alexa-tracking

Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b68acdd60e24b3f628b4567/tell-me-why-i-cant-stop-thinking-of-ya
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya

Pikiranku tidak bisa fokus melelapkan mata yang sebenarnya sudah lelah. Paras wajahnya selalu muncul di depan wajahku persis, seperti saat itu. Dia terbaring ke samping tepat di depan wajahku. Jantungku berdegug tak menentu, penasaran dengan apa yang di depanku. Hembusan napasnya yang hangat begitu terasa dan masuk ke aliran darahku yang mulai memanas. Begitu menyiksa menahan semuanya.


Badanku agak kunaikan pelan-pelan agar tidak terlalu sejajar wajah kami. Aku bisa gila malam ini. Sekarang keningnya simetris dengan bibirku. Sulit menahan semua gejolak hati, akhirnya ku kecup keningnya. Tanpa melepas kecupanku, mataku mulai terlelap. Rasanya nyaman, dan lumayan untuk mengobati rasa yang tidak karuan sejak awal mulai tidur.



--------------------------------------------*-----------------------------






Untuk di kenang

Jalan ini, setapak berbatu
Kenang aku, bila kau dengarkan
Lagu ini, terlantun perlahan

Reff:
Barisan puisi ini
Adalah yang aku punya
Mungkin akan kau lupakan
Atau untuk dikenang

Ingat aku bila kau terasing
Dalam gelap keramaian kota

Reff:
Tulisan dariku ini
Mencoba mengabadikan
Mungkin akan kau lupakan
Atau untuk dikenang



Lirik-lirik lagu jikustik yang diarasemen oleh endah dan resha cukup menyejukkan pagiku. Meskipun familiar namun terdengar baru dan fresh.

Mata mulai terbuka akibat cahaya pagi yang sudah menyusup lewat celah-celah jendela

Bayangan wanita dengan cepolan rambut sedang duduk menunduk membelakangi wajahku. Selanjutnya terdengar pemotong kuku yang telah berhasil mengerjakan tugasnya dengan suara khasnya, ceklik... ceklik.

Selagi belum ketahuan olehnya, aku kembali menutup kedua mataku dan mempererat pelukanku pada sebilah guling.

"Bangun", ucapnya tanpa bergeser ataupun menoleh.

Sangat kurang beruntung. Bukan pekara mudah menyembunyikan sesuatu dengan dia.

Mencoba keberuntungan, aku tidak menjawab dan mencoba pura-pura mau tidur.

"Mau dibangunin pake cara lembut apa cara kasar?! ".

Dengan sigap mataku langsung terbelalak. Ku lihat tangannya sudah mengangkat bantal di kedua tangannya, mata yang menakutkan dan siap menerkamku habis-habisan.


" STOP IT! Gw dah bangun".
DAFTAR INDEKS



Introduction

1. Part 1
2. Part 2
3. Part 3
4. Part 4
5. Part 5
6. Part 6
7. Part 7
8. Part 8
9. Part 9
10. Part 10

Introduction



Perkenalkan namaku Bima, mahasiswa jurusan Bahasa yang kesasar. Kenapa aku bilang kesasar?

Antara mau kuliah atau tidak sebenarnya masih 50:50. Alasan utama gw belum siap kerja, di sisi lain gw nggak mau menyandang status pengangguran. Kedengarannya lebih kronis dari pada status jomblo. Akhirnya gw ngotot minta kuliah. Tanpa tau tujuan untuk apa kuliah.


Pendaftaran diantar teman karena satu universitas. Pas kami sama-sama ngisi formulir, gw bingung mau ngambil jurusan apa. Akhirnya gw tanya, "Lu pilih jurusan apa?". Dianya jawab dengan segudang teori, yaudah lah setelah mendengar ceramahnya gw samain aja sama dia.

"Lu ambil apa, Bim? ".

" Gw kaya lu".

"Tapi katanya susah".

"Ya jalani aja".


Dari hari itu, sekarang gw dah semester 7. Nggak kerasa dah cepet banget. Ya itulah awal dari lika-liku perjalanan hidupku.


#

Malam tadi gw nginep di rumahnya Bona. Dia partner in crime gw. Bukan tanpa alasan gw nginep sana, dia ada masalah dan sebagai sahabatnya gw pengen nenangin dia.

"Mandi sanah! ", ucap bona sambil melemparkan handuk ke arahku.

" Masih males".

"Lu ada kelas kan?"

"Ah iya, gw lupa".

Langsung gw menyambar dan lepas menuju kamar mandi. Keseharianku tidak terlalu menarik tapi cukup menantang untuk dilakukan.



Gw punya tips penanggulangan berangkat kuliah yang efektif, yakni jangan berangkat sebelum ada pemberitahuan kelasnya dimana, ada ato nggak dosennya dan yang terakhir adalah kita tanya mahasiswa yang sebelumnya diajar kosong atau tidak.
KASKUS Ads
image-url-apps
Part 1



Hampir semua anak sudah berada di kelas, ngobrol dengan golongannya masing-masing. Gw duduk dibarisan paling depan karena itu yang tersisa.


Beberapa minggu terakhir topik pembicaraannya adalah tentang judul skripsi. Sebagian sudah ada yang sudah mantap, selebihnya masih bingung milih yg paling mudah tapi nilainya bisa dapet A. Ngarep banget.
Iwan nampok bahu gw dari belakang.

Quote:



Gw cuma nganggukin kepala. Iwan nggak terlalu suka gw sama Bona. Penilaian Bona di luar memang tidak terlalu baik. Dari mulai ngomongnya, tingkah-tingkahya sampai cara jalannya, keliatan kalo dia bukan cewe baik-baik. Rasanya gw pengen cerita tentang Bona ke Iwan tapi dia terlanjur tidak suka. Akhirnya gw skip.


Dosen datang dengan senyuman mematikan. Hari itu juga kami diberi waktu beberapa menit untuk selanjutnya kuis. Semua kaget dan cuma bisa berharap pada keberuntungan.


Dari sepuluh nomor, gw cuma bisa jawab setengahnya. Dari semua dosen, dia yang paling rajin bikin mahasiswanya kelabakan.


Usai kuliah, gw keluar cepet. Tapi iwan tiba-tiba manggil suruh nungguin bentar. Gw tunggu di luar kelas.

Quote:


Sebenarnya gw juga belum tau apa yang gw rasain, gw cuma kasian saja. Itulah awal gw mulai deket. Dia kaya gw versi cewe pas masa di lubang antara lo milih ancur karna temen atau dianggap cupu.


Quote:


Iwan cuma senyum lalu pergi.
image-url-apps
Part 2


Quote:



Itu adalah telepon dari Riana. Pacar gw yang selama setahun ini nemenin gw. Dia pintar, aktif di jurusannya namun agak sedikit dingin. Nggak suka basa basi, atau kode2an. Itulah sosoknya yang selama ini gw tau.


Balik kampus gw langsung banting badan ke ranjang. Rasanya nggak cape tapi sepertinya akan banyak masalah ke depannya. Pertama kalinya Iwan komen tentang pertemanan gw ma bona, Bona yang semakin buat nyaman dan baru kali ini Riana seperti ada sesuatu yang serius karena dia telpon dengan kadar dingin yang mungkin mencapai 5°C. Tidak mungkin ada sesuatu yang biasa dia bersikap keg tadi.


Dari awal kenal riana gw dah jatuh hati. Sosoknya yang nggak terlalu banyak bicara, namun tetep ramah dan terlihat tegas membuat dia terlihat dewasa. Gw nggak harus dengerin cewek2 lebay yang harus minta ini itu dan menye2 dengan hal2 sepele. Dia juga nggak masalah dengan kesibukanku atau urusanku dengan temen2ku. Rasanya indah awal deketin cewek dengan kadar itu namun lambat laun akhirnya dia luluh juga.


Perjalanan kami berdua tentunya banyak lika liku, dari perdebatan masalah sepele atau tingkah kami berdua yg keterlaluan lupa kalo kami berdua pacaran. Yang penting gw selalu jaga mood dia terutama ketika dia sedang PMS. Rasanya gw pengen kabur saja, karna cewek yg lagi PMS bisa dia tiba-tiba marah, kesal, sensitif banget. Kuncinya kita dengerin dan iyain saja dan dukung apa yg ia katakan. Padahal setelah selesai PMS dia bakal berubah pikiran. Harus punya jiwa yang lapang ketika ngadepin cewek pms.


Sambil nunggu malem gw main CS bareng temen kos. Saking asiknya ternyata dah mahrib. Gw langsung ngacir ke kamar mandi dan ternyata anak2 kos dah pada ngantri. Sial.
Part 3


Dengan berlapis jaket parasit gw siap meluncur ke rumah riana. Sebelum berangkat gw cek tanggal di HP, kali aja jadwal dia lampu merah. "Bukan, syukurlah", batinku.


Sekitar 15menit perjalanan menuju rumahnya. Jalanan tidak terlalu rame, gw bisa menikmati jalanan dengan santai.


Hal yang kadang mendesak selalu ada saja hambatannya. Dari awal di kosan tadi ada saja hal yang terjadi, dari gw lupa waktu, nunggu antrian mandi, baju belum pada kering dan ditambah lagi motor gw kempes.

Nggak terasa gw sudah di depan rumah riana. Kelihatannya rumah memang sedang ada tamu atau entahlah. Pintu depan rumahnya terbuka dan lampunya terlihat lebih terang.

Baru gw turun, sosok wanita dengan rambut digerai muncul dari balik pintu.
Quote:


Makanan favorit riana itu nggak neko2, cukup tempe penyet atau mi ayam tapi tanpa kuah, dia suka banget. Tapi ketika tau gw belum makan pasti dia minta gw makan sayur2an padahal gw juga suka mie ayam ato segala makanan lesehan pinggir jalan yang sayurnya cuma lalap.


"Pesen keg biasa kan? "

"Huum".

Riana ke penjualnya untuk pesan makanan kami. Setelahnya dia duduk di sampingku.

"mau ngomongin apa? Kelihatannya tadi pagi serius banget nyampe langsung nutup telpnya".


Dia melihat ke arahku dengan penuh tanya. Tangan kiriku reflek memeluk bahunya dan hendak mencium pipinya.


Tangan riana langsung mendorong agar kami tetap berjarak.

Quote:



Perasaanku mulai nggak enak sepertinya ketika dia menanyakan hal itu. Pasti bukan tanpa alasan dia tanya tentang hal itu, apakah mungkin dia liat sendiri q jalan sama cewe lain atau tahu dari cerita orang saja.


Quote:



Riana tetap diam. Yang ada suara sendok yang piring dan pengunjung lain yang asik mengobrol dan memesan makanan.
Part 4


Riana masih saja diam semenjak penjelasan tentang Bona. Kali ini memang tingkahku yang sudah keluar batas. Ketika Riana memberikan kebebasan sekaligus kepercayaan, akulah yang justru tidak bisa menjaga kepercayaan itu.

Kualihkan topik pembicaraan namun rasanya sudah tawar semua. Sikap Riana sudah terlanjur membeku. Dia pasti ingin penjelasan lebih detail, tapi karena kami berada di tempat umum yang rame aku hanya bisa menjelaskan seadanya saja.


Quote:



Mau nggak mau kali ini apa yang diminta riana harus ku turuti. Jika dipaksakan bisa-bisa dia nekat ngambil keputusan yang kurang tepat. Aku harap hubungan kami tetap baik.

Tatapan riana begitu datar, ini akan susah ditangani daripada ketika ia marah. Dalam hatinya tentu memendam pertanyaan yang lama kelamaan akan mengunung. Ku harap sebelum terlalu tinggi tumpukan masalahnya, kami segera bisa memangkasnya sedikit demi sedikit.

Setelah turun dari motor, aku mencegahnya pergi.

Quote:


Aku sudah bingung harus berkata apalagi. Tubuh munggilnya ku peluk. "Aku sayang kamu, ri", lirihku.

Tubuh riana sontak kaget dan bergetar. Dia hanya diam menerima pelukanku. Tanpa membalasnya.
Part 5


Aku sungguh tidak tahu cara menenangkannya sekarang. Riana bersikap dingin malam ini. Ketika pulang dia juga diam saja.


Quote:


Riana dari belakang membawakanku minum. Aku senang karena aura riana sudah kembali biasa. Mungkin dia nggak tega liat aku harus mengajari dinda malem2.
Waktu terus berjalan dari jam 9 sekarang sudah hampir jam 11malam.
Aku dan dinda masih asik belajar dan riana sudah tertidur di sofa.


Quote:


Aku langsung pulang ke kos, pasti rasanya dingin banget. Jaket dipake bantal ma riana. Nasib.

###

Riana bangun selepas Bima pulang. Dia langsung menjewer telinga dinda.

Quote:


Riana melepaskan tangannya dan duduk kembali. Saat menoleh ke arah kanan, ia melihat jaket Bima. Alisnya dipicingkan sambil berpikir kejadian kenapa jaketnya ada di situ.

"Din, tadi kak Bima pulangnya pake jaket nggak? ".

" nggak".

Dia makin bersalah atas perlakuannya malam ini yg kelewatan.
Part 6


Suara memang harusnya didengarkan, apalagi suara merdu dari orang yang tersayang. Rasanya adem nan menentramkan hati. Tapi ada suara yang paling dibenci semua orang, semerdu apapun itu. Tidak lain adalah suara yang bikin pagi kita terbangun dan harus kembali lagi menjalani aktivitas.

Quote:



Jam di dinding temboknya ia lihat dan sudah menunjukkan pukul 6. Ia segera melesat mandi kemudian menuju rumah dinda.

Seorang wanita sedang menyiram tanaman dengan kaos oblong yang kebesaran.
Bima sengaja memarkirkan motornya di dekatnya. Wanita itu terlihat kaget ketika menyadari kehadirannya.

"
Quote:



Riana tampak sangat cantik kalo pagi-pagi. Dengan tampilan yang apa adanya dan ekspresi wajah yang masih polos menambah nilai plus plus kecantikannya.

Quote:
Part 7


Jika bisa ngulang waktu, rasanya aku ingin tetap di semester bawah. Semua rasanya terlalu cepat berlalu.
Hari kemarin aku dan riana masih saling jaim satu sama lain, lalu mulai seru2an bareng, dan kemudian hari demi hari seperti biasa bahkan terkadang membosankan. Kami bertahan kadang agar kami tetap berada dalam zona nyaman. Entah disebut zona nyaman atau zona pertahanan. Pengennya riana tetap jadi masa depanku. Entah nanti jalannya putus nyambung, pisah, debat tapi finally dia bakal jadi istri dan ibu buat anak-anak gw buat masa depan.


Selesai sarapan gw n riana beres2. Nyuci piring di sana ato sekedar nyapu ruangan sudah biasa gw lakuin di sana. Dari pada begong nunggu riana pulang kadang gw bantuin ibunya riana beres2 walaupun awalnya dilarang tapi lama-lama jadi terbiasa.


Quote:


Gw nglanjutin nyuci sampai bersih seperti kata tuan rumah.


***

Pagi ini Bona ke kontrakan pacarnya. Dia udah nggak sabar ngasih sarapan yang udah dibuatnya di rumah.
Sampai di depan dia ngliat ada cewe yg keluar dari kamar Deva, pacarnya. Kalo dilihat mereka bukan teman kelasnya. Mereka terlihat begitu dekat n akrab.


Kesal. Akhirnya dia balik sebelum nyamperin deva. Dan sepertinya deva juga sudah melihat ketika Bona putar balik.


Dia bingung mau kemana. Rumah rasanya bukan tujuan karna dia baru dari rumah, kos2 temannya juga nggak, dia nggak mau terlihat kesal dan sedih saat di sana. Setelah jalan tanpa tau arah, akhirnya dia berhenti di depan kosnya Bima.

Quote:


Bona masuk dan langsung tiduran di ranjang punya Bima. Dia buka HPnya ada beberapa miscall dari deva dan chat. Dia hanya sekilas melihat dan kembali menyimpan HPnya. Pandangannya lurus ke atas langit2 atap.


"Entah berapa kali kamu melakukan kesalahan itu lagi, Dev", ucapnya dalam hati.


***


Bima dan riana sudah berangkat buat belanja. Biar sekalian, bima beli juga buat keperluan sehari2. Lumayan ada yg nemenin dan lebih tau tentang beberapa produk yang pas di kantong anak kos. Kalo belanja sendiri mah yg penting ada dan ga pilih2.


Quote:


Sebenarnya bukan karna urusan lain alasanku ke kos dulu tapi gw malu semisal ayah ato ibu riana sudah balik ke rumah. Pasti dikecengin belanjaan gw.


Sampai kos gw dan riana turun. Saat liat depan kos, kayaknya ada motor Bona tapi helmnya ga ada. Dan ngapain juga siang2 gini ke kos kan bilangnya sore ato malam biasanya tu anak.


Pas gw baru masuk pintu kamar gw ke buka. Perasaan pas pergi pintunya gw tutup.
"Weeh, abis belanja banyak nih". Anak kos yg baru liat kami masuk langsung ngomentarin apa yang kami bawa.


Pas gw n riana baru masuk kamar kos, ada cewe yang tiduran di ranjang gw.

"Bim siapa?, tanya riana kaget.

"Bona???!!! ".

Pas tau dia Bona gw kebingungan ngapain dia tiba2 disana dan parahnya lagi, di sini ada Riana yang ngliat langsung. Saat itu juga gw berasa kayak keGap lagi selingkuh.

Quote:


Riana dan Bona kenalan satu sama lain. Yah gw nggak tau apa yg bakal terjadi habis ini. Raut muka riana sudah berubah sejak awal tau ada Bona.

Setelah masukin barang2, gw balik nganter riana pulang. Pas sudah sampe rumah gw diminta nggak usah turun dari motor.

"Bim, kayaknya kita break dulu".

image-url-apps
semangat gan updatenya ..yg rajin jgn nanem kentang yak emoticon-Big Grin

Part 8

Istilah "Break" sering banget dipake pada kondisi hubungan yang lagi ngambang. Semacam PHP tapi lebih ngeri. Tahu kenapa?

Ketika kita PHPin orang ato diPHPin orang, kita bebas jalan sama siapapun. Ya,.. paling galau masalah status aja.

Lain halnya dengan orang yang sedang break. Lu jalan ma yang lain, berarti lu terbukti selingkuh. Tapi pas lu ngajakin pacar, doi bakal jawab "Kita kan lagi break". Pusing nggak lo?!

Bener juga kata Bang Raditya Dika, kalo lo nggak berengsek berarti lo homo.


Gimana ngga? Lo jalan ma cewe lain dikira selingkuh. Lu ngajak pacar, sananya bilang lagi break. Siapa yang ngajarin cowo buat jadi homo kalo bukan cewenya sendiri kalo gitu.


Gw nggak pernah ngarepin hubungan yang ada kata break nya. Pengennya kalo iya ya iya dan kalo nggak yasudah nggak. Itu motto gw. Sebelum ketemu riana.


Sesudah Riana mengatakan kata break, tulangku rasanya copot. Aku kira masih diperbaiki tanpa lost contact satu sama lain dan tetep dekat kaya biasa, tapi tidak.
Dia tetap bersikukuh dengan keputusannya. Gw pamit dan balik ke kos setelah gagal membujuknya.

Pelarianku cuma satu, nyalain kompi siap perang di CS. Masih teringat jelas kala itu, biasanya gw main kalem tanpa banyak berucap nggak kaya temen2 gw, main game kaya ngajak tawuran se RT. Hari itu gw main berisik banget. Mulut tidak berhenti nyaci maki permainan . Di situ gw mengalami stres.

Bona datang ke kos dan langsung masuk ke kamar. Bukannya salam ato tanya kabar yang ada dia ngoceh macem2. Gw diemin dan fokus saja di depan layar. Bodo dia mau ngomong apaan.


Lama-kelamaan karena gw nggak ngegubris, dia nyentak gw keras banget.

Quote:


Kami siap-siap jalan. Bona maupun gw sudah make jaket masing-masing.

Motor melaju lurus ke depan. Obrolan kami tidak terarah, apapun yang lewat di dekat kami selalu kami komentari. Dan itu membuat beberapa jokes garing yang buat kami ketawa lepas. Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan untuk jajan. Tanpa terasa kami sudah berkendara cukup lama, hari pun mulai petang. Dari waktunya, kami berkendara lama, namun dari jaraknya, kami sekedar muter2 kota saja. Kami balik ke kos.

Quote:


Gw keluar kamar buat mandi, badan sudah lengket dan bau asep jalanan.


***


Mood gw rasanya langsung terbang. Gw dah nglupain buat sesaat masalah dengan Dave. Sore ini gw seneng dan Bima bener-bener buat gw kembali. He's like a home.

Tatapanku terpaku pada foto yang ditempel oleh Bima di dinding. Terlihat sembarangan tapi unik dan artistik. Di sana ada dua wajah yang sedang berpose kocak, romantis, kalem, dan beberapa ekspresi lainnya. Siapapun yang bisa dapetin riana beruntung banget, dia pinter, aktif, ga terlalu banyak ngomong hal yang ga penting. Idaman banget dia, walaupun awalnya gw benci tipe cewek kayak gitu. Tapi asli kocak banget bisa buat riana berekspresi seperti itu. Orang itu tak lain adalah Bima. Bima juga, dia cowok nyebelin awalnya. Mungkin kalo gw ga berteman dengan dia, gw bakal ngebully tipe cowok gitu. Semakin kesini keliatan asik dan serunya. Dia memang nyebelin tapi dia tahu waktu, dan bisa jaga emosi ketika dia di depan cewek. Cowok yg bisa nahan emosinya depan cewek itu luar biasa. Semakin kesini gw nyaman berada di dekatnya. Melihat foto mereka, gw berangan bahwa cewek yang berada di samping Bima itu adalah gw. Jahat banget jika saat mendengar mereka sedang tidak akur, gw palah merasa senang.

Entah sejak kapan Bima berada di pintu merhatiin gw.

Quote:


Gw beranjak duduk dan mensejajarkan posisi gw dan Bima. Wajah kami sejajar, ku lihat matanya yang terlihat tegas. Gw membernikan diri untuk berada dalam jarak sedekat ini. Tidak ada pergerakan darinya, dia hanya diam menatapku kembali. Ada dorongan kuat untukku lebih medekat lagi ke arahnya. Sampai akhirnya,

CUP

image-url-apps
Terima kasih cendolnya emoticon-Angkat Beer
Quote:


InsyaAllah ganemoticon-Big Grin

Part 9


Bona bangun dari tempat duduknya semula. Dia terlihat bingung dan bilang mau ke kamar mandi. Sementar Bima, dia menelungkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Dia menarik napas panjang ketika menyadari apa yang mereka berdua baru lakukan.

Bona masuk kembali dengan ragu-ragu. Kondisi mereka masih terasa kikuk satu sama lain.

Quote:


Bima sebenarnya ingin mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan barusan sebaiknya dilupakan agar mereka bisa kembali seru2an seperti biasanya. Tapi dia masih ragu.

Quote:


Nggak ada yang nyangka jika kejadian tadi berbuntut panjang. Pintu saja sampe bima nggak merhatiin.

Bima masuk kamar dan baru ingat belum ngasih kabar dari tadi ke riana.

Quote:


Bima menutup panggilannya. Dia melihat ada beberapa chat masuk dan salah satunya dari....

From: Bona
"Bim, gw minta maaf bukan maksud gw tadi. Kita sama-sama lupain hal tadi ya".

Senyum Bima tertarik dari kedua ujung bibirnya. Ciuman tadi memang sempat membuat jantung Bima berdebar, dan hampir saja keduanya khilaf. Bona membuka akses untuk bagian dalam mulutnya. Dan suara kucing yang sedang ribut berhasil membuat keduanya kembali sadar. Bima langsung melepas panggutannya walaupun dia ingin. Namun jika dia tidak segera berhenti pasti dia tidak akan berhenti untuk selanjutnya.

To: Bona
"Oke. Kita sama-sama lupain. Gw juga minta maaf".

From: Bona
"Iya. Nite Bim".

To: Bona
"Nite".

Balas chat dari Bona selesai, gw nyamperin anak2 kos buat makan di luar.

*------------------------------------- *

Pagi gw ke rumah Riana. Liat barang bawaan riana keg mau pindah rumah saja. Gw cuma geleng-geleng kepala.

"Udah deh nggak usah ngomong, pasti mau ngledek barang bawaanku".

Sambil menahan tawa, Bima pun mengatakan bahwa ia tidak akan ngetawaain. Riana tambah kesal sekaligus malu.

Quote:


Gw liat ke arah Riana. Dia memberikan ekspresi senyum. Daripada nggak enak, akhirnya bareng.
Kami berangkat dan mobil mulai jalan. Ini kali pertamanya gw duduk berdampingan dengan ayah riana. Agak was-was kalo ditanya ini itu.

Quote:


Perjalanan kami terasa sangat panjang. Banyak hal yang kami obrolkan dari kuliah, sampai ke masalah rumah. Semaksimal mungkin gw usahain agar ayah riana cerita tentang dirinya sendiri.
Sampai tempat kos riana, kami turun dan mulai menurunkan barang. Kami istirahat sebentar kemudian pulang lagi.


Part 10

image-url-apps
Entah sejak kapan rasa cemburu dan curiga muncul. Beberapa omongan teman-temanku mengatakan bahwa Bima ada sesuatu dengan adek kelas yang namanya Bona. Entah Bona itu siapa, Bima tidak pernah cerita apapun tentangnya. Mereka bilang jika Bima dan Bona sering keluar berdua, entah sekedar jalan atau makan.

Awalnya aku cuma diam saja nunggu cerita dari Bima, tapi ia tak kunjung cerita. Aku mulai kepo dengannya. Bima hampir semuanya cerita apapun ke aku. Dia juga terbuka tentang komunikasinya dengan orang-orang. Semua sosmednya aku tau email dan paswordnya.


Aku cari di facebooknya. Dari daftar temannya dulu. Karena terlalu banyak awalnya aku tidak menemukan, setelah disaring ternyata muncul namanya. Dia lumayan aktif di sosmednya. Temannya juga banyak, kalo diliat anaknya periang dan easy going. Pandanganku mulai ke arah pesan masuknya. Harusnya pesan adalah hal yang privasi. Walaupun Bima ngasih kebebasan buat buka apapun sosmednya, seharusnya q tau privasi dia. Semakin dilihat semakin kuat dorongan untuk mengklik menu pesan. Saking gemasnya akhirnya...

Klik!

Mataku langsung melotot melihat kata2 yang ada pada percakapan di sana. Menurut cewek, bahasa seperti itu tergolong kasar dan tidak sopan sekali. Setelah scroll ke bawah ternyata hampir semua pesan dari cowo kata-katanya seperti itu semua. Ada lumayan banyak pesan dari cewek2, ia balas pendek banget dan ada yang didiamkan saja. Aku sedikit memicingkan mataku ketika melihat nama Bona di sana. Ku lihat semua percakapan.

Ada sedikit sesak pas baca percakapan mereka. Dari situ aku mulai mempertimbangkan kata-kata temanku. Dan rasa curiga dan cemburu mulai muncul.

Tidak ingin menyimpan terlalu lama, aku pun bertanya langsung dengan Bima. Jawaban yang diberikan standar. Cowok pasti jawab dengan jawaban aman seperti itu ketika mereka ke Gap atau cowok memang seperti itu? Perhaps.

Aku mulai ragu dengan Bima. Sesungguhnya di cowok yang asik, seru, baik, kocak dan paling teruji adalah sabarnya. Sebelum atau pun setelah kami jadian. Cewe yg deket ma dia pasti nyaman, karna dia tipe yang care juga ma cewe.

Semenjak itu, hubunganku dan Bima kurang baik. Kami sering berdebat masalah sepele dan beberapa masalah yang lalu kadang masih disangkutpautkan. Aku tau bahwa aku cemburu dan curiga dengan yang namanya Bona.

Kata temenku lebih baik kami break saja dulu daripada ribut mulu. Sebenarnya aku sedikit kuatir juga jika kami break, tapi mungkin itu yg terbaik agar kami bisa balik kaya dulu ato mungkin palah pisah selamanya.


###


Siang itu aku semakin yakin untuk merealisasikan break hubungan kami. Betapa tidak, ada cewek di kamar kos cowok. Dia sedang tidak ada disitu lagi. Itu artinya cewek itu sudah biasa disana. Sesak banget dadaku.

Bima meminta agar tidak ada kata break tapi kutegaskan lagi, dia pilih break ato putus. Disana dia langsung diam dan menyetujui break hubungan kami.

Paginya saat aku akan berangkat ke kos baru aku, Bima bersikeras buat nganterin. Apapun alasannya dia tidak terima. Kami memang sama-sama keras kepala, walaupun dominan aku tapi ketika Bima sudah bersikap tegas tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya goyah.

Pas mau balik, aku dan Bima tidak bisa terlalu banyak bicara. Alasannya tidak lain karena ada ayah di samping kami.

Temen-temen kos baik n friendly. Di sana aku cepet gabungnya. Saat masuk kantor pertama, awalnya aku deg2an tapi orang2 disana juga baik. Nggak ada yang semacam penindasan terhadap anak magang.
Seminggu aku balik ke rumah. Selain kangen rumah dan dinda yg biasanya tiap hari berantem, aku juga ada reuni SMP.

Sampai rumah banyak makanan kesukaanku menanti. Kami melepas kangen, aslinya padahal deket dan baru seminggu juga. Habis makan aku ke kamar dinda. Dianya lagi belajar.

Quote:


Riana bingung akan ke reuni bareng siapa. Jika dengan teman SMPnya pasti nanti pulangnya lama, kalo ma Bima sepertinya dia nanti di sana bosen.

Ku telfon untuk memastikan apakah dia mau nemenin ato nggak.

Quote:


----------------------*-----------------------


Bima menutup telfonnya. Dia masih berkelut dengan skripsinya. Kamarnya sudah seperti kapal pecah. Tidak ada seorang pun yang boleh memindahkan satu lembar kertas atau apapun dari tempatnya. Dia mengetik beberapa kata dan membacanya ulang berkali-kali.

"Bimmmm!!!! ". Bona teriak saat akan masuk ke kamar. Dia melihat pemandangan yang sungguh menggagetkan.

" STOP! Lu jangan nggeser se inci pun apa yang ada di sini', ucap Bima serius.

"Astaga, ni kamar orang apa kamar tikus sih??? ".

" Ini namanya orang skripsi".

Bona mencari tempat duduk yang kosong di tempat tidur Bima. Dia masih terpana melihat kondisi kamar Bima sekarang.
Quote:


Bona ingin tahu apa yang sedang Bima ketik. Dia berdiri dan mendekat ke Bima. Tepat di samping wajahnya, dia melihat dan ngangguk-nganguk apa saat membaca apa yang Bima tulis.

Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya

Quote:


Bima tersenyum lebar mendengar ada yg mau pijitin bahunya. Setelahnya, Bona balik dan Bima mulai siap2 nganterin Riana.

Bima sampai di rumah mau sekitar pukul 19.00. Bukan riana yang menyambutnya datang melainkan dinda.
Mereka duduk berdua sambil nonton tv.

Quote:


Riana muncul dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Dinda meminta Bima buat diem. Sebenarnya riana ingin sekali mengorek apa yang sedang mereka bicarakan tapi karna waktunya sudah mepet dari acara akhirnya dia berangkat.

Bima awalnya di samping riana terus buat dikenalin sama temen2nya. Dia cuma say hello ma senyum2 doang. Bosen, akhirnya dia jalan2 sendiri sekitar sana. Muter2 sendiri lama-lama bosan juga. Dia balik lagi dan ga liat dimana riana. Ditelfon juga ngga diangkat, setelah tanya2 dia nemu riana tapi lagi ngga ssndiri. Tangannya menyilang sambil mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya.

Quote:

Aldi pamit dan pergi. Sepertinya Aldi itu bukan teman biasanya riana. Ada sesuatu yang beda dari tmen2nya yang dikenalkan dari tadi.
Bima menaruh tangannya diatas rambutnya riana dan mencium pangkal kepalanya. Selanjutnya mereka masuk kembali ke acara.

Di acara ada games besar. Daripada bosan, Bima milih buat ikut seru2an juga. Lama-lama keliatan kaya Riana yang nemenin Bima. Tidak sampai selesai, mereka balik.

Perjalanan pulang riana banyak bertanya apa yg dikerjakan Bima ketika tidak ada dia.

Quote:


Riana kembali mengeratkan pegangannya pada Bima. Dia menyandarkan kepadanya pada bahu Bima.

Nyaman.

Part 11



Hubunganku dan riana kembali. Tidak banyak yang berubah dari keseharian kami. Terlebih dengan kondisiku yang baru selesai dengan skripsi. Di Hari sidangku riana menemaniku sebentar kemudian balik lagi dengan kesibukannya.

Sidang skripsi menurutku bukan hal yang menegangkan selama proses pembuatan skripsi dilakukan oleh kita sendiri. Selesai sidang aku pulang ke kos dengan langkah gontai merobohkan diri di ranjang. Sudah lama aku tidak tidur nyenyak dan hari itu aku puasin untuk tidur.

Quote:

Aku memeluknya lalu tertidur kembali. Kali ini akul seperti bayi dihadapannya yang sedang ingin tidur di samping ibunya.

***

Bona ingat hari ini Bima habis sidang skripsinya. Dia ingin minta traktiran darinya. Dengan semangat dia ke kos Bima. Bima mempunyai arti lebih semenjak mereka dekat, bahkan ia membantunya untuk bisa lepas dari Deva. Mungkin tinggal beberapa bulan mereka akan bertemu lagi.

Bona masuk ke kos Bima tanpa memanggilnya terlebih dahulu seperti biasa. Teman2 kos yg melihat kedatangan Bona langsung kaget, namun Bona meminta mereka untuk diam dengan isyarat jari telunjuknya di taruh di bibirnya.

Dia mengendap2 seperti orang yang sedang mencuri. Gagang pintunya ia buka perlahan.

Quote:


Langkah kakinya ia jauhkan dari tempat itu. Dia keluar dengan mata yang berkaca2.

Ia kira akan membuat kejutan untuk Bima tapi yang ia lihat sungguh di luar dugaan. Ia melihat keduanya sedang tidur dalam satu ranjang, pakaian mereka masih lengkap, Bima terlihat sangat damai tidurnya. Tidak mungkin Bima mampu berpaling dari seorang riana yang sempurna. Terlebih hubungan antara dirinya dan Bima sebatas friend in crime. Bona pulang dengan kondisi yang tidak bisa ia tahu namanya. Mungkin ia tengah merasa cemburu dengan orang yang kurang tepat.

Malam itu perasaan yang muncul begitu menyiksa. Air matanya tidak kunjung berhenti. Ia bingung terhadap perasaannya.
×