh iya Pak, ada apa yah sore-sore datang kemari?”. Tanya Pak Udin, mengembalikan topik pembicaraan.

“Begini lho Pak Udin, ini kan lagi musim panen, kalau mau menggiling padi, ke pabrik baru saya saja, nanti kalau takut berat bawa padi nya, bisa Misri jemput pakai mobil”. Jawab Pak Sanuri.

“Oh bangunan yang baru selesai itu, mau di jadiin pabrik toh”. Tanya Pak Udin lagi, sambil menunjuk ke arah bangunan yang baru rampung.

“Iya Pak Udin”. Jawab Pak Sanuri singkat.

"Wiihh.. Membantu sekali itu Pak, apalagi sekarang kan lagi musim panen." Sahut Pak Udin dengan muka berbinar.
Ia tahu betul betapa sulitnya warga yang ingin menggiling padi saat musim panen, karena pabrik penggilingan padi sangat jauh, di Desa sebelah yang jaraknya sekitar 5 kilo-an. Belum lagi mahalnya ongkos mobil untuk mengangkut padi yang akan digiling.

"Hehehe.. Iya Pak, lagi ada modal usaha,  kan lumayan buat investasi masa depan". Timpal Pak Sanuri.

Setelah lama mengobrol kesana kemari, akhirnya Pak Sanuri pun pamit, karena hendak memberitahu warga lain soal penggilingan padi miliknya.

Bersambung ke Chapter IV... emoticon-Traveller

MYTHS CHAPTER 04

CHAPTER IV
MABUK CINTA


MYTHS

Semilir angin berhembus menusuk sela-sela kemeja lusuh yang di pakai Misri. Kala itu Misri sedang bersandar di kursi reyot, depan pabrik penggilingan padi milik ayahnya. Tampaknya ia sedang melamun namun entah apa yang di ada di lamunannya itu. Tak jarang sesekali ia senyum-senyum sendiri seperti anak yang kebanyakan micin.


“Yati.. Yati.. kenapa kamu cantik sekali?, aku sampai tergila-gila seperti ini”. Gumam Misri.


Semenjak pertemuannya dengan Yati kala itu, ternyata membuat Misri terus-terusan melamun menahan hasrat ingin bertemu kembali dengan Yati. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Yati sosok yang di bayangkan Misri, lewat di depan pabrik membuat Misri tersadar dari lamunannya. Tanpa pikir panjang ia pun menggoda Yati.


“Neng cantik habis dari mana sore-sore begini?”. Tanya Misri.

Yati pun berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Misri.

“Eh Kang Misri, ini Kang habis beli kopi di warung Ma Ikok”. Jawab Yati malu-malu.

“Sini atuh, ngobrol dulu sama akang, ada hal penting yang pengen akang omongin”. Ucap Misri lagi.

“Mau ngomongin apa kang?”. Tanya Yati, sambil menghampiri Misri.

“Begini Yati, semenjak ketemu sama Yati kemarin, akang teh kepikiran terus sama Yati”. Ucap Misri lagi.

“Ah si akang mah gombal ih..” Ucap Yati sambil tersipu malu.

Yati yang tersipu malu semakin membuat aura kecantikannya bertambah di mata Misri.

“Akang mah benar-benar suka sama Yati, Akang mah lebih baik mati dari pada kehilangan nyawa”. Balas Misri lagi.

“Sama aja atuh kang mati sama kehilangan nyawa mah”. Jawab Yati sambil tersenyum.

“Hahaha.. Maksud akang teh kehilangan Neng Yati, Neng Yati kan nyawa akang”. Misri melancarkan gombalannya lagi.

“Ah Kang Misri mah bisa aja”. Ucap Yati sambil tersipu malu.

“Yati udah punya pacar?, Mau nggak jadi pacar akang?”. Tanya Misri.

“Ah belum kang, Mmm.... jawabnya nanti aja yah.” Jawab Yati kikuk.

“Kapan?” Tanya Misri lagi.

“Malam ini, nanti akang tunggu Yati di sini yah, ini soalnya sekarang lagi buru-buru, takutnya bapak mau ngopi kagak ada kopinya”. Jawab Yati.

“Iya deh, yasudah kalau begitu akang anter yah”. Ucap Misri.

“Jangan kang, akang kan lagi jagain pabrik”. Ucap Yati, menolak tawaran Misri.

“Hehehe.. Iya sih”. Ucap Misri lagi.

Yati pun pergi dari pabrik, setelah berpamitan dengan Misri. Sementara Misri merasa gundah gulana, perasaan tidak sabar menyelimuti hatinya yang ingin cepat-cepat bertemu dengan Yati malam nanti.

Sesuai dengan yang dijanjikan, malam itu pun Misri bertemu dengan Yati yang di antar oleh Uum saudaranya. Ternyata keduanya memiliki perasaan yang sama dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih, dan sejak saat itu mereka sering bertemu setiap malam di pabrik penggilingan padi milik ayahnya Misri. Waktu terus berlalu dan terjadilah sesuatu yang tak diharapkan.

Bersambung ke chapter V..

ngetik ternyata bikin cape juga..emoticon-Gila .
Diubah oleh athoxzoemanta
CHAPTER V
MALAPETAKA


Teriknya mentari di siang hari membuat Misri semakin merasakan lelahnya bekerja. Sudah enam kali dia mengantar jemput puluhan karung padi milik warga yang akan digiling menggunakan mobil pickupnya. Akhirnya Ia pun duduk sejenak di kursi depan pabrik untuk menghilangkan rasa lelah. Air putih di teko yang dicampur Extra COSS dihabiskan dalam satu tegukan.

“Fuwahh.... Capek bener dah jadi kuli.., yah tapi namanya juga LAKI, LAKI Jadi KULI, LAKI minum Extra COSS”. Misri Bergumam sendiri untuk menghilangkan penatnya.

Panen tahun ini terbilang cukup menghasilkan, sehingga membuat pabrik padi satu-satunya di kampung ini harus kerja lebih extra menggiling padi milik warga. Dari pagi sampai sore, suara gilingan padi ini tak pernah berhenti. Hal ini membuat Misri hampir menyerah, namun ada satu yang membuat ia menjadi semangat kembali, yaitu tak lain adalah Sang Pujaan Hati “YATI”. Rasa penat bekerja tidak terasa jika sudah bertemu dengan Yati.

Setelah dirasa cukup beristirahat, Misri pun beranjak dari kursinya untuk melanjutkan sisa pekerjaannya. Namun baru saja hendak naik ke mobil, Misri di kejutkan dengan kedatangan Yati dari kejauhan yang terlihat muram. Perasaan was-was menyelimuti Misri, dia takut Sang Pujaan Hati memiliki masalah dengan dirinya. Karena tidak biasanya Yati memasang wajah seperti itu. Setelah cukup dekat, Misri pun menyapa Yati.

“Eh Neng Yati, habis dari mana?, kok mukanya cemberut begitu?”. Tanya Misri.

“Gak habis dari mana-mana Kang, emang sengaja mau kemari ketemu akang”. Jawab Yati dengan wajah masih cemberut.

“Ada Angin apa nih?, Kangen ya?..”. Misri mencoba mencairkan suasana.

“Mungkin”. Jawab Yati Ketus.

“Dihh.. Neng kok gitu?, ada masalah yah?, cerita atuh sama akang!”. Misri membanjiri Yati dengan pertanyaan.

“Nanti aja ceritanya, malam ini pokoknya kita mesti ketemu kang, ada sesuatu yang ingin Neng omongin”. Jawab Yati singkat.

“Oh yaudah atuh”. Ucap Misri kehabisan kata-kata.

Yati pun berlalu meninggalkan Misri yang masih tertegun memikirkan apa kiranya yang membuat Yati sangat jauh berbeda dari biasanya. Misri pun melanjutkan sisa pekerjaannya dengan hati yang masih di penuhi tanda tanya.

MYTHS

MALAM PUN TIBA

Semilir angin malam membuat badan Misri menggigil kedinginan. Hanya bermodalkan sarung yang menutupi seluruh badan dia bertahan menahan dinginnya angin malam, menunggu Yati di depan pabrik. Perasaannya campur aduk mengingat kejadian tadi siang, dimana Yati sangat berbeda dari biasanya. Ia terus menatap ke jalan kampung yang sedikit terhalang oleh mobil pickup nya, berharap Yati segera datang. Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, tampak dari kejauhan Yati berjalan sendiri dengan tergesa-gesa. Sesekali ia menengok ke kanan dan ke kiri seperti memastikan sesuatu.

“Neng buruan kesini.. Akang udah kedinginan nih dari tadi nungguin Neng”. Ucap Misri setengah teriak.

“Iya Kang”. Jawab Yati singkat.

Setelah sampai di depan pabrik, Yati pun duduk di kursi samping Misri. Dan tanpa basa-basi lagi, Yati pun memulai pembicaraannya.

“Akang, Yati mau cerita sama Akang, tapi Akang harus janji mau menerima apapun keadaan Yati nanti”. Ucap Yati.

Mendengar ucapan itu, perasaan Misri semakin campur aduk. Ia merasakan hal buruk akan menimpa dirinya.

“Iya, Akang janji Neng”. Jawab Misri singkat.

“Kang, Yati HAMIL”.

Bersambung ke Chapter VI emoticon-Traveller
Malam agan / Sista,
MYTHS sudah mulai memasuki chapter yang akan jadi pendukung asal usul si Gundul (Chapter I), Pantengin terus yah.....

MAAF.. Agak telat post nya, karena lagi persiapan mau nikah emoticon-Wowcantik


CHAPTER VI
TRAGEDI I


“Apa?.. Kamu Hamil!” Misri setengah kaget.

“Iya Kang.. Pokoknya Akang harus tanggung jawab”. Jawab Yati

“Enggak..enggak..enggak... itu gak mungkin, lagian itu belum tentu anak Akang.” Misri mengelak.

“Astaga.. Akang sadar enggak sih, aku tuh melakukan itu cuma sama Akang, jadi otomatis ini anak Akang.” Jawab Yati lagi sambil menunjuk perutnya yang memang kelihatan agak gemuk.

“Jangan ngaco kamu yah, mana Akang tahu kamu main sama cowok lain di belakang Akang”. Jawab Misri lagi dengan nada tinggi.

Yati pun menangis, melihat sikap Misri yang tega mencampakkannya.

“Yati gak mau tahu, pokoknya akang harus tanggung jawab”. Kata Yati lagi sambil menggoyang-goyang badan Misri.

Misri pun naik pitam, spontan ia mendorong Yati hingga membuat Yati jatuh tersungkur. Tak sampai disitu, Misri pun menyeret paksa badan Yati ke dalam pabrik.

“Kang, jangan Kang, Lepasin.. Tolong.. Tolong”. Misri memohon dengan nada setengah teriak.

Mendengar teriakan Yati, Misri dengan sigap menyumpal mulut Yati dengan kain yang biasa di gunakan untuk tali karung padi. Ia takut teriakan Yati didengar warga. Yati dengan sekuat tenaga berontak, namun Misri malah semakin menjadi-jadi. Ia menampar Yati yang tidak bisa diam, namun Yati tetap saja berontak.

“Eh dengar yah, Akang gak bakal akui itu anak Akang, jadi kalo Yati mau akang lepasin, jangan pernah bilang ke siapa pun soal ini, Ngerti!!!” Ancam Misri.

Yati yang mulutnya tersumpal kain hanya menggeleng-gelangkan kepala tanda tidak setuju, dan sesekali menendang-nendang kakinya supaya pegangan Misri melemah. Namun apalah daya seorang perempuan, tendangan itu tidak membuat pegangan Misri melemah, malah semakin menguat. Misri yang semakin marah dengan sikap Yati, spontan ia mengambil timbangan beras yang tergantung dan memukulkannya ke kepala Yati, membuat Yati langsung tak sadarkan diri. Darah yang bercucuran di kepala Yati membuat Misri panik, diseretnya badan Yati yang tak berdaya ke belakang Pabrik.

“Sial.. semua gara-gara Yati, aku mesti gimana ini?.” Kata Misri kebingungan sambil menatap tubuh Yati yang tak berdaya.

DUAK...DUAK..DUAK..

Misri menendang perut Yati demi melampiaskan rasa jengkelnya. Ia beranggapan karena adanya perut Yati yang hamil, semua masalah ini menimpa dirinya. Tanpa Misri sadari, darah mengucur deras di sela-sela paha Yati menandakan Yati mengalami keguguran. Malangnya nasib Yati, ia pun meninggal karena kehabisan darah. Misri baru menyadarinya ketika melihat wajah Yati yang terlihat sangat pucat. Ia pun menjadi semakin panik, tak tahu apa yang harus di perbuat dengan tubuh Yati yang terbujur kaku.

Bersambung Ke Chapter VII emoticon-Traveller
Diubah oleh athoxzoemanta
Ini lanjutan chapter Tragedi I, Jadi lumayan panjang..
Selamat membaca..


CHAPTER VII
TRAGEDI II


Kegelapan malam menyelimuti Kampung Pariuk Nangkub, membuat suasana terasa lebih mencekam. Hanya Cahaya obor di depan masing-masing rumah warga, yang mampu sedikit menerangi gelapnya malam. Tampak beberapa warga tengah asyik bersenda gurau di teras rumah Pak Suganda, yang rumahnya lumayan dekat dengan Pabrik Penggilingan Padi. Gelak tawa menghiasi obrolan warga malam itu. Kopi dan rengginang tersaji menemani obrolan mereka. Rupanya mereka sedang merayakan hasil panen Pak Suganda yang terbilang sangat bagus tahun ini.

“Gan, hasil panen kamu tahun ini kan bagus nih, jangan lupa sedekah ke Masjid juga”. Pak Jupri salah satu warga memberi saran kepada pak Suganda.

“Iya Pak, Insya Allah. Saya juga memang sudah ada niat buat sedekah ke Masjid”. Jawab Pak Suganda.

Tolong.. Tolong..

Sayup-sayup terdengar suara teriakan di tengah obrolan mereka. Suara teriakan itu tak lain adalah suara Yati yang sedang di seret paksa Misri ke dalam pabrik. Warga yang sedang asyik mengobrol langsung diam, memasang telinga memastikan darimana asal teriakan itu. Mereka saling memandang satu sama lain dengan muka keheranan. Bulu kuduk mereka mulai berdiri menandakan ketakutan.

“Itu suara teriakan siapa?”. Tanya Pak Jupri.

“Tidak tahu, sepertinya itu suara teriakan perempuan”. Jawab Pak Suganda.

”Jangan-jangan, itu kuntilanak”. Pak Gatot menimpali dengan wajah takut.

“ish.. jangan mengada-ngada, mending kita periksa saja, sepertinya asal teriakan itu dari pabrik Pak Sanuri.” Kata Pak Ahmad sambil menunjuk ke arah Pabrik yang tak jauh dari tempat mereka berkumpul.

“Iya betul, saya juga sependapat. Ayo kita periksa ke sana.” Kata Pak Jupri lagi.

Tanpa pikir panjang, warga yang tadi berkumpul langsung bergegas menuju Pabrik Penggilingan Padi.

“eh.. eh..eh.. Tunggu dulu, saya cuma punya satu obor, kalian ambil obor dulu ke rumah masing-masing”. Kata Pak Suganda menahan langkah warga.

Dengan setengah berlari, warga pergi mengambil obor dirumahnya masing-masing. Tak lama kemudian warga sudah berkumpul kembali dengan obor di tangan. Tak lupa mereka membawa golok sebagai persiapan untuk hal-hal yang diluar dugaan.

“OK, Here We Go”. Kata pak Jupri sok English.

Cahaya Obor yang dibawa warga, membuat jalanan yang tadinya gelap gulita menjadi terang benderang. Cahaya dari obor itu, membuat Misri yang berada di belakang pabrik, bisa melihat dengan jelas iring-iringan warga yang sedang menuju pabrik. Perasaannya mulai tak karuan. Ia takut kejahatannya diketahui warga. Ia pun menutupi jasad Yati dengan karung di belakang pabrik, dan langsung bergegas ke depan pabrik, untuk menghadang kedatangan warga yang sudah hampir sampai ke depan pabrik. Melihat Misri berdiri di depan pintu Pabrik, warga pun berhenti.

“Dek Misri, saya tadi dengar ada suara teriakan, dan saya rasa asalnya dari pabrik ini, apa Adek dengar?.” Tanya Pak Suganda kepada Misri.

“Suara teriakan apa Pak?, saya sejak tadi disini tidak ada suara apa-apa”. Misri malah bertanya balik untuk menutupi kejahatannya.

“Seperti teriakan perempuan yang sedang minta tolong, apa beneran adek tidak mendengarnya?. ” Tanya Pak Suganda lagi.

“Beneran Pak, saya tidak dengar apa-apa, Mungkin hanya perasaaan bapak saja, saya sendiri disini baik-baik saja kok”. Jawab Misri lagi.

“Apa asalnya dari belakang pabrik yah?”. Pak Suganda bertanya-tanya sendiri.

“Kita periksa ke belakang pabrik saja, Pak”. Salah seorang warga menimpali.

DEG..DEG..DEG

Denyut jantung Misri berdegup kencang, menandakan rasa takut yang tak terkira. Misri berpikir keras mencari akal, agar warga tidak pergi ke belakang pabrik dimana jasad Yati berada. Namun belum sempat Misri mencari akal, tanpa sepengetahuan Misri, Pak Jupri meloncat pagar samping pabrik tanpa sempat di tahan oleh Misri. Warga yang lain pun ikut meloncat pagar samping pabrik menuju belakang pabrik. Misri yang tak mampu menahan warga, hanya bisa pasrah. mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semua kejahatannya terbongkar.

ASTAGFIRULLAH AL ADZIM....

Pak Jupri yang pertama kali pergi ke belakang pabrik, kaget bukan kepalang melihat sepasang kaki yang menyembul di bawah karung. Rupanya karena terburu-buru, Misri tidak sempat menutup dengan sempurna jasad yati, sehingga karung yang menutupinya tidak menutupi seluruh jasad Yati. Pak Jupri pun membuka Karung itu perlahan-lahan dengan sedikit takut.

ADA MAYAT.....

Pak jupri berteriak keras setelah melihat jasad Yati yang berlumuran darah. Mendengar teriakan Pak Jupri, Warga yang lain pun langsung berlari menuju belakang pabrik. Misri yang sudah pasti akan tertuduh sebagai pelaku, langsung berlari menuju mobil Pickupnya yang terparkir di depan pabrik, mencoba untuk kabur.

CKCKCKCKCKCK.. BRMMM..BRMM..BRMMM...

Misri menyalakan mobilnya dengan susah payah karena panik. Suara mobil itu di dengar warga dan segera berlari mengejar Misri yang hendak kabur. Mobil pickup yang sudah usang itu Misri kemudikan dengan kecepatan penuh dan pontan-panting karena warga sudah mengejar di belakang dengan beringas seperti singa mengejar mangsanya. Malang nian nasib Misri, mobil pickupnya yang usang itu tidak dapat ia kendalikan karena kecepatan penuh dan kondisi jalan berbatu yang rusak parah.

BRUAKKK...

Mobil Misri menghantam batu jalan yang lumayan besar, membuat mobil misri terjungkal. Misri pun meninggal seketika dengan kepala berlumuran darah. Warga yang mengejar merasakan ngeri yang tidak terkira melihat kondisi Misri kala itu. Wajah Misri remuk bahkan tidak bisa dikenali lagi.

Bersambung ke Chapter VIII emoticon-Traveller
bagus ceritanya gan
beda ama yang lain
Quote:


haha sangkyu gan... pantengin terus untuk update cerita terbarunya yah emoticon-Ngakak
CHAPTER VIII
PASCA TRAGEDI


Warga Pariuk Nangkub di gemparkan dengan kejadian meninggalnya sepasang kekasih, yaitu Misri & Yati. Duka menyelimuti rumah Pak Dani & Pak Sanuri atas kehilangan anak tercintanya. Sampai sore pun, warga masih sibuk mengurus prosesi pemakaman kedua jenazah itu. Kabar yang simpang siur tentang sebab meninggalnya Misri dan Yati, menjadi perbincangan hangat hampir seluruh warga kala itu. Dari mulut ke mulut kabar miring terus bertebaran, membuat Pak Dani & Pak Sanuri sedih dan merasa malu. Namun banyak juga warga yang mengerti dan membantu menenangkan pak Dani & Pak Sanuri.

MALAM HARI

Selepas shalat isya berjama’ah, warga berbondong-bondong pergi ke rumah Pak Dani & Pak Sanuri untuk tahlil & doa bersama untuk kedua jenazah yang tadi sore di kuburkan. Hal ini berlangsung selama tujuh hari mengikuti tradisi kampung, dan suasana kampung pun berangsur-angsur membaik. Tidak ada lagi warga yang bergosip ria dengan tetangganya mengenai isu miring tersebut.

SATU MINGGU PASCA TRAGEDI

Jalanan kampung yang gelap gulita tidak menyurutkan anak-anak untuk pergi mengaji. Doel, Saep dan Nahuri terbiasa pergi bersama belajar mengaji di rumah Hj. Sapriah. Tanpa rasa takut mereka melewati pabrik penggilingan padi agar bisa sampai ke tempat pengajian. Namun kali ini suasana pabrik terasa begitu mencekam.

OA..OA..OA.. HIK..HIK..HIK.. HIK..HIK..HIK..

Dikesunyian malam tanpa sinar bulan, bulu kuduk mereka tiba-tiba berdiri. Sayup-sayup terdengar suara bayi menangis dan perempuan yang terisak di belakang pabrik, yang barusan mereka dilewati. Doel, Saep & Nahuri menoleh bersamaan ke arah belakang pabrik.

DEG.. DEG.. DEG..

Jantung mereka berdegup kencang, Tubuh mereka seakan mati rasa melihat pemandangan yang mengerikan. Sosok perempuan berlumuran darah yang tengah menggendong bayi membuat ngeri orang yang melihatnya. Anak sekecil mereka menyaksikan hal seperti itu, langsung lari pontang-panting tidak karuan melewati pematang sawah warga. Jalan Pematang sawah yang sempit membuat mereka sesekali terpeleset. Namun mereka tidak mempedulikannya. Yang ada dipikiran mereka hanya lari secepat-cepatnya, mereka takut jika sosok perempuan itu mengejar mereka.

BRUSSSHH...

Nahuri terpeleset dan jatuh ke sawah lagi yang airnya lumayan banyak. Sarung BH-S nya basah kuyup dan dipenuhi lumpur sawah.

“Wooyy.. Bantu saya, sendal saya gak ada” Teriak Nahuri kepada Doel dan Saep yang sudah jauh di depan.

Rupanya ketika terpeleset tadi sendalnya menghilang entah kemana. gelapnya malam membuat Nahuri kesulitan mencari dimana sendalnya.

BRUSSSHH...

Doel dan Saep yang menoleh karena teriakan Nahuri kehilangan pijakan dan jatuh ke sawah yang lumayan dalam juga.

“Sial...., Nahuri koplak, gara-gara dia kita jadi jatuh ke sawah juga” Gerutu Si Doel.

Sambil berusaha keluar dari sawah, Si Doel & Saep menghampiri Nahuri dan membantu mencari sendalnya yang hilang di kegelapan malam.

KREP..

Nahuri memegang sesuatu seperti kaki seseorang dan bau amis, tanpa pikir panjang ia mendongak keatas memastikan apa yang tengah di pegangnya. Kaget bukan main, ternyata sosok perempuan berlumuran darah yang menggendong bayi itu telah nampak di hadapan Nahuri.

“ANYIIINGGG... Ini setan cepet amat yah nyusulnya, apa kagak kepeleset pas ngelewatin sawah?”. Teriak Nahuri sambil berlari pontang panting, di susul Si Doel & Saep.

Mereka pun tiba di tempat pengajian dengan nafas terengah-engah. Kondisi badan mereka kotor tak karuan sehingga membuat Ibu Hj. Sapriah keheranan. Mereka menceritakan kejadian tadi tanpa satupun yang terlewat. Malam itu mereka tidak berani pulang ke rumah, dan terpaksa menginap di rumah Hj. Sapriah.

Bersambung dulu gan,, emoticon-Traveller jangan lupa kasih jejak yah biar ane lebih semangat nulisnya emoticon-Wowcantik
Diubah oleh athoxzoemanta
CHAPTER IX
ARWAH PENASARAN


SATU MINGGU PASCA TRAGEDI
Pukul 23.00 Malam Hari


“Haha.. Modar Sia..”. Teriak Pak Jupri Kegirangan sambil melempar kartu gaple terakhirnya.

“Ah sial.. kalah terus euy, lu mah mainnya pake ngitung segala sih Pri”. Ucap Pak Gatot kesal.

“Makanya harus pinter bos, mainnya pake ini nih”. Ucap pak jupri sambil menunjuk kepalanya.

“Tahan dulu main laginya, saya mau pipis dulu”. Ucap pak Gatot dan langsung pergi ke semak-semak yang gelap.

“Lah dasar Si Bekser, bentar-bentar pipis, pake popok aja sono”. Ucap Pak Jupri meledek Pak Gatot.

Malam itu hanya mereka berdua yang berjaga di Pos Ronda. Untuk menghilangkan rasa kantuk, mereka berdua bermain gaple, dengan taruhan yang kalah harus minum air putih satu gelas besar. Sudah lima ronde Pak Gatot kalah terus, membuat ia sering pipis karena kebanyakan minum air putih.

“Lama bener pipisnya Tot, masih mau lanjut gak?”. Ucap pak Jupri kesal.

“Sebentar, ini lagi happy endingnya”. Jawab pak Gatot sambil bergidik.

SRAK..SRAK..SRAK..

Tampak sesosok perempuan berbaju putih lewat di depan pos ronda. kakinya yang berlumuran darah bertabrakan dengan batu jalanan, membuat suara berisik di heningnya malam. Pak Jupri yang melihat sosok perempuan itu, langsung mengarahkan senter untuk memastikan apa yang dilhatnya. Alangkah terkejutnya Pak Jupri, sosok perempuan yang dilihatnya itu seperti sosok Yati yang ia temukan pertama kali dibelakang pabrik. Wajah pucat dengan seluruh badan berlumuran darah, namun kali ini yang dia lihat seperti menggendong bayi.

“Astagfirullah.. Yati? Itu kamu?”. Teriak Pak Jupri keheranan.

Seketika saja sosok perempuan itu langsung melesat ke arah pemukiman warga. Pak Gatot yang sudah selesai pipis, kaget dengan teriakan Pak Jupri yang memanggil-manggil orang yang sudah meninggal itu.

“Ada apa, Pri?” Tanya Pak Gatot.

“Tadi saya lihat sosok perempuan mirip Yati, tapi langsung melesat ke arah pemukiman warga”. Jawab Pak Jupri sambil menunjuk ke arah pemukiman warga.

Oa..Oa..
Oa..Oa..
Oa..Oa..


Tangisan bayi, beruntun terdengar di pemukiman warga. Semua warga yang memiliki bayi, semua bayinya menangis tanpa sebab yang pasti, membuat gaduh di keheningan malam. Mendengar suara tangisan bayi yang gaduh itu, Pak Jupri dan Pak Gatot langsung berlari ke arah pemukiman warga.

“Ada apa ini?.” Tanya Pak Gatot ketika sampai dirumah salah satu warga.

“Tidak tahu Pak, tiba-tiba saja bayi kami menangis”. Jawab warga sambil terus berusaha menenangkan bayinya.

Sementara itu Pak Jupri yang sudah memiliki firasat buruk, langsung berkeliling memutari rumah warga. Dan benar dugaannya, sosok Yati yang berlumuran darah sambil menggendong bayinya tengah bergelantungan di pohon jambu di belakang rumah salah seorang warga.

“Pergi kamu, Yati. Tempatmu bukan disini”. Usir Pak Jupri.

HIK..HIK..HIK..

Sosok Yati itu menangis tersedu dan dalam sekejap langsung melesat ke arah pabrik penggilingan padi. Dan anehnya, setelah sosok Yati raib, tangisan bayi warga langsung berhenti. Pak Jupri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat peristiwa yang baru saja terjadi, dan langsung pergi menemui Pak Gatot yang berada di depan rumah salah satu warga.

“Tot, malam ini pokoknya kita gak boleh tidur, kita harus rutin berkeliling”. Ucap pak Jupri setelah bertemu Pak Gatot.

“Lho, ada apa emang?”. Tanya Pak Gatot keheranan.

YATI YANG MENINGGAL KEMARIN, ARWAHNYA GENTAYANGAN”. Jawab Pak Jupri.


Bersambung..... emoticon-Traveller


Terima kasih yang udah kasih emoticon-Cendol (S) , maklum bukan kaskuser plus jadi gak tahu siapa yang ngasih emoticon-Ngakak (S)
CHAPTER X
MOBIL GHAIB


SATU MINGGU PASCA TRAGEDI
Pukul 03.00 Dini Hari


Diujung kampung Pariuk Nangkub, berdiri sebuah rumah kumuh yang di tinggali seorang ibu setengah baya. Perempuan yang biasa di panggil Ibu Janis ini, hampir setiap hari pergi ke pasar untuk menjual sayuran dan buah-buahan dari hasil kebunnya. Tubuhnya yang sudah tak muda lagi tidak membuat ia patah semangat mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Setiap hari ia selalu bangun jam 03.00 pagi untuk pergi ke pasar. Kondisi jalanan yang rusak parah, membuat mobil angkutan yang melewati kampung tersebut hanya mampu melakukan satu kali perjalanan. Minimnya kendaraan pada waktu itu, memaksa warga yang hendak ke pasar harus bangun pukul 03.00 dini hari, karena hanya di jam itu mobil angkutan melewati kampung Pariuk Nangkub.

“Bismillah...”. Ibu Janis mulai mengangkut barang dagangannya ke pinggir jalan, menunggu mobil angkutan tiba.

Tanpa lelah ia terus mengangkut barang dagangannya yang lumayan banyak. Di kegelapan malam tampak raut wajah Bu Janis sumringah, karena dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara mobil dan cahaya lampu depan mobil yang mulai terlihat. Ia bergegas mengambil barang dagangannya yang terakhir, karena takut tertinggal. Namun aneh, setelah Bu Janis kembali ke pinggir jalan dengan barang dagangannya yang terakhir, cahaya mobil itu tidak terlihat kembali. Bu Janis memasang matanya tajam ke arah tanjakan yang di kelilingi hutan, tempat dimana cahaya mobil yang sebelumnya ia lihat. Gelap gulita tidak ada satupun cahaya, hanya pohon bergoyang yang tertiup angin malam. Bu Janis keheranan, pikirannya mulai campur aduk dengan apa yang telah ia saksikan. Ia yakin walaupun kondisi tubuhnya sudah tua, ia masih mampu mendengar dan melihat dengan jelas. Tidak mungkin ia salah lihat atau salah dengar.

“Aneh, tadi kan lampu depan mobilnya sudah kelihatan, kenapa mobilnya belum tiba?, apa jangan-jangan mogok?”. Bu Janis bertanya-tanya pada diri sendiri.

TIT..TIT..TIIIIT..

Terdengar bunyi klakson dari arah tanjakan, mengagetkan Bu Janis yang sedang tertegun. Bu Janis menengok kembali ke arah tanjakan, namun aneh bukan main tidak ada mobil di tanjakan sana. Bulu kuduk Bu Janis mulai berdiri, rasa takut mulai menghampiri dirinya.

WUSSHH...

Angin yang sangat kencang terasa menampar pipi Bu Janis, seperti terserempet mobil yang sedang melaju dengan kecepatan penuh. Bu Janis gemetaran, badannya lesu setelah melihat cahaya lampu belakang mobil tak lama setelah hembusan angin tadi. padahal ia yakin betul tidak ada satupun mobil yang melewatinya.

Aaaah......

Terdengar bunyi teriakan tak jauh dari tempat Bu Janis berdiri, searah dengan laju mobil ghaib tadi. Teriakan itu adalah teriakan Bu Marwiah istri Pak Dani yang hendak pergi ke pasar juga. Bu Marwiah memang di kenal warga memiliki kemampuan khusus yang bisa melihat makhluk gaib, atau biasa dikenal dengan sebutan indigo. Bu Janis yang mendengar teriakan itu langsung bergegas menuju tempat Bu Marwiah, walaupun rasa takutnya belum hilang atas kejadian tadi.

“Ada apa Bu, Kok tiba-tiba teriak?. Tanya Bu Janis setelah sampai di tempat Bu Marwiah berdiri.

“Mo..Mo..Mo..Mobil tadi wajah supirnya remuk, bau amis, dan darah mengucur di mana-mana”. Jawab Bu Marwiah terbata-bata.

Mendengar jawaban itu, rasa takut Bu Janis semakin memuncak, tubuhnya tak berhenti gemetar. Sementara Bu Marwiah masih berdiri mematung, seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya tadi. Bu Marwiah memang memiliki kemampuan melihat makhluk ghaib, namun ia juga dikenal penakut, sehingga kemampuan itu tidak berguna untuk dirinya, malah menambah kesengsaraan pada dirinya.

TIT..TIT..TIIIIT..

Terdengar bunyi klakson mobil kembali dari arah tanjakan, membuat Bu Janis dan Bu Marwiah takut bukan kepalang hingga tak kuasa berdiri. Mereka duduk lesu dan sekonyong-konyong menutup mata mereka sambil menunduk. Mereka berharap mobil itu segera berlalu.

Bu..Bu.. Bu.. Jadi ke pasar enggak?”. Tanya supir mobil setelah mobilnya dekat dengan tempat Bu Janis dan Bu Marwiah.

“Eng..Enggaaakk.. Paakkkk..., pergi aja sonoo...”. Jawab Bu Janis dengan mata tertutup dan masih tertunduk karena takut.

“Lah gimana ibu teh, itu segala kacang panjang, timun, petai dan yang lainnya gak jadi di jual ke pasar?”. Tanya supir lagi keheranan.

Mendengar kata-kata itu, Bu Marwiah memberanikan diri menengadah dan melihat ke arah si supir. Dan ternyata supir yang dilihatnya sekarang, mukanya tidak remuk dan tidak menyeramkan seperti yang ia lihat sebelumnya. Supir itu berperawakan gendut dan memiliki kumis, sehingga biasa disebut Bang Kumis.

“Aih..aih.. ini Bang Kumis kan?, Bukan setan kan?, Mukanya enggak remuk kan?”. Bu Marwiah membanjiri Bang Kumis dengan pertanyaan.

Mendengar pertanyaan itu, Bang Kumis merasa keheranan.

“Iya, Saya Bang Kumis, Ibu teh kenapa?, udah kayak orang abis ketemu setan aja?”. Jawab Bang Kumis.

Mendengar jawaban itu, Bu Janis pun ikut memberanikan diri membuka matanya, dan benar saja supir kali ini bukan supir hantu, mobilnya pun terlihat jelas dan mesinnya dalam keadaan menyala.

“Alhamdulillah, syukurlah ternyata abang bukan setan, Tolong bang angkatin barang dagangan saya yang disana”. Ucap Bu Janis sambil menunjuk ke arah tempat dagangannya.

Bu Janis dan Bu Marwiah merasa lega, karena supir kali ini supir betulan, supir langganan mereka saat hendak pergi ke pasar. Sementara Bang Kumis bergegas mengambil barang dagangan, dengan hati yang masih dipenuhi tanda tanya. Dan tak lama kemudian, mobil Bang Kumis pun melaju menuju pasar.

Bersambung Gan/Sis.... emoticon-Traveller
Diubah oleh athoxzoemanta
Lanjooottt....
Mantap
hari ini update ga gan?
ijin ndlosor gan emoticon-Big Grin
Quote:


Quote:


emoticon-Ngakak sangkyu gan

Quote:

gak update dulu gan.. lagi mau nikahan dulu emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
Quote:


monggoo.. emoticon-Blue Guy Peace
CHAPTER XI
PEMBERSIHAN I


PUKUL 07.00 WIB


Warga Kampung Pariuk Nangkub digegerkan dengan peristiwa beruntun yang terjadi malam tadi. Dimulai dari pengakuan anak-anak yang di kejar perempuan membawa bayi, sampai mobil ghaib yang dikemudikan sosok berwajah remuk yang menyeramkan. Pak Iskak selaku ketua pemuda kala itu, langsung berkunjung ke rumah H. Ujang selaku sesepuh kampung, untuk meminta saran dan jalan keluar atas teror yang terjadi di Kampung Pariuk Nangkub.

RUMAH H. UJANG

Di pertengahan kampung berdiri rumah yang sudah usang tak terawat. Rumah itu hanya ditinggali seorang sesepuh kampung yaitu H. Ujang. Sejak ditinggal istrinya, ia semakin kewalahan dalam mengurus rumah. Tak jarang warga bekerja bakti membantu H. Ujang untuk membersihkan rumahnya. Memiliki ilmu yang tinggi, membuat H. Ujang disegani dan dihormati seluruh warga. H. Ujang juga dikenal mampu mengobati warga yang kesurupan, dan hal berbau ghaib lainnya. Di rumah itu tampak dua orang yang sedang berbincang-bincang, yang tak lain adalah H. Ujang dan Pak Iskak.

“Jadi Bagaimana Pak Haji?”, Sepertinya peristiwa semalam itu ada kaitannya dengan dua sejoli yang meninggal kemarin”. Pak Iskak memulai pembicaraan.

FWUHHH....

H. Ujang menghisap rokok tembakaunya, untuk menghilangkan rasa tegang.

“Begini saja pak Iskak, nanti malam bapak temani saya ke pabrik padi itu dan ke tempat dimana Misri meninggal, Jangan lupa bawa air putih satu botol”. Jawab H. Ujang singkat.

Pak Iskak mengangguk tanda setuju, dan setelah dirasa cukup berbincang-bincang Pak Iskak pun berpamitan dan diantar H. Ujang sampai ke pekarangan rumah.

“Tolong diingat baik-baik Pak Iskak, walaupun kejadian ini ada kaitannya dengan Misri dan Yati, kita tidak boleh memusuhi orang tua mereka, lebih baik kita merangkul mereka supaya mereka lebih merasa tenang”. Pesan H. Ujang kepada Pak Iskak setelah sampai di pekarangan.

“Iya Pak Haji, saya mengerti. Saya permisi dulu, Assalamu’alaikum”. Jawab pak Iskak sambil berlalu pergi.

“Wa’alaikum salam”. Jawab H. Ujang.

MALAM PUN TIBA

Pak Iskak masih tertegun di pinggir jalan menunggu H. Ujang yang belum juga datang. Tangan kanannya memegang obor, sedang tangan kirinya memegang sebotol air putih yang diminta H. Ujang untuk membawanya. Hawa dingin semakin terasa menusuk pori-pori kulit Pak Iskak, membuat ia menjadi semakin tak sabar menunggu kedatangan H. Ujang. Tak lama berselang, di kejauhan tampak tiga sosok manusia, yang tak lain adalah H. Ujang dan dua muridnya yaitu Kosim dan Romli.

“Assalamu’alaikum, udah lama Pak Iskak disini?”. Tanya H. Ujang setelah sampai di tempat Pak Iskak.

“Wa’alaikum salam, iya lumayan lama pak, ini air putihnya”. Jawab Pak Iskak sambil menyodorkan sebotol air Putih kepada H. Ujang.

“Maaf Pak Iskak, saya tadi jemput murid saya dulu, ayo kita ke belakang pabrik dulu”. Kata H. Ujang menjelaskan.

Tanpa basa-basi mereka pun langsung bergegas menuju belakang pabrik. Rasa takut mulai muncul di hati Pak Iskak. Ia takut jika harus melihat langsung sosok yang diceritakan warga. Setelah sampai di belakang pabrik, H. Ujang membuka tutup botol dan mulai membacakan doa lalu meniupkannya ke air dalam botol itu.

HIK..HIK..HIK..

Tiba-tiba muncul sosok perempuan yang menggendong bayi di hadapan mereka sambil menangis. Suara tangis itu memecah keheningan malam, membuat suasana menjadi menyeramkan. Pak Iskak terperangah dan tak mampu berkata apa-apa. Sementara H. Ujang langsung mendekati sosok itu, dan mengipratkan air doa ke sosok perempuan itu.

AAAHHH.. AAHHH..

Sosok perempuan itu berteriak keras, merasakan panasnya air doa yang di cipratkan H. Ujang. Tanpa ampun H. Ujang terus menerus mengipratkan air doanya.

“Yati, jangan usik kampung ini lagi, Misri, orang yang mendzalimi kamu sudah meninggal dengan kondisi mengenaskan, kasihan bapak ibu kamu jadi omongan warga kampung, karena teror yang kamu buat”. Titah H. Ujang menasihati sosok perempuan itu.

HIHIHIHI..HIHIHI..HIHIHI..

Mendengar ucapan itu, sosok perempuan itu tertawa kegirangan seperti merasa puas dengan apa yang terjadi kepada Misri. Namun itu hanya sekejap, tiba-tiba ia terisak lagi setelah melihat bayi mati yang di gendongnya.

HIK..HIK..HIK.. HIK..HIK..HIK..

“Sudahlah Yati, bayimu sudah meninggal, begitu juga kamu, kita sudah beda alam, lebih baik sekarang kamu tinggalkan tempat ini, sebelum saya tuangkan air do’a ini ke seluruh tubuhmu”. Ucap H. Ujang lagi.

HIK..HIK..HIK.. HIK..HIK..HIK..

Sosok perempuan itu menuruti perintah H. Ujang, sambil terisak ia pergi berlalu meninggalkan Pabrik dan raib di kegelapan malam.

Bersambung emoticon-Traveller
Diubah oleh athoxzoemanta
CHAPTER XII
PEMBERSIHAN II


PUKUL 23.59

Malam semakin larut, dan waktu menunjukkan pukul 23.59. Tampak di jalan perkampungan, beberapa orang tengah berjalan beriringan, yang tak lain adalah Pak Iskak, H. Ujang & dua Muridnya. Setelah menyelesaikan urusan dengan arwah Yati yang gentayangan, mereka bergegas menuju tempat di mana mobil Misri menabrak batu, yang membuat Misri meninggal di tempat. Tanjakan di ujung kampung, dimana Misri meninggal menjadi terasa begitu mencekam malam itu. Angin malam menggoyangkan pepohonan begitu kencangnya, sehingga Pak Iskak merinding di buatnya.

“Kosim, Kamu pergi ke selokan sana, dan taburkan sisa air doa ini”. Perintah H. Ujang kepada Kosim salah satu muridnya, sambil memberikan sisa air doa.

“Baik, Pak Kyai”. Jawab Kosim singkat, lalu bergegas ke selokan tempat mobil misri terjungkal.

Aaaahhhh..

Tiba-tiba Romli berteriak kesakitan sambil memegang lehernya. Wajahnya pucat, seperti ada yang mencekiknya dari belakang. Pak Iskak dengan sigap langsung membantu Romli melepaskan cekikan yang entah siapa yang mencekiknya. Namun yang terjadi, malah Pak Iskak pun merasakan kesakitan seperti dicekik pula.

“Kosim, cepat taburkan air doanya, mereka berdua biar saya yang bantu”. Teriak H. Ujang kepada Kosim.

Tanpa pikir panjang, Kosim langsung menaburkan sisa air doa itu. Sementara H. Ujang meminta Romli dan Pak Iskak untuk mengumandangkan adzan. Dengan susah payah Romli dan Pak Iskak mencoba mengumandangkan adzan, namun cekikan itu tidak mau melemah. H. Ujang mulai membantu mereka dengan membacakan doa, dan tampaklah sosok mengerikan yang mencekik Romli dan Pak Iskak. Wajah yang remuk dan bersimbah darah tampak menatap tajam ke arah H. Ujang dengan mata penuh amarah. Arwah gentayangan Misri yang semasa hidupnya penuh dosa, memang sulit untuk di taklukan. H. Ujang perlahan-lahan mendekati arwah Misri itu.

“Pak Iskak, Romli, teruskan adzannya dan jangan tengok ke belakang.” Perintah H. Ujang.

“Iya, Pak Kyai”. Jawab mereka bersamaan sambil menahan sakit.

PSSTT...

Tiba-tiba arwah Misri yang mengerikan itu menghilang, saat H. Ujang mulai mendekatinya. Romli dan Pak Iskak pun tidak merasa tercekik lagi dan mereka menghela napas panjang merasa lega. Namun kali ini, Kosim yang telah selesai menaburkan air doa, tiba-tiba ambruk ditanah. Tubuhnya berguling-guling bagaikan tengah di peluk erat sosok tak kasat mata. H. Ujang mulai serius menghadapi arwah misri yang mengerikan itu. Dikeluarkannya tasbih di saku bajunya, dan mulai membacakan ayat kursi di ikuti Romli dan Pak Iskak.

Aaah...Panas...Panas....

Sosok itu berteriak kesakitan dan melepaskan pelukannya dari Kosim. Dengan sekejap, sosok mengerikan itu melesat ke arah H. Ujang untuk mencekiknya. Namun H. Ujang tak diam saja, tasbih di tangan kirinya pun di lemparkan ke arah sosok Misri yang mengerikan itu.

“Ampuunnn.. Ampuunnnn.. Panassss... Panassss”. sosok mengerikan itu berteriak kembali.

“Bismillah Allahu Akbar, Pergi kau dari sini, Misri”. Usir H. Ujang sambil memegang pundak sosok Misri yang mengerikan itu.

PSSTT...

Sosok Mengerikan itu pun hilang di telan gelapnya malam. Mereka pun bersyukur dapat mengusir arwah-arwah gentayangan yang telah meneror kampung mereka. Dengan penuh rasa senang, mereka pun bergegas pulang ke rumah masing-masing, dengan hasil yang memuaskan.

Bersambung emoticon-Traveller

Chapter berikutnya akan mulai memasuki asal mula Si Gundul. Pantengin terus yah emoticon-Ngakak
Diubah oleh athoxzoemanta
Di tunggu lanjutannya...

emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di