alexa-tracking

WHO: Pecandu Game Dikatagorikan Penderita Penyakit Gangguan Mental

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b4858ea32e2e68a0c8b4568/who-pecandu-game-dikatagorikan-penderita-penyakit-gangguan-mental
WHO: Pecandu Game Dikatagorikan Penderita Penyakit Gangguan Mental
WHO: Pecandu Game Dikatagorikan Penderita Penyakit Gangguan Mental
WHO mengkatagorikan sebagai penyakit gangguan mental(Foto: Dunia Network)

Jakarta – WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia, belum lama ini menetapkan bahwa pecandu game atau game disorder dikatagorikan sebagai penyakit gangguan mental. Bukan tanpa alasan WHO menetapkan hal tersebut. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya.

Game disorder merupakan sebuah penyakit yang masuk dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD). Dimana, gejala, tanda dan penyebabnya sudah ditetapkan dan dirilis WHO.


ICD merupakan sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO. Game disorder masuk dalam daftar penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan yang akut.


Dalam situs resminya yang diterbitkan pertengahn Juni 2018 lalu, WHO menjelaskan,  kecanduan game sebuah penyakit yang telah memenuhi tiga hal. Pertama, bermain game secara berlebihan, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun intensitas.


Kedua, pengidap game disorder juga lebih memprioritaskan bermain game. Hingga akhirnya muncul gejala ketiga, yakni tetap melanjutkan permainan meskipun pengidap sadar jika gejala atau dampak negatif pada tubuh mulai muncul.‎


Kategori permainan atau game-nya mencakup permainan yang dimainkan seorang diri atau bersama orang lain baik online maupun offline.

Sedangkan penyebutan gangguan mental, apabila game yang dimainkan itu Sudah mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan.WHO pun mengklaim sudah banyak bukti yang menunjukkan kecanduan game dapat menimbulkan masalah kesehatan.


Penetapan WHO atas kecanduan game ini disambut baik oleh kalangan medis dan psikolog. Bahkan kalangan dokter spesialis kecanduan teknologi di dunia menyarankan perilaku bermain game secara berlebihan memang sudah seharusnya mendapatkan penanganan medis yang serius.

Dari sisi psikis pun, menurut Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, kecanduan game ini sudah bisa dibilang mengkhawatirkan dan sudah membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.

“Dengan ditetapkan sebagai gangguan mental diharapkan semua orang menjadi lebih “aware” dengan efek dari kecanduan game ini,” tutur psikolog yang berpraktek di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini.

Tentang bahaya dari game disorder tersebut,  menurut Vera, yang paling berbahaya dari kecanduan game adalah terganggunya aktivitas lain yang lebih utama di dalam kehidupan. Misalnya anak jadi menolak sekolah; dan terganggunya kesehatan fisik seperti kurang nutrisi karena lupa makan serta kurang tidur.

Efeknya terlihat bahwa kecanduan game ini akan menganggu fungsi diri di dalam aktivitas lain seperti bersekolah, bekerja, atau istirahat.

“Mementingkan game di atas segalanya termasuk mengurus diri sendiri. Juga akan mengganggu konsentrasi belajar, hanya konsentrasi untuk game. Termasuk nantinya Kesadaran akan realita terganggu karena seolah hidup dalam dunia game,”ungkap psikolog perkembangan anak dan remaja ini.

Fisik pun Terganggu

Kecanduan game dinilai banyak pihak sudah mengkhawatirkan. Bahkan, sejumlah negara sudah sejak lama bergelut dengan fenomena ini dan mewaspadainya.

Sebagai contoh, Korea Selatan menetapkan akses game online oleh anak-anak berusia bawah 16 tahun di antara tengah malam hingga pukul 6 pagi sebagai tindakan yang ilegal.

“Seharusnya memng sudah diberi warning seperti itu. Apalagi untuk anak anak sekolah, perlu ada aturan ketat dan pembatasan dalam permainan game ini. Jangan sampe masuk dalam kategori game disorder itu karena sangat berbahaya,” ungkap Vera.

Selain mental, kecanduan game juga bisa merusak dan menggangu fisiknya, terutama di kalangan anak anak dan remaja. Misalnya, penglihatan, pendengaran (main game dengan earphone), gangguan tidur, dan juga pola makan.

Akhirnya kualitas kehidupannya pun terganggu. “Ini sudah merupakan peringatan keras. Misalnya nilai anak menurun karena kelebihan main game atau kehilangan minat melakukan aktivitas lain selain game. Lebih bahaya dari itu, ya anak mogok sekolah dan hanya mau main game saja sehari-hariya,”papar Vera.

Kasus-kasus ekstrem yang pernah terjadi karena kecanduan game pernah kita dengar. Ada orang yang sampai meninggal akibat main game nonstop sehingga lupa mengurus kebutuhan diri.


“Ini fakta. Makanya perlu penanganan menyeluruh untuk penyakit ini,” tegasnya.

Meski termasuk dalam penyakit gangguan mental bukan berarti game disorder tidak dapat disembuhkan. Ada terapi yang dilakukan untuk memulihkannya.

Namun, menurut psikolog kelahiran 1975 itu, banyak jenis terapi yang bisa diterapkan tergantung dari kesesuaian individu dan keparahan kecanduannya.

Terapi pemulihan bisa dilakukan untuk semua kategori usia. Tidak ada perbedaan signifikan untuk usia anak anak atau dewasa, karena banyaknya faktor yang mempengaruhi pemulihan, utamanya adalah faktor lingkungan.

Sejauh mana lingkungan dapat mendukung individu tersebut untuk mengendalikan perilakunya. Pemulihan juga dipengaruhi faktor penyebab mengapa seseorang sampai kecanduan. “Seorang klien saya, jadi kecanduan game awalnya karena sebagai pelarian dari kesulitan yang ia hadapi di sekolahnya,” aku Vera yang memiliki dua anak laki laki yang berusia remaja ini.

Tak  Sependapat Sebagai Penyakit Gangguan Mental

Meskipun WHO menyatakan kecanduan game sebagai penyakit gangguan mental, tetapi tidak semua ahli sependapat. Peneliti dari Universitas Oxford, Killian Mullan menjelaskan, hasil riset yang dilakukannya terhadap anak dan remaja dalam rentang umur delapan hingga 18 tahun, tidak ditemukan ada masalah pada perilaku kecanduan game.

Dari kesimpulan hasil risetnya itu, Mullan menilai, sebagian objek pecandu game pada umumnya berhasil menyinergikan hiburan digital dan kehidupan sehari-hari.”Orang mengira bahwa anak-anak kecanduan teknologi dan berada di depan layar selama 24 jam telah mengesampingkan kehidupan mereka. Padahal tidak demikian nyatanya,” ujar Mullan seperti dikutip dari BBC, baru baru ini.

Penilaian Killian Mullan tersebut didukung oleh pengkategorian permainan game sebagai cabang dari e-Sports.


Sama seperti halnya olahraga pada umumnya, para atlet e-Sports diharuskan memiliki kondisi fisik yang bugar serta nutrisi yang cukup. Sebab, bermain game ternyata menguras stamina karena pemain harus mencurahkan pikirannya untuk menjalankan strategi bermain.


Kendati bukan penyakit gangguan mental, seseorang yang senang bermain game secara berlebihan itu tetap tidak baik, apalagi tanpa diiringi dengan aktivitas fisik dan sosialnya.

Sumber

image-url-apps
mohon dibuat lebih spesifik, video game.
permainan papan kyk scrabble/catur justru bermanfaat
image-url-apps
ane jarang main game emoticon-Embarrassment
×