CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jaran Sungsang by: gatiandoko
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b5d106c32e2e6d7388b4574/jaran-sungsang-by-gatiandoko

Jaran Sungsang by: gatiandoko

Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 7
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
Jaran Sungsang by: gatiandoko

Tunda dulu kelanjutan pak Djalil yang masih saja selalu membawa dua kenthos (biji salak), kemanapun ia pergi.

***

Masih ingatkan dengan pak Karto ayah dari Sugeng?

Kita tengok kebelakang dulu ke masa2 sebelum th 1966. SEDULUR SINARAWEDI, begitulah orang Jawa menyebutnya; ikatan tali persaudaraan yg sangat dekat hingga melebihi kedekatan dengan saudara lainnya meski tak ada hubungan darah. Seolah olah selalu dalam nafas yg sama.

Pak Karto dan Pak Djalil melekat dengan pepatah jawa "sedulur sinarawedi". Tak ada hubungan darah meski leluhurnya (konon) sama-sam prajurit (mata pita/mata-mata) Pangeran Diponegoro. Seumuran, hanya selisih 2 bulan, pak Djalil lebih tua. Dari segi tubuh memang beda, pak Djalil lebih tinggi, lebih kuning dan lebih mancung hidungnya sementara pak Karto kebalikannya.

Perbedaan inilah yg justru menjadikannya sebuah pasangan tak terpisahkan keberadaannya, mengingat mereka berdua sesama maestro pemain Jathilan sekaligus pelatih mengajari menari dan membuat pernak pernik Jathilan. Penthul dan Tembem; sesuai dengan postur tubuhnya pak Djalil sbg Penthul sedangkan pak Karto sebagai Tembem. Mereka berdua jg sering disebut "hajuru habanyol"; sangat jenaka baik dalamm panggung pertunjukan Jathilan sampai kehidupan sehari harinya dimanapun berada.

"Bangsa Walondo isa ngrampas kabeh bandha donya lan nyawa, ning ora isa ngrampas banyolane awak dewe (Bangsa Belanda bisa merampas semua harta kekayaan dan nyawa, tapi tidak bisa perampas kelucuan kita semua)"; salah satu ungkapan sarkas yang sangat terkenal dari pak Djalil dan pak Karto. Banyolannya berbeda dengan pemeran Penthul dan Tembem lainnya, tidakk slapstik dan justru terkesan grotesqui.

Maklum, sama-sama menamatkan HIS yg sgt langka diperoleh saat itu. Kemampuan berbahasapun lebih dibanding masyarakat lainnya, disamping bahasa Jawa dan Melayu, bahasa Belanda dan Inggrispun dikuasainya dan sedikit menguasai bahasa Russia. Maka lagi-lagi banyolannya selalu saja diselipkan plesetan-plesetan dari bahasa Belanda dam Inggris.

Banyolan-banyolan ala Russia juga tak luput diselipkannya. Ket; humor-humor Russia ini yang kemudian didekade 80an terangkum dlm buku humor "MATI KETAWA CARA RUSSIA".

Kalau sudah kumpul pak Djalil dan pak Karto bisa dikatakan hidup ini "heboh" dengan tawa dan tertawa. Tak ada pak Djalil tanpa pak Karto dan sebalilnya. Nama Penthul dan Tembempun seolah masuk dalamm jiwa mereka hingga nama Djalil dan Karto jarang sekali disebut.

Masa masa perang kemerdekaan CLASH I dan CLASH II, Djalil dan Karto ( Penthul dan Tembem), ikut terlibat didalamnya. Muntilan sebagai jalur utama antara tangsi militer Belanda di Magelang menuju Jogya.

Mencegat dan merusak posko-posko Belanda menjadi tugas utama bagi "Laskar Bambu Runcing". Namanya juga Penthul dan Tembem, kenapa memilh bergabung dengan "Laskar Bambu Runcing"? Alasannya sangat sederhana ,"....lha ra kumanan bedhil je (lah tidak kebagian senapan)...". Namun pernyataan Penthul mengejutkan;" ....nek serdadu liyane senjatane bedhil nek awak dewe cukup ngawa "gawuk" ya mbem ya, jo wanii (kalau serdadu lainnya senjatanya senapan kalau kita sendiri cukup bawa "m*m*k" ya mbem ya, jangan berani)....".

Memang bbrp masyarakat falsafah "bambu runcing" sebagai simbol "IBU", yang merujuk pada bentuk ujung bambu. Bengkel kereta api yang ada di Tangkil Muntilan berhasil dihancurkannya, sebagai bukti keberhasilan Laskar Bambu Runcing. Perjuangannya berlanjut dengan kemenangan Clash II.

Pasca kemenangan Clash II menjadi ujian kebersamaan antara Penthul dan Tembem. Karto alias Tembem memutuskan berhenti dari karir militernya sementara Djalil alias Penthul melanjutkan karir militernya. Karto merasa sudah tidak lagi menjiwai dunia militer terlebih harus berhadapan saudara sebangsa yg saat itu muncul gejolak terutama DI/TII.

Akhir mereka terpisah; Djalil tergabung dalam pasukan Banteng Raiders dan bertugas menghentikan ruang gerak DI/TII sekitar Jawa Tengah. "....thulll Penthul ojo mati lho ya, kimpoi sik bar kui lg mati (thull penthul jangan mati dulu ya, kimpoi dulu baru mati)", pesan Tembem. "Trembelanee....rondhoku ojo kok kawiiiinnn (sialan.. Jandaku jangan dikimpoii)" jawab Penthul.

Beberapa bulan seperginya Penthul, Karto/Tembem menikah dengan gadis "guru ngaji" kampung sebelah. Bertani, menggarap sawah warisan orang tuanya dan tetap menjalankan hobinya bermain Jathilan. Dari pernikahaannya lahir dua anak laki2: Suprih dan Sugeng. Meski hidup dalamm masa-masa revolusi kehidupan keluarga Karto terbilang nyaman-nyaman saja.

Sehari hari cuma bertani, sesekali "njathil" dan menjauhi kehidupan politik yang semakin kacau. Rapat-rapat di kampungnya yg selalu saja bicara politik, memihak siapa, menghindari siapa, memusuhi siapa hingga sudah mulai marak teror dan pembunuhan.

Saling bunuh antar saudara. Meski acuh dan cuek sikap Karto denfan situasi dan apolitis tetap saja tak bisa mengelak dengan situasi seperti itu.

Terjebak dlm pilihan yang bukan dunianya. Surat menyurat dengan Djalil alias Penthul terhenti di kantor pos. Senyap jauh dr canda.
G 30 S PKI meletus dan suasanapun mencekam.

Antara tahun 1965-1966 seperti menunggu kapan nyawa akan dijemput. Dlm hati Karto lebih baek bersama Djalil berkarir sebagai tentara yang jelas berdiri dipihak mana daripada terjebak dalam suasana siapa teman siapa lawan.

Di lain tempat, Penthul yang sudah berpangkat Letnan sangat beruntung ditugaskan untuk menumpas PKI di Karesidenan Kedu. Kebahagiaan yg ditunggu bisa ketemu Karto/Tembem sedulur sinarawedinya. Terperanjat saat bagian Intelijen membuat daftar list anggota PKI yg harus ditangkap dan dibinasakan; ada nama Karto dengan alamat yang sangat dikenalnya.

Berangkatlah Letnan Djalil ingin menemui Karto, denganvdoa semoga bukan Karto/Tembem.

Terlambat!

Pandangan Penthul nanap, terdiam dalam diam melihat kepala Karto dan istrinya ditancapkan pada pohon bambu belakang rumah dan si kecil Sugeng menangis sembari memanggil manggil ayah dan ibunya.

Jaran Sungsang by: gatiandoko

PANGKUR PENTHUL TEMBEM
Wolak walikaning jaman
Bandha kwasa rebut rebat hangrubuti
Belise nora makarya
Marga wateking manungsa
Luwih asor timbang sona lara wudun
Ranggenah langes nang paga
Awan susah susah wengi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
InaSendry dan 8 lainnya memberi reputasi
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
Jaran Sungsang by: gatiandoko

Catatan Seorang Pembunuh Bayaran

Kalau saja tidak sedang terlibat dalam salah satu program TV Swasta yg concern dengan cerita-cerita berlatar belakang sejarah tentu Jaran Sungsang terhenti di jilid 3. Meski tidak jadi tayang karena aspek hukum yang belum kadaluarsa, namun benang merah bersimbah darah niscaya terkuak.

***

Dua tahun setelah terbunuhnya Sugeng yang masih menyisakan rasa miris terhadap peristiwa itu, datang seorang pemuda yg menurut pengakuannya dari Cilacap asalnya khas dengan dialek ngapaknya, namun fasih juga dialek Magelang dengan tingkatan kramanya.

Perawakan gagah, postur militer, tak banyak omong meski murah senyum dan sehari hari bekerja di sebuah bengkel sepeda motor yg ia dirikan dengan temannya yg tinggal di Jogya.

Karena potongan rambutnya sering gundhul/ botak plonthos ia diparabi dan dipanggil dengan nama Kojak. Dia sangat menikmati panggilan itu. Denganku sangat akrab sampai dianggapnya aku adalah adiknya. Lain halnya dengan teman-teman sebayaku yang justru menjauh atas kehendak orang tuanya yg rada curiga dengan keberadaan mas Kojak ini.

Sedikit misterius memang. Jadi rumor yang tak habis jadi bahan pembicaraan. Siapa sebenarnya Kojak ini. Kecurigaan semakin menjadi semenjak kedatangan Kojak ini pak Djalil yang biasa datang ngomyang kesana kemari menjadi jarang datang ke kampung. Sesekali datang langsung berbalik arah nampak ketakutan setiap berjumpa dengan Kojak. Apa yg tjd dg kedua orang itu?

Sungguh, cerita perihal Kojak semakin liar. Akupun menyembunyikan kecurigaan itu. Yang jelas aku berteman dengannya yaah sekedar berteman, tidak berpretensi apapun.

Suatu hari, diajarinya aku naik motor jalan-jalan kearah Gunung Pring, berhenti seketika saat sekelebat pak Djalil; "...wis kono ajar dewe muter-muter lapangan, aku ono perlu (sudah sana latihan sendiri muter-muter lapangan, aku ada perlu)", suruhnya.

Ternyata dia mengampiri pak Djalil, cukup lama entah apa yg diperbincangkan. Sementara aku asyik muter-muter dengan motor miliknya. Kojak dan pak Djalil berjalan menghampiriku dengan wajah berbinar hingga pak Djalil sendiri tidak nampak kegilaannya.

Waras! " Pun pak Dhe...mboten sah neka-neka malih, ampun ajrih malih, pamrih kula pak Dhe Djalil saged nglampahi gesang ingkang wajar (sudah pak dhe.. Tidak usah aneh-aneh lagi, jangan takut lagi, lihatkah saya pak dhe djalil bisa menghabiskan hidup dengan wajar)", kata Kojak kepada pak Djalil.

"Nuwun ya leee aku ora wedi maneh karo suara-suara tabuhan Jathilane bapakmu (terimakasih ya le, aku tidak takut lagi sama suara musik jathilannya bapakmu) haha..." jawab pak Djalil.

Kojakpun membalas cepat," whaaalĺaah pak Dhe niku (itu)...!" tak melanjutkan cuma senyum keduanya. Aku dan mas Kojak pulang meninggalkan pak Djalil.

Diperjalanan mas Kojak bercerita kalau pak Djalil ketakutan dengannya dikira ingin balas dendam dengan membunuhnya. Lanjutnya, mas Kojak tau siapa yang membunuh kedua orang tuannya juga Sugeng Adiknya.

Pak Djalil dengan bersikap orang gila karena semata mata menutupi kekecewaannya tidak bisa menolong kedua orang tuannya dan terutama tak bisa menyelamatkan Sugeng dari kekejaman orang yg ingin menguasai harta warisan. Kojak adalah Suprih, kakak Sugeng yg berhasil diselamatkan pak Lik-nya (om). (Jaran Sungsang 1)

Detik detik sebelum kedatangan bala tentara, pak Karto meminta adiknya membawa lari kedua anaknya, namun Sugeng tak diketemukan dan hanya Suprih yg dekat rumah. Diajaknya Suprih pergi dari Muntilaan naik "sepur Kluthuk" menuju Jogya dan berpindah kereta api menuju Cilacap.

Sampai di stasiun Kroya ada razia besar-besaran dilakukan oleh Tentara. Hiruk pikuk orang-orang berlarian, ketakutan hingga suara jeritan dan disertai tembakan segala penjuru. Kojak dan pak Lik-nya ikut lari tak tau arah. Naas, pak Lik yg berusaha menjaga amanah terkapar dengan kepala tertembus peluru. Suprihpun pasrah menghentikan larinya dan ditangkap. Entah rasa iba atau ketertarikan pada Suprih, salah satu tentara berpangkat Sersan mencegah penembakan pada diri Suprih utk dirawatnya dan diajak pulang di Cilacap.

Akhirnya Suprih tinggal dan dianggap anaknya sendiri. Tentu saja kasih sayang tertumpah kepanya karena orang tua angkatnya tidak punya anak kandung. Melanjutkan sekolah dan jadi tentara setelah pendidikan di Gombong. Sejahtera!

Akhir 70an mulai awan jingga menyelimuti kehidupan Suprih. Ibu angkatnya meninggal karena saki desentri akut dan disusul ayah angkatnya meningga karens sakit TBC. Suprih yg sendiri akhirnya memutuskan menikah dengan gadis dari Gandrungmangu dan mempunyai satu anak laki-laki. Profesi sebagai tentara berpangkat Kopral I cukuplah untuk menghidupi keluarga kecilnya. Belum lg sawah tinggalan orang tua angkatnya sangat cukup untuk kehidupan sehari harinya.

Dekade awal 80an, rasionalisasi ABRI juga PNS benar-benar bersih dari segala macam unsur PKI dan underbow-nya. Entah data dapat dari mana dan bagamana bisa diketahui data tentang Suprih. Suprih-pun dipecat dari kedinasan anggaota ABRI.

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
graybpn dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ffernando69
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh ffernando69
keren ceritanya gan. Lanjutken emoticon-Shakehand2
Halaman 4 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di